DISCLAIMER : Detektip Konan punya Aoyama Gosho, aku hanya menyadur aja!
Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
Brak!
Semua orang yang ada di dalam restoran dengan plang 'POIROT' itu, menoleh ke arah pintu masuk yang dibuka kasar oleh seorang pemuda yang… tampan?
Pemuda itu berjalan dengan badan membungkuk, wajah cemberut dan tangan masuk ke kantung celana, tanda sedang marah. Orang-orang disana berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya, seakan-akan dia adalah pelaku korupsi yang menghilang keluar negeri, lalu muncul lagi di restoran itu. Ups, ini 'kan Jepang, bukan Indonesia.
Penyebab kekesalannya serta bisik-bisikan itu —oh, dia tentu tau dialah si topik utama!— adalah pertengkaran si pemuda dengan teman sejak kecilnya —sekaligus cewek yang mengisi hatinya, Mouri Ran. Salah paham lagi. Bukan sepenuhnya salah si pemuda, tapi bukan juga salah Ran…
Ia belum memberitahukan kepergiannya ke Hokkaido soal pemberantasan organisasi yang dulu mengecilkan tubuhnya. Sebenarnya cowok itu sedikit ragu, ia takut kalau memberitahukannya, Ran akan mengikutinya dan menantang bahaya lagi.
Ketika Shinichi memutuskan untuk —akhirnya—memberitahukan gadis karateka itu, Ran memiliki sesuatu yang ingin dikatakannya juga… lalu ada kasus… dia lupa mengatakannya… dan sebelum ia menginformasikannya sendiri, Ran sudah tau dari Shiho.
Apa yang akan kau pikirkan bila kau tau kalau kekasihmu akan melakukan hal yang berbahaya dari teman kekasihmu? Merasa tidak dipercaya, itu paling dominan.
Padahal ia membayangkan adegan romantis saat memberitahukan soal itu. Membayangkan hal yang indah… yang mungkin memperjelas ikatan mereka… lebih dari teman sejak kecil… itu 'kan awal dari niatnya dari tadi pagi, makanya mau membantu Ran! Lalu wajahnya memerah malu.
Dasar cewek! Aku tidak akan pernah bisa mengerti mereka! batin Shinichi sambil membuka pintu toilet, keras. Wajahnya mengatakan jangan-ganggu-aku-sialan! namun pipinya merona. Dasar cowok aneh.
Lagi-lagi ia menjadi pusat perhatian. Shinichi mendengus, berjalan menuju tempat Inspektur Megure yang berdiri di hadapan para tersangka.
"Oh, Kudou-kun!" sapa Inspektur Megure. "Bagaimana dengan Ran-kun? Dia baik-baik saja?"
Sudah dia duga, dramanya dengan Ran sudah diketahui oleh seluruh isi restoran.
"Sepertinya begitu! Dia ngambek lagi," jawab Shinichi. Inspektur Megure tersenyum menenangkan dan menepuk-nepuk bahu cowok itu. "Sudahlah, nanti juga ia akan baik sendiri."
Mungkin dia akan membaik kalau sudah menghajarku… Shinichi melihat ke seluruh penjuru toilet. Para tersangka, polisi-polisi.
Dan matanya tertumbuk pada ketiga tersangka.
Sial, aku tahu pelakunya, tapi belum mendapatkan buktinya… Shinichi menggaruk kepalanya kesal. Pikirannya terbagi antara Ran dan kasus.
"Inspektur! Kami sudah mengecek barang bawaan korban!" Opsir Takagi datang tergopoh-gopoh, masuk ke toilet itu. "Di barang bawaan Shibata-san, ada kosmetik, saputangan, dompet dan keris. Di kotak kosmetiknya tidak terkontaminasi racun. Begitu pula dengan barang bawaan Kaneko-san, kami sudah mengecek botol parfumnya dan tidak ada racun disana. Bawaan Clark-san yaitu dompet, saputangan, kacamata dan botol makanan ikan. Kami juga sudah mengecek botol tersebut dan tidak ada racun."
"Tentu saja! Karena bukan kami pembunuhnya!" Kaneko berteriak keras, melipat tangannya di depan dada. "Bisa tidak kalian melepaskan nama tersangka dari kami? Itu membuatku muak!"
"Dan mungkin ini tidak ada hubungannya…. Tetapi Ojima-san adalah alumni Fakultas Sastra Inggris Universitas Beika. Perusahaannya hampir bangkrut… namun karena…"
Drrt, drrt, drrt.
Shinichi merasakan handphone di belakang sakunya bergetar. Ia mengangkatnya. "Halo, Dhan. Kebetulan kau menelpon. Aku ingin bertanya…"
"Pokoknya aku mau pulang!" ujar Kaneko sebal.
"Ta, tapi… untuk kepentingan penyelidikan…" Takagi berusaha menenangkan Kaneko.
"Aku juga mau pulang… aku tidak bersalah…" ujar Shibata sambil melengang, hendak keluar dari toilet. Clark-pun mengikuti mereka berdua.
"HAHAHAHA!" tawa keras seseorang menghentikan langkah mereka.
Kudou Shinichi yang tertawa.
"Haha… ya, aku tau… ok, ok… terima kasih bantuannya… hahaha… atur saja, ok! Terima kasih, Dhan." Cowok itu menutup handphone flip merahnya dan menatap mereka semua dengan senyum percaya diri. Senyum sok itu.
"Ada apa, Kudou-kun?" tanya Inspektur Megure. Ia kebingungan dengan sikap detektif andalannya itu.
"Aku sudah menemukan pelakunya." Shinichi menatap tajam mereka bertiga. "Dan pembunuhnya, salah satu dari kalian!"
"HAHAHA!" Kaneko tertawa sinis. "Tidak usah berlagak, detektif! Kami bukan pembunuh Takuji-kun!"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Pokoknya aku yakin soal itu!"
"A… aku juga sangat yakin…" Clark menimpali. "Tidak mungkin salah satu dari kami bertiga yang membunuhnya… iya, 'kan, Riska?"
Sementara Shibata hanya menatap lantai di bawahnya, nampak takut.
"Mengapa kau gugup, Shibata-san?" Shinichi mendekati wanita itu. "Aku tau, kau pelakunya!"
Inspektur Megure, Takagi, dan para polisi lain melongo tidak percaya. Sedangkan Clark langsung melindungi mantan kekasihnya itu.
"Apa maksudmu? Tidak mungkin Riska pelakunya! Dia wanita baik-baik! Dia…"
"Racun bisa di berikan pada saat ia membawakan kopi," ujar Shinichi.
"Ta-tapi, kami bertiga punya kesempatan…" ujar Clark. "Aku tetap yakin, pembunuhnya bukan kami!"
"Kode di handphone korban, Clark-san." Ujar Shinichi. Ia mengilangkan tangan di depan dadanya, menatap tajam ke arah Shibata yang memucat. "14#19#75. Maksudnya adalah, nomor-nomor atom yang ada di unsur periodik kimia. Mengacu pada fakultas Shibata-san. 14, Silikon atau Si. 19, Kalium atau K. dan 75, Renium atau Re. Bila lambing unsur ketiganya di gabung, menjadi SIKRE." Shinichi menarik napas, lalu melanjutkan. "Lalu, sesuai dengan fakultas universitas korban, Sastra Inggris, ini petunjuk untuk menggunakan anagram dalam pemecahan kode. SIKRE, KERIS. Keris, milik anda, Shibata-san."
"BUKTI!" teriak Kaneko. "Kami butuh bukti! Jangan asal bicara! Kau tidak bisa menyebut Riska pelakunya kalau kau sendiri tak punya bukti…"
"Mengapa kita tidak memeriksa kerisnya saja?" Shinichi berjalan mendekati Shibata. "Di keris, terdapat racun arsen. Mungkin dia mengaduk kopi itu dengan kerisnya…"
"Stop…" bisik Shibata.
"Aku mendapatkan info itu dari temanku yang berasal dari Indonesia, memang hanya segelintir orang saja yang tahu. Ia mengatakan, bahwa di keris itu ada arsen. Mungkin di kerisnya ada sisa bubuk kopi yang diminum Ojima-san, atau ada serpihan keris di gelas kopi itu…"
"Stop…"
"Aku tidak tau motifnya, tapi menurutku…"
"STOP!" Shibata berteriak. Wajahnya marah dan sedih. "Ya, aku pelakunya! Sesuai kata detektif ini, aku mengaduk kopi itu dengan kerisku! Agar dia mati! Agar aku tidak menderita bersamanya!" ujarnya histeris. Ia menahan tangis. Clark dan Kaneko terdiam.
"Ke, kenapa, Riska?" tanya Clark tidak percaya. "Kenapa?"
"Karena ia menyuap ayahku untuk menikahkanku dengannya!" teriak Shibata. "Ia juga sengaja membuatmu di pecat di perusahaan sebelumnya, karena ia ingin figurmu jelek di mata ayahku! Lalu ia sengaja membunuh ayahku, ketika ayahku ingin mengubah keputusannya… untuk membiarkanku menikah denganmu…" Shibata menangis. "…aku sangat marah mengetahui hal itu dari sekretarisnya. Aku ingin mengatakannya padamu, namun kau sudah pacaran dengan Kaneko!" lalu Shibata menyeringai, marah. "Maka itu. Maka itulah, aku membunuhnya. Karena ia telah melenyapkan ayah tercintaku, melenyapkan kau dari masa depanku, melenyapkan rasa percayamu padaku…"
Semua terdiam. Hanya ada suara angin dan desah napas orang-orang di ruangan itu yang terdengar. Dua sinetron hari ini, pikir Inspektur Megure.
"Maafkan aku, Clark," bisik Shibata. "Maafkan aku. Aku takut kau tidak menerimaku lagi…"
Seorang opsir memborgol tangan Shibata dan menutupnya dengan kain. Lalu mereka berjalan hendak keluar toilet.
"Riska?"
Shibata menoleh.
"Jujurlah padaku lain kali. Aku akan menerimamu, bagaimanapun kau. Berbohong hanya akan berujung pada rasa sakit," ujar Clark.
"Lain kali? Apakah kau masih mau… bersamaku?" tanya Shibata.
"Tentu saja. Mengapa tidak?"
Shinichi berani bersumpah melihat senyum sedih dari wajah Shibata, sekilas sebelum keluar dari toilet.
"Jujurlah. Aku akan menerimamu, bagaimanapun kau. Berbohong hanya akan berujung pada rasa sakit."
Shinichi berbaring di kamarnya di Gedung FBI Jepang. Ia menatap langit-langit kamarnya, putih.
Begitukah yang dirasakan Ran? pikir Shinichi. Dari tadi, ketika Dhan menjemput, ketika mandi, ketika latihan, ketika makan malam, bahkan hingga sekarang, kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Seakan ada yang memakunya ke otak, tak bisa dilupakan. Beberapa kali ia tidak fokus, sampai diomeli Jodie karena tidak melawan ketika dihajar Shiho atau tidak mendengar ketika Dhan menjelaskan sesuatu.
Shinichi membalik tubuhnya, ke kanan, ke kiri, begitu terus selama 15 menit. Ia sedikit mengantuk, tetapi tidak cukup untuk membuatnya tertidur. Padahal hari ini ia menghadapi kasus, bertengkar dengan Ran, latihan yang melelahkan, seharusnya itu mampu membuatnya tidur pulas malam ini. Namun tidak ternyata. Pikiran masih melayang-layang pada Ran. Ran, Ran, Ran, dan Ran.
Shinichi menimbang-nimbang untuk menelpon Ran. Bukankah ia sudah berjanji untuk menelpon cewek itu setiap malam?
Namun tidak ada ketentuan dalam perjanjian itu, apakah ia harus menelpon Ran bila mereka sedang bertengkar.
Frustasi, Shinichi merasa haus. Ia berjalan menuju pintu, dan membukanya. Lampu ruang tamu memang masih menyala —ia, Shiho, dan Ran memang tak pernah mematikannya, kecuali siang hari—dan berjalan menuju dapur. Ia menenggak jus jeruk langsung dari kotaknya, lalu mengelap bibirnya dengan lengan kaus. Sekarang ia benar-benar merasa segar, tak ada kantuk yang tersisa.
"Belum tidur kau?" sebuah suara bertanya. Shinichi menoleh dengan malas, mengenali suara itu.
Mana dia tau kalau Shiho masih mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tau begitu ia tidak usah keluar tadi. Dia duduk di sofa putih ruang tamu sambil menghirup… kopi sepertinya. Lagipula kenapa sih aku tidak melihat dia tadi, rutuk Shinichi dalam hati. Lalu ia teringat pertanyaan Shiho, dan ia menjawab, "Aku tidak menderita tidur berjalan, kok."
"Siapa tau itu terjadi karena kau sedang patah hati," ujar Shiho. Shinichi yang sedang melahap sepotong biskuit langsung tersedak, dan mencari minuman di dalam kulkas. Ia menemukan sebotol minuman hitam, ia menenggaknya. Namun sedetik kemudian, Shinichi menghambur ke bak cuci piring untuk memuntahkan minuman itu. Akhirnya ia mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Brengsek, minuman apa ini?" protes pemuda itu.
"Jamu. Untuk menghilangkan bau badan dan menghaluskan kulit."
Shinichi membilas mulutnya lagi dengan air, rasa pahit minuman itu sangat pekat hingga sulit menghilangkannya. Akhirnya ia menelan sesendok teh garam, lalu rasa pahit itu hilang. Asin jauh lebih baik dari pahit. Lalu ia meminum segelas air putih, berjalan mendekati Shiho dan membanting diri di sebelahnya.
"Jadi, kasusmu sudah selesai?"
"Yeah, kasus itu. Aku benar-benar tidak mengerti dengan si pelaku, mengapa dia…"
"Bukan, bukan kasus itu." Shinichi mengangkat alisnya tinggi-tinggi mendengar perkataan Shiho. "Maksudku, kasus cintamu…"
"Hah?" Shinichi tambah heran.
"Mouri-san. Bagaimana dengannya?"
Shinichi terdiam. Ia masih memikirkan soal itu sampai sekarang, namun ia sendiri belum tau pemecahannya. Sepertinya gadis itu sangat marah, dan ia tidak tau cara meredakannya. Bahkan ia terlalu pengecut untuk menelpon Ran.
"Maaf, aku tidak tau kalau kau belum memberitahunya," ujar Shiho. "Kupikir dia sudah tau soal misi kita ke Hokkaido, jadi aku ingin menitip pesan padanya…"
"Santai saja," Shinichi menaruh tangannya di belakang kepala. "Salahku. Harusnya aku sudah memberitahu dia, namun aku menundanya terus-menerus. Wajar kalau kau bertanya soal itu. Aku 'kan memang berniat dari tadi malam, dan kau tau itu..."
Shiho tidak menjawab. Shinichi hanya menerawang, melihat ke langit-langit. Lalu suara ketikan memenuhi ruangan, meningkahi kesunyian.
Shinichi melirik ke arah LCD laptop Shiho. "Kau sedang mencari apa sih?"
"Menurutmu apa?" jawab Shiho dingin sambil terus mengetik. Sepertinya ia sedang membuat coding. Tapi entah coding apa.
"Aku sedang mencari data tentang keberadaan Subaru Okiya." Shiho terus mengetik. Sedangkan Shinichi mengernyitkan dahinya, bingung. Subaru? Untuk apa Shiho mencari data soal itu?
"Tunggu dulu, dia 'kan ada di rumahku? Baru saja tadi pagi! Memangnya kau gak tau?" Shinichi beringsut mendekat, dan melihat ke LCD laptop Shiho.
Di sebelah kiri monitor, ada foto Akai Shuichi. Dan di sebelah kanan, foto Subaru Okiya. Dengan beberapa lingkaran di bagian di kacamata Okiya dan rambut. Lalu Shinichi terbelalak.
"Sadarkah kau? Bentuk hidung, mata, bibir, semuanya sama." Shiho terus mengetik di sebuah notepad. "Aku membuat aplikasi untuk mendeteksi hal itu. Dan ternyata benar. Aku tidak tau apakah Akai menyamar atau tidak, tetapi…"
"Kau tau soal Akai." Shinichi menatap Shiho tajam, membuat Shiho menatap balik mata itu. "Kalau kau tau soal Akai… berarti kau juga tau soal kakakmu. Kau tau kalau kakakmu adalah mantan kekasih Akai, 'kan?"
"Aku tau. Dan aku tau kalau kau tau." Shiho menatap Shinichi balik, sama tajamnya. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, hm, Kudou? Padahal kau menemukan orang yang berhubungan dengan kakakku. Tapi kau malah menyembunyikannya."
"Maaf deh. Aku tidak mau kau mengingat masa lalumu dan kembali bersedih," ujar Shinichi. Shiho mendengus. Perhatiannya sekarang teralih sepenuhnya ke laptopnya.
"Kau tau, tidak?" Shiho berkata dingin. Namun masih terdengar nada sedih dari balik suaranya. "Entah kenapa, aku tidak tau. Padahal aku hanya mendengar cerita soal dia dari Jodie-san. Tapi sepertinya, aku jatuh cinta pada si Akai ini."
Ran memegang hand phone pinknya. Ia menunggu. Ia menunggu Shinichi menelpon.
Padahal ia sudah setengah tertidur. Ini sudah pukul 12.30 malam. Namun ia masih tetap menunggu. Menunggu.
Sekarang, menunggu adalah pekerjaan tetapnya. Ia menunggu Shinichi, terus menerus tanpa henti. Walaupun ia ingin menyetop semua itupun, ia tak bisa melakukannya. Dirinya tak mau menuruti kata otaknya. Ia hanya berjalan sesuai kata hati. Hati malaikatnya itu.
Drrrt, drrrt, drrrt.
Ran sudah tertidur, walau belum pulas. Lalu hand phone nya bergetar. Ia melihat nama disana.
Kudou Shinichi calling…
Tiba-tiba rasa marahnya muncul lagi. Lalu ia mengabaikan telpon itu. Ia tertidur, dan bermimpi. Bermimpi soal Shinichi. Shinichi yang memeluknya, Shinichi yang tersenyum…
Tanpa ia sadari, air matanya jatuh lagi ke bantal tidurnya. Air mata itu untuk meluapkan segala rasa sakit yang sudah di tahannya. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh orang yang dia benci.
Namun tetap saja. Sesering apapun ia mengatakan bahwa ia membenci Shinichi, sesering apapun Shinichi mebohonginya, sesering apapun Shinichi membuatnya jengkel…
Ia mencintai lelaki itu.
Yeah, bales review ah!
Sha-chan Anime Lover : Iye, tapi kan tetep aja, pasti penerjemahnya ikut EYD. Untuk chapter kedepannya kuusahain bener deh, ini msh ada yang salah gak?
Fumiya Ninna : Edited! ;) bkkakakak, ditunggu aja ya!
Kongming The Greencoat : Udah lama ga buka FFN, hahaha, cuma mampir doang…
Kudo Widya-Chan Edogawa : Bkakaka, gamparin aja si Shinichi ._.
Pii : Okelah, edited!
riidinaffa : yah, sayan bgt, update dong! Ups, rahasia semua, ahaha!
IchiOneEins Kudo : Hm, great deduction! See, liat bener gak analis kamu, haha. Ini 'kan cuma karena Ran sensitif aja, namanya juga lagi marah, hehehe.
uchiha cucHan clyne : bkakakakka, makasih makasih ., bkn, mksdnya aku nyuruh reader buat pecahin kasusnya…
Tachi Edogawa : Updated!
Ran-chan Kudou : Makasih lho! Updated!
: There's no need to wait for chapter 12 now… updated! Thaaaaankkk yoooou! :D
Akhirnya update juga. Sori ya kelamaan…. Emang akhir-akhir ini sibuk karena udah lulus, jadi urus administrasi sekolah dulu hehehe.
OOC gak? Gw ngerasa, ni chapter kayaknya dark banget, gelap, penuh kesedihan, hahaha.
Gausah panjang lebar, tunggu chapter depan, do'ain aja minggu depan udah update!
Review? ;)
