Chapter 12
Haii, minna ketemu lagi nih fic buatan sahabat author, Hinato.
selamat membaca...
"Unit 3 kepung bagian barat bangunan pastikan tak ada celah" suara dari HT terdengar cukup jernih untuk Gaara
Ia dan salah satu tim yang disiapkan khusus Asuma untuk penyelamatan Hinata bergerak merengsek masuk melalui pintu barat. Seharusnya Gaara tak disini, seharusnya ia berada dirumah sakit bersama Sakura untuk menemui ketiga kawannya. Tapi ini permintaan Ino. Dan itu mutlak, karena selain permintaan Ino inipun menyangkut nyawa temannya. Disisi lain iapun juga snagat kahwatir dengan keadaan Ino yang bahkan setelah berkata untuk mengurus penyelamatan Hinata ia langsung tak sadarkan diri.
Berbeda dengan Naruto yang sejak dibawa kedalam ambulance, dalam keadaan tak sadarkan diri. Begitupun dengan Konohamaru, ia mengalami pendarahan dikepala dan patah rusuk karena tertimpa reruntuhan bangunan, belum lagi luka lamanya yang tidak terlihat baik. Sedangkan tim Asuma yang lain segera meringkus Kabuto yang ternyata berada tak jauh dari gedung tersebut. Melihat dengan jelas kejadian dimana Konohamaru menyelamatkan Naruto.
Jujur Garaa kacau kali ini mengingat orang-orang yang disayanginya tengah bertarung dengan maut. Tapi ia sadar kalau Hinata harus diprioritaskan, mengingat Naruto dan Ino sudah ditangani dokter-dokter terpercaya. Sedangkan Hinata... ohh membayangkannya saja Garaa enggan.
Tim yang dipimpin oleh Garaa akhirnya bisa masuk dengan menumbangkan 4 penjaga dengan tembakan jitu snipernya. Tak jauh dari sana Garaa bisa mendengar suara tembakan.
"Kita berpencar, pastikan lindungi setiap sudut"
"Baik pak!"
Dalam sekejap anak buah Garaa menyebar kesegala arah. Sedangkan Garaa mulai mendekati asal suara tembakan tersebut. Semakin dekat semakin jelas kalau tembakan tersebut berasal dari unit yang Sasuke pegang. Dari tempat Garaa berdiri ia bisa melihat kalau Sasuke tengah berusaha melumpuhkan seseorang dengan gigi gerigi yang runcing.
Manik terang Garaa tiba-tiba jatuh pada seorang yang tengah mengamati jalannya pertempuran dari lantai atas dan tepat dibelakang orang itu nampak seorang wanita membelakanginya. Namun walau begitu, Garaa bisa tahu siapa wanita itu lewat rambut lavendernya.
Ya itu Hinata.
Garaa memberi kode pada salah satu timnya untuk mengikuti, tentu yang diberi kode mengerti dan segera bersiap melindungi Garaa dari belakang. Sedangkan Garaa dengan pelan melangkah melewati tangga. Dan tepat dibelakang orang tersebut, Hinata yang melihat bayangan Garaa hendak meronta. Namun Garaa segera meletakkan telunjuknya diatas bibirnya, mengisyaratkan Hinata untuk diam.
Slapp!
Dorr!
Orang itu jatuh tersungkur dengan sekali tembakan dikepalanya. Sontak orang-orang yang ada dibawah langsung gempar melihat teman mereka jatuh dari atas. Namun 4 orang tadi melindungi, Garaa segera menghalau pergerakan siapapun yang hendak naik keatas. Dengan segera Garaa membuka ikatan kaki dan tangan Hinata yang telah membaut lecet kulit putih temannya itu.
Tapi belum selesai pekerjaannya, tiba-tiba ia merasakan subuah moncong senjata api dibagian tengkuknya, naik keatas dan berkhir dikepala bagian belakangnya.
"Kau masih berpikir bisa mneyelamatkannya?" suaranya berat penuh wibawa namun terdengar angkuh.
"Berdiri dan buang senjatamu"
Garaa meletakan senjata apinya dilantai lalu mengangkat tangannya keatas. Bukannya menyerah, hanya saja ia tak mau bertindak bodoh karena bukan ia saja yang terancam tapi juga Hinata.
"Anak bodoh, untuk apa kau mempertaruhkan nyaawamu hanya demi wanita jalang sepertinya"
Garaa tahu ini Tuan Shiroshima, ayah Shion. Musuh utamanya. Ingin rasaya ia langsung menghujam jantung tua bangka ini dengan kunai yang ada disaku mantelnya. Tapi lagi-lagi ia tak bisa berpikir pendek.
"Setidaknya wanita yang kau sebut jalang itu masih temanku" desis Garaa.
"Kau bodoh dalam memilih teman anak muda"
"Dan anda bodoh memilih musuh tuan"
Dengan sekejap mata Garaa meraih tangan Tuan Shirishima, membanting tubuh tambun tersebut dengan hentakan kuat.
"Wow, sudah saya duga anda cukup berat" ucap Garaa sambil memandnag sinis pria tua yang terbaring tersebut.
"Kurang ajar" desis Tuan Shiroshima penuh kebencian.
Ayah satu anak itu meraih senjata apinya yang terlempar. Menyadari itu graa mengambil kunainya dan melemparkan benda tersebut tepat mengenai betis lawannya hingga membuat celana kain Tuan Shiroshima sobek hingga menembus kulitnya.
"Dengar, cepat atau lamabat orang seperti anda akan dimusnahkan, uan" ucap Garaa sambil mencondongkan tubuhnya pada pria paruh baya itu.
"Lalu bagaimana dneganku?"
Suara itu membuat bulu kuduk Garaa meremang, sedangkan Tuan Shiroshima bersmirk melihat ke-kaku-an wajah anak muda didepannya.
Dengan ragu Garaa menggerakan kepalanya.
"Dia bisa saja mati kalau kau bertindak lebih jauh"
Itu Shion. Dan ditangnnya revolver hitam mengarah pada Hinata yang entah sejak kapan sudah tak sadarkan diri. Nafas Garaa tercekat melihat kesungguhan disorot mata Shion. Namun itu tak menyembunyikan pancaran luka dari kedua manik jernihnya.
"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan. Tapi kumohon, apapun yang ingin kau lakukan tolong pikirkan baik-baik" kata Garaa waspada.
"Apa kalian berpikir bagaimana perasaanku? Dicampakan begitu saja, dibuang dan dilupakan. APA MENURUTMU ITU MENYENANGKAN?!"
Garaa teremnung, pikirannya melayangbuana kesegala arah. Ia selalu berpikir apa pelakunya terhadap orang lain tak akan melukai perasaan orang? Apa selama ini kelakuannya tak sampai membaut orang lain menaruh dendam padanya?
Ia hanya tak mau kejadian seperti ini menimpa orang-orang tercintanya. Ia tak pernah menginginkan berada dalam posisi serba salah seperti Naruto. Hingga membuat orang tersayangnya terluka seperti Hinata. Ino, ia tak mau Ino duduk lemas tak berdaya seperti Hinata. Melhat Garaa yang termenun dengan tatapan kosong Tuan Shiroshima, segera meraih senjata apinya hendak menmbak Garaa.
Namun...
Dor...!
Ialah yang tersungkur. Garaa terbelalak melihat siapa pelakunya.
"Shion... apa yang kau lakukan?" Tuan Shiroshima nampak begitu syok melihat anaknya sendiri menembak dirinya, walau hanya dibahu tapi tetap saja, itu sakit.
Sedangkan Shion berdiri dihadapannya. Tangan wanita tersebut masih mengacung, walau dengan tubuh yang bergetar Shion masih bisa mengontrol dirinya gar tetap tegak berdiri. Memandnag ayahnya dengan sorok tak berarti.
"Ayah yang memaksaku seperti ini"
"Ayah melakukan ini untumu"
"Ayah bilang aku harus emndapatkan kebahagiaanku dengan cara apapun. Dan ini caraku"
"Dengan membuat ayah terluka?"
Shion mendekati Tuan Shiroshima yang duduk memgangi bahunya yang masih mengeluarkan darah. Wanita muda itu menyamakan tubuhnya dengan Tuan Shiroshima.
"Kebahagiaanku adalah ayah. Melihat ayah berubah seperti ini sama sekali tak membuatku bahagia. Ini bukan kebahagiaan yang ku inginkan ayah, ku mohon hentikan. Kalau ayah ingin aku bahagia, cukup jadi ayah yang dulu"
Shion menangis dipelukan ayahnya, membiarkan baju yang ia kenakan ternodai darah sang ayah. Dia sama sekali tak ada niat melukai ayahnya, tapi jika itu yang terbaik untuk ia dan sang ayah maka akan Shion lakukan. Lagipula ia tak ingin membuat lebih banyak korban untuk sesuatu yang ayahnya sebuat kebahgaiaan. Cukup ia yang sakit, tidak Naruto, Hinata bahkan anak dalam kandungan Hinata.
Dan Tuan Shiroshima, si angkuh penuh wibawa ini merengkuh penuh kehangatan putrinya. Putri kecil yang selalu ia sayangi. Dan sekarang ia sadar kalau cara yang ia tempuh terlalu melenceng dari semestinya.
Sedangkan Garaa dibantu beberapa rekan timnya membawa Hinata pergi.
"Sasuke, aku sudah melepaskan Hinata. Urus sisanya, aku akan kerumah sakit"
...
Sudah 2 minggu sejak kejadian itu.
Hinata sudah membaik, begitupun bayinya. Nampaknya 2 nyawa itu begitu kuat hingga tak mendapatkan masalah berat saat peristiwa itu terjadi. Lain Hinata lain Naruto, walau sudah sadar lelaki itu masih enggan beranjak dari rumah sakit. Hal ini bukan berarti Naruto beralih profesi menjadi Dokter, oh ayolah yang ada dipikiran Naruto itu hanya ada berkas dan senjata api.
Tak pernah terlintas jarum suntik sekalipun. Jadi ada apa dengan Naruto?
Ini karena Konohamaru
Sampai saat ini, anak itu tak kunjung sadar dari komanya. Ini semua karena saat kejadian berlangsung tubuh Konohamaru dalam keadaan sangat kurang baik. Ditambah luka yang ia dapat semakin membuat kesehatan Konohamaru menurun.
"Kau tidak menyalahkan dirimu sendiri lagi bukan?" suara lembut itu mengembalikan Naruto ke dunia nyata.
Dan tak lama sepasang tangan ramping memeluk lehernya. Itu Hinata, Naruto tahu karena dapat sedikit melirik kepala Hinata yang bertumpu dibahunya.
"Merajuk?"
"Tentu saja, kau pikir enak diacuhkan seperti itu?"
"Hei santai saja, aku tak sepenuhnya mengebaikanmu. Karna kau tahu dihatikukan hanya ada dirimu"
Hinata memutar bola matanya jengah.
Lihatlah, setelah 1 minggu pulih bukannya makin waras Naruto malah jadi tambah gila. Yah walaupun itu membuat Hinata sedikit lega, karena bagaimanapun ia lebih memilih melihat kegilaan Naruto daripada harus melihat suaminya itu menangis tersedu-sedu di depan ranjang Konohamaru sehari setelah ia sadar.
Hinata beralih duduk disamping Naruto, tangan kecilnya mengusap hangat punggung tangan suaminya. Menyalurkan kenyamanan yang entah sejak kapan mereka lewatkan.
Tiba-tiba Naruto melepaskan genggaman Hinata, membuat calon ibu itu menatapnya bingung. Tangan yang tadi diusap oleh Hinata kini merambat ke sisi-sisi wajah Hinata. Mata terang Naruto menatap dalam pada sepasang manik bulan milik istrinya.
Si pria tersenyum lembut, dan si wanita menatapnya penuh tanya
"Terimakasih, terimakasih kau telah bertahan sejauh ini bersamaku" sepasang ibu jari itu menegelus pelah kedua belah pipi Hinata.
"Bersama seorang egois yang tanpa sadar telah membuatmu berada dalam segala masalah yang kuperbuat" kini tangan itu bergerak kebelakang kepala Hinata, iapun mengecup lama kening Hinata dengan segala perasaannya.
Dan saat kecupan itu menguar, pandangan mereka kembali bertemu. Mereka kembali menyelami mata milik pasangan masing-masing. Keduanya sama-sama terdiam dalam jarak wajah yang cukup dekat saat sebelah tangan Naruto turun ke perut Hinata.
"Dan terimakasih juga telah menjaganya selama aku tak bersama kalian"
Kini giliran Hinata yang tersenyum. Wanita ini membelai lembut pipi Naruto, melihat dengan jelas mata itu tertutup menikmati sentuhannya.
"Maaf karena telah meragukan semua yang kau berikan. Maaf juga karena telah membuatmu menghabiskan sisa hidupmu bersama seorang wanita yang tak bisa berbuat apa-apa saat kau terluka" setitik air mata turun dipipi Hinata, dan tentu saja itu tak dibiarkan lama oleh Naruto. Karena tanpa diperintahpun ia langsung menghapus air mata tersebut.
"Tapi terimaksih, karena telah berusaha menjadi ayah yang hebat untuknya"
Dan ketika perkataan Hinata habis, Naruto merengkuhnya, membawanya kepelukan hangatnya. Hanya pelukan itu yang Naruto punya untuk saat ini. Dan Naruto sadari tahu apa yang dibutuhkan Hinata saat ini. Hinata sendiri selalu mendamba saat Naruto memeluknya.
Pelukan hangat Naruto selalu membawanya kedalam kenyamanan tiada dua. Pelukan Naruto menenangkan, menghilangkan segala ketakutan dan kekhawatiran dalam benak Hinata. Karena itu pula Hinata tak akan pernah bisa melepas Naruto, Hinata akan tetap ada disamping Naruto. Sebesar apapun badai yang menerjang, serumit apapun masalah yang disuguhkan Hinata tetap berdiri untuk Naruto. Suami dan ayah untuk anaknya, lelaki hebat yang selalu melindunginya.
The End.
A/N : Sebelumnya saya Hinato berterimakasih sebesar-besarnya pada sahabat paling baik dunia akhirat, teteh Hyugana (hahahahha kamu terlalu berlebihan Hinato, terima kasih kembali telah bersedia memberikan sequelnya :D). Yang sudah bersedia ceritanya saya lanjutkan dan dengan suka rela memperbaiki tulisan mengerikan saya menjadi lebih indah ( aku hanya memperbaiki sedikit jadi jangan berlebihan, ne Hinato-chan hahhaha )
Dan juga kepada para readers (mau sider atau bukan saya ngga pedulu, saya Hinato) karena telah bersedia meluangkan waktu dan kuota untuk membaca cerita saya yang masih banyak kekurangan. And the last Thank you for your reviews.
Tenang next masih ada EPILOG.
