Bedeviled


Cast:

Chanyeol, Kai, Sehun, Kris, Chen, Tao, Jinyoung, Gongchan, dll

Rating: Little bit M

Warning: Ada seuprit adegan NC di chap ini, bagi yang tidak berminat baca part itu boleh dilangkahi. Oh iya, mulai dari sini summary-nya udah beda :D.

Summary: Dengan kekuatan merepotkan yang dia miliki, tanpa sengaja Chanyeol merubah dirinya menjadi LUAR-BIASA-AMAZING hingga semua orang di mall tergila-gila padanya. Kai dan Sehun yang marah besar memberi Chanyeol hukuman—dan itu termasuk tidak ada acara kencan dengan Kris selama Tiga bulan penuh. Chanyeol jelas saja tidak terima. Lagi-lagi sim-sala-bim! Nasi telah menjadi bubur. Hanya butuh satu kalimat keliru, kedua orangtuanya kembali ke usia remaja lalu kabur bersama-sama karena mereka amat sangat saling mencintai satu sama lain.

Nah, sekarang Chanyeol mendapat beban dunia di pundaknya.

Kai akhirnya bisa meninggalkan jalan hidup iblisnya. Tapi karena dia kembali ke remaja, siapa yang tahu bencana apa yang bisa ditimbulkan oleh Raja-Iblis-Versi-Tujuh-Belas-Tahun? Dan bagaimana Chanyeol bisa memperbaiki keadaan ketika dia punya satu ton penggemar yang mengikutinya kemana-mana? Dengan dibantu Kris dan Chen, dimulailah misi pencarian yang sangat merepotkan itu.


Chapter 8 – Teens in Action (Part I)

"Mau tahu apa yang lebih buruk dari punya orangtua ajaib? Punya orangtua ajaib berusia 17 tahun!"


Saturday, 21/11/2015

Chanyeol's P.O.V

Kris, Chen dan aku duduk di dalam kamar kami. Berbincang-bincang soal tugas kelompok drama Romeo dan Juliet di kelas bahasa inggris. Hanya drama kecil-kecilan kok. Panggungnya di depan papan tulis dan penontonnya teman-teman kelas kami sendiri. Yang kumaksud 'kami' disini tentu saja aku dan Chen yang kini resmi menjadi murid tahun terakhir SMA Kyunghee. Sedangkan Kris, dia hampir resmi jadi mahasiswa baru sebuah universitas negeri, hanya tinggal hitungan bulan sampai tahun ajaran baru dimulai. Kris mendaftar di Jurusan Music and Fine Arts dan lima hari lalu tesnya baru selesai. Syukurlah Kris hyung keterima. Karena Seoul National University akan rugi besar jika menolak anak muda se-berbakat dia. Yeah, kuharap aku juga bisa menyusul jejak pacarku nanti.

Apalagi yang lebih romantis dari satu fakultas dengan kekasihmu sendiri? Hampir kebanyakan orang berpikir itu sesuatu yang membosankan. Tapi tidak bagiku.

Well, aku tidak perduli. Terserah bagaimana pendapat kalian.

"Kita akhirnya menyelesaikan naskah drama untuk minggu depan," kuangkat skrip itu tinggi-tinggi dengan senyum bangga. "Ini semua tidak akan selesai kalau bukan karena bantuan Kris hyung. Terima kasih, hyung." kuciumi pipinya bolak-balik.

Kris langsung sumringah. Tak mungkin menolak ciuman gratis dari pacar sendiri.

"Hei, bagaimana denganku?" tanya Chen pura-pura jealous.

Aku mengangkat dua telapak kakiku ke depan wajah Chen. "Mau kucium pakai ini?"

Dia refleks memencet hidungnya. "Yeks bau! Turunkan kakimu, pelit! Dasar sombong. Toh dialognya tidak bakalan ada kalau bukan karena aku. Kris hyung kan cuma menambahkan dibagian musik."

Ya, itu betul sekali. Kris hyung membantu kami mengaransemen beberapa musik untuk backsound pengisi drama minggu depan. Jadi aku sangat yakin kelompok kami akan sukses besar dibanding kelompoknya Jinyoung.

Uhm… semoga. Mengingat si homo sapiens itu juga jenius musik.

Menyebalkan sekali ya? Kayaknya aku sudah ditakdirkan oleh langit untuk menjadi teman sekelas Jinyoung dan para kloningnya sampai lulus SMA.

"Aku sudah tidak sabar ingin pentas di depan kelas." Chen menatap lampu sambil mengunyah hamburger. Mama sedang tidak masak apa-apa hari ini. Jadi dia hanya memesankan kami junk food dari McDonald sebagai cemilan.

"Bagaimana dengan ekskul drama yang kau ikuti? Apa Jinyoung masih saja bertingkah?" tanyaku di sela-sela kegiatan mengunyah kentang goreng.

"Jinyoung ya Jinyoung. Kapan sih dia berubah jadi anak manis?" sindir Chen.

"Ya, ya betul," aku mengangguk setuju. "Sekali rubah licik ya tetap rubah licik. Apalagi Tao. Dua orang itu lebih pantas bermain drama King of Medusa. Jinyoung jadi Raja Medusa, Tao jadi Panglima Medusa."

Chen tertawa keras sampai remah-remah hamburger dari mulutnya berterbangan ke karpet.

"Kalian tidak boleh menggosipi orang sambil mengunyah makanan." tegur Kris dengan suaranya yang tenang dan dewasa. "Tidak baik."

"Baiklah," kutelan kentang gorengku cepat-cepat. "Dengan begini aku bisa menggosipi mereka sepuas hati."

"Tetap saja tidak boleh." Kris menggeleng-geleng. Terkadang dia membuatku jengkel sendiri dengan sikap sok dewasanya. "Mereka mungkin bukan anak-anak baik, tapi menggosipi musuhmu dibelakang bukan tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah."

"Oh ya?" aku menyipitkan mata menantangnya. "Lalu bagaimana menurutmu tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah?"

Kris mengendikkan bahu. "Simpel. Jangan anggap mereka manusia. Anggap saja semacam angin lewat."

"Ohh." aku mencibir. "Taktik basi yang sama yang pernah kau gunakan untuk menjauhiku dulu."

Gantian Kris yang menyipitkan mata. Aku sungguh-sungguh tidak ada maksud ngajakin ribut atau apa. Aku hanya agak kesal dan masih belum sepenuhnya iklas melupakan fakta bahwa Kris—kekasihku—pernah berkencan dengan Tao dan mengajak cowok itu ke acara dansa perpisahan sebagai 'teman spesial'.

Jadi begitu ya… tidak heran dia protes aku menjelek-jelekkan Tao dan menyebut dia Panglima Medusa. Rupanya Kris masih punya perasaan khusus…

"Sebelum kau mulai berpikir yang aneh-aneh, perlu kutegaskan kesejuta kalinya kalau aku dan Tao tak pernah berkencan!" bantah Kris defensif. "Kami memang dekat, tapi aku tak pernah menghubungi dia duluan, saling mengungkapkan perasaan kami, atau bermesraan berdua di tempat gelap seperti yang kau tuduhkan dari kemarin-kemarin! Kami cuma sebatas berteman akrab dan waktu itu aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran. Tidak lebih. Sudah jelas? Berhenti menuduhku sembarangan."

"Aku tidak menuduhmu. Buktinya ada kok. Tanya saja Chen. Kebetulan dia saksi mata hidup disini."

Kris memelototi Chen seolah cowok itu bayi yang berniat muntah di kemejanya.

"Eh… uhm…" Chen garuk kepala salah tingkah. "Aku… aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan." dia nyengir tanpa dosa. "Sudah dulu ya. Selesaikan sendiri masalah rumah tangga kalian. Jangan bawa-bawa aku. Bye!" Chen buru-buru ngibrit keluar kamar lalu membanting pintu tanpa menghiraukan teriakan protes kami.

Tatapan Kris kembali terarah ke mataku.

"Apa?" aku menantangnya balik. "Masih ada omong kosong lain yang ingin kau jelaskan?"

Kris menghela napas sebentar, kemudian merubah posisi duduknya menjadi bersila hingga kedua wajah kami benar-benar saling berhadapan. "Chanyeol…" dia meraih kedua tanganku. "Aku sudah bilang berkali-kali perasaanku dengan Tao hanya iseng. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah. Sedangkan kau? Aku mencintaimu. Perasaanku berubah. Dulu kita memang bukan apa-apa, dan aku tidak—maksudku, belum punya perasaan apa-apa terhadapmu. Tapi sekarang, kau adalah orang yang istimewa. Kau istimewa bagiku."

Diam-diam aku ingin mencubit diriku sendiri karena telah berpikiran bodoh. Tentu saja Kris mencintaiku. Dia sudah berulang kali menyatakan perasaannya sampai aku nyaris bosan. Untuk apa sih persoalan sepele di masa lalu masih kuungkit-ungkit lagi? Yang penting kan kebersamaan kami sekarang. Yang lalu biarlah berlalu. Lagipula awalnya karena kesalahanku juga.

"Ya… tidak apa-apa. Aku juga minta maaf. Untung saja waktu di pesta dansa Gongchan mau membantu—"

"Oh iya, soal Gongchan…" potong Kris. "Apa ada omong kosong yang ingin kau jelaskan tentang dia?" nada bicara Kris yang mesra berubah dalam sekejap.

Kupelototi Kris dengan terkejut. Sedetik kemudian aku berhasil merubah ekspresiku ke mode tenang kembali. "Tidak ada. Kami cuma… bisa dibilang… teman sehati."

"Teman sehati?" tanya Kris sambil mengeratkan genggaman tangannya. "Apa saja yang kalian ucapkan waktu itu?"

"Waktu itu apa?" aku berlagak bodoh.

"Waktu dansa bersama. Kalian kelihatannya intim sekali."

Aku bisa mendeteksi ada rasa jealous dari nada bicara Kris dan dari cara dia menatap mataku. Percayalah kawan, ini beribu-ribu kali lipat lebih baik daripada melihat Katy Perry versi half naked tanpa sengaja masuk ke kamar kita di malam hari. Pokoknya Kris terbakar api cemburu adalah hal yang paling sempurna di muka bumi ini.

Aku buru-buru menutupi senyum kemenanganku. Dengan begini skor akhirnya adalah satu sama. "Tidak ada apa-apa. Sungguh. Waktu itu Gongchan sedang bermasalah dengan kekasihnya. Jadi dia ingin sedikit menghiburku. Itu saja. Intinya kami berdansa karena kami memiliki problem yang sama. Bukankah itu indah sekali?" jawabku kalem.

Sekilas, aku merasa bola mata Kris seperti akan meledak.

"Indah?" Dia mendekatkan wajah lalu menyeringai kejam di dekat telingaku. Rasanya menyeramkan sekaligus mendebarkan. "Biar kutunjukkan sesuatu yang indah itu seperti apa."

Sesuatu? Oke. Perasaanku tidak enak.

.

.

.

.

"You're sooo amazing…" aku mendesah selagi Kris beraksi dengan begitu keras, rasanya begitu nikmat sampai punggungku melengkung lebih tinggi membentuk busur panah. "God. I love you so much..."

Kris menjilati tulang selangkaku, menggigit di area bahu sampai tercetak beberapa bitemark disana. Aku mencoba untuk memiringkan pinggul hingga tubuhku berada pada angle yang sempurna. Aku menaikkan satu kaki keatas pundak Kris. Setelah semua yang kami alami, baru kali ini aku merasa begitu terengah-engah, melenguh, dan mendesah keras dengan seluruh tubuh bergetar heboh dibawah kuasanya.

Kris mengunci kedua tanganku diatas kepala dengan tangan kanannya, lalu menangkup wajahku hingga kedua mata kami saling bertatapan, lalu kembali menyerang bibirku. Ciuman kami lambat, menyeluruh, dan penuh air liur.

"Fuck, Chanyeol…" desis Kris selagi mulutnya aktif dan gencar menodai bibirku tanpa ampun. Kris mengulum bibir bawahku kemudian lidahnya bergerak melakukan eksplorasi lebih dalam. Dia melakukan ini dengan begitu cepat dan bergairah dari awal, dan tidak pernah gagal membuatku ingin mencakar sambil menampari punggungnya dalam waktu bersamaan.

Saking menghayatinya, aku tanpa sadar terus bergumam, "Yes, ahh, yes, ahhh…" ke bantal setiap kali Kris menaikkan tempo dorongan. Semakin lama semakin cepat. Sampai-sampai rasanya sulit bernapas. Aku harus memiringkan kepala sedikit ke samping untuk menghirup pasokan oksigen. Bantal dan Kris sedang berkonspirasi untuk membunuhku perlahan-lahan.

"Come on, baby, come on…" desis Kris tak sabar. Ini sangat, sangat, sangat nikmat. Begitu nikmat hingga aku hampir terisak-isak.

Aku berteriak lantang saat mencapai klimaks lebih dulu. Sumpah, kakiku sampai gemetaran. Permainan Kris sangat kasar dan cepat. Akhirnya dia juga telah mencapai klimaks. Meski begitu, dia tetap menyodok spot yang ada di dalam sana, terus-menerus hingga ranjang dibawah kami ikut terbanting-banting, membuatku lagi-lagi menjerit keras dengan suara memilukan dan mencapai klimaks gelombang dua. Kris tetap dalam posisi seperti itu, mulutnya terbuka sedikit, tarik-buang napas sebentar, lalu ikut merebahkan diri di sampingku setelah dirasa 'hukuman' ini telah cukup membuatku jera. Dari skala 1 sampai 10, tentu saja aku sangat jera. Sangat sangat jera.

"Terima kasih hukumannya, Yang Mulia Tuan Kris Wu." aku melebarkan senyum puas melihat dia kepayahan begitu.

Cowok itu tidak berkomentar, hanya mendaratkan ciuman bertubi-tubi di leherku sebelum menarik diri. Dia sedang melepas kondom ketika aku kembali menarik wajahnya lalu mengulum bibirnya secara kasar. Kami kembali bertarung untuk dominasi dan saling menjelajahi mulut masing-masing ketika ada ketukan cepat di pintu.

"Chaaaan? Apa belajar kelompoknya sudah selesai? Ini Mama buatin sup ayam."

.

.

.

.

"Enak tadi mainnya?" Chen langsung cengar-cengir waktu melihat kami muncul di meja makan.

Segera kusumpal dia pakai lap meja sebelum mulut embernya itu membocorkan kegiatan panas kami di dalam kamar.

"Main apa?" tanya Mama tiba-tiba muncul dari arah dapur.

"Bukan apa-apa kok, Ma. Hanya… sedikit… ehm, main game futsal." jawabku gelagapan salah tingkah. Akting bukan keahlianku, jadi maaf saja kalau jadinya malah gagal total.

Kayaknya Mama tadi sempat menguping kami dari luar kamar. Karena dia langsung menyipitkan kedua matanya hingga berbentuk bulan sabit tipis. "Main game futsal? Chan, laptop dan komputermu kan masih ada di Mama."

Oh iya. Aku sudah lupa soal sita-menyita barang itu.

"Kau berbohong lagi padaku, iya kan? Kalian tadi sedang apa?" tatapan tajam dan penuh ancamannya beralih ke Kris. Menuntut jawaban.

Aku melempar kedipan mata konspirasi ke cowok itu. Ternyata dia juga sama-sama gelagapan dan salah tingkah. Memang sih, siapapun pasti akan langsung ciut nyalinya kalau lihat pose ibuku yang seperti ini. Kedua tangan di pinggang, alis nyaris bersatu di tengah, mata menyipit ke ukuran ekstrem dan kaki kanan sesekali dihentak-hentakkan ke lantai. Dia tampak seperti anak buah penagih utang yang sangat tidak sabar menunggu korbannya mengeluarkan duit dari dompet.

"Kami…" Kris menggaruk lehernya yang aku yakin tidak gatal. "Kami main game. Di laptop saya, Tuan Park. Kebetulan tadi bawa laptop."

"Ohh." meskipun masih curiga, tapi ekspresinya tidak setegang tadi. "Lalu kalau kalian cuma main game, kenapa Chen diusir dari kamar?"

Diusir? Yang benar saja!

"Kami tidak mengusir. Dia yang keluar sendiri!" timpalku. "Tidak ada yang mengusir anak ini."

"Anak ini? Hei, aku punya nama!" protes Chen agak tidak nyambung.

Mama menatap kami berdua sambil menyilangkan tangan di dada. "Dengar ya, anak muda," ancamnya. "Aku tidak mau kalian terlibat dalam masalah serius gara-gara emosi remaja kalian yang masih belum stabil." dia menoleh ke Kris. "Kau juga, lihat dia, anakku masih belum lulus SMA. Sebaiknya kalian tidak terlalu sering bermain-main seperti itu."

"Ma, kau tidak percaya padaku?" aku melotot tersinggung. Ini keterlaluan! Mama seharusnya tidak perlu bereaksi berlebihan. Sampai memarahi Kris segala. Toh kami hanya melakukannya sekali-dua kali. Dia saja yang sering begituan—hampir tiap hari malah—tidak pernah sedikitpun kuprotes. Tidak adil! Aku ingin menyinggung soal itu, tapi pasti bakal dibalas, "Jangan samakan dengan kami. Kami kan sudah dewasa". Huh. Jawaban cemen macam apa itu?! Bawa-bawa umur segala. Bikin kesal saja!

"Bukannya tidak percaya, Chan." kali ini ekspresi Mama benar-benar melunak. "Aku hanya memberitahu kalian jangan terlalu sering melakukan hal-hal seperti itu. Pacaran sih boleh, aku tidak pernah melarang, asal jangan kebablasan."

Aku menelan rasa gondokku bulat-bulat. Sedang tidak mood beradu mulut dengan ibuku yang menyebalkan.

Kris juga kelihatan agak kesal, tapi aku lihat dia lebih bisa menguasai diri dan hanya tersenyum penuh rasa bersalah. Malu juga pastinya. "Maafkan kami. Lain kali tidak akan terulang lagi."

Mama memegang kedua pundak Kris dengan tampang super serius. "Kris, kau sangat menyayangi Chanyeol, kan?"

Kris mengangguk, agak heran tiba-tiba ditanya begitu. "Y-ya. Tentu saja saya sangat menyayangi Chanyeol."

"Bagus." Mama menepuk-nepuk pundak Kris. "Kalau begitu, jaga dia baik-baik. Jangan rusak kepercayaanku, ya? Bisa kan?"

Kris mengangguk mantab. "Bisa. Sangat bisa. Jangan khawatir."

Apa?! Apa itu artinya kami tidak boleh melakukan itu lagi?

Dasar Mama! Selalu bersikap seenaknya! Mana Kris itu orangnya patuh dan taat peraturan. Seperti waktu tempo hari dia bilang ingin kuliah di tempat yang jauh dan mau kerja sambilan supaya bisa membiayai rumah kontrakan sendiri, eh, begitu diomeli orangtuanya, dia membatalkan niat dan akhirnya malah memutuskan tetap kuliah di Seoul.

Sebenarnya aku juga termasuk pihak yang diuntungkan disini atas batalnya kepindahan Kris ke Cina, tapi satu hal yang bisa kupetik, kalau ternyata Kris bukan tipe pembangkang sejati seperti yang dia gembar-gemborkan selama ini.

"Oke. Masalah selesai." Mama melepas kedua tangannya dari pundak Kris. Raut seramnya kembali ke mode keibuan. "Selamat menikmati makan siang kalian, anak-anak."

"Ma, mau kemana? Tidak ikut makan?" tahanku melihat dia buru-buru ngeloyor pergi.

Dia terus melaju ke tangga tanpa menoleh sama sekali. "Membantu pekerjaan Papamu."

"Pekerjaan? Apa 'pekerjaan' itu melibatkan kasur dan obat jamu kuat?" sindirku sebal bukan main.

Mama berhenti di anak tangga kesepuluh, menoleh sedikit lalu melempar senyum sok rahasia. "Ada deh."

Ck. Dasar licik!

.

.

.

.

Sunday, 22/11/2015

Apa aku sudah pernah bilang soal rencana double date kedua kami? Ya. Jadi hari ini aku dan Kris juga Chen dan Xiumin berkencan (lagi) di mall. Rasanya sudah lama sekali. Kapan ya terakhir kali kami double date? Bercanda, tentu saja aku ingat kencan pertama kami. Itulah hari yang sama dimana Kris menyatakan cinta, di tengah-tengah gelapnya cahaya penerangan bioskop juga di tengah-tengah pemutaran film The Maze Runner. Dan sekarang XXI adalah tempat bersejarah yang harus masuk dalam tujuh keajaiban dunia karena menjadi saksi bersatunya cinta kami. Aku bahkan masih ingat setiap detil kalimat yang keluar dari mulut Kris. Juga bagaimana cowok itu menggandeng tanganku di parkiran. Whoa! Pokoknya semua itu sudah terekam dengan sangat jelas dalam ingatan.

Kali ini aku dan teman-teman berencana makan di food court dulu sambil menghabiskan waktu empat puluh menit yang tersisa. Daripada duduk-duduk menunggu di dalam ruangan seperti pasangan lain, kami memlih untuk mengisi perut dulu. Ini idenya Xiumin hyung. Diantara kami semua, dialah yang paling cepat lapar dan paling banyak makan. Chen sama sekali tidak keberatan dengan nafsu makan besar Xiumin hyung. Malah katanya Xiumin hyung justru terlihat lebih ber-aura saat sedang makan banyak. Entahlah. Chen memang aneh.

"Hei, sepertinya aku kenal mereka." tunjuk Xiumun hyung ke segerombolan cowok-cowok seumuran kami.

Oh-oh. Siapa yang mengundang rombongan penjahat?

Kakiku berhenti melangkah begitu melihat Jinyoung dan kawan-kawan duduk di meja paling besar. Suara mereka begitu ribut hingga para pengunjung lain berkali-kali melempar lirikan sebal karena konsentrasi makan mereka terganggu.

Aku melirik Kris dengan tatapan menuduh.

Kris angkat tangan. "Bukan aku, oke? Urusanku dengan mereka sudah berakhir."

"Lalu kalau bukan kau, siapa lagi? Aku, Chen dan Xiumin hyung jelas tidak pernah punya niat mengajak mereka jalan bareng."

"Sudah kubilang bukan aku." bantahnya menahan sabar. "Ini pasti cuma kebetulan."

Yeah. Kebetulan yang memuakkan.

Tapi disana ada Ken, Leo hyung, Suho hyung, Kyungsoo dan Luhan—sepupu Kris—yang kini resmi berpacaran dengan Baekhyun. Jadi salah sekali kalau Kris tidak menyapa mereka. Kami tidak punya masalah dengan lima orang itu, malah aku lumayan dekat dengan Kyungsoo dan Ken. Luhan ge juga orang yang supel dan menyenangkan. Nah, kalau Jinyoung dkk, itu baru cerita lain! Hang out di tempat yang sama dengan mereka adalah sesuatu yang paling ingin kuhindari. Meski begitu, aku tak enak melarang Kris menyapa teman-temannya. Nanti aku dikira kejam dan berusaha mengajarinya jadi orang sombong yang anti sosial.

"Ayolah," Kris menggandeng tanganku untuk mengikutinya jalan. "Jangan khawatir dengan Jinyoung. Dia itu cuma banyak bicara. Dia tak kan perduli bila kau ada disana. Lihat saja betapa asiknya mereka bergosip."

"Aku tidak yakin," bisikku ke telinga Chen.

"Aku juga." Chen balas berbisik.

"Aku dengar itu." Kris berbisik di telingaku.

Aku meringis serbasalah. "Maaf, Kris. Tapi kami benar-benar tidak nyaman. Kita pindah ke tempat lain saja yuk?"

"Santai. Sudah kubilang anggap mereka angin tidak penting."

Sebenarnya aku masih ingin protes, tapi begitu kulihat tatapan mereka semua terarah ke kami, buru-buru aku membungkam mulut.

"Hei, guys!" sapa Kris sambil berjalan mendekati meja.

"Oh, hai bro!" balas Luhan sambil beranjak dari kursi. Ken, Suho hyug dan Leo hyung juga ikut berdiri. Mereka lalu terlibat tos dengan tangan dan tos dengan saling menubrukkan pundak. Setelah itu melakukan trik salaman keren ala anak band. Pokoknya keren sekali. Kris hanya melakukan tepukan tangan sekilas dengan Kyungsoo lalu menyuruh aku, Chen dan Xiumin hyung ikut duduk.

Untuk sesaat, aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Tadinya kupikir aku dan Jinyoung bisa duduk bersama dalam radius satu millimeter tanpa saling melempar kalimat hinaan. Tadinya kupikir kami bisa melanjutkan hidup masing-masing tanpa saling perduli satu sama lain.

Ha-Ha-Ha. Bercanda ya? Aku pasti sudah gila kalau mengira anak itu telah berubah. Ini Jung Jinyoung gitu lho! Si Tuan Sempurna yang merasa dirinya sangat penting dan benar-benar menikmati statusnya sebagai 'Cowok-Tenar-Paling-Jahat' di SMA Kyunghe.

"Lihat siapa yang datang," Jinyoung bersiul panjang setelah melihat kami. "Mr. Wu dan teman-teman proyek amalnya."

Jinyoung dan para dayang-dayangnya tertawa keras seolah yang tadi itu lucu sekali.

"Jinyoung!" Kris melempar tatapan tajam.

"Apa?" sahut Jinyoung membulatkan mata, terlihat se-innocent mungkin.

Kris tetap setenang permukaan danau, namun matanya menyiratkan ancaman. "Berhenti. Kami ingin makan dengan tenang, bukan mendengar ocehanmu."

Aku paling suka kalau Kris berdiri di kubu kami.

"Maaf." dia membalas ancaman Kris dengan senyum malaikat. "Habis aku tidak mengerti kenapa kau mau jadian dengan anak itu. Padahal ada yang lebih keren naksir setengah mati padamu." Jinyoung melirik Tao. "Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa kau mencampakkan Tao demi seorang pecundang sekolah. Apa kau diancam? Disogok? Atau tertipu dengan trik sok polosnya?"

"Sudah cukup," geram Kris.

Jinyoung si kepala batu tetap acuh tak acuh. "Atau… dia berlutut di kakimu dan memohon-mohon supaya dikasihani? Itu kan keahliannya. Benar kan, Chanyeol?" dia terkikik menghina.

Dalam sekejap aku merasa darah di kepalaku mendidih.

"Hey," kali ini Sandeul yang bersuara. "Tadi aku dan Baro baru dari Toko buku. Tebak siapa yang kami temui? Yixing!" pekiknya gembira. Yixing itu sama saja dengan aku dan Chen. Jinyoung dkk sering menganggap anak itu satu spesies dengan jamur kaki. "Nah, kalau itu baru cocok sama Chanyeol. Kalian berdua bisa jadi 'class couple' di buku tahunan."

"Oh, jelas. Pasti mereka bakal dapat satu halaman full di lembar paling depan." timpal Baro hampir tersedak minuman.

"Ya, betul betul!" seru Jinyoung. "Hanya saja, orang-orang mungkin akan bingung dan mengira itu halaman iklan dari The Circus Freak Show."

Tao ngakak sambil gebrak-gebrak meja. "Aku sudah bisa membayangkan judulnya. Pasti: 'The giant and the world's ugliest man'."

Mereka semua kompak menertawakan lelucon paling bodoh yang pernah kudengar. Cuma Baekhyun yang tampak kalem. Mungkin sedang jaga imej di depan pacar.

"Dia cetek sekali!" ledek Tao. "Dia bukan apa-apa, hyung! Memangnya kenapa kau mau memacari dia?"

Semua bergeming kira-kira tiga puluh detik. Kris sendiri terperangah ditanya terang-terangan begitu.

Oh Tuhan, aku bertanya-tanya apa yang akan Kris katakan. Mungkin dia akan bilang karena kehebatanku memasak dan kemampuanku melukis benda-benda hidup.

Tidak. Kayaknya bukan itu. Mungkin dia akan bilang…

Entahlah, aku sendiri juga bingung. Dan kalau aku saja tidak tahu, Kris bagaimana?

"Mengapa aku memacari Chanyeol?" ulang Kris setelah terdiam cukup lama, suaranya terdengar sangat aneh. Oh, tidak. Jangan-jangan dia sadar telah melakukan kesalahan fatal?!

Mendadak aku merasa agak kedinginan dan sedikit takut. Apa kira-kira yang akan dikatakan oleh Kris tentang aku?

"Pernahkah kau menghabiskan waktu bersama Chanyeol?" tanya Kris akhirnya.

"Pernah!" sahut Jinyoung seperti habis memenangkan hadiah jackpot. "Dia payah sekali! Pengkhianat. Merelakan tiket nonton dan ponsel demi teman culunnya."

"Chanyeol justru sangat setia kawan! Kau yang payah!" balas Chen tak mau kalah.

"Ya. Kau tidak tahu apa-apa, jadi tutup saja mulut brengsekmu itu." suara Kris terdengar seperti rentetan senapan mesin.

Luhan buka mulut untuk memprotes kata-kata Kris yang kelewat kasar—tapi berhubung Kris tampak sangat marah, dia tutup mulut lagi.

"Chanyeol jauh lebih berprinsip ketimbang kalian." Kris menatap Jinyoung dan gerombolannya dengan pandangan tidak suka. "Dia pemberani. Selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Ya, dia memang bukan artis sekolah. Ya, dia memang melakukan hal-hal gila. Tapi dia membuatku tertawa. Dia memberiku kejutan tak terduga seperti ukiran di pohon dan meteor cinta. Aku suka tindakan spontannya itu. Dan dia membuatku menikmati hidup." Kris menatap mataku, lembut dan hangat. "Aku beruntung memiliki dia sebagai pasangan."

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Yang kuinginkan hanyalah melayang sejauh mungkin ke langit ke tujuh dan tidak pernah kembali lagi. "Aku… aku juga beruntung.." gumamku dengan tenggorokan serak. Hampir menangis terharu.

"Aku mencintaimu, Chan."

"Aku juga m...mencintaimu, Kris."

"Ugh," Jinyoung menjulurkan lidah tanda muak. "Drama cinta yang sangat menjijikkan. Ayo kita pindah."

Rombongan perusak suasana itu ramai-ramai pindah ke meja lain. Meja paling jauh. Ya sudah sana!

"Waaah, aku salut lho. Pangeran Kris jago sekali. Wuhuu hebat!" Luhan ge memberi applause paling meriah. "Ngomong-ngomong, yang tadi itu memang agak menjijikkan sih."

Suho hyung dan yang lainnya tertawa-tawa. Aku merona malu. Apalagi tatapan pengunjung lain sekarang terfokus ke kami.

"Ah, menurutku sangat romantis kok." puji Xiumin. "Aku juga bangga padamu, sayang." dia bergelayut manja di lengan Chen lalu mengelus pipi cowok itu. "Kau sekarang lebih berani menentang mereka."

Lubang hidung Chen kembang-kempis bangga. "Kita memang harus berani pada mereka. Semakin kita lemah, semakin mereka bertingkah."

"Ehem," Baekhyun berdehem. "Salah satu dari mereka masih ada disini."

Oh iya ya. Kami lupa soal Baekhyun. Kenapa dia tidak ikut pindah sih? Apa karena pacarnya?

"Kalau mau protes silahkan. Meja kalian ada diseberang sana." usir Kris dengan telunjuk terangkat tinggi.

"Bro, relax." Luhan kelihatan tidak suka. "Kalau kau mengusir My Baby Baekki, itu tandanya kau juga mengusirku."

Apa? My Babby Baekki? Hoek!

"Dia," sekarang telunjuk Kris mengarah ke wajah Baekhyun. "Tidak seperti yang kau bayangkan. Mereka semua sama saja."

Baekhyun melotot. "Aku tidak tahu kau punya dendam apa padaku, hyung. Tapi kalau kau berpikir aku sama dengan mereka, kau salah besar."

Yup. Bohong banget. Baekhyun hanya mencoba berakting jadi anak baik di depan Luhan.

"Oh ya?" decih Kris agak sinis. "Terserahlah."

Setelah itu, kami semua makan dalam diam. Terlarut suasana hening yang menegangkan. Namun, diam-diam aku sudah membuat satu rencana.

.

.

.

.

"Aku ingin membuat Tao berpaling ke orang lain."

Chen menoleh dari kegiatan mencuci tangan. "Kau bercanda kan?"

"Tidak kok. Malah aku sangat sangat sangat serius." jawabku sambil bersandar di pinggiran wastafel yang terbuat dari marmer. "Saking seriusnya, setelah ini aku mau melakukan perburuan."

Chen tampak bingung. "Perburuan?"

"Ya, perburuan." aku mengangguk-angguk mantab. "Untuk menemukan orang yang bisa dijadikan target. Akan kubuat dia tergila-gila pada Tao… atau, tunggu dulu… mungkin… Tao yang akan kubuat tergila-gila pada orang itu! Ya! Tentu saja. Bisa kucoba. Dengan begitu dia akan berhenti memimpikan cowokku dan tidak akan berusaha cari-cari kesempatan lagi. Bagaimana menurutmu?"

"Orang lain ini siapa? Jangan bilang kau mau mencari secara random anak-anak tidak bersalah yang sedang nongkrong sendirian untuk dijadikan korban?" tuduh Chen seratus persen benar. Aku heran dia selalu bisa menebak jalan pikiranku.

"Hei, apa salahnya kita mencoba?" jujur saja aku sedikit tersinggung melihat Chen begitu skeptis. Seharusnya, sebagai sahabat baik, dia mendukungku. Toh, ini kan demi kelangsungan hubunganku dengan Kris. Jika Tao bisa melupakan perasaannya pada cowok itu, aku yakin hidup kami akan jadi lebih damai dan teman-teman bodohnya akan berhenti menggangguku karena mereka sadar perasaan Tao telah berpaling. Aku berusaha menjelaskan rencana ini ke Chen dengan mulut berbusa-busa, dan mau tahu apa tanggapannya?

"Itu konyol sekali."

"Konyol?! Coba pikir-pikir lagi, Chen. Bukankah itu brilian?" aku berusaha mempengaruhi dia. "Tao akan punya pacar sendiri. Dia tak bakal menghasut teman-temannya lagi untuk menghinaku."

"Mereka akan tetap menghinamu apapun yang terjadi." Chen meletakkan kedua tangannya dibawah jet air dryer. "Lagipula, bagaimana caramu membuat Tao tergila-gila pada orang lain?"

Aku tertawa lebar ala om jin. "Kau lupa ya sedang berbicara dengan siapa? Aku ini… Putra Tunggal dari Raja Kegelapan. Tidak ada yang tidak mungkin bagiku."

"Tolong, Chan. Berhenti gila-gilaan. Terakhir kali aku harus melihatmu datang ke pesta dansa dengan jubah merah jelek yang lebih mirip gaun pengantin Frankenstein."

"Itu bukan gaun pengantin Frankenstein!" aku lelah mendengar semua orang menghina kostum unikku.

"Oke, oke, maaf. Maksudku, jubah merah jelek yang lebih mirip piyama tidur Vampir waria."

"Ha-Ha. Lucu sekali, Chen." sindirku tajam. "Sekarang bisa diam dulu?"

Dia berhenti tertawa sambil terbatuk-batuk. "Sori."

Aku berkacak pinggang. "Sudah puas ketawanya?"

Dia mengangguk lalu berdehem. "Well… intinya rencanamu selalu jadi boomerang bagi dirimu sendiri. Jadi lupakan saja."

"Kali ini aku tidak akan gagal. Aku sudah mengalami kemajuan pesat belakangan ini. Pokoknya rencanaku tidak akan gagal." sahutku percaya diri.

"Aku selalu mendengar itu. Tapi ujung-ujungnya gagal juga."

Aku mengerang frustasi. "Tidak semua kok! Lagipula yang satu ini lumayan simpel, aku hanya perlu menghipnotis Tao lalu menelusupkan pemikiran baru ke kepalanya. Buat dia jatuh cinta dengan target yang kita pilih."

"Entahlah, Chanyeol." Chen masih ragu. "Menurutku itu tetap rencana gila."

Aku gerah dengan tanggapan negatif Chen yang itu-itu saja. Kapan sih dia pernah langsung setuju? Pasti jawabanya selalu tidak. Okelah. Terserah dia. Keputusanku juga sudah bulat. Aku tidak perduli apa pendapat Chen. Malah, akan kubuat dia terperangah nanti. Rencana ini harus berhasil. Aku tahu apa yang kulakukan.

Sambil melangkah ke pintu keluar, aku menoleh ke Chen. "Jadi, kau mau ikut atau tinggal selamanya di toilet?"

"Hmm…" dia angkat bahu sekilas. "Aku cuma mau melihat apa yang akan terjadi."

Sudah kuduga dia pasti penasaran. "Kuanggap itu 'ya'."

Chen menghela napas panjang, masih kelihatan gelisah. "Fine. Tanggung sendiri resikonya."

.

.

.

.

Dimulailah 'perburuan' kami.

Aku dan Chen duduk di bangku kayu panjang di dekat pohon kelapa plastik yang mengeluarkan cahaya kuning. Kris dan yang lain pasti akan heran mengapa kami lama sekali di toilet. Biarlah. Kami cuma sebentar saja kok. Lihat, dapat, tarik, hipnotis lalu selesai!

Kepala kami celingukan kesana kemari. Mata kami berkeliling ke wajah-wajah manusia yang daritadi berlalu-lalang di hadapan kami. Mulai dari pria sampai wanita. Semuanya tak lolos dari incaran. Yah, kecuali orangtua. Aku kan tidak sejahat itu sampai tega mencomblangkan Tao dengan bapak-bapak yang sudah berkeluarga. Jadi target kami adalah cowok dan cewek mulai dari usia 15 sampai 20 tahun. Agak lebih dewasa sedikit tidak apa-apa. Asal belum memiliki garis-garis keriput.

"Bisa cewek juga kan?" tanya Chen.

Aku mengangguk, mataku tak lepas dari sekawanan cewek remaja berpakaian modis yang lagi duduk-duduk di bawah pohon kelapa biru. "Ya, bisa cewek juga. Eh, eh… kalo yang itu gimana? Mereka lumayan. Cantik-cantik semua."

"Wah, kok bisa sama begini ya? Daritadi juga mataku hinggap di mereka."

Aku menyeringai lebar. "Sudah kubilang ini mudah saja. Yang harus kita lakukan adalah dekati mereka, pura-pura ajak kenalan, setelah itu akan kupanggil Tao lewat telepati."

Chen kaget bukan kepalang. "Kau sudah bisa telepati juga sekarang?"

"Tentu saja," dengusku kesal. Chen terlalu menganggap remeh kekuatanku. Oke, jujur, aku memang belum belajar telepati sih. Tapi… aku sudah bisa menguasai cara menghentikan pensil di udara, memutar pensil di udara, memundurkan pensil di udara dan segala macam pelajaran pensil ayahku yang membosankan. Jadi sesulit apa sih menggerakkan seorang Tao untuk datang kemari? Malah waktu pesta dansa aku membuat dia berulang kali terbanting ke tembok.

"Siap beraksi?" tanyaku seolah memberi aba-aba.

"Siap sekali." Chen mencibir sok jago, "Gampang! Menggaet cewek-cewek bukan hal yang sulit. Sekali kurayu mereka bakal langsung klepek-klepek."

Kutoyor kepalanya. "Bukan buat kau! Buat Tao! Memangnya Xiumin hyung mau kau simpan di laci?"

Chen memutar bola mata. "Iya, iya, berisik."

Kami bangkit dari kursi lalu berjalan mendekati mereka. Cewek-cewek itu kira-kira setahun atau dua tahun dibawah kami. Terbukti dari gaya dan cara bicara yang masih begitu polos. Aku yakin sekali mereka adik kelas.

Tidak apa-apa. Bisa untuk sekalian uji nyali dan pembuktian kalau aku dan Chen tidak sepayah yang dituduhkan Jinyoung selama ini.

"Hai." sapaku dengan senyum ramah. Berusaha tidak grogi. "Maaf mengganggu. Bisa minta waktunya sebentar?"

Keempat cewek itu tiba-tiba berhenti tertawa dan mengobrol seru waktu melihat kami. Lalu saling berpandangan heran.

"Engg…" cewek dengan rambut paling pendek tersenyum aneh. "Memangnya kalian ada perlu apa ya?"

"Ya, kami sedang sibuk. Kalau kalian ingin menggoda kami, sebaiknya lupakan niat buruk kalian." timpal si rambut merah.

"Itu betul, oppa. Soalnya kami semua sudah punya pacar." ucap si gadis berambut panjang lebih sopan. Anyway, badan cewek itu yang paling tinggi diantara semuanya.

Si mungil terkikik pelan. "Ih. Aku tidak mau jadi objek keisengan, cowok-cowok mesum. Silahkan terkam saja tiga temanku ini, mereka belum punya pacar kok."

Wow. Bukan jenis respon yang kuharapkan.

Dan mereka sombong juga ternyata. Pake berbohong sudah punya pacar segala!

"Terus bagaimana denganmu, apa kau sudah punya pacar?" tanyaku ke si mungil. Tampang cewek ini paling imut diantara teman-temannya.

"Aku?" dia menunjuk dirinya sendiri lalu terkikik lagi. "Aku sudah punya tunangan malah."

Tunangan? Oke. Lagi-lagi dia mencoba membohongi kami. Sudah cukup. Kenapa cewek-cewek harus selalu se-menyebalkan ini ya? Sok jual mahal.

"Benarkah?" Chen pura-pura kaget. "Pasti tunanganmu itu kejam sekali."

Barulah dia berhenti tertawa. Ekspresi wajahnya berubah datar dan agak dingin. "Apa maksudmu?"

"Ya," Chen mengangguk-angguk. "Cowokmu pasti kejam. Buktinya dia membiarkanmu jalan sendiri dengan teman-temanmu. Cewek yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan sesama teman ceweknya, bisa dipastikan dia cewek yang kurang dapat perhatian."

Chen. Dia gila atau bodoh? Kenapa dia bilang begitu?! Ngajak berantem itu namanya!

"Chen," diam-diam kujawil lengannya. "Kau ini bicara apa?" bisikku.

"Tenanglah." dia mengedipkan mata penuh percaya diri. "Aku bisa mengatasi mereka."

"Oke, cowok-cowok kurang kerjaan. Kalau kalian memang sebegitu kurang kerjaannya, kenapa tidak berkenalan dengan tante-tante itu saja?" aku dan Chen mengikuti telunjuk si gadis berambut merah. Rupanya dia menunjuk dua ahjumma gendut yang kalung perhiasaannya betumpuk di leher.

Empat cewek centil itu tertawa melihat ekspresi melongo takjub kami.

Herghhh. Mereka mau main-main rupanya.

Sabar, Chanyeol… sabaaar…

"Permisi ya kakak-kakak tampan, kami mau pergi dulu." si rambut merah—yang sepertinya boss geng atau apa—melenggang pergi dengan angkuh diikuti ketiga temannya.

Oh, no, no, NO! Aku belum siap kalah secepat ini!

"Tunggu!" panggilku. "Kalian tidak boleh pergi sebelum berkenalan dengan Tao."

Empat yeoja itu kompak menoleh dengan muka heran.

"Tao?"

"Ya, Tao. Huang Zitao teman kami. Orangnya sangat lucu dan asik," dustaku. "Pokoknya kalau kalian butuh cowok yang bisa bikin kalian merasa terhibur, Tao adalah orang yang tepat." aku mempromosikan orang yang sudah jelas-jelas paling bobrok seantero sekolah. Nomer dua dibawah Jinyoung. Masa bodoh. Toh, dibawah pengaruh kekuatanku, mereka cukup 'saling mencintai' saja kan? Tidak perlu pakai tetek-bengek lain.

"Oh ya?" si rambut merah berlagak kaget. "Huang Zitao ini pelawak atau apa?"

Tidak. Dia bukan pelawak. Tapi penjahat sekolah yang sok ngetop. "Hmm… dia bukan pelawak. Hanya saja… dia memang agak senang bercanda." jawabku.

"Plus, dia itu orangnya super sweet, dermawan dan murah hati. Pokoknya dia selalu melakukan hal-hal baik dan rajin beramal setiap hari. Tao juga tidak pernah buang sampah sembarangan. Dia pernah menyelamatkan seekor burung yang sayapnya patah, dan dia juga sering menolak membedah katak di kelas sains."

Chen daritadi hanya menoleh kebelakang. Bahunya bergetar-getar. Aku yakin dia sedang berjuang keras menahan ledakan tawa.

"Iya kan, Chen?" kusikut rusuknya.

"Iya, iya." Chen asal mengangguk.

Dalam hati aku mulai memanggil Tao.

Tao, Tao. Huang Zitao anak kelas XII-2, teman sekelasku di SMA Kyunghee. Aku sengaja menyebutkannya super lengkap. Tidak ingin ada Tao-Tao lain datang kemari. Ayolah Tao. Ini saatnya kau muncul. Ada empat cewek sekaligus yang ingin berkenalan denganmu. Kemarilah. Cepat. Berdiri dari kursimu sekarang dan datanglah. Jalan cepat. Cepat!

"Tolooongg!"

Kami serentak kaget lalu menoleh begitu mendengar suara teriakan seorang cowok dari arah belakang. Mengira itu seorang bapak yang sedang kemalingan, ternyata Tao. Berjalan kearah kami dengan langkah cepat. Oke. Terlalu cepat sih. Saking cepatnya dia agak mirip Naruto saat berlari diatas air.

Dia mendadak berhenti dari langkah seribu bayangannya disertai bunyi sepatu berdecit di lantai seperti ban motor. Tao menatap kami semua dengan ekspresi linglung seperti habis kesurupan.

"Kalian?" tanyanya. "Ada apa ini? Aneh sekali. Aku hendak membayar makanan di kasir lalu tiba-tiba aku berjalan cepat sekali menuju kesini. Aku bahkan belum membayar mie pangsit yang tadi. Gawat!" Tao tepuk jidat. "Bisa-bisa aku dikira berandalan tukang makan gratis! Aku harus kembali kesana!"

Tampang-tampang keempat cewek itu berkerut aneh. Mungkin mereka kira kami sekumpulan cowok sinting. Ini tidak boleh dibiarkan. Tepat saat Tao balik badan, aku buru-buru menyetop langkahnya.

"Lho? Lho? Kenapa ini? Kok aku tidak bisa jalan?"

"Hahaha." aku pura-pura geli melihat tingkah Tao yang bagai pantomim bingung. "Sudah kubilang Tao ini anaknya suka bercanda. Gimana? Lucu ya dia?"

"Aku mau bayar mie pangsit! Aku belum bayar mie pangsit! Toloong! Kenapa kakiku tidak bisa diangkat?!"

Ya ampun. Harus ya dia histeris begitu?

"Heheh." aku cengengesan. "Sudah kubilang dia itu orang yang gentleman. Bahkan saat bercanda pun masih ingat belum bayar mie pangsit. Gimana? Apa kalian berminat?"

"Chan…" Chen berjongkok di lantai sambil memegangi perutnya yang mules akibat kebanyakan tertawa. "Sudah cukup. Ampun. Bebaskan dia. Kasihan belum bayar mie pangsit."

"HAHAHA."

Aku terloncat kaget mendengar suara ketawa menggelegar si mungil yang super heboh. Ya Tuhan, cantik-cantik tapi kalau ketawa mirip nenek lampir.

"Kalian lucu sekali." dia mengusap kedua matanya dengan punggung tangan. "Dan oppa yang itu juga manis. Ngomong-ngomong, namaku Arin. Salam kenal." cewek itu membungkuk sopan lalu tersenyum manis kearah Tao. "Hai, oppa!" serunya sambil melambaikan tangan riang. "Sudah cukup berakting, kemarilah. Ayo kita ngobrol-ngobrol."

Diakah cewek yang barusan bilang sudah punya tunangan? Kenapa perubahan sikapnya cepat sekali?

"Lalu… bagaimana dengan tunanganmu?" tanyaku heran.

Dia tersenyum semanis anak kucing. "Tunangan yang mana ya?"

Dasar tikus kecil.

"Chan, sudah cukup. Biarkan Tao jalan." Chen berbisik di telingaku. "Dia tidak akan kemana-mana."

"Oke." kujentikkan jariku di belakang punggung, biar tidak kentara. "Nah. Sudah bebas sekarang."

Tao akhirnya bisa menggerakkan kedua kakinya, namun karena dia terlalu banyak bergerak dan memberontak, kaki kanannya refleks terangkat dan ujung sepatunya tersangkut di lantai.

"Arghhh!" Tao hilang keseimbangan dan jatuh dalam pose tengkurap. Rasakan itu! Sekalian balas dendam.

Tiga cewek lain tertawa-tawa melihat Tao jatuh dengan posisi muka yang mendarat duluan.

"Iya ya, dia memang lucu." celetuk si rambut panjang. Kemudian dia melangkah sok imut mendekati Tao. "Hai oppa, aku Jiho."

"Aku Binnie." si rambut pendek menyalami Tao yang masih linglung dan kelihatan bodoh.

"Aku YooA. Kami sudah dengar semua tentangmu dari mereka."

Tao menggaruk kepalanya. Semakin bingung. "Kalian ini siapa?"

"Tadi dua temanmu sudah cerita soal kau, oppa. Apa kau sebegitu kepengennya punya pacar sampai harus dikenalkan lewat temanmu?" Arin terkikik geli. "Tapi tidak apa-apa. Berhubung kau sangat manis dan lucu, aku tidak keberatan jalan bareng denganmu."

Ya ampun. Cewek.

"Hah? Jalan bareng? Dikenalkan? Siapa yang mau punya pacar?! Aku tidak mau punya—" Tao menyipitkan mata kearah kami. "Apa-yang-kalian-lakukan?" tanyanya sengit. "Ini ulah kalian ya? Kalian pasti sedang mengerjaiku, iya kan? Mau balas dendam, hah? Sudah puas sekarang? Puas membuatku tampak idiot di depan umum?!" jari-jari Tao terkepal membentuk tinju. Dia meremas kedua tangannya begitu kuat, sampai buku-buku jarinya memutih.

Tao kelihatan marah sekali pada kami. Aku tidak perduli. Yang penting rencanaku berjalan lancar. "See? Tao itu pasangan yang sempurna untuk teman kencan kalian. Dia cepat tanggap dan bisa berubah jadi cowok tegas dalam waktu bersamaan. Sangat perfect buat melindungi kalian dari ancaman orang jahat. Jago bela diri pula. Ditambah lagi, dia akan tulus mencintai kalian selamanya."

"Chanyeol!" seru Tao. "Kau itu ngapain sih?!"

"Menolongmu dari status jomblo," jawabku polos.

"Sudah cukup!"

"Jadi gimana?" tanyaku berpura-pura tidak mendengar protesan Tao. "Mumpung dia lagi free lho."

"Chanyeol!" Tao berteriak lagi.

"Ayolah, Tao. Apa salahnya dicoba dulu?" bujukku. "Kurang cantik apa sih cewek-cewek ini?"

"Dasar gila. Aku mau pergi! Silahkan bersenang-senanglah sendiri dengan cewek-cewek jalanan ini, tapi jangan libatkan aku. Oke?" dia cepat-cepat berdiri dari lantai lalu melengos pergi.

"Cewek jalanan?" si rambut merah melotot tersinggung. Bukan alamat bagus. Panda berandal itu malah merusak imej pangeran charming yang sudah susah payah kukarang untuknya.

Aku meringis tidak enak. "Dia cuma agak pemalu. Maaf ya."

Tao tidak boleh pergi kemana-mana. Tidak sampai dia memilih salah satu dari empat cewek ini. Lagi-lagi kubuat dia berhenti melangkah.

"Apa lagi ini?!" pekik Tao berang.

"Chan, sudah cukup. Jangan dipaksa kalau Tao tidak mau." tegur Chen cepat menyerah. Aku terlalu fokus untuk perduli pada Tao dan Chen. Yang ada di pikiranku saat ini adalah kisah percintaanku yang selalu diganggu oleh Tao hanya gara-gara anak itu terlalu menutup diri untuk menerima hal-hal baru. Lihat saja Baekhyun, dengan mudahnya dia biarkan jatuh ke tangan cowok lain.

Aku punya rencana cadangan. Sihir cinta. Akan kubuat Tao tergila-gila dengan… Arin? Bagaimana kalau cewek itu saja? Pokoknya Tao bakal hidup bahagia dengan kisah cintanya sendiri dan berhenti berangan-angan soal Kris.

Ya ya, bermain-main dengan perasaan orang memang kekuatan terlarang. Terlebih ayahku sudah mewanti-wanti untuk tidak menggunakan kekuatan sihir cinta sembarangan. Tapi aku tak punya pilihan lain. Ini harus berhasil!

Aku memfokuskan pikiran dan berharap hal itu betul-betul terwujud. Dua kunci utama untuk mengontrol bakat yang kumiliki. Lagipula, sesulit apa sih membuat seorang cowok jatuh cinta pada seorang cewek?

Aku mengarahkan tangan kananku lurus-lurus ke punggung cowok itu. Yang dia butuhkan hanya jatuh cinta pada Arin. Aku berkonsentrasi penuh dan memfokuskan semua kekuatan yang kumiliki ke Tao. "Kau akan tergila-gila dan begitu bersemangat mencintai—"

"Chanyeol," aku melihat Gongchan berlari cepat menghampiri kami. Belum sempat aku berpikir, dia tiba-tiba melompat ke depan cewek-cewek itu, mendorong Tao dengan tangan kanannya hingga keluar dari jarak pandang lalu mengarahkan tangan kirinya kedepan. Lurus kearahku.

Sebuah gelombang ajaib terpantul di udara terbuka, melaju ke langit-langit, dan terpancar ke seluruh penjuru Mall. Masuk ke badanku, ke Chen, dan menghantam orang-orang yang ada disitu.

Aku merasa sekujur tubuhku memanas, dan kemudian semuanya berubah menjadi gelap.

.

.

.

.

"Chanyeol! Chann… kau baik-baik saja kan?" makhluk tidak penting pertama yang kutemui saat membuka mata adalah Chen. "Tolong katakan padaku kau baik-baik saja. Kau membuatku takut setengah mati."

Mengapa aku bisa berakhir di lantai? Perlahan-lahan aku bangkit berdiri.

"Tolong bicaralah, Chanyeol! Chanyeol!" Chen menangis terisak-isak. Ya ampun. Makhluk ini lebai sekali sih. Suara tangisannya membuat kupingku yang indah ini jadi sakit. Kenapa aku bisa berteman dengan dia?

"Aku baik-baik saja," jawabku. Sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Aku merasa fantastis! Seperti ada energi listrik sejuta volt yang mengalir di seluruh tubuhku. Aku merasa begitu hebat dan bersemangat!

Mataku berkeliling mencari Gongchan dan sosok keempat cewek tadi. Tapi mereka sudah menghilang entah kemana. Ah masa bodoh. Siapa yang peduli dengan makhluk-makhluk kacangan ketika ada orang yang luar biasa menarik di ruangan ini? Tentu saja AKU. Siapa lagi?

"Kau tidak pingsan karena aku meneriakimu terlalu keras kan?" tanya Tao ekstra cemas. "Aku bersumpah aku tidak akan begitu lagi. Pokoknya aku janji tidak akan pernah menyakitimu, Chan."

Kayaknya Tao sudah tidak marah. Yah, memang sih, pasti sulit rasanya marah terlalu lama dengan orang seperti aku—Park Chanyeol yang mempesona.

Tao dan Chen berebut membersihkan debu yang ada di celana jeansku. Para staff kebersihan harus lebih memperhatikan kebersihan Mall ini. Aku terlalu spesial untuk berjalan di lantai yang penuh debu.

"Chanyeeeolll!" banyak sekali langkah kaki menyerbu. Aku tidak heran seluruh dunia tahu namaku. Sudah semestinya begitu kan?

"I love you, Chanyeol!" suara Yixing muncul entah darimana. Aku tidak perlu repot-repot menoleh. Itu pasti dia.

"Dia cinta sejatiku!" Kris berteriak balik. "Pacarku! Calon istriku!"

"Tidak lama lagi dia akan jadi milikku!" seru seorang cowok tak dikenal.

Aku bahkan tidak tahu dan tidak perduli apa-apa saja yang mereka teriakkan. Terlalu banyak suara. Ribut sekali. Bukan berarti aku tidak suka mereka meneriakkan namaku secara brutal begitu. Jika ada orang di dunia ini yang berhak dielu-elukan, sudah pasti AKU-lah orangnya.

Beberapa orang mengeluarkan ponsel, saling dorong dan berjibaku untuk memotretku.

"Chanyeol, Chanyeol, tanda tangan di bajuku, pleaseeeeee!" teriak Jinyoung histeris. Dia menerobos diantara kerumunan lalu menyodorkan pulpen ke depan wajahku. Uck. Dia semakin dekat. Aku tidak bisa berada di ruangan yang sama dengan Jinyoung. Dia terlalu menyedihkan.

"Pergi sana!" perintahku.

"Kau dengar kan dia bilang apa?" mendadak dua orang petugas keamanan muncul dan menyeret cowok menyedihkan itu pergi dari hadapanku.

Aaaah. Kepergian Jinyoung memberiku banyak ruang untuk bernapas. Tapi itu masih belum cukup. Seorang wanita dengan cepat berpindah dan menggantikan posisinya. Meskipun melihat orang-orang ini tidak membuat mataku perih seperti melihat Jinyoung, tetap saja mereka mengganggu ketenangan. Mereka berteriak, minta foto bareng, minta tanda tangan, minta salaman, minta dicium, semua ini keterlaluan! Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku harus melarikan diri sejauh mungkin dari tempat ini. Orang-orang udik ini tidak memahami orang seperti aku yang dari lahir memang sudah keren minta ampun.

Aku harus pergi ke suatu tempat yang sunyi dimana aku bisa merenungkan betapa kerennya diriku ini. Aku harus pulang ke rumah.

Kerumunan orang semakin merapaat saat aku berdiri. Mereka semua ramai-ramai menjulurkan tangan, seolah-olah satu sentuhan dariku bisa menyempurnakan hidup mereka. Yang tentu saja benar. Tapi, sudah kubilang, ini keterlaluan! Orang-orang asing menarik kerah bajuku dan berjuang keras untuk mengajakku salaman. Oke. Oke. Aku mengerti. Tak bisakah mereka diam sebentar?! Manusia sekeren aku butuh ketenangan. Aku paham mereka tidak setiap hari bisa ketemu denganku, tapi aku juga butuh 'me time'! Aku berhak mendapatkannya.

Jadi dengan satu kali ayunan tangan aku membelah kerumunan, hingga tersisa sedikit ruang membentuk jalan setapak menuju ke pintu keluar.

Kekuatan yang sempurna untuk pria yang sempurna.

Yaah, begitulah. Akhirnya aku bisa terbebas juga dari tempat itu.

.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan?" tanya ibuku, kepalanya muncul dari balik pintu depan rumah kami.

"Bukan apa-apa. Cuma sedang menatap." Just info, aku sudah berdiri diam di luar sini selama dua puluh menit.

"Menatap apa?"

"Menatap diriku…" aku menghembuskan napas panjang. Lalu kembali memandangi bayanganku sendiri di kaca jendela.

"Masuklah," Mama membuka pintu lebar-lebar.

"Aku baik-baik saja diluar sini," jawabku sambil meyibakkan kerah baju. Aku tampak seksi luar biasa dengan kancing atas terbuka begini. Atau mungkin… sebaiknya kukancing semua? Ah. Hasilnya pasti sama saja. Kancing bajuku selalu terlihat bagus, sesuai dengan pemiliknya.

"Kau lupa ya kita punya banyak cermin di dalam?"

Oh. Dia benar. "Baiklah." aku melenggang masuk lebih dulu.

"Aku baru saja membuat ramuan baru untuk dijual di ." katanya begitu kami tiba di ruang tengah. "Mama bisa minta tolong kan?"

"Minta tolong apa?"

"Cobalah ramuan itu untukku, aku butuh pendapat." dia pasang wajah memelas yang sulit ditolak. "Kayaknya tadi Mama menambahkan terlalu banyak Bunga Lavender. Dan kau tahu efek pemurnian obat itu tidak akan bekerja kalau lavendernya terlalu banyak."

Dia pasti tidak bakalan terima jawaban 'tidak'. Jadi aku putuskan untuk sedikit berbaik hati membantu ibuku tersayang. Orang yang telah melahirkan anak sekeren ini. Dia pantas menerima bantuan.

Aku duduk senyaman mungkin di kursi Buddha yang ada di dapur. Berani bertaruh aku pasti terlihat tampan duduk diapit jari-jari tangan Buddha yang tembem. Mulai sekarang aku harus bawa kamera kemana-mana.

Setelah Mama meletakkan mangkok ramuannya di depanku, mendadak aku kehilangan selera untuk berfoto. Disana. Di dalam mangkok itu ada sendok bening yang memantulkan bayangan wajahku. Aku seperti seni abstrak yang keren dilihat dari sendok. Sungguh keajaiban dunia…

Aku semestinya ditaruh di museum.

"Nah, silahkan dicoba." Mama tersenyum sambil duduk di depanku. Menunggu respon.

Aku menggenggam sendok itu lalu kugerakkan lebih dekat. Dilihat dari sisi manapun, sendok ini memberiku sudut pandang baru. Sebuah karya seni. Wajahku. Itulah karya seninya.

"Amazing." aku bergumam.

"Kau tidak mencobanya!" protes Mama.

"Mencoba apa?" tanyaku heran.

Mama menatapku kesal. "Kau cuma asal memuji ramuanku amazing padahal belum dicoba sama sekali."

Terkadang, ibuku memang agak clueless. "Siapa juga yang memuji air ramuan aneh itu? Aku sedang memuji diriku sendiri."

"Okay," dia menampilkan ekspresi sok galaknya itu lagi. "Apa yang terjadi? Apa ada yang salah di otakmu? Atau kau baru saja terbentur di suatu tempat?"

Mau tidak mau aku tertawa mendengar leluconnya. "Apa ada yang salah di otakku? Sama sekali tidak ada yang salah, Mamaku sayang. Semua orang yang memiliki mata pasti bisa melihatnya."

Di detik berikutnya, tau-tau saja aku melihat Mama melingkariku degan enam bola kristal. Dia pasti takut ayah iblisku akan muncul dan mengganggu anak semata wayangnya yang sangat menawan. Ibuku selalu mengeluarkan bola-bola kristalnya saat dia sedang takut terhadap gangguan makhluk halus. Tidak apa-apa. Bola-bola ini lebih baik daripada cermin. Aku bisa melihat bayangan diriku disana. Terpantul sepuluh kali lebih banyak. Rasanya seperti dikelilingi oleh Malaikat.

"Apa yang dilakukan Jongin terhadapmu?" tanyanya penuh selidik.

"Papa? Tidak ada. Seharian ini aku belum berkomunikasi dengan dia." aku mengambil salah satu bola kristal lalu menciuminya. Bayanganku balas mencium balik.

"Kau pasti berada dibawah pengaruh iblis," serang Mama dengan nada tajam. "Kau bertingkah aneh! Seperti bukan dirimu saja."

"Maaf." ucapku merasa bersalah.

Oh… benar juga! Akhirnya aku tahu penyebab Mamaku begitu uring-uringan hari ini. Dia pasti jealous. Jealous karena aku kurang memberi dia perhatian. Itu tidak benar kok. Orang sehebat aku tidak mungkin terlahir kalau bukan karena berkat jasa-jasanya juga. Jadi aku mengalihkan perhatianku dari bola kristal. Sudah waktunya untuk meminta pendapat Mama.

"Bagaimana menurutmu?" aku memonyongkan bibir seperti para supermodel di majalah. "Apa Mama suka yang ini? Atau yang ini?" sekarang aku memajukan bibir bawahku, seperti Angelina Jolie saat berpose dengan bibir spektakulernya. Yap. Tentu saja bibir ini tidak kalah spektakuler dari bibir Angelina. Lihat tuh, Ibuku saja sampai tercengang. Matanya melotot lebar sekali. Astaga. Bisa nggak sih tatapannya biasa aja? Aku tahu bibirku memang hebat, tapi dia kan tidak perlu sampai sesak napas begitu.

"JONGIIIIIINNN!"

.

.

.

.

Ledakan besar asap berwarna merah muncul disampingku. Shit! Asap ini menghalangi! Aku jadi tidak bisa melihat bayanganku di bola kristal!

Papa berdiri di sisi kananku ketika asap-asap pengganggu tadi menghilang dari pandangan. "Apa ada yang bisa kubantu, sayang?" tanyanya sok mesra.

"Ya, ada." jawab Mama tegas. "Bisakah kau kembalikan Chanyeol seperti semula?"

Papaku berkedip bingung. "Hah? Kau ini bicara apa sih?"

Mama menyambar bola kristal dari tanganku lalu meremasnya kuat-kuat. Jahat sekali. Kristal itu kan bola-bola stress. Mereka tidak bersalah. Justru mereka adalah alat untuk memancarkan keindahanku. "Aku sedang membicarakan tingkah laku anakmu yang ganjil. Lihatlah dia!"

Tatapan dua orang itu teralih padaku.

Aku tahu. Pasti Mama ingin menunjukkan pada Papa betapa berbakatnya aku. Tapi masalahnya, dia tidak pantas. Iblis yang hobi berkeliling dan mengajarkan minion-minionnya mengambil jiwa-jiwa baik untuk dibawa ke Neraka tidak pantas dapat penghargaan. Bahkan meski dia telah berjanji tidak akan pernah melakukan itu lagi.

Ya sudahlah. Aku tidak mau membuat Mama kecewa. Itung-itung balas budi karena dia telah bersusah payah memanggil ayah iblisku kemari.

Demi menyenangkan hati kedua orangtua, aku menunjukkan ekspresi wajah terbaik yang kumiliki. Lebih baik dari sekedar mempoutkan bibir. Mulai dari ekspresi gelisah, marah, sedih, kaget, dan bahagia. Dan kalian tahu apa tanggapannya?

Dia bahkan tidak terkesan sama sekali.

"Aku tidak mengerti," ucap Papa menggeleng-geleng bodoh. "Sebenarnya ada apa sih?"

Aku menyilangkan tangan di dada. Mengherankan sekali dia bisa jadi Raja Iblis kalau karya seni jenius seperti aku tidak bisa dia pahami. Dari tujuh keajaiban dunia, aku ini yang kedelapan!

Kali ini aku berpose seperti orang-orang Mesir Kuno. Yeah, piramid tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku. "Cepat," ujarku ke Mama. "Nyalakan video camera. Keindahanku harus diabadikan dan dikirim ke National Geographic. Mereka butuh cover baru untuk dipajang di majalah."

Papa mengernyit. Mungkin dia baru sadar betapa menakjubkannya aku. Sudah kubilang kan, ini hanya masalah waktu.

"Lihat? Ini sudah kelewatan," dumel Mama. "Dia jadi super narsis begitu!" dia kembali menatapku. "Chanyeol, aku baru sadar betapa indahnya kamu kalau dilihat dari kaca oven."

Oh ya? Kenapa dia baru bilang sekarang sih? Aku buru-buru berkaca di oven.

"Tuh. Begitulah anakmu." Mama memberitahu Papa.

Manis sekali. Dia berusaha membuat suaminya sadar betapa spektakulernya punya anak seperti aku.

Papa bergeser di depanku. Perutnya menghalangi kaca oven. Dan itu benar-benar merusak pemandangan.

Aku menghela napas panjang lalu berpindah ke blender. Tuhaaan… betapa cantiknya mataku! Blender ini menonjolkan mataku yang berkilauan. Hatiku berbunga-bunga menatap dua bola mata yang seperti permata di dasar samudra itu. Aku menutup kedua mataku dan mendekatkan wajah ke kaca blender. Rasanya seperti ada gelombang aneh yang menjalar di tubuhku. Begitu membuka mata…

Aku mendapati diriku sedang BERCIUMAN dengan blender.

Apa yang salah dengan otakku? Orang bodoh macam apa yang mencium bayangannya sendiri di peralatan dapur?

Aku mundur lima langkah dari blender. Menoleh ke sisi lain dan bertatapan dengan kedua orangtuaku.

"Merasa lebih baik?" tanya Papa.

Tidak. Aku merasa malu luar biasa.

Aku balik menatap Papa dengan pandangan blank. "Apa yang kau lakukan?"

"Menyelamatkanmu dari pengaruh sihir."

Mataku terbelalak. "Sihir?!"

"Yep." dia mengangguk. "Dan kalau kulihat-lihat, itu kayaknya sihir cinta."

Sihir cinta? Ke diriku sendiri? Kok bisa? Aku kan tadi berencana membuat Tao jatuh cinta dengan seorang gadis. Bukan aku yang jatuh cinta pada diriku sendiri!

"Nah, sekarang…" Papa mencengkram kedua pundakku. "Ada yang ingin kau sampaikan pada kami?"

.

.

.

.

Kedua orangtuaku masih berdiri disana, menatapku dengan raut wajah siap-memberi-hukuman, menunggu kalimat-kalimat penyesalan dan permohonan maaf yang akan mememenuhi telinga mereka. Tapi aku tidak sedang ingin menyesali apapun. Toh, aku hanya mencoba berbuat baik dengan membantu seorang teman. Aku berharap musuhku juga bisa bahagia. Apa itu salah?

Lagipula aku tak mungkin membocorkan ke Mamaku kalau kekacauan yang kualami selama ini gara-gara kekuatan iblis yang kumiliki. Dia tidak perlu tahu soal itu. Memang sih, Mama sudah bilang dia bisa menerima bakat alamiku, dia juga sudah tahu soal anak-anak berandalan yang sering menggangguku di sekolah. Nah. Cukup sampai disitu. Aku tidak ingin dia tahu terlalu banyak dan malah semakin kecewa. Orang yang berhenti dari pekerjaan normalnya dan berubah jadi dukun demi menjauh dari suami iblisnya bukan jenis Ibu yang bisa menerima cerita-cerita ajaib dengan tenang tanpa adanya ritual pengusiran dan mandi Bunga Lavender. Dan aku paling benci kalau dia sudah paranoid begitu.

"Aku bersumpah," jawabku pelan sekali, "Aku tidak tahu apa-apa." Berlagak polos selalu efektif. Orang jadi tidak bisa menyalahkan kita untuk sesuatu yang kita sendiri tidak tahu.

Tapi Papa terlalu pintar untuk menerima kalimat 'Aku tidak tahu apa-apa'. "Chanyeol" tukasnya dengan suara lebih lunak. "Cerita saja, Nak. Kami hanya ingin mendengarnya."

Tidak mungkin. Tidak mungkin mereka hanya ingin mendengar. Pasti ada tindakan. Kalau itu melibatkan ritual-ritual atau pembacaan mantra-mantra, sebaiknya tidak usah. "Mungkin itu kau," aku menuduh dia balik. "Apa Papa melakukan sesuatu kepadaku?" jujur aku merasa buruk menyalahkan Ayahku sendiri atas kekacauan yang tidak dia lakukan, tapi ini kan demi melindungi Mama.

Mama berkacak pinggang diantara aku dan Papa. Tatapan ala ibu tirinya bergantian hinggap di wajah kami. "Apa yang sedang terjadi? Jongin, apa benar ini ulahmu?" tanyanya ketus.

Papa menggeleng. "Bukan, dan Chanyeol tahu itu."

Aku menggigiti dua kuku jariku. Duh. Masa aku harus bilang: "Surprise, Ma! Kau tahu tidak? Aku tidak hanya memiliki kekuatan iblis, tapi juga menggunakannya untuk jadi mak comblang musuhku" Kalau aku bilang begitu, pasti aku bakal dipenjara di kamar seumur hidup.

Pelototan mereka semakin lama semakin membuatku tidak nyaman.

"Baiklah, aku akan cerita. Tapi plis… jangan paranoid."

Mama menghela napas lalu menghempaskan diri di kursi. "Oke. Cepat cerita."

"Uhmm… itu… um… aku juga tidak terlalu ingat. Agak samar-samar." tukasku berjalan mondar-mandir di meja dapur. "Aku dan teman-teman jalan bareng ke Mall. Kami makan di food court. Bertemu Jinyoung cs, lagi-lagi mereka mengganggu kami, aku dan Chen mengobrol dengan beberapa cewek yang bersedia dicomblangkan dengan Tao, lalu entah darimana tiba-tiba teman sekolahku yang lain muncul, mengarahkan satu tangannya ke aku dan begitu terbangun, aku langsung jadi aneh luar biasa." penjelasanku keluar sangat cepat dan aku sengaja menghilangkan beberapa poin ponting. Seperti… aku yang ingin mempengaruhi Tao dengan kekuatanku.

"Teman sekolahmu? Teman sekolahmu ini yang…" Mama bolak-balik melirik ke Papa. Ada apa sih? Apa ada hal yang tidak kuketahui dan diam-diam diketahui orangtuaku?

Papa menggeleng. "Tidak. Gongchan tidak mungkin melakukan itu secara sengaja. Dia tidak akan berani."

Hah? Gongchan? Bagaimana dia bisa tahu? Padahal daritadi aku tidak menyebut-nyebut nama—tunggu dulu… kayaknya ada yang tidak beres. Jadi dugaanku selama ini benar? Gongchan… bukan… manusia?! Pantas saja dia begitu…

Ukh. Tolong jangan katakan dia punya hubungan khusus dengan Papa. Apa? Raja dan bawahan? Raja dan suruhan? Raja dan penasehat pribadi? Raja dan pengawal? Raja dan panglima perang? Raja dan teman lama? Atau ayah dan…

Tidak. Tidak mungkin. Setauku Papa belum pernah menikah dengan orang lain selain ibuku. Kalau memang iya, seharusnya Mama cerita kan?

Mungkin mereka cuma saling kenal. Mungkin ayahku dan Gongchan berteman lama. Mungkin mereka semacam partner in crime dan Papa sudah memilih Gongchan sebagai penggantinya di Neraka. Iya. Pasti begitu. Aku tidak kaget mengapa Gongchan masih tampak seperti anak ABG setelah sekian ratus tahun lamanya hidup di bumi. Aku tidak akan kaget. Justru aku malah bersyukur. Dengan begitu aku tidak perlu khawatir soal akan jadi pengganti ayahku. Sudah ada orang yang lebih pantas melakukannya. Lebih kuat dariku pula.

Justru aku malah kasihan dengan Jinyoung. HAHAHA. Rasakan itu. Emang enak punya cowok jelmaan iblis? Aku membayangkan Jinyoung versi empat puluh tahun, duduk di kursi goyang sambil merajut kaos kaki, dan ada tumpukan bola-bola kristal di kakinya, juga semangkok penuh Bunga Lavender. Aku berasumsi orang-orang yang dinikahi iblis pasti nasibnya akan berakhir sama dengan ibuku. Atau… mungkin juga tidak. Mengingat betapa jahatnya Jinyoung, jadi dua orang itu sangat serasi. Cocok lah. Saling melengkapi satu sama lain. Iblis di Sekolah dan Iblis di Neraka.

"Maaf, Nak. Harusnya aku tidak menyimpan rahasia darimu," ujar Papa setelah mengusap-usap wajahnya berkali-kali. "Sebenarnya. Gongchan itu adalah…"

"Ya?"

"Penasehat kepercayaanku."

"Oh." Aku tidak kaget. Sudah bisa ketebak.

"Kau tidak kaget?" Papa malah ternganga lihat reaksiku yang biasa-biasa saja.

"Tidak tuh," aku angkat bahu santai. "Apa yang harus dikagetkan?"

Dilur dugaan, Mama malah tertawa terbahak-bahak. "Kubilang juga apa, pengawalmu itu kurang bagus tektik penyamarannya. Itu buktinya Chanyeol cepat sadar."

"Dia bukan pengawal, tapi penasehat kerajaan." ralat Papa dengan tampang keki. "Aku sudah bilang ke dia berkali-kali jangan terlalu menunjukkan diri terang-terangan begitu, dasar penasehat bodoh."

"Tunggu dulu? Jadi Papa selama ini diam-diam masih memata-mataiku lewat Gongchan?" suaraku melengking karena emosi. "Kupikir kita sudah sepakat tidak ada acara memata-matai lagi."

"Niat awalku memang tidak ingin memata-mataimu. Itu karena kau sendiri yang berharap Gongchan bersekolah di Kyunghee. Lagipula dia sudah terlanjur melihatmu juga, jadi sekalian saja kutawarkan job mata-mata itu ke dia. Aku tidak melanggar janji kan? Toh yang memata-matai bukan aku."

"Ya, itu sama saja namanya!" dengusku. "Kau memata-matai lewat orang lain. Lihat apa akibatnya sekarang, dia mengikutiku kemana-mana dan melempar sihir cinta konyol ke wajahku!"

"Tidak, tidak," Papa menggeleng cepat. "Gongchan tidak mungkin begitu. Aku percaya padanya. Untuk apa dia memantrai anak sahabat karibnya dengan sihir cinta? Kami sudah bekerjasama selama ribuan tahun. Dia tidak mungkin mencelakaimu tanpa sebab yang jelas. Pasti ada sesuatu. Aku sudah bilang agar dia siap siaga bertindak setiap kali melihatmu melakukan yang aneh-aneh. Pasti bukan dia yang berulah, kau-lah sumber masalahnya, Nak." Papa balik menudingku.

"Pertama-tama," Mama memijat pelipisnya. "Yang ingin kutanyakan adalah, siapa cewek-cewek itu?"

Alisku bertaut bingung. "Cewek-cewek apa?"

"Tadi itu, kau bilang sedang mengobrol dengan beberapa cewek sebelum Gongchan mengarahkan tangan ke wajahmu, siapa yang kalian ajak ngobrol?" tanya Mama bak detektif swasta handal yang sedang menginterogasi tersangka utama. "Dan apa tujuanmu mencomblangkan mereka dengan Tao?"

Oke. Here we go again.

"Oh iya, aku baru ingat soal itu." Papa mengelus dagunya sambil memicingkan mata. Sekilas dua orang itu tampak seperti pasangan detektif pro yang sedang memojokkan lawan. "Ada berapa orang cewek yang kau ajak bicara? Jika jumlahnya empat maka…"

"Maka apa?" tanyaku.

"Maka kau telah berurusan dengan orang yang salah."

Aku tarik-buang napas menahan sabar. "Pa, tolong jangan main teka-teki, sebenarnya cewek-cewek itu siapa sih? Apa hubungan mereka dengan Gongchan?"

"Yaa… kalau yang kau maksud itu YooA, Binnie, Jiho dan Arin, mereka adalah adik-adik perempuan Gongchan."

"Gongchan punya adik-adik perempuan?" aku kaget bukan kepalang. Bagus. Dunia yang kutinggali penuh dengan makhluk-makhluk jelmaan iblis. Perfect! Mengapa hidup ini semakin indah saja?

"Tentu saja dia punya. Mengapa dia tidak boleh punya adik? Kami para iblis juga bisa berkembang biak." tukas Papa enteng. Seolah iblis berkembang biak itu sama normalnya dengan mamalia berkembang biak.

"Lalu kenapa Gongchan bisa langsung mengenaliku dan mereka tidak? Mengapa mereka tidak menyadari Tao tampak begitu aneh dan…" aku mendadak diam. Hampir saja keceplosan bercerita soal Tao yang berusaha kupengaruhi. "Intinya, kenapa mereka tidak sadar aku ini anak iblis juga? Sama seperti mereka."

"Yah, mereka bukan makhluk-makhluk yang ramah. Kurasa mereka bukannya tidak sadar. Tapi hanya sedang berakting. Mereka tidak mau berurusan denganmu." ungkap Papa sambil masih mengusap-usap dagu. "Bisa dibilang, para wanita dari dunia bawah punya standar yang cukup tinggi dalam memilih pasangan. Mereka sebisa mungkin akan menghindari ras hybrid. Tapi tidak keberatan menikahi manusia. Dengan begitu, saat pasangan hidup mereka tua nanti, jiwanya bisa diserap demi kecantikan abadi."

Kecantikan abadi? Sebenarnya aku sudah mencium bau-bau tidak beres dari keempat orang itu. Pantas saja mereka tampak licik seperti tikus kecil. Oke. Aku berubah pikiran. Tao memang musuh bebuyutanku, pengganggu, dan sangat terobsesi dengan Kris, tapi biar bagaimanapun dia tidak berhak diperalat demi kecantikan dewi-dewi Neraka. Tidak ada seorangpun yang berhak.

"Kami para pria bisa tetap awet muda hanya dengan mengandalkan kekuatan yang kami miliki. Berbeda halnya dengan wanita, mereka menyerap jiwa manusia—pasangan hidup mereka—untuk tetap awet muda." sambung Papa. "Jadi masuk akal kalau cewek-cewek itu tidak menolak bantuan sihir cintamu ke Tao. Malah mereka yang untung. Sudah ada yang bersedia melakukan itu untuk mereka." Papa tersenyum penuh arti menatapku.

"Oh, begitu…" aku manggut-manggut paham. Sedetik kemudian tersadar setelah bertatapan dengan Mama. Pelototannya lebih seram dari yang tadi.

"Semakin sedikit kekuatan yang keluar, semakin awet muda mereka. Penggunaan kekuatan yang terlalu berlebih itu bisa mempercepat proses penuaan lho, Chan. Makanya aku berkali-kali melarangmu jangan terlalu sering pakai kekuatan." seringai Papa yang penuh ancaman sungguh menakutkan, ditambah lagi ada Mama yang terus melempar pelototan garang. Aku jadi tidak tahan. Semua itu membuatku merinding hebat.

Aku menelan ludah. Gugup. "Ehmm… aku… aku tidak menggunakan sihir cinta kok. Sungguh." ucapku ke Mama. "Jangan dengarkan dia."

"Chanyeol menggu—"

"Jangan dengar!" pekikku gusar.

Mama spontan mengangkat kedua tangannya untuk menutupi telinga. Berkerut heran, lalu memukul-mukuli telinganya seolah ada serangga yang tersangkut di dalam sana. "Halo? Halo? Aku tidak bisa dengar apa-apa!" jeritnya. "Kenapa ini?! Kenapa telingaku?!"

Oh no. Aku tahu apa yang terjadi.

"Tenang, Ma. Aku akan memperbaiki pendengaranmu. Kau tidak akan tuli selamanya, kok. Tunggu. Aku janji. Tunggu ya." tukasku belingsatan panik sementara Mama hanya duduk dengan tatapan blank. Dia berkali-kali menggelengkan kepala.

"Aku tidak bisa dengar apa-apa…" cicitnya nyaris mewek.

"Biar kubereskan."

Saat Papa hendak melambaikan tangan di depan wajah ibuku, mendadak aku berseru, "Wait!"

Tatapan laser Papa menghujam lurus ke mataku. "Kau tidak ingin aku menyembuhkan Mamamu sendiri?"

Duuh… bukan begitu. "Tentu saja aku mau. Tapi tunggu dulu. Soalnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan." Aku harus membujuk Papa agar tidak menceritakan semua itu. Jadi ibuku bisa terus melanjutkan hidup sambil berpikir aku masih 'Mommy-sweet-boy'–nya yang sama. Bukan iblis pembikin tuli dan spell-casting monster.

"Menunggu beberapa menit tidak akan melukai dia kan?" ucapku agak sedikit tak berperasaan. Ya, ya, aku tahu. Maafkan aku, Ma. Pembicaraan kami cepat saja kok.

Papa menghela napas. "Baiklah. Mau bicara apa?"

Aku menyilangkan tangan di dada. "Bukankah Papa sudah janji untuk tidak membocorkan soal kekacauan yang dulu-dulu ke Mama?"

Papa menggeleng. "Bukan begitu perjanjiannya. Aku memang bersedia menyimpan rahasiamu, tapi dengan catatan kau tidak berbuat onar dan tidak menggunakan kekuatan terlarang untuk hal-hal sepele. Dan setauku, membuat seseorang jatuh cinta dengan ilmu sihir termasuk kekuatan terlarang. Sudah cukup kita bermain perjanjian!" ceramah Papa berbusa-busa. "Aku juga punya batas kesabaran, Nak. Karena kau telah melanggar, aku akan memberitahu ibumu segalanya. Tanpa-ada-yang-kulewatkan." ancamnya sengaja memberi penegasan pada setiap kata. "Sudah saatnya kita berhenti saling menyimpan rahasia. Kau telah berjanji. Berhentilah berbohong."

"Ha!" ucapku keras dan agak sinis. "Wow. Lucu sekali. Padahal sendirinya juga sering bohong. Dari mulai pertama sampai sekarang."

"Aku tidak bohong." Papa berjalan mendekat.

Aku melangkah mundur. "Oh ya? Kau sudah janji pada kami mau berhenti mengambil jiwa-jiwa baik, lalu aku mendapatimu sedang mengajari bagaimana cara melakukannya ke seorang pria. Siapa dia? Salah satu bawahanmu kan? Itu apa namanya kalau bukan bohong?" Ya, aku memang melihat ayahku sedang berbicara dengan seorang pria berjas coklat beberapa minggu yang lalu di sebuah kedai kopi. Sekilas mereka tampak seperti rekanan kerja. Normal. Dua pria berjas formal duduk bersama dan berbicara soal bisnis. Tapi percayalah, isi percakapan mereka beda jauh dari yang dibayangkan orang-orang. Dan satu-satunya cara agar dia berhasil lolos dari interogasi beruntun adalah, dengan menawarkan bantuan rekayasa ingatan di kepala Kris. Jadi Kris terus berpikir aku sengaja memberi kejutan romantis berupa meteor hati dan ukiran cinta di pohon dengan bantuan beberapa kru film serta orang-orang handal suruhan Papa. Bukan gara-gara kekuatan bodoh yang tak disengaja.

Yap, Papa telah merekayasa pikiran Kris. Tapi aku tak punya pilihan lain, oke? Belum saatnya Kris tahu rahasia besarku. Belum.

"Chanyeol, biar kujelaskan. Aku cuma menolong orang itu membereskan masalah yang dia perbuat." jelasnya sabar. "Aku telah berubah. Pria yang mengumpulkan jiwa-jiwa baik itu adalah diriku yang lama. Pria yang saat ini berdiri dihadapanmu adalah seorang ayah yang hanya bertugas menjaga alam baka dan memastikan jiwa-jiwa buruk tidak melarikan diri dari sana."

Aku mencibir. "Tidak percaya ah."

"Aku tahu," gumamnya. "Dan akan kubuktikan kalau aku bisa jadi seorang ayah yang dapat kau andalkan."

"Kalau begitu jangan beritahu Mama soal apapun. Begitulah jenis ayah yang bisa kuandalkan." tegasku final.

Papa menggeleng kaku. "Sudah cukup rahasia-rahasiaannya. Terlalu banyak rahasia yang kita sembunyikan dari Sehun. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan apapun dari dia. Maaf."

Aku mengacak-acak rambutku, jengkel.

"Percayalah. Tidak ada ruginya jujur pada ibu kandungmu sendiri." Papa tersenyum manis, tatapannya dalam dan penuh arti. Sebelum aku sempat berkomentar, dia keburu menjentikkan jari dan membuat pendengaran Mama kembali normal.

"Selamat menjelaskan, Chanyeol."

.

.

.

.

"Apa yang terjadi?" tanya Mama segera setelah Papa mengembalikan pendengarannya ke normal. "Chan, maukah kau menjelaskan ulang apa yang kalian bicarakan tadi?"

Aku mengedikkan bahu. "Bukan apa-apa kok."

Yeah, aku tahu. Papa memang sudah menguliahiku tentang cara menjadi anak baik yang bersih dan bebas dari kebohongan. Bahwa aku harus mengakui segalanya di depan Mama. Tapi, ini bukan acara TV, dimana kejujuran membawa kita pada pelukan beruang dan ice cream sundaes ukuran jumbo. Ini adalah dunia nyata, dimana kejujuran membawa kita pada ritual mandi kembang dan pengusiran setan sebelum tidur. Hanya untuk memastikan kepalaku tidak terputar tiga ratus enam puluh derajat kebelakang seperti cewek-cewek yang ada di film horror.

"Anakmu itu adalah sumber masalah," tukas Papa. "Kekuatannya telah menimbulkan kekacauan dimana-mana."

Pengadu.

Mama ternganga shock, nyaris pingsan. "Dimana-mana ini dimana saja? Bisa dijelaskan satu-satu tempatnya?"

"Koridor sekolah, gedung auditorium, halaman belakang rumah Kris, pesta dansa—"

"Jangan percaya dia, Ma. Dia itu masih iblis. Aku bahkan dengar sendiri dia masih mencoba untuk mengambil jiwa-jiwa baik."

Papa menggeleng pelan dan merendahkan suaranya. "Chan, aku tahu kau marah besar karena aku memberitahu ibumu kenyataan. Tapi ini Mamamu. Dan dia berhak tahu apa yang terjadi." tatapannya yang penuh kesungguhan menghujam mataku. "Tolong berhenti mengarang kebohongan tentang aku untuk mengalihkan perhatian."

No way! Dia menimpakan semua kesalahan padaku. Membuatku terlihat seperti penjahat utama. "Ma, suamimu itu masih berusaha mengambil jiwa-jiwa baik. Sumpah!"

Papa menggeleng dengan ekspresi memelas paling sedih yang pernah kulihat. Dasar penipu.

Mama menatap kami bergantian. Lalu sorot matanya yang penuh amarah terfokus ke wajahku. Hanya ke wajahku!

"Ma, kau lebih percaya dia ketimbang aku? Anakmu sendiri?" semburku tak percaya. "Dia itu iblis! Dia itu master dalam hal berbohong. Lihat saja semua koloni-koloninya, mereka pintar berakting."

"Dan tampaknya kau menuruni bakat itu."

"Aku TIDAK bohong. Dia itu pengambil jiwa. Itulah yang dia lakukan." tukasku membela diri. Aku tidak percaya ini. Unbelievable! Mama lebih berpihak pada ayahku yang notabene iblis sejati daripada anaknya sendiri.

Mama memijat pelipisnya, lelah. "Terus kalau kau memang tidak bohong, kenapa tidak mau cerita padaku apa yang sebenarnya terjadi di Mall tadi?"

"Aku sudah cerita—"

"Belum semuanya kan?" sambar Mama. "Masih banyak yang kau tutup-tutupi."

Aku tidak bisa. Gimana mau cerita kalau daritadi dia melotot sangar begitu?

Mama menoleh ke Papa. "Jongin. Kau juga. Ada yang ingin kau katakan?"

"Kalau aku sih tidak ada. Tapi kalau Chanyeol mungkin banyak."

Aku melipat tanganku di dada sambil mengatupkan mulut rapat-rapat. Pokoknya aku tidak ingin cerita apa-apa.

Sunyi sesaat. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang bersuara. Dua orang itu tetap setia menungguku buka mulut.

Papa menghela napas. "Maafkan aku, Chanyeol." dia memecah keheningan. "Kau akan berterima kasih padaku nanti."

Kemudian dia menjelaskan semuanya ke Mama. Semuanya! Tidak hanya bagian saat aku menembakkan sihir cinta ke punggung Tao, tapi juga segala kekacauan yang terjadi dimulai sejak pertama kali dia masuk ke kehidupanku, sampai ke insiden meteor jatuh dari langit yang menghantam kolam renang di rumah Kris. Pokoknya semua detail terkecil dia ceritakan. Tanpa-ada-bagian-yang-terlewat-sedikitpun! TIDAK ADA.

Sementara ibuku hanya berdiri mematung dalam diam, menelan semua informasi yang melayang masuk kedalam telinganya.

Aku merasa seperti tahanan yang sedang mendengar daftar dosaku dibacakan oleh pihak penuntut di pengadilan. Papa adalah pihak penuntut, sedangkan ibuku hakim agung. Dan dari ekspresi Hakim Agung saat ini, aku tahu hukumannya adalah tembak mati.

"Ada pesan terakhir yang ingin kau ucapkan?" tanya Mama setelah dosa-dosaku selesai dibacakan.

"Apa aku dinyatakan… bersalah?" ucapku sambil tersenyum simpul.

Mama tidak menganggap itu semacam lelucon. Tidak sama sekali. "Park Chanyeol!" serunya.

Gawat. Kalau Mama sudah memanggil namaku lengkap pakai embel-embel 'Park', itu tandanya dia amat sangat marah sekali.

"Apa?" sahutku polos. "Bukan salahku aku dikaruniai kekuatan. Lagipula, Mama sendiri yang bilang tetap menyayangiku apapun yang terjadi."

"Aku memang menyayangimu, Chan." ucap Mama lebih lembut. "Aku tidak marah karena kau punya kekuatan. Kau tak bisa mengelak dari takdirmu. Yang membuatku marah karena kau terus berbohong dan menyimpan rahasia. Aku juga marah kau menggunakan kekuatanmu secara sembrono."

"Aku tidak sembrono," bantahku.

"Kau mencoba sihir cinta," timpal Papa. "Itu namanya sembrono."

"Aku sedang membantu mus—temanku."

Mama berdecak. "Kau bermain-main dengan perasaan orang lain. Itu jelas-jelas tidak boleh."

"Banyak kok yang bermain-main dengan perasaan orang lain. Semua orang melakukan itu." Itu benar kan? Kebanyakan orang bermain-main dengan perasaan. Tidak cuma aku. Hampir tiap hari malah orang melakukan itu. Contohnya Jinyoung cs. Mereka selalu mengganggu aku dan Chen. Menjungkir balik emosi kami. Membuatku merasa seperti seonggok kotoran. "Aku hanya ingin Tao bahagia dengan kisah cintanya sendiri dan berhenti mengusik kisah cinta Kris dan aku."

"Tetap saja tidak boleh!" tegas Mama, kedua tangannya terkepal di pinggang.

"Tidak boleh?! Ma, aku ingin berbuat baik!"

Mama mengangkat dua tangannya. "Cukup. Aku tidak mau dengar alasan lagi, Chanyeol. Pokoknya kau dihukum! Tidak boleh ada kencan atau acara hang out untukmu selama tiga bulan penuh! Pulang dari sekolah tidak boleh ada acara keluyuran lagi. Kau harus bersih-bersih rumah dan cuci piring sebelum tidur. Tidak ada barang elektronik, ponsel, komputer, laptop. Semuanya tidak akan Mama kembalikan sampai kau sadar!" dia meraih tiang totem dan menghentakkannya ke lantai, bagaikan ketukan palu sidang.

Papa mengangguk-angguk tanda setuju.

"Itu tidak adil!" protesku marah. "Kalian tidak pernah paham masalahku! Jika kalian lebih muda, kalian pasti akan mengerti. Kalian akan tahu gimana rasanya di posisiku!"

Sebuah lingkaran asap warna merah tiba-tiba muncul dan menyelimuti tubuh orangtuaku. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri saat garis-garis penuaan di wajah mereka menghilang, kerut-kerut di area mata dan lipatan di dahi juga menghilang, pipi keriput mereka menjadi penuh dan kencang, rahang mereka lebih lembut, dan sejumput uban di rambut mereka lenyap ditelan asap.

Papa menyusut dua inci dan Mama menyusut sekitar tiga inchi, gaya berdirinya juga berubah.

Orangtuaku kembali ke remaja.

Hebat.

Hebat sekali.

Lagi-lagi aku mengacau.

.

.

.

.

"Mama?"

"MAMA?!" pekiknya dengan suara melengking. Tampangnya kelihatan tersinggung seolah-olah aku memanggilnya 'Mama' untuk mengolok-olok dia. Suara ibuku juga berubah jadi lebih cempreng. "Siapa kau? Berani sekali memanggilku begitu!"

Tuhan. Plis. Jangan bilang dia lupa aku ini anaknya…

"Jangan panik," aku memberitahu ibuku untuk tetap tenang sementara aku memikirkan cara untuk mengembalikan keadaan mereka ke semula. "Aku akan merubah penampilan kalian agar sesuai dengan umur kalian lagi," kupandangi dia lekat-lekat. "Tapi… Mama kelihatan keren kalau begini." Yap. Dia memang tampan. Tampan dan cantik dalam waktu bersamaan. Aku memang tidak pernah lihat foto masa muda ibuku. Dia agak tertutup soal masa lalunya. Tapi harus kuakui dia benar-benar manis untuk ukuran cowok. Siapa sangka ibuku yang kuno itu terlihat seperti ini di masa mudanya?

Mama melangkah takut-takut menuju ke pintu keluar. "Apa yang kau bicarakan? APA YANG TERJADI?! Dimana ini?!"

Tunggu dulu—ini tidak benar. Ibuku tidak hanya terlihat seperti remaja di luar. Dia benar-benar telah kembali ke masa remajanya secara total! Dan sekarang dia tampak begitu siap untuk kabur.

"Tenang… aku tidak akan menyakitimu…" ucapku dengan suara paling sejuk, berusaha menenangkannya. "Kemarilah. Kita bicara baik-baik."

Mungkin ibuku mengira aku anggota gangster atau komplotan penjahat yang berusaha menculik dia, karena bukannya tenang, ibuku malah gemetaran dan tarikan napasnya berubah jadi pendek-pendek juga sangat cepat. Dia seperti anak pengidap asma.

Cepat-cepat aku menyodorkan tas kantong ke depan mulutnya tapi tanganku malah ditepis. "Aku ingin pulang," ucapnya menatapku waspada. "Kenapa aku bisa ada disini?"

Bagaimana caraku menjelaskan soal itu? Bahwa aku punya kekuatan iblis dan tanpa sengaja merubah dia? Ibuku yang versi remaja bahkan tidak sadar dirinya sudah menikah dan punya satu anak berusia dari raja iblis.

OH. MY. GOD.

Si raja iblis. Aku lupa soal dia.

Jika ibuku berpikir dirinya adalah remaja, lalu bagaimana dengan ayahku? Sebelum diusir dari surga, dia dulunya adalah malaikat. Semoga aku merubah dia kembali ke masa-masa saat dia masih jadi malaikat.

"Kai?" panggilku.

"Ya," sebuah suara menyahut panggilanku. Aku menoleh dan langsung berhadapan dengan seorang cowok. Ternyata Papa versi remaja kelihatan lebih hitam dari yang versi tua. Dia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu beralih ke seisi ruangan. Dia terlalu mencurigakan untuk jadi malaikat.

Sorot matanya terus berputar-putar di tubuh ibuku. Aku tak yakin apa penyebabnya. Entah karena ibuku tampak seperti mangsa yang gampang diincar jiwanya atau karena dia terlihat sangat hot sebagai remaja. Tapi dari cara ayahku melebarkan senyum menjadi smirk penggoda, kayaknya yang benar pilihan kedua.

"Apa kau tahu siapa aku?" aku bertanya padanya.

Dia angkat bahu acuh. "Maybe."

Apa maksudnya?

"Aku tidak tahu siapa anak ini," bisik Mama. Rona merah di wajahnya langsung pudar begitu menyadari keberadaanku. "Aku harus segera keluar dari tempat ini!" dia membuka pintu dapur. Dengan sekali ayunan tangan, aku membuatnya terbanting menutup.

Dia langsung berteriak ngeri. Lagi-lagi mencoba menarik gagang dan berusaha membuka pintu, berkali-kali itu pula aku menutupnya kembali sebelum dia berhasil melangkah keluar. Mama tidak gampang menyerah rupanya. Kali ini dia meraih salah satu bola kristal terus dilempar ke kaca yang ada di pintu. Kaca itu pecah dengan bunyi nyaring dan serpihannya bertebaran di lantai.

Usaha Ibuku untuk kabur patut diacungi jempol. Dia niat sekali.

Tidak boleh! Aku cepat-cepat mengayunkan tangan dan mengirimnya ke sisi lain dapur. Mama menjerit lagi. Lebih keras, lebih panjang dan lebih melengking dari yang tadi. Tapi alih-alih berdiri dan lari ke pintu, dia malah merosot ke lantai, memeluk kedua lututnya sambil terisak pelan.

"Maaf, maaf," dengan iba kudekati dia, lalu berjongkok di sampingnya. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Tidak dalam kondisi seperti ini."

Dia refleks menutup telinga, tak ingin dengar apapun. Tidak dariku—si penculik.

"Kumohon jangan sakiti aku, jangan sakiti aku, jangan sakiti aku, jangan sakiti aku, jangan sakiti aku, jangan sakiti aku..." gumamnya terus dan terus sambil menggeleng-geleng parno.

"Menyakitimu? Aku tidak akan menyakitimu. Kau adalah ibuku."

"Kenapa kau selalu bilang begitu? Aku tidak punya anak. Orang aneh! Dasar sinting."

Aku menoleh ke ayahku. Berharap dia mau memberi bantuan. Tapi si iblis cuma berdiri-berdiri disana menonton kami. Santai sekali sih dia!

Antara stress dan bingung, aku memutuskan ikut bungkam. Aku tidak ingin menjelaskan apapun, segala hal pasti terdengar tidak masuk akal di telinganya. Dan tebak apa yang terjadi, tangisan Mama malah semakin kencang.

"Tolong aku," pintaku ke Papa.

"Untuk apa?" dia balik bertanya. Nyolot pula. Ugh. Anak-anak remaja memang bikin frustasi!

"Untuk dia," telunjukku mengarah ke Mama. Jika dugaanku benar, Papa pasti tidak akan menolak, dia sudah terpaku pada ibuku sejak pertama kali mereka saling tatap. "Apa kau mau dia terus-menerus menderita begini? Ketakutan terhadap sihir dan hal-hal ganjil di sekelilingnya. Sebagai seorang gentleman, bagaimana caramu memenangkan hatinya? Bukankah akan lebih mudah membuat dia jatuh cinta kalau dia lebih kalem dan bisa menerima keadaan?"

"Tenang saja," tukasnya percaya diri. "Dia bakalan suka padaku kok. Aku kan sangat mempesona."

Iblis remaja lebih menjengkelkan daripada yang versi dewasa. "Lihatlah dia."

Senyum narsisnya makin menjijikkan. "Aku sedang melihat dia."

Aku memutar bola mata. "Maksudku, lihatlah betapa kacaunya dia." aku menunjuk Mama yang tengah berguling-guling di lantai. "Jika kau benar-benar suka pada anak ini, buatlah dia tersenyum bahagia. Memangnya kau tahan berada satu ruangan dengan bocah cengeng ini?"

"Aku bukan bocah cengeng!" teriak Mama.

Bibir ayahku berkerut-kerut. Kemudian dia menyahut, "Fine. Asal kau tahu saja, ini demi dia. Bukan demi kau. Urusan kita belum selesai."

Orangtuaku tidak saling mengenal ketika mereka remaja. Mereka sebenarnya baru bertemu di saat sama-sama di Seoul University. Tapi kayaknya tidak penting di usia berapa mereka ketemu, ayahku selalu merasa dia punya semacam 'ikatan khusus' terhadap Mama.

Papa melambaikan tangannya di depan wajah ibuku dan beberapa detik kemudian, dia segera berdiri diatas kedua kakinya. "Okay…" tukasnya tidak sabar, kedua tangannya berada di pinggang. "Apa yang kulakukan? Kenapa aku bisa ada di rumah ini?"

Bedanya dengan tadi, kali ini dia tidak menjerit dan menangis meraung-raung. Tidak ada acara sesak napas. Dan tidak ada usaha penyelamatan diri. Yang ada hanya sikap tenang yang lebih dewasa.

"Well," ucapku. "Umm… ibuku memintamu untuk tinggal sementara disini untuk…. menjagaku. Sebagai babysitter."

"Yuck," dia menjulurkan lidah. "Aku benci jadi babysitter."

Meskipun sangat anti jadi babysitter, herannya dia tidak banyak bertanya atau merengek seperti tadi. Papa berhasil! Dia telah membuat pola pikir ibuku sejalan dengan arus.

Mama mengerutkan hidung kearahku. "Bukankah kau sudah terlalu tua untuk dijaga?"

"Ibuku itu super-duper-overprotektif." jawabku sambil menahan tawa. "Bukan salahku kau ada disini. Dia memang selalu berlebihan begitu. Jadi jangan heran."

"Menurutku kau memang anak yang bermasalah." jawab Papa.

Hah? Apa dia sudah ingat?

Untuk pertama kalinya, ibuku mendadak sadar ada cowok lain yang berdiri disini selain aku. Matanya melebar dan dia kelihatan begitu terpesona. "Hai," sapanya sambil mengedipkan mata. "Aku Sehun. Biasa dipanggil Hunnie." Hunnie itu adalah nama kecil ibuku yang diberikan oleh kedua orangtuanya—yang masih dia gunakan sampai setelah lulus SMA.

"Kai," Papa melempar senyum sok ganteng andalannya.

Mama berpaling kearah lain sambil menggigiti bibir bawahnya, tersipu-sipu malu.

NO WAY! Mereka sedang flirting satu sama lain! Haruskah aku jadi bagian dari ini?

"Jadi, apa pendapatmu soal tugas menjaga anak ini? Bukankah dia agak aneh?" tanya Mama, tatapannya selalu terpaku ke mata cowok di depannya, seolah-olah takut ayahku bakal menghilang kalau dia berani menoleh sedetik saja. "Apa menurutmu dia ada hubungannya dengan sihir?"

"Beberapa makhluk ajaib memang butuh pengawasan ketat lebih dari satu pengasuh anak." tukasnya sok kalem. Padahal dirinya sendiri adalah makhluk ajaib a.k.a iblis yang jelas-jelas butuh pengawal pribadi lebih dari sepuluh orang.

"Betul banget." Ibuku manggut-manggut paham, seakan dia sudah tahu apa yang dibicarakan cowok misterius di depannya. Tapi dugaanku sih dia memang tahu. Termasuk kekuatan dan hal-hal yang tidak logis. Aku kan tadi sudah minta tolong pada Kai agar dia bisa menerima semuanya.

"Hm, Kai…" Mama bergeser lebih dekat. "Aku berani bertaruh, orang seperti kau pasti sangat tangguh."

Dia cuma mengedipkan sebelah mata.

"Ayolah," ditepuknya pundak cowok itu, lalu dia biarkan satu tangannya menyelinap masuk di lengan ayahku. "Masa sih kau tidak mau menunjukkan kehebatanmu?" bujuknya sambil bergelayut manja.

"Kau beneran kepingin tahu?" pancing Kai.

"Menurutmu?" dia balik bertanya. Suaranya benar-benar bikin pusing. Aku tidak percaya apa yang sedang kulihat. Ternyata ibuku versi remaja adalah monster penggoda. Dan yang lebih parah, targetnya adalah iblis!

"Berani bertaruh kau membuat Harry potter tampak seperti penyihir kacangan bila dibandingkan dengan kau," tukas Sehun bersemangat. Mm… aku sebenarnya masih ingin memanggil mereka 'Papa-Mama'. Tapi… yaaa… kalian tahu sendirilah. Usia dan penampilan mereka terlalu tidak pantas, plus mereka tidak sadar diri. Aku tahu ini salahku juga. Pokoknya, segera setelah kukembalikan mereka ke normal, embel-embel 'Papa-Mama' itu juga akan kembali.

Wait-a-second.

"Kau tahu Harry Potter?" tanyaku melongo kaget.

Sehun memutar bola mata, kemudian membuat gestur melambaikan tangan yang sangat menyebalkan. "Heloo. Siapa sih yang nggak?"

Ooohhhhh. Berarti aku telah merubah orangtuaku jadi remaja-masa-kini. Mereka memiliki penampilan dan sifat-sifat lama mereka yang satu paket dengan pengetahuan up to date tidak penting. Jeleknya, mereka tidak ingat hal-hal penting seperti aku atau kehidupan mereka di masa tua.

"Aku bisa melakukan semua hal," Kai menyombong dengan bangganya.

"Seperti apa?" pancing Sehun.

"Apa saja yang kauinginkan. Cukup sebut dan… voila! Keinginanmu terkabul."

Oke, kedengarannya tidak bagus. Ibuku telah termakan umpannya sendiri. Dia tergiur setengah mampus.

"Apapun?"

"Apapun," jawab Kai mantab.

Ibuku terkikik. Terkikik! Harusnya dia takut! Dia kan sedang berurusan dengan makhluk paling jahat di alam semesta!

"Terus kenapa kau bisa terjebak jadi babysitter bersamaku?"

"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian dengan anak itu," Kai menunjukku. "Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Si caplang ini mungkin saja berbahaya."

AKU?! Bagaimana dengan dia? Kalau ayahku tidak mau mengatakan identitas rahasianya, biar aku saja yang akan melakukan itu untuk dia.

"Sadarkah kau kalau dia ini iblis?" aku balas menuding balik. Sambil berharap ibuku akan merosot di lantai, berguling-guling lagi atau mencoba memecahkan semua kaca jendela di rumah ini. Tapi dia cuma berdiri dengan antengnya. Mesam-mesem tidak jelas.

"Oh, aku suka bad boy. Mereka selalu menantang."

"Kau bercanda ya?!" pekikku. "Aku tidak sedang membicarakan cowok berandalan yang hobi membolos dan keluyuran tengah malam. Maksudku, dia itu benar-benar IBLIS. Pangeran kegelapan!"

"Lebih bagus malah," dia mengedipkan mata ke Kai. "Aku selalu ingin punya pacar pangeran."

Heeeerghhhh. Ini sudah keterlaluan!

"Dia itu iblis!" seruku ngotot.

"Kau cuma salah paham," dengusnya sambil memutar bola mata lagi.

Aku hendak buka mulut untuk protes, tapi Kai buru-buru angkat sebelah tangan, memotong tindakanku. Dari tadi dia hanya terpaku pada ibuku dan terpesona pada setiap kalimat yang dia ucapkan. Apapun itu. Bahkan kalimat paling menyebalkan sekalipun.

"Hunnie, bisa beri kami waktu sebentar?" tanyanya. "Aku ingin bicara pada anak ini. Memastikan kau baik-baik saja dan selamat dari dia."

Selamat? Dariku?! Ingin sekali kusemprot dia dengan banyak sanggahan, tapi Sehun keburu mengangguk. Matanya berbinar-binar dipenuhi rasa kagum. Dia telah tertipu mentah-mentah pada Kai cipher dan kostum-ksatria-gentlemannya yang berkilau.

"Okay. Aku mau cari baju ganti dulu. Entah kenapa aku pakai celana kain punya bapak-bapak ini. Ih. Jelek sekali. Menjijikkan."

Kalau memang dia tidak ingat ini rumahnya, harusnya dia tidak boleh masuk ke kamar orang seenak udel dan mengacak-acak propertinya kan?

"Ehm, helo?" tahanku. "Kau tidak boleh membuka-buka lemari."

"Kenapa tidak?"

"Itu kan bukan lemarimu."

"So?" balasnya nyolot. Seolah-olah aku telah mengatakan sesuatu yang bodoh.

Ini gila. Otakku masih tidak terima ibuku adalah remaja menjengkelkan yang tidak sopan. Terbukti belum selesai aku bicara, dia langsung ngeloyor pergi dengan tampang tidak berdosa.

"Biar kutebak," ucap Kai setelah 'pacar baru'–nya menghilang dari jarak pandang. "Kau pasti salah satu malaikat yang mencoba membujukku untuk kembali menggunakan sayap dan pulang ke rumah, kan?" tuduhnya tanpa tedeng aling-aling. "Dengar ya, pria sebelumnya sudah kuusir dan bukan berarti aku tak bisa melakukan hal yang sama padamu. Sudah cukup. Aku sudah lelah. Aku muak jadi malaikat. Aku tidak akan pernah kembali. Dan sudah waktunya bagiku untuk bersinar!"

Uhmmm… kok perasaanku tidak enak ya? Ternyata ayahku kembali ke masa-masa saat dia baru pensiun jadi malaikat.

"Bukan kok." jawabku menggeleng cepat. "Aku bukan salah satu malaikat seperti dugaanmu." Kemudian aku jelaskan padanya satu-satu. Mulai dari awal. Aku menceritakan semuanya termasuk kalau dia itu sebenarnya adalah ayahku, yang kekuatannya menurun padaku, juga soal bagaimana aku tanpa sengaja merubah mereka kembali ke masa-masa remaja. Semuanya.

Tapi dia tidak percaya sama sekali. Sebaliknya, dia kelihatan skeptis dan sinis. Matanya menyipit kejam. "Kau mungkin punya kemampuan untuk memanggilku. Tapi kau tidak mungkin punya kemampuan untuk hal-hal sebesar itu. Aku ini terlalu kuat untuk bocah sepertimu!"

"Aku dan kau itu sama. Aku adalah anakmu. Putra semata wayang yang pernah kau miliki. Kekuatanmu adalah kekuatanku juga. Kita satu gen. Itu mengalir dalam darahku."

"Aku tidak punya anak," geramnya.

"Ya. Kau punya anak," tandasku.

Dia menggeleng. Tangannya terkepal menjadi bentuk tinju dan sebuah gelombang energi terbentuk di dalam kepalan kuat itu. Lama-kelamaan semakin besar dan berbentuk bola listrik! Gawat. Dia marah!

"Kau ini suruhan siapa, hah? Jawab!"

Aku gelagapan. "Ti-tidak ada kok. Aku bukan suruhan siapa-siapa. Sumpah. Just… calm down. Oke?" aku berpikir keras, mencari alasan yang lebih masuk untuk dia terima. Aku benar-benar takut dengan ayah yang ini. Apa yang akan dia lakukan? Melempar bola listrik itu ke wajahku? Ke anaknya sendiri?! Setelah itu apa? Aku akan berpindah ke galaksi lain? Atau lebih buruk?

"Sebenarnya aku ini… um, aku ini… adikmu. Aku ini adikmu! Ingat?"

"Aku tidak punya adik."

Bola listrik di tangannya semakin besar.

"Tunggu!" tahanku sambil memutar otak mengarang-ngarang cerita lain. "Kau memang punya adik, hanya saja kita baru dipertemukan sekarang. Bukan salahmu kalau kau tidak tahu, karena selama ini aku hidup di bumi. Kau dan aku, kita punya koneksi, itulah mengapa aku bisa memanggilmu kemari." aku tersenyum, menunjukkan lesung pipiku. "See? Aku cuma ingin ketemu denganmu… hyung."

Bola listrik di tangannya perlahan-lahan lenyap. Ha! Gampang ditipu ternyata.

"Percayalah. Kau tidak bakal mau jadi bagian keluargaku. Aku melancarkan perang melawan makhluk-makhluk yang lebih kuat. Dan aku tidak butuh seorang bocah mengacaukan itu semua. Ingat itu, jangan-pernah-panggil-aku-lagi! Mengerti?" dia kelihatannya serius. Kai yang ini benar-benar sulit diajak berkompromi.

"Hey," Sehun baru kembali dari eksplorasi.

Sikap ayahku berubah seketika. Dari Iblis yang siap bertarung menjadi Tuan Super Rileks. Dia melempar senyum lebar ke sang pujaan hati. Ckckck. Mereka benar-benar sedang kasmaran. Dasar anak muda.

"Kembalilah ke usia normal kalian, kembalilah ke usia normal kalian," bibirku sibuk komat-kamit.

Tetap tidak terjadi apa-apa.

"Coba tebak, kaus keren ini kutemukan setelah berkeliling dan membongkar banyak barang." keluhnya sambil mengamati kaos tengkorak berhelm ala rock n roll, hasil karyaku. Katanya kaos itu terlalu sangar untuk kupakai dan dia tidak ingin punya anak yang pakai kaos tengkorak kemana-mana. Itu menurut ibuku yang versi kolot. Kalau menurut ibuku yang versi ini, hanya baju itu yang satu-satunya layak disebut 'baju'.

"Tapi aku tidak bisa menemukan jeans bagus." Sehun mempoutkan bibir. "Semuanya belel, kumal dan bau."

BAU?!

Pleasee, pleaseee, kembalilah ke usia normal kalian!

Aku berjuang keras mengumpulkan semua energi, berusaha fokus, memantabkan tekad untuk merubah mereka kembali ke semula. Hasilnya… nol besar! Tetap nihil. Masih tidak ada yang berubah. Aku mencoba melambaikan tangan mengikuti cara ayahku, menutup kedua mata sambil komat-kamit dalam hati. Dan meskipun aku telah mengarang kalimat mantra yang berbunyi seperti puisi, "Kembali ke asal, kembali ke kehidupanmu sebelumnya. Wahai, Kai cipher dan Park Sehun, kembalilah menjadi orang dewasa. Kumohon kekuatanku, patuhilah sajak-sajak yang telah kuucapkan."

Puisiku tidak bekerja! Orangtuaku tidak bertambah tua sedikitpun. Mereka tetap remaja bandel. Aku gagal merubah mereka kembali.

"Aku bisa membantumu mencari pakaian yang lebih bagus," ucap Kai mengabaikan aku lalu memeluk pinggang kekasihnya. "Dunia dan seluruh isinya akan jadi milikmu, Sayang."

Ibuku tersenyum ganjen dengan pipi merona. Dia bahkan tidak perduli kalau Kai akan menggunakan kekuatan iblisnya untuk mewujudkan impian. Pokoknya dia benar-benar sudah buta.

"Wait. Kalian tidak bisa pergi begitu saja. Bagaimana dengan aku?"

"Terserah ya. Kami tidak perduli. Toh kau sudah cukup kuat untuk menjaga dirimu sendiri." ucap Kai ringan.

Lalu dengan sekali lambaian tangan, kedua orangtuaku menghilang bersama hembusan angin.

End P.O.V

.

.

.

.

Chanyeol baru saja melepas Iblis remaja ke dunia.

Untuk berbuat sesuka hati…

Kai memang telah bersumpah untuk berhenti mengambil jiwa-jiwa manusia. Dan apa yang telah Chanyeol perbuat? Mengirim Kai kembali ke trik jahatnya. Dengan ibunya sebagai kaki tangan. Ini benar-benar gawat. Bukan. Bukan gawat lagi. LUAR BIASA GAWAT!

Kemana perginya mereka? Kai bilang seluruh dunia ini beserta isinya akan jadi milik Sehun. Impian seperti apa yang akan dipilih Sehun versi remaja? Kemana tujuan awal mereka?

Oh. Mungkin ke suatu tempat yang ramai dan banyak anak-anak muda bergaya elit, jadi dia bisa nongkrong sambil pamer baju tengkorak hasil curian tadi.

Chanyeol bersandar di tembok. Putus asa. Beberapa kali dia benturkan kepalanya ke tembok. Bagaimana dia bisa sepayah ini? Melepaskan dua orang itu begitu saja. Gagal. Gagal. Chanyeol benar-benar merasa gagal sebagai seorang anak.

Sikap ibunya memang sudah buruk dari dulu. Tapi ternyata Kai lebih buruk lagi. Dia tidak boleh duduk-duduk santai sementara iblis muda sedang berkeliaran di alam semesta. Dan barangkali… oh, tidak. Tidak mungkin. Bagaimana jika Kai berniat menguasai dunia? Siapa yang tahu berapa banyak jiwa tak bersalah yang bisa dia kuasai?

Chanyeol harus menghentikan mereka. Melacak keberadaan mereka.

Pertanyaannya sekarang: Bagaimana?

Memanggil dia kembali tidak termasuk pilihan. Kai pasti marah karena dia telah merusak kesenangannya dan acara kencannya dengan Sehun. Chanyeol masih takut dilempari bola listrik.

Okay, kalau begitu… gimana?! Gimana caranya menjangkau Kai?

Mendadak Chanyeol dapat ide. Benar juga. hPhone! Kai mungkin masih memiliki benda itu di kantongnya. Chanyeol bisa melacak keberadaan ayahnya lewat situ.

Dia merogoh saku celana. Tersentak kaget mendapati dua ratus dua belas panggilan masuk ke Hp-nya.

Hah? Siapa sih yang nelpon? Niat banget sampai dua ratus kali missed call. Kris kah?

Saat dia menekan tombol dial ke nomer sang ibunda, mendadak ponselnya lebih dulu bergetar. Ada panggilan dengan nomor lain yang masuk. Nomer tak dikenal.

"Halo?"

"Akhirnya kau menjawab panggilanku!"

Chanyeol melotot seketika. "Yixing? Kaukah itu?" darimana anak ini dapat nomornya?

"Yep. Cepat nyalakan TV dan ganti ke channel lima. Aku punya kejutan untukmu."

Kejutan? Kejutan biasanya tidak pernah ada yang beres. Chanyeol cepat-cepat berlari ke ruang tamu, membanting dirinya di sofa, menyalakan TV, dan mempersiapkan mental untuk nonton apapun yang terjadi di channel lima.

Chanyeol tercengang mendapati siaran berita dengan reporter pria berambut coklat, sedang memandu jalannya acara jumpa pers di sebuah Mall. Ada Yixing berdiri di samping si reporter, berkali-kali melempar flying kiss ke kamera.

Tunggu dulu… ini bukan acara jumpa pers. Ini kejutan yang dimaksud Yixing tadi!

"Itu untukmu, Park Chanyeol my lovely!" serunya berteriak di kamera dan di ponsel sekaligus.

"Kau sedang menelpon Chanyeol?" tanya sebuah suara di luar kamera. Dua detik kemudian, Baekhyun dan Tao ikut melongok di layar. Si reporter kerepotan sendiri, mencoba mengusir dua orang itu.

"Aku merindukanmu, Chanyeol!" pekik Baekhyun histeris.

"Aku sayang padamu! Kau dimana sih?" tanya Tao.

Apa yang terjadi? Mengapa semua orang begitu mencintai dia?

Mendadak, sekitar empat puluh wajah ikut muncul di depan layar. Mereka semua kompak melambaikan tangan sambil nyengir. Mengirimi dia ciuman penuh cinta dari jarak jauh.

Tiba-tiba Chanyeol tersadar.

Mereka ada dibawah pengaruh sihir cinta. Waktu Chanyeol kabur dari Mall, mereka memang sudah membombardir dia dengan banyak pujian, pertanyaan dan ungkapan perasaan. Chanyeol tidak terlalu memperhatikan karena dia sendiri juga sama-sama sedang tergila-gila. Tergila-gila pada dirinya sendiri.

Sempurna. Sekarang dia punya fans club. Dan masih bingung bagaimana cara memperbaiki keadaan.

Terlalu banyak. Terlalu banyak yang bisa dia cerna sampai-sampai Chanyeol pusing sendiri. Antara shock dan panik dia duduk terbengong-bengong menyaksikan semua orang berlomba-lomba masuk ke kamera, memonyong-monyongkan bibir mereka, melempari dia ciuman jarak jauh.

Hal paling mengejutkan yang muncul di layar berikutnya adalah pasangan fenomenal kita… Kai cipher dan kaki tangannya… Sehun! Dua tompel cicak itu melenggang santai di latar belakang, diantara celah-celah leher manusia yang merapat di depan kamera.

Sehun tiba-tiba berhenti, berpaling kearah si reporter lalu mengedipkan sebelah mata ke pria itu.

Kai menyaksikan Sehun menjilati bibirnya sok sensual dengan ekspresi cemburu bukan main. Dengan sekali lambaian tangan, si reporter beserta kerumunan orang terlempar keluar dari kamera. Sehun tertawa-tawa bahagia lalu melingkari tangannya di perut Kai.

Apa dia sengaja membuat Kai jealous? Well, dia berhasil. Karena sekarang Kai semakin merapatkan rangkulannya di pundak namja berkulit putih itu. Dia tampak seperti cowok posesif yang bersedia mandi darah agar kekasihnya tidak jatuh ke tangan orang lain.

Mereka hanya berdiri disana selama beberapa saat. Saling berpandangan satu sama lain. Kamera bergerak men-zoom out tatapan mereka yang begitu mesra dan tajam. Chanyeol seperti sedang nonton film cinta norak yang dua pemeran utamanya bikin dia gondok setengah mati.

Kemudian… hal itu terjadi. Kai mendaratkan ciuman panas yang penuh lumatan dan persilatan lidah tepat di bibir Sehun. Ciuman panas untuk setiap penonton di saluran lima—termasuk Chanyeol.

Yeks! Jika Kai kembali ke normal, Chanyeol ingin ayahnya itu menghapus ingatan tentang ciuman laknat itu dari kepalanya. Karena menonton kedua orangtuamu—meskipun mereka dalam versi remaja—berciuman di depan jutaan penonton di seluruh daratan Korea, adalah hal paling menjijikkan yang pernah dia lihat.

Chanyeol buru-buru berpaling ke sisi lain. Perhatiannya kembali ke layar kaca saat dia mendengar Kai berbisik, "It's my show now." Cowok itu menyeringai ke wajah Sehun yang memerah parah, dipenuhi nafsu. Kai mengeratkan pelukan mereka semakin dalam, lalu menjentikkan jari sebanyak tiga kali.

Hanya dalam sekejap, Channel 5 berubah menjadi layar gelap. Chanyeol menyambar remote di meja dan menggantinya ke saluran lain. Yang lain bagus kok. Tapi live report dari Mall menghilang. Benar-benar gelap.

"Yixing! Halo?" Chanyeol berteriak panik di telpon. "Apa yang terjadi? Ada apa disana?"

Tidak ada jawaban. Saluran telpon juga terputus. Dia coba menghubungi nomor Yixing beberapa kali, namun tetap tidak diangkat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Seluruh siaran dari Mall menghilang dalam sekejap.

Itu berarti sesuatu telah terjadi disana.

Si Iblis pasti telah melakukan sesuatu yang buruk.

.

.

.

.

Badan Chanyeol panas dingin. Apa yang terjadi dengan seluruh penghuni Mall hari ini? Chanyeol membayangkan Kai menyulap seisi Mall menjadi Miniatur Neraka lengkap dengan api. Masih mending kalau begitu. Bagaimana jika Kai menyuruh semua pengunjung menyekopi arang kedalam api? Itu tidak lucu! Tidak. Tidak. Tidak boleh! Dia juga dapat gambaran mengerikan tentang teman-temannya. Chen, Yixing, Xiumin, Kyungsoo, dirantai ke tembok dan disuruh mencangkul atau… atau… apapunlah! Tidak ada yang tidak mungkin bagi Kai cipher. Ayah iblisnya yang ini lebih kreatif dan lebih berbahaya.

Lalu gimana dengan Sehun? Chanyeol ingin sekali menyalahkan Kai karena telah membuat ibunya berubah begitu. Tapi firasatnya berkata kalau Kai tidak bersalah sama sekali. Dia hanya membuat namja itu sedikit lebih kalem dan bisa menerima keadaan sekitar, tapi dia tidak merubah Sehun menjadi monster penggoda dan seorang troublemaker. Memang… begitulah dia.

Kemana perginya pria pecinta bola kristal yang hobi menghukum anaknya untuk setiap kesalahan terkecil? Ibu yang ini mengenakan kaos rock n roll, celana pensil dan sepatu trendi. Tipe pangeran idamannya adalah para bad boy. Berani-beraninya dia selalu memberi hukuman padahal dirinya sendiri lebih parah dari Chanyeol!

Well, Sehun berhutang banyak penjelasan untuk Chanyeol nanti.

Untuk mengalihkan pikirannya yang stress, Chanyeol mondar-mandir di ruang tengah. Iseng-iseng dia mengeluarkan ponsel dan mengecek voice mail. Inbox-nya penuh. Ada banyak pesan suara dari Kris, Chen, Xiumin, Yixing, Luhan—semua orang yang punya nomor kontaknya. Bahkan Jinyoung, Tao dan Baekhyun yang mengklaim diri mereka sebagai 'sahabat-karib-tiga-detik'–nya juga mengirim banyak pesan suara. Mereka memuji-muji betapa hebatnya Chanyeol.

Yang paling banyak itu pesan suara dari Kris. Cowok itu juara diantara semuanya karena mengirim seratus pesan suara. Isinya romantis sekaligus lucu menurut Chanyeol.

Kris berceloteh kalau dia adalah cowok paling beruntung sedunia memiliki Chanyeol sebagai kekasih. Juga bagaimana dia ingin Chanyeol selalu ada di sisinya mendampingi dia seumur hidup. Kris melempar beragam pujian mulai dari betapa keren, betapa indah, betapa pintar, betapa lucu, betapa mengagumkan, dan betapa-betapa lainnya yang bikin Chanyeol melayang seketika. Semua kalimat-kalimat pujian serta rayuan gombal terlontar keluar dari mulut cowok itu. Tapi dia tidak berhenti menelpon dan mengirim pesan suara. Dia mengulangi pujian betapa-betapa tadi seperti mesin robot yang ada di ATM. Awalnya Chanyeol merasa berbunga-bunga. Lama-lama… kok monoton ya? Kris hanya mengulang dan mengulang sesuatu yang sama. Benar-benar persis robot. Semua orang juga begitu. Isi pesannya hampir sama seperti Kris.

Masih ada tiga pesan suara lagi yang belum dia buka. Tapi Chanyeol tidak ingin. Dia sudah cukup dengan pujian. Sampai-sampai telinganya terasa panas dan perutnya mual.

Saat Chanyeol hendak melempar ponselnya ke bantal sofa, dia dikagetkan dengan satu panggilan masuk dari Chen.

Chen? Apa temannya ini baik-baik saja?

"Chen? Halo? Kau tidak sedang di Mall kan?" tanya Chanyeol to the point.

"Tidak. Justru aku sedang dalam perjalan menuju ke rumahmu."

Apa Chen sudah terbebas dari pengaruh sihir? Mengapa dia tidak memuntahkan kalimat 'aku cinta padamu'?

"Aku cinta padamu, Chan."

Oke. Dia belum bebas.

"Sana, bodoh! Cuma aku yang pantas mengucapkan kalimat itu!"

Kris? Ini suara Kris? Mereka sedang bersama?

"Halo, Chanyeol sayang. Kau dimana, baby? Di rumah saja kan, my honey? Tidak kemana-mana? Aku lagi dalam perjalan menuju ke rumahmu. Tunggu ya. Jangan kemana-mana pokoknya. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada belahan jiwaku. Kau cinta sejatiku, Chan. Tunggu aku ya, Sayang."

Ya ampun. Sejak kapan Kris jadi cerewet dan lebai begini?

"Iya, aku tidak akan, eh, tunggu dulu, bagaimana caranya kalian lolos dari Mall? Bukankah di Mall sedang ada…" Chanyeol refleks bungkam. Dia tidak mungkin cerita Mall sedang dikuasai oleh Ayah iblis yang liar dan Ibu kandung yang labil. Tapi… kalau bukan mereka, siapa lagi yang bisa mengerti kesulitan Chanyeol? Dimana lagi dia harus berbagi keluh kesah? Masa bodoh Kris dan Chen sedang berada dibawah pengaruh sihir. Selama mereka masih punya telinga, mata, kaki, tangan dan mulut, mereka masih bisa diandalkan. Kalau untuk Kris… kayaknya Chanyeol punya banyak 'PR' untuk dijelaskan ke cowok itu.

"Ada apa, Sayang?"

Chanyeol menggeleng, begitu sadar Kris tak bisa melihat gelengannya, dia langsung menyahut. "Pokoknya kalian ke rumah dulu. Nanti cerita lengkapnya nyusul." tukas Chanyeol mengabaikan teriakan 'I LOVE YOU' dari Chen yang sangat cempreng. "Aku masih penasaran bagaimana caranya kalian lolos dari Mall?"

"Lolos? Kami tidak lolos dari mana-mana, Sayang. Aku memang ikut lari dibelakangmu tadi. Kau saja yang tidak sadar, padahal sudah kupanggil berkali-kali. Larimu cepat sekali sampai kami kesulitan mengejar. Karena kehilangan jejak, aku memutuskan untuk mampir ke toko perhiasan dulu."

Detak jantung Chanyeol berdentum hebat. "Mm, toko perhiasan?"

"Ya, beli cincin. Untuk cinta sejatiku yang paling manis," jawab Kris.

"Untukku?" Chanyeol nyaris terlompat dari sofa kalau saja dia tidak segera sadar alasan utama Kris beli cincin karena dia masih berada dibawah pengaruh sihir. "Cincin… untuk apa ya?" tanyanya bodoh.

Kris terkekeh pelan. "Rahasia."

Chanyeol hanya bisa tersenyum pahit. Entah kenapa dia punya firasat Kris hendak memberi kejutan yang lebih dari sekedar cincin. Sayang sekali. Kalau dalam kondisi normal, mungkin dia sudah tertawa gembira sambil berteriak dan berlari mengelilingi halaman.

"Hei, Chanyeol! Aku juga punya cincin! Jangan lupakan aku!" pekik Chen membuat ponselnya berdenging nyaring di telinga. "Pokoknya tunggu kami ya. Kau harus terima cincin dariku! Kita sudah sering menghabiskan waktu bersama-sama, Chan. Apakah aku masih kurang berarti bagimu? Ingat kebersamaan kita selama ini, Chan. Masa tidak ada sedikitpun benih-benih cinta yang timbul diantara hari-hari bahagia kita?"

Chanyeol meringis aneh. "Chen, bisa tolong berhenti?" Karena aku kepingin muntah, sambungnya dalam hati.

Ngomong-ngomong… apa tadi katanya…

Chen juga beli cincin?!

"Tutup mulut bodohmu itu sebelum kulempar kau ke jalan!" ancam Kris sadis. "Hanya aku seorang yang boleh melamar Chanyeol!"

"Siapa bilang? Kau yang tutup mulut, bodoh! Aku juga berhak! Aku sudah kenal baik Chanyeol dari kecil, jika ada orang yang lebih pantas darimu, sudah pasti akulah orangnya!"

Chanyeol buru-buru mematikan sambungan telpon. Dia tak ingin mendengar dua orang itu berebut ingin melamar dia. Biar saja mereka baku hantam sendiri.

Tarik-buang-tarik-buang-tarik-buang. Chanyeol menghembuskan napas berkali-kali. Kepalanya nyut-nyutan pening.

Kenapa masalahnya jadi semakin runyam sih?

.

.

.

.

Apa yang harus dia katakan? Apa?

Apa dia harus bilang: "Kris, maaf aku telah berbohong selama ini, sebenarnya aku bukan manusia biasa. Ayahku raja iblis dan bakat besarnya itu menurun padaku" atau, "Hai, Kris. Coba tebak, aku ini anak iblis lho!"

Ya Tuhan. Dua kalimat tadi sama-sama tidak ada yang enak.

"Chanyeol, sayang, bicaralah… apa kau tidak suka cincin pemberianku?" Kris menggenggam tangan pacarnya penuh harap. "Jadi gimana jawabanmu? Ya atau tidak?"

Chanyeol menggigit bibir bawahnya, gusar. Pikirannya bercabang-cabang. Kris bodoh. Ini bukan waktu yang tepat untuk melamar orang. Karena yang dilamar justru sedang memikirkan hal lain. Bukan jawaban 'ya' atau 'tidak' yang ditawarkan Kris daritadi. Selain itu, Chanyeol tidak mau memberi harapan dulu. Tidak dalam kondisi kacau begini. Dia takut jika pengaruh sihir itu lenyap, Kris pasti lupa kalau dia sudah melamar Chanyeol hari ini. Bersaing dengan Chen pula!

Oh iya, ngomong-ngomong soal Chen, tadi Kris sudah menguncikan cowok itu di mobil. Jadi dia tidak perlu khawatir soal gangguan. Mereka bisa berduaan di ruang tamu. Sekali pengganggu ya tetap pengganggu, begitu pikir Kris.

"Chanyeol," Kris mengangkat dagu Chanyeol sedikit lalu mendaratkan ciuman lembut super kilat disana. Dengan kedua tangan, dia menangkup pipi tembem sang kekasih. "Kenapa? Ada masalah apa? Pikiranmu tidak sedang berada disini kan?"

Tebakan yang pas. Selamat Kris. Akhirnya kau sadar juga!

Chanyeol mengangguk, pelan sekali.

"Kalau gitu cepat cerita. Aku selalu siap mendengar." digenggamnya tangan Chanyeol lebih erat. "Jawabnya nanti saja." cowok itu tersenyum penuh ketulusan.

"Bener nih? Tidak apa-apa kan?"

Kris mengangguk. Walaupun dia ingin sekali mendengar Chanyeol menjawab 'ya'. Tapi… ya sudahlah, toh Chanyeol tidak bakal kemana-mana.

Chanyeol menghela napas lega. Syukurlah dia punya pacar yang pengertian meski sedang dibawah pengaruh iblis. "Oke, baiklah, aku sudah bertekad. Kau harus tahu. Aku akan bercerita semuanya. Tapi berjanjilah kau tidak akan pingsan. Oke?"

Alis Kris terangkat naik sedikit. Memangnya Chanyeol mau cerita apa sampai tampangnya jadi serius begitu?

"Apapun itu, aku tidak akan pingsan. Percayalah."

"Janji?" todong Chanyeol.

Kris mengangguk. "Janji."

"Well, Kris." Chanyeol tarik-buang napas dulu. Berdoa sebentar dalam hati. "Sebenarnya aku bukan manusia biasa seperti dugaanmu."

Kris melongo sesaat. "Kau tidak bercand—"

"Aku tidak bercanda," potong Chanyeol tanpa keraguan sedikitpun. "Aku tidak bercanda, Kris. Aku ini setengah iblis. Aku anak Raja Iblis dan ada darah iblis mengalir dalam darahku."

Kris terperangah. Hanya lima detik. Di detik keenam seulas senyum lebar terpancar dari bibirnya. "Aku sudah tahu."

Sekaranga gantian Chanyeol yang kaget. "Kau… kau sudah tahu?" lehernya tercekat. Tidak mungkin! Bagaimana bisa?! Tidak mungkin cowok ini tahu! Bukankah Kai sudah merekayasa pikirannya? Atau Chen yang lebih dulu membocorkan rahasia keluarganya?

Baiklah, Chen. Tiada maaf bagimu.

"Siapa? Siapa yang memberitahu?" Chanyeol gelagapan salah tingkah, genggaman tangannya terlepas. "Apa Chen yang memberitahumu? Pasti pelakunya Chen, iya kan?" desak Chanyeol.

Kris menggeleng. "Bukan Chen. Tapi ayahmu. Dia sudah cerita semuanya."

Oke. Dasar pembohong. Mulut ember. Akan kubunuh iblis itu. Mati dia.

"Semuanya?" jerit Chanyeol.

"Yap. Semuanya." sahut Kris tenang. Benar-benar tidak ada ekspresi shock atau jeritan horror sama sekali. Lalu kenapa tadi dia kelihatan terkejut waktu Chanyeol bilang dirinya setengah iblis?

"Kenapa tadi kau kaget waktu aku mengaku?" tanya Chanyeol curiga.

Kris terkekeh. "Oh, itu. Aku kaget karena akhirnya kau berani juga bersikap jujur. Itulah yang kutunggu-tunggu beberapa hari belakangan ini."

Chanyeol tidak tahu dia harus pasang reaksi apa. Senang? Pastinya. Dia lebih dari senang. Meski begitu, masalah belum selesai. Dia tak bisa duduk-duduk disini seharian sambil berpelukan dengan Kris. Masih ada yang lebih genting dari kisah percintaannya sendiri.

Kris dan cincin emasnya bisa menyusul.

.

.

.

TBC—

.

.

~Coming Soon Chapter—"Teens in Action (Part II)"—Coming Soon Chapter~

A/N: Hai haiiii :* sorry udah bikin kalian menunggu lama :(. Maaf kalau saya mengecewakan, jangan marah. Habis baru bisa lanjut cerita ini sekarang. Semoga lanjutannya tetap selalu bisa menghibur dan bikin kalian keep smile heheh. Dan semoga juga teman-teman tetap nge-fav cerita ini. Maaf yaa (T_T) saya jadi nggak enak…

Oh iya, terakhir saya mau bilang makasih buat temen-temen yang kirim review, baca, fav, nge follow, ngasih support, pokoknya semua deh. Makasih yaa. Big hug for you guys ({})

Hmmm, mungkin itu aja. Saya gak tau mau ngebacot apalagi. Cukup sekian and Please review ya^^ #bow

terus buat yang mau request atau bertanya silahkan aj lgsg pm saya jangan malu2 heheh :D.

Ya udah itu aja :D. Dan see you in the next chap.