Disclaimer:

-Masashi Kishimoto-

Saya kembali! Makasih buat semua review, dan makaish banget ya yang udah sedia nungguin :) Maaf mengecewakan!

Yuk mari, dibaca dulu laah...

" Sasuke-kun! Seperti dugaanku kau tak membawa payung!" ucap Sakura panik melihat Uchiha –suami kesayangannya- yang baru saja memasuki rumah mereka dengan keadaan basah kuyub. " Kau tak apa-apa?" tanya Sakura lagi sambil mengelus lembut pipi sang Uchiha yang basah itu.

" Hn. Aku tak apa-apa. Menjauhlah, kau akan basah juga kalau menempel padaku," sahut Sasuke dan melepaskan alas kakinya.

" Keringkan tubuhmu dulu, aku akan menyiapkan air panas untukmu." Tanpa kata lagi, Sakura langsung menuju kamar mandi pribadi mereka yang terletak di dalam kamar mereka.

Cuaca memang sangat buruk akhir-akhir ini. Pagi tidak secerah biasanya, sore hari langit sangat gelap dan pada malam hari hujan badai akan datang mengunjungi Konoha. Sekarang sudah musim dingin. Namun, bukan salju yang turun melainkan hujan badai dan angin kecang yang selalu ada. Tak ada lagi pemandangan bagus di pagi hari karena pepohonan sudah kehilangan bunga dan daun-daunnya. Beberapa tanaman mongering, dan bahkan ada yang gundul.

Sudah menjadi rutinitas Sakura menunggu suaminya yang selalu pulang larut malam. Setiap pagi ia membuat sarapan untuk suaminya dan mulai membereskan rumah -meski perutnya benar-benar sudah besar dan berat- ia tak mau bermalas-malasan dan menjadikan hal itu menjadi alasan. Memang sering kali ia merasa jenuh dan bosan karena kadangkala rasa 'sepi' menyelimuti dirinya. Biasanya sesekali ia berjalan-jalan di sekitar rumahnya atau bahkan kadang ia sering kali mengunjungi Toko Bunga Yamanaka dan kantor Hokage untuk menengok kabar sahabat dan 'ibu angkatnya' –Tsunade- yang sampai sekarang masih duduk tegap bertahan dengan nama Hokage.

" Sasuke, habis ini kau tidur ya. Aku takut kau akan sakit nanti. Jangan membuat aku cemas," kata Sakura lembut. Terlihat sekali dari wajahnya kalau ia benar-benar khawatir dengan keadaan Sasuke sekarang ini. Jarang sekali Sakura melihat Sasuke begitu lusuh seperti ini, kecuali pada saat Sasuke baru kembali ke Konoha. Terlihat jelas di mata onyxnya itu sebuah penyesalan dan pikirannya yang sudah banyak dipengaruhi aura gelap. Untungnya pada saat itu Sakura berani dan ingin menyembuhkan Sasuke dan melepaskan Sasuke keluar dari bayang-bayang gelap keluarganya dan pada akhirnya, Sasuke malah mengajak Sakura menikah tiba-tiba. Ya, memang tidak berjalan seperti yang seharusnya dan yang diharapkan pada awalnya tapi sekarang, Sakura rasa semua berjalan baik-baik saja apa lagi mengingat sesuatu yang berada di dalam rahimnya saat ini.

" Hn. Kau tidur saja duluan," kata Sasuke sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah. Kedinginan dan kehujanan sudah menjadi hal yang biasa dilewati dan diterjang oleh para ninja –tentu saja- di Konoha, Suna, dan dimana pun itu. Tapi kalau setiap hari seperti ini ditambah lagi dengan tekanan pikiran dan batin, apakah kau berpikir dampaknya tidak akan besar?

" Kenapa? Mengerjakan tugasmu lagi?" Sakura memeluk tubuh kekar Sasuke dari depan, tak peduli dengan tubuh Sasuke yang masih agak basah dan tetesan-tetesan air dari rambut Sasuke yang mengenai wajah manisnya.

Tangan-tangan besar itu mengusap pelan puncak kepala Sakura yang berhiaskan rambut merah mudanya itu. " Ya, itu kewajibanku." Suara berat itu membuat Sakura memejamkan matanya. Dapat didengarkannya suara detak jantung Sasuke yang bertempo normal. Rasanya sedih sekali melihat Sasuke yang sudah lama tak tersenyum padanya. Kali ini rasa sedih dan sakitnya berkali-kali lipat, ya mungkin sekaligus mewakili perasaan sang calon bayi mereka.

" Aku sangat mengkhawatirkanmu Sasuke. Jangan siksa aku dan anakmu seperti ini, aku kesepian." keluh Sakura yang memang itu yang ada di hatinya. Jauh di dalam lubuh hatinya.

" Kau tidur saja duluan, aku menyusul." suara itu… berubah menjadi dingin kembali dan tangan-tangan mencoba melepaskan pelukan erat Sakura.

" Sasu tapi kau nanti.. nanti kau bi-"

" Aku tak selemah itu Sakura!" suaranya mulai meninggi.

Jleb. Sejujurnya kalau bisa dikatakan, agak terkejut juga mendengar Sasuke yang sudah lama tak marah itu tiba-tiba bisa membentak. Ya, apa lagi membentak wanita yang masih berdiri sangat dekat di hadapannya. Mata mereka bertemu. Ada sedikit rasa kecewa dan entah bagaimana menggambarkannya dengan kata-kata.

" Sasuke kau manusia kan? Aku tahu kau memang Uchiha. Tapi kau juga bisa saja kenapa-kenapa Sasuke! Kau tak kasihan padaku dan anakmu?" suara lembut Sakura pun akhirnya refleks turut meninggi. Rasanya ia tak bisa lagi menahan.

" Sakura, tenang saja! Ku bilang tenang ya tenang! Kau urusi saja anakmu itu. Dia 'kan ada di dalam perutmu, cuma kau yang bisa menjaganya! Hilangkan kebiasaanmu yang suka menganggu dan menyebalkan itu!" Sasuke Uchiha. Ya, kau. Bagaimana bisa kau bicara sepanjang itu hanya untuk membentak Sakura, istrimu itu bukan? Sasuke melalukan kesalahan. Sepertinya ia tidak menyadarinya, dia benar-benar tidak menyadari apa saja yang baru ia katakan -apa kata yang ada di kalimatnya itu.

Air mata mulai merembes keluar. Rasanya kepalanya benar-benar sakit dan dadanya… sesuatu di dalam dadanya terasa benar-benar nyeri. Memang ini bukan yang pertama atau kedua kalinya, tapi ini benar-benar sudah sangat jarang bahkan tak pernah lagi. Tapi kali ini.. " Sasuke, maafkan aku. Tapi 'kan anak yang a-"

" Sudahlah Sakura! Aku pusing mendengar keegoisanmu itu!" Sasuke melempar handuk yang mengalung di lehernya dan segera meninggalkan kamar itu. Meninggalkan Sakura sendirian di dalam kamar yang sunyi itu.

Tangan-tangan itu bergetar. Sakura mencoba menenangkan dirinya dan sedikit menjambak rambutnya frustasi. " Aku, aku hanya khawatir. Bukan egois." bisiknya dengan air mata yang diam-diam bergilir mengalir membasahi pipi putihnya.

~oOo~

TIK TOK TIK TOK

Suara jam terdengar jelas ditelinga gadis er-maksudnya wanita berambut soft pink yang tengah terbaring di kamar pribadinya.

" Seperti biasa, Sasuke-kun pulang malam." gumamnya.

Sudah berapa minggu sama saja di mata Sakura. Begitu ia membuka matanya saat matahari bersiap untuk terbit, lalu segera ke dapur menyiapkan makanan pagi untuk suaminya, dan setelah ia selesai, pasti setiap membalikkan badannya sang suami bermata onyx itu sudah siap untuk pergi menjalankan misinya. Setelah itu? Sudah pasti ia akan sendirian, ah! Salah lagi. Maksudnya berdua dengan anaknya yang masih dalam kandungan di rumahnya.

Betapa membosankan!

Apa lagi, kejadian semalam. Ia benar-benar tidak melihat Sasuke semenjak itu sampai sekarang. Sepertinya Sasuke langsung pergi begitu ia bangun dan sebelum Sakura bangun, Sakura juga berpikir kalau bahkan mungkin Sasuke tidak tidur sama sekali tak tidur.

Dan saat hujan tak hentinya mengguyur Konoha, ia harus tetap sendirian dan kedinginan.

" Sasuke-kun, aku kesepian." ucapnya lirih –berharap suaminya itu dapat mendengarkan keluh kesahnya yang sungguh-sungguh keluar dari dalam hatinya. Hm, mungkin juga ini jeritan sang bayi di dalam perut yang sangat merindukan ayahnya.

Matanya terasa berat, namun tetap dikuatkan untuk terbuka karena keinginan menunggu kepulangan suaminya dan menemaninya makan malam bersama. Pasalnya, sudah lama sekali ia tidak merasakan hangat dan senangnya menikmati makan malam yang dengan susah payah telah ia siapkan dengan orang tersayang.

Iris hijau mudahnya melirik jam dinding satu-satunya di kamarnya yang dominan berwarna biru tua dan putih. Sedetik kemudian matanya menyiratkan suatu rasa kecewa dan cemas.

" Semoga ayahmu tak apa-apa ya," Sakura menutup matanya dan mengusap perutnya lembut penuh kasih sayang.

Hm, cuaca tak menentu tentu saja aka nada banyak kekhawatiran yang akan muncul di benak, dan hati kita.

" Sudahlah aku lapar, sepertinya percuma menunggu Sasuke-kun. Huh, aku lebih sayang anakku!" ucap Sakura kesal dan langsung bangkit dari kasur king size miliknya bersama Sasuke itu.

~oOo~

SREEEEEK!

Baru saja menyendokkan nasi ke dalam mangkuk putihnya, daun telinga Sakura menangkap suara -wajahnya yang tadinya terlihat sedih menjadi lebih cerah. Kakinya melangkah cepat menuju sumber suara.

" Sasuke-kun kau pulang?" tanya Sakura antusias.

" Hn." Jawab Sakura dengan tenang dari depan pintu. Pria itu tengah melepaskan alas kaki yang ia pakai. Wajahnya terlihat lelah, keringat mengucur deras di pelipis dan lehernya, dan dapat dilihat pakaian yang sedang dikenakannya sangat kotor dan berantakkan.

" Aku merindukanmu!" Sakura berlari dan memeluk Sasuke bergitu saja dengan kekuatan penuhnya. Sasuke terlihat sedikit mencoba untuk melepaskan pelukan Sakura barusan.

" Aku kotor, jangan dekat-dekat." Kata Sasuke dengan dingin. Ya, memang seperti itulah dia dan hm, ya begitulah dia! Sakura seperti sudah kebal mendengar nada bicara yang seperti itu, Kini baginya, nada-nada dalam bicara tak ada artinya lagi.

Sakura melepaskan pelukkannya dan langsung membantu Sasuke untuk setidaknya masuk dulu ke ruang utama mereka –di dekat dapur. Sakura mencoba membawakan gulungan-gulungan yang dibawa Sasuke dan meletakkannya di atas meja.

" Sakura, bisakah kau taruh itu saja di perpustakaan belakang?" tanya Sasuke yang sebenarnya juga berarti memerintah secara tidak langusng. Ya, bagaimanapun dan apapun yang Sasuke katanya pada akhirnya akan dilaksanakan oleh Sakura. Hm, benar-benar istri yang baik!

Sakura pun melupakan sejenak kegiatan yang tadi tengah ia kerjakan, yaitu menyendokan nasi ke mangkuk tentunya. Sakura melangkahkan kakinya menuju perpustakaan kecil milih Uchiha yang terletak di belakang rumah. Ruangnya tetap berada dalam satu gedung yang sama dengan rumah ini, namun hanya letaknya yang sedikit menjorong ke belakang. Ruang itu sangat rapi dengan rak-rak yang penuh berisikan buku-buku, guluangan dan berkas-berkas penting. Ada pula aroma kayu yang sangat menenangkan dari dalam perpustakaan itu, biasanya saat ingin mengerjakan sisa pekerjaan Sasuke maupun sakura memutuskan untuk mengerjakan semuanya di sini karena memang aura dan suasananya yang mendukung.

" Sasuke-kun, sudah kusimpan di lemarimu itu ya," ucap Sakura lembut. Ia rasanya ingin terus tersenyum mendapati orang yang ditunggunya kini berada di depannya –duduk dengan lemas sambil memejamkan matanya- membuat hatinya benar-benar tenang.

" Hn. Arigatou," jawab Sasuke singkat.

Sakura duduk di sebelah orang tersayangnya itu dan mengusap pelan permukaan pipi Sasuke. " Mandilah dulu. Kau basah dan penuh debu. Setelah itu kita makan malam bersama," ucap Sakura lembut.

" Hn," Dan lagi-lagi hanya kata itu yang dilontarkan Sasuke. Hm, bahkan itu bukan sebuah kata. Entahlah apa itu, yang pasti 'hn' sendiri memilik arti yang banyak.

.

.

.

" Sasu-kun, sudah kusiapkan semuanya." Sakura menyondorkan mangkuk putih berisikan butiran-butiran nasi yang masih beruap-uap.

Sasuke tidak merespon apa-apa. Hanya tangannya yang bergerak. Ia memegang sumpitnya dan mulai mengambil potongan-potongan lauk yang sudah tersedia di atas piring-piring kecil dihadapannya. Tak lupa juga sesekali ia menyendok tomato soup langsung ke mulutnya yang tipis.

" Bagaimana? Lumayan 'kan untuk udara yang sedang dingin begini?" tanya Sakura antusian.

" Ya, sama seperti biasa." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan-makanan lezat tersebut.

" Hahaha kau sepertinya sangat lapar. Aku senang akhirnya kita bisa makan bersama,"

.

.

.

Hujan masih terus membasahi Konoha. Udara dingin dan sejuk sebenarnya sangat mendukung untuk beristirahat atau bergumul dengan selimut tebal di atas ranjang yang empuk. Tapi berbeda untuk 1-1nya anak Uchiha yang tersisa ini. Di rumahnya yang megah, ia memilih untuk menempatkan dirinya di perpustakaan pribadi keluarga Uchiha. Kantung matanya mulai terlihat jelas, sesekali ia juga menghela nafas frustasi. Dilihatnya tumpukkan kertas-ketas dan gulungan-gulungan di atas mejanya. Mata berat. Ingin rasanya merebahkan badan dan menutup matanya sejenak –memberikan sela waktu untuk matanya- dan melanjutkan pekerjaan nanti pagi.

Suara guntur dan kilat petir menemaninya malam, malam sunyi yang hanya ada suara hujan. Kepalanya penat dan tubuhnya lemas, meski sudah mendapat asupan yang sangat lezat dari istri tercinta.

" Sasuke, apa sedang kau lakukan?"

Tak ada sahutan. Yang dapat ditangkap oleh sepasang matanya adalah sosok pria -yang tegar namun terlihat rapuh- sedang berkonsentrasi penuh pada tumpukan-tumpukan gulungan dan map di atas mejanya. Hanya lampu ruangan dan lampu meja yang menemaninya, dengan suara-suara jangkrik di malam hari yang sangat dingin ini.

" Sasuke, ini aku membuatkan kau secangkir kopi. Kau mau 'kan?" Sakura membawa secangkir kopi panas dan piring kecil yang menjadi alasnya. Ia tahu pasti sekarang ini Sasuke sangat mengantuk karena hari-hari yang sangat melelahkan. Persetan dengan apa yang terjadi malam kemarin. Meski air matanya harus terjatuh terus demi darah Uchiha, ia memakluminya dan menerimanya dengan lapang dada. Tak ada rasa kesal ataupun amarah, malah yang ada rasa kasian dan prihatin mengingat dan melihat kantung mata Sasuke yang membesar dan menebal. Wajahnya .. meski tetap tampan tapi tak sesegar dulu, meski matanya tajam, tapi tetap terlihat sayu, Semua berbeda. Menyedihkan, Itu yang sangat sangat ingin Sakura katakan pada Sasuke. Janinnya kian membesar dalam rahimnya. Ini sudah memasuki bulan ke 9, dan tak lama lagi sang bayi berdarah Uchiha –yang ditunggu-tunggu selama ini- akan lahir ke muka bumi ini, di tanah Konoha desa tercinta. Ada kecemasan bayi itu akan lahir tanpa ayahnya, mengingat Sasuke yang sedang dalam sama 'sibuk' bisa saja terjadi apa-apa atau Sakura harus melahirkan tanpa adanya Sang Suami yang menunggui di Rumah Sakit. Rasa cemas itu ada, tetap dan selalu ada di dalam hati Sakura meski ia sering mengabaikan dan menyangkalnya.

TRAAAAAAAANG

Cairan hitam itu membasahi semuanya. Cangkir cantik yang terbuat dari kramik serta piring kecil pasangannya terjatuh ke lantai dan pecahannya berceceran dimana-mana, bahkan secara tak sengaja melukai sedikit lagian dari kaki Sakura yang biasanya bersih tanpa luka. Ia pun tersadar dari lamunannya. Ya, memang ia tak bisa sepenuhnya berkonsentrasi sekarang.

" Ah!" pekik Sakura. Kakinya terasa panas terkena cairan kopi yang masih sangat panas itu dan bercampur dengan sedikit darah yang keluar dari kakinya.

Sasuke menoleh dan wajahnya terlihat kaget dan cemas. Sedetik kemudian ia memejamkan matanya sesaat dan menatap Sakura yang tengah panic dengan sangat sangat tajam.

" Kau bodoh ya!"

Sakura segera menunduk dan meminta maaf. Dengan cekatan dan hati-hati ia segera mengambil lap putih di dapur dan segera kembali ke perpustakaan pribadi Uchiha dengan langkah cepat. Ia takut. Takut kalau Sasuke akan meledak-ledak karena ini.

" Aaaaah…" Sakura sedikit mengerang kesakitan. Ia tak bisa duduk di bawah untuk membersihkan pecahan-pecahan cangkir karena beban dari perutnya yang sangat besar itu. Benar-benar sulit rasanya biar hanya sekedar sedikit menunduk.

Sasuke memundurkan kursi kayu dengan roda di bawahnya. Di ambilnya lap itu dari tangan Sakura dengan agak kasar. " Tinggalkan saja!" bentak Sasuke. Ya, sepertinya yang diduga oleh Sakura benar-benar terjadi, Sasuke mengamuk.

" Ti-tidak apa-apa Sasuke-kun, aku bi-"

" Apa! Kau ingin berlaga bisa melakukan semuanya hah? Sudah kau enyah saja dari sini," rahang Sasuke mengeras dan inilah dia. Sasuke 'hitam' di tubuhnya sudah bangkit dan bersiaplah untuk mengeluarkan banyak air mata untuk ini.

" Sasuke-kun aku hanya ingin..hiks.. hanya ingin membuatkanmu kopi dan menemanimu di sini," isak Sakura.

Sasuke mengehela nafas panjang. Dipejamkan kedua matanya dan mengangguk sedikit kepalanya. " Sakura, aku tak butuh bantuanmu." ucap Sasuke apa terus terang. Sepertinya otaknya memang sedang mumet saat ini. " Kau tahu, kandunganmu itu sudah besar. Jangan sok memaksakan dan mengurusi orang. Lebih baik kau jaga saja anakmu!"

Sakura memberanikan menatap sepasang onyx suaminya. " Sasuke! Bagaimana kau tidak mengerti perasaanku? Apakah kau sudah buta? Ya, ini anakku dan anakmu Sasuke. Bisakah kau meluangkan sedikit waktu untukku? Aku kesepian di sini. Aku membutuhkan dirimu."

"….."

" Bahkan di saat seperti ini, aku masih ingin menemanimu. Meskipun aku lelah dan merasa ngantuk, aku sudah berencana malam ini akan menemanimu Sasuke. Aku ingin kau istirahat, kubuatkan kau makanan terbaik malam ini. Untuk kita Sasuke. Untuk kau dan aku juga calon bayi yang ada di dalam rahimku. Kurasa ia dapat merasakannya!" pecahlah tangisan Sakura sejadi-jadinya. Sebenarnya ya, bukan cuma sekali dua kali begini. Benar-benar sudah menjadi kejadian rutin. Tapi bagaimana pun, harusnya Sasuke lebih peka. Sakura yang sedang mengandung ini, pasti perasaannya lebih sensitive dan ingin dimanja. Hah, mengapa darah Uchiha itu sama sekali tidak peka.

BRAAAK!

Pukulan keras dilayangkan Sasuke kepada meja yang tak bersalah. " Kau ini Sakura.. Kau benar-benar egois! Hanya memikirkan keadaanmu saja. Kau harusnya yang lebih kritis dalam berpikir masalah ini!"

" A-aku? Aku egois? Bukankah kau yang lebih egois Sasuke? Egomu sudah melebihi segalanya! Kau tak pernah mengerti perasaanku, selalu aku yang mengalah Sasuke!" Sakura sudah tak bisa menahan diri lagi. Rasanya hatinya sakit. Ia mengharapkan yang jauh lebih baik dari ini. Bukan seperti ini!

" Mengalah? Cih. Kau berpikir seperti itu? Kosong sekali otakmu itu, Sakura. Kau memang perempuan menyebalkan. Bisakah kau berpikir dengan jernih? Bukan mengandalkan emosimu yang selalu membuncah tak karuan. Ingat sesuatu yang ada di perutmu itu. Kau ha-"

" Sasuke!" potong Sakura. " Kau bisa bicara sepanjang tu sekarang hanya untuk membentakku? Bisakah kau gunakan kata-kata panjang itu untuk memperhatikan diriku? Bukannya bertanya bagaimana prasaanku hari ini, bagaimana dengan anak kita hari ini, tapi kau malah membentak dan memakiku seperti ini." Sakura melempar lap yang ada ditangannya itu. Tubuhnya lemas. Tangannya meremas rok yang dipakainya. Ya, sebenarnya ia takut. Ia tak menginginkan Sasuke mengetahui semuanya. " Kau manusia dingin Sasuke, kau… sebenarnya aku menjadi ragu padamu. Jujur aku ragu, apa kau ini cukup mempunyai hati? Apa lagi untuk benar-benar mencintaiku?"

" Sakura kau jang-"

" Katakan Sasuke! Aku ingin semua jelas. Kau..hiks .. kau hanya bersikap manis saat kau butuh aku. Seperti yang kau katakan dulu! Kau sendiri yang bi-"

" Ada apa Sakura aku mulai tak mengerti dengan pembicaraan bodohmu itu!" Sasuke menjambak rambut ravernnya frustasi. Dahinya mengkerut mencoba mencerna setiap ucapan Sakura yang kurang jelas akibat tangisan yang sangat sangat dasyat itu.

Sakura terduduk lemas di sofa berwarna coklat muda di samping kirinya. " Kau lupa Sasuke? Kau lupa dulu, kau melamarku karena kau bilang kau membutuhkanku. Bukan karena kau mencintaiku? Iya kan? Dan kau waktu itu bilang mencintaiku hanya karena menurutmu sudah saatnya.. sudah saatnya aku memberikanmu keturunan kan? Iya 'kan Sasuke! Katakan padaku!" Kepalanya sakit dan berat. Rasanya benar-benar jadi malapetaka saat semua yang dipendamnya akhirnya keluar juga semuanya. Sesak. Rasanya sesak sekali.

" Kau bahkan bisa bicara seperti itu sekarang? Kau menyesalinya!" tanya Sasuke pernuh amarah. Wajahnya memanas karena emosinya sudah benar-benar memenuhi kepalanya. Tak ada lagi pikiran sehat sekarang. Semuanya gelap. Tak ada yang waras.

Sakura sedikit menyibakkan rambutnya dan membersihkan air mata yang sangat membasahi seluruh wajahnya. " Kasian sekali. Ternyata nasibku begini, menjadi korban seorang Uchiha yang keji."

Mata Sasuke membulat sempura mendengar ucapan Sakura barusan. Wanita itu.. wanita yang di matanya sangat lembut bisa berkata sedemikian rupanya? " K-kau membawa nama Uchiha , Sakura! Jaga mulutmu. Sekarang kau juga bagian dari Uchiha!"

" Ya, makanya dari itu. Kasihan sekali diriku ini!" kata Sakura dengan helaan nafasnya yang berat.

Sriiiiiing…..

Sesaat keadaan pun mereda. Bukan. Bukan mereda melainkan semuanya diam setelah Sakura bicara hal itu.

" Sakura," panggil Sasuke pelan. " Aku muak dengan semuanya. Aku lelah mendengar bualanmu barusan. Lebih baik kau kembali ke kamar dan tidurlah. Biasakan dirimu untuk tidak menjadi menyebalkan."

PLAK!

Sebuah tamparan keras jatuh tepat di pipi kiri Sasuke yang putih dan dapat digolongkan mulus. Dalam sekejap pipi itu berubah menjadi merah, mengingat sebagaimana kekuatan Sakura.

" Sasuke aku tak tahu bagaimana. Tapi aku benar-benar kecewa padamu. Aku tak menuntut lebih dari ini! Aku bersedia menjadi korbanmu pun aku bersedia. Aku tak keberatan memberikan cintaku untukmu Sasuke. Untukmu dan anak ini. Tidak, tidak sekalipun aku keberatan! Kau.. apa di matamu aku begitu menyebalkan? Kau lelah hidup bersamaku Sasuke? Apa yang be-"

" Sakura! Sudahlah! Kau menjadi liar. Cepat kau ke atas. Aku ingin melanjutkan pekerjaan," Sasuke membalikkan tubuhnya, berniat kembali duduk di kursi kerjanya.

" Sudahlah Sasuke. Maafkan aku," Sakura menutup wajahnya yang menunduk dengan kedua telapak tangannya yang masih bergemetar. " Kalau memang begitu, aku.. aku rasa aku takkan menganggumu dan membuatmu sebal Sasuke. Kurasa kau benar-benar bisa hidup tenang sekarang."

"….."

" Tapi jelaskan aku dulu, apa lagi yang kau ingin tuntut dariku? Aku sudah memberikan waktuku untuk melayanimu Sasuke, selama bertahun-tahun aku setia menunggumu dengan hati yang terluka, dengan caci maki dan air mata Sasuke. Dan aku sudah menyerahkan diriku padamu. Apa yang kau butuhkan lagi? Aku.. bahkan aku tidak marah saat melihatmu dan Karin melakukannya. Apa ada yang kurang Sasuke?" Sakura sudah cukup tersiksa selama ini dan apa ini? Pertengkaran hebat, eh?

" Tak ada." Hanya itukah? Tak ada? Hanya itu yang terucap dari bibir tipis berklan Uchiha itu. Benarkah?

Bagaikan disayat-sayat hatinya, Sakura hanya diam. Dia rasa tak ada lagi jalan lain menuangkan semua pedihnya dengan tangisan. Cukup semuanya. Beban hidupnya terus bertambah.

Diusap dengan lembut perutnya. Senyum kecilpun menghiasi wajahnya sesaat saat menatap tonjolan di perutnya itu. " Haaaah. Sasuke, aku hanya berharap kau bahagia. Aku.. "

-To Be Continue-

(ngumpet) HALLO! Maaf ya untuk keterlambatan FF ini maaf banget banget banget. Jujur aku hampir discontinue cm masih sayaaaaaaang banget. Ide mentok TT_TT *dibakar*

Gomen… Ceritanya jadi aneh dan mungkin alay + gaje + OOC!

Sasuke bawel ya.. kan ceritanya lagi marah :D hehe *cari pembelaan*

Feelnya ga dapet banget ya! dan so sorry untuk banyaknya typo! Aku sadar banget banyak typo. Akan kuperbaiki chap ini, tpi ga sekarang sudah malam dan aku harus tidur untuk Ulangan Umum. Menyebalkan? Yeah.. benar sekali!

Kenapa TBC nya begini? Lagi-lagi gomeeen (-_-) aku… putus ide . So sorry buat semua semua deh! Kalau kurang panjang, maaf ya.. aku coba panjangin lagi.

Aku ga bisa berenti minta maaf, tapi maaf! Buat yang nungguin dan review2 selama aku ga lanjutin ini, maaf ya mengecewakan klo chap ini ga sebagus yang di harapkan. (._.)

Daku merindukan kalian!

REVIEW ditunggu! ^^

info :

buat yang suda review sampai hari ini, makasih banget :D

kalian yang nanya2 PM atau lewat review, sorry aku ga bisa langsung bls karena buka acc ini hehehe jadi kalau mau hubungin aku langsung PM dulu aja hehe mari berkenalan ^^ dan kalau ada yang punya ide buat next chap... cuuuus kasih tau aku! heheh