_Minah Hartika_
"Kupikir kau pergi karena kecewa.."
"Kupikir hyung marah hingga tak ingin lagi menemuiku.."
"Maaf! Tak ada kesal sama sekali, Kyu. Hanya saja aku merasa kecewa pada diriku sendiri. Tak pantas lagi melindungimu. Tak mampu mengutamakanmu. Bahkan sempat egois dan tak memikirkanmu. Jujur! Hanya Donghae yang ada di otakku kemarin. Mencemaskan dia sungguh membuatku gila.."
"Karena dia saudaramu yang sesungguhnya. Aku mengerti.."
[CHAPTER 11]
Donghae nampak terduduk di sisi ranjang yang sudah seminggu lamanya ia tempati. Seminggu, terhitung semenjak dirinya membuka matanya kembali. Tersadar dari sakitnya..
Kini ia tak lagi dibebani berbagai alat yang membuatnya tak nyaman, meski penyangga pada kaki bagian kaki kirinya belum terlepas. Itulah mengapa ia belum mampu menapakkan kakinya di atas lantai yang dingin. Hanya menghabiskan watunya di atas ranjang. Sesekali terduduk seperti saat ini, sambil memandang sinar benderang di langit sana dari balik jendela ruang rawatnya.
"Hh.."
Cukup lama Donghae diam, ia menjadi terlihat bosan. Ia ayunkan kaki kanannya yang terkulai di sisi ranjang. Hanya kaki kanan saja. Ingat! Yang kiri ia bahkan tak mampu menggerakannya sama sekali. Itu telah terjadi, dan Donghae tak merasa buruk karenanya. Ia masih baik-baik saja, semenjak sang dokter berkata..
"Tidak! Ini bukan lumpuh total. Hanya sementara saja. Terapy bisa kita lakukan untuk menyembuhkannya.."
Sedikit banyak Donghae merasa cemas akan hal tersebut. Sangatlah tak nyaman bila segala sesuatu harus dilakukan berdasarkan bantuan tangan orang lain. Contohnya saat ini. Di tengah waktu luangnya tersebut, matanya mengitari seluruh ruangan dan menatap bosan pada semua yang ada. Bagaimana tidak? Hanya ada satu makhluk hidup disana, dan itu dirinya.
Sret.
Dengan agak sulit ia meraih ponsel yang tergeletak di sisi bantal bercorak ikan miliknya, pemberian Kibum. Ia cari sebuah nama di antara deretan nomor kontak dalam ponselnya tersebut. Hingga ia temukan satu nama dan lalu menghubunginya.
"Hyung, kau dimana?" ucapnya seketika.
"Kau sedang bekerja? Ah! Apa aku mengganggumu? Tidak, tidak usah hyung. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku hanya sedikit bosan. Kututup kembali telponnya, ya.."
Begitulah percakapan singkat tersebut. Segera berakhir, bahkan tak sanggup bertahan dalam satu menit saja. Membuat Donghae kembali mengeluh, sedikit kecewa. Ia benar-benar terlihat bosan. Matanya terus mencari sesuatu yang mungkin saja dapat menarik perhatiannya.
Hingga kemudian ditemukan olehnya, remote televisi yang tergeletak di sofa yang tersedia di ruang tersebut. Tempat Leeteuk tertidur disana setiap malam karena harus menungguinya.
Ah! Mata Donghae berbinar mendapati remote tersebut. Dengan tak sabar ia tapakkan kaki kanannya di atas lantai. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di atas lantai dingin tersebut. Ia sadar akan keadaan kakinya, hingga tangannya meremas kuat sisi ranjangnya.
Perlahan ia berjinjit, menumpukan tubuhnya seutuhnya pada kaki kanannya. Ia menapaki lantai dengan sedikit kesulitan. Letak benda yang akan digapainya, berjarak beberapa meter di depannya. Ia raih pinggiran sofa sebagai pegangannya, hingga berikutnya..
Cklek.
Suara pintu terbuka. Menampakkan satu wajah, dan juga satu teriakan dari mulut yang terus mengomel tak jelas. "Hyung apa yang kau lakukan? Kau mau kemana sih?!"
Donghae menoleh. Ia sedikit terkejut kala mendapat satu tarikan di lengannya. Jangka waktu yang sangat cepat! Baru saja ia mendengar pintu terbuka dan juga omelan tersebut, namun tarikan cepat segera dirasakannya. Membuatnya mendelik sebal. "Kau berlebihan, Kim Kibum!" rutuknya sebal, meski tetap mengijinkan Kibum menuntunnya agar terduduk di sofa.
"Apanya yang berlebihan hyung? Jelas kau belum bisa berjalan. Jadi diam saja!"
Segera Donghae berdecak sebal. Setelah terduduk rapih di atas sofa, ia segera melipat tangannya di dada. Dilihatnya Kibum yang menggeser meja kecil disana, lebih mendekat padanya. Dan lalu Kim Kibum mengangkat kaki kirinya perlahan, hingga separuhnya menopang di atas meja. Mungkin maksud Kibum adalah, meluruskan kaki Donghae tersebut.
Namun kala itu Kibum nampak diam. Ia melirik kaki Donghae tersebut dan lalu menatap Donghae. "Minimal kau merasa ngilu saat aku menggerakannya, hyung.." ungkap Kibum.
Donghae segera melirik kaki kirinya seolah tahu apa yang di maksud Kibum. "Tapi aku benar-benar tak merasakannya," kilah Donghae dalam wajah yakinnya.
"Aku berharap kau merasakannya, hyung. Belajarlah mengenalnya kembali.."
Donghae diam. Ia tarik dua ujung bibirnya dan lalu memberikan senyuman hangatnya pada Kibum. "Jangan terlalu dipikirkan! Aku saja merasa baik, mengapa jadi kalian yang tegang, huh?" candanya kemudian.
"Ayolah, hyung!" decak Kibum. Ia menatap kesal ke arah Donghae. "Ini bukan main-main!"
Dan Donghae mengangguk. "Aku tahu itu dengan jelas tentu saja. Aku yang mengalaminya. Bahkan sudah bertahun-tahun. Aku sudah terbiasa oleh sakit ini.." tutur Donghae.
"Tapi setidaknya kau harus mencoba untuk sembuh! Bahkan 'rasa' itu bisa kau dapat kembali jika kau ingin. Rasakan keberadaan mereka hyung.."
Satu desahan nafas Donghae berikan. Nafas yang nampak pasrah, seolah lelah setelah mendengar penuturan itu. "Aku memang sempat menyerah bahkan untuk hidupku sendiri," ucap Donghae. "Biarlah sakit itu menghilang! Biarlah aku tak mengenal rasa sakit! Biarkan semuanya terjadi.."
"Hyung.."
Tak ingin ucapannya terpotong, Donghae segera menatap lekat pada Kibum. "Tapi aku tahu aku tak sendiri sekarang!" tuturnya. "Aku ingin merasakannya kembali, meski sebenarnya aku cukup merasa lega untuk saat ini.."
Kibum diam dan akhirnya hanya menyimak.
"Aku lega karena masih dapat merasakan perasaan bahagia ini. Dapat memperbaiki semuanya, hingga mampu kembali tersenyum bersama kalian.."
Mungkin Kibum sedikit terkesima hingga kehilangan katanya. Ia segera menundukkan wajahnya dan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau sungguh menyebalkan!" candanya. Ia sempat sedikit melamun dalam beberapa menit, membiarkan Donghae berkutat dengan remote televisi dan menghidupkan televisi. Setelahnya ia berjengit dari posisinya.
"Oh! Aku lupa! Sebenarnya aku membawakanmu sesuatu, hyung.."
Donghae melirik ke arah Kibum. "Jangan katakan kau membawa piyama nemo lagi!" tebaknya. "Piyamanya sudah menumpuk, Kim Kibum! Atau kau bawa handuknya kali ini?"
Kibum mengulum senyumnya. "Tidak, hyung. Aku tak ingin membuat ruanganmu ini penuh nantinya.."
"Lalu apa? Cepat tunjukkan padaku!" tagih Donghae, sambil mencoba melihat apa yang dibawa Kibum. Nyatanya Kibum datang dengan tangan kosong.
"Tertinggal di mobil. Biar ku ambilkan sebentar. Kau tunggu dan jangan macam-macam!" peringatnya.
"Kau pikir aku akan melakukan apa, huh? Cepatlah kau bawa!" dengus Donghae.
...
Leeteuk yang tengah bekerja, berkutat dengan banyak kertas di meja kerjanya menjadi tertegun kala seseorang menyambangi ruang kerjanya tersebut. Ia segera letakkan alat tulisnya, dan lalu bangkit dari duduknya serta memberikan hormat pada sosok yang nampak ia segani tersebut.
"Ada hal penting hingga anda kemari?" ucapnya dengan formal.
Sosok itu diam, menatap Leeteuk dengan gurat pedih yang mengalun menghiasi wajahnya. "Kau tak pernah bersikap seformal ini jika tak sedang marah padaku," ungkapnya. "Kau benar-benar marah pada ayah, hm?"
Leeteuk tak mampu membalas meski itu dengan gerak tubuhnya. Ia berdiri kaku di tempatnya. Hingga harus sang ayah yang menarik lengannya, dan mengajaknya untuk duduk lebih santai pada sofa mewah di ruangannya tersebut. "Kau sudah makan?" tanya tuan Lee, mencoba untuk keluar dari hening yang sempat melanda keduanya.
"Hm."
Tuan Lee mendesah. "Dimana? Di cafe rumah sakit?"
Leeteuk menundukkan wajahnya. Ia melihat kakinya yang hanya terbalut sebuah sendal saja. Bahkan ia tak mengenakan pakaian resminya. Bekerja dengan penampilan yang buruk!
Matanya terlalu fokus pada dirinya sendiri. Bahkan mungkin sejak tadi, Leeteuk tak menyadari sosok sang ayah yang membawa dua kantong di tangannya. Kini ia tersadar setelah tuan Lee meletakkan kedua tas itu di atas meja. "Ini pakaianmu. Ayah bawa pakaian kerjamu, dan juga sedikit makanan. Mungkin rasanya akan berbeda, karena bukan ibumu yang membuatnya.."
Leeteuk segera mengangkat kembali wajahnya dan segera menatap sang ayah. "Mereka benar-benar tidak ada?" tanyanya kemudian.
Sedangkan tuan Lee menggeleng singkat. "Beberapa hari lalu Kyuhyun mengabariku. Ia memberiku pesan singkat. Menjelaskan bahwa dirinya dan ibunya baik-baik saja. Meski tak menjawab saat aku menanyakan keberadaan mereka.."
Leeteuk nampak kecewa setelah mendengar kalimat tuan Lee yang terakhir. "Apa mereka pergi karena aku?" tanyanya.
"Bukan begitu.."
"Apa karena aku tak mau menemui Kyuhyun hingga dia pergi? Lalu," lanjutnya membuat sang ayah kini tertegun.
"Cukup!" sergah tuan Lee. "Berhenti menyalahkan dirimu, Leeteuk-ah," tuturnya dan mulai mendekat ke arah Leeteuk. "Lihat kau terlihat kurus sekarang. Ayah tahu kau banyak memikirkan kedua adikmu. Kau bisa berada di antara keduanya. Mengapa kau harus menghindar dari Kyuhyun kemarin?"
Leeteuk menunduk dalam. "Aku menyakitinya!" bisiknya.
"Tidak.."
"Aku tak mengijinkan jantung Donghae untuknya. Aku hampir membunuhnya.."
Sang ayah mendesah pelan. "Jadi kau menyesal lebih mempertahankan Donghae kemarin?" tuturnya, membuat Leeteuk menatap kembali padanya dengan raut sedikit terkejut. "Lalu mengapa kau tetap mempertahankan Donghae kemarin? Mengapa tak membiarkan kami memberikan jantung Donghae padanya kemarin?"
"Donghae adikku! Salahkah jika aku mempertahankannya?!"
"Kyuhyun juga adikmu!" sergah tuan Lee.
Leeteuk tercekat. Ia kehabisan katanya dan membuang wajahnya ke arah lain. "Seharusnya tak ada kata menyesal. Atau segala tindakan semacam ini. Tindakan yang menunjukkan bahwa kau menyesal.."
"Aku tidak menyesal!" potong Leeteuk.
"Lalu apa maumu sekarang?" tanya sang ayah dengan kesal yang ditahannya. "Jika kau seperti ini, kau akan semakin menyakiti Kyuhyun. Ibumu! Bahkan semua orang termasuk Donghae! Donghae saja menerima Kyuhyun bahkan terus menanyakan Kyuhyun sejak dirinya siuman kemarin."
Leeteuk tak sanggup lagi menyela.
"Seharusnya tak ada masalah lagi sekarang. Semua sudah baik-baik saja. Kyuhyun sudah sembuh, bahkan Donghae juga. Kau tak harus memilih. Berada di antara mereka tidaklah sulit, ayah yakin. Keduanyapun putra ayah. Ayah akan mencoba untuk berada di antara keduanya.."
"Aku tidak tahu.."
"Jangan seperti ini," sela tuan Lee. "Cobalah untuk lebih terbuka dan berfikir jernih. Hubungan ini akan baik-baik saja jika kita tak mementingkan ego kita. Kau tahu betapa ayah menyesal kini, karena keegoisan di masa lalu. Ayah akan mencoba memperbaikinya sekarang. Meski tak mampu meminta maaf pada ibu kalian, setidaknya, biarkan aku menebus segalanya pada kalian.."
"Baiklah.."
Sang ayah menjadi tersenyum. "Ayah pikir kau akan mengijinkan ayah menjenguk Donghae sore ini," ucap tuan Lee, dan kembali tersenyum kala mendapat anggukan dari Leeteuk. Ia tepuk pundak putra sulungnya tersebut. "Dan akan lebih baik jika kita pergi bersama, bagaimana?"
"Hmm.."
...
"Cobalah.."
Kibum meletakkan sekotak strawberry di pangkuan Donghae. Buah yang selalu ada di antara mereka bahkan disaat kecil. Sedang Donghae mengulum senyumnya. "Sudah panen lagi?" tanyanya sambil mulai meraih strawberry pemberian Kibum tersebut.
"Tidak. Aku membelinya. Aku sengaja. Cobalah makan, hyung. Dan rasakan.."
Donghae mengerjap pelan kala Kibum turut membawa salah satu strawberry dan lalu memakannya. Ia diam dan menunggu, hingga nampaklah wajah Kibum yang berubah. Ekspresi wajar setelah Kibum mengecap kecutnya buah tersebut. Membuat Donghae terkikik geli. "Wajahmu tidak tampan lagi!" komentarnya.
Kibum berdecak sebal. "Seharusnya wajahmu seperti ini saat memakannya. Sekarang giliranmu!"
Donghae tak menjawab. Ia ambil satu strawberry dan memasukannya ke dalam mulutnya. Ia kunyah perlahan bahkan menutup matanya, mencoba meresapi rasa dari buah tersebut. Namun warna di wajahnya tak berubah sama sekali. Donghae menjadi tak sabar dan lalu memakan yang lain. Lagi, lagi, lagi dan lagi dimakannya buah itu hingga mulutnya penuh.
"Bagaimana?" harap Kibum setelahnya.
Donghae menatap Kibum. Perlahan, ia gelengkan kepalanya. "Aku tak tahu seperti apa rasanya.."
"Hah," Kibum terlihat mengeluh. Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil memejamkan matanya. Ia terlihat lelah.
Sedang Donghae kembali pada rutinitasnya. Memakan strawberry sambil menikmati tayangan televisi. Meski sebenarnya ia tak menikmati buahnya, juga tak bersunggu-sungguh menghayati apa yang tengah dilihatnya. Perlahan, ia kembali melirik Kibum yang tengah mengantuk. "Kau tak sekolah, huh?"
Kibum terlihat menyamankan posisi duduknya. "Kau pikir aku akan sekolah seharian? Aku sudah pulang.."
"Benarkah?"
"Hm.."
"Lalu," ujar Donghae terlihat ragu. "Apa kau melihat Kyuhyun di sekolah?"
Mata Kibum yang semula terpejam kembali terbuka dan mengerjap perlahan. Ia menatap Donghae di sampingnya. "Kyuhyun tak ada dimanapun, hyung. Kami sudah mencari mereka, tapi sulit.." sesalnya.
"Dia kemana, Kibumie? Harusnya kalian menemukannya! Dan mengapa Leeteuk hyung seperti ini? Aku ingin bertemu Kyuhyun," lirih Donghae.
"Benarkah?"
Donghae mengangguk. "Aku yakin dia pergi karena aku. Ya kan? Aku membuat hidup kalian berubah hingga seperti ini.."
"Berhenti berpikir seperti itu!" sentak Kibum pada akhirnya. "Ada apa dengan kalian sebenarnya? Saling mengalah dengan percuma! Bahkan menyakiti satu sama lain. Tidak Kyuhyun! Tidak kau! Bahkan Leeteuk hyung!" cerocos Kibum. Ia terlihat menahan kesalnya hingga bangkit dari duduknya. Terduduk tegap dan nampak tegang.
"Kau lelah dengan keluhanku?"
Kibum melirik Donghae dan terlihat sebal. "Jika aku lelah aku tak akan kemari setiap hari hanya untuk menjengukmu, hyung! Mengertilah. Aku tak ingin kalian mengatakan hal seperti itu. Sudah cukup kau berpisah lama dari kami. Sekarang kau disini, meski ada Kyuhyun. Tak ada yang merasa terbebani dengan kedatanganmu. Aku tak ingin ada yang pergi lagi disini!" tegas Kibum.
Donghae menunduk dalam. Ia benar-benar tak berucap, bahkan tak menyadari pergerakan Kibum. Kibum yang beranjak dari posisinya, lalu menarik kursi roda yang sebelumnya ada di dekat ranjang Donghae. Ia sodorkan kursi tersebut pada Donghae. "Sepertinya kau butuh udara segar, hyung," ucapnya.
Donghae mendongak dan menatap Kibum. Ia yang lalu dapat melihat senyum tulus di wajah Kibum.
"Kutemani kau jalan-jalan saja, bagaimana?"
Akhirnya Donghae kembali tersenyum. Ia mengangguk menerima tawaran Kibum. "Baiklah.."
...
Sore menjelang. Tanpa terasa, Kibum membawa Donghae terlalu lama. Menikmati matahari yang akan mulai tenggelam, seperti termakan luasnya lautan. Angin berhembus cukup kencang menyibakkan helaian rambut mereka.
"Wah! Dari sekian banyak pemandangan seperti kali ini, baru pertama aku merasakan indahnya, Kibumie!" sorak Donghae. Matanya berbinar melihat pemandangan indah tersebut.
"Itu karena hatimu sedang baik, hyung. Tentram bukan?"
Donghae mengangguk semangat.
"Kau harus lebih banyak menikmati segala hal yang ada di sekitarmu, hyung. Terlalu disayangkan jika kau melewatkannya begitu saja.."
Sejenak Donghae menerawang langit yang mulai menggelap, meski ada sisa sinar mentari disana. Ia hirup udara sebanyak mungkin, sedalam mungkin. Menyesap betapa indah hidupnya. Betapa sempurna..
Keduanya terlalu asik menghabiskan waktu di luar sana, hingga mendapat sederet omelan dari Leeteuk. Leeteuk yang menyambut mereka dengan sedikit tergesa. "Kalian kemana saja, huh? Mengapa pergi tanpa berpesan padaku? Tak mengangkat telpon seperti menghilang. Membuatku cemas saja!"
Donghae meringis mendengarnya. Ia sendiri masih terduduk di kursi rodanya dengan Kibum di belakangnya. Mereka tertahan di ambang pintu karena ocehan cemas Leeteuk.
"Kami melupakan ponsel kami. Tertinggal disini hyung," kilah Kibum, sedang Donghae mengangguk singkat.
Berulang kali Leeteuk menarik lega nafasnya. Ia lantas memberi ruang lebih agar Kibum dapat mendorong kursi roda Donghae untuk masuk ke dalam. Namun seketika Donghae terlihat menjadi sedikit tegang dan nampak kaku. "Ayah, kau disini?" tanyanya pelan-pelan. Ia sempat melirik heran pada Leeteuk.
Sang ayah tersenyum, lalu bangkit dari duduknya. "Kau tak suka ayah disini?" ucapnya sambil membuat wajahnya menekuk.
Donghae menggeleng keras. "Bukan! Bukan begitu, hanya.." ucap Donghae tertahan sambil kembali melirik Leeteuk.
"Tidak apa-apa!" sanggah tuan Lee sambil mengulum senyumnya. "Aku kemari bersama hyungmu.."
Oh! Donghae nampak bernafas lega. Ia menganggukkan kepalanya mengerti. Namun seketika itu juga ia terkejut. Dilihatnya sang ayah yang membenahi tempat tidurnya. "Tak usah ayah," sanggah Donghae terbata. Ia terlihat sangat canggung pada ayahnya sendiri. "Kau tak usah merapihkannya.."
Leeteuk dan Kibum hanya diam saja. Kibum mengulum senyumnya, sementara itu diapun harus menarik lengan Leeteuk, karena merasa Leeteuk akan mengacaukan suasana hangat tersebut. "Biarkan," bisiknya.
"Sudah waktunya kau istirahat, Hae. Setelah ayah merapihkan tempat tidurmu, ayah akan membantumu untuk berganti pakaian.."
"Tapi.."
Trek.
Donghae menoleh. Dilihatnya Kibum yang meraih ponselnya sambil tersenyum padanya. "Hyung, aku harus pulang.." ucapnya.
"Oh, baiklah Kibum," balas tuan Lee tanpa menunggu jawaban Donghae untuk Kibum. Ia bicara mewakili putranya tersebut. "Terima kasih karena telah menjaganya hari ini. Hati-hati di jalan, dan sampaikan salam kami untuk ayah dan ibumu.."
"Hm," jawab Kibum singkat dan mengangguk. "Aku pulang," pamitnya lalu melambai pada Donghae. "Selamat malam hyung. Semoga cepat sembuh.."
Donghae tersenyum simpul. "Terima kasih, Kibumie.." balasnya.
Sedang Leeteuk masih berdiri di posisinya semula. Ia hanya menatap heran pada sang ayah yang begitu menyibukkan dirinya untuk Donghae. Hey! Ini bagus bukan? Karena ini jarang terjadi. Ini baru pertama kali terjadi. Tanpa sadar membuat Leeteuk tersenyum dan berkata "aku akan menemui dokter dan mencari makanan untuk kita.."
Sempat Leeteuk menangkap keraguan pada kedua mata Donghae. Namun ia segera menenangkan Donghae dengan senyumnya. Ia katakan 'tidak apa-apa' tanpa suara. Setidaknya untuk meredakan resah yang melanda dongsaengnya tersebut. Maka selanjutnya, iapun pergi bersama Kibum.
Menyisakan seorang putra dan juga ayahnya yang saling diam..
Hening..
Sunyi tanpa satu kata tersaji. Hanya bunyi detak jam yang mendominasi. Sang ayah baru saja selesai dengan urusan 'tempat tidur' Donghae. Setelahnya ia melirik Donghae yang masih duduk di kursi rodanya. "Kenapa? Kau baik-baik saja?"
Donghae mengangguk kaku. "Itu," ucapnya ragu. "Sebenarnya, aku ingin ke kamar mandi," ungkapnya pada akhirnya. Setiap kata dari bibirnya hanya terdengar bagai bisikan saja. Ia begitu terlihat canggung meski ia berusaha menutupinya.
Sayangnya tuan Leepun menyadarinya. Ia berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Donghae. "Kenapa? Kau takut pada ayah?" tanyanya dan mendapat gelengan kaku dari Donghae. "Jujurlah, Donghae-ya.."
Donghae berfikir lama. Ia sempat menghindari tatapan tuan Lee berulang kali dengan melihat ke arah lain. Namun sang ayah menatapnya tanpa mau menyerah.
"Jangan menganggapku orang lain! Aku ayahmu!"
Donghae terlihat menahan nafasnya. Jemari pada kedua tangannya saling bertautan dan dia simpan di atas lahunannya sendiri. Ia merundukkan wajahnya meski sesekali mencuri pandang.
"Apa ayah begitu jahat hingga kau tak ingin melihat wajah ayah?!" desak tuan Lee kemudian.
Segera Donghae menggeleng keras. "Tidak! Bukan begitu, ayah.." bantahnya sedikit cemas. "Aku.."
"Ya? Ada apa denganmu, Hae-ya?"
"Aku hanya sedikit tidak terbiasa. Hanya kita berdua, dan ini terlihat canggung.."
Sang ayah menjadi tersenyum. Ia raih lengan Donghae. "Untuk itu, kita awali semuanya, ya? Bukankah ayah dan anak tak harus bersikap seperti ini? Kita memang jarang menghabiskan waktu berdua. Tapi ayah janji, ayah akan meluangkan waktu untukmu mulai sekarang.."
Donghae terenyuh dibuatnya. Tanpa sadar ia berdiri atas bantuan sang ayah- tuan Lee yang lalu berkata, "akan kutemani kau berganti pakaian. Bukankah kau ingin ke kamar mandi?"
Donghae akhirnya hanya diam dan mengikuti perintah sang ayah yang memapahnya menuju kamar mandi yang tersedia di dalam ruangannya. Meski pada akhirnya dia menyela saat di ambang pintu menuju kamar mandi. "Tak perlu menemaniku ke dalam. Aku bisa sendiri," ucapnya.
"Eoh, baiklah. Kalau begitu berhati-hatilah. Jangan kunci pintuya! Ayah akan bawakan handuk untukmu.."
Kembali Donghae mengangguk. Sempat ia menatap punggung ayahnya dan lalu menutup pintu kamar mandi. Seperti pesan tuan Lee, ia tak mengunci pintunya. Hanya menutupnya. Sedikit banyak ia menarik nafasnya dalam-dalam ketika telah menghabiskan waktunya seorang diri di dalam kamar mandi.
"Dia ayahku!" bisiknya dalam gurat wajah yang begitu senang. Penuh haru. Bahkan suara pelannya sedikit menggema di dalam kamar mandi. Tak banyak waktu yang ia habiskan di dalam seorang diri. Karena..
Brugh.
Dari luar sana tuan Lee menangkap bunyi cukup keras. Ia tercekat dan lalu segera menghampiri kamar mandi. Dengan cepat dibukanya pintu tersebut dan mendapati Donghae terduduk di lantai kamar mandi, dengan separuh celananya yang telah basah.
"Aku hanya terpeleset.." adu Donghae.
Tuan Lee segera menghampiri putranya itu dan lalu memperhatikan seluruh tubuh Donghae. "Ada luka?" tanyanya membuat Donghae menggeleng. "Sudah ayah bilang, biar ayah bantu kan. Jangan keras kepala!" ucapnya kali ini terlihat lebih akrab, membuat Donghae meringis dibuatnya dan tersenyum kaku.
...
"Dokter bilang, terapy untuk kakimu akan dilakukan mulai esok hari.."
Leeteuk melaporkan apa yang di dengarnya dari dokter pada Donghae yang sudah rapih dalam bungkusan selimutnya. Usaha keras sang ayah pula yang membantunya sedemikian rupa. Bahkan Donghae sudah nampak mengantuk.
"Berapa lama terapy itu hyung? Aku ingin pulang!" keluh Donghae kemudian.
Leeteuk tersenyum sambil mengacak rambut Donghae. "Kau boleh pulang setelah dua atau tiga hari ke depan. Selebihnya, terapy bisa dilakukan setiap dua minggu atau satu bulan sekali, dan akan dilakukan hingga kaki kirimu benar-benar sudah sembuh!"
"Benarkah? Ah! Aku lega mendengarnya.."
Leeteuk mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian memutar bola matanya ke seluruh ruangan. "Sejak kapan ayah pulang?" tanyanya.
"Baru beberapa menit yang lalu.."
"Oh!" tanggap Leeteuk dengan singkat.
Tersisa Donghae yang akhirnya melupakan kantuknya. Ia sudah terbaring, namun matanya kembali terbuka sempurna dan nampak segar. Ia hanya menatap langit-langit kamarnya sambil terlihat melamun, sedangkan Leeteuk sibuk membenahi sofa yang akan ditiduri olehnya.
"Hyung.." panggil Donghae tiba-tiba. Ia sedikit mengangkat kepalanya agar sosok Leeteuk dapat tertangkap matanya.
"Ada apa, Hae?"
"Kita akan pulang kemana?"
Leeteuk diam dan menghentikan semua kegiatannya saat itu.
"Apa kita akan pulang ke rumah ayah?" tanya Donghae lebih serius kali ini. Ia kembali bangkit dari tidurnya dan lalu terduduk.
Sedang Leeteuk menjadi bungkam dan memilih menghindari Donghae yang terus menatapnya dan menanti jawab darinya.
"Kau tahu aku selalu memikirkan Kyuhyun. Dimana dia sekarang? Ibu dimana? Apa kau belum juga mencari mereka?"
"Sudahlah!" tepis Leeteuk. "Kita memang akan pulang ke rumah ayah. Tapi hyung mohon untuk tak membahas hal lain selain kesembuhanmu.."
"Kau sebut Kyuhyun hal lain bagi kita? Sejak kapan dia menjadi tak penting bagimu?"
"Donghae.."
Donghae tersenyum pedih pada Leeteuk. Ia hampir menangis ketika berkata, "sakit rasanya saat kita terbuang, hyung. Aku merasakannya!" lirihnya, membuat Leeteuk mendekat padanya.
"Bukan begitu maksud hyung.."
"Tapi Kyuhyun pasti merasa demikian!" pekik Donghae tertahan. "Jika kakiku bisa berjalan, aku akan mencarinya sendiri!" desisnya. Ia melepas kesalnya kali ini..
Leeteuk tampak meneguk paksa ludahnya. Ia dorong kedua bahu Donghae, memaksa sang dongsaeng untuk kembali berbaring. "Saatnya kau untuk istirahat.."
"Hyung!"
"Sudahlah!" bisik Leeteuk. Segera ia benahi selimut Donghae. "Hyung akan mencari mereka besok, kau senang, huh? Sekarang hyung hanya memintamu untuk menuruti semua yang hyung katakan! Jangan membantah!" tutur Leeteuk. Ia usap helaian rambut Donghae sambil tersenyum. "Tidurlah.."
...
Tengah malam itu Leeteuk masih membuka matanya. Menerawang dengan banyak pikiran yang mengganggu selera tidurnya. Ia tak bisa tidur. Hanya terbaring di atas sofa, sambil menidurkan kepalanya di atas dua tangannya yang ia lipat. Ia hanya menatap langit-langit ruangan tersebut meski bayangannya melayang entah kemana.
"Aku berjanji akan selalu menjaganya.."
"Hyung, aku saudaramu, kan? Jangan katakan tentang saudara tiri!"
Ah! Leeteuk nampak tertekan dan berusaha memejamkan matanya. Ia terlihat lelah. Ia terlihat terbebani. Ia bersedih akan semuanya. Namun satu yang terucap dari bibirnya saat itu. "Maafkan aku.." dengan satu tetes air mata mengiringi.
...
Leeteuk menapakkan kakinya dengan ragu pagi itu. Ia masih berada di sekitar gerbang tinggi dimana di balik sana, terdapat sebuah kediamannya tercinta. Kediaman yang tak terjamah olehnya beberapa waktu. Cukup lama. Dengan langkah ragu ia menapaki halaman depan rumahnya.
Hampir dirinya menyentuh pintu utama di kediaman Lee tersebut. Dengan ragu ia mendekat ke arah pintu tersebut, meski akhirnya terganggu dengan suara dering ponselnya.
"Hallo.." jawab Leeteuk. "Donghae, hyung janji akan mencari mereka hari ini. Berhenti mengingatkanku! Hyung ke rumah sebentar untuk berganti pakaian.." ucap Leeteuk pada Donghae yang nyatanya menghubunginya dan menanyakan tentang janjinya semalam.
"Jahat sekali! Jadi kau tak akan membiarkan hyung menemuimu jika mereka belum ditemukan, eoh?" decak Leeteuk. Nampaknya ancaman Donghae di sana seolah menggelitikinya. Ia tersenyum simpul. "Lalu kau berani sendiri? Bagaimana kau ke kamar mandi nanti? Kau akan pipis di atas tempat tidurmu?!" goda Leeteuk.
"Kibum akan menemaniku!"
Begitulah rutukan Donghae dari ujung sana. Mengomeli Leeteuk yang tak takut akan ancamannya sendiri. Di sisi lain, percakapan tersebut embuat Leeteuk melupakan ragunya saat memasuki kediamannya. Dengan ringan dan sambil mendengar rutukan Donghae, ia masuk ke dalam rumahnya tanpa sadar. Sesekali ia lontarkan candaan lain membuat Donghae terdenger merutuk kesal.
Leeteuk akhirnya tertawa. Ia terus melangkah masuk ke dalam rumahnya tanpa ragu. Ketika hampir menapaki anak tangga yang akan mengantarkannya pada kamarnya, ia tertegun di tempatnya. Ia abaikan Donghae di ujung sana. Menjauhkan sang ponsel dari telinganya, karena ia harus fokus untuk mendengarkan hal lain.
Dengan ragu Leeteuk mengganti arahnya. Ia berjalan lurus ke arah dapur setelah sebelumnya berpesan pada Donghae "nanti hyung hubungi lagi," lalu menutup ponselnya. Ia sekarang lebih fokus pada suara ribut dari arah dapur. Seperti suara seseorang sedang memasak. Maka ia segera membuka pintu dapur yang sebelumnya menyisakan celah kecil agar lebih terbuka lebar.
"Eh?"
Leeteuk nampak terkejut melihat sosok sang ibu yang sedang memasak disana. Ia terpaku di tempatnya. Menatap lurus pada nyonya di rumah tersebut tanpa berkata apapun. Meski tetap saja tatapannya membuat sang ibu tertarik untuk menatapnya. "Leeteuk-ah!" pekiknya seketika. Iapun sama terkejut seperti Leeteuk kini.
"Ibu, kau? Bukankah.." ucap Leeteuk tergagap. Ia terlihat bingung. Semakin bingung lagi dirinya, kala suara lain turut menimpali..
"Bu, aku sudah siap! Kita berangkat sekar- hyung!"
...
Donghae terus saja merutuk di samping Kibum. Keduanya tengah kembali bersama hari itu. Kibum memang tak pernah membiarkan dirinya untuk tak menjaga Donghae sehari saja. Namun kali ini hari nampak lebih cerah. Kim Kibum lebih sering tertawa dikarenakan wajah lucu Donghae yang terus saja merenggut.
"Kubilang kau harus menginap disini, karena aku tak akan menemui Leeteuk hyung hingga dia membawa Kyuhyun kemari!" oceh Donghae pada Kibum, dan itu terdengar seperti paksaan.
"Aku harus bilang pada ibu dan ayahku.."
"Mereka pasti mengijinkan! Besok hari minggu!" potong Donghae.
Sementara itu Kibum terkikik geli karenanya. Sejak tadi, dirinya memang terus menggoda Donghae. Terlihat kesulitan mengatakan 'ya' saat Donghae mengajaknya menginap. Maka Donghae terlihat resah seperti sekarang.
"Jika Leeteuk hyung datang bersama Kyuhyun, kau tak menemaniku juga tidak apa-apa," sambung Donghae. Ia menundukkan wajahnya, kecewa karena tak menyadari candaan Kibum. "Aku hanya tak ingin lagi sendiri, Kibumie.."
"..."
"Bukan aku tak berani. Kau tahu aku bahkan pernah sendiri tanpa kalian. Maka kali ini aku tak ingin lagi merasakannya, hanya itu.."
Kibum berdehem. Ia terlihat menarik nafas yang sedikit panjang. Terlihat tak suka kala Donghae mengatakan hal-hal yang menyedihkan. Namun Kim Kibum tetaplah Kim Kibum yang biasanya. Tak pernah mengambil pusing akan suatu hal jika itu tak benar-benar penting. Dan sikap dinginnya, tak usah dipertanyakan lagi. Kali ini saja ia memilih bungkam. Ucapan Donghae nampak tak menarik dan tak membuatnya harus ikut ke dalam percakapan tersebut.
"Hyung, kau tahu anak yang sering mengganggu Kyuhyun?"
Donghae menoleh tiba-tiba. "Mengapa kau malah membahas hal lain, Kim Kibum! Aku sedang marah padamu!" geram Donghae.
"Kau yakin tak ingin tahu? Soal Kyuhyun?"
Donghae melipat kedua tangannya di dada. "Orangnya saja tidak ada, kan?"
"Yakin? Anak ini juga yang pernah menghantam kepalamu dengan batu waktu itu!"
Donghae memicingkan matanya pada Kibum. Dengan segurat ragu di wajahnya, ia katakan "siapa?" dengan nada yang dingin.
"Sebenarnya ada tiga. Tapi dua orang lagi, hanya ikut saja. Yang sebenarnya selalu mengincar Kyuhyun adalah, dia yang bernama Jeong Jinwoon.."
"Huh?"
...
"Apa ayah sedang menipuku disini? Tentang kalian? Ia bilang kalian pergi! Apa semua tipuan?"
Kompor yang semula menyala kini telah mati kembali. Menyisakan masakan yang setengah matang di dalam wajannya. Ulah sang ibu yang mematikannya semenjak kedatangan Leeteuk tiba-tiba di hadapan mereka. Ia buru-buru mengelap tangannya yang sedikit berminyak dan segera menghampiri Leeteuk.
"Bukan begitu. Biar ibu jelaskan.."
Leeteuk memundurkan langkahnya untuk menghindar dari sang ibu. Ia lalu meraih Kyuhyun dengan tatapan tajamnya. Tak ada kata yang ia berikan pada Kyuhyun. Ia hanya sangat marah hingga melupakan kata-kata untuk Kyuhyun. "Kalian menipuku dan Donghae?!" desis Leeteuk.
"Bukan hyung. Dengarkan aku.."
Tatapan Leeteuk seketika berubah. Penuh akan rasa haru saat kembali mendengar suara Kyuhyun mengalun. Suara indah yang sempat ia pikir, akan kehilangan sosok pemilik suara tersebut. Namun ia belum bisa bersikap tenang. Tangannya mengepal erat.
"Kami memang baru tiba disini tadi pagi. Bahkan ayah tak tahu kami pulang.." ucap Kyuhyun.
"Kau pikir aku percaya?" lirih Leeteuk. Ia tersenyum miris setelahnya. "Atas alasan apa, huh? Kalian pergi dan datang tiba-tiba sesuka kalian! Kalian sedang bercanda denganku?" tuntut Leeteuk.
Namun entah mengapa Kyuhyun tersenyum. Tak ada rasa takut yang terpancar dari kedua matanya. "Kupikir waktu yang kuberikan bagimu dan Donghae hyung sudah cukup kan, hyung?" ucapnya dalam nada ringan seolah tak sedang terjadi apa-apa saat itu.
"Apa maksudmu!"
Satu helaan nafas keluar dari bibir Kyuhyun. "Apa Donghae hyung sudah tak marah lagi padamu, dan juga pada ayah? Kuharap ia akan berubah semenjak kepergianku. Kupikir aku hanya beban di antara kalian.."
"Apa yang kau bicarakan!"
Ibu Lee segera mengusap air mata di ujung matanya. Ia berpura-pura kembali menyibukkan dirinya, berkutat dengan masakannya sementara ia membiarkan dua putranya berbincang disana.
"Apa aku salah, jika aku memberikan kalian waktu untuk memperbaiki hubungan yang rusak karena diriku itu, hyung?"
Leeteuk nampak geram setelahnya. "Kau pikir semua selesai jika kau pergi?" tanyanya. Ia mulai berani menatap kedua mata Kyuhyun kini. "Jika kau merasa bersalah, lalu mengapa kau pergi, bodoh?!" decak Leeteuk. Perlahan ia langkahkan kakinya untuk mendekati Kyuhyun. Kyuhyun yang nampak menundukkan wajahnya dengan tetesan air yang mulai berjatuhan di lantai.
"Kau pergi dan membuatku merasa buruk, Kyu!"
"Maaf.."
"Kau pergi seolah menyalahkanku! Kau pergi seolah marah padaku.."
Kyuhyun terisak di tempatnya. Suara Leeteuk semakin mendekati pendengarannya. "Kupikir kau pergi karena kecewa.." tutur Leeteuk selanjutnya.
Sedang Kyuhyun mendongak saat mendapati kaki Leeteuk, menandakan sang hyung kini beada di hadapannya. Ia mendongak untuk menatap Leeteuk. "Kupikir hyung marah hingga tak ingin lagi menemuiku.."
Leeteuk tersenyum pedih penuh sesal. "Maaf!" sesalnya. "Tak ada kesal sama sekali, Kyu. Hanya saja aku merasa kecewa pada diriku sendiri. Tak pantas lagi melindungimu. Tak mampu mengutamakanmu. Bahkan sempat egois dan tak memikirkanmu. Jujur! Hanya Donghae yang ada di otakku kemarin. Mencemaskan dia sungguh membuatku gila.."
Dan Kyuhyun tersenyum dalam tangisnya. Ia usap wajahnya untuk menghapus air matanya. Dengan bijak ia membalas kalimat panjang sang hyung. "Karena dia saudaramu yang sesungguhnya. Aku mengerti.."
"Kau juga saudaraku, bodoh!" marah Leeteuk. Tangannya terangkat untuk sedikit memberikan pukulan pada kepala Kyuhyun. Namun itu tak terjadi. Leeteuk nampak ragu setelahnya. Tangannya hanya terangkat, hingga jemari Kyuhyun menyambutnya.
"Pukul aku!" titah Kyuhyun.
Sedang Leeteuk turut tertawa dalam tangisnya. "Anak bodoh!" umpatnya lalu mengacak surai ikal Kyuhyun. Sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan padanya. Ia lalu menarik Kyuhyun dan memeluknya, membuat Kyuhyun menangis tersedu di bahunya.
"Lalu kenapa kau kembali sekarang, huh?" canda Leeteuk.
"Aku tak ingin pergi dari kalian.." balas Kyuhyun sambil menangis. Lucu!
Di sudut lain ibu Lee tersenyum setelah dirinya juga menangis dalam diam. Ia mengusap hidungnya yang turut basah, lalu menghampiri kedua putranya. "Masakannya sudah siap. Apa tak ada larangan untuk dimakan Donghae?" timpalnya, menyela tangis kedua putranya.
"Ya bu?" tanya Leeteuk dalam nada sumbang, meminta sang ibu mengulang pertanyaannya.
"Ibu sudah menyiapkan makanan. Rencana kami hari ini adalah, akan menemui kalian di rumah sakit. Apa Donghae tak memiliki larangan dalam hal makanan?"
Leeteuk menggeleng. "Tidak! Dia sudah akan sembuh. Tapi, tidakkah ibu ingin memelukku?" tanya Leeteuk setelahnya. "Aku ingin meminta maaf untuk yang kemarin.."
Segera, ibu Lee menghampiri Leeteuk dan memeluk putra sulungnya tersebut. Ia usap punggung Leeteuk dengan lembut. "Semoga semuanya baik-baik saja. Tak perlu cemaskan hal yang sudah terjadi.."
"Donghae akan senang melihat kalian.."
...
Sesekali Donghae melirik Kibum, dan lalu berganti melirik seorang dokter yang terlihat cukup muda dan cantik tentunya, yang kini sedang memeriksa kakinya. Ia terlihat gugup.
"Tidak apa-apa. Terapy ini tak akan membuatmu sakit.."
Salah! Nampaknya ucapan sang dokter salah. Mungkin karena tak tahu Donghae. Karena, "anda dokter baru?" tanya Kibum setelah berdehem tak jelas. "Bukankah dokter Donghae hyung kemarin seorang laki-laki? Kupikir dia yang akan mengawasi terapy ini.." tuturnya.
"Oh, dia dipindah tugaskan ke rumah sakit lain. Sekarang aku yang menangani.. Donghae?" ucap sang dokter sambil melirik Donghae, mungkin meyakinkan dirinya bahwa ia telah bertemu dengan pasiennya..
"Umh, ya. Aku, Donghae.." ucap Donghae terbata.
"Baiklah, bisa kita mulai? Kita akan melakukannya di ruangan lain tentunya.."
Donghae nampak enggan beranjak dari posisinya. Ia menatap Kibum. "Tidakkah kita menunggu hyung dulu, Kibumie? Aku ingin bersamanya.."
Kibum terkikik geli. "Leeteuk hyung sedang mencari Kyuhyun. Bukankah kau yang berkata, kau tak mengijinkan dia menemuimu jika Kyuhyun belum ditemukan?" usil Kibum. Dengan sengaja ia menarik kursi roda yang kini ditempati Donghae tanpa mempedulikan gumaman resah dari Donghae.
Donghae yang akhirnya terdiam dan menekuk wajahnya. Terlebih ketika dilewatinya lorong-lorong ramai saat menuju ruangan yang kini sedang ia tuju berdasarkan arahan sang dokter cantik. Hingga di sebuah belokan..
"Huh?"
Donghae memicingkan matanya. Dilihatnya tiga sosok yang terlihat tak asing baginya. Dan mata yang semula menyipit itu menjadi terbuka lebar. Ia memekik senag. "Kyuhyunie!" dalam nada suara yang terbilang keras. Ia tak sadar bahkan hampir turun dari kursi rodanya jika saja Kibum tak lebih sigap untuk menahannya.
"Tenanglah hyung! Aku akan membawamu hingga kesana!" pekik Kibum. Ia terlihat sibuk, tak sempat melihat Leeteuk yang juga berlari ke arahnya sambil terus mengomel di ujung lorong sana, "ya, Lee Donghae, hati-hati!"
Jauh dari keadaan siapapun, Kyuhyun menjadi tertegun saat posisi dirinya, Leeteuk dan sang ibu mulai mendekati Donghae. Namun tatapan matanya jatuh pada seorang dokter cantik yang berjalan di depan Donghae. Bahkan ia menghentikan langkahnya seketika.
"Ugh!"
Sebelah mata Kyuhyun terpejam, merasakan ngilu di bagian jantungnya. Jantung yang entah mengapa berdenyut agak berbeda kala itu. ia remas baju di bagian dadanya dan bahkan merunduk seketika.
"Kyu!" pekik Donghae yang pertama kali melihatnya. Menarik perhatian ibu Lee dan juga Leeteuk yang kembali menoleh untuk menatap Kyuhyun.
Ibu Lee yang lalu kembali menghampiri Kyuhyun. "Ada apa, sayang? Kau baik-baik saja?"
Leeteukpun kembali menghampiri dan mengusap punggung Kyuhyun sementara Donghae dan Kibumpun semakin mendekat.
"Aku tidak tahu hyung. Ugh!"
"Ya, Cho Kyuhyun! Kau kenapa?!"
-TBC-
Nah, segini dulu. Maaf atas typonya ya, saya sudah berulang kali baca ulang dan sudah agak sedikit enek kalo harus baca lagi, x) disini saya kasih konflik yang ringan juga, LOL semoga sampai di dua chapter lagi ya. :'))
TERIMA KASIHnya seperti biasa ^^:
1. BryanTrevorKim
HeeHee.. saya malah mau nambahin sedikit konflik! :D
Suruh Kyu pergi, tapi gak kaya di drama kan? (sepertidiawal) gak mau terlalu mendrama. Ini saya buat senormal mungkin seperti kehidupan biasa, meski gak tau persis juga sih keadaan yang macam begini. Saya kan gak ngalamin, :3
.
2. GaemGyu92
Perginya gak jauh-jauh kan ya? xD kan kemaren Kyu bilang, ingin memberi mereka waktu. Kupikir saya ingin bangun karakter Kyu yang agak dewasa sekarang. Bisa terima apa yang sedang terjadi. Mencoba mengerti semuanya, :')) semoga dapet ya kesitu! HaaHaa..
.
3. anastasia
Terima kasih sudah mau bergabung buat baca, sudah mau nungguin update-annya. Mau ripiu juga, dan udah suka juga. :D :D
.
4. Choyeonrin
Saya ragu juga nih soal penyembuhan Kyu. Kemaren sempet kepikir, tapi ya jadinya begini aja. Saya gak terlalu bahas jeda waktu kan ya? Meski ada sih 'dua hari setelahnya' di chapter kemaren. xDD
Chapter ini belum bisa END nih. Saya butuh untuk menjelaskan beberapa hal yang mengganjal. Ehehehehe~
.
5. meimeimayra
Leeteuk nyariin Kyu juga kan ya akhirnya. Karena dia sayang juga sama Kyu. :'))
Hae gak lumpuh kok. Cuman kan baru bangun, jadi saya gambarkan tubuhnya kaku gitu (?) kemaren xD Heoh? Apaan nginep-nginep? Aktor saya nginepnya di rumah saya. ^ _ _ _ ^
.
6. gyu1315
xDD apa maksudmuhhhhh! Modus ni ahhh~ konfliknya mau dibikin ringan aja kok seringan kerupuk (?)
YES! ^_-
.
7. bella0203
BIAS SAYA DONGHAE! x)
Ceritanya waktu Hae masiih tidur tuh Kyu memang sempet nemuin Hae dan mengatakan hal-hal tersebut! Kita udah bahas di PM kan ya, belagu banget saya bales lagi disini, HeeHeeHee..
.
8. tiaraputri16
Uhuuhuuhuu~ semoga kelanjutannya tak membuat penasaran lagi, :'))
.
9. Changmin loppie
Eeehh, makassssiiihhhh sekali. :D
Insyaw saya usahakan maumu ya. Bagaimana dengan chapter ini? :)
.
10. fikyu
Iya. Semoga aja tegangnya gak balik-balik lagi ya, :3 Teuk gak egois kok, dia cuman ragu dan malu buat ketemu Kyu. HeeHee.
.
11. ndah951231
Lega sesaat (?) Kkkk~
Ndahgilaaaa! xDD mereka pisah bentar doang kan ya, Ohhoohhoo..
.
12. Aisah92
Ha? Beberapa bulan? Tahun? Tiddaaakk! xDD lumutan dong sayanya, HeuHeu, :'))
.
13. kihae forever
Iya, :D tepat janji? Alhamdulilah~
Jadi yang kemarin itu kau kuras air gentong? /O\ ide saya mah gtau kaya gimana, LOL
.
14. Dinan Lee
Endingnya? Dalam beberapa chapter menjelang lah ya, :))
.
15. Ainun861015
Dari awal kan mereka sayang Donghae! :')) dasar aja nih yang bikin cerita ribet! Siapa coba? x)
Iya eonn, tanda baca itu, pengen aja nyobain. Kebanyakan ya? Sayapun tak tahu maknanya apa, Eheee~ intonasi berbeda gimana? lol EONNIE EGOIS! Jangan peluk Donghaenya! -_-"
.
16. Calista
ailopyutuuu~ xD beneran lho saya gak tega bikin mereka mati, apalagi Hae, LOL
Iya, kan Kyu pengen kasih waktu buat TeukHae. Bagusnya sih mereka barengan. :D :)
.
17. dydy
Pendek? *Tabokbeneran! x)
Kau jangan kesel sama ibu Kyu dll! HaaHaa. Kalo buat tuan Lee, saya gambaran demikian, karena saya belum dapat menyajikan satu adegan yang nunjukkin bahwa dia tuh sayang Hae. Berasa susah. Tapi yang di atas kayaknya cukup ya? :D
Iya sama-sama. Makasih juga karena setia ngikutin FF ini. :'))
.
18. sfsclouds
Balik! Mereka pergi gak lama-lama kan ya? HeeHee.
Jangan lama-lama? Modus! x)
.
19. vicya merry
Hae kan udah balik, pasti sembuh nih ceritanya (bocoran dikit)..
Dan saya pikir, cukup lah ya segini. Mereka gak pergi lama, dan gak jauh juga. Supaya semua membaik dalam waktu cepat. Karena Kyu gak marah kok sebenernya. Ibunya juga, begitupun Leeteuk. Mereka hanya saling meragu. bahasanya! x))
.
20. 92Line
Insyaw selesainya ya, soalnya masih ada beberapa chapter lagi. Menuntaskan kepenasaran saya, :))
Iya pasti dia menyesal kan! ^_-
.
21. myhaelfishy
Enak benget kalo di lempar PSP! -_- kulempar ikan mau? LOL
Eh, skinship? x)
.
22. WONHAESUNG LOVE
SEMANGAT! ^O^
.
23. Mira Haje
Amien ya gak ada yang mati. :D
Iya juga, saya juga ishtirahatin otak busuk saya yang selalu pengen siksa mereka! HaaHaa..
.
24. rini11888
Iya ini lebih banyak. ^^
Enggak, Kyu lebih dewasa, lebih mau untuk mengerti ini yang ingin saya gambarkan disini. Dan kalu update gak bisa besok-besok! T_ _ _T
.
25. KimKeyNa2327
Semoga tak ada korban tewas! HOREEEE! ^O^ mereka gpapa kok, dilarang lebay! :p Maksudnya moment KiHae disini? Insyaw saya kasih tapi ga bisa banyak. Cukup kan di atas? Soalnya udah mau END beberapa chapter lagi, :D
.
26. Gyurievil
Ini juga sama, dilarang lebay! x)) mereka baik-baik aja. Perginya bukan karna kesel, tapi perginya dengan tujuan baik. Jadi gpapa, :D
Dan chapter kemarin sama yang ini tuh gak tegang! Yakin! Gtau chapter depan, Wkwkwk..
.
27. Safa Fishy
Makasih udah nunggu. :D
Pokoknya yang ingin saya utarakan adalah "Happy Ending" dengan jalan seperti apapun, benar? ^_ _ _ ^
.
28. Love Baby Hae
Iya! Saya belum nemu cara buat gambarin bahwa tuan Lee sayang juga sama Hae. Semoga yang di atas cukup. :3
Makasih semangatnyaaaa~ ^O^
.
29. Yulika19343382
Kenapa masalah Kyu bisa pasrah? xDD
.
30. poppokyu
Leeteuk bukan marah kok. Dia ragu dan malu nemuin Kyu, gegara sebelumnya lebih milih selametin Hae kan. Pesan ini gak nyampe ya? HeeHee..
.
31. Gihae Lee
OKAY! Sama-sama~ :3
Pikiran Kyu ringan kok! Gak seberat seperti yang kau pikirkan.. :'))
.
32. nureazizah
Bener juga sih! Tekanan batin banget bagi Leeteuk. Apa saya buat Leeteuknya mati ya? xDD
Boyeh :3 udah saya balikin kan? :))
.
33. auhaehae
Iya ripiu dimana aja boleh! Terima kasih, :'))
BETUL! Leeteuk yang paling kesian, :p Dan Kyu sama ibunya cuman kasih kesempatan buat TeukHae kok..
.
34. joanbabykyu
HEY! Kok gitu sih? xDD ngarep mereka saya siksa lagi kah? :D
Masalah ayah ibu? Ahhh, gak akan seru~ LOL
.
35. lyELF
HeeHeeHee
Enggak. Saya tak ceritakan detail itu jantung baru. Biar gak ribet, gitu aja sih, :'))
Leeteuk itu masih bingung. Dia serba salah dan lebih ke 'malu' buat hadepin Kyu. Dia merasa buruk dan bersalah karena gak setuju kasih jantung Hae buat Kyunya juga kan? HaaHaa..
Dan saya bingung, mereka bahagia tapi gak END? Ngekkk! x)
.
36. lee Kyula
Suaminya yang mana ya? LOL
Ini 'happy' lho! ^O^ sekitar 2/3 chapter baru perkiraan sih. Hey gak ada cast baru! Ini aja saya udah pusing, xD lagian Kyu pergi gak lama kan ya? :D
FB? FBku ada di profil sini alamatnya. Mangga tinggal di klik aja disana. :'))
.
37. AlifELFyeoja
Makasih udah nunggu ya. :)
Yang donorin saya juga gtau siapa. HaaHaa.. Dan udah tahu kan mereka pergi kemana? Gak kemana-mana kok. HiiHiiHii..
.
38. AriskaXian
Syukurlah :')) SEMANGAT! ^O^
.
39. widyawati. saputri. 1
Penasaran apa lagi? x)
Gpapa. Makasih buat do'anya. Tau dibaca aja saya udah seneng. HeeHee.
.
40. HaElf
ailopyutu :3
Tenang~ konfliknya gak akan rumit kok. Gak serumit kemaren. Kupikir point pentingnya sudah sampai, kan di chapter kemaren-kemaren. Sekarang tinggal penyelesaian sebelum chapter ending. Ada beberapa hal yang ingin saya utarakan terlebih dahulu sebelum ending. Semoga gak jadi ngebosenin. Dikit lagi kok, :D
.
41. BunnyKyunnie
Umh, soal konflik itu rahasia dong! :p Pokoknya ringan :')) mereka juga udah balik lagi kan? ^O^
.
42. N. E. Skyu
Masih dibilang Kyu kabur? x) kabur ke rumah sendiri. HaaHaa..
Dan kenapa kau buka tutup lemari? :O Itu jantung gtau punya siapa. Gak akan saya bahas itu milik siapa. Takut ujungnya saya tertarik untuk buat konflik yang lebih pelik, :/
.
43. xxx
Memangnya kau mau apa kalu Hae saya bikin mati? xD sama bapak Hae saya juga! Kalo ibunya Kyu sih lebih ke 'gak penting' buat saya. HuuHuu..
.
44. dhedingdong
Iyo sama-sama. Jangan minta yang macem-macem lagi ya, :3
Konflik diperuncing bagaimana caranya? LOL Leeteuk itu ragu, bukan marah ya sama KyuKyuhyunie. ^_-
.
45. teukiangle
Pusing? *Cepetpegangan..
Masih penasaran kah? Enggak dong ya, LOL
.
46. Lee HwaKyung
Cerita baru apaannnn? *cekek~
x)
Kemaren udah panjang! Titik~ dan Hae sembuh kok! :')) HaaHaa.
.
47. ShinJoo24
Moment HaeKyu saya buat nanti ya, disini juga ada sedikit kan? ;) dilarang marah sama Leeteuk! x)
.
48. ADS
Gpapa. Kyuhyun cari udara segar. :D
Seminggu sekali lho saya updatenya, masa ampe jamuran? :O *kasihobatantijamur
Padahal author lain gak secepat ini, jahaaaattt~ T_ _ _ _T
.
49. oelfha100194
Gak berasa dong kalu end gitu aja, ya gak? :D
Lagian yang ada tinggal sisa konflik yang kecil-kecil aja. :))
.
50. Chokyu
Ahahaha, pasti karna taunya saya buat banyak YAOI. Enggak kok, saya gak pernah campurin YAOI sama brothership kok, ^_-
.
51. Blackyuline
Dilarang cipok Leeteuk! -_-
Mereka emang ke rumah. Rumah mereka, :p
.
52. haekyuLLua
Gimana hayooohhh? Tebak dong biar seru! :'))
Konfliknya kecil-kecil doang kok sekarang mah. Segera berakhir juga, ^O^ Saya kembalikan mereka pada kebahagiaan. Eeeaaa! :D
.
53. tia andriani
Minggat bentar doaaang! x)
.
54. hyerilee. haenemo
Kyu pergi cuman buat nenangin diri katanya. Setelah mumet disiksa oleh author katanya dia cape, Ohhoohhoo..
.
55. Cho Kyura
Telur sekilo buat saya? :D ASIK! xD
Mungkin karena konfliknya menurun besar-besaran (?)
HaaHaa. Naik turun mah biasa, makasih ya. Semoga yang ini sedikit membaik, ^O^
.
56. Guest
Tinggal beberapa chapter lagi, dan saya tak berniat menambah konflik serumit itu! aishh~ xDD
Saya itu berusaha menghilangkan kesan korea bangetnya. Makanya, kata-kata kaya 'mianhae' atau 'eomma/appa' itu saya hilangkan, meski kata 'hyung' sangat sulit saya rubah! ^^ biasanya 'dongsaeng' juga saya rubah jadi adik. Gtau kenapa juga, HeeHee.
.
57. Guest
Kali ini saya lebih rajin! Bener gak sih? :3
Beneran nih tamatin? xDD
.
58. i'm fishy
Moment Hae sama siapa? :D Itu komennya kaya kepotong. HeeHee..
.
59. kyuPuchan15
Terima kasih sudah menunggu. :D
.
60. ike. aulia
Kenapa masih galau? :O Kyuhyun mah gak macem-macem. Masih bingung kah?
.
61. namihae
YES! Berarti jaminan kemarin saya gak harus bikin kan ya, :p
Amien~ semoga tak ada kematian! x) Bentar! Banner apa dulu nih yang dibentangin? Banner saya kah? HORE!
^O^
Kalo gitu merem aja pas bagian TBC. :p
.
62. Nemohaedong
Iya? Ada apa sama Haenya? ^^
.
63. yolyol
Asik berarti pesannya sampe ya! Jadi gak ada yang jahat disini. Semua hanya kehidupan. Soal hubungan ikatan darah, dan juga persaudaraan. Eeaa~
Gpapa iyh saya seneng dengan banyak argumen-argumen yang tertuang. :')) Pokoknya saya yakin inti dari ini semua kamu dapet dan mengerti. Terima kasih, :D
.
64. Dew'yellow
Saya katakan : "FF INI SAYA BERI UNTUK SAODARI DEW'YELLOW" Tungguin reaksi reader lain deh, :p
Kau jahat banget sama Kyu? -_- Ey udah gak ada yang egois ya sekarang, udah pada gede! x) Milikin saya? *Kabur duluan~ HaaHaaHaa
Kau ngecengin anak brondong? *Tepokjidat*
Bantuin gimana? Saya dukunin bisa kayaknya, LOL
.
65. casanova indah
Jangan ditarik baju Kyu tar sobek lho, :3
Siapa sih yang egois? Siapa yang mau kau jitak? BOLEH! Asal jangan saya, :p
.
66. arumfishy
Mereka bahagia kok nanti. Sungguh! ^O^
.
67. Augesteca
Jadi sekarang apa yang kau rasakan? HeeHee..
.
68. TeukHaeKyu
Benarkah? MEMANG ASAP BANGET! x)
Gak, 2/3 chapter lagi mungkin, lol
.
69. Han Eunkyo
Donge tertampan hanya se-samudra doang? *bilanginHae..
.
70. dyayudya
Ala olga? *Mikir~
ADA! Mereka bahagia kok, kadang kan kalo konflik kecil dalam kehidupan selalu ada. :'))
.
71. hijkLEETEUK
Gak bakalan kelar. Tapi semoga aja bisa, :D
.
72. ekha sparkyu
Ripiumu? Panjangggg bener! -_-
Seru sih, tapi saya pusing! Pokoknya akan saya selesaikan segera! :p Bukan~ masalah Leeteuk saya jelaskan di atas kan ya? :D sudah mengerti kah?
HEY! Kau lebay ah! Wani piro kau, kalo saya balas ripiu? HaaHaaHaa..
.
73. anastasya regiana
Wah! :')) saya baca ripiu darimu. Semuaaahhh! x) Terima kasih sekali ya, atas semuanya. HeeHee..
Maafkan membuatmu ngampus dengan mata yang bengkak, Hae juga minta maaf katanya. Ohhoohhoo..
.
74. Arum Junnie
Kapan coba selesainya? Tebak ditebak! x))
.
75. rini11888
Soal pelmulihan Kyuhyun *pemulihanjantung* saya kurang tahu, makanya saya anggap selesai maksudnya menghindari hal-hal yang malah salah nantinya. :) soal Leeteuk sudah kelar kan? ^_- dan kalu tersiksa terus kapan selesainya, x)
.
76. arianyferyna
Oh gitu? Siapa ya temennya? ^^ salam kenal ya, terima kasih sudh mau turut baca. :D
.
77. rrannteuk
ASIK dapet bunga! x) xD :D
Semangatin pake apa dulu nih? :3 Kyu gak kemana-mana kan? :)
.
78. elfishy my love
KyuHae? HeeHee..
.
79. Wapuchi
Jangan teriak, nanti ada yg denger, LOL Dan ini gak lama lho ya? :3
Ahhaahhaahhaa..
Sudah saya balas semuanya. Salamcinta dari saya sama Donghae ya, LOL semoga chapter depan gak lama. :')) Sekiannhh~
