Prince of Tennis disclaimer by Konomi Takeshi-sensei
Love So Sweet by Rin Shouta
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Drama, Angst
Pair : Perfect Pair (Tezuka Kunimitsu x Fem!Fuji Syusuke aka Fuji Syuko)
Warning : MANY SWEET MOMENTS! Gender bender. AU (Little Canon), OOC, typos, etc. Niatnya ingin buat yang manis-manis saja, tapi who know? :) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?
#12 Second Year JHS; Seishun Bunkasai (Part 2)
"Kau... benar-benar menyukai Tezuka, Fuji?"
Pertanyaan dari Yoshikawa Rumi terus berputar bagaikan kaset yang sudah rusak di benak Fuji. Pergerakan tangannya sampai ikut terhenti karena pikirannya tertuju pada pertanyaan tersebut. Di seberangnya, Tezuka memandangi Fuji dengan ekspresi bingung.
"Fuji-san?" panggil pemuda itu.
Yang dipanggil tidak menyahut. Tubuh Fuji tidak bergerak sama sekali. Matanya terlihat kosong menatap buku di atas meja.
Rasa cemas menghantui Tezuka. Ia jarang sekali-belum pernah malah, melihat gadis di depannya ini benar-benar melamun. Tangan kanan Tezuka melambai di depan wajah Fuji dan sukses menarik perhatiannya.
"A-aa, gomen, Tezuka-kun. Tadi sampai mana?" tanya Fuji, berusaha tersenyum walau gagal.
Kali ini Tezuka menghela napas. "Kita istirahat dulu. Kau terlihat tidak fokus, Fuji-san."
Gadis berambut cokelat sebahu itu tidak membalas. Kepalanya sedikit menunduk. Tiba-tiba saja Fuji menjatuhkan kepala ke kasur yang berada tepat di belakangnya. Ia memejamkan mata dan berusaha menenangkan pikiran serta tubuhnya yang menegang.
"Apa ada masalah?" tanya Tezuka.
Masih dengan posisi demikian, Fuji menjawab. "Aku tak bisa melupakan pertanyaannya."
Diam adalah balasan Tezuka. Pemuda itu tak bisa menangkap arah pembicaraan mereka. Ia sama sekali tidak mengerti, pertanyaan apa yang dimaksud Fuji. Jika Tezuka bertanya pun, ia yakin takkan dijawab seutuhnya. Meski sudah kenal dan berhubungan dekat selama hampir setahun, namun Fuji masih belum bisa terbuka padanya, begitu juga sebaliknya.
Lagipula, sedekat apa hubungan mereka sampai harus berbagi masalah?
Kedua bola mata hazel-nya terus memperhatikan sosok Fuji Syuko yang terlihat seperti orang ketiduran. Otaknya masih bekerja keras, mempertanyakan hubungan di antara dirinya dan Fuji yang tidak bisa dibilang teman sekelas maupun teman biasa.
Seorang teman tidak akan memeluk. Bahkan sampai berpikir untuk mengklaim bibir tipis itu. Teman biasa juga... tidak akan mencium puncak kepala seperti yang dilakukan Fuji padanya, kan?
Perlahan tubuh Fuji bergerak dan kembali duduk dengan benar. Gadis itu mengambil pensil lalu menulis lagi di buku. "Kemarin Yoshikawa-san bilang, dia takkan merebut pacar orang lain," ucapnya pelan.
Yoshikawa-san? Pacar? Tezuka mengernyit, memfokuskan diri pada semua ucapan Fuji hingga tanpa sadar tubuhnya sedikit menjorok ke depan.
Terdengar tawa Fuji kemudian. "Dia menganggap kita pacaran, Tezuka-kun."
Tubuh Tezuka menegang. Kata 'pacaran' terdengar asing di telinganya. Namun ia tak menampik alasan jantungnya berdetak kencang hanya karena Fuji menunjuk dirinya dan Tezuka dengan kata 'kita' yang disandingkan dengan kata 'pacaran'. Dalam hati ia menyukai anggapan tersebut. Samar-samar wajahnya bersemu. Sayangnya, Fuji tidak melihat kejadian tersebut.
Berdeham sekali, Tezuka bertanya. "Lalu kau bilang apa?"
"Kami belum pacaran?" jawab Fuji jujur dengan nada tidak yakin.
Suasana kamar Fuji langsung hening tanpa sebab. Sang pemilik kamar tampaknya sadar akan sesuatu dan tertawa. "Apa sih yang kukatakan? Haha, gomen, Tezuka-kun. Lupakan saja ucapanku barusan," pintanya.
Lawan bicara masih bungkam. Hal itu membuat Fuji panik dalam hati. Tapi seorang Fuji Syuko selalu bisa mengendalikan keadaan dengan tenang.
"Sepertinya Yoshikawa-san mulai menyukaimu," ucapnya sesuai fakta yang ada.
Hening kembali merajai. Yang terdengar hanya suara gesekan pensil di atas kertas.
"Kenapa kau mengatakannya padaku, Fuji-san?"
Suara gesekan pensil terhenti seketika.
"Supaya kau bisa lebih peka terhadap sekitarmu, Tezuka-kun."
Tangan Fuji kembali menulis, namun dihentikan oleh tangan lain yang berukuran lebih besar darinya. Kemudian Tezuka memanggil namanya dengan nada yang sukses membuatnya merinding, bersamaan dengan mengeratnya genggaman tangan kiri pemuda tersebut.
Bagai diberi mantra sihir, Fuji membalas tatapan Tezuka. Kedua remaja itu saling pandang. Seperti biasa, Fuji yang lebih dulu memutus kontak mata. Namun kali ini kedua tangan Tezuka menangkup pipi sang gadis, memaksanya untuk terus menatapnya.
Wajah Fuji terlihat syok. Perlahan tubuhnya yang sempat menegang kini kembali rileks. "Tezuka-kun..." panggilnya lirih.
Pemuda berkacamata itu menggeleng pelan.
"Aku bisa salah paham lagi," gumam Fuji.
"Seorang introvert sepertiku tidak mungkin menghabiskan waktu lama dengan satu orang lawan jenis tanpa alasan."
Ucapan tegas dari Tezuka sukses melumpuhkan seluruh saraf tubuh dan kinerja otak Fuji. Ia tidak menyangka bisa mendengar itu langsung dari seorang Tezuka Kunimitsu yang terlalu sering menggunakan bahasa tubuh dalam kehidupan sehari-hari. Pendirian Fuji yang sebenarnya sedikit goyah karena ucapan Kagamine, perlahan menguat kembali. Hatinya mulai meneriakkan satu kalimat atas pertanyaan Yoshikawa.
Aku menyukai Tezuka Kunimitsu melebihi apapun di dunia ini!
Mata Fuji terpejam dan tersenyum. Tangannya meraih tangan Tezuka lalu menaruhnya di atas meja, tanpa sedikit pun ada niatan untuk melepaskannya. Mata itu terbuka, diikuti tawa pelan yang keluar dari mulutnya.
"...ada yang lucu?" tanya Tezuka sambil membalikkan kedua tangan sehingga bisa membalas genggaman tangan Fuji.
Gadis itu menggelengkan kepala. "Arigatou, Tezuka-kun..."
Tezuka membalasnya dengan senyuman tipis di wajah.
Love So Sweet
Pagi ini setelah latihan tenis, Tezuka Kunimitsu mendapat pesan langsung dari Ketua komite bunkasai aka Arisawa Kento. Seniornya itu menyuruhnya datang ke perustakaan yang disewa sebentar untuk menyampaikan pengumuman atau lebih tepatnya berita buruk. Ia tidak sendiri, Yoshikawa ikut datang karena minimal perwakilan dua yang datang supaya informasinya benar-benar tersampaikan. Kurosaki yang paling bersemangat menjadi volunteer hari ini izin tidak masuk.
Inti dari pertemuan mendadak ini adalah acara Seishun Bunkasai terpaksa dimajukan jadi seminggu lebih awal. Tentu banyak yang mengeluh. Arisawa sudah berjuang tapi kepala sekolah hanya memberi dua pilihan, ingin dilanjutkan atau tidak diadakan sama sekali. Mau tidak mau, acara harus dipercepat.
"Setidaknya dari sini kita bisa mendapat jeda waktu lebih panjang untuk mempersiakan Seishun Undokai. So, kita harus terima dengan lapang dada. Saya yakin, kalian selaku anggota komite dan seluruh murid Seigaku pasti bisa mensukseskan acara ini seperti tahun sebelumnya. Yang kita butuhkan sekarang adalah menyatukan pikiran, tekad, dan semangat supaya acara ini berhasil terlaksana! Paham!?" ucap Arisawa dengan nada lantang.
"PAHAM, KAICHOU!" balas semua anggota komite yang datang.
"Sampaikan berita ini secepatnya ke teman sekelas kalian. Laporan mengenai stand yang akan dibuat harus sudah ada secara terperinci besok sore. Mengerti!?"
"Yes, Sir!"
"Kalau begitu, kalian boleh bubar."
Tezuka masih mencatat sesuatu di catatan kecilnya ketika sang Ketua mendekat. Pemuda itu mendongak. "Kaichou, ada apa?" tanyanya.
"Sudah diputuskan kau yang akan jadi penanggung jawab acara di gym. Semua sudah setuju. Kutunggu laporan jadwal acara dan barang-barang yang dibutuhkan untuk dekorasinya."
Speechless. Belum sempat dijawab atau meminta penjelasan, Arisawa sudah menepuk bahunya sambil menyengir lima jari. "Aku mengandalkanmu, Tezuka-kun."
"Hai..." balas Tezuka sebelum sang senior pergi.
"Kaichou terlihat sangat mengandalkanmu, Tezuka-kun. Aku turut bersimpati."
Kali ini Tezuka menengok ke arah kiri. Yoshikawa ikut menepuk bahunya beberapa kali seraya berdiri. Pemuda itu memilih abai dan kembali menulis catatan tentang job desk-nya yang bertambah tanpa seizinnya.
Menjadi murid berprestasi, disayang guru-guru, diandalkan para senior, dan dikagumi oleh teman seangkatan maupun adik kelas. Itu semua sudah jadi makanan sehari-hari Tezuka sejak masih SD. Jadi, hal seperti ini sudah terbayangkan, walau sebenarnya ia tak ingin terlibat lebih jauh. Namun keluarganya (terutama dari sang kakek) selalu mengajarkannya untuk selalu bisa menerima amanat dengan ikhlas. Bukan berarti Tezuka mau dijadikan babu pihak sekolah, ya. (Walau rasanya takkan ada yang berani menyebutnya babu, sih.)
"Tezuka-kun, tidak kembali ke kelas?" tabya Yoshikawa lagi.
Sepertinya gadis itu ingin sekali mengobrol dengannya, tapi sejak awal Tezuka merasa tidak berminat sama sekali. "Hm," jawabnya seraya membereskan catatan dan memasukkan pulpen ke saku gakuran sebelum pergi keluar perpustakaan.
Yoshikawa mengekor di belakang Tezuka. "Aku bawa bentou dan isinya cukup banyak untuk satu orang. Aku tidak yakin bisa menghabiskannya sendiri. Apa kau mau membantuku menghabiskannya, Tezuka-kun?"
Mulut Tezuka terkatup rapat. Jelas sekali gadis berambut biru gelap itu memang berniat mengajaknya makan siang bersama. Belum sempat ia berucap, sepasang matanya menangkap siluit yang sangat familiar berdiri di dekat pintu masuk perpustakaan. Kakinya berhenti melangkah kemudian berbalik menghadap Yoshikawa yang reflek ikut berhenti dengan berada di jarak aman.
"A-ada apa?" Dari ekspresi wajah, Yoshikawa terlihat menahan malu.
Sekali lagi Tezuka mengabaikannya. "Maaf, aku sudah ada janji. Untuk pengumuman hasil rapat, bisa kau yang urus?"
Seperkian detik bola mata gadis itu menunjukkan rasa kecewa, namun ekspresinya berubah kembali jadi ceria. "Un! Serahkan padaku. Tapi setelah jam pelajaran selesai, kau yang beri penjelasan lebih detail-nya, ya."
"Aa. Terima kasih, Yoshikawa-san." Tezuka menarik ujung bibirnya sedikit ke atas singkat sebelum melangkah lagi.
Perlahan gadis ceria itu ikut melangkah sambil menyembunyikan kotak bentou berukuran cukup besar ke belakang tubuhnya. Saat kedua matanya bertemu dengan bola mata biru milik Fuji Syuko, senyumnya memudar. Jadi, yang dimaksud janji tadi adalah janji makan siang dengan Fuji? pikirnya, mencelos seketika.
"Sudah kubilang, kau bisa ke sana duluan, Fuji-san," ucap Tezuka, terdengar memarahi tapi ekspresinya justru melunak.
Melihat hal itu tentu membuat Yoshikawa terperangah.
"Tidak apa-apa, sekalian refreshing," balas Fuji santai.
"Ossu, Fuji-senpai!" sapa beberapa adik kelas yang menjadi anggota komite bunkasai, baik laki-laki maupun perempuan.
"Halo~ Ternyata banyak juga ya, anggota klub tenis yang serajin Tezuka-kun," ucap gadis itu dengan nada bercanda. Para kouhai tertawa meski Tezuka menatap mereka tajam. Sepertinya mereka tidak takut pada pemuda tersebut jika ada Fuji Syuko. Aneh tapi Yoshikawa bisa melihat, bukan hanya Tezuka, Fuji punya spot tersendiri di hati mereka.
Apa yang dikatakan Sakura-chan berbeda sekali dengan kenyataan yang ada. Fuji-chan orang yang baik, makanya banyak disukai orang, termasuk Tezuka-kun.
"Yoshikawa-san sudah bawa kotak bentou juga? Mau makan bareng?"
Ajakan Fuji menarik Yoshikawa dari dunianya. Entah sejak kapan gerombolan kouhai klub tenis sudah tak ada di sekitar mereka. Ia mengerjap kemudian tersenyum. "Boleh?"
Fuji ikut tersenyum. "Tentu. Nee, Tezuka-kun?"
Kedua gadis itu menatap sang ketua kelas 2-4. Dari kilatan mata, jelas sekali Tezuka keberatan. Namun ia malah mengangguk.
Mereka pun beranjak pergi menuju halaman belakang sekolah, tepatnya dekat lapangan tenis. Area tersebut jarang dikunjungi murid untuk menghabiskan waktu istirahat makan siangnya. Yoshikawa berpikir, seandainya ia tidak ada, itu berarti mereka akan benar-benar berdua saja di tempat sepi. Memikirkannya saja sudah membuat hatinya sesak. Terlebih begitu mengingat penolakan Tezuka barusan.
Apa... benar-benar tidak ada kesempatan untukku, Tezuka-kun?
Pandangan Yoshikawa terus tertuju pada pemuda di depannya yang justru terlihat fokus menatap Fuji. Ia mengikuti mata itu dan baru sadar kalau rambut Fuji banyak mencuat ke atas di bagian ujungnya. Diam-diam Yoshikawa tertawa dalam hati karena Tezuka terlihat lugu sekali.
Perlahan tangan kiri Tezuka yang baru ia ketahui adalah tangan dominannya menyentuh ujung rambut Fuji. Reflek, gadis itu menengok lalu tersenyum. "Aku lupa melepas kunciran semalam saat tidur, makanya mencuat ke atas begini," ceritanya tanpa Tezuka bertanya.
Meski sudah diceritakan, tangan pemuda tersebut masih betah memainkan ujung rambut Fuji sebentar sebelum memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Kepalanya berpaling ke kanan. Yoshikawa bisa melihat dengan jelas warna telinganya sedikit memerah.
Apa ini? Tezuka-kun malu? Karena Fuji?
Tak ingin dirundung rasa sesak di dada, Yoshikawa memilih pergi. "Anoo, aku lupa kalau Sakura-chan menungguku di kelas!"
Baik Fuji dan Tezuka berhenti kemudian berbalik menghadapnya. Ekspresi Tezuka terlihat netral, berbanding terbalik dengan Fuji yang sedikit kecewa. Entah gadis itu hanya berpura-pura atau benar-benar sedih, Yoshikawa hanya tersenyum lalu menaiki anak tangga menuju ruang kelas dengan langkah terburu-buru.
Tezuka x Fem!Fuji
Fuji kembali menyuap satu telur gulung. Kedua matanya menerawang ke atas. Ia berhenti mengunyah ketika pandangannya menangkap sebuah sarang burung di salah satu dahan pohon tempat mereka berteduh dari terik matahari. Sumpit di tangan kanannya ditaruh di atas kotak bentou porsinya yang sudah habis kemudian menarik pelan lengan gakuran Tezuka.
Pemuda yang juga sibuk mengunyah makan siang buatan Fuji menengok. Tanpa mengucap sepatah kata, matanya mengikuti arah pandang sang gadis. Dengan ekspresi penasaran, ia menatap wajah Fuji yang tersenyum padanya.
"Aku jarang sekali melihat sarang burung di pohon," ungkap gadis manis itu.
"Pohon di dekat ruang klub juga ada satu," cerita Tezuka.
"Benarkah!? Aku tak pernah melihatnya!" kaget Fuji.
Kotak bentou khusus porsi Tezuka sudah habis tak bersisa. Ia menaruh sumpit di atasnya kemudian bergumam pelan, "Gochisousama deshita." Punggung dibiarkan bersandar pada pohon, sementara tangan kirinya menyentuh lalu mengusap rambut Fuji. "Pulang ekskul, aku akan memperlihatkannya padamu karena sudah membuatkanku bentou," janjinya.
Kepala Fuji mengangguk seraya memejamkan mata. Dari ekspresi wajah, gadis itu terlihat menyukai tindakan Tezuka. "Un. Gimana masakan buatanku? Enak?" tanya Fuji.
Tangan Tezuka turun hingga ke ujung rambut. Sepertinya ia ketagihan dengan rambut Fuji yang berbeda dari biasanya. Gadis itu terlihat semakin manis di mata Tezuka dengan penampilannya yang terkesan apa adanya sekarang. Sederhana dan elegan. Entah kenapa Fuji mengingatkannya pada sang ibu.
"H-hei, berhenti memainkan rambutku," keluh Fuji sambil meraih tangan Tezuka.
Pemuda itu membiarkan pergelangan tangannya digenggam Fuji. "Rambutmu... Aku menyukainya," ucap Tezuka jujur.
Wajah Fuji yang merona kini makin memerah padam. "Hanya... rambutku?" bisiknya setelah berhasil mengendalikan diri untuk tidak fangirling.
Tezuka terdiam, memproses ke mana arah pembicaraan mereka berujung. Perlahan tangan kanannya menyangga kepala di atas lutut kanan yang tertekuk dengan telapak tangan menutupi mulut. Ia memilih tidak menjawab karena malu.
Tiba-tiba Fuji tertawa pelan seraya menelusupkan jemarinya di antara jemari Tezuka. "Sejujurnya aku tidak keberatan, apalagi setelah kau jujur bilang menyukai rambutku," akunya.
Dalam hati Tezuka kalang kabut. Tangannya ingin sekali menyentuh rambut Fuji lagi, namun ia memilih membalas genggaman tangan gadis itu. Ia baru tahu bahwa dirinya memiliki fetis rambut akhir-akhir ini. Mungkin sejak tangannya menyentuh rambut Fuji dulu, ia jadi ketagihan ingin menyentuhnya lagi dan lagi.
Tapi... apa benar begitu? Tezuka merasa hanya rambut Fuji yang ingin ia sentuh. Matanya melirik ke samping, gadis itu terlihat menunduk malu.
"Fuji-san," panggilnya pelan.
Yang dipanggil menengok. "Hm?"
"Boleh... kupinjam kakimu?"
Pertanyaan Tezuka sukses mengundang ekspresi bingung dari Fuji. Ia tampak berpikir lalu kembali tertawa anggun. "Maksudmu kau ingin menjadikan pahaku sebagai bantal, hm?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Permintaanku mungkin terdengar kurang ajar. Maaf, tidak jadi." Tezuka memalingkan wajah.
Bibir Fuji maju beberapa mili meter. Tanpa aba-aba, ia melepas genggaman tangannya dan menarik lengan Tezuka hingga tubuhnya jatuh di atas paha Fuji. Ekspresi terkejut terlihat jelas di wajah pemuda tersebut.
"Aku menang, Tezuka-kun," ucap Fuji sambil menjulurkan lidah lalu tertawa lagi.
Tidak ingin wajah memerahnya dilihat, Tezuka pun kembali memalingkan wajah. Namun tindakannya membuat Fuji geli sekaligus tegang karena hidungnya menyentuh paha, walau untungnya tertutup rok yang panjangnya selutut. Tentunya reaksi sang gadis tak bisa dilihat Tezuka.
Kedua sejoli itu hanyut dalam keheningan. Bola mata sebiru lautan milik Fuji memandangi wajah pemuda di pangkuannya yang terlihat memejamkan mata. Semilir angin menggerakkan rambut mereka. Dengan lembut Fuji menyibakkan rambut cokelat gelap Tezuka yang sedikit menutupi wajahnya. Sekilas ia terlihat sedang tertidur pulas. Seperti anak kecil, pikirnya.
Gadis itu teringat sesuatu. "Lebih baik kau tidur terlentang supaya bahumu tidak terbebani," ucapnya pelan.
Tanpa membuka mata, Tezuka menurut. Terdengar helaan napas lega dari mulutnya diikuti ekspresi wajah rileks.
Senyum puas tersungging di wajah Fuji. Sejujurnya ia merasa senang dengan tingkah laku Tezuka padanya. Terlebih sejak kejadian di hari Sabtu kemarin yang sampai sekarang selalu bisa membuatnya senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Yuuta pun langsung menjaga jarak, sementara Yusuke hanya geleng-geleng kepala jika melihatnya begitu. Berbeda dengan sang ibu yang heboh dan memintanya untuk bercerita tentang Tezuka. Fuji memilih merahasiakannya sekarang karena tak ingin berharap banyak pada sesuatu yang belum pasti.
"Kacamatamu kulepas, ya," izin Fuji.
"Hmm..."
Perlahan kacamata berbentuk oval tersebut dilepas lalu ditaruh di atas kotak bentou yang sudah ditutup sebelumnya. Tangan kanan Fuji mengelus rambut Tezuka sambil terus memandangi wajah tenangnya yang jarang diperlihatkan di muka publik. Tangan itu berhenti bergerak beberapa detik kemudian dan membuat kedua tangannya menjadi sanggaan tubuh. Kepalanya mendongak, menatap pergerakan awan. Ketika angin kembali menyapa, matanya terpejam.
Diam-diam Tezuka membuka mata yang terasa berat. Efek perut terisi penuh serta suasana sejuk akibat angin setengah musim panas dan setengah musim gugur yang membuatnya mengantuk. Omong-omong soal perut kenyang, ia belum membalas pertanyaan Fuji tadi.
"Fuji-san?" panggil Tezuka seraya menyamankan diri di pangkuan Fuji.
Kali ini gadis tersebut yang membalasnya dengan gumaman.
"Masakanmu enak. Terima kasih sudah membuatkannya untukku."
"Sama-sama~ Hei, padahal itu kotak bentou pertama buatanku, loh." Bahu Tezuka terasa bergetar setelah mendengarnya. Fuji langsung menunduk. Sesuai dugaan, Tezuka menahan tawa. "Apa yang lucu?" tanyanya penasaran.
"Entah kenapa aku tidak yakin soal itu. Rasanya seperti memakan bentou buatan Okaasan," jelas Tezuka.
Wajah Fuji kembali merona. "Itu... terdengar seperti pujian."
"Memang," balasnya sambil menatap lurus pada mata sang gadis.
"Arigatou, Tezuka-kun." Senyum manis dan tulus ditunjukkan oleh Fuji. Tangan kanannya menangkup pipi kiri Tezuka kemudian mengelusnya dengan ibu jari.
Pemuda tampan itu terlihat menikmatinya. Ia memejamkan mata. Kehangatan tangan Fuji sukses membawanya ke alam mimpi, meski sedari tadi dirinya menahan diri untuk tetap terjaga. Pada akhirnya egonya mengalah dan membiarkan tubuh serta pikirannya beristirahat sementara waktu karena Tezuka tahu, semua akan baik-baik saja jika ada Fuji di dekatnya.
"Oyasumi..." Bisikan pelan bagaikan lagu pengantar tidur adalah hal terakhir yang ia dengar sebelum benar-benar tertidur.
To Be Continued
Fuah! Finally update lagi~ Sebenarnya tadi pagi mau update, tiba-tiba temen ngechat, hari ini jadi masuk kelas wwwwwww untungnya gak telat :')
Saya udah upload datanya dan ngetik note tapi karena mesti reload jadi keapus, sedih ih karena udah ngetik banyak notenya... TAT
Oke, jadi di draft tuh saya buat satu scene saat TezuFuji latihan dan dilihat Yoshikawa. Tapi satu scene di atas juga udah cukup buat si OC ini back off perlahan. Di omake juga saya mau tambahin dia yang nguping pembicaraan MomoKaidou terus liat sendiri gimana TF lovey dovey ria. Namun saya urungkan...
Btw sebenarnya saya juga buat fanfic baru. Temanya udah ada sejak tahun 2015, cuma saya pake di fandom bocah pelangi dan bayangan. Sayangnya gak jadi dan setelah dipikir-pikir, terutama setelah baca fanfic Fuji no Hyakumonogatari Kaidankai dari wara ningyo-san (saya sering ngemail beliau setelah fanficnya hiatus dan dikasih bocoran gimana endingnya xixixixi), kenapa gak dibuat versi TezuFuji aja?
Saya hanya terinsipirasi, tema khususnya saya ngikutin Psychic Detective Yakumo karya Kaminaga Manabu-sensei. Saya baru kelar nonton animenya yang sempat saya drop dulu, beberapa scene saya ambil di sana, termasuk ada crossover dua fandom ini dimana Fuji jadi korban dan ketemu Yakumo. #spoiler Awal kenal Yakumo itu dari komik yang saya beli versi Oda-sensei dan komik versi satu lagi (saya kurang satu volume hiks!) terus berlanjut ngumpulin novelnya. :3
Di fanfic baru yang saya kasih judul "Ao no Memorii" itu karakter kedua favorit saya, Akutagawa Jirou banyak ambil peran. Tapi gak sebanyak Eiji yang katanya Fuji's best friend, even though he didn't know how messed Fuji's life after graduated from Seigaku. Lebih banyak drama dan friendship bercampur angst. Saya gak bisa spoiler lebih banyak karena draft chap 5 nya belum kelar. :') Doakan semoga tahun ini bisa dipublish ya...
Thank you for visiting, reading, following, and gave me review. Especially Ai and August 19. :') I'll think about that again after they become adult ones, wwwwwww!
THERE'S SECOND OMAKE! Enjoy~ :3
Bye bye!
CHAU!
~ OMAKE 02 ~
Momoshiro Takeshi cuci muka di kran dekat ruang klub. Sang rival, Kaidou Kaoru juga ada di sana sedang menenggak sebotol air mineral. Pemuda berambut spike itu mengelap wajahnya dengan handuk biru tua lalu meminum air dari kran. Ia memaruh handuk basah ke dalam tasnya secara asal dan bersiap pulang tanpa ganti baju. Mendadak Momo teringat sesuatu kemudian menengok pada Kaidou.
"Oi, Mamushi," panggilnya.
"Apa, Baka Momo?"
Karena terlalu lelah, ia tak mempedulikan panggilan Kaidou. "Akhir-akhir ini... apa kau merasa Fukubuchou sering memperhatikan klub tenis putri? Lebih tepatnya pada Fuji-senpai."
"Bukan urusanku, aku tidak peduli," balas Kaidou seraya ganti baju.
Momo menengok ke arah lapangan tenis. "Aa. Baru saja dibicarakan. Lihat, Kaidou. Mereka pulang bareng," tunjuknya.
Dirundung rasa penasaran, Kaidou pun ikut menengok. Fuji Syuko bersandar pada pagar lapangan sambil tersenyum lebar ketika Fukubuchou mereka menghampirinya. Hal selanjutnya yang membuat Kaidou merona adalah tangan kiri Tezuka mengelus pelan puncak kepala anggota reguler kub tenis putri itu dengan tatapan lembut. Jelas sekali dua senpai-nya seperti memiliki hubungan lebih dari teman biasa.
"Ternyata Fukubuchou bisa berekpresi begitu, ya? Fuji-senpai hebat..." puji Momo.
Kaidou mendesis. "Semua laki-laki pasti bersikap demikian di hadapan Fuji-senpai. Dia... cantik."
Ekspresi wajah Momo melongok setelah mendengar pujian Kaidou barusan. "Wah, apa ini? Jangan-jangan kau suka Fuji-senpai juga, Mamushi?"
"Jangan asal berspekulasi, Peach butt. Dan apa maksudmu dengan 'juga'?"
"Senpai kita banyak yang suka dengannya sih. Apalagi setelah tahu dia yang membawa kemenangan tim sampai semi final turnamen nasional kemarin." Momo tertawa renyah kemudian. "Tapi sepertinya harapan mereka harus pupus, termasuk kau, Mamushi."
Kali ini Kaidou hanya menatapnya dalam diam. Dibanding suka, dirinya hanya merasa kagum pada seniornya tersebut. Tak ingin berdiskusi lebih jauh, ia pun memilih pulang. Namun baru sampai ruang klub, langkahnya terhenti dan sukses membuat Momo yang berjalan di belakangnya menubruk punggungnya.
"Oi, Mamu—"
"—ssshh!"
Rasa kesal menyelimuti hati Momo karena mulutnya dibekap. Ia melepas paksa bekapan tersebut lalu mengintip dari belakang Kaidou. Penasaran dengan apa yang dilihat sang rival.
"Oooh, yaru jan!" bisik Momo menggebu-gebu.
"Jelas sekali Fuji-senpai menyukai Fukubuchou," gumam Kaidou.
Kepala Momo mengangguk penuh semangat begitu melihat tangan Tezuka perlahan bergerak menggenggam tangan Fuji setelah gadis itu sedikit bersandar pada bahunya. Mereka tampak semakin dekat dan entah apa yang dibicarakan Tezuka sukses membuat Fuji menunjukkan tawa malu-malunya.
"Bukannya mereka terlihat lucu, Mamushi?" tanya Momo, meminta pendapat dengan wajah merona.
Beberapa detik setelah tak ada jawaban dari lawan bicaranya, Momo memutuskan untuk menengok. Ia menahan tawa begitu melihat wajah Kaidou memerah padam diiringi uap panas menyembul dari puncak kepala layaknya kepiting yang sedang direbus. Begitu subjek pengamatan menghilang dari pandangan, Momo langsung tertawa terpingkal-pingkal. Saingannya ini memang polos sekali.
"Berhenti tertawa, Peach butt!" kesal Kaidou.
"Adegan begitu tuh, sering ada di dorama. Buahahaha—dan kau masih—pfft! Hahahahaha!"
"Uruse, Baka Momo!"
~ OMAKE 02 END ~
