Author : Melody-Cinta

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Gaara x Sakura H.

Genre : Romance/Fantasy

--

Snow Never Make Sakura Dead Again

--

(Sakura POV)

"Jadi? Kami bisa bantu apa Sakura?" tanya Ino dengan senyum yang mengembang,

Aku menunduk, menatap air dingin ini dengan perasaan kecewa. Aku menghela nafasku sebentar sebelu menjawab, "Aku juga tidak tahu."

"He? Kau ini bagaimana sih Sakura? Seharusnya kau sudah buat rencana kan?" tanya Ino kesal, walaupun aku tidak melihat mukanya, aku tetap tahu kalau dia sangat kesal.

Aku menggeleng, "Maaf, tapi aku tidak punya rencana sama sekali." Ujarku, haah.. Aku jadi merasa bersalah sekarang.

Hinata menepuk pundakku lembut dan membuat wajahku terangkat menatapnya. "Sudahlah. Jangan berkelahi seperti ini." Ujarnya dengan tenang, "Bagaimana kalau kita tanya pendapat Sai-kun saja? Dia kan sudah menjadi dewa hujan sekarang."

Aku tersenyum. Aku balik memegang pundak Hinata sekarang. "Kau benar Hinata! Sai pasti dapat membantu kita!"

"Kalau begitu, apa yang harus ditunggu? Ayo cepat kita menuju istana hujan!" Ino segera menarik tangan kami untuk berjalan menuju istana hujan. Huh, Ino. Kalau Sai saja, kau cepat tanggap.

***

(Gaara POV)

Aku mengepalkan tanganku. 'Dasar menyebalkan! Kau tak'kan mungkin mendapatkan Sakura walaupun Sakura yang menantangnya sendiri.' Aku mulai geram,

Aku memandang keluar ruanganku melalui kaca, namun mataku langsung terhenti saat melihat sebuah sosok. Sosok yang amat sangat kukenal. Dan sekarang sosok itu sedang berlari-lari mengejar tiga sosok perempuan yang diantaranya itu adalah.. Sakura!

***

(Rainy POV)

"Dah Rainy!"

"Dah Flo!" Yap. Setelah aku baru saja berpamitan dengan Flo; anak dari Om Said an Tante Ino. Aku kembali sendirian dijalanan sepi ini. Kenapa sepi? Ya, aku juga tidak tahu. Mungkin karena jalan ini adalah jalan menuju air terjun Hyune yang sangat suci.

Aku menggenggam erat buku pelajaranku. Aku membuka kembali buku pelajaranku singkat lalu menutupnya dan menghela nafas kecewa. "Haah.. Mana mungkin aku dapat mengerjakan tugas ini. Tugas untuk merubah hujan menjadi salju kalau aku saja tak pernah bertemu dengan hujan itu." Aku berkata dengan kesal.

"Uh? Rainy? Kau tidak pulang, sayang?" tanya Mama Sakura saat bertemu denganku. Mama sekarang sedang ditemani oleh dua temannya; Tante Ino dan Tante Hinata.

Aku menggeleng, "Tidak Ma. Aku ingin mengerjakan tugas dulu." kataku, Mama mengangguk, dia mengecup dahiku sebentar lalu kembali berlari dengan teman-temannya.

Aku menghela nafas kesal saat Mama sudah tak terlihat lagi dari mataku. "Tapi sepertinya aku tak'kan bisa mengerjakan tugas itu."

Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang melewatiku. Sosok yang sangat familiar bagiku. Tanpa pikir panjang, aku segera menarik tangan orang itu.

"Hei! Apa-apa'an sih?" tanyanya kesal, aku hanya nyengir,

"Paman Sasuke. Maukah kau membantuku mengerjakan tugas ini?" tanyaku sambil memperlihatkan buku pelajaranku tadi,

Paman Sasuke melihat buku pelajaranku dengan seksama. "Aku sedang sibuk. Mungkin kapan-kapan." Jawabnya lalu kembali berlari. Aku menarik tangannya kembali.

"SNOWAT!!" dan dengan mantra itu, aku sudah dapat membuat Paman Sasuke menjadi membeku. Ya, beku namun sangat halus seperti salju. Aku meniup ujung tongkatku layaknya seorang koboi yang meniup pistolnya. "Tak kusangka aku dapat secepat itu mengalahkan Paman." Kataku sambil menarik-narik Paman Sasuke dengan susah payah kembali menuju sekolah.

***

(Normal POV)

"Jadi seperti itu.." Sai mengangguk-angguk mengerti, "Jadi maksudnya kalian menyuruhku untuk melawan Sasuke itu karena aku memiliki kekuatan yang sama dengannya?" tanya Sai mencoba meyakinkan,

"Be-Begitulah.." Sakura mengangguk, berharap Sai akan membantunya dalam memusnahkan Sasuke.

"Akan kucoba. Namun aku tak yakin akan menang darinya." Ujar Sai,

Sakura mengangguk, "Coba saja. Aku hanya berharap." Kata Sakura mantap

***

Krek.. Krek.. Krek..

Suara tulang-tulang yang sedang diregangkan terdengar jelas disebuah jalan sepi.

"Hah! Otot-ototku sangat tegang setelah dibekukan oleh anak kecil itu." Terdengar sebuah omelan kesal dari seorang anak laki-laki. "Tapi aku tidak sangka, anak sekecil Rainy bisa juga membekukanku secepat itu." Gumamnya,

Yap. Laki-laki itu adalah Sasuke Uciha sang mantan dewa hujan. Dia baru saja terbebas dari mantra Rainy dan sekarang sedang berjalan keluar sekolah Rainy. Mantra yang dapat membekukan hujan menjadi salju. Rainy pun merasa kebingungan saat ditanyai guru kenapa contoh hujan yang dibawa itu Sasuke. Namun karena berbagai penjelasan, Rainy dapat diperbolehkan membekukan Sasuke.

"Sasuke Uciha." Terdengar suara seseorang, Sasuke mengedarkan pandangannya; mencoba mencari orang itu. "Ternyata benar." Sasuke pun menemukan bayangan itu. Sebuah lelaki dengan rambut hitam dan sedikit berponi.

"Siapa kau?" tanya Sasuke sinis, pertama, karena dia tak tahu orang itu siapa. Kedua, kenapa orang itu bisa tahu namanya.

Lelaki itu berjalan mendekat, "Kau mungkin tak kenal denganku." Jawab orang itu, Sasuke menatapnya dengan tatapan bukan-itu-jawaban-yang-ku-mau. "Ooh.. Baiklah, aku adalah dewa hujan sekarang."

Sasuke mengepalkan tangannya, "Bukan itu jawaban yang ku mau! Siapa namamu atau aku akan menghajarmu sekarang!" Sasuke mengancam,

"Jangan seperti itu Sasuke. Mau bagaimana pun, kita akan tetap bertarung nanti." Jawab lelaki itu, Sasuke menatapnya kesal, "Namaku Sai. Cukup?"

"Ok Sai. Apa yang kau mau dariku? Sebuah pertarungan?" tanya Sasuke dengan geram,

"Ya, Memang itu yang ku mau. Aku ingin kita bertarung karena kau telah merebut Sakura." jawab Sai

Sasuke tersenyum sinis, "Jadi? Kau ingin merebut Sakura juga?" tanya Sasuke dengan nada mengejek, "Tak'kan terjadi. Karena hanya aku yang dapat memilikinya."

Sai menggeleng, "Kau salah paham, Sasuke. Maksudku, aku ingin menolong mereka agar mereka tetap bersama." Jawab Sai dengan santai,

'Hh.. Terlalu banyak yang menolongmu Sakura. Kenapa kau begitu? Akui saja kalau kau benar-benar menyukaiku.' Pikir Sasuke sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kalau begitu. Ayo kita bertarung!"

"Baik.." Sai tersenyum senang, "RAAFLOO!!!"

Hujan bunga segera turun dari langit yang cerah. Sasuke mendengus, "Haha! Hanya bunga? Kau ini bagaimana? Hujan itu adalah air! Bukan bunga seperti ini!" Sasuke tertawa lepas,

Sai tersenyum, "Ini bukan bunga biasa Sasuke. Ini adalah bunga cinta. Kau akan merasakan perasaan cinta jika mengenai bunga ini." Sai menjelaskan,

"Cinta? Apa maksudmu? Aku sudah merasakan cinta. Ya. Cinta pada Sakura!" Sasuke membalas penjelasan Sai,

"Namun cinta yang kau punya bukanlah cinta yang tulus. Cinta yang tulus adalah cinta yang mendahului kesenangan pasangannya. Bukan seperti ini!" Sai membantah,

"Apa maksud.."

Pluk!

Sehelai bunga pun jatuh dikepala Sasuke. Dan..

(Sasuke POV)

Apa ini? Kenapa bayangan Sai tiba-tiba saja memudar dan tergantikan oleh beberapa bunga. Dan..

Aku melihat Sakura disana. Sakura yang sedang berlari-lari bebas disebuah taman bunga. Sangat cantik, melebihi kecantikan bunga-bunga disini. Dia tersenyum, senyum yang sangat manis. Senyum yang sangat tulus diantara semua senyum-senyum yang pernah dia berikan padaku.

"Sasuke-kun.." Dia berjalan mendekat, aku merasakan hatiku berdebar-debar sekarang, "Kalau kau benar-benar mencintaiku. Kau pasti ingin aku bahagia kan?" Tanyanya, aku mengangguk, "Maka dari itu, biarkan aku bersama Gaara."

Amarahku naik, badanku menjadi kaku, kepalaku menjadi pusing, dan dadaku terasa sesak. Sakit.. Sakit sekali..

"AAARRRGGGHHH!! AKU TAK AKAN MEMBIARKAN SAKURA BERSAMA GAARA!!" Aku berteriak sambil memejamkan mata. Dan saat aku membuka mataku, aku sudah dapat melihat Sai lagi.

"Aku tak akan membiarkan mereka bersama. Camkan itu!" Dan aku pun berjalan pergi, mencoba menghilangkan semua mimpi tadi. Ya, seperti janjiku, aku tak'kan membiarkan Sakura bersama Gaara. Sakura adalah milikku.

***

(Normal POV)

"Jadi?" Sakura bertanya dengan antusias pada Sai. Sai menggeleng, "Eh?"

"Sakura.. Maaf, aku tak bisa. Dia akan terus merebutmu dari Gaara." Sai berkata dengan perasaan bersalah,

"Hah.. Kupikir kau bisa diandalkan.." Sakura menunduk. Dia sangat kecewa, apapun yang dilakukan teman-temannya, tak ada yang berguna.

Ino menepuk pundak Sakura, "Sai tidak salah." Ino mencoba mendamaikan mereka, "Tapi aku pikir, memang harus Gaara yang memberinya pelajaran." Lanjutnya,

Sakura menatap Ino, "Tapi Gaara tak boleh tahu ini Ino. Aku harus bagaimana?" Sakura membentak Ino sedikit. Dia sangat kecewa dengan semuanya.

"Sa-Sabar Sakura-chan. Aku juga berpikiran sama dengan Ino-chan. Mungkin Gaara akan lebih unggul dari Sasuke." Hinata mengeluarkan suaranya,

"Tapi Gaara tak boleh tahu.."

"Mungkin dia memang harus tahu." Tiba-tiba saja sudah muncul Temari di ambang pintu,

"Temari-nee?" tanya Sakura heran,

Temari mengangguk, "Kalau masalahnya sudah sesulit ini. Gaara memang harus tahu." Temari berjalan mendekati Sakura dan menggenggam tangannya, "Aku akan menemanimu. Yang lain juga akan mendo'akanmu." Semua mengangguk. "Ayo!"

Sakura mengangguk, "A-Ayo!" Dan mereka pun mulai berjalan menuju rumah masing-masing; kecuali Temari yang akan menemani Sakura karena hari sudah larut.

-

TBC

-

Yeeeiy!! Apdet lagi!! Tapi kayaknya aku bakal apdet setiap malem deh! Soalnya pembantuku udah pulang kampung, jadi harus kerja di siang hari dan boleh buka internet di malam hari. Fiuuh… Males banget!!

Mmm…

Review please!!