Veei

###12###

Disclaimer :

Naruto © Masashi K.

Harry Potter © J.K. Rowling

a. YU-GI-OH! © Kazuki Takahashi

b. La Clef du Royaume © Kyoko Shitou

rating : T

π SasuNaru π

ππDraRryππ

Warning!'

1• Fic ini mengandung BL atau yaoi. Dengan segala hormat, yang tidak suka yaoi bisa menepi atau meninggalkan fic ini...

2• Gagal EYD masih ada...

3• M-preg mengikuti...

4• Typo masih berseliweran... walaupun Est udah berusaha menguranginya...

['`:_:'`]

{•_•}

V

'Merlin... tolong lindungi mereka...'

...

..

.

Setelah Sasuke, Naruto dan Suigetsu berada cukup jauh dari mansion Namikaze, mereka akhirnya berhenti disebuah padang rumput luas yang terdapat sumur tua yang telah mengering airnya.

"Kau yakin Naruto?" Tanya Suigetsu ragu dengan petunjuk Naruto,

"Entahlah, coba saja! Yang jelas aku merasakan energi yang cukup besar dari dalam," jelas Naruto

"Kau masuk duluan Sui!" Titah Sasuke seenaknya, setelah kaki Suigetsu menyentuh dasar sumur tersebut dengan mulus Sasuke lalu mengangkat Naruto dengan bridal styel melompat masuk kedalam sumur tersebut yang mampu menampung mereka bertiga sekaligus,

"Aku tidak menyangka sumur ini bisa menampung kita bertiga," guman Naruto merasa aneh.

"Hei, aku mencium bau aneh dari lubang ini" setelah menyuarakan penemuannya pada kedua teman yang berada dibelakangnya ia mencoba menarik kuat satu persatu tumpukan batu yang ada disekitar lubang tersebut.

"Jalan rahasia?" Tanya Naruto tidak yakin, kerena penasaran ia memasukan tubuhnya pada lubang atau mugkin sebuah lorong, saat mencoba mengangkat kaki kanannya untuk ikut masuk menyusul sebagian tubuhnya Sasuke dengan tenang menarik kembali tubunya dengan pelan seraya meligkarkan lengannya pada perut buncit Naruto,

"Jangan masuk!" Larang Sasuke protektif,

"Aku penasarn Teme..." rengek Naruto pada sang Seme,

"Suigetsu, kau duluan!" Lagi-lagi..

"Yakkk... kau kenjadikanku senagai kelinci percobaan.. kenapa tidak kau saja duluan" protes Suigetsu tidak terima.

"Naruto hamil, dan aku harus selalu menjaganya, jadi aku akan mengawasinya dari belakang." Terdengar mutlak yang tidak dapat dibantah, apalagi dengan saringan yang selalu ia aktifkan ia menatap Suigetsu dengan nenebar ke-absolutannya(?)

"Gah... bilang saja kau ingin memperhatikan pantat Naruto dari belakang" setelah mengatakan hal tersebut ia lalu memasuki lorong sempit tersebut, sehingga dengan pelan dan hati-hati ia merangkak menelusuri lorong tersebut, dibelakangnya diikuti Naruto yang sesekali mengelus perutnya pelan, lalu Sasuke yang merangkak dibelakang Naruto sambil memperhatikan gerak-gerik Naruto.

"Kau tak apa Naruto?" Tanya Sasuke cemas, karena sudah hampir setengah jam mereka merangkak tapi masih belum mendapati jalan keluar.

"Aku tak apa, cuma sedikit kram" menengok kebelakan ia memberi Sasuke senyum manis yang mampu menenangkan kegelisahan sang Uchiha.

"Udaranya berubah..."

"Um... lebih sejuk dan nyaman, cepat Sui!" Dengan semangat Naruto mendorong pantat Suigetsu dengan tangan kanannya untuk mempercepat laju(?) Rangkakan Suigetsu.

"Jangan pegang-pegang pantatku Naruto"

"Siapa yang pegang, aku hanya menamapar sedikit supaya kau lebih cepat"

"Aku sudah cepat"

"Kau lambat, kau kal-eengh..."

'PLAK'

"JANGAN MEREMAS PANTATKU TEME..." teriak Naruto setelelah menpis kasar tangan Sasuke yang ada dibuttnya.

'Deg'

"Te,teme... jangan melilit kakiku dengan ularmu," dengan gerakan terpatah-patah ia menengok kebelakang dan mendapati Sasuke yang tengah berada sekitar dualangkah darinya jadi tidak mungkin Sasuke mengunakan ularnya untuk melilit kakinya yang terasa dingin, pelan dan ragu ia mengarahkan pandangannya pada pergelangan kakinya yang kini dililit oleh sebuah akar putih yang transparan

"HUWAAAA... HANTU POHOOOOON..." teriak Naruto histeris sambil mengipatkan dan menjejakkan kaki kirinya kesembarang arah dan sesekalih ia menarik ujung kaki Suigetsu guna meminta pertolongan. Sedangkan Sasuke yang melihat dan mendengar kepanikan Naruto ia mempercepat rangkakannya untuk menarik paksa akar pohon yang melilit pergelangan kaki Naruto seraya menahan dingin yang berasal dari akar tersebut dengan kuat,

"Teme, dibelakang mu... cepat Sui!" Semakin cepat sulur-sulur aneh berwarna putih tersebut mengarah pada mereka,

"Dep-" mengarahkan tongkat sihirnya kearah akar putih yang masih benerapa langkah dibelakangnya

"Hentikan Naruto, jalan keluar telah terlihat!" Mendapat intrupsi dari Sasuke sehingga dengan ragu Naruto memasukan kembali tongkatnya kedalam segel penyimpannya. Selangkah lagi, setelah Suigetsu bisa keluar dari lorong tersebut ia lalu membantu Naruto keluar, lalu disusul sasuke yang leluar sendiri, sedangkan setelah mereka bertiga keluar dengan selamat akar-akar putih yang mengejar mereka menghilang begitu saja meninggalkan serbuk-serbuk putih yang mengotori lantai lorong tersebut.

"Hufz... syukurlah... ittai," rintih Naruto sambil memegang perutnya.

"Naruto" dengan sigap Sasuke membantu Naruto duduk bersandar disalah satu batang pohon besar yang berada didekat kereka sehingga melindungi mereka dari terik matahari yang kini merada tepat diatas kepala, "kau tidak apa-apa Naruto? " tanya Sasuke dengan nada cemas yang ketara.

"Tidak papa, hanya sedikit keram, sebentar juga reda Teme," jawab Naruto sambil mengusap perutnya dengan tangan kanannya.

"Hei Sasuke, Naruto ... lihatlah" menengok kearah yang ditunjuk Suigetsu, mereka dibuat takjub oleh pemandangan yang tersaji dihadapan mereka, sebuah pohon besar yang dikelilingi oleh beberapa rumah yang terbuat dari kristal putih serta beberapa ekor naga yang terbang diangkasa. Dan di belakan pohon besar, mengalir indah sebuah air terjun yang menciptakan kabut embun yang mengelilingi sekitarnya.

"cé tú féin?*" Terdengar suara lembut yang mengalun dibelakang mereka, karena kaget ketiga shinobi tersebut dengan sigap berbalik ke belakang dan kini mereka dihadapkan pada seorang yang memiliki tinggi sekitar 195 cm-an yang tengah menghunuskan pedang kearah mereka bertiga, jangan lupakan seekor naga yang memiliki sisik berwarna biru yang tengah siaga dengan sayap terkapak serta gigi-gigi tajam yang siap mengigit mangsanya.

"Nani?" Tanya Suigetsu dengan bahasa jepangnya.

"Wah... Kawaīdesu," gumam Naruto dengan mata berbinar-binar, karena melihat keindahan seseorang yang ada dihadapannya, walaupun harus mendongak untuk menikmati keindahan orang yang ada dihadapannya. Seseorang yang entah pria atau wanita dengan rambut pirang keputih-putihan panjang sampai lutut yang setiap helainya seakan memantulkan sinar mentari kesekelilingnya, dengan bibir merah delima serta sorot matta tajam yang berasal dari pupil putih vertikat yang dikelilingi warna biru disekitarnya dengan kulit putih kebiruan,

"Anata dare?" Tanyanya lagi dengan bahasa, Jepang yang fasih.

"Oh, perkenalkan namaku Namikaze Naruto, yang berambut raven namanya Uchiha Sasuke lalu dia Suigetsu, kami hanya pengembara yang kebetulan sampai disini" jawab Naruto memperkenalkan diri beserta kedua rekannya.

"Kau seorang penyihir" desis orang tersebut pelan sambil mengawasi Naruto dengan mata tajamnya. Mendapati tatapan tajam dari orang dihadapannya Naruto perlahan mundur beberapa langkah sambil melindungi perutnya dengan kedua tangannya.

"I iya," jawabnya takut-takut

Mendapati Naruto yang takut akan tatapan orang yang berada dihadapannya, dengan reflek seorang seme ia melindungi Naruto dibelakangnya.

"Siapa kau?" Tanya Sasuke datar.

"Badrias Yulius, ikuti aku!" perintah orang tersebut yang telah diketetahui bernama Badrias melewati mereka begitu saja, dengan langkah tegap tapi terlihat angun ia menuju ke arah pusat pohon besar yang berada dikelilingi oleh rumah kristal.

"Pangeran Winslot," suara Badrias mengalun merdu menyapa seorang berambut raven lurus yang hanya sebatas leher tengah berjongkok sambil mengelus naga kecil berwarna merah yang tengah melahap seongkok daging yang sudah dicincang kecil-kecil.

"Kau kembali Bad?" Sahut suara bass(?) Yang mengalun dari bibir sang pangeran, menengok kebelankang ia mendapati sang panglimanya bersama tiga orang asing.

"Mereka pengembara yang sampai di Rommle lewat lorong timur rí uasal** " jawab Badrias setelah menunduk pada seorang dihadapannya.

"Kau mendo'akan ku cepat mati muda Bad, mari masuk! Anggap saja rumah sendiri" dengan ramah Winslot mengajak mereka masuk kedalam lubang yang berada pohon besar yang mereka lihat tadi,

"Waahh..." dengan penuh kekaguman Naruto mememparhatikan sekitarnya dengan mata yang berbinar cerah,

"Kau suka bocah manis?" Tanya Winslot dengan senyum dibibirnya, seraya mengacak rambut pirang Naruto dengan gemas.

"Un... Naru suka Nii-san... banyak api yang menyala di udara, terus bunga putih yang indah" jawab Naruto dengan semangat, mendongak untuk menatap wajah pria yang mengacak rambutnya, dengan semburat merah di kedua pipinya ia menundukkan kembali kepalanya.

"Cih," decah Sasuke memalingkan wajahnya jengkel.

"Siapa namamu?" Tanya Winslot sedikit membungkuk karena tinggi Naruto yang hanya sebatas dadanya.

"Namikaze Naruto" jawab Naruto sambil memainkan ujung bajunya karena gugup.

"Namikaze?"

"Iya, dia keturunan dari Arata yang kau tugaskan membawa salahsatu kunci Naga" balas Badrias

"Anda kenal kakek moyangku?"

"Tentu saja, dia dulu pelayan pangeran Asha yang sangat setia"

"Kalian mengetahui tentang kunci naga?" Tanya Sasuke penuh selidik

"Pasti,,, dulu raja kami yang membuatnya untuk menyegel Gandora" jawab Winslot santai

"Kunci itu sekarang dicuri, begitu pula dengan ketiga kunci yang lain"

"Oh... lalu apa yang akan para penyihir lakukan?"

"Meningkatkan keamanan dan mengumpulkan Horcrux secepatnya" jawab Naruto yang sudah masuk ke mode seriusnya.

"Mereka yang dikorbankan tidak akan kembali Naruto" ucap Winslot menerawang jauh.

"Kami tahu, itulah tujuan kami dalam perjaanan ini. Mencari informasi sebanyak yang kami bisa tentang Gandora untuk meminimalisir korban" sela Naruto.

"Membiarkan Gandora bangkit tidak akan menyelesaikan masalah" ungkap Babrias menerawang jauh, mungkin kemasa lalu.

"Sebebenarnya siapa kalian?" Tanya Suigetsu ingin tahu.

"Kami Suku Naga yang dulu melawan Gandora, saat itu umurku bahkan baru 23 tahun, dan dari seluruh makhluk sihir yang melawannya hanya tersisa sebagian kecil yang selamat dari amukannya," terang Winslot sambil menerima gelas kaca yang berisi minuman berwarna hijau kental, dan sebelumnya mempersilahkan mereka duduk di kursi yang mengelilingi meja bundar dengan hiasan ukiran aneh ditengahnya

"Berarti umur anda...?" Tanya Naruto memiringkan sedikit kepalanya kekanan.

"Ahahaha... aku masih muda, umurku baru 1314 tahun"

''BRUUSSH... uhok ohok(?)... 1314 dibilang muda? Tuanya kapan?" Dengan tidak berperike-tamu-an Suigetsu menuemburkan minumannya pada Badrias yang kebetulan berada dihadapannya.

" aoi tú ... diabhal, beidh mé arais duit a Fry ..." desis Badrias dengan bahasa Irlandianya yang mengandung sebuah ancaman.

"Bad..."

"Aku mengerti Rí Uasal" dengan elegannya Badrias berdiri dan melangkah keluar mengabaikan baju bagian dadanya yang masih basah karena semburan Suigetsu sebelumnya.

"Maaf jika panglima ku bicara kasar padamu er..."

"Suigetsu,"

"Baiklah Suigetsu-kun... Bad memang terkadang bersikap sinis dan sadis pada orang yang baru ditemuinya"

"Aku juga salah Pangeran," balas Suigetsu sembil mengaruk belakang kepalanya salah tingkah.

"Beritahu kami semua yang kau ketahui tentang Gandora!" Perintah Sasuke dingin.

"Sudah sangat lama, mungkin aku sudah melupakannya, apa yang kalian tawarkan untuk mendapatkan informasi dari kami Shinobi-kun"

"Apa yang kalian inginkan" jawab Sasuke mantap.

"Hal yang menjadi hargamu"

"_" lama tidak mendapatkan jawaban dari Sasuke,

"Baiklah, kau bisa menukarnya dengan-nya," ucap Winslot sambil melirik Naruto, menompang dagunya santai, Winslot memberikan kedipan genit yang membuat Naruto semakin blussing(?).

"Aku tidak akan membiarkanmu, karena dia adalah hargaku Winslot" desis Sasuke yang kini telah berdiri dibelakan Winslot yang duduk dengan kusanagi yang tengah bertengger manis dileher Sang Pangeran.

"Kau mau menghunuskan pedangmu pada ku?"

"Kenapa tidak?" Ucap Sasuke mengejek

"Pedang mainanmu tidak akan bisa mengores kulitku Shinobi-kun,"

"Khe, bisa dicoba"

" "

"Hentikan!" Intrupsi seorang yang cukup mirip dengan Winslot, hanya saja wajahnya yang lebih condong kearah manis,

"Asha,"

'DUAK' sebuah lemparan buku setebal hampir 10 cm, mendarat mulus dibelakang kepala Suigetsu

"Ittai..." rintih Suigetsu sambil mengelus kepalanya dengan tangan kanannya pada bagian yang dirasa benjol.

Memungut buku yang tergeletak di lantai, Naruto lalu membaca judul yang tertera di sampulnya.

"GANDORA THE DRAGON OF DESTRUCTION"

"Kalian bisa mencarinya dalam buku itu, jadi jauhkan kusanagimu pada leher kakak ku!"

"Asha,,, kau terlalu serius. Aku hanya iseng, lagian tumben kau perduli pada manusia" rajuk Winslot

"Setidaknya mereka mempunyai tujuan baik datang kesini, lagian jika Gandora dihancurkan itu berpengaruh pada kutukan yang berada di Tahta Rí Uasal" ungkap Asha dengan penuh keyakinan.

"Kutukan?" Tanya Naruto yang mulai ingi tahu.

"Semenjak Clavius Draconia yang mengorbankan dirinya dengan menyegel dirinya pada kedua sayap dan kaki Gandora setiap Raja yang terpilih mengantikannya selalu mati dengan berbagai cara, ditambah dengan jumlah kematian tanpa adanya kelahiran membuat kami semakin musnah dimakan peradaban" terang Asha sambil mendudukan dirinya di samping Sasuke sehingga menjadi sekat antara Sasuke dan Winslot.

"Tunggu, dari cerita paman Louwis kalau suku Naga yang tersisa hanya, empat orang(?) Yang mengorbankan dirinya untuk menghentikan Gandora," semakin penasaran akan rahasia suku Naga yang konon kayanya mendekati imortal hingga mengabaikan godaan Winslot dan aura berat Sasuke.

"Kami sengaja menyebarkan berita palsu tentang keberadaan kami, atas bantuan orang-orang kepercayaan kami, mereka menutupi kebenaran tentang kami. Begitu pula yang dilakukan oleh Arata yang saat itu ditugaskan oleh Ayah menjaga kunci Naga"

"Kenapa?"

"Menghindari pemburuan yang sering dilakukan oleh penyihir serta mencegah perang kembali dengan dengan para Elf dan Firenze"

"Terimakasih infonya er...?"

"Namaku Asha" jawab Asha dengan senyum tulusnya

"Yosh... perkenalkan namaku Naruto, yang disampingku namanya Suigetsu lalu yang berada disebelahmu namanya Sasuke, salam kenal"

"Naru-chan... hari sudah semakin malam... menginap yah!" Pinta Winslot sambil memeluk Naruto akrab.

"Un... ajak Naru berkeliling juga yah..."

.

.

.

.

.

Sudah beberapa minggu setelah libur Natal berakhir, kini murid-murid Hogwarts tengah mengawali pagi mereka dengan sarapan di Aula Besar, diselingi canda tawa dengan teman seasrama mereka, tapi kemeriahan itu tidak menarik perhatian meja Gryffindor yang masih dalam duka, terutama anggota LD yang kehilangan dua anggota mereka yang tidak lain Naruto dan Draco, ditambah menghilangnya Professor Dumbledore karena tuduhan yang dilayangkan oleh Dolores Umbridge beserta kementrian sihir yang takut akan aktifitas anggota Dumbledore Army(LD) mengulingkan kepemimpinan mentri Fudge(lupa namanya) sehingga mereka menjebloskan Dumbledore ke Azkaban, karena tidak berniat menyerahkn diri, Dumbledore akhirnya kabur dengan mengunakan Fawkes, sehingga saat ini kursi kepala sekolah diduduki oleh Dolores Umbridge yang semakin gencar mengincar para anggota LD, yang harus ekstra hati-hati.

Sedangkan Harry dan kedua temannya menfokuskan mencari Horcrux yang berada di Hogwarts, dengan bantuan petunjuk dari Luna, mereka mencari informasi dari beberapa hantu Hogwarts.

Sudah tiga hari ini Umbridge hertingkah aneh dengan memasuki gudang atas, dan lebih sering menyuruh para bawahannya(para Slytherin dan Argus Filch) untuk berpatroli dijam-jam tertentu.

.

.

.

.

Malam ini udara terasa semakin dingin, dengan suasana yang semakin sunyi, Harry sengaja menghentikan kegiatan LD untuk dua hari kedepan, entah kenapa perasaannya akhir-akhir ini semaki gelisah, Harry yang saat ini tengah berjalan sendirian menuju asrama Gryffindor setelah menyelesaikan detensinya dari Dolores Umbridge ia, hanya bisa menringis perih pada telapak tangan kirinya yang terluka karena detensi dari Kepala Sekolah baru yang semena-mena. Dalam perjalanan menelusuri lorong ia melihat Umbridge yang berjalan tergesa menuju lantai atas menara tepatnya pada gudang penyimpan, karena penasaran ia dengan langkan mengendap beserta mengenakan jubah Gaib ia mengikuti langkah tergesa wanita pecinta warna pink tersebut. Dari jarak yang aman ia memperhatikan Umbridge berdiri didepan lemari tua dengan mengarahkan tongkat sihirnya pada lemari tersebut sembari melafatkan entah mantra apa, setelah slesai dengan manyra panjangnya ia membuka lemari tersebut dan keluarlah beberapa orang berjubah hitam, saat orang terakir keluar Harry terpekik kaget sambil membekap mulutnya rapat saat menegetahui identitas salah satu pria paruh baya berambut hitam acak-acakan serta beriris shapphire dari kumpulan orang berjubah hitam yang ia yakini sebagai Death Eaters.

'Dad' dengan berlinag air mara kerinduan ia mengirim Patronum pada Hermione dan Ron serta Professor Snape untuk datang. Entah apa tujuan para Death Eaters datang ke Hogwarts yang jelas ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Karena tidak ingin ketahuan Harry semakin mundur hingga punggungnya menyentuh meja yang berada dibelakangnya, bersyukur karena suara yang dikeluarkan sangat pelan sehingga tidak sampai didengar oleh mereka. Merasakan sihir aneh yang berasal dari telapak tangan kanannya yang menyentuh sebuah kotak kecil berwarna hitam, karena penasaran ia membuka kotak tersebut secara perlahan dan mendapati sebuah Tiara dengan permata ditengahnya. Karena tergesa-gesa memasukan tiara tersebut dalam saku celanananya tidak sengaja Harry menyenggol sebuah piala lama dan mengelinding kearah kaki salah satu Death Eaters.

"Siapa disana?" Mengarahkan tongkatnya tepat kemuka Harry yang tidak terlihat, denagan perlahan dan melapisi mantra peredam disekitarnya Harry bergeser menjauhi tongkat salah satu Death Eaters yang bernama Goyle Sr. (ayah dari Gregory Goyle) mengarahkan pandangannya pada salah satu Death Eaters yang sangat ia kenali ia hanya menatap miris pada wajah tanpa ekspreai serta tatapan mata yang kosong.

"Apa kau sudag mempersiapkan semuanya Umbridge?" Tanya suara wanita berambut hitam berantakan.

"Sudah semua, sekarang ini hanya ada Minerva dan Severus yang menjaga Hogwarts," jawab Umbridge

"Kerja bagus!" Puji Goyle Sr.

"Cepatlah! Kita harus segera mendapatkan Harry Potter dan Namikaze Naruto untuk Dark Lord," ucap Death Eaters yang lain.

PYAR

"Aw,,, iss... gawat" karena sebuah kecerobohan kecil Harry menyengol guci tua yang yang menyebabkan keberadaannya diketahui. Tidak ada pilihan lain dengan tergesa ia memasukan kembali jubah gaibnya kedalam saku jubahnya dan berlari sambil merapalkan manyra perlindungan dari beberapa serangan yang dilayangkan oleh Death Eaters.

"Diffindo" lesatan mantra perobek meluncur mulus kearah Harry dari tongkat yang dibawa James Potter

"Protego" teriak Harry menblock lesatan mantra dari sang ayah. Sambil melancarkan serangan balik pada James "Expelliarmus" setelah mendapatkan tongkat sang ayah dengan kecepatan perapal yang sering ia asah ia menyerang kembali sang ayah " Sectumsempra, Stupefy" mengabaikan Death Eaters yang lain ia fokus pada sang ayah yang dapat menghindari kilatan cahayaerah yang berasal dari mantra stupefy-nya.

" Expellimellius " dari arah belakan sebuah api yang keluar dari tongkat Goyle Sr. Mengarah ke punggug Harry yang tidak siap akan serangan dadakan dari belakang.

"Deprimo" dari arah pintu masuk Severus merapalkan mantra guna mendorong api yang menuju kearah Harry.

"Crucio"

"Aargh..."

"Harry,,," pekikan Hermione kembali menfokuskan Severus dan Minerva yang terkejut akan kehadiran James. Dengan bantuan anggota LD dan datangnya para anggota Orde kembali memeriahkan(?) Pertempuran. Berbagai ledakan dan getaran udara yang disebabkan oleh dua atau lebih mantra yang bertabrakan ataupun suara pekikan dan erangan sakit dari kedua pihak yang saling berperang hingga semua terdiam saat suara Umbridge yang merapal mantra 'Avada Kedavra' kearah Harry. Karena shock beserta sakit yang masih dirasakan membuat Harry terpaku ditempatnya, Harry seakan menerima lesatan cahaya hijau berasal dari salah satu kutukan tak termaafkan hanya menutup matanya.

"Uhuk" semakin memucat, tapi ia tidak meraskan sakit apapun ditubuhnya.

'Inikah rasanya mati?' Merasakan sebuah pelukan yang semakin berat bertumpu ditubuhnya, dengan takut Harry membuka matanya dan mendapati tambut putih yang pertama ia lihat, mendapat belaian dari tangan keriput yang berasal dari orang yang mnjadikan tubuh dan nyawanya menjadi tameng hidup untuknya, Harry semakin menangis tanpa suara, terlihat dari bahunya yang bergetar, menyentuh lembut tangan keriput tersebut untuik mempertahankan lehangatan yang semakin lama semakin hilang samar-samar ia melihat senyum tulus dari Professor kesayangannya.

"Aku percaya padamu Harry," ucap Dumbledore yang terakhir sebelum ia menutup mata untuk selamanya

"Hiks... maaf... AAARGGHHHHH..." mencekeram kepalanya, Harry berteriak histeris hingga kembuat sihirnya meledak dan mementalkan semua benda dan beberapa penyihir yang berada didekatnya. Semakin keras, dan getaran serta tiupan angin semakin kuat.

KRAAKK

PYAR

Berbagai peralatan yang terbuat dari kaca ataupun penyangga kayu banyak yang pecah ataupun patah.

"$$mati$$" mendengar desisan dengan penuh nada ancaman yang keluar dari mulut Harry membuat bebarapa pelahap maut memilih melarikan diri meninggalkan James yang tidak bisa mengerakan diri karena pengaruh mantramantra Locomotor Mortis serta Immobulus dari Severus, serta Umbridge yang hanya bisa membeku dengan kaki bergetar karena tekanan sihir Harry yang meluap-luap serta Penuh tekanan mencekram.

Ledakan sihir yang sangat kuat tersebut bahkan mampu mengetarkan bangunan Hogwarts, beberapa murid yang merasakan getaran serta ledakan sihir yang seakan mampu menekan seluruh sihir hingga membuat beberapa murid yang memiliki kepekaan terhadap sihir disekitarnya mengalami sesak nafas.

Sedangkan anggota Orde yang berada dekat dengan Harry betusaha menenangkan kembali The Boy Who Lived yang terguncang akan kematian sang Professor berambut putih tersebut.

"Harry,,," lirih Hermione yang masih berlinangan air mata.

"Tenanglah Mate, kau harus bisa memgikhlaskan kematian Professor!"

"Mati,,, hiks,,, Professor mati karenaku. Seharusnya aku yang mati hiks,,, bukan Professor,"rancau Harry dengan tubuh yang bergetar menahan isakannya sambil memeluk tubuh kaku Dumbledore.

PLAK

"Kau ingin mengecewakan Albus? Dimana balas budimu Potter? Dimana kepercayaan diri seorang Gryffindor sejati yang selama ini kau banggakan?" Desis Severus Setelah melayangkan sebuah tamparan dipipi pucat Harry.

"Hiks,,, lagi-lagi aku merenggut nyawa orang yang ku sayangi... KENAPA? hiks,,, jawab aku!"

"Karena Lily dan Professor Dumbledore percaya padamu Harry, mereka percaya kau bisa meneruskan perjuangan mereka," jawab Reamus dengan berlinang air mata.

"Ma maaf,,,"

"Jangan meminta maaf!" Pinta Reamus sambil menghapus linangan air mata yang mengalir deras pada pipi Harry.

.

.

.

.

.

Hari pemakaman Sang Kepala Sekolah kini berlangsung kidmat, dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Sekolah Minerva Mc Gonagall, setelah memanjatkan Do'a, Minerva membimbing seluruh yang hadir dalam pemakaman tersebut menjunjung tinggi tongkat mereka sebagai penghormatan terakhir untuk Sang Kepala Sekolah dengan merapalkan 'Lumos' yang diarahkan kelangit hingga menerangi langit yang penuh akan awan hitam diatas mereka. Diantara yang mengikuti peluncuran Lumos dihalaman Hogwarts tersebut terlihat Harry yang berada ditenggah-tenagah barisan terdepan sedang mengenggam erat tongkat sihirnya yang masih memancarkan cahaya Lumos. Disamping kirinya terdapat Sirius yang mengunakan Animagusnya.

"Ada apa ini?" Kalimat tanya tersebut meluncur dengan mulus dari bibir pemuda manis berambut pirang acak-acakan yang baru datang dengan dua pria lainnya mengunakan tekhnik jikukan milik pria berambut raven yang berada dibelakangnya. "Naruto..."

"Ada apa ini Paman Sev?" Tanya Naruto lagi.

"Kita bicarakan nanti Naruto," jawab Severus.

.

.

.

Dua hari terlewati setelah pemakaman Albus Dumbledore, kini Hogwarts dipimpin oleh Severus Snape yang mengantikan Dolores Umbridge yang kini ditahan di Azkaban karena memasukan Death Eaters ke Hogwarts serta melakukan sihir hitam hingga menewaskan Pahlawan sihir pertama yang berhasil memenangkan Perang sihir pertama melawan Ggrindelwald, Sang Dark Lord pertama. Dalam kepemimpinan Severus Hogwarts mengalami peningkatan keamanan besar-besaran, serta menutup seluruh jalan rahasia yang ada.

Di kantor Kepala Sekolah kini terlihat Harry dan Severus tengah menuju keperapian diikuti oleh Hermione serta beberapa anggota LD yang ikut melakukan perjalanan Floo menuju ke kediaman Naruto. Setelah memastikan semua yang ada disana termasuk Minerva, salah satu penghuni lukisan yang baru aka. Albus Dumbledore menuju ke lukisan disebelahnya dan menghilang dilukisan milik Phineas Nigellus yang penghuninya sedang menghirup cangkir porcelainnya yang mengepulkan uap panas.

.

.

.

.

.

Di mansion Namikaze, kini telah terkumpul beberapa orang yang sudah kita kenali, temasuk Neville dan Luna yang ikut bergabung.

"Bagagaimana keadaan James, Louwis?" Tanya Severus pada Louwis yang baru keluar dari kamar Naruto.

"Cukup buruk, sekarang Naruto dan Karin yang mengatasi lukanya, sedangkan pengaruh 'Imperio' sedang ditangani oleh Sasuke-kun," jawab Louwis serius

"Apa sangat parah" tanya Harry penuh kekhawatiran.

"Selain luka baru yang dibuat Severus dan Sirius, ada banyak luka lama yang menyerang organ dalamnya"

"Daddy..."lirih Harry lemas.

"Daddymu akan baik-baik saja Harry," ucap Louwis mengelus rambut Harry penuh sayang.

Klek

"Sa,Sasuke" lirih Neville takut-takut pada Sasuke yang baru saja menutup pintu.

"Kita mendaptkan lokasi keberadaan Draco, Lisyla dan Regulus," dengan seringai penuh kemenangan Sasuke mengatakan hal tersebut.

"Aku akan ikut," pinta Sirius

"Tidak! Hanya aku Suigetsu, Juugo dan paman Louwis, Kalian semua tetap disini!" Perintah Sasuke mutlak.

"Sasuke-san... Latih aku kembali untuk menjadi kuat!" Pinta Harry penuh harap.

"Kami juga" sahut Ron dan diikuti anggukan antusias dari anggota LD yang lain.

"Siapkan diri kalian setelah aku kembali!" Dengan seringaian iblis Sasuke menatap para anggota LD.

"TEMEEE BERANI KAU MENARIK KABUTO KEMARI KUBUNUH KAU DUA KALI" terdengar suara teriakn mengelegar dari arah kamar Naruto, yang sudah kita ketahui siapa yang berteriak dengan penuh cinta(?)

"Hah..." desah Sasuke.

"Ada apa lagi kau dengannya?" Tanya Suigetsu kepo

"Pasti karena kekasih merahmu yang mengatakan hal yang bukan-bukan pada Naruto-san" balas Juugo dari arah belakng.

"Padahal yang akan kutarik kemari Orochimaru dan Tsunade" dengan aura muram Sasuke menebarkan hawa kematian secara tidak sadar.

"APAAAA... KAU MAU MENARIK SI SANNIN GILA DAN HOKAGE PENJUDI KEMARI?" teriak Suigetsu histeris

"Hn"

"Aku tidak setuju" tolak Suigetsu sambil mengacungkan telunjuknya dimuka Sasuke.

"Aku membutuhkan mereka untuk membantu Karin melalukan oprasi cesar saat kelahiran Naruto nanti" jawab Sasuke mutlak.

"Benar juga... kita juga membutuhkan Orochimaru untuk melakukan tekhnik Edo Tensei pada keempat Hokage terdahulu"

.

.

.

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷tbc÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

.

.

.

.

.

Yosh... tutup Hp lepas Kaca,,,

Hihihi... maaf kalo lagi-lagi up datenya lama,,,, beruntung belum sampai setehun est ngak up date kan kan...

Sekali lagi maaf kalo masih ada typo yang nyempil,,, est ngak sempat baca ulang,,, soalnya waktunya mepet.

Est juga mau ngucapin maaf kalo fic est lagi-lagi mengecewakan dan kurang memuaskan...

Truss est juga mau ngucpin terima kasih pada minna-san yang mau baca serta review bahkan nge-fav dan nge-follow cerita abal est ini,

Kotak review est terbuka bagi minna-san yang mau memyenpatkan review lagi. Est terima kritik saran dan masukan yang menjadi unek-unek Minna-san... #mulaiEror

Yosh... akhir kata est sampai jumpa di tahun depan...

.

.

.

.

Balasan review :

- SasuNaruMuch : ini udah est lanjutin... salam kenal juga...

- : Ngak kq,,, entah di chap berapa est pernah nulis kalo tangan sasu est kembaliin(?) Pakai sel Orochimaru. Kalo perang,,, bakalan beda... tapi est akan ambil beberapa hal dari aslinya... dan maaf kalo ngak bisa Up date kilat, mohon maklum karena est ngetiknya pakai Hp, jadi kalo mata mulai lelah est tinggal tidur Hpnya...^_^/"

-istri sahnya sasori no danna : un... semangat...

- Iyeth620 : yippi... est juga udah ngak sabar buat perang,,,, perangnya bakalan terjadi dibulan juli jadi est pastikan kalo itu setelah naru-chan lahiran... maaf juga kalo est up datenya lama,,,, ada sesuatu yang terjadi, terus est ngak bisa up date lagi di gropu soalnya kalo est up date di grop pasti wordsnya kepotong,,,,, .

-Ryouta Suke : Hihihi iyah dikit, soalnya est lagi yahhh gimana jelasinnya yah #garukKepala est payah dalam hal romance sih... so, maaf yah Ryou-Chan...

- Byakuren Hikaru83 : iya,,, ini udah lanjut, makasih udah nyempetin Review,,,,

-retvianputri12 : Hai retvianputri-san, uumm... masak sih,,, est jadi blussing #digeplak, est usahakan baby sasunaru selamat soalnya est udah nyiapin malaikat kema(dapat Deathglare dari mata iritasi) penjaga maksudnya...

- AkarisaRuru : ngak kq,,,, Oro disini baik kq, oro ln masih di konoha, jadi pasti sama Kabuto kan...

-Blueonyx Syiie : Hihihi,,, jadi malu,,, maaf pendek... jangan salahin Est ,,,, soalnya est di kenalin Hyunn sama fic Kyuhyun... jadi est tersesat di jalan yang bernama ke-reader-an... #alasan macam apa tuh(-_—?) Yosh,,, semoga yang ini gak mengecewakan juga, soalnya est udah peras otak didetik terakhir tahun 2015 ini.../

-Theodora : anggap saja bahasa indonesia atau bahasa jepang dan ingris jadiin satu begitu pula Harry juga,,,, sungguh est paling payah dalam bahasa... so,,, maafkan est kalo ceritanya mengecewakan bin aneh...

-Lee Ya 242 : emm... mungkin beberapa chap lagi end,,,

-pink cherry : un... makasih udah berkunjung Nee-Chan... mampir lagi yah...

-Vilan616 : apapun yangterjadi est akn meng-END-kan cerita est, karena itu jalan ke-autho-an est#alasanmacamapatuhh...? Ok makasih Vilan-san...

-hyunnie02 : um... cemungut juga buat mu Hyunn...

-Anisa 6d5 : ah... est jadi malu,,,, #garuktanah(?_?), un.. makasih juga idah mau mampir review cerita est...

.

..

...

...

* siapa kalian?

** Yang Mulia Raja

*** kau... tamu sialan, akan ku balas kau anak ikan...

.

.

.

.

Glndong, 31-12-2015

09:52 PM