"I never knew if it's ever gonna work out,

But she's the kind of person I'm willing to take the risk for."

unknown

.

.

.

.

.

.

DISCLAIMER: I DO NOT OWN NARUTO. All publicly recognizable Naruto characters, settings, etc. are the property of SJ and the mangaka. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. Little bit inspired from Untouchable © masstar (Webtoon) I write this only for fun!

.

.

.

.

Warning (s): AU, Drama, Fantasy, Romance/Comedy and OOC (I made Naruto 23 y.o and Sakura 21 y.o – Kiba 23 y.o and Ino 22 y.o)

.

.

"Kau utang cerita padaku."

Ino menggemerutukkan giginya. Melihat Sakura di lokasi audisi adalah hal yang cukup mengagetkan. Ino sudah percaya diri tinggi dengan berpikir bahwa Sakura datang untuk mendukungnya, tapi pemikirannya buyar ketika seorang staf dari tim kostum mendatangi Sakura, membawa pakaian duyung yang membuat Sakura menjerit-jerit menolak. Katanya, kenapa pakaiannya mencolok begitu? Sementara Ino berpikir, kenapa Sakura ikut pemotretan?

"Konsep yang diajukan Shimura Sai memang dari dongeng Ariel."

Sakura mendesis. Takut-takut ia melirik Ino yang belum bosan memicingkan mata padanya.

"Kau jadi partnernya Naruto?"

Bahu Sakura lemas. "Si muka pucat itu mengerjaiku."

"Mengerjai bagaimana?"

"Dia bilang dia mau minta tolong sesuatu. Katanya bukan hal yang sulit."

"Kau langsung menerimanya?"

Sakura mendesah rendah. "Tau-tau dia membayar sewa apartemenku untuk setengah tahun ke depan. Apa itu tidak gila namanya?"

Mata biru Ino melebar. "Serius?"

"Aku tidak ada minat menjadi model, kautahu betul itu."

Sejenak terdiam, Ino akhirnya mengangguk. Gadis pirang itu akhirnya menarik napas panjang. "Tenang saja, kalau hanya partner, biasanya wajahmu tidak akan jadi fokus kamera. Palingan hanya sebagai pelengkap waktu Naruto pose."

"Terserah, kalaupun yang dipotret hanya bokongku, itu bukan masalah. Tapi memakai kostum duyung? Sai ini sudah hilang akal, ya!" Akhirnya Sakura berteriak kesetanan.

Akhirnya, Ino tertawa.

"Aku bisa gilaaa!"

"Mungkin itu permintaan Narut—"

"Malah kalau ini permintaan Naruto, aku akan menghajarnya setelah pemotretan!"

Ino tergelak makin kencang.

Sakura akhirnya menggigiti bibirnya. Ia menepuk dahinya sekali dan mencari kursi, bersiap untuk didandani. Seorang staf lain mendatanginya dan menjelaskan kalau gilirannya pemotretan akan didahulukan ketimbang peserta lain. Lokasi yang dipilih adalah pantai buatan dengan hiasan batuan besar karang yang disiapkan tim properti. Obyektif yang ditunjukkan dalam pemotretan Naruto ini adalah mempromosikan wahana air baru. Model utama akan memakai pakaian renang bak tim penjaga pantai—sebenarnya penjaga kolam renang—bertubuh bagus, tentu saja siapa lagi kalau bukan Naruto. Dan kalau mendengar celotehan staf kreatif di depannya, Sakura menangkap kalau konsepnya Naruto akan mendatangi Sakura sebagai Putri Duyung.

Ck, konyol sekali.

"Konsepmu apa?"

"Eh?" Ino mendadak menoleh. "Oh, konsep?"

"Partnermu nanti jadi Putra Duyung?" ejek Sakura.

Ino mendesis. "Tidak dooong! Sasori-kun terlalu keren untuk jadi Duyung-Duyungan begitu."

Sakura mendecak mendengarnya, membuat Ino terkikik.

"Konsep yang kudapat mempromosikan wahana penyewaan kapalnya. Kalau kulihat sih, sederhana. Mungkin adegan seperti Titanic," jelas Ino dengan wajah merona. "Foto-foto terbaik yang didapat dari audisi ini akan jadi poster promosi Disney."

"Aish, romantis sekali."

Ino menepuk-nepuk pipinya sendiri yang memanas.

"Di mana Sasori, ngomong-ngomong?"

"Ah." Ino lalu terdiam. Ia merogoh ponsel di tas kecilnya. Pesan untuk Sasori belum dibalas. Jangankan dibalas, dibaca saja belum. Ke mana, ya? Karena gilirannya masih lama, Ino tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi kalau tidak ada kabar begini, khawatir juga rasanya. Ino mendesah resah. Ia hanya tersenyum simpul pada Sakura. Beruntung, tak sampai Sakura mengulangi pertanyaannya, tim make-up sudah menculik Sakura.

.

.

.

.

DARE YOU TO KISS ME

Chapter 12

.

.

.

"Lihat wajahku."

Naruto mengalihkan pandangannya ke sana kemari, menolak tatap mata dengan Sakura yang duduk di bebatuan karang menghadap pada Naruto. Pemuda pirang itu sibuk sendiri, berpura-pura berkomunikasi dengan staf yang sedang menata cahaya dan fotografer yang bertugas.

"Narutooo." Sakura menggeram. "Kautahu ini bukan muka senang."

Naruto berdeham. "Ah, bagaimana … ya."

Sakura mengepalkan tangannya dan memukul-mukulkannya di permukaan pahanya yang tertutup kostum duyung. Sisiknya ekor duyungnya berwarna kehijauan seperti rerumputan laut., dengan sisik-sisik palsu yang berkilauan setiap bersinggungan dengan cahaya. Sakura ingin menendang-nendangkan kakinya, tapi kostum sialan itu begitu rapat dan benar-benar seperti menggantikan kakinya. Mimpi apa Sakura sampai harus berubah wujud jadi setengah ikan begini? Persetan dengan dongeng Disney yang menjadi konsep pemotretan Naruto. "Narut—"

"Ah, kita menunggu apa, ya?" teriak Naruto gugup.

Di sekitar tim fotografer, berdiri pula staf yang lain, juga beberapa peserta pemotretan yang sedang tidak difoto. Sementara peserta audisi yang lain berpencar ke bagian-bagian Disneyland yang lain, sesuai konsep yang disediakan tim. Ada Sai berdiri di sana, juga Ino yang sudah memakai pakaian seragam Disneyland, model pakaian renang dengan atasan seperti kaos yang panjangnya hanya meraih atas pusar—menampilkan perut ramping Ino—dengan bawahan celana renang.

Berdiri sendirian menyandingi Sai.

"Sebentar, tunggu matahari tenggelam, sekalian!"

Naruto tanpa sadar mendesis.

"Terserah sajalah!" Sakura memutar tubuhnya, memunggungi Naruto. Bahkan berbalik saja ia harus menggeser posisi duduknya dengan susah payah. Kostum sialan!

"Eh?"

Sakura tak merespons, membiarkan Naruto berhadapan dengan punggungnya.

"Sakura-chan?"

Sakura bungkam.

"Marah, ya?"

"…"

"Konsepnya, s-salahkan Sai. Kenapa kau … malah marah padaku?"

"Terserah."

"Sakura-chaan?" Naruto merajuk.

"…"

Mendadak terdengar aba-aba dari tim. "Oke! Mataharinya set!"

"Sakura-chan, menghadap kemari," panggil Naruto. Pemuda itu berdeham pelan dan memanggil lagi nama Sakura. "Pemotretannya sudah mau mulai."

"Apa urusanku? Kau pose saja sana!" desis Sakura. "Aku cuma melengkapi model utamanya, mau yang dipotret punggungku pun, biar saja!"

Naruto termangu.

"Lagi pula kau tadi juga mengabaikanku!"

"Ah, itu—"

"Naruto? Sakura?" panggil Sai di belakang, melambaikan tangan meminta keduanya mulai sadar kamera. "Siap?"

Naruto menghela napas panjang. Pemuda itu berputar, memutari posisi karang dan berpindah posisi ke samping Sakura yang duduk di atas batu karang besar. Diraihnya pergelangan tangan Sakura, memaksa gadis itu menatap matanya balik. "Aku bukan mengabaikanmu. Habisnya kau jad—jadi … cantik sekali." Naruto terdengar seperti tersedak.

"Masa bod—hah?" Sakura mengangkat wajahnya.

Naruto menelan ludah. Satu tangannya yang bebas menggaruh belakang lehernya. Entah karena langit senja yang keoranye-oranyean, atau memang kulit wajah itu menggelap hingga lehernya. Naruto hanya memakai celana renang tipikal penjaga kolam renang untuk wahana air.

"A … pa?"

Naruto melepaskan tangan Sakura.

"Naruto?!" panggil pengarah gaya.

Pemuda pirang itu tersenyum tipis dan meraup air, membasahi sebagian rambutnya dan dadanya, lalu meraih tangan Sakura lagi—lebih tepatnya menariknya. "Kita foto sekarang!"

"Hei—"

Belum sempat Sakura memekik, Naruto menarik tubuhnya, menggendong Sakura di bahunya.

Sakura membeku.

"Oke, pertahankan! Ya!" seru pengarah pose, "Ya! Bagus, begitu!"

Beberapa detik, terdengar suara kamera dan lampu-lampu flash berkilatan. Sakura tak melakukan banyak hal selain melemaskan tubuhnya. Naruto lah yang banyak bergerak, mencari posisi yang tepat untuk diabadikan momennya, dan dari posisi Sakura yang masih menggantung di pundak kokoh pemuda itu, Sakura tak bisa melihat seperti apa ekspresi Naruto sekarang.

"Sakura-chan?"

Yang dipanggil masih membatu.

"Sakura-chan?"

"Eh?"

Naruto memperbaiki posisi tangannya ketika menggendong Sakura. Pemuda itu menurunkan Sakura dari bahunya, tapi tak benar-benar menurunkan tubuh Sakura. Kedua lengan kuatnya melingkari belakang kaki Sakura, memeluknya erat sementara Sakura terpaku. Gadis itu menunduk dan menatap bingung pada Naruto yang mendongak memandanginya. Cengiran melebar menghias wajah Naruto. Sakura melongo. Pemotretannya memangnya sudah selesai? Sakura menoleh pada tim pemotretan yang terdiam memandanginya—begitu juga Ino yang menutup mulutnya, seperti menahan senyum. Gadis bermata hijau itu menoleh ke direksi belakangnya, matahari tenggelam dengan cantiknya.

Cantik…

Sakura menepikan rambutnya yang dibelai angin dan menunduk menatap Naruto. "Kenapa kau melakukan ini … semua? Membuatku terombang … ambing."

Naruto tersenyum simpul. "Aku bahkan lebih parah dari sekadar terombang ambing—" Pemuda itu memandanginya baik-baik, "—Sakura-chan."

Sakura tak bisa membohongi bagaimana jantungnya seakan ingin melompat. Dentamannya sampai membuat telinga Sakura berdenging sendiri. Gadis itu merunduk, menangkup sisi wajah Naruto.

Salahkan suasana romantis yang tercipta, setan merasuki Sakura—membuat gadis itu mengurangi jarak wajahnya dengan Naruto.

Menciumnya.

.

.

O.o.O.o.O

.

.

"Sai?"

Sai berbalik, melihat Ino yang menghampirinya. Gadis itu memasang senyum tipis dan memiringkan kepalanya. Rambutnya dikuncir tinggi, dibentuk cepolan rapi dan disisakan sebagian untuk membingkai garis wajahnya yang feminin. Ditatapnya Sai yang sedari tadi sibuk menatap layar ponselnya. Sepertinya beberapa saat yang lalu ia baru selesai menelepon seseorang. "Oh, hai, Ino."

Ino melirik ponsel di tangan Sai. "Menelepon seseorang?"

"Oh, ini? Sasuke."

"Uchiha Sasuke?" Senyum Ino terlukis tanpa bisa dicegah.

"Ada apa?"

"Oh, aku mau memberitahu, pemotretan Naruto sudah selesai. Kau tadi pergi tiba-tiba saat pemotretan." Ino mengulum bibirnya. "Ada sesuatu? Apa ada masalah?"

"Oh, bukan apa-apa." Sai tersenyum simpul seperti biasa. Saking datarnya ekspresi senyum Sai, Ino bahkan tak bisa menebak apakah itu senyum tulus atau senyum terpaksa—yang biasanya dipasang untuk menyelamatkan diri dari situasi yang menimbulkan pertanyaan yang ingin dihindari.

"Yakin?"

"Hanya pesan dari Karin, sepupunya Naruto."

"Lalu Sasuke?"

"Oh, aku hanya perlu memastikan sesuatu."

Ino mengangguk pelan. "Aku … aku merasa kau kelihatan pucat."

"Aku memang selalu pucat," canda Sai enteng. "Jadi, sebentar lagi pemotretanmu?"

"Begitulah."

"Ada masalah."

"Kurasa tidak … entahlah. Sasori-kun belum muncul. Aku agak … agak kesulitan menghubunginya."

"Bagaimana kalau dia tidak datang."

Ino mengangkat kedua bahunya. "Entah. Kalau seandainya dia tidak datang, mungkin aku akan minta bantuan Naruto. Itu pun kalau diizinkan panitia audisi. Kalau tidak, ya sudah. Anggap saja aku sedang apes."

Sai terlihat berpikir.

Ino menepuk tangannya. "Ah, lupakan! Ngomong-ngomong, tadi aku mendekati Kotetsu, asisten pengarah gaya. Aku mengintip hasil jepretan Naruto. Sial benar, kerennya benar-benar keterlaluan."

"Benarkah?" Sai tersenyum.

"Ada satu foto yang sangat bagus."

"Yang mana?"

"Saat Sakura mencium Naruto."

Sai mengernyitkan alis.

"Kurasa sebenarnya itu Sakura lakukan tanpa sengaja, insting mungkin. Tapi hasilnya bagus. Sebelum mereka berciuman, potretnya tertangkap kamera, seperti semi siluet yang hangat, dengan latar matahari tenggelam di antara jarak wajah Naruto dan Sakura," jelas Ino panjang lebar. "Ah, aku iri sekali."

Sai tertawa pelan. "Mungkin skenario dari tim kreatifnya begitu. Sebelum pemotretan ada pengarahan, kan?"

Ino mengangguk tapi kemudian menggeleng ragu. "Tapi kalau melihat bisik-bisik tim pemotretan, kurasa Sakura melakukannya tiba-tiba. Apa Sakura jatuh cinta pada Naruto, ya?"

"Apa kalau kau jadi Sakura, kau akan jatuh cinta pada Naruto?"

"Kenapa tidak?"

"Semudah itu? Meski Sakura sering mengomel?"

Ino menggigit bibirnya dan tersenyum sendu setelahnya. "Kadang jatuh cinta itu tidak bisa dicegah. Bertengkar seperti apa pun, kalau jatuh cinta, ya jatuh cinta."

"Seperti kau dengan Kiba?"

"Ap—"

Sai tersenyum melihat Ino yang tercekat.

"Kau … ini bicara apa." Suara Ino berubah lirih. "Kurasa aku mau kembali ke lokasi pemotretanku. Kau dicari Naruto tadi."

"Ino?"

Ino tak berbalik dan langsung pergi meninggalkan Sai. Kabur.

.

.

O.o.O.o.O

.

.

Kotetsu mendadak muncul di depan Ino, membuat gadis itu memekik dan hampir terperanjat. Ino hampir mengumpat namun gadis itu cepat-cepat mengelus dadanya. Kalau dipikir-pikir, salahnya sendiri melamun. Lelaki berambut jabrik gelap itu mengingatkannya pada style seseorang, membuat Ino menggemerutukkan giginya. Kiba masih sanggup membuat isi kepalanya berantakan. Sejak kejadian ciuman di kamar pemuda itu, tak sekali pun Ino menemukan batang hidungnya. Pemuda itu hilang, lenyap. Sai hanya sempat bilang bahwa Kiba menemui Mei—bukan urusan Ino juga. Tapi mengaku atau tidak, pikiran Ino makin kusut.

Belum lagi, Sasori yang entah ada di mana.

"Giliranmu, Yamanaka."

Ino menelan ludah.

Keduanya berjalan beriringan menuju kapal pesiar kecil—lebih tepatnya perahu biasa namun didesain elegan bak kapal pesiar mahal. Semua tatanan catnya berwarna putih, kontras dengan warna langit yang telah gelap dan permukaan air yang bercahaya sesuai lampu bawah air yang membuatnya membias keunguan. Kotetsu menunjuk-nunjuk lokasi tempat Ino harus berdiri dan menjelaskan beberapa hal.

"Ano, aku … aku ada sedikit masalah."

"Kita tidak ada waktu, lho."

"Tapi partnerku," Ino menelan ludah lagi, "partnerku belum—"

"Dia sudah selesai dirias."

"Eh?" Ino melongo. "Sasori sudah datang?"

"Sasori?" tanya balik Kotetsu. "Seingatku namanya bukan itu. Ah, papan nama pesertanya dibawa Genma sekarang," gerutunya sendirian. "Kau langsung naik saja. Woi, Genma!"

Yang dipanggil ternyata berdiri di samping fotografer, balik melambaikan tangan.

"Sudah siap?"

"Yamanaka Ino?" panggil Genma. "Langsung naik."

Ino linglung. Ia hanya bergerak menuruti arahan tim dan melangkah naik. Di dekat spot pemotretannya, tepatnya di bagian deck yang terbuka, seseorang menungguinya dengan membawa jas ungu terang. Tim wardrobe. Begitu Ino mendatanginya, seorang perempuan gemuk memasang jas di bahu Ino, menyampirkannya dan menyemprot-nyemprot wajah Ino dengan air segar. "Bagus, make-up nya masih segar. Anggap saja ini bulan madu dan kau baru selesai berenang."

"Partnerku?" Ino pasrah ketika tim menata pencahayaan dan merapikan penampilan Ino.

"Dia sudah datang dari tadi." Genma berjalan mendekat dengan sebuah papan di tangan.

"Sasori?"

"Hah?" Genma membaca kertas di papannya. "Di sini tertulis Inu—"

"Inuzuka Kiba." Kiba menyeringai dan menepuk bahu Ino. "Aku partnermu."

.

.

O.o.O.o.O

.

.

"Inuzuka Kiba." Kiba menyeringai dan menepuk bahu Ino. "Aku partnermu."

Mata Ino hampir tak berkedip, namun pemuda itu memeluk bahu Ino, menarik tubuh Ino mendekat pada dekapannya. Ino menarik napasnya yang tercekat. Mata bulatnya mengerjap dan ia masih menatap Kiba dengan tatapan tak percaya. "Bag-bagaimana bisa?"

"Ada masalah?" tanya Genma bingung.

"Eh?" Ino menoleh lagi pada Genma. Sadar bahwa Kiba membuyarkan konsentrasinya, Ino melepaskan pundaknya dari dekapan lengan Kiba. Musisi muda itu memakai kemeja putih dan celana yang rapi, terlihat seperti mempelai pernikahan yang baru melepas jasnya. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka dan rambutnya menari-nari dibelai angin. Ino memalingkan wajahnya. "Iya, partnerku namanya Sabaku. Model lain, yang kusebut-sebut Sasori."

Genma melihat isi papan kertasnya. Jemarinya yang memegang pena mengetuk-ngetuk papan list yang ia bawa. "Tapi di sini namanya Inuzuka Kiba."

"T-tidak mungkin. Aku tidak pernah merevisi nama partn—partnerku." Ino melirik Kiba yang malah dengan santainya mengobrol dengan staf bagian wardrobe.

"Hei! Sudah siap?!" teriak Kotetsu.

Genma menoleh pada Kotetsu dan tim pemotretan. Sejenak terdiam karena bingung, Genma hanya mengacungkan jempol sebagai jawaban. "Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi kalaupun partnernya salah, partnermu yang asli di mana?"

Ino langsung bungkam. Gadis itu menelan ludah.

"Sasori tidak akan datang. Aku memang menggantikannya."

Tepukan lagi di bahu Ino dan gadis pirang itu menatap Kiba tak percaya.

Kiba tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya. Ah, pemuda ini punya gigi taring yang bagus. "Aku yang mengajukan revisi memang. Mungkin kau belum tahu soal itu, Genma-san."

"Baiklah. Tidak ada masalah kalau begitu. Set!"

Ino melangkah mundur. "K-kenapa?"

Kiba hanya mengulum bibirnya dan tersenyum.

Wajah Ino memanas. Antara bingung dan kesal. "Kautahu audisi ini penting buatku!"

"Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

"Tapi kau juga penting."

Ino mengernyitkan dahinya.

"Sasori bukan orang yang baik seperti perkiraanmu."

"Ap—"

"Sebenarnya aku juga bukan orang yang baik."

Ino mengepalkan kedua tangannya. Ia bergerak mundur lagi, menjauhkan jaraknya dengan Kiba.

"Oke, siap?!" panggil tim pemotretan.

Kiba mengangguk pasti. "Aku sudah tahu konsepnya. Ayo," ajak Kiba, mengulurkan tangannya, berniat menggandeng tangan Ino. "Aku pinjam properti dari Mei, barang-barang pernikahannya." Kiba mengeluarkan gelas wine dengan berbalut kain seperti kain tudung—sepasang gelas yang biasanya dipakai bersulang pengantin. Di dalamnya, ada sedikit cairan wine keunguan yang berkilauan terkena cahaya dari properti tim lighting.

Ino menepis tangan Kiba dan bersedekap.

Tak senang.

"M-Mei?" Ino menyipitkan matanya.

Kiba tersenyum tipis dan melangkah maju—membiarkan Ino yang seiring ikut melangkah mundur. Pemuda itu memegangi gelas wine di tangan kirinya sementara tangan kanannya terulur, bukan untuk meraih tangan Ino, melainkan leher gadis itu, menariknya mendekat.

Kurang gesit sedikit saja, Ino akan kecolongan sebuah ciuman lagi.

Namun gadis berambut panjang itu mundur lagi dan Kiba justru menerjangnya.

Dalam hitungan detik yang melambat, Ino terdorong ke belakang, terjatuh dengan Kiba memegangi pinggangnya, sebelum akhirnya keduanya jatuh ke air.

Hujan jepretan dari fotografer tak lagi terproses dalam kepala Ino—tidak sejak Kiba membisikinya sesuatu, tepat sebelum keduanya jatuh.

"Kau terlalu penting untuk kulepaskan pada Sasori."

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

A/N

OwO aww banget. Duh, ternyata adegan Disney nya agak blibet digambarkan. Tapi ya syudahlah. Selama Suu Foxie sebagai first reader udah doki-doki, kokoro-nya Masahiro udah puas (?) Btw, chapter ini diketik 2016 lhooo! Hahahaa^^

Terima kasih udah baca. Dukung terus daku untuk terus menulis, baik FF maupun original story ;') Much much love buat yang ninggalin jejak review.

REVIEW?

.

.

.

.

.

.

V