All the characters isn't mine but the storyline is mine. Don't Plagiarism

Don't Like Don't Read juseyo.

Caution! It's YAOI. It isn't suitable for homphobia

EXO Suho x Lay

Enjoy!

- AqueousXback -

.

" This fanfic Inspired from a fanfic with the tittle 'Rose' from Ira Putri "


Joonmyeon melangkahkan kakinya menelusuri koridor yang akan membawanya menuju halaman belakang sekolah. Sungguh, ia merasa bosan berada di kelas. Hari ini guru-guru di sekolahnya mengadakan rapat Anggaran Belanja Tahunan dan dengan terpaksa kegiatan mengajar belajar di pending dahulu untuk sementara waktu. Kalau bisa, Joonmyeon ingin langsung pulang ke rumah dan menemui kasur yang setia menunggunya untuk ditiduri.

Ya.

Kalau bisa.

Tiba-tiba Joonmyeon menghentikan langkahnya dan ekspresi masam tercetak jelas di wajahnya. Ia memicingkan matanya untuk memperjelas pandangannya sekaligus memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

Ia pun mendengus kesal.

'Oh, Jadi ini alasannya dia pergi keluar kelas?' batin Joonmyeon.

Sebenarnya, Joonmyeon tidak akan merasa bosan berada di kelas jika ada Yixing disana. Sayangnya, Yixing keluar meninggalkan kelas sejak beberapa puluh menit yang lalu. Hal itulah yang menjadi alasan utama mengapa Joonmyeon merasa bosan di kelas dan pergi keluar untuk mencari udara bebas.

Sayangnya, keberuntungan sedang tidak berpihak pada Joonmyeon.

Bagaikan api yang membakar kertas hingga menjadi abu. Joonmyeon merasakan hatinya memanas saat melihat Yixing sedang mengobrol ringan dengan Minghao –yang notabenenya adalah wakil dari Yixing- berdua.

Ya,

Hanya berdua.

Joonmyeon tak tahu apa yang dibahas oleh mereka, tapi entah mengapa rasanya menyakitkan sekali. Apalagi saat melihat Yixing yang tertawa ringan. Hell, Yixing tidak pernah tertawa seringan itu saat bersamanya.

.

Abaikan sudut pandang Joonmyeon yang berlebihan itu.

.

Sebenarnya.

Jika dilihat-lihat secara seksama. Yixing dan Minghao terlihat seperti ibu dan anak. Tepatnya seperti seorang anak yang menceritakan pengalaman hari pertama sekolah dengan penuh semangat kepada ibunya.

Memang dasarnya Joonmyeon yang berlebihan.

Kembali ke Joonmyeon yang sedang asyik bercemburu ria. Perlahan, Smirk pun tercetak di wajahnya. Ia pun membalikkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat yang telah menjadi saksi bisu kecemburuan Joonmyeon.

'Tunggulah pembalasan dariku, wahai gadis perawan yang manis'

...


SLIGHT CHAPTER : How if Yixing Jealous?

Yixing memasukkan peralatan tulis dan buku-buku kedalam tas. Setelah dirasa tidak ada satupun barang yang tertinggal di meja, ia menyampirkan tas ke bahunya lalu mengarahkan pandangannya ke tempat duduk Joonmyeon. Ia melihat Joonmyeon melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukannya tadi. Tiba-tiba ia mengerutkan dahinya bingung saat ia melihat Joonmyeon yang langsung pergi meninggalkan kelas. Ini aneh, pikirnya. Biasanya Joonmyeon selalu menghampirinya untuk mengajaknya pulang bersama.

Apa yang terjadi pada Joonmyeon?

Mungkin saja Joonmyeon mempunyai urusan penting yang mengharuskannya untuk pulang cepat.

Begitu pikirnya.

Yixing pun mengangkat bahunya acuh lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kelas.

Ternyata.

Ekspektasi tak seindah realita.

Ternyata.

Apa yang dipikirkan Yixing berbanding terbalik terhadap apa yang dilihatnya sekarang ini.

Joonmyeon.

Iya, Joonmyeon. Si Kim Joonmyeon itu loh.

Dia sedang berjalan berdua dengan seorang gadis berdampingan.

Ya, berdua. Berdampingan pula.

Oiya, selain itu mereka juga berpegangan tangan.

'Sialan' batin Yixing.

Yixing hanya membuang nafasnya singkat dibarengi dengan menarik sudut bibirnya. Ia memang tidak mengerti perasaan apa yang ia rasakan jika bersama Joonmyeon.

Tapi.

Ketika melihat Joonmyeon bersama orang lain, rasanya seperti ada sesuatu yang tajam menusuk-nusuk dadanya. Ia menyadari kalau ia merasakan kembali sesuatu yang dinamakan cemburu. Seketika, rekaman masa lalu yang menyakitkan kembali terngiang-ngiang di pikirannya.

Yixing pun melangkahkan kakinya mengikuti Joonmyeon yang pergi entah kemana. Sungguh, ia tidak ingin gegabah menanggapi sesuatu. Mungkin saja gadis itu adalah temannya atau sepupu dari temannya atau teman dari sepupu temannya.

Yixing telah sampai di taman Jinshang. Tempat yang menjadi saksi bisu kencan pertamanya dengan Joonmyeon. Yixing pun bersembunyi di balik pohon dekat Joonmyeon dan gadis itu duduk. Ia menyandarkan punggungnya di pohon itu sejenak. Ia menutup kedua matanya lalu menarik kemudian menghela nafasnya. Entah mengapa, ia menjadi gugup sendiri. Tanpa ia sadari, hati kecilnya berdoa semoga Joonmyeon tidak menyakitinya. Ia membuka kedua matanya perlahan lalu membalikkan tubuhnya.

Acara mengintip pun dimulai.

10 menit pertama tidak ada gerakan yang mencurigakan. Joonmyeon dan gadis itu hanya mengobrol biasa.

Tapi tiba-tiba,

Yixing menautkan kedua alisnya.

Ia melihat Joonmyeon mengacak pelan surai hitam panjang nan indah milik gadis itu lalu mencubit manja pipinya.

Tusukan pertama yang menyakitkan telah menancap pas di hati Yixing.

Beberapa menit kemudian, Yixing pun menggigit bibir bawahnya geram.

'Apa-apaan ini?' batin Yixing.

Ia melihat Joonmyeon mencium kening gadis itu.

Sungguh, ia sangat tidak berdaya. Ia hanya bisa tersenyum melihat pemandangan yang tersaji walaupun sudah banyak tusukan yang menyakitkan menusuk hatinya.

Beberapa menit kemudian, ia mengepalkan telapak tangannya kuat dan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

Kim Joonmyeon.

Pemuda itu.

Berciuman dengan gadis itu.

What the Hell of this.

Api kemarahan semakin meluap ketika ia melihat Joonmyeon melumat bibir gadis itu perlahan.

Dengan cepat, Yixing membalikkan badannya lalu mengarahkan tangannya untuk mencengkram kuat rambutnya kemudian menutup pelan kedua matanya, rekaman masa lalu terngiang-ngiang di pikirannya dan itu membuat kepalanya berdenyut sakit serta membuat pernafasannya menjadi sangat tidak stabil. Perlahan, air mata jatuh dari pelupuk mata Yixing lalu mengalir membasahi pipinya.

Ia pun membuka kedua matanya pelan lalu mengarahkan pandangannya lurus ke depan.

"Kali ini, aku akan benar-benar membunuhmu.."

"Kim Junmen"

...


Joonmyeon melepas tautan bibirnya lalu menatap gadis yang berada di hadapannya yang sedang menunduk malu. Jangan lupakan rona merah di pipinya.

"Dui bu qi. A-Aku tadi.. menciummu" ucap Joonmyeon.

"Ah, t-tidak apa-apa kok" ucap gadis itu. Sontak, gadis itu berdiri dari duduknya. "Aku pulang dulu ya" ucapnya. Gadis itu pun langsung berjalan meninggalkan Joonmyeon.

"Tunggu! Mau ku antarkan pulang?" tanya Joonmyeon dengan menaikkan sedikit intonasi pada ucapannya.

"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri!" jawab gadis itu dengan menaikkan sedikit intonasi pada ucapannya tanpa melihat Joonmyeon yang berada di belakangnya.

Joonmyeon menatap punggung gadis itu yang semakin menghilang dari pandangannya. Ia pun menghela nafasnya pelan. Sungguh, ia menjadi merasa bersalah karena telah menjadikan gadis itu sebagai objek untuk membuat Yixing cemburu.

"Maaf telah menjadikanmu sebagai pelampiasan" gumam Joonmyeon menggunakan bahasa Korea.

Joonmyeon merogoh saku celananya lalu mengambil ponsel yang berada di dalamnya. Ia membuka flip ponselnya lalu menuliskan pesan kemudian mengirimnya.

To : 我的爱(Wo de ai -my love)

Yixing-er. Apa kau berada di rumah? Aku akan datang ke rumahmu nanti malam. Aku ingin kita mengerjakan latihan fisika bersama.

Sekaligus.

Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu.

...


Joonmyeon menatap Yixing yang menundukkan kepalanya sambil menggenggam ganggang pintu rumahnya.

"Yixing, kau kenapa?" tanya Joonmyeon.

Yixing hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Joonmyeon.

"Masuklah" ucap Yixing singkat. Ia pun membuka pintu dengan lebar memberi jalan bagi Joonmyeon untuk masuk. Tanpa basa-basi, Joonmyeon langsung memasuki rumah Yixing.

Brak!

Joonmyeon pun terhentak kaget. Ia menatap Yixing yang masih tetap menundukkan kepalanya lalu mengarahkan kepalanya untuk melihat wajah Yixing yang sedang menunduk. Ia dapat melihat Yixing yang sedang menutup kedua matanya.

"Yixing-"

"Jauhkan wajahmu dari wajahku" ucap Yixing cepat.

Joonmyeon menjauhkan wajahnya lalu mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat Yixing yang langsung berjalan meninggalkannya. Sontak, ia langsung berjalan menyusul Yixing.

"Yixing, apa kau sakit?"

Yixing pun menghentikan langkahnya. Ia menarik lalu menghela nafasnya perlahan.

"Ya" ucap Yixing. "Aku sedang sakit" lanjutnya pelan.

Raut panik tercetak di wajah Joonmyeon."Benarkah?" tanyanya memastikan. Ia pun berjalan mendekati Yixing. Baru saja ia menjulurkan tangannya untuk memegang pundak Yixing, tiba-tiba..

"Jangan sentuh dan dekati aku" ucap Yixing.

Joonmyeon menggenggam tangannya lalu mengarahkannya ke samping tubuhnya. "Memangnya kenapa?" tanyanya. Ia pun menatap punggung Yixing yang membelakanginya.

"Tidak apa-apa" ucap Yixing. Ia pun membalikkan badannya menghadap Joonmyeon. "Junmen, bisakah aku meminta bantuanmu?" ucapnya sambil tersenyum.

Joonmyeon tersenyum melihat senyuman manis Yixing. "Tentu" jawabnya. "Apa yang ingin ku bantu?" tanyanya balik.

"Tidak banyak kok. Aku hanya ingin kau membantuku mencari liontin" jawab Yixing. "Kalau tidak salah, aku meletaknya di ruang bawah tanah" ucapnya. Ia pun diam sejenak. "Ya, sepertinya disana. Kau mau membantuku kan, Junmen?"

"Ah, tentu saja" jawab Joonmyeon mantap. "Ayo" ucapnya.

Joonmyeon dan Yixing pun berjalan menuju ruang bawah tanah. Sesampainya, Yixing mengambil kunci ruang bawah tanah yang tergantung di dinding samping pintu ruangan. Ia memasukkan kunci ke dalam lubang kunci lalu memutarnya kemudian membuka pintunya. Setelah itu, ia meletakkan kunci ruang bawah tanah di tempat semula lalu menekan saklar lampu yang berada tak jauh di dekat gantungan kunci ruangan.

"Kau masuk duluan ya" ucap Yixing sambil tersenyum.

"Baiklah" ucap Joonmyeon.

Ketika Joonmyeon baru melangkahkan kakinya menuruni satu anak tangga, tiba-tiba Yixing mendorong tubuh Joonmyeon dengan menendangnya kuat. Alhasil, Joonmyeon pun terjatuh bergelinding hingga ke lantai ruang bawah tanah.

"Argh" ringis Joonmyeon sambil memegang kepalanya lalu membangkitkan tubuhnya pelan. Ia dapat melihat Yixing yang berjalan menuju ke arahnya dengan pisau dapur berkarat digenggamannya.

Apa Yixing akan membunuhnya?

"Akh!"

Joonmyeon pun meringis sakit ketika Yixing membangkitkan paksa tubuh Joonmyeon dengan menarik rambutnya. Dengan cepat, Yixing menendang dada Joonmyeon kuat hingga tubuhnya terdorong ke belakang hingga punggungnya terbentur ke dinding.

Joonmyeon membuka matanya perlahan lalu menatap Yixing yang berjalan mendekatinya. Tiba-tiba ringisan sakit keluar dari bibirnya ketika Yixing menendang dadanya lagi. Ia pun menjatuhkan tubuhnya pelan dengan menggesek punggungnya di dinding ke arah bawah.

"Yixing.. ada apa? Kenapa.. kau melakukan ini.. padaku?" tanya Joonmyeon tertatih-tatih.

"Aku membencimu" ucap Yixing dingin. "Aku sangat membencimu, Junmen".

Tiba-tiba Joonmyeon terbatuk mengeluarkan darah.

"Mengapa kau.. membenciku?" tanya Joonmyeon lagi.

Bugh!

"Argh!"

Yixing menendang kuat perut Joonmyeon.

"Jangan pura-pura bodoh" ucap Yixing dingin.

Joonmyeon mendongakkan kepalanya menatap Yixing yang berdiri di hadapannya sambil mengernyitkan dahinya bingung.

"Kau pasti tidak tahu bahwa aku sudah membuka hatiku untukmu dan mulai mempercayaimu secara perlahan" ucap Yixing. "Aku menyukai ketenangan, kelembutan dan kehangatan yang kau berikan padaku. Aku bahkan sering menangis karenamu" lanjutnya. Ia pun menutup kedua matanya perlahan.

"Aku menyukai pelukanmu, ciumanmu dan usapan lembutmu. Tapi, mengapa? Mengapa kau tega melakukan ini padaku? Kau berkata padaku bahwa kau tidak akan menyakitiku dan akan melindungiku, kan? Tapi mengapa? Mengapa kau menyakitiku? Tidakkah kau tahu betapa sakitnya hatiku?" ucap Yixing. Air mata pun jatuh membasahi pipinya perlahan.

Joonmyeon terdiam. Ia tidak menyangka kalau acara balas dendam kecemburuan-nya begitu menyakiti Yixing. Ia menjadi sangat bersalah sekarang.

"Aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa membunuhmu. Aku tidak mengerti mengapa aku begitu mudahnya percaya padamu dan omong kosong yang selalu kau ucapkan padaku" ucap Yixing.

Yixing menjongkokkan tubuhnya lalu menggenggam kaos yang dipakai Joonmyeon. Ia mengarahkan pisau dapur yang berkarat ke leher Joonmyeon. "Sungguh, aku menyesal untuk tidak membunuhmu" ucapnya.

Joonmyeon meneguk saliva-nya kasar. Ya, menyakiti Yixing merupakan kesalahan terbesarnya. Ia pantas diberi hukuman seperti ini.

"AARGH!"

...


...

...

...

...

...

"AARGH!"

Joonmyeon pun terhentak dan langsung membangkitkan tubuhnya. Tiba-tiba ia merasakan pusing di kepalanya. Ia pun terloncat kaget saat mengetahui kalau ia berada di tempat yang sama seperti tadi. Ia jadi bingung.

Yang tadi itu.

Mimpi atau bukan?

Joonmyeon mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan bawah tanah. Pandangannya terkunci pada Yixing yang sedang berjalan pelan menghampirinya dengan pisau dapur berkarat di genggamannya. Ia ingin membangkitkan tubuhnya. Tapi sayangnya, ia tidak bisa melakukannya. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Semakin ia memaksakan tubuhnya untuk bergerak, semakin sakit pula yang dirasakan tubuhnya. Ia meneguk saliva-nya kasar saat Yixing menjongkokkan tubuhnya ke hadapannya lalu mengarahkan pisau dapur berkarat menuju lehernya.

"Aku sangat membencimu, Kim Junmen. Aku menyesal untuk percaya padamu dan membuka sedikit hatiku untukmu" ucap Yixing.

Joonmyeon menutup kedua matanya rapat.

Tiba-tiba Joonmyeon mengernyitkan dahinya bingung. Bukannya rasa sakit akibat benda tajam, ia malah merasakan rasa sakit akibat pukulan bertubi yang tidak terlalu kuat di dadanya.

Joonmyeon membuka kedua matanya perlahan lalu menatap Yixing yang sedang memukul-mukul dadanya.

"Mengapa.. hiks.. kau tega melakukan hal ini padaku Junmen? Mengapa?!.. hiks.."

Joonmyeon hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Yixing.

"Aku membencimu.. hiks.. tapi aku.. hiks.. tidak bisa membunuhmu.. hiks.."

Yixing menghentikan pukulannya. Ia pun mencengkram kerah kaos yang dipakai Joonmyeon.

"Aku.. hiks.. tidak ingin.. kehilanganmu.. hikss.."

Sontak, Joonmyeon membulatkan kedua matanya kaget.

"Aku tidak ingin kehilanganmu Junmen.. hiks.. Aku tidak bisa.. hiks.. melihatmu pergi meninggalkanku.. hikss.."

Yixing kembali memukul dada Joonmyeon.

"Katakan padaku!.. hiks... kenapa kau tega melakukan ini padaku?.. hikss.."

Joonmyeon menghela nafasnya perlahan.

"Aku.." ucap Joonmyeon. "Aku cemburu padamu, Yixing"

"Mengapa kau cemburu padaku, hah?.. hiks.." tanya Yixing.

"Aku cemburu karena kau terlihat lebih mesra bersama Minghao ketimbang bersamaku. Bahkan, kau bisa tertawa ringan seolah-olah tanpa beban jika bersama Minghao. Kau tidak pernah tertawa seringan itu jika bersamaku" jawab Joonmyeon pelan.

Tangis Yixing pun semakin meledak dan pukulan pada dada Joonmyeon semakin menguat.

"Bodoh. Kau bodoh.. hikss.." ucap Yixing. "Kau berlebihan.. hikss.."

"Kau tidak perlu membalas kecemburuanmu sekejam ini padaku Junmen.. hikss.. Kau jahat.. hikss.."

"Kau bodoh.. hikss.. aku menganggap Minghao seperti adikku sendiri.. hikss.. dia.. hiks.. merupakan adik yang sangat manis.. hikss.."

Yixing pun menangis sejadi-jadinya.

Sungguh, kesalahpahaman ini membuat Joonmyeon menjadi tidak tenang dan merasa sangat bersalah. Ia telah menyakiti Yixing dan melunturkan kepercayaan yang tidak akan pernah Yixing serahkan pada orang lain hanya untuknya.

Perlahan, Joonmyeon mengarahkan telapak tangannya ke tengkuk Yixing lalu mendorongnya hingga bibir mereka menyatu. Ia mulai melumat perlahan bibir Yixing sambil mendorong tengkuk Yixing untuk memperdalam ciuman mereka.

Yixing yang terhentak kaget akibat perlakuan Joonmyeon, menutup kedua matanya perlahan. Ia merasakan Joonmyeon melumat lembut bibirnya sambil mendorong tengkuknya. Beberapa menit kemudian, ia menggerakkan bibirnya pelan untuk membalas lumatan Joonmyeon. Joonmyeon dan Yixing pun saling melumat bibir mereka masing-masing lalu mulai saling menghisap kemudian mengulumnya. Perlahan, Yixing menggerakkan telapak tangannya menuju tengkuk Joonmyeon lalu mengusapnya pelan dengan jempolnya.

Joonmyeon melepas tautan bibirnya lalu mendorong tubuh Yixing pelan hingga ia berada di atas tubuh Yixing. Ia menatap Yixing yang berada di bawah tubuhnya lalu mengarahkan telapak tangannya untuk menghapus sisa bulir air mata di pipi Yixing.

"Maafkan aku Zhang Yixing. Aku memanglah bodoh" ucap Joonmyeon.

"Aku.."

"Aku hanya takut kehilanganmu" ucap Joonmyeon.

Yixing mengarahkan tangannya ke wajah Joonmyeon perlahan lalu menghapus darah di sudut bibir Joonmyeon dengan jempolnya.

"Aku tidak akan pergi, Jun" ucap Yixing. "Aku akan setia bersamamu" lanjutnya.

Yixing menghela nafasnya perlahan.

"Jangan lakukan hal itu lagi. Kumohon" ucap Yixing.

"Tentu. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku berjanji padamu" ucap Joonmyeon.

Sontak, Joonmyeon langsung menempelkan bibirnya lalu melumat bibir Yixing tergesa-gesa. Yixing membalas lumatan Joonmyeon sambil mengarahkan tangannya untuk meremas rambut Joonmyeon. Mereka pun memasukkan lidah mereka lalu saling memainkannya perlahan sambil menghisap saliva mereka. Beberapa menit kemudian, Yixing mendorong kuat dada Joonmyeon. Mau tak mau, Joonmyeon harus melepas tautan bibirnya.

"Aku baru ingat, kalau aku mencium bibir bekas orang lain" ucap Yixing.

Joonmyeon terdiam. Ia pun mengusap pelan pipi Yixing dengan jempolnya.

"Tolong maafkan aku, Xing. Sebenarnya aku tidak menikmati ciumanku waktu itu. Bibir dia tidak senikmat bibirmu" ucap Joonmyeon. "Kau tahu? Hanya bibir tebalmu-lah yang paling manis, kenyal dan memuaskan" lanjutnya.

Joonmyeon menatap Yixing yang pipinya merona.

"Dan apabila bibirmu membentuk sebuah senyuman, maka senyumanmu-lah yang paling manis" ucap Joonmyeon.

Yixing mendecih lalu membuang mukanya sombong."Jangan menggodaku" ucapnya.

"Aku tidak menggodamu" ucap Joonmyeon. "Aku mengatakan sesuai dengan apa yang kulihat dan kurasakan" lanjutnya.

"Kalau begitu.." ucap Yixing. "Jangan biarkan orang lain mencicipi bibirmu yang seksi dan memuaskan itu"

"Tentu. Hanya kau yang bisa mencicipi bibirku yang seksi dan memuaskan ini" ucap Joonmyeon.

Joonmyeon pun menatap Yixing lekat.

"Aku mencintaimu, Zhang Yixing"

Yixing menarik lalu menghela nafasnya perlahan. "Aku juga.. mencintaimu.. Kim Junmen" ucap Yixing.

Sontak, Joonmyeon langsung menempelkan bibirnya lagi. Ia melumat secara perlahan bibir Yixing dan Yixing pun langsung membalas lumatan Joonmyeon sambil meremas pelan rambut Joonmyeon. Beberapa menit kemudian, lumatan yang berlangsung secara perlahan berubah menjadi lumatan penuh gairah. Baik Joonmyeon maupun Yixing. Mereka sangat menikmati adegan ciuman mereka. Perlahan, mereka menjulurkan lidah lalu mulai memanjakan lidah mereka masing-masing. Tak lupa pula mereka menukar dan saling menghisap saliva. Setelah itu, mereka saling menghisap dan menggigit manja bibir mereka kemudian mengulumnya.

Baik Joonmyeon maupun Yixing, tidak ada satupun diantara mereka yang ingin melepaskan tautan bibir mereka. Mereka jatuh ke dalam arus ciuman yang sangat memabukkan. Dunia serasa milik mereka dan waktu seakan berhenti.

Ciuman ini.

Sebagai tanda bahwa kesalahpahaman ini..

Telah berakhir.

- SLIGHT CHAPTER : end -