Disclaimer: Naruto dan HS DXD bukan kepunyaanku.
Genre: Adventure & Hurt/comfrot.
Rate: M
.
.
.
Naruto P.O.V
Kekuatan... pasti banyak orang yang menginginkan kekuatan tidak, bukan banyak tapi semua orang menginginkan kekuatan. Hanya orang munafik yang bilang tidak butuh kekuatan. Banyak cara untuk mendapatkan kekuatan, mulai yang berlatih dari nol atau yang mendapatkan secara singkat. Tentunya akan sangat lama untuk menjadi kuat dari nol, aku sendiri pernah merasakannya. Dan yang instan? Tentu saja yang menggunakan cara ini akan cepat menjadi kuat, tapi... bayaran yang didapatkan atas kekuatan tersebut kadang tak setimpal dengan kekuatan yang kita dapat. Aku juga pernah mengalami hal tersebut dan sekarang...
Terjadi lagi...
Aku memandang gumpalan energi atau bisa kusebut Chakra berwarna putih, biru dan merah yang berada diatasku juga energi demonic yang ternyata cukup besar dalam tubuhku aku tak menyangka jika energi demonic yang kumiliki sebesar itu. Ini hampir sama dengan saat aku sudah mengalahkan Kurama, seperti de javu. Yah~ mungkin itu yang kurasakan saat ini. Chakra putih itu terus mencoba mendominasi Chakraku, energi demonic dan juga Chakra peninggalan Kurama yang semakin lama tertelan oleh Chakra berwarna putih. Itu...
Satu-satunya peninggalan dari teman hidupku sejak lahir. Aku ingin menghentikannya, hanya saja aku tak bisa. Tubuhku terbaring lemas, kenapa semua ini terjadi padaku? Ah ya, setelah aku mengalahkan Shineju semua Chakra yang dimiliki Shineju terserap dalam tubuhku. Tentunya dengan Chakra alam sebanyak itu tubuhku membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikannya. Dan dengan Shineju? Aku tak tau apa yang terjadi dengan dirinya, setelah aku mengalahkannya dia menghilang begitu saja dari alam bawah sadarku. Sesaat sebelum dia menghilang dia sempat mengucapkan 'terima kasih' yang tak kutahu apa maksudnya.
Hah~
Entah sudah berapa lama aku sudah terbaring disini dan entah siapa yang merawat tubuhku diluar sana. Ah kenapa aku memikirkan hal tersebut tentunya sudah ada Moka yang akan merawatku. Aku berani bertaruh saat ini ia pasti sedang menghawatirkan kondisiku. Entah kenapa sifatku sepertinya kembali seperti saat berada di dunia Shinobi dulu. Padahal saat aku sampai di dunia ini aku sudah berusaha menutup diri dari siapapun. Aku seperti membohongi diriku sendiri. Tidak, aku tidak membohongi diriku, ini semua karena gadis itu. Ya semua karena dia...
Moka Akashiya
Gadis itu, hanya gadis itu yang berhasil membukanya. Padahal aku selalu menolak dan mengusirnya tapi dia tetap keras kepala dan selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Pertemuanku di danau saat itu ternyata membawa dampak besar dalam hidupku sekarang. Dan hampir saja aku kehilangannya akibat kebodohanku, telat sedikit saja pasti Shukaku sudah menghabisinya dan entah apa yang terjadi padaku setelah itu. Mungkin aku akan bunuh diri? Tidak! Tentu saja aku tak akan melakukan hal tersebut. Bagaimana aku bisa bertemu dengan mereka nanti diakhirat jika aku mati karena bunuh diri. Ah aku melupakan sesuatu, aku adalah iblis dan tentunya setelah aku mati tidak akan ada yang tersisa selain debu.
Hah~ mati seperti itu memang pantas untuk pecundang yang gagal melindungi dunianya sendiri.
.
.
.
"Kau tidak boleh masuk!" Ini sudah ketiga kalinya Moka melarang seorang gadis cantik berambut putih panjang di depannya ini masuk kedalam kamar Naruto dalam sehari ini. Wajah Moka memerah menyaingi rambut pinknya, ia tak akan membiarkan gadis cantik didepannya ini masuk apalagi mendekati Naruto yang kini terbaring lemah. Sudah seminggu ini Naruto tak sadarkan diri, ia tak tau apa yang terjadi pada Naruto. Setelah perang selesai Naruto tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri setelah ia cium. Wajah Moka bersemu mengingat hal tersebut, ia menggelengkan kepala menghilangkan pikiran yang sempat hinggap dikepalannya. Ia kembali menatap gadis didepannya.
Dan gadis ubanan ini.
Dia tiba-tiba saja muncul ditempat tidur Naruto dalam keadaan telanjang, INGAT ITU! TELANJANG! Kemunculannya sehari setelah Naruto tak sadarkan diri. Saat itu Moka tak berada dikamar Naruto karena ia diajak Kunou menghadiri pesta kemenangan atas perang melawan pemberontak. Dan ia saat kembali kedalam kamar Naruto ia dikejutkan dengan gadis ubanan ini yang tidur disebelah Naruto dan dengan enaknya memeluk Naruto. Tentunya Moka tak tinggal diam, sempat terjadi keributan diantara mereka berdua dan hal tersebut mengundang perhatian dari penghuni disana. Dan Moka dibuat terkejut saat melihat Tengu menunduk hormat saat melihat gadis ubanan tersebut. Tengu menjelaskan bahwa gadis ubanan itu bernama Shineju adik dari Kyubi sosok pemimpin Youkai terdahulu yang juga ternyata bibi dari Yasaka. Walau begitu Moka tak akan memaafkan Shineju. Hell! Kejadian itu tak akan ia lupakan.
"Ayo lah~ biarkan aku masuk~" Ucap Shineju agak merengek. Ini sudah ketiga kalinya ia datang kesini dalam sehari dan Moka selalu mengusirnya. Padahal ia sangat ingin mengetahui keadaan Naruto hari ini, setiap hari ia selalu datang memeriksa keadaan Naruto. Setelah Naruto berhasil mengalahkannya dan menyerap semua energinya sampai saat ini ia belum sadarkan diri dan itu sudah seminggu ini. Khawatir? Tentu saja Shineju Khawatir, energi alam yang terkumpul dalam tubuhnya selama beratus-ratus tahun diserap oleh Naruto. Jika saja tubuh Naruto tak mampu menampung maka dia akan meledak.
"Ini sudah waktunya aku melakukan pemeriksaan."
"Tidak! Jika kau tidak didampingi oleh Yasaka-sama ataupun Kunou-hime." Tegas Moka.
"Tap-"
"Sudah biarkan Baa-sama masuk Moka-nee." Ucap Kunou yang muncul dari belakang Shineju.
Wajah Shineju cemberut, "Kunou-chan jangan panggil aku seperti itu."
"Maaf tapi anda adalah Baa-sama saya." Ucap Kunou sopan.
"Arrggh..! Aku tak setua itu!" Teriak Shineju agak sebal.
"Pftt.. hahaha. Sudahlah kau memang sudah tua rambutmu saja sudah ubanan." Moka tertawa sambil menunjuk rambut Shineju.
Shineju menatap tajam gadis vampir didepannya, berani sekali dia menghina rambut kebanggaannya ini. "Rambutku memang begini sejak lahir. Dan..." Ia memicingkan matanya. "Aku tak mau mendengar ucapan tersebut dari vampir perawan yang sudah berumur ratusan tahun."
Jleb!
Bagai ditusuk pisau perak tak terlihat seketika tawa Moka terhenti. Ia mundur selangkah dan menunjuk wajah Shineju yang menyeringai penuh kemenangan dengan tangan bergetar.
"K-kau!"
"Sudahlah." Cegah Kunou yang kini berdiri ditengah-tengah mereka berdua. Kunou tahu tak akan ada yang mau mengalah dari perdebatan ini jadi ia memutuskan untuk melerai mereka berdua. Ia lalu menatap Moka, "Moka-nee bisa ikut aku sebentar?"
Moka mengalihkan pandangannya dari Shineju kearah Kunou. "Memang Konou-hime mau kemana?" Tanyanya.
"Sudahlah Moka-nee ikut saja." Jawab Kunou dan tanpa persetujuan Moka ia mengaet tangan Moka dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut.
"Tapi..." Moka yang sudah berada diluar kamar Naruto menatap Shineju yang masih berdiri diambang pintu kamar Naruto. Dan pandangannya menajam saat melihat Shineju yang menyeringai. "KAU GADIS UBANAN JANGAN COBA-COBA MELAKUKAN HAL ANEH PADA NARUTO-KUN!" Teriak Moka yang semakin menjauh karena terus diseret oleh Kunou.
Shineju hanya menyeringai lebar saat melihat Moka dan Kunou sudah menghilang dalam pandangannya.
"Nah,,, sekarang saatnya memeriksa keadaan Naruto-kun~" Ucapnya senang lalu masuk kedalam kamar Naruto tak lupa ia juga menutup pintu kamar tersebut.
Shineju berjalan mendekati ranjang tempat Naruto terbaring dan lalu mendudukan pantatnya dikursi dekat ranjang tersebut.
"Hah~ ini sudah seminggu dan kau masih saja belum sadar." Ia menggenggam tangan kanan Naruto, chakra putih tiba-tiba keluar dari tangan Naruto yang ia genggam dan sedikit demi sedikit mulai terserap dalam tubuhnya. Ini adalah cara Shineju untuk menetralkan Chakra alamnya yang berada dalam tubuh Naruto. Ia memandang wajah Naruto yang terlelap damai. Laki-laki didepannya ini sudah banyak mengalami kehidupan yang buruk, pertama kali lahir didunia dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, sedari kecil dia dikucilkan oleh penduduk desanya, dituntut berlatih keras demi menjadi senjata untuk desa, dan ketika besar dia dituntut untuk menyelamatkan dunianya. Walau hanya sebentar bersatu dengan Naruto tapi Shineju sudah kurang lebih tahu jati diri dari seorang Naruto Uzumaki. Ia kasian sangat kasihan malahan.
"Umurmu kurang lebih 16 tahun, tapi beban yang kau tanggung begitu besar untuk ukuran orang seusiamu."
Ruangan tersebut menjadi sunyi, Shineju masih setia dengan posisinya walau waktu sudah lewat setengah jam lamanya. Pandangannya tak lepas dari wajah Naruto dan seolah terhipnotis. Tanpa sadar Shineju memajukan wajahnya mendekati wajah Naruto, dekat dan semakin dekat hanya tinggal beberapa senti lagi bibir tipis Shineju menyentuh kening Naruto.
Cklek!
Pintu terbuka dan masuklah Moka dan Kunou yang tampak tengah membicarakan sesuatu.
"Apapun itu kurasa semua baju itu cocok untukmu." Ucap Moka pada Kunou. "Lagi pula-" Apa yang akan Moka ucapkan terhenti saat matanya menangkap apa yang tengah Shineju lakukan pada Naruto. Rambut pinknya tiba-tiba berubah menjadi putih diikuti dengan suaranya yang memberat.
"Kau..."
"Ara~" Shineju menjauhkan wajahnya, ia memandang Moka dengan senyum polos yang menempel diwajahnya. "Kebanyakan marah nanti cepat tua lho. Lihat rambutmu menjadi putih!"
Moka menundukan wajahnya, kepalan tangannya mengerat. Ia mengangkat wajahnya menunjukkan wajah datar dengan mata merah yang menyala dan menatap tajam Shineju. Mengerahkan semua kekuatannya pada kepalan tangan kanannya, seringai bengis tercipta di bibirnya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah...
"Know your place!"
.
.
.
Mata melotot, tubuh bergetar dan air mata yang keluar tanpa bisa dibendung. Itulah yang saat ini dirasakan Issei. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi didepannya ini.
Irina...
Gadis teman masa kecilnya...
Mati...
Semua terjadi begitu cepat, padahal beberapa hari ini ia sangat senang dengan kehadiran teman masa kecilnya itu. Padahal beberapa hari lalu sebuah perjanjian damai tiga fraksi telah terbentuk. Ia pikir ia bisa tenang setelah perjanjian itu terbentuk dan sedikit bersantai. Tapi apa yang ia pikirkan salah, semua kacau! Teman-temannya, Buchou-nya mereka semua menderita saat ini. Dan Irina...
Irina...
"Dasar malaikat reinkarnasi bodoh." Kokabiel melempar Irina yang sudah meregang nyawanya. "Mengorbankan nyawa hanya untuk melindungi laki-laki iblis reinkarnasi tak berguna ini." Mata merahnya memandang rendah Issei yang masih diam terpaku ditempatnya.
"Irina!" Xenovia berlari dan menangkap tubuh tak bernyawa Irina. "Kau!" Ia menundukkan wajahnya, meletakan tubuh Irina dengan pelan diatas tanah. Ia lalu memanggil pedang durandal.
"Tak akan ku maafkan!"
Xenovia melesat cepat kearah Kokabiel, dengan sisa energi yang ia punya. Xenovia memusatkan semuanya pada satu serangan yang akan ia lakukan ini.
"Hyeah!"
Trankk!
Kokabiel dengan mudah menangkis serangan Xenovia dengan pedang cahaya yang berada ditangan kanannya. Ia tertawa sinis saat melihat wajah putus asa Xenovia. Ini menyenangkan, sangat menyenangkan malahan. Sudah lama ia tak melihat wajah-wajah putus asa seperti ini setelah great war kedua. Sebuah tombak cahaya ia ciptakan ditangan kirinya.
Jleb!
Mata Xenovia melebar diikuti dengan rasa sakit yang menjalar dari perutnya. Rasa anyir membasahi kerongkongannya saat darah memaksa naik dan memenuhi mulutnya.
"Ohokk!"
Seringai mengembang diwajah Kokabiel saat melihat Xenovia tersiksa. Merasa sudah puas Kokabiel menjatuhkan Xenovia tepat didepan Issei yang masih mematung.
Xenovia menatap nanar Issei, ia mencoba menggerakkan tubuhnya namun rasa sakit yang teramat membuatnya tak bisa bergerak.
"I-issei-san, to-tolong ak-"
Jleb!
Satu tombak cahaya kembali menembus tubuh Xenovia tepat mengenai jantungnya. Sekaligus mencabut nyawa Xenovia.
"Ah~ tanganku licin." Ucap Kokabiel santai.
"Kokabiel tolong hentikan semua ini!" Rias Gremory mencoba berdiri walau kenyataannya kakinya tak mampu menopang tubuhnya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Kokabiel melirik kearah Rias, senyum sinis kembali tercipta diwajahnya. "Yang ku inginkan?" Tanya Kokabiel seraya berjalan mendekati tempat Rias.
"Ja-jangan mendekat!" Ucap Kiba yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan Rias dengan dua pedang berbeda elemen yang berada di kedua tangannya. Kondisinya sendiri sudah mengenaskan.
"Hahaha! Ini menyenangkan aku ak-"
Jduar!
Petir menyambar tempat Kokabiel berada, asap mengepul menutupi Kokabiel.
"Akeno." Ucap Rias saat melihat ratunya yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Ha-hanya ini yang bisa ku lakukan Buchou." Ucap Akeno sebelum akhirnya ambruk kehabisan energi.
"Ah~ itu membuatku geli."
Kiba mengeratkan genggaman pedangnya saat mendengar suara Kokabiel dari kepulan asap.
"Saa... Jadi apa kita bisa mulai mainnya lagi." Kokabiel menciptakan sebuah tombak cahaya ditangan kanannya. "Sangat disayangkan adik Serafal tidak ada disini, padahal aku sangat ingin membunuh dua adik mao sekaligus." Kokabiel berjalan pelan mendekati tempat Rias dan Kiba.
"Tapi membunuh adik dari mao Lucifer sudah cukup buatku." Kokabiel berjalan pelan mendekati Rias dan Kiba. "Walau aku sedikit kecewa karena adik Lucifer begitu lemah dan Sekiryuutei yang tak berguna. Kupikir melawan pemegang Longius akan menyenangkan, tapi ternyata dia begitu lemah."
Lemah...
Lemah...
Lemah...
Kata itu terus terngiang dalam kepala Issei yang masih menatap kosong tubuh tak bernyawa Xenovia.
'Aku lemah...'
'Ya, kau sangat lemah.'
'Aku lemah...'
Issei berdiri, tatapannya masih kosong tanpa emosi.
'Aku... ingin menjadi kuat...'
'Apa kau ingin kekuatan?'
'Ya... aku ingin kekuatan.'
'Dengarkan lah suara yang berada dihatimu.'
Issei melangkah pelan, tatapannya masih kosong. Ia mendengarkan setiap mantara yang menggema dalam kepalanya.
[Aku seorang yang akan bangkit...]
Suara pendahulu dari Sacred Gear menyatu menjadi satu mengumandakan segel pelepasan.
'Sudah akan dimulai' 'Sepertinya akan segera dimulai' 'Ini akan dimulai.'
Suara-suara bagaiakan sebuah ucapan kutukan yang terus dan terus memberikan kebencian pada setiap katanya
Kokabiel yang melihat hal tersebut menyeringai lebar, sepertinya sang naga merah akan bangkit.
Sementara dengan Rias ia menatap khawatir keadaan Issei. "Issei..." Gumamnya pelan.
[Kedua naga langit yang telah merampas prinsip dominasi dari Tuhan...]
'Memang seperti ini, apapun yang terjadi' 'Ini yang benar dan salah, setiap waktu akan selalu seperti ini' 'Setiap saat memang seperti ini dan akan selalu seperti ini'
[Aku tertawa pada "Ketidak batasan", dan berduka pada "Impian"...]
'Seorang yang dunia cari' 'Seorang yang dunia tolak' 'Seorang yang dunia benci'
[Aku akan menjadi Naga Merah dominasi..."]
'Selalu kekuatan' 'Selalu cinta' 'Selalu kebencian'
'Kalian memilih kehancuran tak peduli berapa kali pun!'
Ledakan aura naga menguar dari setiap kata yang terucap, tanah sudah tidak kuat lagi menerima tekanan kekuatan dari sang sekiryuutei harus hancur berkeping-keping, armor naga menyelimuti tubuh Issei dengan cepat lalu armor naga itu berubah dengan cepat, bentuknya menjadi lebih kasar dan tajam, sayap yang tadi tumbuh lebih lebar dan besar. Dari kedua tangan dan kakinya memunculkan cakar besar yang mengoyak armor pelindung-nya. Tanduk naga mulai bermunculan dari helm Issei, pelindung mulut pecah mulai bertransformasi mejadi mulut naga dengan taring-taring tajam yang siap mengoyak apapun.
-Penampilan dari armor itu seperti Naga itu sendiri!
Suara-suara dari para pendahulu itu mulai bercampur, keluar dari setiap berlian ditubuh Issei. Dari suara orang tua, muda, pria, dan wanita muali berkumandang dengan keras.
""Dan aku akan menenggelamkan semuanya dalam pengampunan Crimson!""
[Juggernaut Drive!"]
Blarr!
Ledakan terjadi ditempat Issei, asap membumbung tinggi. Suasana tiba-tiba menjadi hening untuk sesaat.
"Ini gawat." Gumam Kiba melihat tempat Issei. "Buchou kita menjauh!" Tanpa menunggu jawaban dari Rias, Kiba lalu membopong tubuh Rias dibahu kanannya kemudian ia berlari kearah Akeno yang masih tergeletak dan membopongnya di bahu kirinya. Kiba terus berlari menjahui tempat Issei.
Kokabiel membiarkan Kiba kabur begitu saja, ia lebih tertarik untuk mendekati tempat Issei.
"Groarr~!"
Dari dalam kepulan asap terdengar teriakan yang sangat nyaring, memupus keheningan yang sempat tercipta tadi.
Swush! Krak-
Boomm!
Ledakan terjadi diatas langit malam kota Kuoh saat sebuah tembakan laser dari Issei menembus kekkai buatan Kokabiel.
Orang-orang berhamburan keluar dari rumah, mereka menatap horor langit malam yang kini terlihat begitu terang.
"A-apa yang terjadi?"
Mereka bertanya-tanya atas fenomena langka yang kini tengah terjadi. Beberapa orang bergetar ketakutan sebelum akhirnya kembali masuk kedalam rumah. Entah kenapa malam ini begitu horor ditambah dengan kabut yang tiba-tiba menyelimuti seluruh kota.
Kokabiel yang melihat hal tersebut semakin menyeringai. Ini lah saat yang sudah ia tunggu.
Swush~
Angin berhembus pelan ditempat Issei membuat asap menghilang dan menunjukkan sosok dari sang naga surgawi. Sesekali uap panas keluar dari mulut penuh taring-taring tajam itu.
"Grrr..."
"Hahaha... ya! Inilah kekuatan dari Sekiryuutei!"
Mata Issei menajam, ia menatap sosok Kokabiel. Kemarah tiba-tiba memenuhi dirinya.
"Groarr~"
Swush!
Dengan kecepatan yang sangat gila Issei melesat kearah Kokabiel. Kokabiel yang melihat hal tersebut juga tak tinggal diam. Kokabiel memposisikan tombak cahaya didepan dadanya saat kuku-kuku tajam Issei mau mengoyak dadanya. Namun keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang sangat fatal, matanya melebar saat melihat tombak cahayanya dengan mudah dipatahkan. Dengan cepat Kokabiel melompat kebelakang.
Crash..
Swush...
Blarr!
Tubuh Kokabiel terlempar jauh, memantul-mantul ditanah sebelum akhirnya berhenti saat menabrak bangunan akademi yang sudah hancur lebur.
"Ugh..."
Kokabiel menyingkirkan reruntuhan yang menutupi tubuhnya. Ia sedikit meringis saat merasakan rasa nyeri di dadanya. 'Untung saja aku sempat menghindar.' Batinnya saat melihat tiga goresan melintang di dadanya.
"Groarr~"
Issei meraung keras diikuti dengan kekuatannya yang semakin meningkat. Ia menembakkan laser kesegala arah, tak perduli jika hal tersebut dapat mengenai temannya. Issei benar-benar sudah lepas kendali.
Blarr!
Blarr!
Blarr!
Kiba yang sudah mengamankan semua kelompoknya hanya bisa menatap ngeri kearah Issei.
"I-inikah kekuatan Sekiryuutei?"
"I-issei-san." Asia yang sudah tersadar dari pingsannya hanya bisa menatap khawatir Issei.
"A-apa yang harus kita lakukan? Jika terus dibiarkan kota bisa hancur. Buchou?" Kiba menoleh dan yang ia dapati adalah wajah putus asa Rias. 'Sial, sepertinya tak ada yang bisa kita lakukan.'
Swush~
Kokabiel mengeluarkan lima pasang sayapnya, terbang cukup tinggi sebelum akhirnya berhenti. Kokabiel merentangkan kedua tangannya dan dalam hitungan detik muncul puluhan tombak cahaya lalu bertambah dan terus bertambah hingga menjadi ratusan. Dengan gerakan simpel dari tangan kanannya, ratusan tombak suci tersebut menghujani tempat Issei.
Blar! Blar! Blar!
"Groarr~!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Lho kok? Udah tbc?
Iya udah tbc, maaf jika saya potong ditengah-tengah pertarungan. Yah~ sebenernya sih emang udah mentok disitu doang idenya.
Dan...
Saya sungguh minta maaf jika baru update, yah~ kalian pasti tau lah alasan saya. Yap! Apa lagi jika bukan sibuk, lebih penting cari rejeki kan? Dan mumpung saya lagi senggang (sakit) dan banyak waktu nganggur jadi kepikiran buat lanjutin cerita ini.
Mungkin bagian ini akan sangat membosankan, tau lah pastinya karena chara Naruto disini gak ambil dalam pertarungan dan hanya nongol sebentar. Sifat Naruto disini juga sedikit saya rubah, dia akan mulai membuka diri untuk Moka.
Ugh... Segitu saja yang mau saya sampaikan. Semoga ini cukup memuaskan dan untuk update selanjutnya? Saya gak janji untuk update cepat atau teratur. Jadi maaf jika nanti update-nya lama lagi.
Dan saya ucapkan terima kasih bagi yang sudah baca dan masih mengikuti cerita saya ini.
Saya pamit undur diri...
