Title : No, Please…[ END ]

Cast : KaiSoo Couple

Sub-cast : EXO member

Author : Chang

Genre : AU, Romance, Angst, etc.

Length : Chaptered/Series Fic

Rating : T

Disclaimer : FF ini asli buatan saya, hasil pemikiran saya dan tidak menjiplak hasil karya orang lain. Kejadian di cerita adalah AU. FF ini mengandung unsur Male Slash Fic/YAOI/Boy x Boy/Shounen-ai. Gak suka jangan dibaca xD

Sebelumnya…

TAP TAP

TAP TAP

"Kai! Eodiga?" teriak Baekhyun dan Chanyeol bersamaan.

Kai tidak menggubris teriakan kedua namja tersebut. Ia terus berlari mencari keberadaan Kyungsoo dan Luhan. Ia benar-benar khawatir. Khawatir kalau-kalau Kyungsoo akan kembali membencinya. Takut kalau-kalau Luhan mengatakan sesuatu yang membuatnya akan kehilangan namja mungil lagi. Kai benar-benar penasaran kenapa Luhan bisa-bisanya menemui Kyungsoo tanpa sepengetahuannya. Perasaannya tidak tenang saat memikirkan apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Kyungsoo berikutnya.

'Dimana kau, hyung….' batin Kai sambil terus berlari tak tentu arah. Mengedarkan pandangannya ke semua sudut-sudut bangunan nan luas tersebut. Kadang ia berhenti hanya untuk mengembalikan tenaganya dan mengatur nafas lalu kembali berlari mencari keberadaan Kyungsoo dan Luhan.

Chapter 12…..

Kini terlihat dua namja itu sedang berdiri di bagian paling atas bangunan kampus. Hembusan angin kencang membuat rambut kedua namja itu terlihat berserakan ke arah kiri. Keduanya terdiam karena tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Mereka larut pada pikiran masing-masing. Hingga salah satu dari mereka merasa tidak tahan dengan keheningan tersebut.

"Kyungsoo-ssi….."

"Nde…." Jawab namja yang bernama Kyungsoo. Pandangannya kini sepenuhnya pada namja cantik yang memanggilnya.

Luhan sang namja cantik tersenyum manis ke arah Kyungsoo. Namun senyuman itu perlahan pudar dari wajahnya dan tergantikan raut wajah kesedihan. Terlihat genangan air mata berkumpul di pelupuk matanya. Kyungsoo yang melihat hal itu bingung harus berbuat apa.

"Lu…Luhan-ssi….gwenchana? kenapa kau menangis?"

Luhan hanya terisak tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo yang semakin membuat namja itu semakin bingung. Didekatinya namja cantik itu dan tanpa segan-segan memeluk tubuh yang bergetar tersebut.

"Ya….kau kenapa, eoh? Ulljimayo" ucap Kyungsoo mengelus punggung Luhan.

"Hiks…hiks…mi…mian…hiks…aku….aku…."

"Menangislah dulu kalau itu akan membuatmu tenang. Setelah itu baru bicara. Aku bisa menunggu" ucap Kyungsoo sambil tersenyum memeluk Luhan.

Luhan pun terus menangis di pelukan Kyungsoo. Menumpahkan semua rasa sakit yang terus menghujam jantungnya. Memang inilah yang sekarang diperlukan namja cantik itu. Menangis tidak salah bukan?

Kyungsoo dengan setia menjadi sandaran bagi Luhan. Beberapa menit sudah terlewati dan hanya suara isakan kecil Luhan yang terdengar. Tangan kecil Kyungsoo tidak bosan-bosannya menghusap sayang punggung Luhan. Hingga akhirnya Luhan sendiri yang melepas pelukan diantara mereka.

"Sudah lebih baik?" tanya Kyungsoo.

"Ne, gomawo Kyungsoo-ssi. Maaf aku sudah merepotkamu" ucap Luhan lalu menunduk dalam.

"Ani. Aku tidak apa-apa"

"Gomawo…."

"Ya. Berhentilah terus-terusan meminta maaf" ucap Kyungsoo mengajak bercanda namja cantik itu.

"Bicaralah…." kata Kyungsoo lagi.

"Kau bilang mau berbicara padaku tentang sesuatu, kan? Bicaralah, Luhan-ssi"

"…"

Luhan diam. Ia berjalan ke arah pagar pembatas atap gedung tersebut. Dari posisinya berdiri sekarang, Luhan bisa melihat pemandangan taman kampus dibawah sana. Juga beberapa gedung lainnya yang berdiri kokoh dan indah. Luhan menghirup dalam-dalam udara disekitarnya. Kyungsoo yang melihat gerak-gerik Luhan hanya bisa diam di tempatnya. Ia mulai merasakan sesuatu yang tidak enak. Ia tahu apa yang akan dibicarakan Luhan kepadanya. Mungkinkah…

"Jongin….."

Tepat!

Satu kata yang keluar dari mulut Luhan sukses membuat Kyungsoo terpaku. Benar dugaannya kalau arah pembicaraan mereka ada hubungannya dengan Kai, namjachingunya.

Merasa ucapannya tidak digubris, Luhan membalikkan tubuhnya dan memandang Kyungsoo yang juga sedang memandangnya.

"Kyungsoo-ssi, mian…kalau aku sudah mengganggu hubunganmu dengan Jongin. Aku benar-benar tidak tahu kalau kalian punya hubungan yang special….."

Luhan menarik nafasnya lagi. Ia tidak tahu kalau akan sesulit ini menyampaikan hal-hal yang mengganggu pikirannya.

"Aku….masih mencintai Jongin….."

DUARRRR

Bagai disambar petir disiang hari, Kyungsoo kaget luar biasa mendengar penuturan jujur dari Luhan. Matanya yang sudah besar semakin membesar saat telinganya menangkap suara tersebut. Entah kenapa, pikirannya mulai kalut.

"Tujuanku datang dari China hanya untuk bertemu dengannya. Selama ini aku menghabiskan waktu untuk mencari keberadaannya setelah beberapa tahun lalu aku meninggalkannya karena masalah keluargaku"

Kepala Kyungsoo mulai berdenyut mengakibatkan tatapannya mulai berputar-putar. 'Apa Jongin akan memilih Luhan daripada aku?' batinnya berbicara. Dadanya mulai sesak saat membayangkan kalau Kai malah akan meninggalkannya dan kembali bersama Luhan. Jujur saja, kali ini ia ingin sekali saja bersikap egois. Kai hanya miliknya.

"Aku tahu kalau aku sudah keterlaluan karena saat aku pergi tidak memberitahunya dan tak memberikannya kabar sesekali pun. Sampai suatu saat aku malah kehilangan jejaknya…." Luhan terus saja berbicara tanpa menoleh sedikit pun pada Kyungsoo.

"Kau tahu Kyungsoo-ssi….? Aku sangat bahagia saat tahu dia tinggal dimana dan kuliah dimana. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung terbang menemuinya kesini. Aku senang saat melihat reaksinya melihatku kembali" Luhan tersenyum mengingat memori pertama kalinya bertemu Kai setelah selesai pertandingan basket waktu itu.

"Dia memelukku begitu erat. Mungkin dia juga merasakan rindu yang sama dengan yang kualami. Sampai saat aku tahu ternyata dia sudah mempunyai kekasih…" Luhan menunduk sambil memainkan kakinya pada lantai semen atap itu.

"Awalnya aku mengira Kai hanya mencari pelarian saja saat menjalin hubungan dengan seseorang itu….."

Sontak Kyungsoo menatap tajam ke arah Luhan. Menyadari dirinya ditatap, Luhan melanjutkan ucapannya.

"Ternyata dugaanku salah…..baru kali itu aku melihatnya sangat kacau saat ia mendengar kabar kau mengilang. Dia tidak peduli pada apa pun yang penting kau harus ditemukan, Kyungsoo-ssi. Bahkan ia sempat mengabaikan aku….." mata Luhan mulai berkaca-kaca.

"Kau beruntung….." kata Luhan lagi.

Luhan berjalan mendekati Kyungsoo. Diraihnya tangan kedua tangan Kyungsoo dan menggenggamnya erat.

"Kyungsoo-ssi…..mianhae…."

Kerutan di dahi Kyungsoo terlihat jelas menandakan ia bingung akan ucapan namja di depannya. Ia bingung untuk apa Luhan meminta maaf padanya. Namun, ia tidak berniat sekalipun untuk bertanya. Karena ia tahu Luhan akan melanjutkan ucapannya.

"Mian kalau aku egois. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa Jongin disebelahku…..Bisakah kau merelakannya untukku?"

DEG

SRET

Spontan Kyungsoo menarik kedua tangannya dari genggaman Luhan. Membuat Luhan hampir saja limbung kalau ia tidak cepat-cepat menjaga keseimbangannya.

"ANDWE" ucap Kyungsoo.

Luhan hanya tersenyum lemah mendengar jawaban Kyungsoo. Ia sudah memprediksi reaksi Kyungsoo sebelumnya sehingga ia tidak terlalu terkejut. Sedangkan Kyungsoo heran dengan reaksinya barusan. Ia tak menyangka akan berteriak sekeras itu.

"Mian Luhan-ssi, aku tidak bermaksud membentakmu" ucap Kyungsoo.

"Gwenchana….aku hanya….."

"Jebal….." ucapan Kyungsoo memotong kata-kata Luhan.

"Aku mencintai Kai, Luhan-ssi. Aku tidak bisa…mianhae….."

Air mata kini membasahi pipi Kyungsoo. Ia benar-benar tidak bisa memberikan Kai pada siapa pun. Salahkan hatinya yang terlalu mencintai namja Tan itu. Tubuhnya lemas namun sekuat tenaga ia tahan agar tidak terjatuh di lantai.

"Kau tidak perlu meminta maaf, Kyungsoo-ssi. Kalau diantara kita tidak ada yang mau mengalah, terpaksa Jongin sendiri yang harus menentukan pilihannya"

"M…mwo?"

"Ini satu-satunya cara. Siapapun yang ditolak harus berlapang dada meninggalkan Jongin. Apa kau setuju?" ucap Luhan.

"….."

"Kuanggap diammu sebagai persetujuan. Kalau begitu aku pergi dulu, Kyungsoo-ssi" ucap Luhan sembari berjalan melewati Kyungsoo.

TAP

Entah keberanian dari mana, Kyungsoo menahan tangan Luhan sehingga namja itu pun terpaksa menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik menatap Luhan, begitu pun sebaliknya, Kyungsoo mengerahkan keberaniannya untuk berbicara.

"Aku tidak setuju….."

Kyungsoo dapat merasakan badan Luhan membeku di tempat. Namun, ia harus berani mempertahankan haknya sebagai namjachingu Kai. Ia tidak akan membuat Kai memilih antara dirinya dan Luhan.

"Kai sekarang milikku. Namjachinguku! Bukankah itu sudah jelas? Jadi aku tidak mau mengikuti permainan seperti ucapanmu tadi. Perasaan seseorang bukan mainan" ucap Kyungsoo.

"Benarkah? Apa kau pikir hati Jongin benar-benar sepenuhnya untukmu?"

"Ne! aku yakin!" ucap Kyungsoo tegas.

"Lalu kalau kau memang yakin, kau tidak perlu takut, kan?"

"…"

Kembali perasaan Kyungsoo terguncang. Benar ucapan Luhan. Kalau ia memang yakin Kai mencintainya, ia tidak perlu takut bukan mengikuti kata-kata Luhan? Kai pasti akan memilihnya ketimbang Luhan.

"Sampai jumpa lain waktu….."

SRAK

Bukannya melepas tangan Luhan, Kyungsoo justru menarik kuat tangan Luhan hingga wajah mereka berjarak beberapa senti.

"TAK BISAKAH KAU TIDAK MENGGANGGU HUBUNGANKU DENGAN KAI?"

Luhan tercengang mendengar teriakan Kyungsoo. Mata namja mungil itu memerah menahan air mata dan isakannya. Luhan sangat kasihan namun hatinya yang sudah terlalu mencintai Kai memaksanya tak menghiraukan nasib namja di depannya.

"Jebal, jangan…..jangan lakukan itu. Aku tidak bisa tanpa Kai….." akhirnya Kyungsoo menyerah menahan air matanya.

"Mianhae…" sesal Luhan dengan terpaksa.

Hanya itu kata-kata yang mampu diucapkan Luhan. Kali ini ia berbalik dan harus benar-benar pergi dari sini. Tapi tangannya yang digenggam Kyungsoo terlalu kuat membuatnya tidak bisa bergerak pergi.

"Aku…..mencintai Kai…sangat…..hiks…." ucap Kyungsoo menunduk.

"BUKAN HANYA KAU KYUNGSOO! AKU JUGA MENCINTAINYA!"

PLAK

Satu tangan Luhan yang bebas berhasil mengenai kepala Kyungsoo saat akan berbalik menghadap namja mungil itu. Bukan. Itu bukan kesengajaan yang dilakukan Luhan. Ia benar-benar tidak tahu kalau arah layangan tangannya malah akan mengenai kepala Kyungsoo. Ia benar-benar terkejut saat gerakan refleksnya mengenai Kyungsoo.

BRUGH

Tubuh Kyungsoo limbung dan jatuh kelantai. Tubuhnya yang sedari tadi sudah lemas membuatnya tidak bisa bertahan saat menerima gerakan kasar mengenai tubunya.

"Kyungsoo-ssi! Kau kenapa?" Luhan terlihat panik. Ia berjongkok saat ia merasa Kyungsoo tidak bangkit-bangki dari lantai.

"Kyungsoo! Kau kenapa? Jawab aku!" ucap Luhan menepuk-nepuk pipi Kyungsoo.

Tak ada jawaban dari Kyungsoo karena namja mungil itu sudah pingsan sepenuhnya. Luhan yang panik segera berdiri. Ia bingung harus berbuat apa. Ia hendak mengangkat tubuh Kyungsoo namun ia merasa tak sanggup menahan berat tubuh Kyungsoo. Ia pun berlari ke arah pagar pembatas tempatnya tadi berdiri berniat berteriak mencari bantuan orang-orang yang berada di taman bawah kampus. Namun, tak seorang pun berada disana. Maklum memang, keadaan taman belakang kampus itu selalu sunyi orang-orang. Kebanyakan menghabiskan waktu di taman depan kampus.

BRAK

BANGG!

Pintu besi atap kampus itu terbuka tiba-tiba menampakkan wujud Kai dan beberapa orang dibelakangnya. Kai terperangah saat melihat tubuh kecil Kyungsoo tergeletak tak berdaya di lantai. Sesegera mungkin ia berlari kencang ke arah tubuh Kyungsoo yang tergeletak.

"HYUNG!"

Tanpa berlama-lama, Kai segera mengangkat tubuh Kyungsoo dengan mudahnya. Wajah khawatir terlihat di raut wajahnya. Sebelum ia bergerak membawa Kyungsoo pergi, tatapannya bertabrakan dengan Luhan yang juga membeku saat melihat kedatangan Kai. Tatapan Kai yang tajam menusuk langsung ke dalam mata namja cantik itu. Luhan tahu namja Tan itu sangat marah padanya sekarang.

"Jongin….aku….bu…bukan aku yang melakukannya. Tadi…."

TAP TAP

TAP TAP

Tanpa mempedulikan ucapan Luhan selanjutnya, Kai sudah pergi meninggalkan namja cantik itu. Keadaan Kyungsoo lebih menyita pikirannya saat ini. Urusannya dengan Luhan bisa belakangan.

"Sehun-ah! Aku butuh bantuanmu! Antarkan aku ke rumah sakit!" kata Kai saat melewati sahabat-sahabatnya yang masih berdiri diam di dekat pintu.

"SEKARANG SEHUN!"

Sehun yang dari tadi menatap sendu ke arah Luhan terkaget dan segera mengikuti Kai yang sudah berjalan cepat menuruni tangga. Meninggalkan Luhan, Chanyeol dan Baekhyun disana.

"Ayo kita pergi, Yeolli…." ucap Baekhyun menatap sinis ke arah Luhan.

Tak bisa dipungkiri, Baekhyun pun pasti mengira bahwa Luhan penyebab Kyungsoo pingsan karena hanya mereka berdualah yang sedari tadi ada disini. Ia pun menarik tangan Chanyeol yang mengikuti langkahnya meninggalkan Luhan. Sedangkan namjachingunya itu hanya pasrah mengikuti tarikan tangan Baekhyun.

Kini hanya Luhan yang tertinggal dengan tubuhnya semakin merosot ke lantai. Lelehan air mata sudah membasahi kedua pipinya. Tubuhnya semakin menunduk dalam, tangannya meremas dadanya karena sakit luar biasa yang dirasakannya saat ini.

"Hiks…hiks…Appo….." ringisnya.

.

.

.

.

.

Kyungsoo masih belum sadar dari pingsannya sejak tadi siang. Padahal hari sudah gelap menandakan bahwa malam sudah menyapa. Itu berarti sudah lebih dari enam jam namja itu belum membuka matanya. Kai sudah memeriksakan kondisinya ke rumah sakit tempat Lay bekerja namun karena tidak ada masalah serius, Lay menyuruh Kai membawa Kyungsoo kembali kerumahnya. Semenjak membawa Kyungsoo masuk ke kamarnya, Ka tidak barang sedetik pun beranjak meninggalkan Kyungsoo. Ia dengan setia menunggu kekasihnya itu sadar. Tak bosan-bosannya Ia memandangi wajah Kyungsoo yang tertidur damai.

Terlihat Lay memasuki kamar tersebut. Ia menghela nafas dalam dan menggelengkan kepala.

"Baru sehari dia kulepas bersamamu, dia malah datang dengan kondisi seperti ini…." Ucap Lay yang membuat Kai sedikit kaget. Kai pun menegakkan duduknya yang sedari tadi berada di pinggiran tempat tidur Kyungsoo.

"Tadi pagi aku sudah mengirimkanmu pesan agar datang kerumah sakit untuk mengambil obat Kyungsoo. Karena ia kemarin lupa membawa obatnya saat mau kerumahmu, Kai…."

Kai memandang Lay dengan raut kebingungan. Ia tidak merasa menerima pesan tersebut. Ia yakin akan hal itu.

"Ternyata aku baru sadar kalau pesanku gagal terkirim. Pantas kau tidak muncul-muncul…"

"Mian, ini juga kesalahanku. Kyungsoo akan lemah tanpa mengonsumsi obatnya secara teratur. Mungkin inilah alasan kenapa dia pingsan…." Kata Lay panjang lebar.

"Tidak hyung. Ini kesalahan Lu…..ah…andweyo…." kata Kai tidak jadi melanjutkan kata-katanya.

"Ya! Kau ini kebiasaan suka menggantung kalimat…"

Drrtttt….drtttt…..ddrrtttt…..

Ucapan Lay terpotong saat merasakan ponselnya bergetar menandakan pesan masuk. Ia merogoh celana jeansnya untuk mengambil ponsel tersebut dan membacanya.

"Kai….aku harus segera kerumah sakit. Ada urusan mendadak. Hyung mohon jaga Kyungsoo. Kalau ada apa-apa segera beritahu, ne?" ucap Lay terburu-buru dan bergegas meninggalkan kamar.

"Ne, hyung….hati-hati dijalan….."

"Ne…."

Kai masih bisa mendengar saat Lay setengah berteriak dari luar kamar. Tak lama suara mobil terdengar menjauh dari rumah tersebut. Kembali ditatapnya namja mungil yang terbaring lemah di spring bed itu. Kai menggenggam lembut tangan Kyungsoo dan tangan yang satu lagi menghusap pelan dahi Kyungsoo.

"Hyung….apa kau belum puas tidur, eoh?"

Dikecupnya tangan namja itu. Menutup matanya meresapi hangatnya tangan Kyungsoo dan menghirup wangi tubuh namja kecil itu. Saat itulah Kai merasakan pergerakan kecil dari Kyungsoo. Kepala namja kecil itu perlahan bergerak ke kanan lalu ke kiri. Basannya mulai bergerak gelisah meskipun hanya pergerakan pelan. Namun, tak ada tanda-tanda bahwa matanya akan terbuka untuk bangun.

"Hyung, bangunlah….buka matamu, chagi…." bisik Kai dekat ke telinga Kyungsoo.

Kyungsoo sepertinya tidak mendengar ucapan Kai. Matanya tetap tertutup rapat tetapi tidurnya terus gelisah. Dahi dan lehernya mulai dibanjiri keringat. Entah apa yang sedang terjadi namun Kai bisa menyimpulkan bahwa kekasihnya itu pasti sedang bermimpi. Mimpi buruk hingga mmebuat tidur tenangnya tadi berubah menjadi gelisah begini.

"Hyung, bangunlah….kau bermimpi, eoh? Jangan takut aku disini, hyung…" ucap Kai berbisik lagi ke telingan namja itu.

Kepala Kyungsoo tanpa henti terus bergerak ke arah kanan dan kiri. Nafasnya sedikit terengah-engah. Kai merasakan tangannya digenggam kuat oleh tangan Kyungsoo. Melihat kondisi kekasihnya seperti itu, pastilah Kai sangat khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

'Hyung mohon jaga Kyungsoo. Kalau ada apa-apa segera beritahu, ne?' Kai teringat pesan Lay. Segera ia mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Lay. Jari-jarinya bergerak terburu-buru mencari contact name di daftar nomor teleponnya.

"Jangan….jangan ambil dia dariku….jebal….." Kyungsoo mengigau dalam tidurnya.

Saat mendengar suara Kyungsoo, Kai membatalkan niatnya untuk menghubungi Lay, segera digenggamnya kuat tangan Kyungsoo dan membelai sayang kepala namja mungil tersebut. Berharap dengan sentuhannya Kyungsoo bisa sedikit tenang.

"Andwe. Dia milikku! Janganhh….."

Bukannya tenang, Kyungsoo semakin sering merancau dan tak satu kalimat pun yang dimengerti oleh Kai. Ia sudah berulang kali membangunkan Kyungsoo namun terus gagal. Ia benar-benar khawatir.

"Hyung, kau harus bangun….."

"Hiks….jebal….jangan ambil dia dariku….aku mohon….hiks…."

"Hyung….kau kenapa? Ulljima…itu hanya mimpi chagi. Bangunlah…."

"Hikss…hikss…." Isak Kyungsoo masih dalam alam mimpinya.

"Astaga. Jangan buat aku khawatir, hyung. Ayo bangun…."

"Jebal…jangan…jangan….hiks….ANDWE!"

Tiba-tiba Kyungsoo terbangun dan langsung pada posisi duduk. Kai pun langsung duduk di depan namja mungil tersebut. Lalu Kai memegang kedua bahu Kyungsoo berupaya menopang tubuh kecil karena sepertinya Kyungsoo masih setengah sadar. Kai bisa melihat keringat sudah membasahi kemeja biru muda milik kekasihnya itu. Nafasnya memburu seperti habis berlari marathon, terlihat jelas dari kedua bahunya yang naik turun dengan cepat.

"Tenang, hyung…..itu hanya mimpi. Jangan takut, ne?" ucap Kai sambil menyingkirkan rambut yang basah karena keringat dari dahi Kyungsoo.

Kyungsoo yang awalnya menunduk mulai mengangkat kepalanya. Mata Kyungsoo menatap langsung ke mata Kai. Dari sorot matanya saja, Kai bisa tahu kalau kekasihnya itu sedang kalut. Ia tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikiran Kyungsoo sekarang. Ia akan mencari tahunya kalau keadaan Kyungsoo benar-benar sudah tenang.

BUGH

Kai kaget saat secara tiba-tiba Kyungsoo memeluknya tubuhnya. Pelukan itu sangat erat membuat Kai mulai merasakan sesak. Namun, Kai menahan rasa sesaknya dan balas mendekap tubuh mungil itu. Ia menyadari kalau saat ini Kyungsoo sangat membutuhkannya. Tangan Kai mengelus punggung Kyungsoo dan sepertinya gerakan lembut itu mampu membuat Kyungsoo mulai tenang.

"Jangan tinggalkan aku, Kai….."

Otomatis gerakan tangan Kai berhenti saat mendengar ucapan Kyungsoo barusan. Ia pun segera mendorong pelan tubuh Kyungsoo hingga pelukan mereka terlepas. Ditatapnya wajah Kyungsoo. Kerutan di dahinya terlihat jelas karena tidak mengerti maksud dari ucapan kekasihnya itu.

"Aku akan selalu bersamamu, hyung. Kenapa bisa kau mengatakan begitu…?"

"Pokoknya kau tidak boleh pergi, ne? jebal…Kai" ucap Kyungsoo memohon. Matanya mulai memerah menahan tangis.

"Ya! Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan kau tahu itu. Sudah. Jangan pikirkan mimpi itu. Ini pasti karena mimpimu tadi, eoh?"

Kyungsoo menggeleng lemah. Ia ingin sekali mengatakan semua pembicaraannya dengan Luhan tadi siang kepada Kai. Namun ia takut kalau Kai akan menjatuhkan pilihannya pada Luhan, bukan pada dirinya.

"Apa ini ada hubungannya dengan Luhan? Apa dia mengatakan sesuatu padamu, hyung?" tanya Kai saat teringat kembali tentang kejadian tadi siang. Ia baru sadar bahwa perilaku Kyungsoo mulai aneh semenjak ia bertemu dengan Luhan.

Lagi-lagi Kyungsoo menggeleng kuat. Kai menghembuskan nafas lega. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo.

"Dengar hyung….apa pun yang dikatakan Luhan, kau harus percaya bahwa aku hanya mencintaimu. Dia hanya masa laluku. Walaupun kemarin aku senang saat melihatnya kembali, tapi bukan berarti aku akan kembali padanya seperti dulu. Sekarang hidupku adalah dirimu, hyung…." Ucap Kai sambil kedua tangannya menangkup pipi Kyungsoo agar namja itu memfokuskan tatapan saat ia menjelaskan.

Kyungsoo mengangguk ragu. Matanya menyiratkan bahwa ia belum sepenuhnya percaya pada Kai. Namun saat melihat tak ada kebohongan yang tersirat dari mata Kai, ia mulai mengangguk mantap dan tersenyum.

"Gomawo, hyung…."

CUP

Kai mengecup kilat bibir Kyungsoo dan mendapati pipi namja mungil itu bersemu merah. Karena gemas, Kai mengusak rambut Kyungsoo sambil tersenyum.

"Ah! Boleh aku bertanya, hyung?"

"Apa?"

"Aaa….apa ya? Ani…tidak jadi…."

"Ya! Ck….."

"Hahahaha…..kau sangat lucu dengan bibir manyun seperti itu hyung" Kai tertawa lepas saat melihat Kyungsoo mem-pout-kan bibirnya karena kesal.

Ya. Kai awalnya ingin bertanya tentang pertemuan Kyungsoo dengan Luhan tadi siang. Namun saat ia menyadari bahwa Kyungsoo baru sadar dari pingsannya, kembali ia urungkan niatnya tersebut dan mengalihkannya ke topik lain. Ia takut kalau Kyungsoo akan kembali muram saat mengingat kejadian tersebut. Kai bisa merasakan bahwa ada yang disembunyikan oleh Kyungsoo darinya.

'Akan aku tanyakan langsung pada Luhan besok' batin Kai.

"Kai…KAI…"

"Ah…kau butuh sesuatu, hyung?" ucap Kai cepat saat sadar dari lamunannya.

"Kau kenapa tiba-tiba melamun? Aku tanya apa Lay hyung belum pulang kerja?"

"Oh…dia tadi ada urusan mendadak ke rumah sakit, jadi dia kembali lagi kesana. Dia menyuruhku untuk menjagamu disini"

Kyungsoo mengangguk-angguk lucu. Kemudian ia menyingkirkan selimut yang masing menutup setengah badannya lalu bergerak menuruni tempat tidur.

"Mau kemana?" tanya Kai.

"Eoh, Gerah sekali. Aku mau mandi dulu, Kai…."

Namun baru beberapa langkah, Kyungsoo hampir jatuh karena belum sepenuhnya bisa mempertahankan keseimbangannya. Untung saja Kai cekatan dalam bergerak sebelum tubuh mungil itu berhasil menyentuh marmer dingin tersebut.

"Ya! Jangan banyak bergerak dulu, hyung. Mandinya bisa besok saja, eoh?" ucap Kai posesif.

"Aku tidak nyaman kalau begini, Kai…"

"Ck, baiklah….kau boleh mandi asalkan bersamaku" ucap Kai lalu mengangkat tubuh Kyungsoo ke dalam kamar mandi dikamar itu.

"Ya! Turunkan aku, Kai. Aku tahu kau mencari kesempatan! KAI" Kyungsoo meronta-ronta namun tetap saja merangkulkan tangannya pada leher namja Tan itu. Saat itu pula Kai mengeluarkan seringaiannya.

.

.

.

.

.

Hujan dengan derasnya mengguyur kota Seoul. Setelah mengantarkan Kyungsoo ke rumah Lay, Kai langsung menuju rumahnya. Entah kenapa ia merasa lelah setelah mengikuti perkuliahan hari ini dan berjalan-jalan dengan Kyungsoo sampai malam hari. Namja Tan itu baru saja akan membaringkan tubuhnya ke tempat tidurnya saat ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Dengan malas-malasan, ia merogoh sakunya dan membuka pesan tersebut. Seketika itu pula Kai langsung bangkit dan terduduk di atas tempat tidurnya. Nafasnya kian memburu saat tangannya tersebut sibuk membalas pesan itu. Tidak perlu menunggu lama saat ponsel itu kembali bergetar menandakan pesannya telah dibalas.

From: Luhan

Aku sudah di depan pintu rumahmu. Aku ingin bertemu denganmu.

Tanpa aba-aba Kai langsung melesat ke depan rumahnya dan benar saja Luhan, namja cantik itu sudah ada di depan rumahnya dalam keadaan basah kuyup. Melihat Kai di depannya, Luhan pun langsung menangis sesenggukan. Ingin rasanya ia memeluk tubuh atletis Kai. Namun, niat itu ia urungkan saat melihat tatapan tajam Kai padanya. Ia tidak ingat kapan Kai menarik tangannya dan kini ia sudah berada di ruang tamu dan di dudukan di sofa diruangan tersebut. Ia bisa melihat Kai berjalan masuk ke kamarnya dan keluar dengan satu buah handuk kering dan diberikan padanya. Luhan menerima handuk tersebut dan mengeringkan sendiri rambutnya. Saat melakukan aktifitas itulah, ia dapat merasakan tatapan Kai tak pernah lepas darinya. Apakah Luhan harus senang karena Kai tak pernah lepas menatapnya? Tidak. Luhan bisa merasakan tatapan Kai saat ini bukan tatapan yang seperti dulu. Bukan tatapan rindu dan sayang saat mereka akhirnya bisa bertemu lagi. Namun, tatapan dingin yang meminta penjelasan. Entahlah. Setidaknya itulah yang dirasakan Luhan.

"Baguslah kau sudah ada disini. Aku memang berencana ingin menemuimu…" ucap Kai membuka suara setelah keheningan menyergap diantara mereka sedari tadi.

Luhan mengangkat kepalanya, "Benarkah?" tatapannya kini berubah cerah.

"Ne, aku ingin meminta penjelasan tentang kejadian kemarin saat kau bersama Kyungsoo…." Kata Kai dengan tatapan datarnya.

Seketika itu pula wajah Luhan kembali muram. Ia kembali menundukkan wajahnya dan lelehan air mata terlihat jelas membasahi kedua pipinya. Ia tahu bahwa Kai lebih memilih Kyungsoo ketimbang dirinya. Hatinya terasa sangat sakit mengingat namja tampan itu sudah menyisihkan dirinya dari hati yang dulu selalu dirajai olehnya.

"Hikss…hikss…mianhae. A…Aku memang salah, Kai. Tapi kau harus percaya kalau bukan aku yang membuat Kyungsoo pingsan….." ucap Luhan bersamaan dengan isakannya.

Melihat kondisi Luhan sekarang, membuat Kai merasa tidak tega. Ia pun bergerak mendekati Luhan dan membawa tubuh basah itu kedalam dekapannya. Dihusapnya punggung kecil Luhan untuk menenangkannya. Bukannya tenang, Luhan malah semakin terisak dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Kai.

"Hikss…sebenarnya aku tidak sengaja membuatnya pingsan. Maafkan aku, Kai….hiks…"

Kai bisa merasakan tubuhnya basah akibat memeluk tubuh basah Luhan ditambah air mata Luhan yang membasahi kaosnya.

"Tenanglah….jangan menangis lagi. Aku percaya…."

.

.

.

.

.

Di tengah guyuran hujan tersebut, mobil yang dikemudikan Sehun melaju dengan kencangnya. Sesekali terlihat namja kurus itu mengupat kesal dan memukul stirnya. Ia baru saja menenggelamkan dirinya diantara selimut tebalnya saat Kai menelepon dan menyuruhnya untuk datang sesegera mungkin. Saat Sehun akan berbicara berniat menolak, dengan sadisnya Kai memutuskan sambungan telepon tersebut. Dengan terpaksa Sehun pun bergerak walaupun selama diperjalanan mulutnya tidak berhenti komat-kamit. Lihat saja, ia bahkan belum sempat memakai jacketnya padahal udara sangatlah dingin.

"Awas saja kau, Kai….grrrr….." geram Sehun tidak henti-hentinya.

Mata Sehun tanpa sengaja melihat sosok kecil yang dikenalnya sedang berjalan memakai payung. Setelah merasa yakin dengan apa yang dilihatnya, Sehun menghentikan mobilnya secara perlahan sampai benda bergerak itu tepat berhenti di samping tubuh kecil tersebut.

"Kyungsoo-ah, kau sedang apa disini, eoh?" ucap Sehun setelah menurunkan kaca mobilnya.

"Sehun? Aku mau ke rumah Kai. kau mau kemana?" tanya Kyungsoo kemudian.

"Cepat masuk…" kata Sehun sedikit berteriak mengingat suara hujan yang hampir menelan suaranya.

Kyungsoo hanya mengangguk dan mengikuti kata-kata Sehun. Kini ia sudah berada di dalam mobil Sehun yang mulai menjalankan mobilnya kembali.

"Kenapa kau ada disini? Bukankah kau tinggal bersama Kai?" Sehun mengerutkan keningnya pertanda bingung.

"Iya, tapi untuk beberapa saat aku akan tinggal bersama Lay, hyungnya Kai…."

"Oh…lalu kenapa kau keluar malam-malam begini….?"

"Aku takut dirumah sendiri. Lay hyung belum kembali dari tempat kerjanya…." Kata Kyungsoo memandang keluar hujan yang semakin deras kadang disertai kilat.

"Bukannya suasana luar saat hujan begini lebih menakutkan daripada dirumah" gumam Sehun.

"Apa kau juga akan ke rumah Kai?" kini Kyungsoo yang bertanya.

"Ne, dia tadi meneleponku untuk segera kesana. Tapi saat aku mau bertanya untuk apa, dia sudah menutup teleponnya. Dasar bocah hitam itu…" Sehun mulai kesal lagi mengingat kejadian itu.

Kyungsoo pun dibuat bingung karena ucapan Sehun barusan. Ia bertanya-tanya kenapa Kai menelepon Sehun. Dari ucapan namja kurus disebelahnya, Kai sepertinya sangat terburu-buru. Setelah tidak ada lagi yang berbicara, beberapa menit kemudian mereka pun sampai pada tujuan mereka. Sehun langsung keluar memakai payung dan berlari menuju pintu mobil sebelahnya lagi untuk Kyungsoo. Mereka pun berjalan bersama-sama masuk ke rumah Kai.

"Eoh, kenapa pintunya masih terbuka? Ini kan sudah ma…"

Belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya, Kyungsoo sudah berlari duluan mengabaikan hujan yang mengenai tubuhnya. Namja kecil itu khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Kai. Namun, sesampainya ia di ambang pintu, tubuhnya membeku di tempat. Pemandangan itu membuatnya sakit. Hatinya seperti ditusuk dengan benda tajam. Sangat sakit. Badannya melemas. Kalau saja Sehun tidak langsung tanggap dan menahan tubuh kecil itu, Kyungsoo pasti sudah terjatuh. Merasakan ada suara berisik, Kai mengalihkan pandangannya. Saat itulah, dengan gerakan refleks, ia melepas pelukannya pada tubuh Luhan yang sudah tertidur dibahunya.

"Hyung….."

Luhan terbangun dari tidurnya dan tidak perlu waktu lama untuknya bereaksi seperti yang dilakukan Kai. Namja cantik itu tergagap dan salah tingkah. Ia merasa tidak enak hati.

"Kyungsoo-ssi….ini…." kata Luhan bersuara.

BUGH

BRAK

TAP TAP

TAP TAP

Kyungsoo melepaskan dirinya dari Sehun yang sedari tadi menopang dirinya. Dihempaskannya tubuh Sehun hingga bersentuhan kasar dengan pintu kayu jati tersebut. Secepat kilat pula namja itu berlari keluar. Menerobos hujan sambil menangis ditengah hujan. Tak dipedulikan dinginnya udara yang bisa membuatnya mati kedinginan.

"HYUNG!"

Kai sekuat tenaga mengejar kekasihnya itu. Pikirannya mulai kalut. Ia tidak menyangka Kyungsoo malah memergokinya dalam keadaan yang tak seharusnya. Ia bersumpah bahwa dirinya benar-benar bodoh sekarang. Membiarkan namja yang sangat dicintainya terus tersakiti dan menangis.

GREB

"Hyung! Dengarkan penjelasanku….."

PLAK

Satu tamparan sukses melayang ke pipi kiri Kai. Sedangkan tangan Kyungsoo yang baru saja menampar wajah Kai tersebut mulai bergetar. Ingin rasanya namja mungil itu memukuli Kai sampai babak belur untuk melampiaskan kemarahan serta kekecewaannya. Namun, tak bisa dipungkirinya pula bahwa ia tidak sanggup melakukannya. Ia terlalu mencintai namja Tan itu. Akhirnya ia hanya bisa menangis dengan hujan yang menyamarkan air matanya. Bahkan matanya sudah memerah.

"Aku membencimu, Kai….hiksss…." mata merahnya menatap Kai.

"Lepas….." ucap Kyungsoo mulai berontak.

Bukannya melepaskan tangan namja kecil itu, Kai malah semakin mengeratkan genggamannya, membuat Kyungsoo meringis kesakitan. Tetapi Kyungsoo pantang menyerah. Ia terus saja menarik paksa tangannya agar terlepas.

"Hyung, jebal….dengarkan penjelasanku dulu. Yang kau lihat tadi bukan seperti apa yang kau pikirkan…."

"Aku tidak mau dengar, Kai!" teriak Kyungsoo masih dengan gerakan memberontaknya. Air mata itu tidak henti-hentinya mengalir dari mata besarnya.

"Luhan sudah menjelaskan semuanya. Aku sudah tahu apa yang kalian bicarakan waktu itu, hyung…."

Hening…..

Kyungsoo tidak lagi berontak minta tangannya dilepaskan. Mendengar ucapan Kai barusan, memaksanya untuk menatap mata namja Tan itu. Berusaha mencari penjelasan selanjutnya. Kai sepertinya sadar dan ia pun melanjutkan ucapannya.

"Aku tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya, hyung. Percayalah….." kini tangan besar Kai memegang kedua bahu Kyungsoo berusaha meyakinkannya.

"Dan….untuk tantangan yang diberikan Luhan padamu….tentang siapa yang akan kupilih, kurasa aku tidak perlu menjawabnya, hyung. Kau sudah tahu pilihanku jatuh pada siapa….." ucap Kai menatap dalam mata besar Kyungsoo.

Kyungsoo mulai terisak lagi. Namun Kai segera menghapus air mata yang bercampur air hujan itu dari wajah Kyungsoo.

"Saranghae Do Kyungsoo…" kata Kai.

CHUP

Belum sempat namja kecil itu merespon ucapan Kai barusan, ia harus dikejutkan lagi dengan ciuman tiba-tiba dari Kai. Dapat dirasakannya, bibir Kai melumat lembut bibirnya yang mungkin sudah membiru karena kedinginan. Ia juga bisa merasakan tubuhnya yang tadi kedinginan mulai merasakan hangat. Padahal namja di depannya itu hanya menciumnya. Perlahan, Kyungsoo larut dalam kelembutan ciuman itu pun menutup kedua matanya. Meresapi kehangatan yang disalurkan oleh Kai.

Tangan besar yang tadinya menangkup wajah Kyungsoo itu perlahan pindah dan kini berada di pinggang ramping namja kecil itu. Sedangkan tangannya yang satu lagi berada di belakang kepalanya untuk menarik dan memperdalam ciuman mereka. Entah dari kapan, tangan mungil Kyungsoo pun sudah mengalung di leher namja tampan itu. Ciuman hangat tanpa nafsu itu terus berlanjut hingga mereka tak menyadari ada yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

Luhan

Namja cantik itu berusaha tegar melihat adegan mesra di depannya. Berusaha tersenyum dibawah guyuran hujan yang entah kapan akan berhenti. Badannya sedari tadi sudah menggigil namun sengaja ia abaikan. Kemudian ia merasakan seseorang memayunginya dari belakang. Perlahan ia membalikkan tubuhnya dan memandang siapa yang berada dibelakangnya.

"Kalau kau butuh sandaran, aku selalu siap Luhan….." ucap namja yang sekarang ditatapnya.

"Sehun….." lirih Luhan dengan badan menggigil.

GREB

Luhan tidak sanggup lagi untuk melawan ataupun menolak tarikan Sehun yang membawanya kedalam pelukan namja kurus itu. Tubuhnya benar-benar lelah luar biasa. Bahkan bukan hanya tubuhnya tapi juga hatinya. Ia hanya pasrah, lagi pula ia merasa nyaman berada di pelukan Sehun. Ia mendapatkan dirinya tersenyum dibalik dada bidang Sehun saat merasakan tubuh hangat itu.

"Gomawo…"

Mendengar suara tulus Luhan, namja itu pun semakin mempererat pelukannya. Ia tahu bahwa namja cantik itu sangat membutuhkan seseorang yang akan selalu berada disampingnya. Sehun berjanji bahwa ia akan membuat namja cantik itu melupakan semuanya dan hanya mengingat dirinya…..yang kini….mungkin…..mulai mencintai seorang Xi Luhan.

.

.

.

.

.

Dua namja itu hanya diam memandangi namja mungil yang kini sudah tertidur pulas didalam gulungan hangat selimut tebalnya. Wajah tidurnya yang damai mampu membuat siapa pun yang melihatnya akan tersenyum. Jangan salahkan Kai yang kini selalu mengelus sayang pipi namja yang tidur itu.

"Dia pasti sudah sangat lelah….." Lay membuka suaranya.

"Hmmm….aku selalu membuatnya begini, hyung. Mian….." ucap Kai memandang ke arah Lay.

"Kalau kau memang tidak heran…." Lay mengusak rambut Kai gemas.

"Asalkan kau berjanji pada hyung kalau kau akan selalu menjaganya sampai kedepannya. Arrachi?"

"Ne! Ah hyung! Apa kau mau membantuku?" ucap Kai bersemangat.

"Ck, ulah apa lagi yang akan kau buat, eoh?"

"Ayolah hyung…bantu aku kali ini saja" ucap Kai dengan wajah memelasnya. Mau tidak mau, Lay pun luluh juga.

"Arra…." Ucap Lay sambil menghela nafasnya. Berharap dongsaengnya itu tidak meminta yang macam-macam saja.

.

.

.

.

.

Namja mungil itu terlihat tidak bersemangat hari ini. Lihatlah dari caranya berjalan. Ia akan menendang benda apa pun di depannya saat berjalan. Entah kenapa moodnya sangat buruk hari ini. Bagaimana tidak kesal, mendapati dirinya hanya sendirian seharian ini saat dikampus. Kekasihnya mengiriminya pesan tidak masuk kuliah dikarenakan ada urusan yang entah apa, namja mungil itu pun tidak tahu. Bahkan sahabat-sahabatnya seperti Baekhyun, Chanyeol dan Sehun juga tidak hadir hari ini. Alhasil, ia pun pulang seorang diri. Berjalan di tengah senja yang indah. Namun, sayang keindahan itu tak bisa dirasakan namja mungil itu karena larut dengan kekesalannya.

Hingga tibalah ia di depan rumah yang sudah beberapa minggu ini dia tempati. Rumah milik Lay. Ia mengerutkan keningnya bingung saat mendapati mobil Lay sudah terparkir di halaman rumah. Padahal biasanya Lay akan pulang kalau hari sudah gelap. Masih dengan kebingungannya, namja mungil itu memasuki rumah dan mendapati Lay sedang duduk sambil memainkan ipadnya.

"Hyung….."

"Ah…Kyungsoo-ah, kau sudah pulang?" Lay mengalihkan tatapan dari ipad miliknya.

"Hyung hari ini cepat pulang?"

"Ne, ada dokter lain yang menggantikanku di rumah sakit jadi aku bisa pulang lebih cepat…" ucap Lay sambil memamerkan senyum manisnya.

"Eoh…aku ke kamar dulu, hyung…." ucap Kyungsoo dengan suara datarnya.

"Kyungsoo-ah, bersiap-siaplah…..nanti malam aku akan mengajakmu jalan-jalan. Jarang-jarang, kan hyung punya waktu luang begini. Kau mau, kan menemani?" kata Lay saat melihat Kyungsoo sudah berjalan menjauhinya.

Kyungsoo diam menatap Lay. Ia bingung mau menjawab apa. Jujur, saat ini dia tidak bersemangat dalam melakukan apa pun.

"Hyung mohon….."

Tak tega menolak permintaan Lay yang selama ini sudah terlalu baik padanya, Kyungsoo pun mengangguk dan langsung dibarengi reaksi sumringah Lay dari tempat duduknya.

"Kalau begitu aku siap-siap dulu, hyung…."

"Ne….."

Kyungsoo tidak tahu sejak kapan Lay sudah menyunggingkan senyumnya yang penuh arti.

.

.

.

.

.

"Hyung, apa ada kabar dari Kai? Sehari ini dia tidak masuk kuliah…." Kata Kyungsoo membuka suara saat mereka sudah berada di perjalanan.

"Benarkah? Ah…mungkin saja dia ada urusan dengan temannya…." jawab Lay seadanya dengan tatapannya tetap fokus ke depan.

"Apa dia tidak mengabarimu?" ucap Lay balik bertanya.

"Dia hanya mengirimkan pesan. Katanya ada urusan tapi dia tidak memberitahuku urusan apa, hyung….."

"Itu saja?" Lay menolehkan wajahnya menghadap ke Kyungsoo.

Kyungsoo balas mengangguk. Sedangkan Lay seperti berpikir sesuatu sampai akhirnya ia hanya bisa mengedikkan bahu tanda tidak tahu. Kyungsoo menghela nafas gusar. Ia benar-benar penasaran apa yang dilakukan Kai sekarang ini dan sedang berada dimana namja Tan itu. Ia sudah berulang kali menghubungi nomor kekasihnya itu namun selalu mailbox.

"Sudah jangan bersedih, nanti dia pasti menghubungimu. Sekarang kita akan bersenang-senang…..Disini…." saat Lay mengakhiri ucapannya persis saat ia memberhentikan mobilnya di suatu tempat yang tak asing bagi Kyungsoo.

"Taman bermain?" tanya Kyungsoo heran dan hanya dibalas anggukan semangat Lay.

"Kajja kita keluar…"

Kyungsoo hanya mengikuti langkah Lay yang membawanya masuk ke dalam taman bermain tersebut. Ia semakin bingung saat mendapati taman tersebut sunyi pengunjung. Namun, ia urungkan niatnya untuk bertanya pada Lay. Ia lebih memilih diam dan mengikuti kemana Lay berjalan. Ia memandangi wajah Lay yang tidak berhenti tersenyum sambil memandang semua permainan-permainan yang tak satu pun beroperasi itu. 'Apa Lay hyung belum pernah ketempat seperti ini sampai-sampai dia kesenangan seperti sekarang?' batin Kyungsoo. Namun, tak bisa dipungkirinya, Ia pun tersenyum saat melihat wajah Lay yang biasanya selalu serius itu saat ini menunjukkan sisi lainnya yang ceria.

"Aissshh…sepertinya hyung lupa mengunci mobil. Kau tunggu sebentar disini, ne? ingat jangan kemana-mana" perintah Lay lalu segera berlari meninggalkan Kyungsoo yang terbengong.

Kini Kyungsoo sendirian berada di taman bermain tersebut. Perlahan, rasa takut mulai menyergapnya. Bagaimana tidak, taman tersebut terlihat gelap karena memang tidak sedang beroperasi. Ingin rasanya ia pergi meninggalkan tempat itu kalau saja ia tidak ingat ucapan Lay yang mengatakan jangan kemana-mana.

"Lay hyung kenapa lama sekali, eoh…." Lirih Kyungsoo.

Matanya kini menelusuri semua sudut-sudut taman bermain tersebut. Berjaga-jaga siapa tahu ada orang-orang jahat yang siap mencelakainya. Namun, tak ada hal yang mencurigakan dirasanya.

"Huffttt….." Kyungsoo menghembuskan nafas leganya meskipun masih tersisa sedikit rasa takut dihatinya.

SREK

TAP

"Mhhhpppfffttt…."

"YAK! LEPASKAN AKU Hmmmmpphhtt….."

Kyungsoo memberontak saat merasakan seseorang menyergapnya tiba-tiba dari belakang. Tetapi gerakannya kalah kuat dengan orang yang kini sudah menutup mata dan mulutnya. Kyungsoo mulai panik sekarang. Ingin rasanya ia berteriak namun apa daya karena mulutnya sudah ditutup paksa oleh orang tersebut. Ia juga tidak bisa melihat siapa pelakunya karena matanya telah ditutup dengan tangan orang tersebut. Percuma ia memberontak minta dilepaskan karena itu hanya akan berakhir sia-sia.

"Saranghae Do Kyungsoo….." bisik seseorang itu yang masih berada dibelakang Kyungsoo. Berbisik tepat ditelinganya.

Tubuh Kyungsoo membeku ditempat. Tak lama ia pun merasakan bibir dingin seseorang itu menyentuh kulit lehernya. Ya, seseorang itu kini menciumi tengkuk belakangnya. Namun, buka ciuman itu yang membuatnya membeku. Melainkan suara yang menyebutkan namanya tersebut.

Tak ada niat Kyungsoo untuk kembali memberontak meskipun kini tangan seseorang tersebut tidak lagi menutup mulut dan matanya. Bahkan namja mungil itu tetap memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan dan pelukan yang diberikan orang itu padanya.

"Buka matamu, hyung….." suara itu kini terdengar dari arah depannya.

Mata Kyungsoo terbuka secara perlahan. Dapat jelas dilihatnya namja Tan itu tengah tersenyum mamnis kearahnya. Kyungsoo menatap Kai, namjachingunya dalam diam. Tidak tahu mau bereaksi seperti apa. Ia benar-benar bingung apa maksud Kai melakukan ini semua. Tidak perlu menunggu lama, namja mungil itu akan mengetahui jawabannya.

Kai mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sesuatu yang berkilau dan berbentuk bulat. Kemudian namja Tan itu berjongkok di hadapan Kyungsoo sambil satu tangannya terangkat memegang benda yang ternyata adalah cincin tersebut.

"Maukah kau menikah denganku, hyung?"

Ucapan yang meluncur dari mulut Kai berhasil membuat bulir-bulir bening jatuh dari mata Kyungsoo.

"Kai….."

Hanya kata itu yang sanggup diucapkan Kyungsoo. Ia membekap mulutnya sendiri karena terharu atas usaha Kai dalam melamarnya. Isakannya masih terdengar jelas. Mata Kai memandang kearahnya dengan lembutnya. Setia menunggu jawaban apa yang akan diberikan Kyungsoo.

Namja mungil itu membenarkan posisinya. Tangan mungilnya tak lagi membekap mulutnya. Ia tahan rasa harunya agar air mata itu segera berhenti. Lalu ia pun menarik dalam-dalam udara malam disekitarnya. Menutup matanya perlahan…..

"Ne, aku mau. Aku bersedia menikah denganmu, Kai….."

Mendengar ucapan final dari Kyungsoo, Kai pun segera bangkit dari posisinya dan segera memeluk erat tubuh mungil itu. Rasa bahagia terlihat jelas dari wajah tampan Kai. Bukan hanya dia, Kyungsoo pun merasakan hal yang sama. Kedua insan itu pun saling memeluk dengan eratnya. Meluapkan semua rasa cinta yang selama ini dirasakan.

Kai melepas pelukannya dan menggapai tangan kiri Kyungsoo untuk meresmikan bahwa ia sudah melamar kekasihnya itu. Ia memasukan cincin yang sedari tadi dipegangnya dan memasukannya ke jari manis namja mungil itu. Cincin itu terlihat pas dijari kecil Kyungsoo.

"Gomawo Kai….."

Kai bisa melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata besar Kyungsoo. Tanpa berpikir segera diraupnya bibir tebal Kyungsoo. Melumatnya lembut untuk menyalurkan rasa cintanya. Ia dapat merasakan Kyungsoo membalas ciumannya. Ditengah aktifitas mencium tersebut, Kai menarik tubuh Kyungsoo semakin mendekat kearahnya. Hingga tak ada jarak sesenti pun antara dua badan tersebut.

BUM

CRIINGGGG

Ciuman itu terlepas saat mereka dikejutkan dengan menyalanya lampu-lampu di taman bermain tersebut. Nyala lampu warna-warni itu membuat suasana malam menjadi indah menambah kesan romantis diantara Kai dan Kyungsoo.

"Whoaaaahhh….indah sekali, Kai…..!" kata Kyungsoo berteriak sanking kesenangannya. Matanya masih setia memandang dengan pesona gemerlap lampu-lampu indah disekitarnya.

"KAU SUKA?"

"Baekki? Yeolli? Sehun? Lay Hyung?" kata Kyungsoo mengabsen satu per satu manusia yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.

"Yak! Hentikan membesarkan mata yang sudah besar itu!" ucap Baekhyun sambil berjalan kearah Kyungsoo.

"Kami semua mempersiapkan ini semua untukmu, Kyungsoo-ah….." kata Lay akhirnya membocorkan semua rencana mereka.

"Jeongmal? Gomawo….." tanpa terasa cairan bening itu kembali tumpah membasahi pipinya.

"Dasar cengeng…." Kai mengusap air mata Kyungsoo.

"Aku mencintai kalian semua. Gomawo Baekki, Chanyeol, Sehun…Lay hyung…."

"Ne….kami sangat senang akhirnya kalian bersatu…." ucap Chanyeol menatap Kai dan Kyungsoo penuh arti.

"Berjanjilah kalian akan selalu bersama sampai kapan pun…." kata Lay

Kyungsoo dan Kai mengangguk bersamaan lalu saling menggenggamkan tangan mereka satu sama lain.

"Ah! Acaranya sudah selesai, kan? Kalau begitu aku pergi ne?" Sehun yang sedari tadi hanya memperhatikan kini bersuara. Tanpa menunggu jawaban dari mereka semua, ia sudah berjalan menjauh.

"Yak! Sehun-ah, kau mau kemana?" teriak Kai.

"Melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan!" teriak Sehun sejenak membalikkan badannya kemudian berbalik lagi melanjutkan jalannya. Bahkan setengah berlari.

Kelima namja itu memandang cengo kepergian Sehun. Benar-benar bingung maksud perkataan namja kurus itu barusan.

"FIGHTING SEHUN-AH!"

Kyungsoo berteriak kencang mengingat Sehun yang semakin menjauh. Kyungsoo tidak tahu kenapa ia mengucapkan kata-kata itu, namun yang pasti ia hanya ingin mendukung apa pun yang dilakukan sahabatnya itu. Senyuman manisnya tak lepas memandang Sehun yang terus berjalan dan akhirnya hilang dibalik gerbang taman bermain tersebut.

EPILOG

"Aku akan marah kalau dalam waktu lima menit kau belum juga menunjukkan batang hidungmu, Sehunnie!" ancam namja cantik itu dari seberang.

"Chagi, jangan marah-marah terus. Aku juga sedang berusaha secepat mungkin kesana. Kau tunggu saja, ne? Bye…Luluku sayang…"

Sehun menutup teleponnya secara sepihak dan terburu-buru menjalankan mobilnya.

.

.

.

.

.

"Yeolli…kapan kau akan melamarku seperti yang dilakukan Kai pada Kyunggie…." rengek Baekhyun manja di pelukan namja tiang listrik itu.

"Kalau cara Kai itu sudah basi, Baekki…Aku akan melamarmu dengan cara yang lebih 'wow' nanti. Arra?" ucap Chanyeol menciumi pucuk kepala Baekhyun.

"Benarkah? Awas kalau kau bohong!"

"Ada syaratnya…." kata Chanyeol dengan tatapan liciknya.

"Eoh? Mwoya?" Baekhyun menatap horor ke arah Chanyeol.

BUGH

Secepat kilat Chanyeol menerjang tubuh mungil itu. Memeluk dan menciumi tubuh kecil Baekhyun yang hanya bisa pasrah dengan ulah namjachingunya tersebut.

.

.

.

.

.

"Suho-ya! Ayo cepat jalankan mobilnya. Aku sudah sangat lapar…." kata Lay sambil memegangi perutnya.

"Kau lihat rambu-rambunya masih merah. Kau mau kita mati konyol disini. Bersabarlah, sebentar lagi kita sampai…." Kata Suho mengusak rambut Lay sambil tersenyum.

Lay hanya bisa pasrah sambil bibirnya yang mengerucut. Menurut Suho itu sangat lucu.

"Eoh? Bukankah itu temanmu?" tanya Lay menatap lurus kedepan.

Suho pun mengikuti arah pandangan Lay dan benar saja ia melihat Kris sedang menyebrangi jalan. Namun, namja tinggi itu tidak sendiri. Suho bisa melihat ada namja yang juga sama tingginya dengan Kris berjalan bergandengan tangan bersama-sama. Suho tidak mengenali siapa pemilik mata yang mirip panda tersebut. Namun, ia bisa melihat raut bahagia Kris saat memandang ke arah namja itu.

"Sepertinya mereka bahagia sekali…." ucap Lay mengembalikan Suho dari lamunannya.

"Eh? Ya, sepertinya begitu…."

.

.

.

.

.

"Kai, menurutmu baju apa yang harus ku kenakan saat kita menikah nanti?"

"Kau suka baju seperti apa, hyung?" kata Kai menatap lembut namja mungil di depannya.

"Hmmm….pokoknya kemejanya harus berwarna putih bersih dan pas di badanku. Jas yang sedang in sekarang sepertinya bukan pilihan yang buruk. Bagaimana?" kata Kyungsoo.

Kai terkekeh mendengar ucapan Kyungsoo barusan. "Tapi aku lebih suka kau mengenakan pakaian pengantin yang seperti gaun selayar itu saja, hyung…."

"YAK! AKU INI NAMJA KAI!"

"Hahahahahaha…"

Kemudian kamar yang tadinya damai berubah bising dengan teriakan-teriakan kedua namja yang semakin asyik dengan acara lempar-melempar bantal.

END -