Jawaban chapter sebelumnya :

Satu : Gaara sniper, dan "Tiga" yang dimaksud adalah arah jam tiga. Makanya Gaara langsung noleh ke arah kanan (ini aku lupa tambahin kanannya). Hehe.

Dua : Ballade Op. 23 No. 1. G Minor, karya Frederic Chopin. Lagu ini menggambarkan kesedihan, kekecewaan dan kekesalan.

Tiga : Yap, telur ^^

.

.

.

.

.

Satu

"Haaaaahh." Temari mendesah panjang seraya meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku sejak satu jam lalu.

Di depannya, Shikamaru sibuk memasukkan peralatan lukisnya ke dalam tas. Sesekali ia melirik ke arah gadis yang ia minta menjadi model lukisnya itu. Raut lelah jelas terlihat di wajahnya.

"Kau ingin makan apa malam ini?" Pria itu bertanya tanpa menoleh pada Temari yang kini tengah menguap.

Temari berpikir sejenak sebelum menjawab dengan antusias. "Kafe depan kampus, yang baru saja buka minggu lalu, bagaimana?"

Shikamaru tidak menjawab -hanya menatapnya lama, tapi Temari lebih dari mengerti bahwa itu berarti ya. Hampir satu tahun menjadi model lukisan si pria Nara, membuat gadis itu mengerti bagaimana kepribadian Shikamaru.

"Hei, Shika, aku belum pernah melihatmu pergi bersama gadis manapun. Apa kau tidak tertarik pada mereka?"

Keduanya sedang berjalan di koridor kampus yang nyaris kosong mengingat sekarang hari sudah senja.

Pertanyaan barusan berhasil menarik atensi si pria bersurai nanas untuk menoleh sekilas pada Temari, sebelum mengalihkan lagi pandangannya ke depan.

"Aku lebih suka melukis."

.

.

.

Dua

Sasuke menatap lama wanita yang terbujur kaku di depannya. Posisi pria itu yang tengah berjongkok membuatnya dapat melihat lebih jelas luka tusuk di bagian leher sosok tak bernyawa itu, serta lelehan darah yang mengalir melewati bahu hingga berakhir ke lantai.

Di sekitarnya, pihak keluarga dan beberapa polisi menunggu dengan cemas. Wajah mereka masih menyiratkan raut terkejut yang kentara.

"Cari barang bukti lain," ujar Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya.

.

.

.

Tiga

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

Mendengar itu Deidara dengan semangat memegang knop pintu dan mendorong benda keras berlapis pelitur di depannya. Tapi dahinya yang tertutup sebagian surai pirang mengernyit. "Tidak bisa terbuka, un?" gumamnya entah pada siapa.

Sekali lagi pria itu mencoba mendorong tapi tetap gagal. Berdecak pelan ia mengehembuskan nafas kesal. "Sasori, buka pintunya, un!"

Terdengar langkah yang diseret malas dari dalam. Detik berikutnya Deidara harus memundurkan wajahnya cepat karena pintu di depannya terbuka tiba-tiba.

"Kau ini bodoh atau apa?" dengus sosok bersurai merah itu seraya berbalik membiarkan Deidara mengikutinya masuk ke kamarnya.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Apa aku kelamaan?

XD

Review please...