"Jadi kamu ikut lomba yang mengisi soal saja? Aku mendengarnya dari salah satu anggota yang—asalnya—satu regu denganmu."
Aku menoleh ke samping kiri sambil buru-buru menyimpan ponsel di saku rok. "Ha?" kataku refleks. Segera aku bersikap seperti biasa ketika tahu siapa yang ada di sini. "Maaf, Ketua, tadi aku belum konsentrasi ehe. Dan ... yah, sepertinya begitu."
Judul : Time
Author : azukihazl
Character : Nekomura Iroha, Kanon, Hibiki Lui.
Genre : Friendship
Disclaimer : vocaloid © yamaha corporation·
Ketua memosisikan dirinya tepat di depanku sesaat sebelum bicara lagi, "Kok sepertinya? Aku minta jawaban yang pasti, lho."
"Ehm ... aku juga belum yakin bisa cepat hapal materi di modul itu." Aku mengalihkan pandangan ke arah lain—tidak tahu ke mana, sih, yang penting bukan ke depan. Rasanya canggung. Padahal aku tidak pernah punya masalah dengannya, tapi aku tidak punya keberanian untuk menatapnya.
"Bagaimana, ya? Kamu juga tahu, bukan, kalau lombanya tinggal dua minggu lagi? Kupikir supaya tidak ada yang mendadak, jadi harus dipersiapkan dari sekarang," katanya. Tangannya lalu terangkat. Seraya memainkan ujung rambut dengan dua jari, dia melanjutkan, "Jadi, apa pilihan terakhirmu?"
Jika orang-orang membicarakan tentang manusia dengan pikiran paling labil di seluruh dunia, bisa dipastikan mereka itu membicarakanku. Oh, tolonglah, aku benar-benar tidak bisa memastikan mana yang aku pilih; takut-takut akhirnya ada penyesalan juga.
"Sebenarnya aku lebih mendukungmu jadi yang mengisi soal-soal. Aku yakin otakmu bisa menampung banyak hal dalam waktu singkat tapi tidak mudah lupa." Ketua menarik napasnya dalam masa beberapa detik. "Ngomong-ngomong, kamu jadi bagian apa di regumu sekarang?"
Ah, iya, juga! Aku kurang nyaman dengan posisiku di regu (sejujurnya aku tidak terlalu ragu jika hanya memasangkan perban, tapi, aku juga harus bertanya pada orang yang tidak kukenali nantinya—kalau aku gugup mendadak, bisa-bisa menurunkan nilai reguku, bukan?).
Masih ada sedikit keraguan tatkala aku memantapkan diri dengan menjawab, "Baiklah, aku mengundurkan diri jadi anggota di regu pertolongan pertama."
Raut wajahnya berubah sedikit—sekilas mungkin tidak akan ada yang sadar, tapi kali ini aku, 'kan, tepat ada di depannya; bagaimana bisa aku tidak tahu ada yang tak sama sejak tadi?
"Ketua, kenapa?"
"Masalahnya tinggal satu," katanya. Ketua memberi jeda beberapa saat lalu ucapannya berlanjut, "Kurang satu anggota lagi dan—ah, bagaimana kalau aku 'mengambil' dari anggota ekstrakulikulerku yang lain?"
Idenya tidak buruk. Malah itu ide yang sangat keren bagiku. Aku tidak tahu harus memberi respon seperti apa untuk mencairkan suasananya, tapi, "Um ... lebih baik lagi kalau itu laki-laki." Apa-apaan aku ini?
"Masih saja, ya." Dia terkekeh kecil setelah merespon perkataanku. "Akan kuusahakan," itu kalimat terakhirnya padaku hari ini sebelum ada bel berdering yang memaksaku kembali ke kelas.
Time
Pintu ruang kesehatan dibuka dan tampaklah seorang siswa laki-laki masuk dengan senyum malu-malu (hey! Dia laki-laki, oke?). Mungkin tidak begitu penting, tapi di genggamannya ada satu buah buku tebal bersampul gambar palang merah di atas latar putih.
Begitu mataku jelas menangkap wajahnya, aku sadar sesuatu. Aku sepertinya tidak terlalu asing dengannya—tidak, lebih tepatnya jika disebut bahwa aku kenal. Dia yang dulu duduk di belakangku ketika tes masuk SMP. Waktu itu aku tidak sengaja membaca name tag di seragamnya (atau sengaja, ya? Entahlah).
Namanya Hibiki Lui, kelas 7-B—yang sekarang duduk di tempat yang agak jauh dariku sambil membaca-baca buku tadi.
Tapi kepalanya terangkat sekarang. "Iroha, bisa ambilkan stetoskop?"
Dia tahu namaku?
Time
Beberapa kali aku mencuri pandang ke arah pintu ruang kesehatan. Entah juga. Menunggu ada yang membuka pintunya sambil menyapaku dan melambaikan tangan kanan, mungkin? Argh, aku tidak bisa menumpahkan seluruh konsentrasiku ke materi yang harus kuhapalkan—terutama ketika ponselku mulai bergetar dari dalam saku. Secepatnya aku mengambil benda itu.
[ Bagaimana keadaan di sana?]
Aku tidak bisa menceritakan bagaimana persisnya kami mulai berkirim pesan, tapi, ah, itu memang bukan hal yang penting. Aku membalasnya dengan segera; [Tidak ada yang spesial. Kenapa kamu tidak datang ke sekolah hari ini?]
Mungkin jika aku berharap bisa lebih berkonsentrasi setelah membalas pesannya itu salah. Sangat salah. Sejatinya aku malah menunggu ponselku bergetar lagi—dan ketika hal itu benar-benar terjadi di menit berikutnya, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membaca isinya.
[ Ahaha, cuma tidak enak badan. Oh, kamu tidak merasa sepi atau takut berada di ruang kesehatan sendiri? Kudengar katanya ruang kesehatan di sekolah kita itu ada penunggunya, loh. ]
Tidak lucu bagiku. Iya, aku yang sekarang jadi penunggunya. Menunggu yang lain selesai latihan dan kembali ke sini. [ Kamu sakit? Tapi apa tak apa-apa kalau lusa kamu ikut lomba? Oh, aku tidak sendiri, kok. ]
Kurasa ini tidak akan berakhir sampai kapan pun. Kalau begitu, kapan aku bisa mulai belajar?!
[ Memang kenapa kalau aku sakit~? Eh? Ada siapa? ]
Kumohon jangan kirim tanda baca yang melengkung-lengkung itu lagi—rasanya jadi aneh dan ... tanganku juga berkeringat dingin ketika membalas; [ Aku tidak sendiri, 'kan ada kamu. ] Aku, sungguh, ingin muntah membaca balasanku sendiri yang terakhir sampai-sampai aku ingin segera menghapusnya. Namun urung. Sudah terlanjur terkirim, jadi, biarlah.
Tepat setelah aku menyimpan ponsel di samping kiri dan berniat untuk mulai menghapalkan materi di modul, mendadak pintu ruang kesehatannya dibuka dan tiga orang masuk secara bergantian.
"Kamu dari tadi di sini saja?" salah satu dari mereka bertanya seraya duduk di sampingku dan meneguk botol minum berisi air mineral yang sudah tak lagi dingin.
Menelusuri kata demi kata yang tersaji di hadapan tanpa menoleh, aku juga tidak perlu memberi jawaban atas pertanyaannya. Beruntung ponselku tidak bergetar lagi (atau itu bukan sepenuhnya suatu keberuntungan bagiku, sebenarnya) jadi aku bisa serius membaca.
Dan tak usah menunggu waktu yang lama, pintu kayu putih yang menghubungkan antara ruangan ini dengan luar itu dibuka lagi. Kali ini yang masuk lebih banyak. Atau mungkin kujelaskan saja, ya, kalau semua anggotanya sudah meninggalkan lapangan. Entahlah; rintik air di luar semakin lebat. Mungkin pembina ekstrakulikuler tidak memberi izin latihan di bawah guyuran hujan.
Meski aku telah mendapat rasa serius yang penuh untuk menghapal, tetap saja konsentrasiku masih terbagi. Mata untuk membaca, tapi telinga malah mendengarkan pembicaraan para senior yang duduk tak jauh dari sini.
Suaranya samar-samar yang dapat diproses otak—namun aku menangkapnya; seseorang berkata sambil menyikut pinggang Ketua, "Kanon, dia bilang kalau dia ingin ikut lomba. Bagaimana?" Lalu Ketua berbicara entah-apa-aku-kurang-jelas-mendengarnya tapi yang jelas intinya mereka sepakat bahwa Lui tidak dibutuhkan lagi di sini.
Menurutku ini mendadak, ya, tapi bagaimana lagi? Mereka terlanjur berpikir bahwa pengetahuan Lui masalah pertolongan pertama pasti jauh di bawah si seseorang itu. Aku memangnya punya wewenang apa untuk membela?
Padahal dari awal juga pengetahuannya tentang kesehatan bahkan melebihiku yang bercita-cita jadi dokter. Mungkin sekarang perlu bersiap; besok-besok aku harus kenyang menatap sajian kekecewaannya lewat kata-kata atau mimik muka. Itu saja.
Aku tidak menunggu ada getaran lagi, tapi hal itu datang tiba-tiba ketika aku membiarkan konsentrasiku terbang bebas. Ini pasti bukan kebetulan—maksudku, semua yang terjadi itu awalnya sudah ditakdirkan, bukan? Jika memang begitu, kenapa harus takdir menyedihkan yang datang?
[ Mungkin aku tidak bisa ikut lomba. Di hari-H itu aku ada acara keluarga di luar kota yang jauh dari sini dan besok aku harus berangkat.]
Kalau aku tidak tahu kenyataanny, bisa jadi sekarang aku percaya sebab caranya sembunyi di balik topeng itu sangat apik. Lalu pesan tadi kubalas hanya dengan kata-kata sederhana; [ Ah, begitu? Yah, aku tidak bisa menghalangimu, sih, ehe. ]
Time
Malam ini rasanya lebih kelam dari biasanya. Tidak—bukan masalah hilangnya eksistensi para bintang atau matinya lampu-lampu di jalanan.
Kalau ingatan tentang tadi siang muncul lagi, aku selalu merasa payah. Sepertinya aku memang tidak bisa apa-apa selain merepotkan para senior. Ah, tidak, tidak. Aku menggelengkan kepala, berusaha menepis kenyataan dan berkata bahwa ... yah, mungkin keberuntungan tidak memihak padaku hari ini.
Ada notifikasi baru di akun sosial media. Isinya tidak begitu penting—bagiku. [ Terima kasih sudah berjuang bersama :) selamat, kita bisa mempertahankan gelar juara umum lagi tahun ini. ]
Itu isi postingan salah satu anggota palang merah remaja yang tadi ikut lomba di bagian persentasi. Sejujurnya, sih, tidak ada masalah—tapi dia meraih juara pertama. Aku juga senang karena sekolahku bisa mendapat gelar juara umum lagi tahun ini, tapi ada sesuatu yang mengganjal.
Kubuka kolom komentarnya dan membiarkan kedua ibu jari mengetik cepat. [ Maaf kalau aku mengecewakan kalian. ] Selesai. Tombol kirim ditekan.
Aku tidak pernah mau membuka lagi isi-isi komentar setelahku. Isinya pasti tidak jauh-jauh dari kata-kata penyemangat atau sekadar berkata bahwa masih ada kesempatan lagi. Ya, aku tahu.
Jarum pendek pada jam analog di dinding kamarku menunjuk ke angka sebelas. Ini sudah malam—terlalu larut jika dibanding waktu tidurku yang biasanya. Dengan perlahan kusimpan ponsel di meja dekat ranjang, sesaatu sebelum aku mulai menutup kelopak mata.
Adalah suatu kebohongan jika aku berkata bahwa aku tidak menanti ponselku bergetar lagi dan muncullah namanya di layar. Kenapa Lui belum membalas pesanku dua hari yang lalu? Atau, biasanya dia selalu mengirimkan beberapa pesan tidak penting setiap aku mau tidur.
Mungkin, jujur, kukira tadinya dia akan bertanya seperti, 'Bagaimana lombanya? Apa lancar? Menang, tidak? Lalu—' ah begitu begini begitu.
Tapi ini tidak—biar saja.
Time
Ketika aku memandangi kalender yang terpasang di majalah dinding kelas (aku juga tidak mengerti—harusnya majalah dinding itu untuk memajang karya, bukan menempel kalender yang dipotong-potong), aku baru sadar kalau hal itu telah terjadi satu setengah tahun yang lalu.
Sudah lama, ya.
Dan sejak saat itu juga aku tidak pernah mengikuti kegiatan apa-apa yang berhubungan dengan palang merah remaja—termasuk kumpul di setiap hari selasa.
Ini harusnya pelajaran terakhir, tapi tidak ada guru yang masuk ke kelas. Para siswa laki-laki berkumpul di pojok untuk menonton sesuatu (entah apa), sedangkan beberapa yang perempuan tidak mau membiarkan waktu berjalan dalam keheningan (dalam artian, mereka berbincang-bincang). Jika situasinya seperti sekarang, aku biasanya tidak mau lepas-lepas dari bangkuku sambil memandangi layar ponsel sampai bel pulang berbunyi.
Dan, ya, hari ini tidak ada bedanya. Aku mengambil ponsel dari bawah meja (yeah, aku selalu menyimpannya di sana ketika pelajaran berlangsung), dan langsung masuk ke akun salah satu sosial media. Entah, aku tidak tahu apa yang aku pikirkan sampai-sampai aku malah mengirim private message ke akun dengan nama pengguna Hibiki Lui.
[ Kalau kamu sedang kumpul ekstrakulikuler, tolong bilang pada Ketua bahwa aku sepertinya tidak bisa jadi anggota lagi. ]
Bodoh.
Harusnya aku sadar kalau dia pasti sedang belajar di kelasnya.
Namun tidak juga—sepertinya. [ Ah, kenapa? Sekarang banyak anggota laki-laki, lho. Itu keinginan kamu dulu, kan? ]
Yayayaya pesannya dibalas.
[ Aku banyak tugas, jadi selalu tidak sempat kumpul. Kalau begitu lebih baik aku keluar. Ngomong-ngomong kamu tidak belajar? ], balasku dengan segera. Mungkin waktunya tidak lebih dari satu menit sejak aku membaca balasannya tadi.
Suara-suara mereka yang berbicara di belakang dan diselingi tawa beberapa menit sekali itu cukup mengganggu—tapi ketika ada pemberitahuan pesan masuk dari akun sosial mediaku, aku tidak cukup peduli untuk mempermasalahkan mereka. Aku segera membacanya; [ Sedang tidak ada guru. Baik, nanti aku katakan. ]
[ Terima kasih :') ]
[ Iya. ]
Lalu habis. Sebab aku tidak tahu harus membalas apa lagi, maka aku memutuskan untuk tidak membalas apa-apa. Selesai.
Tapi berhubung aku bosan, jadi bukan masalah jika sekadar melihat-lihat isi beranda. Ada satu kalimat yang berhasil membuat jariku beku—tidak sanggup menggulir layar lagi. Dan mataku membeku sementara hastrat ingin tertawa mendadak naik. Ini tentang Lui dan status terakhirnya—tertulis beberapa detik yang lalu. [ Just read-.-] Seketika aku kepedean.
Time
Aku baru saja berbincang-bincang tentang sekolah lanjutan sambil sedikit bercanda dengan teman-teman sekelasku. Yah, hari ini bisa saja jadi terakhir kalinya berkumpul sebab besok salah satu dari kami ada yang harus sudah berangkat ke luar kota—dia diterima di sebuah sekolah elit lewat jalur beasiswa; bukankah itu keren?
Jam dinding di sana telah membiarkan jarum pendeknya menunjuk ke angka sepuluh dan aku jadi ingat sesuatu. Ini waktu istirahat bagi siswa kelas tujuh dan delapan, bukan?
Lalu ketika masing-masing dari kedelapan teman sekelasku mulai berjalan meninggalkan kelas satu per satu, aku segera menuruni tangga untuk pulang ke rumah. Namun aku menghentikan langkah sejenak ketika sampai di anak tangga terbawah.
Salahkan letak ruang kesehatan di sekolahku yang tepat berada di samping tangga hingga aku di sini berdiri mematung memandangi. Yang ditangkap oleh penglihatanku, ada sekitar enam siswa laki-laki di sana—tidak ada pengecualian bagi Hibiki Lui, siswa laki-laki pertama yang jadi anggota palang merah remaja; terhitung sejak ekstrakulikuler ini mendapat cap 'tempat khusus perempuan' beberapa tahun lalu.
Tapi tidak. Sekarang capnya hilang entah ke mana. Dan aku tidak bisa menahan senyum bahkan kala kakiku mulai melangkah melewati gerbang sekolah dan meninggalkan mereka semua.
End.
A/N:
sebenernya ini pertama kali ikut antologi, dan rasanya agak ragu. karena temanya anak smp, mendadak malah keingetan sama cerita lama, dan jadilah ini O:)
eh iya maaf bikin bingung—iroha itu (ceritanya haha) akselerasi, jadi dia pas masuk smp seangkatan sama lui tapi keluarnya bareng kanon. maaf kalau ceritanya kurang jelas atau alurnya kecepetan. makasih yang udah baca, ya.
