FREAK

Kim Jiwon, manusia dengan kemampuan supranaturalnya kini tinggal di rumah bekas keluarga Goo. Namun rumah besar itu berhantu, dan Kim Hanbin-lah salah satunya.

Tanpa alasan apapun, Hanbin begitu membencinya. Mendendam-nya.

Bagaimana usaha Jiwon untuk menghilangkan kesan buruk Hanbin terhadapnya?

.

.

this is a DoubleB story. no need to talk much, happy read. leave coment if you want and don't give blame word. if you don't like there's a cross sign and click then. Dyo Not Own this story, this is KhungDae's story.

.

.

" Jiwon hyung!"

Jiwon dan Junhoe berhenti mendadak, tangan mereka masih saling menjambak dan memukul.

" Hanbin-ah/ samcheon?!" teriak dua anjing itu bersamaan.

Keduanya segera berdiri dan membungkuk hormat pada tamu mereka. Junhoe masih terkejut dengan sosok yang dilihatnya. Senyum dan padangan rindu sudah mengembang di wajah tampannya. " Hanbin samcheon.."

" kelihatannya kita akan mengetahui beberapa hal lagi.." Seunghyun tersenyum miring.

Jiwon tersenyum melihat Junhoe dan Jinhwan yang bermain bersama Hanbin. Meski Jinhwan awalnya masih bertanya, kenapa pemuda manis yang bernama Hanbin itu malah dipanggil samcheon oleh Junhoe. Padahal kan wajahnya terlihat masih muda, bahkan dari Junhoe sendiri.

" Jiwon-ah.."

" ne?"

Seunghyun tersenyum tipis, " bisakah kau jelaskan tentang Goo Junhoe? Kenapa memanggil Hanbin seperti tadi?"

" oh, itu. Dulunya Hanbin adalah paman Goo Junhoe, saat dia masih berusia em.. 1 tahun? Entahlah, ingatan bocah itu kuat sekali"

Mereka semua tersenyum, mencoba memahami kenyataan janggal itu.

" ah! Saya ingin menunjukkan sesuatu pada kalian"

Di sinilah mereka, kamar lantai atas yang masih rapi. Mino membuka pintu itu dan menyipitkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. " omo.., eomma lihat!"

Dan Jiyong tak bisa tak kembali menangis. Ia menemukan foto dan berbagai note di salah satu almari di kamar itu. Rupa dan senyumnya, tulisannya, sangat mirip dengan anaknya.

" jadi dulu kalian sungguhan berpacaran?"

Jiwon menghela nafas, " tidak. Hanya aku yang menganggap kalau Hanbin adalah kekasihku. Selebihnya dia tidak mau mengakuiku, sampai kejadian itu."

" oh.., begitu ya. Kenapa?"

" karena dia adalah.. siswa tingkat satu yang paling cantik saat itu. Bahkan yang paling cantik di sekolah, sehingga banyak juga yang menyukainya. Aku..tidak masalah dengan Ia tak mau menganggapku kekasihnya. Aku hanya mencoba melindungi Hanbin dari bahaya sebagai idola banyak orang."

Mino tersenyum bangga, adiknya memang yang paling cantik. Eh, tapi masih cantikan istrinya kok.

" jadi kau bertepuk sebelah tangan?" tanya Mino dengan nada mengejek.

Jiwon tersenyum, " awalnya kukira begitu. Tapi sekarang aku baru tahu"

Tangannya menunjuk sederet tulisan yang tertempel di almari itu.

Mino menepuk bahu Jiwon, " kau sungguh beruntung". Jinwoo juga tersenyum, Ia senang. Entah kenapa, padahal yang dibicarakan Jiwon bukanlah Kwon Hanbin. Tapi baginya Kwon Hanbin adalah Kim Hanbin.

" Jiwon-ah.."

Jiyong mengusap mata sembab-nya, Ia menoleh pada Seunghyun meminta persetujuan. Entah apalah itu, tapi nampaknya Ia mendapat anggukan. " kau sungguh mencintai Hanbin?"

" ..."

" kau masih berpikir untuk mengatakan kau mencintai Hanbin?" Jiyong memiringkan kepalanya. Semalam Ia telah memikirkan banyak hal, tentang Kim Hanbin. Yang kini menjadi Kwon Hanbin, anak bungsu-nya.

" masih ada banyak hal yang menganggu pikiran saya,"

" Kim Jiwon, kalau kau hanya mempermainkan Hanbin. Maaf, aku tidak akan membiarkanmu"

Seunghyun berucap tegas, Ia telah menganggap Kim Hanbin sebagai anaknya. Dan Ia sangat protektif terhadap putra-putranya. Sama seperti Mino, yang terlalu melindungi Hanbin.

" hyung.., kau tak mengatakannya padaku?"

Pandangan mereka terpusat pada Hanbin dan pasangan suami istri yang mendampinginya. " a-ah! Hanbin-ah, ini- ini sudah lama sekali. Aku lupa beberapa.."

Junhoe mendorong kursi itu mendekat pada Jiwon, Ia merasa kecewa akan rahasia yang disembunyikan Jiwon darinya.

" ada apa selama ini hyung? Kau tak pernah mengatakan apapun padaku atau Jinan hyung tentang ini?!"

Jiwon menghela nafas berat sambil mengurut pangkal hidungnya. Kelihatanya hari ini adalah hari pengakuan terbesar dan terberat di kalender Jiwon.

" Junhoe-ah, bisakah kita bicarakan ini nanti. Aku tidak mau membebani ingatan Hanbin, kondisinya bisa memburuk kalau kuceritakan sekarang"

Junhoe membuang mukanya, selanjutnya Ia melepaskan tangannya dan menyeret Jinhwan pergi dari kamar itu. Jiwon buru-buru menyusul " June-ah!"

" aku di bawah kalau kau sudah ada waktu untuk bercerita padaku"

Jiwon mendesah lega, rupanya Junhoe tak terlalu marah padanya.

" maafkan aku.."

Jiwon menunduk, Ia hanya erani melirik melalui ekor matanya. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang semuanya seperti sedang menghakiminya, padahal ini bukan sepenuhnya salahnya kan?

" hyung.." panggil Hanbin lembut.

Mendongak, hanya untuk kembali menuduk. Ia masih harus memikirkan banyak hal sebelum kembali mendekati Hanbin.

" Kim Jiwon.."

Suara Mino menengahi kecanggungan diantara mereka. Tubuh tegap itu berdiri tepat di hadapan Jiwon dan berbisik pelan. " kalau kau masih ingin bertemu Hanbin," bibirnya tertarik ke satu sisi. " jangan terlalu lama bertindak, kau pikir aku akan diam saja? Masih banyak yang mau menjadi 'teman' Hanbin, dan aku sudah mempersiapkan ini sebelumnya."

Jiwon membalas tatapan tajam Choi Mino, matanya menyipit mencerna kalimat menusuk dari orang itu. " jangan biarkan dirimu terlambat lagi, Bobby Kim.."

Mata Jiwon melebar, Mino benar-benar memancing dirinya. Matanya bergerak ke segala arah dengan kacau, dan warna abu-abu mulai memenuhi iris matanya. Bobby Kim

" ayo kita pulang saja, sebaiknya biarkan Jiwon beristirahat. Dia kelihatan tidak enak badan."

Jiwon mengepalkan tangannya, Ia tidak boleh terpengaruh sekarang. Ia bisa saja lepas kendali, tapi waktunya tidak tepat. Mungkin hal buruk dapat terjadi.

Hanbin hanya diam saat Mino membawanya keluar, di ikuti Jiyong dan Seunghyun. Hanya tinggal Jinwoo yang masih berdiri di tempatnya. " Jiwon-ah, kalau kau benar-benar mencintai Hanbin cepatlah! Mino ingin kau menunjukkanya, dihadapan kami semua..,bukan maksudku tidak percaya pada ceritamu.. dengan semua yang kau lakukan. Tapi sikapmu sekarang, jujur saja membuat kami ragu. Kumohon pikirkanlah baik-baik"

Setelah Jinwoo keluar meninggalkan Jiwon dan rumah itu, Bobby menarik nafas pendeknya terengah-engah. Raut frustasi jelas tergambar di wajahnya, ditambah dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua matanya." Hahh..hah, Hanbin-ah"

Tangannya mengepal dan Ia berusaha untuk tidak membanting apapun. " kendalikan emosimu"

Jiwon turun ke bawah menemui Junhoe dengan Jinhwan yang tertidur pulas di sampingnya. Ia duduk perlahan sambil menatap wajah diam kakak iparnya. " maaf.."

" hmm" gumam Junhoe seadanya.

" aku tidak merasa ini baik untuk kukatakan padamu, tapi kau memang harus tahu"

" katakan saja.."

" maaf Junhoe-ah, aku adalah Bobby"

Bocah itu terlonjak, sejurus kemudian Ia kembali tenang " lalu?"

" aku kembali sebagai Jiwon, untuk mengejar samcheonmu. Kim Hanbin"

" hanya itu?"

" kuharap kau mau mengerti, dan tolong jangan halangi aku"

Junhoe melihat tepat pada manik mata Jiwon, ini bukan Kim Jiwon yang dikenalnya.

" Mino hyung~"

" iya saengie.., mwonde?"

" apa yang kalian bicarakan tadi, aku ingin tahu"

" oh, itu urusanku dengan Jiwon. Anak kecil sepertimu tidak harus tau"

" aish! Meski tidak harus, tapi aku boleh tahu kan?"

" tidak, ini hanya untuk kaum pria-"

" hyung pikir aku ini wanita?!"

" hehe, lain kali saja ya? Sekarang kau pergi tidur"

Hanbin mencebik, tangan Mino yang usil segera mencubit bibir adiknya itu. " jangan merajuk, cepat tidur!"

"AW! Eh, besok kita main ke rumah Jiwon hyung lagi kan?"

" huh?" sedetik dari kebingungan Mino, wajahnya nampak dihiasi senyuman jahat.

" tentu saja adikku~, siapkan bajumu yang paling bagus besok"

" arraseoo~ saranghaeyo Mino hyung jelek!, wlek"

Hanbin memeletkan lidahnya yang disambut gelitikan dari Mino. " akh! Hyung geli~ hentikan"

" arra arra, pergi tidur ne?"

Setelah Mino mendapat anggukan, Ia keluar. Dan betapa terkejutnya Ia mendapati Jinwoo terpaku di depan pintu kamar. " Jinwoo hyung, kau tak masuk? Kenapa hanya di luar?"

" ani, kau terlihat senang sekali bermain dengan Hanbin. Jadi, aku menunggu di sini saja"

" hoo..kau cemburu? Dia adikku Jinwoo sayang~"

Jinwoo nendelik malas mendengar rayuan suaminya, tangannya berusaha melepas lengan kekar yang melingkari tubuh kecilnya. " hentikan Mino-ya, aku tidak cemburu."

" jjinja? Aa..padahal kukira akan menarik kalau kau cemburu"

Jinwoo tersenyum manis, " tentu saja-"

" ayo kita buat baby.."

Jinwoo mengerjab, " apa Mino-ya?"

" baby.., yang tampan sepertiku"

Jinwoo lagi-lagi mengerjab, sebenarnya yang dimaksud Mino itu memanggilnya baby atau membuat baby..

baby..,

baby?! Yang tampan seperti Mino katanya?!

Mino tersenyum mencurigakan melihat Jinwoo yang masih mencerna kata-katanya. Sedetik kemudian Jinwoo menggeser tubuhnya bermaksud untuk lari. Namun Mino dengan cepat dan mudah menahan lengan kecil istrinya, " sudah cukup kau membuatku menunggu dengan alasan kerja sebagai dokter, kesabaranku sudah habis" Mino menghirup aroma tubuh Jinwoo melalui lehernya.

" nggh.., ani!"

" ya~ kewajibanmu sebagai istri adalah melayaniku!"

Jinwoo mendelik tak suka, " siapa yang istrimu ha?! Aku-"

" kau pilih yang lembut atau yang sedikit menantang? Kau suka cara kasar?" Mino menatapnya dengan tajam.

" a-ani, m-mmaksudku.. jangan di depan kamar Hanbin"

Mino tersenyum puas, " tentu saja, enjoy your night baby.."

Jiyong terbangun tengah malam mendengar bel rumahnya berbunyi. Siapa orang gila yang bertamu pagi buta seperti ini?

Seunghyun mengernyit merasakan Jiyong melepas pelukannya, " kenapa lagi?"

Suara serak Seunghyun menerpa telinga Jiyong, mati-matian Ia menahan supaya tak terbawa suasana. " ada tamu.." jawab Jiyong sekenanya.

" jam 1 pagi? Sudahlah jangan dibuka, manusia tidak mungkin bertamu di waktu ini. Ayo tidur lagi"

" maksudmu yang bertamu bukan manusia begitu? Kau jangan menakutiku hyung!"

" makanya dengarkan aku, siapa tahu itu penjahat atau pencuri. Jangan dibuka sayang, kita tidur lagi."

" mana bisa aku tidur? Bel itu terus berbunyi dan mengganggu kita semua"

" baiklah-baiklah! Tapi kau harus berdiri di belakangku"

Jiyong tersenyum manis, suaminya ternyata penurut juga.

Jiyong berlindung di belakang tubuh tegap Seunghyun, tangannya mencengkeram erat piama tidur suaminya karena ketakutan. Di tengah hujan lebat begini, malam hari pula.. ada tamu.

Seunghyun sudah bersiap dengan tongkat martial selagi tangan satunya membuka pintu pelan. Namun yang dilihatnya justru di luar dugaan, sosok pria basah kuyup dengan wajah pucat dan pandangan kosong.

" Kim Jiwon?!"

Setelah memaksa Jiwon untuk berganti pakaian, Seunghyun menyuruh pemuda itu untuk duduk di ruang tamu. Ia masih tidak megerti dengan pikiran bocah ini, jangan-jangan Jiwon itu memang tidak waras seperti yang dikatakan Mino, ups!

Ya, Mino memang berkata demikian. Tapi itu dulu saat Jiwon masih dirawat di rumah sakit dan kebetulan istrinya yang menangani.

Jiyong menarik nafas " apakah kau baik-baik saja?"

" ya"

Pasangan suami istri itu berpandangan, seperti ada yang tidak benar dengan bocah ini.

" kau yakin?" Seunghyun ikut bertanya.

" ya"

" kelihatanya kau memang tidak enak badan, kenapa malam-malam kemari Jiwon-ah? Sekarang sedang hujan lebat dan kau- ya Tuhann.."

" Hanbin"

Mereka terdiam, apa tadi?

" aku ingin Hanbin, bisakah aku bertemu dengannya?"

" tentu, tapi tidak sekarang. Pulanglah nak, baru besok kau bisa kemari"

" kumohon, aku ingin bertemu dengannya."

" kalau kau menyayanginya, jangan paksa aku untuk membangunkannya. Ia sedang tidur"

" baiklah, aku tidur di sini"

" ne?!"

Jiyong melotot kaget, " tapi tidak ada kamar kosong-"

" tidak apa, di sini saja"

Seunghyun berpikir keras, Jiwon yang menemuinya hari ini nampak aneh. Sikapnya dingin dan sedikit pemaksa. Otaknya menyimpulkan sesuatu yang menurutnya benar " katakan siapa kau"

"…" mendapati keterdiaman Jiwon, pria cantik di ruang itu angkat bicara.

" hyung, dia Jiwon! Apa maksudmu?"

" tenanglah, aku hanya ingin memastikan. Ayo katakan, aku tidak akan melakukan hal buruk terhadapmu"

" naneun…"

" Jiwon hyung..?"

Ketiganya menoleh bersamaan saat Hanbin bersuara, apakah mereka terlalu berisik sampai membangunkan Hanbin?

" sayang.., masuklah ke kamar dan tidur. Ini masih malam"

" eomma.., kenapa Jiwon hyung ada di sini?"

Jiyong dan Seunghyun saling melempar tatapan, mereka juga tidak tahu kenapa. Namun mereka diam saja sampai Hanbin menjalankan kursi rodanya mendekat.

Wajahnya tersenyum cantik, sampai Jiwon terperangah dibuatnya. " Jiwon hyung"

Astaga, bahkan suaranya sangat membuai. Jiwon tidak yakin Ia akan baik saja, hingga tangan Hanbin menyentuhnya. " hyung, aku-"

Pluk

Mereka masih berkedip, " Hyung! Jauhkan Jiwon, Hanbin kita tertindih!"

Seunghyun buru-buru menarik Jiwon dan membaringkannya di sofa. Sementara itu Jiyong sibuk memeriksa anak bungsu kesayangannya, dia terluka atau tidak.

" kenapa dia tiba-tiba pingsan saat Hanbin menyentuhnya?"

" entahlah, mungkin dia terlalu senang setelah berjumpa Hanbin dan sekarang Ia tertidur" jawab Seunghyun asal pada istrinya.

" appa~, ada apa dengan Jiwon hyung? Gwenchana?"

" gwenchana, sekarang kau tidurlah. Ji.., temani Hanbin. Aku akan mengawasi Jiwon"

" nde, arraseo hyung. Ayo Hanbinnie"

.

Sinar pagi mengusik Jiwon dari tidur nyenyaknya. Ia kemudian terduduk dan berkedip bodoh, Ia yakin semalam Ia memeluk guling kuningnya. Tapi dimana guling itu sekarang? Bahkan sebuah pertanyaan muncul kembali.. Ini bukan rumahnya yang angker itu!

" kalau kau sudah sadar dan tidak ada kepentingan, silakan pergi"

Jiwon mengerjab, " Seunghyun-ssi?" kepalanya berkeliling mencoba mengenali rumah ini.

" ooh.., aku mengerti." Bocah itu mengangguk polos lalu berdiri. " aku ingin bertemu Hanbin"

Seunghyun menepuk kepalanya, dikiranya bocah ingusan di depanya sudah mau pulang.

" semalam kau sudah bertemu dengannya.."

" benarkah?" kedipan bodoh kembali muncul di wajah Jiwon.

" pergi atau ku usir sekarang juga!"

Setelah sebelumnya memberi salam, Jiwon berlari dengan cepat.

" bukannya aku benar.., kalau aku terbangun di rumah itu berarti aku ingin menemui seseorang. Dan pasti dia adalah Hanbin, tidak mungkin Jiyong-ssi kan?!"

Sosok hantu nenek di rumah Jiwon tertawa, " kau benar nak, nanti kau cobalah lagi untuk menemui Hanbin. Halmoni sudah rindu dengannya, apalagi Chanwoo juga menghilang entah kemana.."

Jiwon menoleh kaget, " Chanwoo?"

Hantu itu mengangguk, setelahnya Ia menghilang. Rumah itu kembali sunyi seperti sebelumnya.

Jiwon mengurut pelipisnya, berharap beban pikirannya bisa berkurang. Mari kita hitung apa saja yang membebani otak kecil Jiwon saat ini.

Kuliah, skripsi. Jika Ia tak bisa memenuhi tugasnya maka dia bisa di drop out.

Hubungannya dengan Goo Junhoe dan Jinhwan hyung yang belum membaik. Salahkan kenapa Junhoe masih mengingat sosok samcheon-nya padahal saat dulu Junhoe masih sangat kecil.

Hanbin.

" AARRRGGHHHHH! SIAPAPUN KATAKAN PADAKU APA YANG HARUS KULAKUKAN SEKARANG"

Sore ini Seunghyun kembali dibuat jengkel oleh Jiwon, pasalnya bocah itu kembali dan meminta hal yang sama.. Hanbin.

Sementara itu Hanbin sedang keluar bersama Mino dan Jinwoo, mereka memeriksakan Hanbin ke rumah sakit karena keadaannya masih saja seperti kemarin. Padahal semua anjuran dokter sudah mereka lakukan.

" aku akan menunggu.."

" pulanglah Kim Jiwon, "

" aniyo, aku tidak akan pergi sebelum bertemu Hanbin"

" keras kepala.., memang kalau kau bertemu Hanbin kau mau apa?"

Seunghyun bertanya sakartik, Ia tak suka saat Jiwon berusaha dekat dengan Hanbin. Ia hanya tak mau kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya jika Ia membiarkan Jiwon.

" hanya ingin bertemu dengannya, dan.. memastikan ingatannya kembali secepatnya. Aku..mencintainya, Seunghyun-ssi"

Jiyong ikut duduk dan mendengarkan pembicaraan dua pria di hadapannya. Ia sebenarnya juga kasihan dengan Jiwon, tapi Ia pun ragu. Jiwon memang telah menyelamatkan Hanbin, namun Ia terlihat seperti tidak memiliki fokus pada dirinya sendiri.

" apa katamu?"

" jwesonghamnida.., saya ingin mengambilnya kembali."

" APA MAKSUDMU?!"

Seunghyun refleks berdiri saat mendengar pernyataan Jiwon, Ia tak habis pikir dengan kemauan bocah ini. Jiyong pun terkejut, Ia langsung menahan suaminya supaya kembali duduk.

" ijinkanlah aku menikahinya.., sudah lebih dari 10 tahun aku menunggu Hanbin. Sudah lebih dari 10 tahun aku menahan perasaanku, .. dan saat aku benar-benar yakin Hanbin mencintaiku Ia malah kehilangan ingatannya"

" maaf, yang kau maksud bukan Hanbin putraku."

" kumohon berilah satu kesempatan lagi! Saya tahu Kwon Hanbin adalah putra Anda, tapi Hanbin-ku ada di dalamnya. Hanya dia yang saya inginkan..hanya dia yang ku cintai"

Mino menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumahnya. Jinwoo dengan cepat membantu Hanbin turun dan mendudukkannya di kursi roda.

" Zico-ya, ajak Hanbin masuk. Aku akan membawa barang-barang kita dengan Jinwoo."

" huh? Bilang saja mau modus. Ayo Hanbin-ah!"

Hanbin menjawab dengan senyuman, hari ini Ia mengenal kembali salah satu teman lamanya. Terimakasih pada Mino yang mengajaknya berlibur sejenak setelah hampir 2 minggu terkurung di rumahnya sendiri. dan berakhir dengan menemukan Zico.

" Hanbin-ah kau tahu? Dulu kau begitu kuat dan suka memukul orang lain! Tapi aku merasakan ada yang lain darimu?"

" a? begitukah?" Hanbin menuduk, mencoba memikirkan kebenaran kalimat Jihoo.

" ah! Jangan terlalu memikirkannya, lama-kelamaan kau pasti kembali seperti dulu. Lagipula senyumanmu tetap semanis dan seindah sebelumnya kok, meski kini senyummu agak murah.. terlalu murah malahan untuk membaginya dengan orang lain. Aku sangat syok, hehe"

" ahaha! Terimakasih..Woo Jihoo"

Pintu rumah itu terbuka dan menampakkan sosok Hanbin yang tertawa lebar bersama temannya diikuti Mino dan Jinwoo. Tampaknya mereka semua tidak menyadari tatapan kekecewaan dari seseorang di sana, kecuali Mino tentunya.

Ia berdiri dengan cepat, masih mencoba mencerna maksud dari apa yang dilihatnya sekarang. Siapa orang ini?

" ah! Jiwon hyung, perkenalkan ini Woo Jihoo-"

" seperti yang telah kukatakan sebelumnya padamu Jiwon-ah, bukan hanya kau yang menginginkan Hanbin" Mino memotong dengan cepat.

Wajah penasaran dan bingung dengan cepat menghampiri mereka, termasuk Hanbin dan Jihoo sendiri. Sebenarnya apa yang dimaksud Mino?

Jiwon membuang asumsi buruknya, Ia harus optimis. Ia kemudian mendekat pada Hanbin dan berjongkok dihadapannya.

Meraih, menggenggam tangan itu lembut, senyum terpancar dari bibirnya. Meski mereka tahu, senyum itu terlihat seperti meyakinkan dirinya sendiri akan sesuatu.

" aku sudah lama menantimu Hanbin-ah.., apakah kau sudah bisa mengingatku?"

Pemuda itu berkedip, masih belum menjawab pertanyaan Jiwon. Jiwon mendongak dan menghirup nafas dalam. " saranghae.., saranghae. Hanbin-ah"

Jiwon menunduk dan mencium lembut tangan Hanbin, menggenggamnya dan menyenderkan kepalanya pada kedua paha Hanbin.

"..h-hyung, aku. Kupikir aku belum-"

" tunggu! Jangan kau lanjutkan"

Jiwon masih menunduk, mengingat kembali. Orangtua Hanbin tidak mengijinkan, dan Hanbin sendiri juga bilang begitu. Sudahlah.., aku juga sudah terlalu lelah. 'Maafkan aku Bobby-ah'

Jiwon bangkit dan segera berbalik, Ia tak mau orang lain melihat wajahnya. Kenapa harus seperti ini?

" Jiwon hyung chakaman! Kenapa hyung tiba-tiba berkata seperti itu? jangan pergi, aku masih ingin berteman denganmu hyung.."

Jiwon tersenyum dalam tangisnya, Ia kembali menatap mata Hanbin dan hal itu membuat mereka semua tercengang. " maaf Hanbin, aku tidak bisa melakukannya"

' kau pikir aku bisa bertahan menjadi temanmu sementara kau mencintai orang lain? Ini gila'

" Jiwon hyung! Jiwong hyung, gidariii!"

Hanbin berusaha menggerakkan kursi rodanya, tapi Jihoo menahannya. Hanbin mendongak meminta persetujuan.

" Hanbin sudah, biarkan saja dia. Kau harus beristirahat, ingat kata uisa?"

Hanbin menatap lantai dengan wajah sedihnya, " tapi-"

" NO BUT, Kwon Hanbin!"

Mendengar suara Mino yang dingin, membuat Hanbin menggigit bibir bawahnya kecewa. Ia menggerakkan kursi rodanya menuju kamarnya sendiri. Ia sama sekali tak menjawab panggilan dari Jiyong dan terus berlalu.

" Mino-ya.., ada apa ini? Apa yang kau rencanakan lagi, aegya.." Jiyong meminta penjelasan.

" eomma, aku sudah tahu jawabannya! Jadi seperti ini.."

TBC

N.B : sorry for the typo and give review please, see you next chapter.

Thanks to : Park Rinhyun-Uchiha, EunhyukJinyoung02.

mian gak bisa balas satu satu, intinya makasih udah review, favs dan follow. review kalian membuatku semnagat sekaligus terbahak jangan kapok yaa.