PRETEND
.
.
.
GENRE : HURT, ROMANCE
LENGTH : CHAPTERED
FANFICT BY TIANLIAN
DESCLAIMER : THIS IS MY OWN
RATE: A+M (AGAK MENYIMPANG)
WARN : YAOI, BXB, TYPO'S
.
-CHANYEOL-JONGIN-
And
-KYUNGSOO (GS)-
Other cast
-WU YIFAN –BYUN BAEKHYUN (GS)- OH SEHUN-
And new cast
ZHANG YIXING and XI LUHAN (GS)
.
SUMMARY
Pernikahan Jongin dan Chanyeol bukanlah sebuah komedi putar yang akan selalu mononton dan terus berputar pada porosnya, pernikahan mereka lebih dari sekedar itu semua. Namun, sayangnya semua itu harus berakhir saat sosok lain hadir diantara keduanya.
.
.
.
Selamanya..
Mungkin tidak ada kata selamanya untuk kisah kita, karena semua akan berakhir disini entah dengan cara bagaimana namun semua pasti tetap akan sama. Semua akan sama seperti tak pernah ada kata kita terselip dalam takdir hitam gelap yang bergelimang tangis serta dusta..
Semua, segalanya…
.
Manik itu saling menatap membawa masing-masing rasa yang terbungkam pilu, cinta itu ada namun tidak akan pernah lagi bisa merekah seperti halnya terbekukan. Ada namun terlalu beku untuk dikatakan hidup..
.
"aku menunggumu, Park." Nada suara itu melantun indah, menyentuh pusat kendali saraf otaknya yang telah lama beku dan meledak dalam keterkejutan yang entah bisa dikatakan sebagai apa. Bahagia kah?
.
Wajah yang sama, senyum yang sama, hidung yang sama, bahkan sinar matanya pun sama.. dia tetaplah sama. Sama seperti halnya apa yang selalu diingatnya selama tahun-tahun hati itu terperangkap dalam lautan penyesalan yang tidak selayaknya ada.
.
"kau… sama sekali tidak berubah." Lagi, suara itu melantun dengan begitu indah dalam telinganya.
.
Senyum itu merekah dan nyaris membuat jantungnya berhenti untuk beberapa detik. Beberapa detik yang begitu dia rindukan. Bagaimana senyum sederhana itu membuatnya merasa semua pusat dunianya berhenti bergerak dan hanya terpusat pada sang pemilik senyum. Ia tertawan dan mungkin kembali terperangkap, lagi.. padanya…
.
"Jongin…"
.
Pemilik nama itu menatapnya lekat, dengan mata indahnya yang menampilkan sebuah sinar yang telah lama tidak pernah bisa lagi ia bayangkan akan kembali ia lihat.
.
"Kim Jongin..?" lagi, suaranya kembali mengalun dalam hening yang mengisi ruang diantara keduanya dan sebuah tawa menguar setelahnya.
.
"tuan Park Chanyeol, ada apa denganmu? Apa kau melupakanku?" Jongin menampilkan wajah terluka dengan sebuah senyum meremehkan terpatri diwajahnya. "hh, aku sungguh kecewa.. padahal aku berpikir kau akan memberiku sesuatu yang menarik setelah sekian lama kita tidak bertemu."
.
"Jongin.."
.
"ya.. Park Chanyeol, ini aku.. orang bodoh yang terlalu mencintaimu―
Kim Jongin."
.
.
.
Chapter 12
-For[ever]-
.
.
.
Dan untuk segala hal yang harus dia lalui untuk kebahagian semu yang mejadi bunga tidurnya, meskipun harus jutaan kalipun ia harus merasakan sakit, dia tidaklah akan perduli..
Meskipun ia harus berpura-pura baik-baik saja dalam senyuman palsunya. Ia tidaklah perduli..
Karena, semua yang telah ia tuai sekarang adalah buah dari kepura-purannya.. semuanya, segala hal yang dia mulai hanyalah sebuah kebohongan. Kebohongan yang memakannya dan menjerumuskannya dengan terlalu dalam.
.
Ia sangat mencintainya…
.
Mencintainya hingga hampir gila.
.
"Chanyeol.."
.
Dengan lembuat Kyungsoo mengusap bahu telanjang Chanyeol dan menumpukan dagunya disana. Ia mengusap anak rambut Chanyeol yang selalu tak beraturan saat pagi hari dan mengamati bagaimana pemilik wajah rupawan itu bernafas dengan begitu teratur.
.
"hey, bangunlah.. kau harus bekerja, Chan." Lagi, Kyungsoo kini mengguncang bahu itu dan semuanya membuahkan hasil dengan didengarnya erangan dari pemilik marga Park itu.
.
Dengan wajah yang masih kusut namun tidaklah mengurangi kadar ketampanan dari sang pemilik wajah, Chanyeol merengkuh tubuh mungil Kyungsoo dalam dekapan dan menjatuhkannya tepat didada. "lima menit lagi.." suara serak itu terdengar dan Kyungsoo menghela nafasnya pasrah saat hangat dekapan Chanyeol juga membuatnya enggan bangkit.
.
"tapi ini sudah siang."
.
Dekapan itu mengendur. "hhh… baiklah." Chanyeol bangkit dan menyisakan Kyungsoo yang masih bergeming kehilangan dekapan hangat itu. Kyungsoo tersenyum hambar menatap tubuh atletis Chanyeol yang berdiri shirtless dihadapannya dengan biasa dan kemudian menghilang dalam balik pintu kamar mandi. Kau berubah Chanyeol, kau berubah.. desahya dalam hati.
.
Kyungsoo kemudian menatap potret dirinya yang berdiri dalam pelukan Chanyeol dalam balutan bau pengating berwarna gading yang dulu selalu dia impikan―Potret pernikahannya tiga tahun lalu- ia menatap potert itu dengan mata menerawang dan terdiam.
.
.
.
Bayangan buram itu lagi-lagi hadir disana, bayangan seorang gadis kecil yang tersenyum begitu indah menanti sosok kecil lain yang berlari kearahnya dengan wajah tampan yang dipenuhi peluh.
Gadis kecil itu berteriak memanggil sosok itu masih dengan senyuman paling indah yang seakan tidak akan pernah luntur dan menyambut uluran tangan sosok yang tadi berlarian menujunya. Keduanya berlari menyusuri jalan setapak yang dipenuhi bunga indah menghindari kejaran sosok lain yang berumuran lebih tua dari keduanya, tertawa disela hembus nafas tak teratur yang mulai memendek karena lelah berlari.
.
"KYUNGSOO! JONGIN! BERHENTI KALIAN!" sosok yang mengejar Jongin dan Kyungsoo itu berteriak dengan sangat kencang, membuat sebagian pegawai yang kebetulan ada disana menoleh sejenak dan lantas tersenyum melihat tingkah polah anak-anak itu.
.
"YIFAN HYUNG SAJA YANG BERHENTI! AKU MAU BERMAIN DENGAN CALON PENGANTINKU!"
.
"YYAAKKK! KIM HITAM JONG! KYUNGSOO TIDAK MAU DENGAN ORANG HITAM SEPERTIMU!"
.
"EEHH?"
.
Secara tiba-tiba pemilik nama Jongin itu berhenti berlari, Kyungsoo pun secara otomatis juga berhenti diikuti Yifan yang malah sudah menekuk tubuhnya sembari menopang kedua tangannya pada lutut sembari menghembuskan nafasnya yang tak beraturan dengan serakah.
.
"Oppa, kenapa berhenti?" Kyungsoo kecil memiringkan wajahnya dengan bingung menatap Jongin yang juga menatapnya.
.
"apa Kyung tidak mau menjadi pengantin Jongin karena kulit Jongin hitam?"
.
"eh, apa?"
.
"apa Kyung benar-benar tidak mau menjadi pengantin Jongin?"
.
PLETAAKK!
.
Jitakan kuat itu mendarat tepat diubun-ubun Jongin. Yifan sang pelaku menatap Jongin geram lantas berniat kembali menjitaknya sebelum sosok Kyungsoo menarik ujung bajunya. "Yifan Oppa, tidak boleh kasar dengan Jongin oppa, Jongin oppa itu calon pengantin Kyungsoo tau!"
.
Yifan menautkan alisnya, "apa?"
.
"Kyungsoo adalah calon pengantin Jongin oppa." Senyum itu merekah lagi. "ya kan oppa?" meminta dukungan yang sudah pasti disambut dengan atusias. Senyum itu menular dan dibalas tak kalah semagat. "tentu, Kyung adalah calon pengantin Jongin. Selamanya!"
.
"yeeeyyy!"
.
.
Dan selamanya tidaklah akan penuh diisi dengan derai tawa.
.
.
"maaf, aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini." Suara tegas Jongin membuat lima pasang mata yang saling berhadapan itu tersentak. Tuan besar Kim melirik anak satu-satunya yang kini dengan lancang telah mengacaukan segalanya. Tatapan tajam itu membara namun semua itu tak lantas membuat goyah keputusan seorang Kim Jongin.
.
"oppa.. hentikan." Pinta Kyungsoo sembari menatap orang tua Jongin serta orangtuanya.
.
"aku tidak bisa melanjutkan omong kosong ini. Aku mencintai orang lain. Maaf."
.
Dan semua mimpi itu perlahan menguap menjadi ribuan jarum yang menyakiti hati Kyungsoo. Mimpi indahnya yang telah terajut selama bertahun-tahun itu tiba-tiba terbelah dan bercerai-berai tak menyisakan satupun benang yang dapat kembali dia rajut. Sang pangeran memilih orang lain dan meninggalkan calon pengantinnya tanpa mau menoleh. Dan gadis itu tidaklah meraung meminta sang pangeran kembali untuk dirinya. Gadis itu memilih diam, ia memilih ikut dalam permainan itu dan lantas kemudian ia terperangkap.
.
"namanya Park Chanyeol."
.
"apakah dia ―"
.
"ya, dia laki-laki. Dan aku mencintainya.. tch, aku bodoh bukan. Kyung?"
.
Masih terkejut dengan pernyataan orang yang selama bertahun-tahun dia cintai, Kyungsoo mencoba tersenyum. "tidak, Jongin oppa tidak bodoh.. Jongin oppa adalah orang terpintar yang pernah Kyungsoo tahu karena Jongin oppa berani jujur pada perasaan oppa sendiri." Hibur Kyungsoo dengan senyum indah yang selalu sama saat ia ada dihadapan Jongin.
.
Tangan Jongin kemudian mengusap puncak kepala Kyungsoo dan mengecupnya singkat. "terima kasih."
.
Dan segala hal manis itu kemudian tersimpan. Terlupankan dan tertimbun oleh ribuan luka sayatan yang menanti mereka. Tertawa mengiringi takdir keduanya yang terikat bersama satu nama.
.
Park Chanyeol
.
.
.
.
.
"apa kau tidak bisa melakukan sesuatu agar luka ini tidak terlihat mengerikan, Oh Sehun-shi?" tampang pongah Jongin adalah hal membosankan dalam sepenggal kehidupan Sehun yang indah. Pemuda pucat itu melirik sekilah roomatenya yang kini tengah mengeluh betapa sakitnya dahinya sembari mengomel tak jelas namun tidaklah berbuat apa-apa pada luka dengan diameter tidak sampai satu setengah centimeter menganga didahinya yang tengah gencar mengeluarkan sari bernama darah dengan bau khas karat yang memuakkan.
.
"haish, diamlah beberapa meter lagi kau akan sampai dirumah sakit jadi bungkam mulutmu itu. Tuan Kim Jongin." Sehun menyalak.
.
"tapi setidaknya tolong beri pertolongan petama pada orang yang tengah kesakitan ini dokter Oh." Jongin membalas dengan sengit dan Sehun dengan santai malah terus berjalan menuju lorong Seoul International Hospital yang tempak lengang.
.
"memangnya aku mau menolongmu! bermimpi saja!"
.
Jongin mulai geram. "tch, dasar dokter gadungan!" teriaknya tanpa tahu malu mengiringi menghilangnya Sehun bersama beberapa orang dari balik pintu lift yang meninggalkan Jongin bergeming ditempat sembari mengumpat kasar pada seseorang bermarga Oh.
.
Puas mengumpat pada akhirnya Jongin hanya bisa menggeram kesal sembari mengusap darah mengucur dari luka dihahinya yang belum kering serta tidak bisa dikatakan sedikit karena tetesannya turut memberi warna pada kemeja birunya dengan begitu indah.
.
Berdecak malas menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Jongin menundukkan wajahnya sembari menutupinya dengan telapak tangan lantas berjalan pelan menghiraukan tatapan heran bercampur ngeri yang memandang kepergiannya.
.
Jongin.. pemuda itu benar-benar seperti magnet. Semua mata memandangnya meskipun mereka tak mengenal sosok itu. Ia begitu menarik. Sangat menarik hingga sepasang mata indah berbentuk bulat itu tak berkedip sedikitpun saat melihat sosoknya secara tak sengaja.
.
Mata bulat itu bergerak tak fokus, tersenyum tipis sembari menatap lekat sosok Jongin yang telah menghilang. Nafasnya pun berubah tak beraturan tanpa sebab, ia berkeringat dan sialnya Ia gugup bukan main seperti seorang pencuri yang sengaja menyembunyikan kejahatannya secara professional dengan senyum palsu yang sengaja dia umbar lalu berpura-pura bersikap tenang.
.
"Kyungsoo.. hei, Kyung.."
.
Kyungsoo, pemilik mata bulat itu tersentak saat suara Chanyeol membawanya kembali. "ah, apa?"
.
"aku akan kembali, tidak apa-apa bukan jika kau menjaga Seoyeol sendiri?" Chanyeol menatap Kyungsoo yang masih gugup dengan senyum lantas Kyungsoo menganguk mengiyakan dan berkata. "kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaganya sendiri."
.
Wajah Chanyeol melembut, lengan panjang itu kemudian membawa Kyungsoo dalam dekapannya lantas bergumam lembut tepat dipuncak kepala Kyungsoo. "ya, aku tahu.. tapi aku adalah ayahnya, kapanpun kau membutuhkanku aku akan selalu mejadikan kau dan anak kita sebagai prioritas ku diatas segalanya."
.
Tidak.. bantah hati Kyungsoo, kau tidak bisa Chanyeol.. tidak setelah kau tahu dia kembali. Semua, semua yang ada tidak akan lagi seperti yang kau ucapkan. Tidak akan.
.
"aku mengerti, Chan." Kyungsoo balik memeluk tubuh besar Chanyeol tak kalah erat dan menghirup bau Chanyeol dalam-dalam. Chanyeol adalah miliknya.. ayah dari anaknya.. dia bukan lagi milik orang itu, bukan lagi. Dan akan begitu selamanya. Teguh Kyungsoo secara paten.
.
Jongin oppa, kenapa kau kembali? Apa kau berusaha menghancurkan dongengku lagi seperti waktu itu?
.
Seperti itukah?
.
.
.
.
Jongin belum sempat memutar knop pintu bertuliskan nama seseorang yang selalu ingin dia temui, dia belum sempat memutarnya, bahkan menyentuhnyapun belum. Namun, secara otomatis pintu bercat kayu tua itu terbuka dengan brutal menampilkan satu pemandangan yang benar-benar membuatnya menyipit heran.
.
"hai~" sapa Jongin dengan cengiran aneh yang membuat adegan kekerasan dengan pemeran utama Byun Baekhyun serta Wu Yifan yang tak lain adalah dua orang yang sangat dia kenal serta sayangi itu terhenti. Dua orang yang tengah terlibat baku hantam lisan itu terpaku kemudian, membeku dan tercengang dalam waktu yang hampir bersamaan.
.
"Jongin.." ucap keduanya hampir bersamaan dan sebuah senyuman merekah diwajah jongin setelahnya.
.
"hm, kalian terlihat begitu baik. Apa kabar, noona. Hyung?"
.
.
.
Baekhyun mengernyit, memandang sesuatu berwarna merah pekat yang mengalir di dahi Jongin lalu mendekat, mendorong Yifan yang menghalangi jarak antara keduanya dengan bringas hingga tersungkur kesamping menghantam pinggir pintu namun Baekhyun tak perduli karena toh sesuatu yang menghiasi dahi jongin jauh lebih penting dari makhluk bernama Yifan itu.
.
"apa yang terjadi dengan dahimu?" tanya Baekhyun khawatir sembari mengusap darah merah yang hampir mengering itu dengan sapu tangannya.
.
Reflek Jongin memegang tangan Baekhyun yang mengusap dahinya dengan begitu hati-hati dan membawanya turun. "hanya kecelakaan kecil, aku saja yang terlalu ceroboh hingga terluka." Balas Jongin masih dengan seulas senyum diwajahnya.
.
"Jongin.."
.
"hm?"
.
"kau…"
.
"ya?"
.
"KAU ITU BODOH ATAU BAGAMANA HAH?! BAGAIMANA BISA KECELAKAAN KECIL MEMBUAT DAHIMU SAMPAI BOCOR SEPERTI INI?! DASAR IDIOT! KENAPA KAU TIDAK BISA MEMBUAT ALASAN YANG SEDIKIT BERMUTU KIM, APA OTAKMU JUGA TERBENTUR?! APA PERLU KU BEDAH OTAKMU ITU HEH!?"
.
Tawa Jongin menguar bersamaan dengan berhamburnya Baekhyun ke dalam dekapan hangat Jongin. Tangan kecil Baekhyun memukul dada Jongin dengan bertubi-tubi disertai omelan khas yang selalu membuat Jongin tak tahan untuk mengulum bibirnya―tersenyum.
.
"noona, apa kau menangis?" tanya Jongin saat Baekhyun tak lagi mengomel namun hanya terdiam sambil masih membenamkan wajahnya didada jongin.
.
Baekhyun, dia mengangkat wajahnya yang memerah bukan karena menangis namun karena kesal Kim Jongin sialan ini dengan seenak hatinya pergi dan kembali tanpa memberitahunya yang sudah seperti orang gila saat ia menghilang. "KAU ITU SUNGGUH SIALAN KIM!" bentak Baekhyun kembali dan lagi-lagi tawa Jongin pun ikut menguar bersamaan dengan murkanya Baekhyun menghiraukan pelipisnya yang terluka.
.
Keduanya seperti kembali kemasa lalu, masa lalu yang tak seorangpun tahu kapan itu bermula. Jongin dan Baekhyun. Keduanya saling menatap manik masing-masing yang menyiratkan kerinduan dan tersenyum. "aku kembali Noona…"
.
"hm, selamat datang. Kim Jongin."
.
.
.
.
.
Diam-diam Yifan mengulum senyumnya saat Baekhyun dan jongin kebali berpelukan untuk kali kedua setelah adegan saling berteriak dan baku hantam berakhir. Ia membuka knop pintu dengan perlahan dan dengan tahu diri keluar untuk membiarkan keduanya saling melepas rindu.
.
Kim Jongin.
.
Adiknya telah kembali dengan senyum indah yang begitu lama tak pernah bisa dia lihat. Kim Jongin telah kembali dan dia sudah bisa melihat. Dia kembali, dan jujur Yifan merasa sangat bahagia dengan hal itu. Namun… jika Jongin kembali apakah semua masih akan sama seperti tahun-tahun Jongin menghilang. Apakah semua akan berjalan sebagaimana mustinya atau semua akan bertambah rumit.
.
Kim Jongin telah kembali dan hanya ada satu alasan kenapa adiknya itu kembali, mungkin pikirannya ini salah. Namun, mungkin juga tidak.
Hanya ada satu alasan kenapa Jongin kembali dan itu tidaklah terlepas dari satu nama.
Park Chanyeol. Si brengsek satu itu mungkin ada dalam salah satu alasan kenapa Jongin kembali. Namun, masih ada satu hal lagi yang menggelayuti otaknya. Jika benar Jongin kembali untuk Chanyeol apakah Jongin tega menghempaskan Kyungsoo. Kyungsoo yag selama ini ia jaga seperti adiknya sendiri. Jongin yang dulu mungkin tidak.
Tapi, Jongin yang sekarang… bagaimana dengan Jongin yang sekarang?
.
Terlarut dalam pikirannya tentang jongin secara tak sadar Yifan telah sampai dilobi utama dan memgernyit saat siluet seseorang yang sangat dikenalnya tetangkap oleh lensa matanya.
.
"Kyungsoo!" teriak Yifan hanya untuk memastikan.
.
Tubuh mungil itu berbalik, menatap Yifan kaget dengan mata besarnya yang membola dan selanjutnya berjalan mendekati Yifan.
.
"Oppa? kenapa Oppa bisa ada disini?"
.
.
.
Percakapan antara Yifan dan Kyungsoo hanya berlangsung beberapa menit, terputus secara sepihak karena dering telpon Yifan membuatnya buru-buru mengalihkan perhatian dari sepupunya.
.
"Sebentar, aku harus mengangkat ini dulu." Interupsi Yifan sembari mengacungkan handphonenya yang berkedip-kedip. Kyungsoo tersenyum mengangguk mempersilahkan lalu berbalik menatap jam tangannya saat Yifan menyingkir untuk mengangkat telpon.
.
"Sudah setengah jam." Gumam Kyungsoo dengan raut wajah cemas. Ia menggigit bibirnya lalu berjalan pelan menuju Yifan yang masih sibuk dengan handphonenya.
.
"sebentar lagi semua akan ku bereskan. Hm, sepuluh menit lagi aku sampai―apa? Haish bisakah kau tidak menjadi gila disaat-saat genting seperti ini! ak―
.
"Yifan Oppa, aku harus kembali." Potong Kyungsoo dengan suara keras yang lantas membuat ucapan Yifan tergantung. Yifan mengkerjab beberapa kali sebelum tersambung dan lantas menutup telpon itu sepihak. "nanti akan ku telpon lagi."[] pick. Telpon tertutup, YIfan sekarang mengalihkan perhatiannya pada Kyungsoo lalu bertanya.
.
"apa yang kau barusan katakan?"
.
"aku harus kembali Oppa." Desah Kyungsoo malas. "Seoyeol sendirian diatas, aku tidak ingin saat bangun nanti dia menangis karena aku tidak ada disampingnya." Jelas Kyungsoo yang disambut dengan anggukan paham Yifan.
.
"Oppa akan mengantarmu."
.
"tidak perlu, aku tahu Oppa sedang sangat sibuk." Tolak Kyungsoo halus.
.
Yifan menghela nafasnya, tersenyum tulus lalu mengusap rambut Kyungsoo sayang. "nanti aku akan kembali untuk menjenguk Seoyeol." Ucap Yifan akhirnya. Keduanya berpisah. Yifan berlari menuju luar dan Kyungsoo berjalan perlahan menuju lift menuju ruang rawat anaknya dengan pikiran penuh. Penuh dengan pertanyaan tentang banyak hal.
Yifan oppa, untuk apa dia ada dirumah sakit?
Kenapa bertepatan sekali dengan kembalinya Jongin oppa?
Apakah… apakah dia tahu Jongin oppa telah kembali?
Kenapa? Kenapa ? kenapa aku ketakutan… kenapa aku harus merasa takut? Memangnya apa kesalahanku?
.
.
.
Kantor dalam keadaan kacau saat Chanyeol sampai disana, Kim Jondae sang tangan kanannya nampak kesal sembari mengusap dahinya yang dihiasi butir keringat. Puluhan karyawan lainpun tak luput dari jangkauan matanya, ada yang tengah kebingungan dengan ribuan lembar kertas dalam rengkuhan, ada pula yang tengah sibuk menghandle deringan tepon beruntun yang tampak seperti terror, dan juga ada yang tengah berlarian dengan gelisah menyambutnya yang kini tampak menghela nafas kasar.
.
"presdir Park, ada tengah ditung―"
.
"aku tahu." Sela Chanyeol nampa perlu permisi sembari membelah kekacauan yang ada di kantornya. Jongdae menatap Chanyeol sembari mengisyaratkan bahwa ia harus segera masuk dan dengan langkah lebarnya ia pun menuju ruangan yang tengah disediakan lantas mengambil berkas yang disodorkan oleh bawahanya, membalik beberapa lembarnya dengan kilat lalu melemparnya kembali.
.
"apa semua sudah kau siapkan?"
.
Jongdae berjalan disampingnya dengan tergopoh. "ya, semua sudah siap."
.
.
.
Tak pernah ada lagi masalah selama beberapa tahun terakhir Park Contruction di dirikan selain terlepas dari kejadian tiga tahun silam dimana Tuan Do mengancam akan menarik sahamnya, tidak ada lagi hal yang menghambat perkembangan perusahaan milik Chanyeol setelah semua hal itu. Tidak ada.
Namun, secara tiba-tiba badai itu menghempasnya kembali. Puluhan pemegang saham itu kembali berulah dan Chanyeol rasa kali ini benar-benar lebih serius dari pada waktu itu. Kenapa? karena dirinyalah sekarang penguasa saham terbesar setelah separuh saham milik tuan Do jatuh ke tangannya, dialah pemilik saham mayoritas di perusahaannya ini. Terlepas dari 47 saham lain milik para investor tidak berguna itu yang kini dengan muka tebal melepas saham mereka secara sepihak dan yang Chanyeol tahu, saham-saham itu jatuh ke tangan seorang investor asing yang cukup terkenal dinegaranya.
Sialnya dia sama sekali tidak tahu siapa investor itu. Investor sialan yang mencoba menguasai Park Corporation dengan cara licik yang begitu indah.
Dan sekarang disinlah Chanyeol, dalam ruang pertemuan dengan beberapa pemegang saham atau bisa Chanyeol sebut sebagai mantan pemegang saham di perusahaannya dengan wajah terhiaskan senyuman palsu yang meskipun begitu tetaplah telalu menawan.
.
"sebenarnya untuk apa kau mengundang kami?" seorang pria tua dengan kaca mata tebal di matanya menatap Chanyeol dengan bosan.
.
Masih dengan senyumnya Chanyeol mencoba bersikap ramah dan kembali berbicara. "seperti yang sudah sekertaris saya katakan, saya secara pribadi hanya ingin berbincang dengan anda sekalian."
.
Dengusan remeh keluar dari masing-masing lima pasang mata yang ikut hadir dalam pertemuan itu. "tch, terus terang saja tuan Park. Kami tidak punya banyak waktu. Apa kau ingin tahu kepada siapa kami menjual saham kami?"
.
Chanyeol terkekeh pelan, menatap seorang pemuda yang barusan berbicara itu dengan tatapan tajamnya seakan mengintimidasi. "ahh, sebenarnya bukan itu pokok permasalahnnya.. cepat atau lambat tuan kaya raya yang membeli saham-saham kalian pasti akan menampakkan dirinya dengan sendiri tanpa perlu aku bersusah payah. Hanya saja…"
.
"lantas untuk apa kau mengundang kami?"
.
Senyum itu masih tertampang diwajah Chanyeol, dengan satu gerakan pelan ia memanggil Jongdae yang ada dibelakangya dengan satu gerakan jari. Dengan patuh Jongdae memberikan berkas map yang sedar tadi ada padanya untuk Chanyeol.
.
"kalian tentu ingat bagaimana caraku bekerja bukan? Semua orang tidak terkecuali, siapapun itu yang berani menghianatiku tidak akan pernah ku biarkan bernafas dengan lega selama aku masih hidup. Kalian tentu ingat hal itu."
.
Lima orang yang ada dihadapan Chanyeo litu mulai bergerak gelisah dalam duduknya, mata itu memandang gelisah meja dihadapan mereka dan tawa Chanyeol lagi-lagi memecah suasana dingin itu menjadi lebih buruk.
.
Dengan gerakan cepat Chanyeol berdiri, menghentikan senyum palsunya dan menggantinya dengan wajah datar lalu menatap kelima orang itu bengis. "aku akan menggugat kalian semua karena telah berani bermain- main denganku, maka untuk beberapa hari kedepan bernafaslah dengan baik. Sebab aku tidak menjamian kalian bisa menghirup nafas dengan bebas saat dibalik jeruji."
.
.
.
.
.
Dan saat kau mencoba bermain-main dengan api, maka kau juga perlu tahu bahwa api tidak akan segan-segan membakarmu hidup-hidup dalam penyiksaan yang tak pernah berani untuk kau pikirkan.
.
Dengan langkah lebar Chanyeol keluar dari ruang pertemuan itu, menuju kantornya yang ada dilantai tiga diiringi Jongdae yang mash setia berjalan disampingnya dan kemudian mengambil telpon genggam disakunya.
.
Sebuah gambar anak perempuan yang tengah bergelung nyaman dalam selimut menyapa netranya. Anaknya dengan Kyungsoo. Park Seoyeol. Harta berharganya yang masih tersisa dan buah dari segala penyesalannya.
.
"ku dengar anakmu masuk rumah sakit?"
.
Suara asing itu membuat Chanyeol menoleh, seorang laki-laki tinggi rata-rata dengan kulit pucat serta dimple menghiasi pipinya berdiri tepat dihadapannya. Mata itu menatap sang pemilik wajah dengan cermat dan terkejut saat ingatannya terurai.
.
Zhang Yixing. Lay… tangan kanan tuan Kim dan satu-satunya orang yang tahu tentang keberadaan Jogin kini ada di hadapannya. Dengan senyum indah yang entah bagaimana terasa begitu dingin. Laki-laki yang sama yang selalu diingatnya ada disamping Jongin. Laki-laki yang juga ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya Jongin. Laki-laki yang selama ini dicarinya. Sekarang tengah berdiri secara nyata dihadapannya.
.
Pintu lift terbukan dan dengan gerakan cepat Lay berbalik masuk ke dalam lift serta-merta berkata. "apa kau tidak masuk? Ku rasa kau sedang mencari tahu siapa orang brengsek yang tengah mencoba bermain-main dengan mu bukan?" kembali tersenyum, "kau akan mendapatkan jawabanmu di atas. Apa kau tidak tertarik?"
.
Seperti sebuah serangan mutlak kalimat penuh provokasi itu membuat Chanyeol berpikir ulang tentang semua masalah yang secara tiba-tiba timbul tanpa sebab, lalu semua benang kusut itu tiba-tiba berujung pada satu nama. Nama yang selalu dia ingat, dan selalu menjadi satu-satunya alasan kenapa setiapa malam ia harus terbangun dengan mimpi buruk yang membuatnya merasakan sakit yang teramat sangat. Nama yang sangat ingin dia ucapan secara lembut dalam ribuan maaf.
.
"Jongin.." lirihan samar itu terdengar oleh telinga Lay. Chanyeol mengumamkan nama itu dengan mata tak fokus. Dan hal itu membuat Lay menyeringai.
.
Dan yang Chanyeol tahu, setelah seringai itu mengembang. Yang dia tahu kaki-kaki panjangnya dengan cepat berbalik, berlari menuju tangga darurat yang tak jauh dari sana dan dengan kesetanan ia berlari bagaikan orang gila hanya untuk memastikan bahwa apa yang ada dalam pikirannya adalah benar menghiraukan Jongdae yang kini berlari menyerukan namanya.
.
Jongin… apa dia kembali?
.
Ribuan pertanyaan kembali bermunculan dalam otaknya, menari bebas bersama ribuan kekalutan hatinya yang terkubur selama bertahun hanya untuk satu nama. Jongin.. Kim Jonginnya.
Puluhan anak tangga terabaikan olehnya, lelah hanyalah sebuah kata idiot yang bahkan enggan disebutnya. Ia hanya ingin memastikan. Karena itu dengan tetesan peluh yang menghiasi wajah serta tubuhnya ia menerjang pintu kantornya tanpa perlu pikir panjang.
.
Bergeming diambangnya dengan nafas tak beraturan dan baju acak-acakan yang sudah tidak lagi terdefinisi. Menatap seorag pemuda yang kini berdiri dihadapannya dengan begitu nyata. Dengan senyum indah yang menyambutnya.
Dan hal itu bulanlah khayalannya semata.
Pemuda dengan wajah yang selau dia ingat dalam setiap tidurnya, pemuda yang memporak-porandakan hidupnnya, pemuda yang menggenggam hatinya hingga ia tak bisa bernafas lega saat semua penyesalannya hanya menguap sia-sia..
.
Kim Jongin, dam seluruh hatinya..
.
"aku menunggumu, Park."
.
Detakan keras menghujam jatungnya yang selama ini beku. Menghentak dengan betu keras hingga ia rasa ia bisa saja mati hanya karena hal itu. Sudah begitu lama… entah bagaimana ia merasa sudah begitu lama hatinya tidak berdentum sekeras ini hanya karena mendengar suara seseorang. Sudah begitu lama..
.
"kau… sama sekali tidak berubah."
.
"Jongin…Kim Jongin..?" lirih Chanyeol tak percaya.
.
"tuan Park Chanyeol, ada apa denganmu? Apa kau melupakanku?" tubuh Chanyeol masih bergeming, semua begitu tiba-tiba.. terlalu tiba-tiba.
.
"hh, aku sungguh kecewa.. padahal aku berpikir kau akan memberiku sesuatu yang menarik setelah sekian lama kita tidak bertemu."
.
Tapi, kalau tidak begitu seharusnya bagaimana? Memangnya apa yang Chanyeol harapkan?
.
"Jongin.."
.
"ya.. Park Chanyeol, ini aku.. orang bodoh yang terlalu mencintaimu―"
.
Karena luka yang dia toreh bukanlah luka yang dalam satu atau dua minggu dapat menghilamg dan lantas sembuh dengan begitu saja.
"Kim Jongin."
.
Karena semua luka itu harus dia bayar sekarang. Yah.. semua harus dia bayar sekarang..
.
.
.
.
The shaking sound of the wind
Shakes up my heart and passes by..
Even though I've hurt all could,
Hoe much more do I have to hurt..
In order to be just fine?
As if ti's nothing…
.
.
.
.o0o.
Chapter 12 Finish
.
.
.
a/n :
untuk semua yang nunggu ini fanfict…
hhh…akhirnya chapter ini bisa saya selesaikan untuk kalian yang masih setia menunggu saya. Eaaaaa… :P
saya cukup puas dengan chapter ini loh, cukup puas meski saya rasa juga masih banyak yang kurang. Yah.. dan untuk chapter selanjutnya.. saya masih belum kepikiraan. Oke kalian ada ide? Kalau ada tolong beri saya pencerahan.
.
.
Dan terakhir
.
Thanks to my precious readers
| onrie1420 | Seraphine Rin | diannurmayasari15 | laxyovrds | kimpinku | YuRhachan | sehuniesm | Fawkaihoon | kaiku | Sa | Miss Wuhan | sehunfina | park28sooyah | ChocoBear Noona | xpasiphaey | gdtop | gothiclolita89 | unknown | GYUSATAN | jung Naera | jihan park | KJ | YooKey1314 | hana | Devia494 | hunkai lovers | sayakanoicinoe | KAI's | njongah | aNOnime9095 | Khoirunnisa890 | Uzumakichan | melizwufan | WyfZooey | diajunie61 | Veraseptian | nana.k | dhadhiaa | kai uke shiper | HaeSan | ariska | steffifebri | jjong86 | | Guest | cute | hanbinikon | Song Haru | Kim Jongin Kai | hunexohan | sejin kimkai | helenaaaaafela | GaemCloud347 | bapexo | hnana | lalalalala | kim | yellowfish14 | kimkai88 | ucinaze | Kimsibling | ohkim9488 | Wiwitdyas1 | Waniey318 | elidamia98 | KkaiOlaf | YooKey1314 | Aesmayae | KSKJ | xsxsso | Jun-yo | NadyaputriKpoperBestFriendofYuNaCha | geash | kim nara | kimkaaa | estkai | Parkyayim | kaieqso | BabyWolfJonginnie'Kim | Jungie nuna | sasha | Yuki Edogawa | ParkJitta | Disyeye | KimuraRin | onespoonfulloppa | Dya Kim | bubblebaek | JSA | ranirahma | NishiMala | yooonnah | KKOS | | minjoo | isnawati96511 | sheyy bunny | Ziyuu Exol9488 | rellicioud94 | KJInoona | seorinkim88 | May | popyanzz | chiekai | M2M | baby tan bear | jumee | Karen Ackerman |
terima kasih telah menyempatkan diri buat mampir dan baca ini fict. ^^V
Silahkan tinggalkan jejak kalian dikotak review jika berkenan.
GOMAWOO!
.
.
.
With love
=TianLian=
.
.
.
[p.s : fanfict ini akan slow apdet untuk jangka waktu yang tidak menentu]
