Where Is It?
By : Natsu D. Luffy
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Fantasy, Romance
Main Pair : NaruHina
Warning : (miss) Typo, OOC, GaJe, Abal-abal, SKS (Sistem Kebut Sejam)
.
.
Chapter 11 : Battle Field
.
.
A/N : Yo, Minna~! Saya Kembali~! Masih dengan chapter yang saya sendiri ragu untuk mempublishnya. Akh, ini Cuma perasaan saya saja atau memang para reviewers terus berkurang? Akh, salahkan sang author yang tidak pernah perhatian dengan para reviewersnya. Gomen, minna~ ToT
Huuueeeee… ToT Gomen~
Oh, saya juga baru sadar akan kesalahan jutsu yang saya tulis kemarin. Makasih untuk yang udah ngingetin. Ya, maklumi sajalah, soalnya saya bukan seorang fans berat anime Naruto, jadi gk terlalu hafal dengan semua jutsu milik chara-chara di Naruto. Sedikit curhat, saya dulu sebenernya gk pernah baca Fict di fandom Naruto. Tapi suatu hari gk sengaja anime Naruto, ekh, saya liat Hinata-hime. Dan saya langsung jatuh hati sama anime Naruto gara-gara Hinata-hime. OK, cukup curcol gk bermanfaat di atas, kita langsung aja ke cerita.
.
.
.
Tokyo Senior High School, 11.55 p.m…
Di atap TSHS, terlihat 2 orang pemuda dan 2 orang gadis yang memakai pakaian yang dapat di kategorikan 'aneh' untuk ukuran pakaian jaman modern ini. Seorang lelaki yang berambut pirang jabrik, memakai jaket dan celana panjang yang berwarna orange dan sedikit corak hitam, dibalut dengan jubah berwarna merah dengan corak api hitam di bagian bawahnya dan memiliki tulisan Rokudaime Hokage di belakangnya. "Baiklah, kunai Hiraishin sudah kuserahkan pada Hinata-chan. Jadi, apakah kalian akan pergi sekarang?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Uzumaki Naruto.
"Ya, kami akan segera berangkat." Jawab seorang lelaki lain dengan nada datarnya, seolah tak memancarkan keseriusan di dalam perkataannya. Lelaki itu berambut raven dan bergaya seperti –ehm- pantat ayam, memakai atasan seperti baju kimono yang tak tertutup, sehingga menampakkan dada bidangnya yang putih mulus. Sedangkan untuk bawahannya, ia memakai celana tiga perempat yang dibalut dengan kain yang membungkus celana dan sebagian baju itu, dan kemudian diikat menggunakan tali besar dibagian pinggang. Ya, ia adalah Uchiha Sasuke.
"Sebaiknya kita segera bergegas, Sasuke-kun." Ucap seorang gadis berambut pink yang memakai pakaian terusan sampai setengah paha, dan celana pendek ketat di baliknya. Haruno Sakura.
Mendengar jawaban dari temannya, Naruto pun menoleh kearah tunangan tercintanya. "Hey, Hinata-chan... ingat pesanku, kalau nanti ada apa-apa di tengah jalan, kau gerak-gerakkan kunai itu saja, dan aku pasti akan datang." Ujar Naruto pada gadis kesayangannya tersebut.
"I-Iya, Naruto-kun. N-Naruto-kun juga hati-hati d-disini…" balas gadis yang bernama Hinata itu sambil mengeratkan genggaman kedua tangannya pada kunai bermata tiga milik kekasihnya itu. Ia tatap dalam-dalam permata safir milik tunangannya itu, dan sejurus kemudian, ia sunggungkan senyum termanis yang ia punya untuk sang tunangan tercinta.
"Kau meremehkan kemampuanku, Dobe." Ucap Sasuke dengan nada tidak suka saat mendengar perkataan Naruto barusan kepada Hinata. Ya, tentu saja. Perkataan Naruto barusan itu sama saja meremehkan kemampuan seorang Uchiha Sasuke untuk menjaga rekannya.
"Hehe, bukannya aku meragukanmu, Teme. Aku hanya khawatir, kau tahu…" balas Naruto sambil memamerkan senyum khasnya, seperti biasa.
"Kami akan segera berangkat, Dobe." Ucap Sasuke sambil berbalik badan, membelakangi Naruto, Hinata, dan Sakura. Melihat Sasuke berbalik, Sakura pun ikut membalikkan badan, bersiap untuk pergi.
"N-Naruto-kun… kami berangkat d-dulu." Pamit Hinata pada Naruto.
"Eh? Kau mau langsung pergi begitu saja, Hime? Apakah kau melupakan sesuatu?" Tanya Naruto dengan nada menggoda dan seringai licik sambil menepuk-nepukkan jari telunjuknya di pipi kanannya.
*Blush* Mengerti maksud Naruto, kontan wajah Hinata langsung memerah dan tubuhnya pun langsung menjadi kaku seperti baru saja melihat Medusa. Ah, sepertinya Hinata tidak tahu apa yang telah ia perbuat. Melihat wajah Hinata yang memerah, membuat Naruto semakin gemas kepada Hinata. Dan melihat tubuh Hinata yang kaku karena menegang, pastinya itu adalah kesempatan bagi Naruto untuk…
*Cup*
Sebuah kecupan singkat di bibir Hinata pun sukses mendarat. Semenit setelah kejadian itu, Hinata masih saja mematung dengan wajah memerah, membuat Naruto akan melancarkan aksinya sekali lagi kalau saja tidak dihentikan oleh suara Sasuke.
"Hinata, ayo kita berangkat." Instruksi Sasuke pada Hinata, membuat Hinata sadar dari shock sejenaknya, dan membuat Naruto mendengus kesal karena aksinya gagal.
"Ha'i" balas Hinata pada Sasuke. Sebelum membalikkan badan, Hinata sejenak melemparkan senyuman manisnya pada Naruto sembari kembali berpamitan tentunya.
Setelah itu, Sasuke, Sakura, dan Hinata pun langsung melesat dari atap Tokyo Senior High School, meninggalkan Naruto yang masih tetap setia melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
.
.
Sekarang, di atap TSHS hanya tersisa Naruto yang tengah tiduran sambil memandang ke atas, ke arah bintang-bintang yang entah kenapa sinarnya terasa redup malam ini. "Hey, kenapa kau terlihat sedih, bintang?" gumam Naruto sambil terus melihat ke arah bintang. Ah, anda kau tahu, Naruto. Saat ini mereka –para bintang- tengah bersedih untukmu, untuk penyelamat dunia yang akan mengorbankan nyawanya demi anak cucunya.
"Besok ya…" gumam Naruto sembari memejamkan matanya, memantapkan hatinya untuk melawan teman sebangkunya, Sasuke dan juga gurunya di sekolah, Madara. Ya, apapun yang terjadi, ia tak boleh ragu. Jika yang di ceritakan Sasuke mengenai kekuatan Madara memang benar, ini mungkin akan menjadi pertarungan terberat bagi Naruto. Melawan Madara di dunia ninja saja ia sudah kewalahan, apalagi melawan Madara di dunia ini, yang kata si Teme, jauh lebih kuat daripada Madara di dunia ninja.
Disaat tengah hatinya tengah bimbang, tiba-tiba saja ia teringat kembali dengan kata-kata gurunya, sang Ero-sennin. 'Kebanggaan seorang ninja bukan dilihat dari bagaimana ia hidup, tapi dilihat dari bagaimana ia mati.' Ya, paling tidak, jika nantinya ia mati, ia akan bangga telah menjadi seorang ninja yang berkorban demi kedamaian dunia. Lagipula, ia sudah berkata akan melindungi dunia ini saat berada di Tokyo Tower bersama Sasuke. Dan ia tidak akan menarik kembali kata-katanya, karena itulah jalan ninja-nya.
Kini Naruto telah memantapkan hatinya. Ya, besok adalah pertarungan hidup matinya, pertarungan demi dunia ini. Tentu saja, jika Naruto kalah, siapa yang akan melawan Madara? Mungkin hanya tinggal berharap sang Rikudo-sennin akan terjebak di dalam dimensi ruang dan waktu dan akhirnya terdampar di dunia ini, dan kemudian mengalahkan Madara. Tapi itu tidak mungkin, bukan? Dan itulah alasan Naruto untuk HARUS mengalahkan Madara.
Seperti yang dulu pernah ia katakan pada Sasuke, ia akan mengalahkannya, dengan cara apapun dan dengan jalan apapun. Ia akan mengalahkannya dengan kedua tangannya sendiri. Jika nantinya kedua tangannya patah, ia akan melawan dengan tendangan. Jika kedua kakinya pun patah, ia akan melawan dengan gigitan. Jika mulutnya sobek, ia akan melawan menggunakan tatapan matanya. Dan jika kepalanya dipenggal, ia akan menghantuinya bahkan sampai ke dasar Neraka sekalipun.
Perlahan namun pasti, Naruto mulai terbuai dalam sejuknya angin malam yang menerpa tubuhnya. Ya, sepertinya ia harus tidur. Besok adalah hari yang panjang baginya, bagi teman-temannya, bagi tunangannya, dan bagi dunia ini. Tidurlah yang nyenyak Naruto, karena mungkin ini adalah tidur terakhirmu sebelum tidur abadimu nanti.
.
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
.
"Hahh…" terlihat seorang gadis berambut indigo panjang dan bermata lavender tengah bersandar pada pagar besi pembatas balkon apartementnya sembari menghela nafas panjang. Ia tidak tahu kenapa, tapi perasaannya sungguh tidak enak.
Pertama, kenapa sang Rokudaime Hokage itu tidak pulang ke apartementnya? Padahal ini sudah tengah malam. Apa ia pergi ke suatu tempat? Atau malah ia telah pulang ke dunianya? Tapi… kenapa ia tidak berpamitan terlebih dahulu? Ah, apa jangan-jangan karena di sekolah tadi ia telah bersikap acuh tak acuh pada sang Rokudaime Hokage? Jika itu alasannya, sungguh… ia akan bunuh diri saat ini juga.
Kedua, kenapa perasaannya SANGAT tidak enak? Entah kenapa… bintang-bintang dilangit terlihat begitu sedih, sehingga membuatnya juga ingin menangis saat ini juga. Menangis tanpa alasan? Itu hal paling bodoh yang pernah Hinata lakukan sepanjang hidupnya. Tapi siapa peduli? Hatinya hanya merasa… ada yang perlu di tangisi, entah apa itu. Ini seperti… perasaan kehilangan orang yang kita sayangi, kehilangan untuk selama-lamanya. Dan bahkan hingga saat ini Hinata belum tahu siapa orang itu.
Sejenak kemudian, Hinata menyatuka kedua tangannya di depan dadanya, sembari memejamkan kedua matanya. 'Kami-sama… lindungilah semua orang yang aku sayangi, jangan biarkan hal yang buruk menimpa mereka, dan… lindungilah Naruto-kun.' Batin Hinata dalam do'a-nya. Eh? Tunggu! Apa barusan ia menyebutkan Naruto-kun? Kenapa tiba-tiba hatinya terasa sesak saat menyebutkan nama Naruto? Apa kau sudah menyadari apa yang akan terjadi pada Naruto, Hinata? Berharaplah Kami-sama akan mengabulkan do'a yang kau panjatkan.
.
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
.
"Sasuke, sebaiknya kau tidur sekarang. Beristirahatlah, besok kita akan mendapat buruan besar." Instruksi Madara pada Sasuke yang saat ini baru saja mengganti matanya dengan mata milik 'Madara'.
Kedua mata Sasuke saat ini masih di tutupi dengan perban karena belum sepenuhnya pulih. "Bagaimana aku dapat berjalan ke kamar saat aku tidak bisa melihat." Balas Sasuke dengan nada ketus saat mendengar instruksi dari Madara.
"Siapa bilang kau akan tidur di kamar? Tidurlah disini. Tenang saja, disini tidak ada kecoak kok." Ujar Madara menutupi kesalahan perkataannya tadi. Beruntung Madara, karena saat ini Sasuke tidak bisa melihat, sehingga raut wajah bohong milik Madara pun tak terlihat olehnya.
Setelah mendengus kesal, akhirnya Sasuke pun mengalah. Apa boleh buat, ia harus tidur malam ini. Ia harus menyiapkan tenaga untuk besok, dan lagipula, ia harus segera beristirahat agar kedua mata hasil transplantasi dari 'Madara' ini cepat menyatu dengan tubuhnya.
Melihat Sasuke telah tertidur pulas di lantai ruang bawah tanah mansion Uchiha, Madara pun tersenyum senang. 'Anak ini setidaknya bisa menghambat teman-teman Rokudaime Hokage selagi aku melawan Rokudaime Hokage.' Batin Madara sambil tetap menatap Sasuke.
"Ah, sepertinya aku juga harus tidur. Melawan titisan Rikudo-sennin pasti membutuhkan kekuatan ekstra." Gumam Madara sambil berjalan menaiki tangga menuju mansion Uchiha, meniggalkan Sasuke yang terlelap dalam tidurnya di ruang bawah tanah mansion Uchiha.
.
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
.
Tokyo Senior High School, 05.00 a.m…
Terlihat seorang pemuda berambut pirang dengan iris mata berwarna orange dan berpupil horizontal layaknya katak, tengah berdiri di pinggiran atap TSHS sembari bersidekap, menikmati butiran-butiran embun pagi yang menyejukkan. Jubah merah bermotif api hitam yang di kenakannya berkibar searah dengan angin pagi yang menerpanya. Ya, ia sudah siap untuk hari ini. Ia, Uzumaki Naruto, telah siap untuk pertempuran hidup matinya hari ini.
"Hahhh…" ia menghela nafas panjang sembari menutup kedua matanya, berharap dengan itu, rasa ragunya untuk melawan 'Sasuke' akan hilang bersama dengan nafas yang ia buang. Walau bagaimanapun, Naruto tahu bahwa 'Sasuke' hanyalah alat Madara. Ia berharap ia tak perlu membunuh 'Sasuke' nantinya. Akh ya, 'Sasuke' harus di sadarkan. Dan ia tahu, satu-satunya yang merasakan perasaan kehilangan yang sama dengan 'Sasuke' adalah Sasuke. Ya, ia percaya sahabatnya itu bisa menyadarkan 'Sasuke'.
Dan Madara. Ya, tidak ada kata ampun bagi orang yang telah memanfaatkan orang lain demi kepentingannya sendiri. Akan Naruto pastikan, Madara akan menyesali perbuatannya. Itupun jika ia sempat menyesalinya, sebelum mati di tangan Naruto.
"Ya, aku sudah siap!"
.
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
.
Ruang bawah tanah mansion Uchiha, 05.00 a.m…
"Bagaimana dengan mata barumu, Sasuke?" Tanya Madara pada Sasuke yang kini tengah melepas perban yang menutupi matanya. Tekad Madara sudah bulat. Ia harus membunuh Rokudaime Hokage hari ini juga. Dan jika ia beruntung, mungkin ia akan mendapatkan Kyuubi sebagai bonusnya.
Perlahan, Sasuke mulai membuka matanya. Untuk sesaat, Sasuke hanya terdiam sambil menatap lurus. Dan sejurus kemudian, wajah datarnya digantikan dengan seringai licik yang senantiasa menghiasi wajah tampannya. "Mata ini… Aku bisa merasakan kekuatan yang meluap-luap di mata ini." Jawab Sasuke dengan masih menyeringai licik.
Mendengar jawaban Sasuke, Madara juga turut menyeringai. Sesaat, Madara menyempatkan untuk melihat mata baru milik Sasuke. Dan dugaannya benar. Sharingan Sasuke telah mencapai batasnya, Eternal Mangekyo Sharingan. 'Mata itu memang menyimpan kekuatan besar, walau tak sebesar milikku' batin Madara bangga.
"Kalau begitu, apa kau sudah siap?"
"Tak pernah sesiap ini."
.
.
.
Natsu D. Luffy
.
.
.
'Mereka datang' batin Naruto sembari membuka matanya yang sedari tadi menutup. 'Apa Sasuke, Sakura, dan Hinata sudah sampai?' batin Naruto mulai gelisah. Tentu saja, ia tak mau melawan Madara dan Sasuke di Tokyo, yang jelas akan langsung menyebabkan kota ini rata dengan tanah.
'Kekkai?' batin Naruto sambil melihat sekeliling. Ya, ternyata sekolah ini telah dilindungi Kekkai. Dan ia yakin, siapapun pelakunya, ia pasti telah berada di dalam sekolah ini.
'Disana!' *Wush* Naruto pun langsung melemparkan kunainya saat merasakan Chakra asing yang tiba-tiba saja muncul dari balik pohon di halaman depan TSHS. *BRAK* dan pohon itu pun sukses terbelah karenanya. Tapi anehnya, tak ada apapun yang mencurigakan di balik pohon itu.
*Tap* *Wooossshhhh* tiba-tiba saja, Naruto langsung melompat dari tempat ia tadi berpijak. Dan sedetik setelah Naruto melompat, atap yang tadinya dijadikan pijakan oleh Naruto, kini telah terbakar habis oleh api hitam. Ya, api hitam.
"Reflek yang bagus, Rokudaime-sama." Ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik api hitam itu. Ya, dialah Madara Uchiha.
"Madara! Sudah kuduga itu kau!" sedetik kemudian –masih melayang-, Naruto membentuk sebuah segel dengan tangannya. *Taju Kagebunshin no Jutsu* dan tiba-tiba saja, bermunculan ratusan Bunshin Naruto yang langsung memenuhi udara. Sesaat kemudian, di tangan masing-masing bunshin, mulai terbentuk sebuah bola berputar berwarna biru sebesar kepalan tangan. Makin membesar, hingga akhirnya ukuran bola itu seukuran dengan tubuh manusia.
"Futon : Oodama Rasen-" *Poff* *Poff* *Poff* belum sempat para Bunshin menyelesaikan kalimat mereka, mereka telah terlebih dahulu menghilang akibat ratusan kunai yang tiba-tiba saja menghujani mereka dari arah belakang. 'Sasuke!' batin Naruto saat melihat kebelakang dan menyadari bahwa yang barusan melempar ratusan kunai itu adalah Sasuke.
Tapi sayang sekali, dengan menoleh itu, Naruto tanpa sadar telah memberikan kesempatan besar untuk Madara. Sebelum Naruto sempat menolehkan kepalanya lagi, Madara tiba-tiba saja telah melayang tepat di depannya. Dan… *BUGH* sebuah pukulan telak dari Madara mendarat tepat di perut Naruto, membuat Naruto langsung melesat jatuh dan menghantam tanah.
*DUAR* "U-Uh… Sialan." Gumam Naruto yang saat ini tengah berdiri di tanah yang telah berbentuk seperti kawah kecil –efek jatuhnya Naruto- sembari memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Melihat Madara yang masih melayang di udara, Naruto pun langsung melempar kunai Hiraishin miliknya kearah Madara. Dan tentu saja, Madara dengan mudah menghindarinya hanya dengan menggeser sedikit kepalanya.
Tapi tindakan Madara itu ternyata adalah tindakan fatal. Naruto yang dibawah langsung menyeringai saat melihat Madara menghindari kunainya itu hanya dengan menggeser sedikit kepalanya. Tak ada sedetik, tiba-tiba saja Naruto telah menghilang dari bawah dengan meninggalkan seberkas cahaya kuning keemasan.
Madara yang melihat itu, tanpa sadar sedikit membelalakkan matanya. Kemana Naruto menghilang? Apa itu sebuah gerakan? Tapi tidak mungkin. Bahkan jika itu sebuah gerakan, gerakan itu pasti akan terbaca oleh mata Sharingan Madara. Tapi ini… Kemana ia menghilang?
"Kau lengah." Sebuah suara yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Madara langsung membuatnya kaget. "Rasengan!" Naas, sebelum Madara sempat menoleh ke belakang, tiba-tiba saja tubuhnya dihantam oleh sesuatu yang membuatnya langsung jatuh kebawah dengan cepat. *DUARR* tubuh Madara pun menghantam tanah, menyebabkan bekas kawah kecil di tanah karena ketidakmampuan tanah menahan tekanan di atasnya.
Seperti biasa, bukan Madara namanya jika terluka hanya dengan serangan macam itu. Di atas tanah, Madara masih berdiri dengan tenang sembari membersihkan kepala belakangnya yang barusan terkena Rasengan milik Naruto. "Ah, ya, kau pantas mendapatkan gelar itu, Hokage-sama." Ucap Madara dengan nada santai sembari menatap dingin Naruto yang masih melayang di atas sana.
'Sudah kuduga. Ia tidak akan terluka semudah itu.' Batin Naruto sambil membalas tatapan dingin Madara dengan tatapan sinis miliknya.
"Kau lengah." Tiba-tiba saja sebuah suara dingin muncul dari samping Naruto. *Trrrang* Tepat sesaat sebelum Sasuke menebaskan kunai miliknya ke leher Naruto, Naruto telah terlebih dahulu menahannya.
"Kau terlalu cepat 100 tahun untuk melawanku, Teme." Gumam Naruto saat menahan kunai milik Sasuke dengan kunai miliknya.
"Mungkin Sasuke iya, tapi aku tidak." Sekali lagi, sebuah suara dingin tiba-tiba muncul di belakang Naruto. *Katon : Fire Ball* Sasuke pun langsung menjauhkan diri dari Naruto saat melihat bola api raksasa mendekat ke arahnya.
*BLARRR* tentu saja, kecepatan Naruto tidak bisa di remehkan. Naruto menghindar tepat sedetik sebelum bola api itu menghantamnya. Dan akhirnya bola api itupun menghantam tanah dan membakar semak-semak di sekelilingnya. "Huh, hampir saja." Gumam Naruto saat dirinya telah mendarat di salah satu dahan pohon di halaman TSHS.
.
.
.
"Kita sampai." Ucap Sasuke kepada Sakura dan Hinata saat mereka telah sampai di tengah 'Dark Sea'. Sebenarnya, Hinata dan Sakura agak merinding sejak pertama kali memasuki wilayah Segitiga Bermuda. Entah kenapa… lautan ini penuh dengan aura… kematian? Ya, itulah sebabnya tempat ini jauh dari jangkauan manusia. Dan memang inilah tempat yang tepat untuk bertarung.
"Hinata, cepat gerakkan kunai Hiraishin itu." Instruksi Sasuke pada Hinata.
"Ha'i" balas Hinata pada Sasuke. Setelah itu, Hinata pun langsung menggerak-gerakkan kunai milik Naruto ke kanan dan ke kiri. 'Semoga kami tidak terlambat. Naruto-kun…'
.
.
.
'Mereka sudah sampai.' Batin Naruto sambil terus menghindari jutsu api dari Sasuke dan Madara. Sesaat kemudian, Naruto pun berhenti menghindar dan berdiri tepat di atas atap TSHS yang masih tersisa. "Temui aku di Segitiga Bermuda!" seru Naruto kepada Sasuke dan Madara yang berada di bawahnya.
"Cih, banyak omong." Gumam Sasuke sambil menatap sinis Naruto. *AMATERASU* tetapi sesaat sebelum api hitam itu membakar Naruto, Naruto telah terlebih dahulu menghilang dengan diiringi sebuah kilatan cahaya kuning keemasan. Alhasil, api hitam itupun hanya membakar atap TSHS yang tadi sempat menjadi tempat pijakan Naruto.
"Ck, kemana si Dobe?" gumam Sasuke sambil melihat sekeliling.
"Kau tidak akan menemukannya disini." Ujar Madara mengalihkan perhatian Sasuke. "Itu barusan sepertinya adalah jutsu teleportasi legendaris milik Yondaime Hokage. Aku tak menyangka ia bisa menggunakannya." Lanjut Madara dengan nada sedikit kagum.
"Apakah ini berarti kita kehilangan dia?" Tanya Sasuke dengan nada kesal.
Mendengar pertanyaan Sasuke, Madara tersenyum sejenak sebelum akhirnya… *Jikukan Ninjutsu* Madara dan Sasuke pun menghilang tertelan sebuah pusaran yang muncul dari mata Madara. Ya, itulah jutsu teleportasi Uchiha.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N : Akh… Mengecewakan? Gomen… ToT
Ukh, ternyata begitu sulitnya membuat adegan fighting, sehingga SKS tidak lagi berlaku. Sulit bgt nggambarin adegannya. Akh, saya harus belajar lebih banyak. Aduh… sekali lagi Gomen jika chapter ini mengecewakan. Ya, besok baru mau mulai klimaks! *ditimpukin sandal*
Akh, saya sangat sangat sangat berterimakasih untuk para Reviewers tercinta, karena atas semangat dari para Reviewers hingga saya dapat melanjutkan fict ini.
Very Special Thanks For :
suka snsd
Rani iyura-chan ghetoh
Ilham S'EyeShield AKATSUKI
Nana the GreenSparkle
Za Chan Uchiha
Wulan-chan
Rosanaru
ishimaru yamato
Haru glory
Narutolovers
NamiKaze DaruL UzumaKi
kurirana
NaruHina
Setshuko Mizuka
sherry-chan akitagawa
Kudo Widya-chan Edogawa
Untuk nama-nama di atas, saya sungguh sangat berterimakasih… *hiks* Arigato gozaimasu, *hiks*
Terimakasih juga untuk para silent readers yang selalu menyempatkan diri untuk membaca fict saya.
OK, langsung saja, seperti biasa, review anda adalah semangat untuk saya. Jangan ragu untuk member feedback kepada saya, baik berupa saran, kritik, flame, atau apapun. Akan saya terima dengan senang hati.
Keep Read and Review, Minna~
SEE YA!
Author,
Natsu D. Luffy
