A CHANBAEK'S FANFICTION

PRESENT BY TINKERBAEKK

MAIN CAST : CHANYEOL BAEKHYUN SEHUN LUHAN KAI KYUNGSOO

Warning : Contain mature content, harsh words, violence, boyxboy

DILARANG KERAS MENGUPLOAD CERITA INI DALAM BENTUK APAPUN DAN DI MEDIA MANAPUN KARENA SETIAP CERITA MEMILIKI HAK CIPTA DAN COPYRIHGT

Selamat Membaca

Dan usahakan apresiasi dengan review :)

xxx

Sudah dua minggu ini Baekhyun tidak bertemu dengan Chanyeol. Pula Baekhyun sudah tidak bekerja di mansion Chanyeol. Baekhyun sibuk bekerja di panti asuhan.

Baekhyun sering menanyakan kabar Chanyeol kepada Hyejung. Namun wanita itu selalu menjawab tidak tahu.

Entah benar-benar tidak tahu atau Hyejung menyembunyikan sesuatu. Yoobin dan Chanyeol juga tidak pernah mengunjungi panti asuhan lagi.

Baekhyun melamun lagi sambil menata pakaian-pakaiannya ke dalam lemari.

"Hyung!"

Baekhyun tersentak ketika Sehun memanggilnya. Anak itu masuk ke kamar Baekhyun dengan seragam sekolahnya yang rapi. Senyum manis terus terpatri di bibir Sehun setelah ia selesai dengan ujian kelulusannya.

Siapa yang menyangka bahwa Sehun sudah sangat besar dan sebentar lagi akan berkuliah.

"Kau akan datang kan?" tanya Sehun meyakinkan.

"Ya. Aku akan datang bersama ibu."

Sehun mengangguk-angguk. Hari ini sekolahannya mengadakan pentas seni perpisahan. Ia dan Kai akan menari lagi di hadapan orang banyak.

Maka dari itu Sehun sangat tak sabar. Mentang-mentang dia juara dua pencarian bakat di Hongdae kemarin, kepercayaan dirinya meningkat drastis.

"Aku juga mengajak Luhan hyung."

Baekhyun menaikkan satu alisnya. Mengajak Luhan itu kemungkinan juga Chanyeol akan ikutkan?

Baekhyun mengernyit ketika ia merasakan perutnya bergejolak. Baekhyun tersadar bahwa ia akan muntah. Ia menutup mulutnya dengan tangan dan berlari ke kamar mandi.

"Baekhyun hyung," panggil Sehun dengan raut cemas saat melihat Baekhyun hendak muntah.

Baekhyun memuntahkan seluruh sarapan pagi di kloset dengan Sehun yag memijit-mijit tengkuknya.

"Kau masuk angin ya hyung?" tanya Sehun sambil memperhatikan Baekhyun yang sedang membersihkan sisa muntahan di mulutnya.

"Ah ini tidak apa-apa."

"Hyung jangan dipaksakan datang ke sekolahanku jika kau masuk angin."

Baekhyun memandangi Sehun yang memasang raut cemas dan kecewa. Baekhyun segera membawa Sehun ke dalam pelukannya.

"Aku tidak apa-apa, Sehun-ah. Aku akan tetap datang untuk melihatmu dan Kai," ujar Baekhyun lembut sambil mengusap-usap punggung Sehun.

Sehun pun tersenyum kecil.

xxx

Yang dinanti-nantikan akhirnya pun tiba. Baekhyun duduk di tribun penonton bersama dengan Soohyun. Baekhyun sedari tadi tidak menemukan Luhan. Padahal Sehun berkata ia mengundangnya.

Pembawa acara mengumumkan bahwa sekarang adalah penampilan dance dari Sehun dan Kai. Semua orang bertepuk tangan meriah menyambut penampilan mereka berdua.

Lighting panggung mulai menyala dan musik mulai terdengar. Sehun dan Kai membawakan dance cover lagu Power yang dipopulerkan oleh EXO.

Keduanya begitu luwes menari di atas panggung. Tanpa Baekhyun sadari, Luhan duduk di sampingnya. Ikut memperhatikan bagaimana Sehun menari sambil tersenyum lebar hingga mungkin giginya kering.

Penampilan dengan durasi empat menit itu berjalan lancar. Semua orang bertepuk tangan riuh dan ada beberapa yang melakukan stand applause.

"Sehun-ah benar-benar keren bukan?" tutur Luhan sambil melirik Baekhyun. Baekhyun pun terkaget.

"Yack! Kau mengagetkanku saja hyung. Eh sejak kapan kau disini?"

"Sejak kau sibuk memperhatikan kedua orang itu sibuk menguasai panggung," ujar Luhan sambil menunjuk Kai dan Sehun yang masih di atas panggung dalam sesi basa-basi dengan pembawa acara.

"Baiklah semuanya. Ini ada penampilan spesial dari seseorang. Penampilan ini ditujukan kepada Byun Baekhyun yang sedang duduk di tribun penonton dengan senyum manisnya eeii," ujar si pembawa acara dengan nada menggoda.

"Ak-aku?" gumam Baekhyun. Luhan tertawa kecil saat melihat reaksi terkejut Baekhyun.

Suasana menjadi riuh. Penonton celingukan kesana kemari, mungkin penasaran dengan siapa itu Byun Baekhyun.

"Baiklah kita sambut, Park Chanyeol," pekik si pembawa acara dengan heboh lalu menuruni panggung.

Lighting panggung mendadak gelap. Lalu sebuah lampu menyinari satu-satunya objek yang berada di atas panggung.

Seorang pemuda yang duduk di kursi dengan gitar akustik di pangkuannya.

Baekhyun membeku di tempat. Rasanya ia ingin menangis betapa ia merindukan sosok yang di atas panggung itu.

Petikan gitar mulai terdengar. Keheningan menyelimuti keadaan sekitar.

"When you were here before.

Couldn't look you in the eye"

Chanyeol mulai bernyanyi. Kedua matanya menyapa kedua mata sipit Baekhyun yang melihatnya tanpa berkedip.

"He's just like an angel.

His skin makes me cry"

Baekhyun pun terhanyut dalam suara bariton Chanyeol yang indah menyanyikan lagu populer dari Radiohead.

"You float like a feather.

In a beautiful world"

Baekhyun mulai merasakan gempa di bagian jantungnya. Rasanya sedikit asing saat perasaan itu muncul lagi.

"And I wish I was special.

You're so fuckin' special"

Kedua pipi Baekhyun merona hebat. Kepalanya mendadak pusing ketika potongan momen-momennya bersama Chanyeol terlintas di dalam otak.

"But I'm a creep, I'm a weirdo.

What the hell am I doing here?

I don't belong here."

Baekhyun merasa sangat beruntung bahwa ia tahu sisi lain Chanyeol yang mungkin tak ditunjukkan pada sembarang orang. Namun sekaligus menakutkan saat berhadapan dengan alter egonya.

Baekhyun refleks mengusap bekas luka yang dibuat oleh Chanyeol pada malam itu, malam dimana Chanyeol hendak membunuhnya yang dikira ia adalah Changhyuk, ayahnya.

Chanyeol masih bernyanyi dan Baekhyun berusaha keras untuk menikmatinya sampai lagunya selesai. Namun gejolak di perut Baekhyun tidak bisa ditoleransi lebih lama lagi.

Baekhyun menutup mulutnya dengan tangan lalu bangkit tergesa-gesa menuju ke kamar mandi.

"Yack! Baekhyun-ah!" panggil Luhan. Merasa panggilannya diabaikan, Luhan pun mengikuti Baekhyun.

"Astaga Baekhyun-ah!" pekik Baekhyun ketika ia memasuki kamar mandi dan melihat Baekhyun muntah-muntah di wastafel.

Luhan segera memijit tengkuk Baekhyun. Ia membungkam mulutnya selama Baekhyun menyelesaikan kegiatan itu.

"Terima kasih Luhan hyung," ujar Baekhyun sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu.

"Kau sakit? Kau ingin aku antar pulang?" tawar Luhan dengan raut cemas saat melihat wajah Baekhyun berubah pucat.

"Tidak. Aku harus menemui Sehunnie."

Tak mau berdebat, Luhan pun mengekori Baekhyun yang berjalan keluar kamar mandi. Mereka berdua lalu berhenti dan duduk di bawah pohon maple yang tak jauh dari panggung.

Penampilan Chanyeol sudah selesai omong-omong.

"Apa maksudnya Chanyeol-ah menyanyikan lagu itu untukku?" tanya Baekhyun sambil memijit pelipisnya. Entah kenapa kepalanya jadi pusing setelah muntah.

"Aku uhhh aku sendiri juga tidak tahu."

"Hyung!" Itu suara Sehun yang datang bersama dengan Chanyeol.

"Hyung kau darimana?" tanya Sehun sambil menghampiri Baekhyun. Si bungsu itu masih khawatir dengan keadaan tubuh kakaknya.

"Aku habis dari kamar mandi."

"Kau muntah lagi ya? Astaga wajahmu pucat," celoteh Sehun yang membuat atensi Chanyeol tertarik.

Chanyeol jadi khawatir ketika Sehun bertanya apakah laki-laki mungil itu muntah lagi. Itu tandanya Baekhyun sakit.

"Kita tunggu ibu dulu ya. Dia sedang mengambil hasil kelulusanku di kelas. Sebentar ya hyung."

Baekhyun pun mengangguk lemah. Luhan dan Sehun memijat-mijat bahu dan lengan Baekhyun agar Baekhyun merasa lebih mendingan.

Namun Chanyeol berdiri seperti patung di hadapan Baekhyun. Melamunkan wajah pucat yang telah mencuri hatinya.

"Pu-pusing," lirih Baekhyun.

Dan tiba-tiba saja Baekhyun jatuh di pundak Luhan. Semuanya panik. Chanyeol segera menggendong Baekhyun menuju ke mobil Luhan. Sedangkan Sehun harus menarik Soohyun yang masih berbincang dengan ibu temannya di depan kelas.

Semua panik dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.

xxx

Soohyun merasa gugup luar biasa saat ia dipanggil untuk menghadap dokter yang baru saja menangani Baekhyun.

Wanita dua anak itu duduk gelisah di kursi yang berhadapan dengan sang dokter.

"Nyonya Soohyun, apakah kau tahu bahwa Baekhyun adalah seorang laki-laki carrier yang bisa hamil?" tanya sang dokter dengan nada setenang mungkin.

Soohyun menunduk dan menggigit bibir bawahnya gugup.

"Ya. Aku tahu."

Fakta yang tersembunyi. Hanya Soohyun yang tahu bahwa anak pertamanya itu bisa mengandung walau laki-laki.

"Baekhyun hamil. Usia kandungannya sudah sebulan lebih sedikit," jelas sang dokter membuat Soohyun melotot lebar.

Soohyun tentu tak menyesal sedikitpun melahirkan seorang laki-laki carrier secantik Baekhyun. Tapi Soohyun tak tahu harus bagaimana ketika Baekhyun hamil lebih cepat dari yang ia bayangkan.

"Be-benarkah?" tanya Soohyun meyakinkan.

"Iya. Kandungannya masih lemah jadi aku harap kau dan suaminya bisa menjaga Baekhyun lebih ketat. Dan tolong jangan biarkan dia kelelahan." Dokter itu tersenyum ramah.

Soohyun keluar dari ruangan sang dokter degan perasaan yang tak jelas. Ada senang, bingung dan sedih.

Soohyun segera mengunjungi kamar rawat Baekhyun. Anak sulungnya itu sudah sadar ditemani Sehun.

"Ibu apa yang dokter katakan?" tanya Sehun penasaran.

Bukannya menjawab pertanyaan si bungsu, Soohyun malah mengambil posisi duduk di pinggir ranjang Baekhyun.

"Katakan Baekhyunnie, apa kau ingat siapa yang menculikmu dulu dan memaksamu untuk memuaskannya demi uang sekolah Sehun?" tanya Soohyun dengan tatapan mengintimidasi membuat Baekhyun sedikit takut.

Suasana hati Sehun berubah drastis saat kejadian yang sangat ia benci itu kembali terucap dari bibir ibunya.

"Katakan dengan jujur Byun Baekhyun!" sentak Soohyun membuat Baekhyun mulai terisak. Sehun pun memijit pundak ibunya supaya lebih rileks.

"It-itu Chanyeol-ah."

Soohyun seperti tertampar petir hingga gosong dan tubuhnya tak mampu bergerak lagi. Begitu pula dengan Sehun.

Soohyun terdiam ketika Chanyeol yang ia kenal sebagai laki-laki yang baik dan penuh sopan santun itu adalah pelakunya.

"Dengan siapa lagi kau melakukan hubungan seks selama ini?" tanya Soohyun.

Baekhyun sebenarnya risih dengan pertanyaan itu. Tapi mendengar nada tegas dari ibunya, Baekhyun tak berani mengelak.

"Hanya dengan Chanyeol-ah. Dan sudah dua kali," cicit Baekhyun.

"Kau hamil, sayang," tutur Soohyun dengan berlinang air mata lalu memeluk Baekhyun dengan erat.

"Ap-apa?" Baekhyun dilanda kebingungan.

"Kau hamil. Dan itu adalah anak Chanyeol-ah. Maafkan ibu Baekhyun-ah. Ibu tak pernah memberitahumu tentang keistimewaan yang kau punya. Ibu hanya sedang menunggu waktu yang tepat."

Sehun merasakan gemuruh di dalam hatinya. Rahangnya mengeras seiring dengan kepalan tangannya yang menguat.

"Dokter bilang kau harus banyak istirahat, Baekhyunnie. Kau harus mengundurkan diri dari pekerjaanmu di panti asuhan. Dan jangan lupa untuk memberitahu Chanyeol-ah kabar ini."

"Kita harus pulang ke Bucheon!" tegas Sehun membuat Soohyun dan Baekhyun mengernyit bingung.

"Kita tidak boleh membiarkan Park Chanyeol mengetahui bahwa hyung mengandung anaknya. Aku tidak sudi memiliki kakak ipar yang telah memperkosa hyungku. Aku tahu kau sangat ingin membantu sekolahku hyung tapi bukan ini yang aku inginkan. Bukan tubuhmu sebagai jalan keluarnya," lirih Sehun yang makin lama laki-laki itu terisak.

"Sehunnie aku tak menyesal telah melakukan semua itu untukmu," lirih Baekhyun. Laki-laki itu ingin bangkit dan memeluk erat tubuh adiknya yang sesenggukan, namun tenaganya masih lemah.

"Tapi aku yang merasakan sakit hati! Aku merasa seolah aku adik yang buruk yang membiarkan kakaknya melewati hal berat dan aku hanya menerima hasilnya yang bahkan aku hanya duduk manis! Aku benar-benar adik yang buruk untuk hyung. Dan jika kalian tidak setuju dengan keputusanku maka biarkan aku yang pergi. Aku hanya tak sudi melihat wajah keparat itu bersanding dengan Baekhyun hyung. Aku sangat membencinya dan ingin membunuhnya--"

"Sehunnie diamlah!" sela Baekhyun.

"Aku ingat sekali kau pulang pagi-pagi dengan tubuh bekas cumbuan, hyung. Kau berlutut di depan ibu dan menangis keras. Aku benar-benar merasa seolah besi besar menghantam hatiku. Aku benar-benar sakit hati melihatmu seperti itu. Dan aku makin sakit hati ketika kau berkata yang terpenting tunggakan uang sekolahku telah lunas. Sebegitu mahalnya uang sekolahku dari tubuhmu, hyung!"

Sehun terus menunduk dan menangis sambil mengutarakan perasaannya. Ia tahu ia sangat kurang ajar menyentak Baekhyun seperti itu. Namun Sehun hanyalah seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya.

Soohyun dan Baekhyun terisak sambil berpelukan setelah mendengarkan perkataan menyakitkan Sehun yang keluar dari bibir si bungsu.

"Terlebih si keparat itu sekarang sedang bekerja di sebuah cafe dengan bayaran tak seberapa demi menyambung hidupnya dan sang ibu. Apa kau tega membuat hidup Chanyeol hyung semakin berat? Bagaimana pun ia harus mencari uang lebih untuk menghidupimu dan anak kalian," tutur Sehun kali ini membuat Baekhyun semakin melemah.

Baekhyun sadar tak seharusnya ia memberatkan Chanyeol. Bagaimanapun juga Chanyeol yang telah menolongnya untuk meluluskan Sehun dari sekolah.

Chanyeol sudah banyak sekali membantu hidupnya dan keluarga kecilnya. Baekhyun sadar bahwa ia tidak seharusnya menuntut hal lain dari Chanyeol.

Sehun benar.

Ia harus merawat bayi dalam kandungannya sendiri dengan bahagia tanpa membebani Chanyeol.

Sehun benar.

Bucheon adalah tempat terakhir keluarga Byun untuk menyambung hidup. Seluruh harta peninggalan Ayah Byun ada disana dan sebuah rumah nyaman peninggalan Nenek Byun yang sekarang tak dihuni siapapun.

"Sehun benar."

Soohyun langsung menatap Baekhyun. Sedikit enggan dengan persetujuan Baekhyun.

"Baekhyun kau tak seharusnya mendengarkan omong kosong adikmu. Anakmu juga butuh seorang Ayah," rayu Soohyun membuat Sehun semakin kesal dengan ibunya.

"Tidak ibu. Sehunnie benar. Selama ini Chanyeol-ah telah banyak membantu keluarga kita. Kita tak seharusnya menuntut hal lebih darinya dengan keadaannya yang sekarang. Kita tak boleh membebani Chanyeol-ah lagi. Kita harus pergi ke Bucheon besok pagi-pagi sekali," tutur Baekhyun membuat Soohyun menghela napas panjang. Sementara itu Sehun tersenyum tipis.

"Aku akan pergi memesan tiket bus," ujar si bungsu yang beranjak meninggalkan ruangan.

"Kau yakin ini keputusan bulatmu? Bukan karena hasutan adikmu?" tanya Soohyun meyakinkan.

"Aku yakin. Ini keputusanku dan aku harap ibu mendukungnya."

"Ibu selalu mendukungmu, Baekhyunnie."

Soohyun lalu memeluk Baekhyun dengan erat sebentar lalu melepasnya dan mengusap lembut pucuk kepala Baekhyun.

"Kau istirahat ya. Ibu akan pulang untuk mengepak barang-barang."

xxx

Setelah selesai dengan pekerjaannya, menyanyi di sebuah cafe, Chanyeol segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Baekhyun.

Tepatnya itu sore hari, Chanyeol dan Luhan kaget ketika tak menemukan Baekhyun di ruangannya yang kemarin. Pula ruangan itu sudah bersih dan rapi.

Chanyeol segera berjalan menuju ke meja informasi diikuti Luhan di belakangnya.

"Permisi, apa anda tahu tentang pasien yang bernama Byun Baekhyun?" tanya Chanyeol dengan raut cemas kepada seorang suster jaga.

"Oh pasien laki-laki yang sedang hamil itu bukan?" tanya si suster memastikan.

"Hamil?"

"Ya. Pasien yang bernama Byun Baekhyun itu dinyatakan hamil setelah kemarin dilarikan kemari karena pingsan. Namun pagi tadi pasien meninggalkan rumah sakit karena memang sudah diperbolehkan pulang, bersama seorang wanita tua dan seorang pemuda."

Chanyeol nampak berpikir. Apa yang dikatakan si suster itu pastilah Byun Baekhyun yang ia cari.

Seorang wanita tua yang dimaksud pastilah Soohyun dan seorang pemuda itu adalah Sehun.

"Kita harus mencari mereka ke rumah!" ujar Luhan kesal karena Chanyeol hanya diam dan berpikir.

Terlebih fakta yang begitu mengejutkan bagi Chanyeol dan Luhan bahwa Baekhyun dinyatakan hamil.

Begitu sampai di rumah Baekhyun, rumah keluarga Byun itu nampak sepi dan kosong.

Luhan pun bergegas mengetuk-ngetuk pintu rumah kediaman keluarga Byun itu dan sesekali meneriaki nama Baekhyun dan Sehun.

"Haish kemana perginya mereka!" umpat Luhan.

"Kalian..mencari siapa?"

Chanyeol dan Luhan menoleh mendapati seorang wanita berseragam pembantu rumah tangga. Chanyeol melirik ke arah pin yang ada di dada wanita itu.

Pin yang berembos keluarga Kim. Ya pasti itu keluarga Kai. Chanyeol pernah melihatny dulu saat pesta barbeque di rumah Kai.

"Kami mencari keluarga Byun," ujar Luhan.

"Wah keluarga Byun sudah pindah dan meninggalkan rumah pagi tadi."

Chanyeol dan Luhan saling bertatapan.

"Kemana pindahnya mereka?" tanya Chanyeol dengan emosi.

"Maaf tapi aku tidak tahu. Aku sempat menanyakan mereka dan mereka hanya bilang ingin pindah ke suatu tempat yang Baekhyun sukai."

Chanyeol dan Luhan nampak berpikir. Baru sekitar beberapa minggu Chanyeol mengenal Baekhyun. Itupun tidak dekat. Jadilah Chanyeol tak tahu tempat mana yang Baekhyun sukai.

"Apa Kai ada di rumah?"

"Oh Tuan Muda Kai sekarang berkuliah di luar negeri. Dia berkuliah di Indonesia dan sudah meninggalkan Seoul sebelum kelulusannya."

Sialan!

Chanyeol terus mengumpat dalam hati. Kai adalah satu-satunya informasi yang dia punya. Tapi sekarang anak itu pergi jauh ke luar negeri.

"Baiklah saya harus kembali ke kediaman keluarga Kim. Ada pekerjaan yang harus saya urus," pembantu rumah tangga Kai itu pamit undur diri yang dibalas senyuman ramah oleh Chanyeol dan Luhan.

"Sialan aku tidak punya nomor telepon Kai dan barusan aku menelpon Sehun dan Baekhyun nomor mereka tidak terdaftar," umpat Luhan sambil memandangi ponselnya dengan emosi.

"Aku juga tak punya nomor Kai, Sehun ataupun Baekhyun," lirih Chanyeol.

"Apakah kau yakin anak yang dikandung Baekhyun-ah itu anakmu?" tanya Luhan yang kini ikut duduk di sebelah Chanyeol.

"Tentu saja. Baekhyun-ah bilang kalau dia masih perjaka saat pertama kali orang suruhanku membawanya ke mansion."

"Sekarang kita harus menemukannya dimana?" lirih Luhan.

Mereka berdua menghela napas panjang. Tak tahu harus mencari keluarga Byun dimana. Tak ada petunjuk yang tersisa.

xxx

to be contiued...

LOVE SHOT KANE PARAH JAJJAJSJAJJAJA