Preview Sebelumnya

"zi- apa alasanmu membatalkan pertunangan kita?"

"tidak ada alasan- kita sudah sama-sama dewasa ge! Kita juga harus segera menentukan mana yang baik dan mana yang tidak! aku belajar itu dari gege!"

"kau sudah tidak mencintaiku?"

"lebih dari sekedar aku mencintai gege! Aku hanya ingin gege bahagia"

Chapter 12

Hari ini adalah jadwal keberangkatan zitao, luhan yang berjanji akan mengantarnya ke bandarapun terlihat kalang kabut karena kesiangan.

"ayo menyala sayang kumohon!" luhan masih berusaha menghidupkan mesin porche pink kesayangannya.

"baba sudah bilang bukan? Paling tidak sekali-kali ajak mobilmu berkeliling sayang" sindir yunho yang baru akan memasuki mobilnya untuk pergi ke kantor.

"baiklah ini salahku, emm baba- bolehkah aku meminjam mobil baba! aku sudah sangat terlambat-

"dan baba juga akan terlambat datang ke rapat saham sayang" potong yunho.

Luhan keluar dari mobil dengan membanting pintunya kasar lalu berlari kearah sehun yang baru keluar dari rumahnya.

"pagi baba"

"pagi sehunna- baba duluan ya"

Baru sehun menghidupkan alarm mobilnya sambil menyapa ayah luhan, luhan sudah menerobos masuk kedalam mobil ferari merahnya dan menyamankan posisinya.

"luhan? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya sehun bingung.

"ayo ke bandara sekarang sehunna"

"kenapa? Ada apa?"

"pokoknya ayo ke bandara sekarang!" rajuk luhan membuat sehun akhirnya mengalah dan menuturinya.

Sepanjang perjalanan menuju Incheon airport, luhan disibukan dengan ponselnya mengacuhkan sehun yang kebosanan akan rasa penasarannya sendiri.

"sebenarnya mau apa kita ke bandara?" tanyanya sekian kali.

"mengantar zitao, dia akan pulang hari ini" jawabnya masih sibuk dengan ponselnya.

"benarkah? Lalu kenapa kita tidak menjemputnya?" luhan hanya nyengir.

"hehe aku kesiangan, lagipula mobilku mogok jadi kai berinisiatif mengantar zitao terlebih dahulu- chanyeol dan baekhyun juga sudah ada disana." Jelas luhan.

Sehun hanya berdecak malas dengan kekonyolan luhan sebelum menambah kecepatan mobilnya agar tidak terlambat.

Sesampainya di bandara mereka segera berlari menuju tempat keberangkatan sesuai intrupsi chanyeol di telepon tadi.

"akhirnya kau datang, kenapa lama sekali!" omel baekhyun.

"maaf mobilku mogok baek" luhan beralasan.

"bagaimana tidak mogok, kau tidak pernah menggunakannya- aku ingat terakhir kali kita mengendarainya saat kencan ke museum teddy bear hehe" gurau chanyeol.

"benarkah? Itu lama sekali- apa setelah itu kau tidak mengendarainya lagi lu?" Tanya baekhyun penasaran dan di balas anggukan oleh luhan.

"waaah daebak, kau seharusnya bersyukur setidaknya mobilmu tidak meregang nyawa di dalam garasi" gurau baekhyun dan di angguki antusias oleh chanyeol.

Mereka berdua ber-tos-ria setelah mengolok luhan yang membuatnya mengerucutkan bibir sebal dan mendapat kekehan dari semua orang kecuali sehun.

"sudah- sudah, kalian ini- kasihan kan luhan" lerai zitao.

"baiklah sepertinya aku harus masuk ke bagian pengecekan sekarang, luhan bagaimanapun kau yang terakhir datang- ayo peluk aku" ucap zitao sambil merentangkan kedua tangannya yang segera di sambut antusias oleh luhan.

"emm aku pasti akan merindukan kecerewetanmu" ucap zitao.

"aku juga pasti akan sangat merindukanmu zi" luhan mengendurkan pelukannya.

"aku janji jika aku ada pekerjaan di china, aku akan mengunjungimu! Kau harus mengirimkan alamatmu padaku" zitao mengangguk antusias.

Zitao melihat sehun yang terdiam dan sibuk memperhatikan interaksi luhan dengannya pun hanya tersenyum dan menyapanya.

"hai sehun- apa kau tidak ingin memelukku?" sehun tersenyum sekilas sebelum memeluk zitao.

"saat pertama kali kita bertemu- kau adalah gadis yang sangat bawel dan penggerutu, tapi lihatlah dirimu sekarang- korea benar-benar mengubahmu bukan?"ucap sehun.

Kai yang melihat zitao hanya diam membeku setelah sehun mengucapkan pujian tersebut sontak meremat bahu zitao pelan untuk menyelurkan semangat.

"kau adalah gadis yang hebat, aku bangga kepadamu" ucap kai pelan.

Zitao sudah hampir menangis karena matanya yang berkaca-kaca, karena tidak ingin bersedih di hari kepulangannya tersebut ia mengganti ekspresinya dengan tersenyum lebar dan segera berpamitan.

"jaga kesehatanmu zi" teriak kai.

"kami akan sering-sering menghubungimu!" tambah baekhyun.

Setelah zitao melambaikan tangannya dan menghilang ke dalam pintu masuk menuju tempat pesawat yang akan ia tumpangi berada, kelimanya hanya saling menatap satu sama lain.

"semoga ia bahagia" lirih baekhyun.

-skip-

Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan setelah kembalinya zitao ke tanah kelahirannya, semua yang ada di seoul mulai sibuk mempersiapkan peragaan busana untuk seoul fashion weak.

Meskipun menyita banyak waktu dan tenaga, toh para pekerja di runaway terlihat menikmati kesibukan dan berpartisipasi dalam kemeriahan tersebut.

Kris Wu, selaku kepala editor runaway-lah yang terlihat paling antusias disini, ia bahkan rela bolak-balik London-seoul selama hampir 9 kali dalam sebulan ini.

ia juga sangat bangga dengan team suksesnya, yang nyatanya bekerja dengan sangat-amat-memuaskan, dan mereka patut mendapatkan hadiah atas kerja keras mereka.

hingga hari ini akhirnya tiba, hari dimana seoul fashion weak di adakan di salah satu ballroom hotel berbintang dengan bertabur orang-orang yang cukup berpengaruh dalam dunia perfashionan.

Karena minseok yang sedang mengambil cuti melahirkan minggu lalu membuat baekhyun harus mengambil alih tugasnya sebagai ketua koordinir di dalam backstage bersama yixing dan suho.

Luhan cukup beruntung karena ia mendapat tugas untuk menemani dan membantu kris dan chanyeol untuk menyambut para tamu penting perusahaan mereka.

"waah daebak, rasanya menyenangkan sekali bisa duduk di front row seperti ini" bangga luhan.

"eoh? Kris- apakah itu designer jung?" Tanya luhan heboh.

"dan itu- itu- apakah itu editor majah vogue korea?" kris hanya berdehem menjawabnya.

Sementara chanyeol hanya mengulum senyum melihat tingkah konyol sahabat sekaligus mantan kekasihnya tersebut.

Bertahun-tahun mengenal luhan, tentu saja chanyeol cukup mengetahui seluk beluk gadis keturunan china tersebut.

Dari dulu luhan memang sangat mencintai dunia fashion, bahkan jika ibunya tidak melarangnya- sudah dari 3-4 tahun yang lalu luhan berkarir di milan.

Walau bagaimanapun nyonya xi tidak mau berada jauh-jauh dari putri semata wayangnya, dan syukurlah luhan mengerti akan kekhawatiran kedua orangtuanya.

"kau ingin menyapanya?" Tanya chanyeol.

"bolehkah?" luhan memalingkan pandangannya kearah chanyeol yang membalasnya dengan anggukan.

Tidak menunggu lama, chanyeol segera berdiri dan menarik pergelangan tangan luhan kearah para pesohor fashion di Negara gingseng tersebut.

"yak! Segera kembali kalian" teriak kris sambil menggelengkan kepalanya.

"annyeoghaseo semuanya" sapa chanyeol pada kerumunan tersebut.

"aah tuan park? Lama tidak bertemu" balas wanita bergaun maroon yang langsung saja mencium pipi kanan dan kiri chanyeol.

"aah anda yang terlalu sibuk designer moon, oh iya kenalkan ini assistant editor di perusahaan kami- bersama dengan kris, dia yang bertanggung jawab dalam acara ini- namanya xi luhan." Jelas chanyeol.

"annyeonghaseo" sapa luhan membungkukan badannya.

"ooh kau yang datang ke butikku bersama si tampan beberapa bulan yang lalu bukan?" celetuk designer jung yang diangguki malu oleh luhan.

"si tampan?" chanyeol mengernyit pada luhan.

"sehun, dia yang mengantarku mengambil beberapa rancangan di butik designer jung." Jelas luhan.

"jadi si tampan bertampang tembok itu bernama sehun, apa dia juga bekerja bersama kalian?" tambah designer kim.

"aah tidak-tidak-tidak, dia hanya menemani kekasihnya saat itu hehehe" gurau chanyeol yang mendapat delikan tajam dari luhan.

"oh jadi dia kekasihmu? Pantas saja" luhan mengernyit.

"tidak apa- kalian cocok hehehe" tawa designer jung.

'oh iya luhan, panggil saja aku jessica- kau tidak perlu memanggilku seformal itu"

"dan panggil aku ryeong atau wookie eonni hehe"

"nde, aku sangat mengidolakan kalian eonni" jawab luhan malu-malu.

Yah diantara gerombolan tersebut memang luhan sudah cukup mengenal pesohor-pesohor tersebut, bahkan beberapa sebagian merupakan idolanya- kecuali nona bergaun maroon yang mencium chanyeol barusan, ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

"apa yang duduk disana editor wu?" Tanya ryeong sambil menyipit yang di angguki oleh chanyeol.

"baiklah, kami harus menyapa tuan hebat itu- kami kesana dulu ya" pamit ryeong dan Jessica beserta anggota teamnya.

"apa aku harus menarik sehun menjadi assistant editor yang ke 4 untuk kris?" bisik chanyeol setelah kepergian para designer tersebut membuat luhan terkikik.

"bagaimana bisa dia mencuri hati wanita-wanita galak itu- huh? Termasuk kau"

"jadi aku galak?"

"tentu saja" luhan sudah akan mengumpat sebelum sebuah deheman mengintrupsi mereka.

EKHEEEM

"chanyeol-ie, tidakkah kau ingin mengenalkan temanmu padaku?" intrupsi orang yang berdehem tadi.

"oh iya luhan, kau pasti belum mengenalnya, dia moon gayoung- designer untuk majalah w di London"

"oh annyeonghaseo" sapa luhan ramah.

"sepertinya aku pernah mendengar namanya- emm tapi dimana ya?" gayoung memutar otaknya.

"hehe dia ini kekasihku yang sering aku ceritakan padamu dulu!"

"jinjja?" kaget gayoung.

Chanyeol hanya tersenyum mengaggukkan kepalanya dan menarik luhan menuju para tamu undangan yang baru saja menyapanya.

Sementara itu di backstage sendiri, baekhyun terlihat sibuk mengkoordinir para model untuk mendengarkan dan menjalankan intruksinya.

Sedangkan yixing mengontrol setiap rancangan dari beberapa penata rias yang akan di peragakan oleh model-model asing tersebut kurang dari 1 jam dari sekarang.

Begitu pula dengan suho yang mengecek dan mengontrol mekanisme untuk lighting dan property-property yang akan mereka gunakan kelayakannya.

Tidak memperdulikan keramaian di luar sana, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan saling berhubungan dengan walkie-talkie yang selalu berada di genggaman mereka.

"bagaimana tidak ada yang terlewatkan bukan?" Tanya baekhyun dari walkie-talkienya.

"ne- semua perfect" jawab yixing dari seberang sana.

"bagaimana dengan property?" tanyanya sekali lagi.

"semua aman, kita bisa memulainya sekarang" jawab suho antusias sambil berteriak-teriak.

Baekhyun hanya tersenyum menakutkan sebelum menghampiri para modelnya yang sudah siap dengan dandanan mereka masing-masing.

"oke girls, are you ready?" teriak baekhyun menyemangati para modelnya.

"sure" balas mereka berteriak.

"its- SHOWTIME!"

Tepat saat teriakan baekhyun lampu depan tiba-tiba padam dan berganti dengan lampu gemerlap warna-warni dengan alunan music menghentak selama beberapa menit.

Setelah chanyeol dan kris memotong pita yang berada di atas panggung sebagai tanda bahwa acara akan segera di mulai.

Membuat semua para tamu undangan bertepuk tangan meriah karena kemeriahan fashion show kali ini yang benar-benar membuat mood mereka naik drastic di awal acara.

Setelahnya lampu kembali menyala terang dengan music khas fashion show pada umumnya mengantar para model untuk berliak-liuk di atas panggung fashion weak secara satu- persatu.

Memamerkan rancangan musim semi dari beberapa designer ternama di Negara ini yang dapat di acungi jempol kehebatannya.

Banyak orang penting yang menjadi perwakilan perusahaan mereka berdecak kagum atas kesuksesan fashion weak yang di gelar di seoul pada malam hari ini.

Seperti perwakilan dari vogue, channel, dior, hingga majalah W korea sudah memberikan standing applause kepada editor Wu selaku penanggung jawab acara yang tengah mendapatkan beberapa karangan bunga di atas panggung.

Chanyeol selaku penyelenggara acara tersebutpun sudah berdecak kagum karena kehebatan editor kebanggaannya tersebut.

Ia terlihat sibuk membalas beberapa ucapan selamat- jabatan tangan bahkan hingga cium pipi kanan dan kiri kepada para tamu undangan.

"selamat yoda, kalian benar-benar hebat" ujar seseorang mengulurkan tangannya.

"aah sehun? Kau datang?" balas chanyeol senang.

"tentu saja, aku tidak mungkin tidak menghadiri hari penting untuk sahabat-sahabatku- dimana luhan?"

"dia sedang menemui team suksesnya di belakang, kau datang dengan siapa?"

"kyungsoo, tentu saja"

"lalu dimana dia?"

"menghampiri kekasihnya tentu saja, tuuuh" ucap sehun sambil menolehkan kepalanya ke arah kyungsoo yang sedang menemani kai mengambil gambar.

Sementara itu sendiri di backstage- luhan, baekhyun, yixing dan suho terlihat ber-tos-ria karena kesuksesan acara fashion weak mereka musim ini.

"kalian semua hebat!" seru luhan.

Kita semua hebat, maksudmu?" intrupsi baekhyun membuat keempatnya terkekeh.

"haaaah kita patut mendapatkan sekaleng beer untuk keberhasilan ini"gurau suho.

"tentu saja, chanyeol dan kris harus mentraktir kita" usul luhan yang segera di sambut sorak sorai oleh yang lainnya.

"baiklah aku ak-

"nona Xi" intrupsi seseorang membuat luhan segera memutar tubuhnya ke belakang.

"ne, aaah designer moon- ada yang bisa saya bantu?" luhan beramah tamah.

"bisa kita bicara sebentar?" pinta moon gayoung.

Luhan hanya mengangguk polos sambil memikirkan mengenai hal apa yang ingin designer moon bicarakan padanya- hell mereka baru pertama kali bertemu beberapa jam yang lalu.

"tidak disini nona xi"

"aaah baiklah" luhan tersadar dari lamunannya dan segera beranjak mengikuti wanita tinggi tersebut membuat tanda tanya besar di atas kepala teman-temannya.

Luhan mengikuti langkah kaki gayoung hingga membawa mereka di ruang ganti para model yang sudah sepi karena para model sudah berbondong-bondong ke ballroom acara untuk menarik para pesohor fashion yang mungkin saja dapat memakai jasa mereka lain waktu.

"hal penting apa yang ingin designer moon katakan kepada saya?" Tanya luhan penasaran.

"nona xi- anda harus tahu bahwa aku sangat mencintai park chanyeol." Ucap wanita berambut coklat itu lantang membuat luhan sedikit menegang.

"lalu? apa hubungannya dengan saya? Luhan masih berusaha bersikap ramah.

"sudah lama sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini padamu, bahkan sejak saat kau masih menjadi kekasihnya-" gayoung terdiam sesaat.

"karena sekarang status kalian hanya seorang mantan- jadi aku minta padamu xi luhan, berhenti mendekati chanyeol karena aku akan mengambilnya darimu" ucap gayoung dingin.

"Tch- apa anda baru saja memohon nona moon?" ejek luhan sarkatis.

"a- apa?" gayoung terkejut dengan perubahan ekpresi luhan.

"meskipun kami sudah berpisah- namun kami masih saling menyayangi satu sama lain, dan aku tidak akan membiarkan chanyeolku jatuh kepada wanita rubah sepertimu" desis luhan.

"a-apa kau bilang?"

"kau hanya bermuka manis saat di depan chanyeol- dan aku tidak suka chanyeol dekat dengan wanita sepertimu!" ucap luhan dan berbalik hendak beranjak sebelum lengan gayoung mencekalnya.

"kau tidak berhak mengatur hidup chanyeol" kini giliran gayoung yang berdesis.

"aku berhak, chanyeol akan melakukan apapun untukku- termasuk menolak wanita yang tidak aku sukai." Luhan melipat lengannya di depan dada.

"lagipula aku sudah menemukan calon yang baik untuk chanyeol- dan kurasa chanyeol akan bahagia dengan orang itu, jadi jika kau ingin mendapatkan chanyeol- pergilah tidur dan bermimpi."

Luhan menyeringai kejam dan berbalik meninggalkan ruang ganti tersebut menyisakan gayoung yang masih sibuk mengatur emosinya hingga akhirnya meledak.

Saat luhan berjalan di koridor ruang ganti tiba-tiba dari arah belakang seseorang menarik kasar surai madunya yang bergelombang membuatnya memekik kesakitan.

AAAAAKH

"KAU TIDAK BERHAK MENGATUR HIDUP CHANYEOL"

"YAAK- LEPASKAN, SAKIIT"

AAAAAKH

"aku akan mendapatkan chanyeol bagaimanapun caranya- meskipun harus dengan mencelakaimu sekalipun!" geram gayoung.

"lepaskan ini sakit- yak! Moon gayoung!" bentak luhan namun gayoung semakin mencengkram rambutnya hingga serasa ingin lepas.

Terjadi perkelahian diantara kedua gadis tersebut di tengah koridor yang sepi, teriakan kesakitan- umpatan dan makianlah yang mendominasi lorong tersebut.

Chanyeol dan sehun yang baru saja memasuki lorong belakang panggung untuk menemui luhan di backstage mendadak mengernyitkan dahi mereka karena mendengar kegaduhan sepanjang lorong tersebut.

"kau mendengar sesuatu sehunna?" sehun menajamkan pendengarannya.

"seperti- teriakan kesakitan- emm dan aku tidak tuli untuk mendengar kata brengsek barusan yeol" sehun menyeringai.

"aku juga mendengarnya- apa ada yang berkelahi disana?" tanyanya cepat.

Sehun hanya mengendikkan bahunya dan dengan cepat menepuk pundak chanyeol sebelum berlari mencari sumber keributan yang mereka dengar- chanyeol hanya memutar bola matanya malas dan ikut berlari di belakang sehun.

"sebenarnya apa yang ada di pikiran para gadis, eoh? Acara ini sukses saja mereka ribut seperti ini- bagaimana jika gagal?" gerutu chanyeol kepada sehun sambil tetap berlari.

Sedangkan sehun tidak menanggapinya dan hanya tersenyum segaris membayangkan kebenaran ucapan chanyeol yang membuatnya bergidik.

Sesampainya di tikungan lorong mereka melihat kedua wanita yang saling mencengkram rambut satu sama lain dengan saling melemparkan teriakan makian yang cukup tajam.

Mereka berdua segera beranjak untuk memisahkan kedua wanita yang semakin menakutkan tersebut karena menyadari bahwa lorong tersebut sangat sepi.

"yak nona-nona apa yang kalian lakukan? Hentikan." Lerai chanyeol menelusupkan tubuh raksasanya di antara wanita-wanita tersebut.

Kedua gadis tersebut sontak menghentikan pertikaian mereka paska seseorang memergoki kelakuan bar-bar mereka.

Terutama moon gayoun, ia tidak mau citranya sebagai designer tercemar hanya karena berkelahi dengan wanita bar-bar di depannya tersebut, maka ia segera memberbaiki penampilannya.

"luhan?"

Sehun, adalah orang pertama yang menyadari bahwa salah satu wanita tersebut adalah luhannya, di ikuti oleh canyeol yang segera menatap apa yang sehun tatap.

Di depannya luhan berdiri dengan rambut yang sudah kusut dengan robekan di ujung bibirnya, apalagi penampilannya- kemejanya kusut juga wedgesnya yang sudah terlepas.

"apa yang kau lakukan luhan?" chanyeol segera mencengkram kedua lengan luhan.

"wanita itu menarik rambutku terlebih dulu yeol" ucap luhan malas karena lelah.

Baik chanyeol dan sehun segera membalikkan tubuhnya menatap wanita yang juga penampilannya sudah tidak jauh berbeda dengan luhan.

"gayoug? Ada apa kau- ada masalah apa kalian bertengkar seperti ini?" Tanya chanyeol syok.

"dan kenapa kau menarik rambut luhan?" tambahnya sambil merapikan rambut luhan yang acak-acakan.

"chanyeol bertanya padamu nona moon." Sugut luhan yang segera di dekap sehun.

Lama gayoung terdiam memikirkan alasan apa yang sekiranya masuk akal untuk di terima chanyeol, ia tidak ingin chanyeol menganggapnya wanita bar-bar karena incident ini.

"se- sebenarnya aku hanya mengajak luhan berbincang mengenai hal apa yang kau sukai saat ini" cicitnya membuat luhan mengernyit heran.

"aku mencintaimu chanyeol- dan karena luhan adalah mantan kekasihmu, kupikir dia mampu membantuku mendekatimu" ia mengela nafas.

"tapi luhan marah-marah padaku dan melarangku untuk mendekatimu- dia juga mengancamku bahwa dia sudah mempunyai calon yang cocok untukmu- maaf chanyeol aku tidak sengaja menarik rambutnya!" ujarnya dengan tampang sedih.

Seketika luhan terbelalak lebar dan gugup memandang bergantian antara gayoung dan chanyeol yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

"chanyeol- ini- ini tidak seperti itu, aku bersumpah aku tidak-

"luhan bilang aku tidak boleh mendekatimu, bahkan jika aku bebal- ia akan memintamu menolakku."

"apa benar seperti itu lu?" chanyeol beralih menatap luhan.

"yeol- aku- bukan aaah aku tidak- maafkan aku!" luhan menunduk.

Yah meskipun gayoung menyampaikannya kepada chanyeol dengan melebih-lebihkan ucapannya- namun secara inti ada beberapa yang memang luhan akui keluar dari bibirnya.

Ia hanya menunduk meminta maaf pada chanyeol, namun bukan seperti itu maksudnya- ia hanya ingin chanyeol mendapatkan wanita baik yang tulus menyayangi chanyeol- yaitu baekhyun yang sudah mencintai chanyeol sejak mereka masih kecil.

Dan luhan yakin jauh di lubuk hatinya, chanyeolpun menyimpan cintanya untuk baekhyun, hanya saja rasa cinta itu belum muncul ke permukaan menggantikan status persahabatan di anatara keduannya.

"tapi kau taukan baekhyun mencintaimu" cicit luhan membuat chanyeol mengurut pelipisnya.

"luhan, baiklah- aku tahu baekhyun memang mencintaiku, tapi bisakah kau berhenti memaksaku untuk mengencaninya" chanyeol kehilangan control.

"aku muak luhan- muak! Tidak eomma, noona bahkan kau- kalian terus saja menekanku untuk mengencani baekhyun, aku tidak suka dipaksa!" bentak chanyeol dan berlalu begitu saja dari hadapan luhan yang terkejut,

Sehun segera merengkuh tubuh bergetar luhan, ia tahu sebentar lagi wanita yang mulai di cintainya itu akan menumpahkan air matanya- sebelumnya chanyeol tidak pernah membentak luhan seperti itu.

Sedangkan gayoung, ia menyeringai dan berdecih kearah luhan sebelum memutar tubuhnya berlalu dari hadapan sehun dan luhan sengan perasaan sangat puas.

Sebelumnya di ujung tikungan gayoung menaikkan alisnya mendapati seorang gadis dengan berurai air mata yang buru-buru membuang muka membelakanginya.

Tanpa mau repot-repot bertanya gayoung hanya mengendikkan bahu dan berjalan santai menuju ballroom untuk melanjutkan acara dan berkumpul dengan orang-orang penting lainnya.

Sementara gadis yang membuang muka barusan- yang tidak lain adalah byun baekhyun, tengah menangis tersedu-sedu karena tidak sengaja mendengar ucapan chanyeol yang secara tidak langsung menolaknya.

Ia bahkan sudah tidak mampu menahan berat badannya hingga merosot begitu saja merasakan dinginnya lantai lorong tersebut.

"sepertinya aku harus menyerah" gumamnya dengan senyum miris.

-skip-

Pagi ini chanyeol bermaksud untuk meminta maaf kepada luhan atas kejadian beberapa hari yang lalu, ia tidak bermaksud untuk membentak luhan, hanya saja saat itu ia telah di selimuti kabut kemarahan.

Beberapa hari luhan mengabaikannya, tidak menerima panggilannya atau membalas pesannya, bahkan ia tidak menyapanya walaupun berada dalam satu lift yang sama- dan itu membuatnya frustasi.

Di tambah lagi, baekhyun yang biasanya akan menjadi penengah dan akan membujuk luhan untuk memaafkannya jika sedang merajukpun- tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Chanyeol benar-benar frustasi di buatnya oleh kedua sahabat wanitanya tersebut, maka dari itu sebagai seorang pria ia harus gantle meminta maaf pada luhan.

"luhan!" gadis itu tidak mengindahkan panggilannya dan melewatinya begitu saja.

"yak- xi luhan, berhenti." chanyeol menyekal lengan luhan.

Luhan hanya diam menatapnya dengan pandangan menusuk membuat nyalinya seketika kembali menciut karena mata rusa di hadapannya ini.

"jika tidak ada yang ingin kau katakana- aku pergi~"

"yak! Tunggu- kumohon."

Luhan yang sudah maju beberapa langkahpun hanya menghela nafas dan berbalik menatap chanyeol, kali ini tatapannya tidak semenakutkan beberapa saat yang lalu.

"maafkan aku" cicit chanyeol.

"aku tidak bermaksud membentakmu, aku- aku hanya sedang, aaah luhan- aku tertekan" chanyeol menatap luhan lirih.

"setiap hari eomma dan noona selalu memaksaku untuk berkencan dengan baekhyun- dan itu membuat kepalaku sakit!" curhatnya.

"waeyo? Baekhyun cantik!" ucap luhan sarkartis.

"ya tentu- dia cantik, baik dan periang- dan dia adalah menantu idaman eommaku selain kau"

"lalu apa masalahnya?" tantang luhan.

"aku- entahlah lu, rasanya aku tidak mencintai baekhyun"

"bohong!" luhan tersenyum miring.

"chanyeol, selama ini siapa yang selalu ada disampingmu? Menemanimu, mendukungmu, hingga berada di pihakmu walaupun keputusan yang kau ambil salah- orang itu adalah baekhyun." Jelasnya.

"bahkan di bandingkan denganku, baekhyun 100 kali lebih baik." Luhan tersenyum getir

"tidak ada wanita sekuat baekhyun, dimana dia tetap berada disampingmu saat kau sudah memiliki seorang kekasih- bahkan ia mendukung hubungan kita dengan sangat baik- padahal ia tidak mengenalku sebelumnya!" ucap luhan menerawang.

"aku bahkan tidak sekuat itu melepaskan sehun untuk kyungsoo yang sudah aku anggap kakak kandungku sendiri, dia bahkan ikut menangis bersamamu saat hubungan kita berakhir dan memohon kepadaku untuk kembali padamu- dimana seharusnya setiap wanita akan bersorak sorai karena akhirnya lelaki yang dicintainya melajang" chanyeol hanya menunduk.

"kau tahu yeol? Bahkan beberapa waktu yang lalu- ia masih memohon padaku untuk kembali padamu, tidak ada wanita setegar dia yeol- dank au harus tahu itu."

"tapi aku- aku tidak pernah merasa getaran aneh saat bersamanya, dia adalah sahabatku lu- sahabatku dari kecil!" kilah chanyeol.

"kau tidak perlu berdebar saat bersamanya- yang perlu kau pikirkan adalah bagaimana keadaanmu jika suatu saat dia meninggalkanmu"

"aku hanya tidak ingin kau menyesal yeol-ie dan aku sudah memaafkanmu." Ucap luhan sambil menepuk pundak chanyeol dan berlalu.

Sementara chanyeol tidak bergeming dan sibuk mencerna ucapan luhan barusan hingga tidak menyadari sosok luhan sudah berlalu meninggalkannya.

-In Another Side-

Baekhyun terlihat kebingungan saat melihat kris mengemasi beberapa potong pakaian kedalam koper lipatnya- saat ia datang ke apartementnya untuk mengantarkan dokumen yang kris minta.

"kau mau kemana?" Tanya baekhyun sambil membantu melipat kemejanya.

"aku akan ke china- aku sudah berjanji pada zitao untuk mengajaknya makan malam bersama jika fashion weak kita berhasil."

"berapa hari?"

"entahlah- mungkin aku akan sedikit berlibur dan mengunjungi orangtuaku, lagipula ada pekerjaan yang harus aku urus disana" jelas kris.

"kau- tidak membutuhkanku ada disisimu?" Tanya baekhyun takut-takut.

"minseok sedang mengambil cutinya- aku pikir chanyeol dan luhan akan membutuhkan kau untuk berada disini- tenanglah aku sudah biasa mengurusnya sendiri."

"tapi- aku juga merindukan zitao, kris ijinkan aku ikut" baekhyun memohon.

Kris melihatnya menjadi tidak tega, mungkin baekhyun juga butuh liburan- selama ini anak itu selalu mengambil alih tugas kantor saat ia berdinas, tidak masalah bukan untuk mengajaknya berdinas.

"arraseo, aku akan meminta luhan menghandle urusan kantor- kemasi barangmu dan persiapkan passport dan visamu, kita berangkat lusa." Baekhyun tersenyum senang karena ucapan kris barusan.

"Sekarang sebaliknya kau kembali ke kantor, aku ada urusan yang harus ku selesaikan dengan designer choi" ujar kris yang segera di angguki oleh baekhyun.

"kembalilah saat jam makan siang, aku akan memesan lunch box untukmu." Yifan mengangguk dan setelahnya baekhyun berpamitan- berbalik meninggalkan apartement sang atasan.

"eoh? Kau sudah kembali?" Tanya luhan yang sedang sibuk meneliti katalok vogue saat melihat baekhyun mendudukan diri di mejanya yang berada di seberangnya.

"emmm"

"tidak ada yang terlewatkan bukan?" Tanya luhan kembali tanpa mengalihkan tatapannya dari katalok fashionnya tersebut.

"eoooh"

Luhan menghembuskan nafasnya kasar lalu menutup kataloknya dan meletakannya dengan kasar sambil menatap baekhyun garang.

"ada apa? Apa ada masalah?"

"tidak, aku hanya sedikit tidak enak badan."

"jinjja? Kau sakit? Jika seperti itu seharusnya aku saja yang mengantarkan file-file itu ke apartement sajangnim." Ujar luhan panik sambil terseok-seok menghampiri baekhyun sambil membenarkan high hellsnya.

"aku baik-baik saja lu, hanya saja mood ku baru saja turun." Sangkal baekhyun sambil menjauhkan keningnya yang di raba luhan.

"baiklah maafkan aku, kau mau aku memesankan Americano untukmu? Atau latte?" Tanya luhan antusias.

"tidak perlu, sebaiknya kau segera membereskan pekerjaanmu- sebentar lagi masuk jam makan siang." Luhan lantas melihat arloji kesayangannya.

"aaah kau benar, baiklah kau ingin memakan bubur? Ayo kita ke kedai bubur di seberang jalan."

"aah aku sudah memesan lunch box- kris bilang ia akan makan siang di kantor." Luhan menghela nafas pelan.

"kau memesan berapa box?"

"tentu saja 3, memangnya aku setega itu tidak memberimu makan?" luhan hanya menyengir kuda.

CKLEEEEK

"sedang menggosipkan apa kalian?" intrupsi kris yang baru saja memasuki ruangan editor.

"tidak ada, lulu bilang dia sudah kelaparan menunggumu sedari tadi, bukan begitu lu?" luhan mengangguk antusias

"baiklah maafkan aku, kalau begitu- tunggu apa lagi? ayo kita makan."

Baekhyun segera menata lunch box mereka di meja sofa ruangan kris, mereka menikmati makan siang mereka dengan tenang dan penuh canda tawa- apalagi di lihat dari gelagatanya- sepertinya kris sedang mengalami mood yang baik.

"makanan apa itu?" kris mengintrupsi kegiatan kedua assistentnya yang asik mencomoti sweet potato's stick cheese.

"school food, kau tidak melihat labelnya, waeyo?" jawab luhan polos.

"aku tidak mau memakannya"

"wae? Baekhyun sudah memesankannya untuk kita" sungut luhan.

"school food is not my style."

UHUUUK

Baekhyun menghentikan laju sumpit yang akan masuk kedalam mulutnya sedangkan luhan hampir tersedak colanya mendengar alasan yang tidak bisa di percaya keluar dari mulut sang atasan.

"aku tidak memakan makanan anak-anak."

"apa katamu? Kau seperti tidak pernah menjadi anak-anak saja, lagi pula ini enak dan higienis!" baekhyun menekankan setiap kata.

Kris sudah akan membalas ucapan baekhyun ketika luhan membungkamnya begitu saja tanpa permisi dengan menyumpalkan kentang manisnya kedalam mulutnya.

"sudah diam, dan makan saja!" ucap rusa nakal itu polos.

Tidak lama setelah itu, baekhyun mnyenggol lengan luhan yang asik menikmati curry ramyeonnya untuk melihat kearah sang atasan.

Luhan melotot dan hampir memekik saat melihat kris menikmati soba dan kimbabnya- larut dalam menu luch boxnya yang berlabel school food yang katanya bukan stylenya.

Manum luhan hanya berdehem pelan untuk merdam tawanya sambil cekikikan berdua bersama baekhyun tanpa sepengetahuan kris.

"minum" luhan mengulurkan sekaleng cola kepada kris yang sepertinya membutuhkan minuman.

"gomawo" ujarnya dengan mulut penuh.

"curry ramyeon?" luhan kembali menawarkan lunch boxnya.

Kris hanya mengangguk dan menyumpit curry ramyeon luhan untuk mencobanya dan mengangguk-angguk senang sambil mengacungkan jempolnya setelah merasakannya.

Kemudian ketiganya tertawa bersama karena tingkah konyol sang atasan tersebut, karena bagi luhan, baekhyun dan xiumin yang sedang cuti- sikap kekanakan kris adalah rahasia meraka yang sudah harga mati untuk mereka jaga.

"luhan" kris memanggil luhan yang masih sibuk menyuap makan siangnya.

"lusa- aku dan baekhyun akan ke china, bisakah kau menghendel semuannya selama kami tidak ada?" tambahnya masih sibuk juga dengan makanannya.

"ne?"

"aku akan mendampingi kris pada perjalanan bisnis kali ini, kau tidak keberatan kan lu?" baekhyun menjelaskan.

"tidak, aku tidak keberatan- aku akan berusaha melakukan yang terbaik disini- hanya saja aku bingung mengapa mendadak sekali?" Tanya luhan bingung.

"sebenarnya proyek ini sudah lama aku lakukan, hanya saja aku mencari moment yang tepat agar aku bisa di Beijing lebih lama~ aku juga ingin mengunjungi orangtuaku- dan zitao." Jawab kris dengan senyum mengembang.

"aah omong-omong tentang zitao, aku jadi merindukannya." Baekhyun mengangguki ucapan luhan.

"bagaimana ya kabarnya sekarang?" luhan menerawang.

"pokoknya- jika kalian bertemu dengannya, katakan jika aku sangaaaat merindukannya, dan suruh dia untuk menghubungiku! Tch! Dia benar-benar tidak bisa di hubungi selama ini- huffft"

"kau benar, aku juga kesulitan menghubunginya, dia bahkan belum tahu tentang keberangkatanku ke Beijing lusa nanti." Ujar kris menerawang.

"tenang saja, bukankah sebentar lagi kalian berdua akan bertemu." Luhan menepuk punggung kris pelan.

Kris tersenyum kearah luhan sambil menggenggam tangannya yang berada di bahunya, baekhyunpun melemparkan senyuman kearah keduannya.

"luhan, mau pulang bersama?" tawar chanyeol sambil mensejajarjan langkahnya dengan luhan.

"eoh? Kau terlambat- sehun sudah menungguku diluar, lain kali saja, kanda~" luhan menepuk bahunya sebelum meninggalkan chanyeol.

"dimana baekhyun?" teriak chanyeol kearah luhan yang mulai menjauh.

"dia sudah pulang setengah jam yang lalu jadi dia tidak pasti tidak membutuhkan tumpanganmu, segeralah pulang yoda~" balas luhan berteriak sebelum menghilang di luar pintu loby.

Chanyeol hanya menghembuskan nafasnya kasar dan berbalik menuju basemen dimana audi metallic kesayangannya terparkir rapi.

"kenapa lama sekali?"

"jika lama kenapa kau tidak segera pulang, cuci tangan-cuci kaki dan tidur? Aku tidak memintamu menungguku!" sembur luhan.

Tentu saja luhan akan marah jika ia baru saja menutup pintu samping kemudi namun mendapatkan gerutuan yang membuatnya sebal.

"Tch! Apa kau sudah makan?"

"aku tidak lapar"

"kau marah hanya karena aku menegurmu?" sehun menghentikan laju mobilnya dan menatap luhan dalam.

"sehun! Demi tuhan aku sangat lelah sekali~ bisakah kita hentikan perdebatan ini dan segera pulang?" sehun masih diam menatap luhan.

"oh baiklah- aku akan mencari taxi-" sehun segera mencekal lengan luhan yang hendak membuka pintu mobil.

"baiklah kita pulang." Sehun mengalah dan segera menghidupkan mesin mobilnya.

-skip-

"apa semuanya sudah kau periksa? Passport, visa, dan dokumen-dokumen penting lain?"

'…'

"aah kau tidak melupakan obat maagh dan vitamin kan? Dia sering mengalami masalah pencernaan jika terlalu sibuk berkerja~"

'…'

"iya, pastikan kau mengatur jadwal makannya dengan teratur, ne~ ne~"

'…'

"kau juga harus menjaga kesehatanmu disana, hehe iya~ aku tahu!"

'…'

"baiklah, semoga perjalan kalian menyenangkan, jagan lupa hubungi aku setibanya kau disana, aku akan stand be di depan monitorku jika sewaktu-waktu kau membutuhkan sesuatu, emm ne hati-hati ya~ bey~"

Luhan menutup sambungan teleponnya dengan baekhyun yang saat ini sudah berada di bandara bersama kris untuk penerbangan dengan jurusan Beijing.

Luhan meminta maaf karena tidak bisa mengantar mereka, lagipula di kantor hanya bersisa dirinya yang dapat chanyeol andalkan, ia hanya tidak ingin mengambil resiko sang kepala team mereka kalang kabut sendirian.

Luhan kembali menyibukan dirinya dengan beberapa file yang kris tinggalkan untuk segera di tangani dan di selesaikan secepatnya.

Hampir seharian penuh ia sibuk berkutat dengan pekerjaannya karena tidak ada baekhyun yang biasanya merecoki pekerjaannya karena mengajaknya mengobrol ataupun kris yang menyuruhnya marathon kesana-kemari untuk hal-hal yang tidak jelas.

HAAAAH

Luhan menghela nafas bosan sambil meregangkan kedua lengannya keatas untuk merelaksasikan otot-ototnya yang kaku sambil menunggu file-filenya tercetak pada mesin printnya.

Ia beralih mengecek ponselnya yang sedari siang tadi tidak tersentuh sama sekali karena ia abaikan, ia tersenyum mendapat beberapa pesan dari sehun dan juga baekhyun yang melaporkan kegiatannya sesampainya di Beijing.

Ia sudah akan mendial nomor baekhyun jika chanyeol tidak mengetuk ruangannya terlebih dahulu dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengobrol dengan matenya tersebut.

"sepi sekali? Apa mereka pulang lebih awal lagi?" chanyeol melongokan kepalanya kearah ruangan kris.

"tidak, mereka memang tidak datang sejak pagi." Jawab luhan kalem sambil membalas pesan sehun.

"waeyo?" kaget chanyeol.

"kau lupa tentang proyek kalian yang ada di china? Pagi tadi mereka terbang ke Beijing untuk menanganinya."

"kenapa tidak bilang padaku?" chanyeol refleks berteriak membuat luhan menutup telingannya.

"yak! Jangan berteriak! Kupikir kris sudah membicarakannya kepadamu- bukankah kemarin sore kalian merapatkannya?"

"iya, tapi dia bilang akan berangkat dalam waktu dekat ini- tidak berarti hari ini bukan? Dan juga kenapa dia tidak mengatakan padaku jika ia membawa baekhyun kesana?"

"untuk alasan apa kris harus melakukan itu? park sajangnim- aku, baekhyun, dan xiumin eonni adalah assistent editor wu- jadi tidak masalah jika dia ingin mengajak siapa untuk kemana."

"Tch! Kau ini, aku bahkan atasannya tapi dia memiliki 3 assistant yang tidak aku miliki sama sekali." Gerutu chanyeol membuat luhan tersenyum jahil.

"aaah sudah malam, sebaiknya kita pulang!" ajak luhan sambil membereskan meja da nisi tas jinjingnya.

Saat hendak menggandeng lengan chanyeol, luhan mengernyit pasalnya posisi chanyeol tidak berpindah sejengkalpun.

"ada apa?"

"emm luhan maaf, sepertinya kita tidak bisa pulang bersama."

"waeyo?"

"aku sedang emm- ada janji dengan se-seorang?" luhan menatap chanyeol menyelidik.

"kau tidak sedang terlibat kencan buta bukan?" tanyanya mengimintimidasi.

"yak! Yang benar saja!"

"apa eomma dan eonni kembali merencanakan perjodohan konyol lagi untukmu?" luhan masih menginterogasi.

"yak! Hentikan! Aku sedang tidak di jodohkan! Dan aku juga sedang tidak terlibat kencan buta!" omel chanyeol sebal.

"santai saja, lagipula aku hanya bercanda~" jawab luhan polos.

"aku hanya akan membicarakan kontrak kerjasama dengan designer W magazine untuk project kita bulan depan, bukankah kau dan baekhyun mengiginkan rancangannya?" luhan mencoba mengingat-ingat.

"aah rancangan musim dingin itu?" luhan mengingatnya.

"ya benar, kalian bilang ingin membuat kontrak dengan designernya."

"yah kau benar, lalu apa dia ada di korea saat ini?" Tanya luhan antusias.

"tentu saja, sebentar lagi aku akan menemuinya, lagipula bukankah kalian sudah kenal sebelumnya?"

"nugu?"

"moon gayoung, kau lupa?"

Sesaat suasana menjadi hening saat chanyeol menyebutkan nama seseorang yang rasanya tidak asing di dalam daftar ingatan buruk luhan.

"moon- moon gayoung, wanita yang menarik rambutku sangat keras itu maksudmu?"

Chanyeol hanya mampu mengangguk canggung menyadari perubahan mimik wajah dari gadis cantik yang berdiri di sebelahnya ini.

"Kau gila? Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya kembali asal kau tau- haaah kau pasti sedang bergurau, mana mungkin dia designer dari rancangan yang kami pilih tersebut- kau jangan konyol chan-

"aku tidak bercanda, memangnya kau tidak memeriksa profil designer yang mengirim rancangan-rancangan kemarin saat kalian seleksi?" luhan hanya menggeleng lemah.

"kenapa membahas kontrak harus malam-malam seperti ini? bukankah bisa menyuruhnya datang kemari besok pagi pada jam kantor seperti designer lainnya saat mendapatkan kontrak, apa se-special itu kau memperlakukanya? Sungut luhan.

"oh ayolah luhan~ dia temanku, paling tidak aku harus menghargai ajakan makan malamnya bukan? Lagipula ia baru kembali dari eropa-

"aaah molla, terserah padamu- aku akan pulang dengan jalan kaki mala mini." Luhan menggerutu meninggalkan chanyeol sambil menghentak-hentakkan kakinya.

"YAK! LUHAN! APA SEHUN TIDAK MENJEMPUTMU?" teriak chanyeol namun diabaikan luhan.

HAAAAH

Chanyeol menghembuskan nafas kasar dan beranjak- sedikit berlari menyusul sahabatnya yang sedang merajuk.

Hampir 10 tahun mengenal luhan, mau- tidak mau membuatnya mengerti watak asli sahabatnya sekaligus mantan kekasihnya tersebut.

Mungkin saat ini luhan sedang mengirimkan pesan kepada sehun yang sedang dalam perjalanan menjemputnya untuk lekas pulang kerumah saja.

Chanyeol mengulum senyum menahan tawa membayangkan betapa sebalnya sehun dan betapa menggemaskannya luhan saat merajuk.

"hei~ mau kemana?" chanyeol mencekal lengan luhan yang hendak memasukkan ponselnya kedalam saku.

"pulang."

See? Benar bukan tebakan chanyeol? Luhan pasti baru saja menghubungi sehun dan melarangnya datang.

"begitu saja merajuk, senyum! Ayo aku antar pulang~" chanyeol segera menggeret lengan luhan menuju mobilnya yang ada di basement.

"lalu bagaimana dengan teman wanitamu itu?"

"aku sudah menghubunginya untuk datang kekantor saja besok pagi, karena malam ini aku akan sangat sibuk membujuk rusa nakal yang merajuk." Luhan tersenyum dan mengikuti langkah chanyeol untuk segera pulang kerumah.

.

.

"Sehun? Kau sudah pulang? Dimana luhan?" sambut jaejoong.

Jaejoong? Mamanya luhan? yah~ tentu saja, karena saat ini semua anggota keluarga dari luhan-sehun-kyungsoo sedang berkumpul di kediaman Xi untuk membahas sesuatu yang belum sehun ketahui.

"luhan bilang ia akan pulang bersama chanyeol."

Beberapa jam yang lalu, heechul- eommanya mengabarinya untuk segera pulang bersama luhan kerumahnya karena mereka semua sedang berkumpul, maka dari itu mood sehun sedikit buruk setelah luhan menyuruhnya untuk tidak menjemputnya.

"sebenarnya untuk apa kita semua berkumpul disini?" gerutu sehun sambil melonggarkan sampul dasinya.

"sebentar, kita tunggu luhan dan kyungsoo terlebih dahulu." Omel heechul.

Setelah menunggu hampir setengah jam, luhan akhirnya datang bersama dengan chanyeol yang mengekorinya di belakang.

"aku pulang~ eomma ada apa? tumben ramai sekali?" Tanya luhan penasaran.

"iya ada sesuatu yang ingin kami sampaikan tapi kita harus menunggu kyungsoo terlebih dahulu- kajja duduk." Tuntun jaejoong kepada luhan dan chanyeol.

"chanyeol-ah? Kau ingin mama buatkan teh atau sesuatu?" tawar jaejoong.

"apapun itu asal mama yang membuatnya pasti akan chanyeol habiskan." Gombalnya yang segera mendapat decihan dari luhan maupun sehun.

Suasana lebih menyenangkan karena kehadiran chanyeol yang menularkan happy virusnya dengan guyonan-guyonan yang dapat membuat para orangtua terpingkal.

Bahkan sehun yang sejak tadi mengeluh bosan karena lelah akhirnya lupa dan sibuk tertawa mendengar ocehan chanyeol yang sesekali di timpalinya bersama heechul dan jaejoong.

Tidak lama setelah itu kyungsoo akhirnya datang bersama kai dengan senyum mengembang melihat orangtua mereka terlihat bahagia.

"waah ramai sekali kedengarannya dari luar, ada apa?" Tanya kyungsoo basa-basi.

"anak nakal ini yang membuat kami terbahak-bahak kyung-ie, aduuuh perutku sampai sakit sekali haha." Gerutu heechul sambil berusaha menahan tawa.

"dobby alien ini benar-benar membuat rumahku seperti pasar." Tambah luhan.

"baiklah-baiklah, sudah cukup bercandaannya- karena kyungsoo dan kai sudah datang jadi kita segera saja mengumumkan maksud kami mengumpulkan kalian disini." Lerai yunho.

"lebih baik paman yoochun saja yang mengatakannya kepada kalian." Tambahnya melirik ayah kyungsoo.

EKH-HEEEM

"jadi begini anak-anak, appa disini ingin menyampaikan kabar bahagia kepada kalian semua bahwasanya- Do Kyungsoo putri appa satu-satunya dan kekasihnya kai memutuskan untuk segera mengikat satu sama lain."

Kyungsoo-Kai dan para orangtua mengulum senyum bahagia karena lega bisa menyampaikan berita bahagia menurut mereka ini.

Namun berbeda dengan Luhan-Sehun- Chanyeol yang hanya terbengong hingga hampir menjatuhkan rahangnya.

"apa kalian tidak senang?" intrupsi kyungsoo yang melihat sahabatnya hanya terbengong.

Mereka bertiga segera menyadarkan diri dengan mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha menarik kembali ruh mereka yang sempat berkelana.

"aku tahu ini kedengarannya sangat mendadak dan terburu-buru- tapi kami berdua memang merasa sudah yakin dan siap untuk berumah tangga." Mereka masih mendengarkan penjelasan kyungsoo.

"aku tahu pernikahanku sebelumnya dengan sehun memang gagal, namun- aku sudah menemukan pria yang benar-benar mampu membuatku siap untuk berjalan lebih maju kedepan, jadi aku harap kalian setuju dan-

"apapun itu, jika kau bahagia- aku ingin terlibat di dalamnya kyungie." Luhan beranjak menggenggam jemari tangan kyungsoo.

"jika kai adalah kebahagiaanmu bahkan melebihi sehun, tentu saja aku akan ikut berbahagian eonni!" luhan memeluk kyungsoo dari samping.

Kyungsoo mengerti, luhan selalu tulus kepadanya- dulu luhan pernah berusaha berbahagia untuk kebahagiannya meskipun ia terluka- ia berusaha mati-matian merelakan sehun demi kebahagiannya yang kyungsoo sendiri merasa tidak sebahagia saat ini.

Kali ini kyungsoo benar-benar yakin untuk berjalan berdampingan dengan kai, pria yang berhasil mencuri hatinya secara utuh beberapa bulan ini.

Kedengarannya memang mustahil jika kyungsoo akan menikah secepat ini paska kegagalan pernikahannya tempo hari.

Namun takdir dan perasaan manusia bukanlah rahasia tuhan? ia tidak pernah menyalahkan siapapun untuk kegagalannya justru ia patut bersyukur berkat kejadian tidak mengenakan itu mampu menuntunnya untuk bisa sampai ketahap ini- bertemu dengan suami masa depannya- KIM JONGIN.

"terima kasih luhan, terima kasih karena sudah ikut berbahagia untukku! Aku sangat menyayangimu adikku." Keduanya tersenyum dan kemudian melemparkan tatapannya kepada sehun.

"kebahagiaan kalian berdua adalah harga mati untukku! jika noona bahagia dengan pria pesek ini apa boleh buat? Aku akan ikut berbahagia untuk kalian." Sehun tersenyum tulus.

"aah adik kecilku! Datang dan peluk noona~" kyungsoo merentangkan tangan sebelah kanannya yang tidak memeluk luhan agar sehun memeluknya.

Sehun segera mendekat dan memeluk kedua gadis kecil yang selalu ingin di lindunginya tersebut, semenjak peristiwa tidak mengenakan untuknya, kyungsoo dan terlebih luhan- ia sadar bahwa kebahagiaan itu berbeda-beda.

Seharusnya ia tahu kebahagiaan apa yang kyungsoo inginkan darinya- kyungsoo bahagia menjadi kakak perempuannya- bukan mempelai wanitanya.

Dan seharusnya ia juga tahu kebahagiaan apa yang luhan inginkan darinya? Ia memang pria bodoh selama ini- ia menekan dirinya bahwa luhan adalah sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik perempuannya.

Sedangkan luhan selalu menatapnya penuh cinta- luhan selalu menganggapnya sebagai seorang pria- bukan kakak laki-lakinya- itu adalah kebahagiaan luhan.

Namun sekarang, setelah ia menyadarinya- luhannya sudah berubah, ia tahu selama ini luhan menyibukkan diri dengan urusan kantor adalah untuk menekan perasaannya seperti apa yang diinginkan sehun selama ini- menganggap sehun sebagai kakak lelakinya, walapun sehun sudah berusaha merebut hati luhan agar menatapnya kembali sebagai seorang pria yang di cintainya.

Sehun berjanji kali ini akan berusaha lebih keras membawa luhan ke-kebahagiaannya yang dulu, yang saat ini merupakan kebahagiaan pula bagi dirinyan sendiri-

-apalagi noona kesayangannya- kyungsoo sudah memperoleh kebahagiaannya jadi ia sudah bisa bernafas lega untuk mempercayakan noona yang selama ini ia jaga kepada kim jongin.

Tugasnya kali ini adalah menjaga dan membahagiakan luhan, apapun itu- ia sudah berjanji, ia berharap kebahagiaan luhan masihlah dirinya- namun jika saat ini kebahagiaan luhan adalah orang lain, sama seperti kyungsoo- ia akan mencoba merelakannya.

Ia tidak ingin menyakiti luhan untuk kedua kalinya- wanita yang saat ini mengisi seluruh ruang dalam hati dan hidupnya.

-To Be Continue-

mohon tinggalkan jejak di tiap chapternya yah! ini udah chapter 12 tapi kok ya gini-gini aja sih..

jangan lupa reviewnya buat lulu yah! syukur-syukur di follow sama di favouritein.

sampai jumpa di chapter selanjutnya