Blurred (Prequel Merajut Angan Biru)

By Arianne794

Lu Han (GS)

OC

Minor-Romance, Self-Centered, Slice of Life

Short-Fic/T+

Warn : This is GenderSwitch!Lu. Almost 70% narration. Don't like, don't read. Thankseu!

.

.

.

Saya bersyukur Chiseulla meloloskan ini haha. Just Hope You Like It! ^^ Nanti baca sesuatu di bawah yaa…

Summary : Tak banyak yang ingin ia lakukan sekarang, selain menghabiskan sisa waktunya sebelum Lu Han yang sekarang menghilang. Terkubur di balik tulisan buku harian yang akhirnya terlupakan. / Self-Centered. Possibility LuhanXOther. Hesitated Preromance!HunHan

.

This is My OWN FanFic!

Do Not Copy Without Credit Nor Do Plagiarism!

.

.

Dirinya tahu, sebagai satu-satunya gadis yang terlahir di keluarganya, sebagai bungsu pula, membuatnya tak perlu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Pun ia tak perlu susah payah menerima beban keluarga untuk mewarisi kursi nomor satu perusahaan yang dibangun kakeknya.

Kakak pertamanya lebih dari mumpuni untuk mengemban tugas penuh tekanan itu. Kakak keduanya, dengan rendah hati, menyatakan diri sanggup membiayai kuliah adik perempuannya ini sendirian jika saja ayahnya memperbolehkan dengan gelar pengacara ternama di belakang namanya. Ah, kakak kedua yang kadar posesifnya nyaris overdosis.

Gah, ia selalu mendengar pujian tentang betapa sempurnanya hidupnya.

Dan sebenarnya, ia sama sekali tak menampik hal itu.

Dirinya dibiarkan bebas menentukan pilihan. Di mana ia hendak melanjutkan pendidikan, apa yang ingin ia tempuh, melakukan banyak kegiatan menyenangkan sesuai keinginan. Ia bahagia, dikelilingi materi melimpah dan kasih sayang dari orang-orang yang mencintainya. Menikmati pekerjaan menyenangkan sebagai seorang guru yang baru saja lulus dari bangku perkuliahan.

Namun, saat kakak pertamanya menikahi seorang gadis anak salah satu pejabat berpengaruh di kota mereka; ia tertegun, melupakan sejenak semua rasa bahagia. Gadis berambut panjang yang lemah lembut itu, yang kini menjadi kakak iparnya, ternyata tak berbeda jauh dengannya. Gadis yang kehidupannya nyaris sempurna dengan deret prestasi gemilang, mencetak karir cemerlang sebagai seorang desainer pendatang baru yang melanglang buana ke berbagai tempat. Luhan mengakui sebagai gadis paling bersinar yang pernah ia lihat. Yang pada akhirnya harus mengganti jubah kebebasannya dengan tudung transparan dan gaun putih dengan ekor menyapu lantai altar.

Dirinya akhirnya mengerti, mengapa ibunya malah tinggal di rumah daripada mendampingi sang Ayah yang saat itu masih menjadi orang nomor satu perusahaan begitu mereka menikah; menyimpan rapat semua kegemilangan masa mudanya dalam tulisan-tulisan rahasia dalam buku harian usang. Ia menemukan dirinya menangis saat membaca buku dengan lembar berdebu itu.

Di sela-sela acara minum teh sore hari yang hangat, di tengah cahaya jingga keemasan yang membuat wajah ibu dan kakak iparnya menjadi terlihat jauh lebih anggun saat tertawa membicarakan seorang pemuda tampan dari keluarga terhormat—yang terlihat menaruh minat terhadap dirinya; ia bertanya.

"Apakah menantu keluarga ini harus diam di rumah setelah menikah?" Ia hanya ingin tahu, apakah ia harus menjalani hal yang sama.

Dua perempuan berbeda generasi itu tersentak, menurunkan cangkir teh mereka. Dan ia tahu pertanyaan itu sangat sensitif saat melihat ibunya meminta semua pelayan menjauh dari halaman samping yang luas dan penuh dengan bunga. Ia mendadak sesak.

Kakak iparnya memberikan senyum lembut yang sedikit sendu sambil mengelus puncak kepalanya dengan sayang. Ibunya menatapnya dengan tatapan tak dapat diartikan.

"Semua perempuan yang pernah dan akan menyandang nama keluarga ini, Luhan."

Jawaban tegas ibunya tak dinyana membuatnya terisak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ibunya tak memeluk saat ia menangis. Ia dibimbing masuk ke kamar dalam pelukan kakak iparnya yang senantiasa menepuk puncak kepalanya dengan sayang. Ia tak melihat mata berkaca sang Ibu saat dirinya sendiri sibuk meratapi kemungkinan yang akan ia hadapi dalam beberapa tahun mendatang.

"Tidak seburuk itu, Luhan Sayang. Tidak seburuk itu. Kau akan menemukan hal lain sebagai pengganti kebahagiaanmu yang lalu." Kakak iparnya berusaha menjelaskan dengan perlahan, namun ia masih tak mau mengerti.

"Apa kakak tak pernah merindukan saat kakak berdiri di panggung, menerima buket bunga dan tepukan tangan, pujian-pujian dan tatapan kagum akan keberhasilan kakak? Tidakkah kakak merindukan itu?" Suaranya bergetar saat bertanya.

"Tidak sebanding dengan berhasil bersanding dengan kakakmu, Luhan."

Luhan tahu, meskipun jawaban itu bukan sebuah kebohongan, namun pula bukan berarti seluruhnya adalah kebenaran. Kakak iparnya masih sering kaku, tersenyum kecut saat seseorang dalam pesta menanyakan kapan ia akan kembali ke dunia lamanya.

Setiap keluarga memiliki peraturan sendiri, sebagai tradisi yang tak bisa dipatahkan begitu saja. Kolot! Begitu yang selalu Luhan teriakkan dalam dewi batinnya. Seorang perempuan harus tinggal di rumah, merawat dan mengurus keluarga, mendidik anak-anaknya dengan telaten. Keluar dari rumah ke pesta-pesta penting untuk sebuah simbol, mendapat pujian tentang betapa hebatnya ia mengorganisir rumah tangganya, bukan pujian tentang kegemilangan prestasi.

Luhan mendecih, untuk apa ia dibiarkan bebas melakukan apapun, untuk pada akhirnya dipaksa meninggalkan segalanya untuk duduk diam di rumah, menyambut seorang lelaki yang menyandang titel sebagai suaminya dengan senyum dan piringan makan malam tertata di meja panjang?

Lantas untuk apa aku melakukan semua ini? Untuk apa dirinya berusaha meraih prestasi membanggakan di akademinya? Jika pada akhirnya semua itu hanya akan menjadi kenangan usang yang akan terlupakan?

Anaknya hanya akan berbangga dengan ayahnya yang bekerja sebagai ini, sebagai itu. Dan ketika ditanya tentang ibunya, hanya bisa berkata "Dulu Ibuku seorang ini, seorang itu, yang sangat hebat!".

Kenapa ia tak dimasukkan sekolah memasak, sekolah menjahit dan sekolah-sekolah kepribadian lainnya? Dan menjadikan akademik sebagai pelajaran sampingan yang bisa dikejar waktu? Seorang istri haruslah berpendidikan walaupun hanya duduk diam di rumah; mungkin benar. Tapi Luhan menemukan dirinya muak dan mendecih kasar karena itu.

Pikirannya yang dianggap radikal berbuah tamparan keras dari sang Ayah.

Ibunya berkaca-kaca. Kedua kakak lelakinya memalingkan wajah, sementara sang kakak ipar memeluknya erat sesaat setelah ia tersungkur di lantai marmer yang dingin.

"Kau perempuan yang lahir di naungan nama keluarga ini! Suka tidak suka, kau harus menjalani takdirmu! Jangan mengoceh tentang hak-hak bodohmu lagi!"

Takdir? Hah, takdir ya?

"Kakak, semuanya menikah sebelum mereka berumur duapuluh lima, kan; Kakak dan ibu?" Luhan meneteskan air mata pedih. Kakak iparnya berhenti menyeka pipinya yang memar, tertegun.

"Luhan…"

"Berarti aku hanya punya tiga tahun lebih sedikit untuk menghabiskan waktuku sebagai Lu Han yang sekarang, kan?"

Kakak iparnya menangis, memeluk dirinya yang berdeguk pelan.

"Ayah akan menikahkanku dengan pemuda itu setelah aku berulang tahun yang keduapuluh empat. Kakak, katakan kakak akan mendukungku untuk pergi sejenak dari sini, sebelum Luhan yang sekarang hilang. Luhan di masa depan akan punya kenangan manis, walaupun …" Luhan tercekat. "pada akhirnya akan usang dan … menghilang."

Luhan berjanji itu kali terakhirnya menangis, diiringi ucapan kakak iparnya yang berjanji akan selalu mendukungnya, apapun yang terjadi.

.

.

.

Yang ia ingat kala itu adalah, kenangan salah satu malam. Saat ia duduk di balik meja marmer indah dan hamparan hidangan berkilauan. Ia duduk berseberangan dengan seorang pemuda berpotongan rambut rapi, serapi balutan jas yang dikenakannya.

Pemuda itu punya senyum yang indah, terlihat sangat teduh dan lembut. Ia bisa melihat pemuda itu menjanjikan segala kenyamanan untuknya di masa depan. Ia nyaris tak bisa berkata-kata. Tapi, ketenangan tidak bisa ia temukan untuk batinnya saat itu.

Setelah makan malam selesai, mereka berdua diberikan waktu untuk berbincang. Pemuda itu sangat sopan dan menghormatinya; gah, apa yang ia harapkan dari seorang pemuda yang berasal dari keluarga terhormat?

"Luhan, mungkin bagimu menikah denganku adalah hal yang berat. Aku tahu kau bukan gadis yang akan tersenyum dikurung di dalam rumah." Matanya mulai berkaca.

"Sekalipun kau akan menyandang nama keluargaku nanti, aku tetap harus menghormati cara keluargamu. Aku minta maaf untuk itu, tapi," Luhan mengangkat wajahnya untuk menemukan sebuah senyum paling teduh yang pernah ia lihat dan sebuah usapan kecil di poni rambutnya.

"Aku berjanji akan membahagiakanmu, aku akan mengganti semua kebahagiaan yang hilang darimu nanti. Tidak perlu meminta izin padaku, aku tak akan melarangmu melakukan apa yang kau sukai. Kau bisa pergi, asal berjanji akan baik-baik saja."

"A-anda tahu—" Luhan terbata, dan lapisan bening pada matanya mulai meluncur.

Pemuda itu terkekeh pelan. "Jangan memakai panggilan itu, aku tidak setua itu, Luhan. Dan ya, aku tahu. Tidak perlu menjelaskan apapun, oke? Aku yang akan berbicara pada ayahmu, dan jangan khawatirkan soal keluargaku."

Malam itu, Luhan melanggar janjinya untuk tidak kembali menangis. Ia terisak kecil di bahu keras yang terasa nyaman itu, menggumamkan terimakasih berulang-ulang.

Luhan tersenyum.

Dari semua orang yang ia harapkan di sini untuk ia lihat terakhir kali, hanya sang ayah dan kakak pertamanya yang tidak menampakkan diri. Ayahnya masih setengah hati, dan kakak pertamanya terlalu takut malah akan memanggulnya di bahu dan berbalik, menguncinya di kamar. Seluruh rombongannya sudah memasuki gerbang keberangkatan, sementara ia masih tertahan sedikit di sini.

Sebuah perpisahan singkat, semuanya sudah ia peluk bergantian. Khusus untuk ibu dan kakak iparnya ia berikan kecupan, dan ia sendiri mendapat kecupan dari kakak pertama dan tunangannya.

"Aku akan baik-baik saja, sampai ketemu nanti saat Baby Xiao lahir, ya?"

"Gadis bodoh, nantimu itu masih lama! Tidak sadar kalau kakak ipar baru empat bulan?" Kakak keduanya menggerutu, dan ia mengulas senyum geli yang tipis.

"Kami menyayangimu, jaga dirimu di sana." Luhan menoleh dan kembali mendapatkan kecupan yang sedikit lebih lama di keningnya. Luhan melempar senyum manis dan mengangguk.

"Seperti ini seharusnya seorang gentlemen saat melepasku pergi, bukan merajuk bak anak kecil." Leletan lidah terakhir yang akan ia berikan kepada kakak keduanya yang posesif itu, ia menyembunyikan senyum getir.

Ia memandang semuanya satu persatu, untuk terakhir kali.

Ah, lama-lama ini akan menjadi makin melankolis…

"Aku pergi, jangan merindukan gadis manis ini ya!"

Senyum ceria dan lambaian tangan semangat yang kekanakan; kali terakhir menjadi gadis bungsu yang manja dan manis.

Ia berbalik, mantap. Tak ingin melihat tangis ibunya dan senyum teduh yang membuatnya sedikit terbebani.

Dan sekarang, dirinya, duapuluh satu, akan menjadi seorang pengajar di daerah terbelakang. Daerah yang dijuluki antah berantah yang belum tersentuh teknologi dan pendidikan. Mencoba pergi sejauh mungkin, untuk mengukir kenangan yang nanti akan tertuang dalam tulisan buku harian.

Pelarian? Luhan dengan senang hati membenarkan, karena ia tahu, ia tak akan pernah mempunyai kesempatan melakukan semua hal seperti ini di masa depan.

.

END

.

Singkat saja, ini prequel dari sebuah Fic. Kalau dijadikan prolog di sana, saya males ngerombak chapter awal, dan, ya kali prolognya ada dua. -,-

Ini melankolis, yeah, I'm a girl after all.

Ah, saya serius tanya nih, kalian lebih prefer mana di antara beberapa tema berikut? Karena setelah menimbang keadaan saya sendiri dan keadaan reader Fic HunHan yang ah, sudahlah, saya mau minta pendapat mana yang saya kebut duluan. Walaupun pada akhirnya terserah saya, hahaha, tapi, bagi saya reader itu penting. *mendadakpundung

1. Married Life!AU. Possibility Broken!HunHan. Hurt, drama dikit, angst seperempat, sisanya melankolis.

2. Teacher!Luhan and Pilot!Sehun. Simply said; this one. Tema klasik emansipasi dan curahan hati beberapa orang.

3. Kidnapping Child. SingleMom!Luhan and Executive!Sehun. Tema klasik—lagi, adapted from 1997's transcript. :")

4. CollegeLife!AU. SelfishIntrovertSkeptic!Luhan and SweetCaring!Sehun. Bukan fluff, lebih ke slice of life.

Kalau serius responnya, saya juga bakal serius ngerjainnya. Kalau nggak ya, saya akan prefer ke original story saya dulu. See ya!

(Btw, happy long weekend haha, let's enjoy a little piece of heaven, ugh)

.

Anne, 2017-11-30