Hai all. Jujur ya, ceritanya udah jadi dari kemarin2 kok sebenernya, cuma males edit dan akhirnya ketunda. Ini dia chapter yang (kuharap) ditunggu2. :p

Balasan Review

Betiace Thank youuu. Maaf kelamaan. Ini updatenya. Semoga suka :)

ichirukilover30 Aduhhh, makasihhhh banget udah mau follow. Saya masih belajar kok. Semoga terus bisa bikin fic yang lebih baik lagi.:D Hehe, emang belum ketebak juga ya Shiho bakal ama siapa?


Ai Haibara

Makan malam itu benar-benar bencana. Bencana bagiku, tentu saja. Mereka sih, malah terlihat ceria dan akrab sekali. Yah, mereka tertawa bersama dan sebagainya. Carl bahkan mengizinkan Saguru memanggil nama depannya jika mereka sedang tidak di kampus. Oh, yang benar saja. Maksudku, hanya satu makan malam dan kau membiarkan mahasiswa-mu memanggil nama depanmu? Sinting.

Tidak hanya itu. Rahasiaku terbongkar hari itu juga di depan matanya. Well, tidak semua rahasia, untungnya. Dia sekarang tahu bahwa nama asliku Shiho Miyano dan usiaku baru 18 tahun, dua tahun lebih muda darinya. Tapi Carl tidak bilang apa-apa soal Organisasi Jubah Hitam. Dia cuma bilang aku ikut akselerasi sekolah khusus sehingga sudah lulus S2, meskipun aku yakin Saguru tidak mungkin semudah itu percaya. Yah, lagipula siapa juga sih yang bakal percaya akselerasi bisa mempercepatmu yang seharusnya baru lulus SMA menjadi lulusan S2? Aku yakin Saguru hanya menghargai Carl, makanya dia tidak bertanya-tanya lebih lanjut.

Dan Carl juga bilang namaku diganti setelah diadopsi oleh pasangan Walter, karena waktu kecil aku sering diganggu teman-teman sekolah. Maka dari itu ketika pindah ke sini, sebaiknya namaku diganti saja untuk melupakan masa lalu sekaligus tidak dikenali oleh teman-teman sekolahku dulu. Aku heran darimana Carl mendapatkan ide brilian secepat itu untuk memanipulasi kisahku. Yah, tidak brilian-brilian amat sebenarnya, karena cerita karangannya agak tidak masuk akal dan aku tahu Saguru juga sependapat. Tapi ya sudahlah. Sudah bagus Carl membantu membereskan kekacauan yang dibuat Ellie dan aku.

Dan omong-omong, karena Saguru sudah sedekat itu dengan mereka juga, makanya Carl meminta Saguru mengantarku pulang kalau sempat. Bukannya aku keberatan ya. Kalau sekali-dua kali tidak apa-apa. Kurasa aku sudah mulai terbiasa dengan kekonyolan laki-laki itu. Selain itu, sebenarnya dia teman mengobrol yang lumayan seru.

Masalahnya, Carl seperti sengaja menyibukkan dirinya akhir-akhir ini supaya aku bisa terjebak bersama laki-laki itu setiap hari. Ada saja alasannya. Kalau tidak rapat, sibuk memeriksa kuis, pasti sibuk membuat tugas proyek untuk dikerjakan mahasiswa. Anehnya, aku tidak diberi kesempatan untuk membantunya, padahal sebagai asisten dosen memang itu yang harusnya kulakukan. Ellie tidak kalah menjengkelkan. Ia seperti bersekongkol dengan suaminya itu untuk menjebakku dengan Saguru. Ia kini sering sekali mengundang Saguru untuk mampir dulu ke rumah, entah untuk minum sebentar, mengobrol sebentar, atau yang lainnya. Yang membuatku tidak habis pikir adalah, karena dia yang mengundang Saguru ke rumah, seharusnya dia kan yang menemaninya? Tapi yang terjadi adalah ia cuma menemaninya sebentar, lalu mendadak berlagak sibuk ke dapur atau berkebun dan melimpahkan tugas untuk menemani Saguru padaku. Bagaimana aku tidak curiga?

Saguru sendiri tingkah lakunya seperti mahasiswa pengangguran yang tidak ada kerjaan karena setiap hari ia menungguku selesai kelas mengajar untuk pulang. Dan hal ini sudah terjadi selama dua minggu penuh. Kadang ia tidak hanya mengantarku pulang. Kadang ia mentraktirku makan siang dulu, atau aku yang mentraktirnya minum kopi atau membelikannya jajanan pencuci mulut. Seperti hari ini. Tentu saja awalnya aku kesal dan menolak. Skala kejutekanku akhir-akhir ini jadi meningkat dari 6 menjadi 9. Nyaris 10. Menjadi asisten dosen juga bukan perkara gampang. Aku sudah sangat lelah bekerja seharian dan hanya ingin pulang lalu tidur, tapi dia malah memaksaku untuk mampir-mampir dulu. Jangan salahkan aku kalau aku jadi tambah galak.

Tapi kuakui lama-lama menyenangkan juga kalau bisa mampir dulu untuk punya waktu refreshing bagi diri sendiri. Kurasa aku memang terlalu menutup diri selama ini, dan aku benci mengakuinya tapi kurasa ucapan laki-laki itu betul juga. Aku terlalu pendiam dan jarang bergaul. Lebih banyak sendirian. Dan itulah salah satu alasan yang membuatku selalu memikirkan Kudou. Karena aku punya banyak waktu luang. Tapi selama 2 minggu belakangan ini, aku jadi lebih jarang memikirkannya. Kemajuan yang bagus bukan?

Eh tapi, kalau besok aku bertemu dengannya di pesta detektif itu, habislah aku. Aku masih belum tahu alasan apa yang harus kukarang karena tidak membalas email-nya. Huft.

"Besok kau jadi menemaniku ke pesta, kan, Shiho?" Aku mendongak. Rada aneh rasanya mendengarnya memanggilku Shiho sekarang. Sambil memasukkan potongan kecil New York cheesecake-ku ke dalam mulut, aku mengangguk. Lalu mendadak aku teringat sesuatu.

"Hei, kau bilang itu pesta formal? Jadi aku harus pakai gaun?"

"Tentu saja," sahutnya tenang.

Aku mengerang pelan. Aku baru ingat kalau aku tidak punya gaun sama sekali. Yeah, menyedihkan ya? Baju-bajuku cuma kaos, jeans, kemeja, dan jas laboratorium. Sekarang aku merasa bahwa aku memang geek. Jadi aku harus cari baju dulu. Aku mengetuk-ngetukkn sendok kecilku ke piring.

"Kau tidak punya gaun?" tanya Saguru sambil menyuap sepotong Tiramisu ke dalam mulut.

"Tidak," jawabku cepat. "Tapi pulang dari sini akan segera kubeli. Aku tidak akan membuatmu malu besok. Tenang saja."

"Sebenarnya aku sudah membelikanmu."

Apa katanya? Aku mengerjap. "Membelikanku apa?"

"Gaun," jawabnya santai seperti hanya membelikanku sekotak coklat atau segelas latte.

"Siapa? Membelikan untuk siapa?" Aku berusaha mencerna ucapannya. Tapi hasilnya, omonganku malah terdengar seperti ocehan seorang idiot.

"Aku membelikanmu gaun untuk pesta besok." Ia tertawa pelan.

"Apa? Tapi... kenapa?"

"Karena kau tidak punya gaun."

Aku memicingkan mataku. "Lalu darimana kau tahu aku tidak punya gaun?"

Ia tergelak. "Tenanglah, Shiho. Aku tidak tahu sebelumnya kalau kau tidak punya gaun. Tapi aku memang berniat membelikanmu gaun untuk besok malam."

"Oh, kupikir kau mulai menjelma menjadi laki-laki sosiopat yang mengintaiku diam-diam dari kejauhan." Aku bergidik mengatakannya. Kalimatku barusan lebih mirip deskripsi tentang Gin.

Lalu aku melihat di pinggir mulutnya ada bekas tiramisu yang ia makan. Mungkin ini akibat dia makan sambil tertawa tadi. Dasar. Aku tersenyum melihatnya seperti anak lima tahun yang sedang memakan kue tart-nya dengan rakus.

"Lihat mulutmu," ucapku sambil tersenyum geli. Kuulurkan tangan kananku untuk mengelapnya. Tapi dia malah menangkap pergelangan tanganku, lalu menatapku dalam. Detik itu juga aku merasa dunia di sekelilingku berwarna hitam dan putih, kecuali aku dan dia. Ada perasaan menyenangkan yang perlahan menyelinap di hatiku.

"Bagaimana ini?" ucapnya sambil menyunggingkan senyum itu. Senyum yang biasanya nampak menyebalkan, tapi hari ini terlihat begitu...well, tidak ada kata lain untuk menggambarkannya selain...memesona.

"Hah?" gumamku gugup.

"Apa kau sadar itu tadi senyum tulusmu yang pertama padaku? Gawat, benar-benar gawat." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya masih sambil tersenyum. "Kurasa aku bukan lagi menyukaimu. Aku jatuh cinta. Katakan padaku, apa yang sebaiknya kulakukan sekarang?"

Mataku melebar dan aku tidak mampu berkata sepatah pun. Tubuhku mendadak terasa seperti sebatang kayu yang kaku dan tak bisa digerakkan. Aku hanya menatapnya.

Dan detik berikutnya dia mencolek krim tiramisu-nya dan menyentuhkannya ke hidungku. Lalu ia tertawa dan menyunggingkan senyum jahil. "Aku berhasil membuatmu terpikat padaku bukan?"

Benar-benar kurang ajar! Lihat kan, lagi-lagi dia menggodaku. Baru saja dia berusaha menggunakan pesona playboy andalannya padaku. Dan aku nyaris tertipu. Dengan gusar kucolek krim tiramisu miliknya dan aku pun mencolek pipinya. "Rasakan ini."

"Hei, kenapa kau pakai kueku?"

"Karena kueku khusus untuk dimakan." Aku cepat-cepat menggeser cheesecake milikku, tapi terlambat. Dia mencolek krim lengketnya dan mencolek pipiku lagi. Lalu selanjutnya, terjadilah perang saling mengotori wajah di kafe itu, sampai-sampai semua orang menoleh ke arah kami. Aku tertawa keras sekali melihat wajah Saguru yang penuh krim kue. Tapi dia juga menertawakan wajahku sampai ia harus memegangi perutnya.

Lamat-lamat kusadari, itulah hari pertama setelah sekian lama, aku bisa tertawa selepas itu.

Besok malamnya, Saguru menjemputku di rumah tepat jam 6. Aku mengenakan gaun yang dibelikannya untukku. Kuakui seleranya lumayan juga. Ah, sebenarnya gaunnya cantik sekali. Gaunnya berwarna merah muda lembut yang membungkus tubuhku rapat dengan dengan tali spaghetti. Panjangnya tepat menyentuh lantai.

"Aku merasa jadi seseorang yang bukan diriku malam ini," ujarku sambil masuk ke dalam mobil. Saguru yang duduk di sampingku malah menatapku tanpa berkedip. Oh, sial. Jangan-jangan make up-ku gagal. Tadi di saat terakhir akhirnya aku meminta bantuan Ellie untuk merias. Aku memejamkan mataku.

Jangan mengejekku. Tolong jangan mengejekku.

"Kau cantik," bisiknya lembut. Aku kembali gugup. Untung di dalam mobil gelap. Kalau tidak aku pasti sudah mempermalukan diriku sendiri karena wajahku yang aku yakin merah padam saat ini.

"Ehm, trima kasih. Dan trima kasih juga atas gaunnya," ucapku tulus.

Malam ini Saguru nampak lain. Ia tidak bersikap konyol dan mengejekku seperti biasanya di kampus atau di restoran atau di kafe. Kepribadian narsisistiknya lenyap. Sepanjang perjalanan ia mengajakku berbincang tanpa gurauan, tapi bukan berarti dia sangat serius. Sikapnya cenderung ber-manner. Ia memperlakukanku dengan baik, seperti memperlakukan seorang wanita. Kurasa baru kali inilah ia memperlakukanku dengan sopan sekali. Tidak hanya tindakannya, tapi juga kata-katanya. Hm, aku jadi curiga.

"Kau ke manakan Saguru Hakuba yang asli?" terorku begitu ia baru saja selesai memarkirkan BMW hitamnya.

"Apa yang kau bicarakan?" ucapnya geli.

"Well, kau tidak seperti biasanya. Tidak konyol. Tidak menyebalkan. Malah tampak lebih, ehm, sopan."

"Kau mulai menyukaiku ya?" ledeknya sambil tersenyum jahil. Oke, sekarang dia sudah kembali seperti semula.

Dan aku terkesiap melihatnya yang baru turun dari mobil. Karena sedari tadi ia tidak keluar dari mobil, jadi aku tidak bisa melihat penampilannya. Dan, kalau boleh jujur, dari skala 1 sampai 10, nilainya kali ini 20. Tapi tentu saja tidak kukatakan padanya. Aku bisa diledek sampai mati nanti.

Ia menyodorkan siku kirinya dan aku merengkuhnya sehingga kami berjalan dekat beriringan. Begitu kami masuk ke ruangan pesta, sudah banyak orang yang hadir di sana. Rata-rata orang asing. Aku bisa mendengar mereka bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, Prancis, Mandarin, Jerman, Jepang, dan sejumlah bahasa lainnya yang tidak kuketahui. Secara otomatis pandanganku hanya mencari satu orang. Shinichi Kudou.

"Haibara." Sebuah suara yang rasanya sudah bertahun-tahun tidak kudengar menerjang telinga. Aku menoleh dan... Astaga. Aku nyaris tidak mempercayai mataku sendiri ketika melihat sosok pemuda tinggi berambut hitam yang begitu kurindukan. Kini kedua kakiku lemas seketika. "Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Eh, aku..." Aku tidak mampu menyelesaikan kalimat yang kuucapkan. Perasaan terkejut, senang, terharu, cemas, dan tak berdaya bercampur jadi satu dan membuatku hanya bisa menatapnya tak berkedip.