CERITA HORROR PENGANTAR TIDUR

.

Disclaimer : Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki. Kalau punya saya, pasti Nigou (?) yang jadi pemeran utamanya :v

.

Genre (s) : Suspense/Horror

.

Warn : Drabble, OOC, Abal, beberapa chapter mungkin AU, Typo selalu jadi fans terberat saya, No Pairing pastinya dan pemeran utama selalu berubah-ubah.

.

(A/N) : Sebelum mulai ceritanya, saya mau ngasih tau. Banyak yang mengira kalo kisah Akashi berhenti di chapter sebelumnya saja. Tapi sebenernya ngga lo. Coba perhatiin deh, chap kemaren bertuliskan 'TO BE CONTINUE' kn? Sementara chap2 sebelumnya selalu berakhir dengan kalimat 'END'. Itu karena kisah Akashi kepanjangan, jadinya saya memutuskan untuk memecahnya jadi dua chapter!

Bagi yang berharap chap ini berkisahkan Mayuzumi, maaf ya. Awalnya iya sih, saya mau pasangin Akashi ama Mayuzumi (soalnya kasihan juga, masa Akashi sendirian yg jomblo #plak) tp setelah dipikir2 lg...Mayuzumi sifatnya agak mirip ama Kuroko kan ya? Bedanya Mayuzumi agak kebih kasar aja~

Dan setelah itu saya memutuskan untuk membiarkan Akashi single dulu #ceilah. Dan karena keputusan saya itulah, untuk chap kemaren saya memilih kisah tersebut. Awalnya sih mau pake salah satu dari pengalaman pembaca, tapi karena Akashi dari Rakuzan sendiri, sementara sekolah sebelum2nya masing2 dua chap...yaah jadinya diputuskan, khusus buat Akashi, ceritanya adalah cerita bersambung :3

Salah saya sih ya, g ngasih tau di chap sebelumnya makanya banyak yg ngarep chap selanjutnya itu Mayuzumi/ emang sengaja g saya kasih tau sih #dikeroyok

Jadi ya, selamat membaca cerita kelanjutannya -w-

.

.

.

MIMPI DAN PILIHAN

Part 2

.

Hal pertama yang ia lihat adalah jaring laba-laba di sudut langit-langit ruang tengah.

Lalu selanjutnya yang jadi pikiran adalah; mengingatkan Sebastian untuk memanggil petugas kebersihan dalam waktu dekat.

"Sei-chan~Bisa kau tolong aku sebentar?"

Ah ya. Daripada itu, masih ada masalah utama yang mesti ia selesaikan.

"Gomen, Mibuchi, aku sedang tidak enak badan" dirinya berucap, seraya bangun dari posisi tidur berantakan dan meregangkan badan sampai tulang belakang berbunyi mantap. Akashi mengacak surai cherry menarik perhatian, dimana sepertinya ia juga mesti ke salon tak lama lagi. Rambut panjang itu menganggu. Entah bagaimana Murasakibara bisa bertahan dengannya, "aku akan pergi tidur ke kamarku. Kalau ada apa-apa, tolong beritahukan pada Sebastian saja, oke?"

"Eh? Hontou, Sei-chan?" Di sudut indera penglihatan, ia bisa melihat Mibuchi melongokkan kepala dari balik dinding bata bercat krem. Dalam genggamannya ia mengaduk adonan roti dalam mangkuk ukuran besar. Mibuchi tersenyum sembari menggoyangkan kepala sedikit, membuat surai kelam mengkilat melayang-layang mengikuti gravitasi, "kalau begitu aku akan membawakan bubur untukmu."

(Rambut hitam itu mengencang kuat hingga tulang leher patah jadi dua)

"Terima kasih, Mibuchi. Aku akan sangat tertolong." Akashi balas dengan senyum lelah tipis.

"Bukan masalah~ apapun demi Sei-chan~" dan suara merdu untuk ukuran seorang lelaki milik Mibuchi si anggota asosiasi kesehatan meredup. Samar-samar ia bisa mendengar lantunan nyanyi tanpa kata dari dapur.

Akashi sampai di ruang tidur miliknya dengan tubuh penat dan jalan sempoyongan; kedua bola kaca itu hanya terbuka setengah, kulit sedikit lebih pucat dari biasa, peluh perlahan mengucur dari balik helaian rambut yang biasa terurus rapi menggunakan gel pomade terpercaya, membasahi pipi hingga jatuh ke kerah baju bermotif kota-kotak hutam merah. Tidur setengah jam (atau mungkin lebih) diri di ruang tengah beberapa saat lalu entah mengapa sama sekali tak membantu mengembalikan tenaga.

(Bagaimana mungkin, dengan semua 'mimpi' yang ia alami tersebut?)

Figur jangkung berotot pas untuk pebasket jatuh bagaikan dedaunan di musim kemarau ketika lutut bersenggolan sedikit dengan ujung bedcover king-size. Akashi membelokkan pandangan, membiarkan sebagian mulut tenggelam dalam empuknya bantal bersarung putih sementara hidung menghirup dalam wangi enak pemutih pakaian. Jam digital kotak pada meja mungil kayu jati di sisi kanan menunjukkan pukul delapan malam lewat empat puluh lima menit. Apakah Hayama dan Mayuzumi baik-baik saja diluar sana? Pikirnya di kala itu.

(Karena ia tak tahu, apakah kejadian yang (seharusnya dan nantinya) kan ia alami nanti ataukah tidak berpindah pada mereka? Karena sang tujuan utama memilih untuk menghindar dan berkutat pada keamanan dan kenyamanan selimut putih list merah sutra)

Kelopak mata berat ia biarkan menutupi manik heterokrom bercahaya sendu.

.

Gema kaki bertabrakan lantai tak terlihat dalam kegelapan perlahan mulai menghilang.

Ia dongakkan kepala ketika cahayamungil dan masih jauh dari jangkauanterlihat nun jauh di ujung sana.

Senyum itusenang, sedih, jengkel, menyatu jadi satumerekah.

Sebelum Akashi pun mempercepat langkah.

.

Hidung mancung mengendus udara, menangkap aroma sedap meski masih dalam keadaan setengah sadar. Membuat indera penglihatan perlahan membuka, menampilkan bola kaca dengan kilatan redup bagaikan lampu yang sedang habis garansi. Dimana tak lama langsung terpusatkan pada nampan besi berisikan dua mangkuk—satu sup miso isi tofu juga kacang merah dan lainnya nasi hangat—pun sumpit kayu sekali pakai. Bos muda perusahaan ternama Akashi corp. itu bangkit sedikit ogah-ogahan dari ranjang empuk yang begitu menggoda untuk kembali ditempati. Namun geraman perut yang tak sependapat memutuskan untuk mengalihkan perhatian, enggan tuk berbaring dikala tak berisi atau nantinya akan menggerogoti dinding lambung sendiri.

"Oh, maaf. Apa aku membangunkanmu?" Akashi menggerakkan leher sedikit dan menaikkan satu alis, ketika bulir menangkap sesosok lelaki jangkuk bersurai abu-abu di depan lemari mahoni. Mayuzumi berdiri disana, satu tangan terselip di kantung celana dan lainnya menangkap elegan kenop lemari berukiran terlalu rumit. Mata berwarna senada dengan surai pudar berantakan melebar sepersekian senti, seakan ia tak ingin mempercayai bangunnya diri Akashi dari tidur lelap selamaia menilik jam. Pukul sembilan malam tepat—lima belas menit.

"Tidak juga." Pemuda perfect penguasa seluruh mata pelajaran semasa duduk di bangku sekolah (dan masih berada di tahta kerajaan hingga saat ini) duduk bersandar serta menyamankan diri, sebelum mengambil makanan tersedia. Udara berhembus guna mendinginkan sup sebelum gigi putih mengunyah perlahan tuk mengecap rasa di lidah, "kau sendiri? Apa yang sedang kau lakukan disana?"

"Bukan apa-apa. Hanya ingin melihat-lihat." Mayuzumi mengelak, meluruskan punggung membungkuk. Dengan cukup tiga langkah gegara kaki jenjang tersebut, ia sudah tiba di sisi tempat tidur yang dinaungi Akashi kala ini. Mayuzumi menggeret kursi mungil dari teman meja kecil, menyamankan bokong di atas permukaan datar. Sebelum jari menarik light-novel berkelas dari saku baju dan mulai membaca.

(Mengapa ia masih berada disini? Duduk disampingnya seolah burung elang sedang mengintai mangsa?)

Akashi meletakkan dua mangkuk setengah kosong di tempat semula dan menghasilkan bunyi dentingan kecil, mendadak nafsu makan hilang ketika menyadari suatu hal mengganjal. Alis mengernyit, perut melilit diserang perasaan tak enak mengerikan, mata mengerling tajam pada sang empu yang masih berusaha menenggelamkan diri dalam lautan kata, tak ingin menatap mantan kapten Rakuzan walau hanya sekilas, "tidak, Mayuzumi. Sungguh. Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan."

"—apa yang kau lakukan di depan lemari arsip kerjaku?"

(Suhu udara turun drastis, terlalu mendadak membuatnya kehilangan kemampuan bernapas)

Akashi mengedip, merasakan nyeri di permukaan leher dan sesuatu mengalir membasahi kerah baju rumah.

Apa ini? Air? Tapi air tak mungkin sekental ini.

Ia meraba tenggorokan yang—makin lama makin sakit saja—dan membelalak kaget ketika apa yang ia takutkan kini terpampang jelas di hadapan diri.

Darah.

Akashi mendadak sesak.

Sang mantan ketua OSIS Rakuzan serasa asma, bagaikan tali rotan mengencang tanpa ampun di area dada. Ia mencengkeram leher begitu kuat, meyakinkan diri bahwa, dengan begitu sel darah dalam sistem peredaran tak lagi mengalir deras bak air terjun walau ia tahu usaha tersebut sia-sia. Paras pucat begitu signifikan, membuat sapuan merah tampak amat kentara di wajah putih susu yang kini senada bagaikan kertas kosong. Manik beda warna bergulir lambat bagai terkena efek slow-motion, menangkap sosok pemuda yang tadi Akashi kenal sebagai seorang 'Mayuzumi Chihiro'.

Kata kuncinya adalah; tadinya.

Pemuda—tidak, dia sudah tak dapat disebut sebagai pemuda. Bahkan tak memenuhi syarat untuk dipanggil manusia. Wajah ia si mantan bayangan kedua yang awal mulus tanpa cacat, kini ditutupi sebagian dengan besi raksasa berbentuk segitiga siku-siku. Asap hitam keperakan menyelubungi sosok serta ruangan seluas enam tatami, mengakibatkan apapun yang tersentuh menghasilkan karat berlebih meski benda tersebut bukan berdasar bahan logam; lemari, kaca, dinding, bahkan tubuh sang kawan pun tak luput dari terjangan. Di jari jemari—dulu penuh kapalan akibat mencengkram bola basket, namun tetap terlihat halus ketika memegang novel kesayangan—itu terkatupkan tombak bermata dua.

"Oh, maaf. Sepertinya aku memotong urat lehermu tak terlalu dalam."

Betapa Akashi mulai membenci suara tumpang tindih itu.

Manik abu-abu senada tertutupi oleh sclera kuning cerah dan hitam sebagai latar belakang yang masih tersisa dan tak tertutup penjara besi, menatap penuh jijik seakan ketua tim Vorpal Sword itu tak lebih dari kecoa yang pantas untuk dimusnahkan.

"Ada baiknya aku segera mengakhiri ini secepatnya." Makhluk itu bergumam, menimang nasib pemuda bersurai cherry terlalu mudah seolah tengah menjawab pertanyaan 'satu ditambah satu'nya anak SD. Akashi berjengit, bola kaca heterokrom bergetar hebat. Sementara tangan masih berusaha menahan cairan kental menyusup keluar (percuma, nantinya ia akan berpikir, hanya tinggal menghitung waktu saja) ia turun dari ranjang dan mencoba tuk kabur. Namun ketika kaki-kaki atletis yang biasa selalu membawa tim mereka pada kejuaraan itu jatuh tertekuk tanpa tenaga, ia tahu—

—bahwa ia tak bisa kabur lagi.

"Tapi tenang saja, Akashi-kun~" nada suara mencekam itu balik terdengar, menekan panggilan hormat juga akrab kawan masa SMA terlalu berlebihan sehingga terkesan menohok. Bayangan yang jatuh akibat lampu kamar meremang nampak amat mengerikan, amat menakutkan Akashi akui bulu kuduknya meninggi (karena ia sudah pasrah mengingatkan keabsolutan seorang Akashi. Tak pantas ia ayomi jikapun dirinya bahkan berkeringat dingin penuh horor). Dari pantulan lantai marmer abu-abu, ia bisa melihat naginata karatan itu terangkat ke udara, "begitu kau pergi, aku pasti akan menjaga perusahaanmu baik-baik. Ja."

"Sayonara."

SLASH

.


"Oh? Senang kau mau mengunjungiku, Akashi."


Lelaki itu melipat tangan di depan dada dalam kegelapan ruang mencekam. Bola kaca tak sama yang biasa memancarkan aura penuh kepercayaan diri kini tak ia miliki; penuh kecurigaan, penuh ketakutan meski diri sendiri tak mau mengakui, "jelaskan apa maksud semua mimpi itu—"

"Seijuuro?"

Cahaya muncul seketika, menyorot pemuda sejauh satu langkah kecil bagai artis terkenal sedang menyapa penggemar di bawah sorot lampu panggung. Sosok tersebut memiliki ciri khas serupa dengan si penanya—surai cherry dan manik heterokrom, yang satu ruby indah yang satu topaz gemerlap—seolah ia sedang bercermin. Itupun jika sosok yang dimaksud tidak sedang duduk menatap lantai sementara dirinya sendiri sedang berdiri. Juga jika pun tidak sedang memeriksa kuku bak gadis remaja ingin jalan-jalan.

Senyum memukau terulas di wajah juga mengalihkan. Ia menatap sang tuan rumah dengan kilatan penuh kenakalan, "nani, Akashi? Aku tak mengerti maksudmu." Akashi Seijuuro berucap, kekehan mengalir keluar dari bibir yang setengah terbuka, "ayolah, tak perlu sungkan. Aku tahu kau tahu."

Akashi Seijuuro mendengus tak puas.

"Kali ini lain. Sama sekali berbeda dengan mimpi yang biasa kau tunjukkan padaku." Akashi menggerutu, jari diselipkan pada helaian rambut, mencoba mengusir migraine yang nekat menghampiri, "kau kira ini semacam dongeng horror, begitu?! Hentikan keisengan ini!"

Begitu kalimat itu ia tuturkan, senyum seringai menghilang dari paras Seijuuro dalam sekejab mata, berganti dengan delikan tajam; mau tak mau Akashi harus terlonjak kaget.

"Aku tidak sedang mencoba untuk bermain-main denganmu." Baritone turun beberapa octave jauh begitu berbahaya, geraman terdengar bagaikan seekor singa, "kau sendiri tahu 'penglihatan' yang diberikan oleh Emperor Eyes tak pernah salah. Kau mengurungku disini, tak mengizinkanku untuk keluar lagi, begitu kau datang menjengukku dan ini yang kudapatkan? Dewasalah, Akashi!"

Akashi menundukkan wajah, tak ingin melihat kekesalan di manik serupa dengannya.

Seijuuro diam untuk beberapa saat sebelum menghela napas panjang. Ia berdiri, menyamankan satu tangan pada bahu kekar yang sama mereka miliki, "maaf. Aku tak bermaksud membentakmu. Penglihatan itu juga membuatku gusar, aku jadi bad mood."

Akashi mengulum bibir bawah dan mengangguk walau samar.

Seijuuro tersenyum tipis, melangkahkan kaki berotot menjauh sebelum kembali menyamankan diri di bongkahan hitam yang menjadi tempat duduk dadakan. Wajah halus tanpa bercak itu kembali berubah serius, jari ditautkan dan dagu dikatupkan, "jadi? Kau sudah tahu penyebab awal dari semua 'mimpi' buruk itu bukan?"

Akashi mengayunkan kepala sekali dan balik menatap dengan keseriusan seorang bermarga Akashi seperti sedia kala, "Wakame."

"Si babi gemuk sialan itu, ketika permintaannya tak dipenuhi ia memilih jalan pengecut seperti ini." Lagi, Seijuuro menggeram, tangan terkepal dijintu ke telapak satu dan gigi bergemelutuk kencang. Untung kali ini kemarahan itu tak ditujukan pada Akashi. Kalau tatapan mata bisa membunuh orang, mungkin korban dituju kan mati lebih dari satu kali (akhirnya Akashi tahu bagaimana perasaan lawan saat diberikan perhatian ekstra oleh bola kaca tak kembar miliknya). Ia menggelengkan kepala, tanda kecewa, "tua bangka itu seperti anak kecil yang merengek karena tak diberi permen, kekanakan sekali."

Kembali gelap tempat bernaung diselimuti keheningan; meski hitam legam yang melingkari kedua pemuda tak semengerikan sebelumnya, mungkin diam dengan aura menekan ini bisa sama menyesakkan. Akashi mengetuk jari pada lengan atas terlipat, sementara Seijuuro masih tenggelam dalam entah-apa-yang-ia-pikirkan. Tak ada yang berbicara, tak ada yang tahu sebenarnya apa yang ingin mereka ucapkan. Namun itu tak menggetirkan Akashi untuk mengutarakan pertanyaan yang kini tergiang-ngiang di otaknya bagaikan lebah marah.

"Apa yang harus kulakukan, Seijuuro?"

Yang ditanya mengernyitkan kedua alis menjadi satu, kelopak tertutup erat seolah tak menyetujui dengan apa yang nanti akan ia lakukan. Helaan menyusup keluar dari mulut itu, bola kaca bergetar dan menyiratkan penyesalan tiada habis.

"Yang bisa kulakukan...yang bisa kaulakukan hanyalah..."

.

.

Akashi pun terbangun.

.

.

"Tuan muda Seijuuro, ini espresso sesuai dengan permintaan tuan muda." Sebastian—butler terpercaya, butler yang selalu ada di sisinya (tapi ia tak akan bisa menolongmu dari kesulitan saat ini, suara kecil jauh di dalam lubuk hati bergumam)—meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja kaca tempatnya beristirahat sejenak guna menghilangkan penat sehabis kerja di kantor berjendela lebar. Pelayan pribadinya berdiri tegap, nampan bulat dipeluk sebelah tangan di atas dada, "ada lagi yang bisa kubantu?"

Akashi mengerjap, mencoba meyakinkan diri dengan benarkah apa yang ia lihat saat ini; kursi panas di balik meja besar penuh berkas menumpuik dan menjulang tinggi bak gunung fuji, gorden krem di baliknya, lukisan mahal yang dibeli di lelang internasional, tempat duduk santai dan meja sebagai kawan yang ia tempati detik ini—kantornya. Benar, ini kantor utama milik keluarga Akashi. Mulut masih menganga agak lebar, sebelum ia sadar bahwa lelaki berumur kepala dua sedang menunggu jawaban. Pemuda berparas tampan batuk sekali, mengayunkan satu tangan pertanda bisu bahwa ia sudah puas dan meneguk espresso favorit hingga setengah. Akashi berpikir sejenak, merasakan ukiran elegan pada cangkir keramik hadiah dari Midorima ("item keberuntunganmu hari ini. Bukan berarti aku peduli padamu, nanodayo". Pemuda tsundere itu berkata seraya menaikkan kacamata dengan satu jari), "kapan tuan Wakame akan datang kemari?"

"Lima menit lagi, tuan muda. Sekretaris dibawah sudah mengabari akan kedatangannya."

Akashi berdehem, "siapkan kopi untuknya, Sebastian. Kita tak boleh membuat tamu merasa tak diterima."

Sebastian membungkuk sebelum pergi.


"Kau akan menyesal menolak tawaranku, Akashi Seijuuro. Camkan itu. Kau akan menyesal!"

"Baiklah tuan...Wakame. Pintu keluar ada di sebelah sana. Anda boleh pergi sekarang. Dan—"

"—jangan pernah kembali kemari lagi."


Reo-nee

Ne…ne…besok kan hari pertama libur musim panas. Bagaimana kalau kita kumpul bareng? Rumahmu di Kyoto kosong kan, Sei-chan?

.

AkashiSeijuuro

Kalian ingin menginap disana? Tapi maafkan aku, Mibuchi. Pekerjaanku menumpuk sekali besok, beberapa harus dibawa ke rumah. Jadi aku tak bisa menghabiskan liburan bersama kalian.

.

Reo-nee

Eeehhh? Apa kau tidak bisa minta cuti untuk beberapa hari? O.O

.

AkashiSeijuuro

Aku tidak bisa, sungguh.

.

Reo-nee

Yaaah...ya sudah deh TAT

.

AkashiSeijuuro

Maaf ya.

.

Reo-nee

Tidak masalah, Sei-chan. Semoga pekerjaanmu cepat selesai y TwT

.

AkashiSeijuuro

Arigatou


Akashi mengurut pangkal hidung tuk menghilangkan pening dan mengerjapkan mata kering beberapa kali, "Sebastian, aku tahu permintaanku ini aneh tapi..."

"Dimana aku bisa menghubungi exorcist?"


Seraya jari mengapit bidak raja yang dibiarkan terangkat di atas papan shogi, Akashi menatap lekat kertas berkualitas mahal berukirkan tulisan jepang jaman dahulu berdempet-dempet di tangan lain; beberapa telah ia tempel di dinding belakang dan samping kanan kiri kecuali pintu oak sebagai satu-satunya jalan keluar masuk. Bukan seperti exorcist bualan dimana mereka menakuti demi mendapat kocek banyak dengan baju beraksesoris berlebihan dan ramalan-ramalan kematian, Sebastian menyarankan untuk pergi ke ahli psikiater yang, entah mengapa dan bagaimana, merangkap sebagai pengusir hantu; mungkin bagi orang yang mengalami pengalaman gaib nan aneh membuat mereka kehilangan akal sehat sehingga dia si exorcist bisa sekaligus menyembuhkan mental pasien dalam satu kali jalan. Mungkin, pasti begitu.

Tapi bukan berarti dirinya harus menyamakan Akashi dengan sekumpulan orang gangguan jiwa tersebut, oke? Ia baik, sungguh.

Seenggaknya untuk 'sosok-yang-bisa-melihat-masa-depan-karena-kelainan-mata', ia masih tergolong manusia normal. Akashi angkat bahu.

Lelaki dengan kemeja putih dan rambut digel kebelakang tersebut lebih mirip dengan bos perusahaan ternama dibandingkan dokter kejiwaan, jikalau di depan kantor praktiknya tak bertuliskan demikian. Kali awal Akashi masuk, dokter/exorcist/terserahlah itu terengah, mengatakan bahwa aura jahat kini sedang berusaha untuk menguasainya; sang pekerja ganda mengaku ia adalah salah satu dari mereka yang bisa 'melihat'.

Akashi tak percaya.

Akashi tak ingin percaya.

(Tapi Emperor Eyes tak pernah salah)

Malam tanpa bintang berawan gelap mulai datang berkunjung, membuat lampu jalanan menyala secara otomatis guna memberi pengendara mobil dan motor tambahan cahaya. Akashi bangkit dari kursi kayu di gudang bawah tanah kantor utama, meninggalkan shogi yang sekilas baru setengah selesai, tapi tidak.

Raja kawan telah berhadapan dengan Raja lawan.

Akashi menempelkan telinga dan mendengar suara-suara di luar; jarum jam yang terpasang di ujung lorong, hujan rintik-rintik yang mulai mengunjungi bumi, gemerisik pepohonan tinggi di halaman belakang kantor.

Desiran angin bagaikan puting beliung.

Dan bunyi seperti bebatuan demi bebatuan menghantam pintu setebal dua meter tanpa ampun.

Akashi menarik napas.

BRAK

Pintu menjeblak terbuka, kedua tangan otomatis melindungi indera rapuh seperti mata dan otak dengan kedua tangan menyilang; dirinya bisa merasakan lengan baju tersobek dan lecet timbul di kulit tanpa cacat sana-sini. Ia menunduk cepat, membiarkan entah-apa yang menghasilkan desir kencang terbang melintas sebelum ia berlari keluar ruangan, menutup pintu dan

PLAK

—menempelkan jimat tersisa pada pintu gudang.

BRAK BRAK BRAK

tepat pada waktunya karena apa yang di dalam sana kini sedang berusaha untuk keluar.

Akashi mundur dua langkah, napas ngos-ngosan dan diri dipenuhi adrenalin kencang. Paras putih itu makin memudar ketika jendela kecil di atas pintu memperlihatkan apa yang mengincarnya sedari tadi (beberapa hari lalu? Minggu lalu? Ia sudah tak bisa menghitung hari gegara mimpi yang terlalu nyata di masa lalu/depan itu).

.

"Mati kau, Akashi!"

.

"Kau akan menyesal, Akashi!"

.

"Tak ada yang boleh menentangku!"

.

"Tidak orang tuaku, tidak rekanku, juga tidak dirimu!"

.

"Mati, mati, mati!"

.

Huruf kanji bercampurkan hiragana dan katakana yang merangkai kalimat-kalimat kutukan, berkumpul jadi satu dan membentuk bongkahan hitam, itulah yang berhasil ia tangkap dalam memori ingatan. Di tengah-tengah terdapat dua pasang mata besar, memberikan kesan bahwa angin puting beliung mungil namun berbahaya yang seharusnya benda mati tersebut juga tergolong makhluk hidup, memiliki mana bagian depan dan mana bagian belakang. Beberapa huruf terangkat diudara, sebelum menghantam keras pintu yang telah terlindungi jimat sehingga usaha tuk keluar tak berhasil. Namun bukan berarti makhluk itu menyerah.

Karena detik berikutnya rangkaian demi rangkaian kata menghujam pintu dengan tempo cepat tak pandang bulu.

Pemuda setinggi 163 centi itu (mau bagaimanapun, Akashi di kala dulu masih remaja dalam masa pertumbuhan. Wajar saja tinggi diri naik walau hanya lima senti) tersentak tiap kali gedoran menghantam gendang telinga, sebelum tak lama ia jatuh merosot di dinding marmer bercat toska. Akashi...lelah.

Sangat lelah.

.

"Percuma kau memberikan jawaban berbeda pada tawaran Wakame brengsek itu. Meskipun kau terima pun, suatu hari nanti ia tetap akan 'mengutukmu' jika kinerja kerja dari perusahaanmukitatak sesuai harapan." Seijuuro berujar di kala itu.

"Lalu? Apa yang harus kulakukan?!" Akashi terdengar sangat putus asa.

.

"Oh, ya Tuhan..." Akashi menangkupkan wajah pada telapak tangan.

BRAK BRAK BRAK

.

Seijuuro bersandar pada dinding tak kasat mata di ruang gelap tanpa penghuni, menutup bola kaca ruby dengan tiga jari dan 'menyaksikan' semua kejadian mencekam dialami persona diri lain lewat manik topaz dimana sama-sama mereka miliki.

.

"Yang bisa kulakukan hanyalah 'membangunkanmu' di hari awal akar semua masalah ini bermula." Seijuuro melanjutkan.

.

BRAKBRAKBRAKBRAKBRAK

"Mati, mati, MATIII!"

.

"Dan berharap semoga semua ini akan segera berakhir."

.

"Tidak bisa, Seijuuro. Percuma." Akashi mendekap kaki yang terlipat dan menenggelamkan wajah pada lekukan lutut, meringkuk begitu dalam bagaikan anak kecil kesepian yang butuh kasih sayang, "aku harus apa?"

"Aku harus melakukan apa untuk menghentikan semua mimpi buruk ini?"

.

.

.

"Maaf, Akashi." Seijuuro mencengkeram tangan amat kencang, kulit berubah pucat. Gigi mengatup bibir kuat, membuat cairan merah merembes keluar, "aku tak bisa menolongmu kali ini..."

.

.

Dentuman pintu dan isak tangis memilukan memenuhi malam musim panas pertama di kota Kyoto.


END


(A/N):

Daripada horror, saya merasa kisah kali ini lbh ke fantasy deh lol.

Dan maafkan daku kalau kurang detail! Writer block, I hate you! TAT

Mungkin Akashi terkesan OOC. Tp yaah...sebenernya Akashi itu rapuh kan? Sampai2 gegara ibunya meninggal, kepribadiannya keluar? Jd menurut saya pantas aja dia mau nangis kalo tau bakalan dihantui terus kaya gini seumur idup TwT

Sosok hantu Mayuzumi itu saya ambil dari game. Tapi lupa game apa hehe :p

Kisah kali ini diambil dari mimpi saya waktu itu; mimpi yang beneran berulang-ulang kaya gini, tapi g horror. Waktu itu saya sedang tidur siang, lalu kebangun jam 2, mendapati keluarga saudara berkunjung ke rumah sambil membawa oleh-oleh dan sedang berkumpul dengan ortu dan adik saya. Kami pun mengobrol panjang sebelum akhirnya saya terbangun dan sadar, kalo itu cuma mimpi. Jam 2 siang, pas saya keluar kamar ternyata keluarga saudara sedang berkunjung tapi adik saya tidak ada. Tak lama kemudian dia pun pulang dan kami mengobrol ria sebelum akhirnya saya terbangun dan menyadari kalau itu cuma mimpi, lagi.

Pokoknya begitu terus sampai empat kali—dengan perbedaan dikit dimana adik saya pulang bersamaan dengan keluarga saudara datang atau ortu lagi mengobrol bareng tetangga diluar sebelum pulang karena keluarga saudara datang berkunjung—sebelum akhirnya saya sadar, kalo sebenarnya saya 'terjebak' di dunia 'mimpi' dan saya tak bisa keluar!

Saya pun menangis (dalam mimpi) dan berkata ingin kembali ke dunia 'nyata'. Adik saya menyarankan untuk menutup mata dan berharap semua kembali normal tapi gagal. Lalu saudara saya pun berkata "mungkin kak harus berada pada kondisi terakhir kk tidur."

Lalu saya pun pergi ke kamar (masih di dalam mimpi), menutup satu dari dua gorden dan menghidupkan kipas angin sebelum 'tidur' sambil meluk guling. Detik berikutnya, saya pun bangun, dan jam menunjukkan (masih!) jam 2 siang. Pas saya keluar dari kamar dan melihat ga ada siapa2 di ruang tengah, saya menghela napas dan tau kalo saya akhirnya pun 'terbangun'

Biasa aja sih. Tapi yang bikin saya takut tuh, besok harinya keluarga saudara kami beneran datang! o.O

Saya sampe harus ngucek mata dan mencubit pipi berkali-kali tuk memastikan kalo saya g terjebak dalam 'mimpi' lagi.

Jgn2 saya punya kemampuan meramal seperti Akashi?/ ga mungkin :p

Terus hantu kalimat di bagian akhir itu juga dari mimpi saya. Agak mirip dengan Akashi, mimpi saya mengatakan bahwa akan muncul hantu jahat di pintu belakang rumah. Begitu saya 'bangun' (tapi sebenernya masih di dalam mimpi) saya langsung lari dan mengunci pintu belakamg, tepat sebelum hantu itu berhasil masuk.

Oh, trus buat pertanyaan shiko-chan mengenai episode 75.5 dan fandisck, maaf saya juga g tau bisa download dimana. Saya g sengaja liat di wall fb itupun karena temen saya yang share. Saya sebenernya udah g ngikutin KnB lg, gegara udah baca manganya sampai abis walaupun langsung loncat ke Seirin melawan Rakuzone jd saya males nnton animenya soalnya udah tau ceritanya #yaha

Gitu deh. Wew...sepertinya ini (A/N) terpanjang selain (A/N) chap 'Di Antara Gedung' o.O

Oh well...ATTENTION! Kayaknya ini fic bakalan selesai satu atau dua chap lagi/ YES!

Sampai jumpa di chapter berikutnya! Eyvallah~

Don't forget to leave your review

Best regards

Akabane Kazama