Hei.. its have been long.. berharap masih ada yang menantikan fanfic ini. Maaf atas keterlambatan untuk publish. Entahlah gairah menulisnya sedang down banget belakangan ini..
Makasih buat yang udah review, itu adalah semangat terbesar bagi saya untuk melanjutkan fiksi ini.
So.. enjoy it...
Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : Naruto x Hinata
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 12
"Apa maksudmu Lee..?" Neji berkilat marah
"uh..Ne-neji... mak-maksudku.. jika Sasuke bukan ayah dari bayi yang di kandung Sakura dan Naruto tidak mengaku sebagai ayahnya juga. Be-berarti anak itu adalah anakku" Lee mulai berkeringat dingin
"jadi.. maksudmu kau ingin membela pria bodoh ini, pria yang seharusnya bertanggung jawab begitu?" Neji yang biasanya jenius menjadi sedikit lemot
"aku sudah bilang aku bukan ayah dari bayi Sakura, kenapa jadi aku yang harus bertanggung jawab. Hei aku bahkan belum pernah melakukan itu dengan Sakura. satu-satunya wanita yang pernah tidur denganku adalah istriku Hinata. harus berapa kali sih aku mengatakan itu padamu Neji" Naruto menyela
"berisik Naruto.. sekarang bukan waktunya kau yang bicara. Aku ingin mendengar penjelasan dari Lee. Di bayar berapa dia sampai mau membelamu" bentak Neji
Huh.. Naruto hanya memutar mata bosan. Menjelaskan sesuatu pada Neji Hyuga yang sedang marah memang seperti pribahasa bakar air hendakan abu.. mustahil bisa di laksanakan. Sudahlah dia punya hal lebih penting yang harus di lakukan. Menemui istrinya. Dia akan berurusan dengan 2 orang di hadapannya itu, setelah dirinya tenang melihat keadaan Hinata.
Naruto menyelinap menjauh dari dua orang yang sedang beradu argumen. sebenarnya dari segi manapun tak bisa di anggap sedang berargumen.. Lihatlah Lee yang terus-terusan pasrah mendengar bentakan Neji yang suaranya saja terdengar sampai lantai 1, belum matanya yang melotot sampai- sampai urat di sekeliling matanya terlihat menonjol.. Begitulah jika orang sedang marah. Tidak main logika mainnya emosi.
.
.
.
.
Tenten keluar dari lift, membawa beberapa bungkus makanan dan beberapa kaleng minuman. Sepulangnya dari luar kota menemani Neji sang atasan dia mendapat kabar bahwa Hinata masuk rumah sakit. Neji yang saat itu baru saja beberapa menit mendarat langsung pergi menuju Rumah Sakit. Pria itu memang selalu sigap jika mengenai keluarganya. Berbeda dengan pembawaanya yang selalu terkontrol dan terkesan menyembunyikan semua perasaannya di balik wajahnya yang keras, Neji akan berubah menjadi pribadi yang bisa menampakan berbagai emosi jika sudah berurusan dengan keluarganya terutama sang adik Hinata dan Hanabi.
Sebenarnya dari dulu Tenten sudah jatuh cinta pada pemuda itu. Mereka satu SMA dan satu Universitas walaupun dengan jurusan yang berbeda. Neji di Fakultas Hukum sementara dirinya di Fakultas Ekonomi bidang kesekretariatan dan administrasi. Sekarang pun mereka bekerja di kantor yang sama. Tepatnya dirinya yang bekerja di bawah pimpinan Neji, menjadi sekretaris dari pria itu.
Sekian tahun bersama pria stoik itu, cinatanya tak pernah terhapus meskipun sepertinya sang pria idaman tak menyadari perasaan yang di milikinya. Wajar saja, pria itu tidak terlalu percaya dengan hal-hal berbau romansa. Neji selalu berfikir menggunakan logika bukan dengan emosi yang melibatkan perasaan jika bukan menyangkut keluarganya. Hah.. Tenten menghela nafas panjang. Mencoba menghilangkan fikirannya tentang si pria Hyuga.
"apa maksudmu Lee..!" Tenten mendengar suara keras Neji sedang membentak Lee.. di susul dengan suara Lee yang sedikit terbata. Tenten memperjelas pandangannya, di ujung lorong Neji, Lee dan.. Naruto? kenapa anak itu berada di sini? Lalu ada apa dengan mereka berbicara cukup jauh dari ruangan Hinata. tenten memutuskan menghampiri mereka bertepatan dengan Naruto yang menjauh dari Lee dan Neji.
"hei.. ada apa dengan kalian? Neji kenapa kau memarahi Lee?" Tenten bertanya sesaat dia sampai di hadapan dua sahabatnya.
Neji dan Lee melirik ke arah Tenten sekilas kemudian melanjutkan argumen mereka.
"Neji.. dengar dulu. aku akan menjelaskan semuanya tapi kau harus diam" Lee berusaha menenangkan Neji
"baiklah jelaskan! Tapi jika penjelasanmu tidak masuk akal. Kau akan tahu akibatnya Lee" ujar Neji datar membuat Lee sedikit berkeringat
"ada apa sih dengan kalian?" tanya Tenten lagi merasa di cuekan.
"biarkan aku bercerita Tenten, nanti kau pasti akan mengerti" jawab Lee, Tenten hanya mengangguk pasrah.
"jadi begini Neji.. kau masih ingat ceritaku beberapa hari yang lalu?" tanya Lee, mempertanyakan ingatan Neji mengenai ceritanya.
"maksudmu saat kau baru pulang dari persembunyianmu?" tanya Neji sarkatis. Lee hanya mengangguk dan Tenten menatap bingung. Dia merasa tertinggal oleh dua sahabatnya. Tapi untuk sementara dia akan diam dan mendengarkan seperti apa kata Lee.
"lalu apa hubungannya dengan Sakura.." lanjut Neji tapi dia langsung menghubungkan semuanya. Pertemuan terakhir mereka sebelum Lee memutuskan untuk bersembunyi. Jika tidak salah malam itu, malam di mana mereka merayakan kemenangan kasus yang di tangani Lee di sebuah bar. Mereka melihat Sasuke meninggalkan Sakura yang menangis, kemudian wanita malang itu mengahmpiri bar. Neji memutuskan untuk pulang saat itu, karena besok paginya dia ada urusan sementara Lee, tetap berada disana. Jangan-jangan..
"Lee jangan bilang..?"
"Ya... aku tidak akan mengelak Neji. Wanita itu Sakura. Sakura Haruno, wanita yang sudah lama aku cintai dan masih aku cintai sampai saat ini" potong Lee.
Tenten menatap Lee tak percaya. Dia tidak tahu kalau Lee selama ini menyukai Sakura. Tidak ..Tenten tahu, dulu memang saat mereka masih SMA, Lee pernah menyatakan cinta pada wanita bersurai pink itu. namun cintanya di tolak mentah-mentah di depan semua orang. Tenten kira Lee sudah tak mencintai wanita itu lagi setelah di permalukan di depan umum. Tapi tak disangka cintanya masih tetap bertahan sampai sekarang. Tapi apa hubungan semua ini dengan cinta Lee pada Sakura? hah.. dia semakin pusing jika lama-lama tetap diam.
"Ya Tuhan Lee.. Neji. Apa sebenarnya yang kalian bicarakan. Sumpah aku pusing jika harus menebak-nebak dan aku bukan seorang mind reader yang bisa mengetahui isi kepala kalian tanpa kalian bicara. Jadi sebaiknya kalian jelaskan sekarang juga padaku apa yang kalain sembunyikan dari ku!" Tenten mengungkapkan semua kekesalannya, membuat wajahnya memerah menahan amarah. Lee dan Neji langsung diam mendengar kemarahan Tenten.
"ugh.. Tenten jangan ribut disini kau tidak tahu ini rumah sakit" Neji berusaha meredam kemarahan Tenten
"diam kau Neji Hyuga, kau tidak saadar dari tadi kau berteriak-teriak di rumah sakit ini" Tenten menyembur ke arah Neji "Jangan mencari alasan Lee.. jelaskan sekarang atau kau akan merasakan ketajaman beberapa senjata kesayanganku" ancam Tenten saat melihat Lee hendak menghindar.
Neji mengajak dua sahabatnya memasuki sebuah ruangan.
"huft.. begini Tenten..." Neji mulai menceritakan semua kejadian menyangkut adiknya, Naruto, Sakura. kemudian cerita di lanjutkan oleh Lee, tentang perbuatan yang di lakukannya malam itu. Tenten mendengarkan dengan baik, tanpa menyela ucapan Neji.
"bisa saja anak itu memang anak Sasuke, Neji" ujar Tenten setelah mendengar cerita Neji dan Lee.
Mereka sekarang sedang berada dalam sebuah ruangan, tidak lagi di koridor seperti tadi. Walaupun tidak tahu ini ruagan apa tapi setidaknya di sini mereka bisa berbicara dengan sedikit nyaman, tanpa mengundang perhatian orang lain. Walaupun memang di koridor lantai 4 cukup sepi dari lalu lalang pengunjung atau pasien mengingat lantai itu termasuk lantai yang di khususkan untuk pasien kelas atas.
"tidak, itu tidak mungkin anak Sasuke. Itachi secara langsung sudah mengatakannya padaku. Itu kenapa aku mengira anak itu adalah anak Naruto, apalagi Hanabi bilang bahwa Naruto mengakuinya pada Kiba" Neji menjelaskan
"lalu menghajarnya tanpa bertanya terlebih dahulu?" tanya Tenten kemudian. Neji hanya menganggukan kepalanya. Dia sedikit menyesal telah memukul Naruto tanpa bertanya dulu pada pria itu. tapi tentu saja dia tidak mau mengakui hal itu dengan terang-terangan.
"berarti ini hanya miskomunikasi. Lalu Lee, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Tenten pada sahabat yang sedang tenggelam dalam lamunan.
"aku tidak tahu Tenten" jawab Lee lemah, tidak seperti biasanya
"apa maksudmu dengan tidak tahu bodoh? Kau sudah menghamili seorang wanita dan berkata tidak tahu dengan begitu entengnya. Kau tidak berfikir bagaimana keadaan Sakura. apalagi kau meninggalkan nya setelah kau menikmati tubuhnya." Ujar Tenten marah pada Lee. Dia memang tidak terlalu dekat dengan Sakura, lagian mereka berbeda angkatan pula.
"Ma-maksudku bukan begitu Ten. Aku tentu akan bertanggung jawab, tapi aku tidak yakin Sakura akan menerima kehadiranku. Bahkan mungkin dia akan langsung menggugurkan kandungannya jika tahu yang dia kandung adalah anakku. Sakura dari dulu tak pernah menyukaiku" Lee menundukan kepalanya pasrah
"oh Lee.. kau tidak boleh putus asa begitu, apalagi sekarang ada anakmu yang harus lebih kau perjuangkan. Keluarkan semangat masa mudamu!" ujar Tenten menyemangati
"Tenten.."
"Lee..."
Neji hanya menggelengkan kepala melihat dua sahabatnya saling berpelukan dengan gaya yang terlalu berlebihan.
.
.
.
.
Naruto berhenti sebentar di depan pintu ruang rawat Hinata, dia mendengar suara seseorang sedang mengajak Hinata mengobrol. Sepertinya seorang pria dan dia mengenal suara pria tersebut, namun belum yakin siapa. Akhirnya karena penasaran dia membuka pelan pintu di depannya dengan hati-hati, oh ternyata pria itu Kiba Inuzuka, si maniak anjing.
Kiba dan Hinata yang merasakan kedatangan seseorang ke dalam ruangan yang sedang mereka tempati langsung melirik ke araha pintu dan melihat Naruto. Hinata langsung memalingkan muka, sementara Kiba menekuk alis heran.
"Naruto.. sedang apa kau disini?" tanya Kiba penasaran. Seingat dia Naruto bukannya tinggal di Tokyo. Kenapa dia berada di Konoha sekarang.
"tentu saja untuk menengok istriku yang sedang sakit?" jawab Naruto menghampiri Kiba dan Hinata. dia sepertinya menyadari sikap Hinata yang sedikit menghindarinya, istrinya tersebut terus memalingkan muka tak mau melihatnya.
"istrimu? Maksudmu Sakura? di sini bukan ruangan Sakura Naruto. lagi pula aku tidak tahu kalau istrimu itu di rawat disini"
"Sakura?" tanya Naruto bingung menatap Kiba kemudian Hinata yang masih tdak mau melihatnya
"ya.. Sakura. dia kan istrimu. Kau lupa bahwa 3 hari yang lalu kita bertemu di Tokyo. Kau sedang bersama dengan Sakura waktu itu, lalu kita mengobrol. Kau mengatakan kau sudah menikah dengan Sakura. Jangan-jangan kau lupa lagi siapa istrimu. Kau keterlaluan sekali, sudah menyakiti sahabatku dengan memilih Sakura, dan sekarang kau melupakan istrimu yang sedang hamil itu" Kiba menggeleng-gelengkan kepalanya
Apa maksudmu Kiba?" Naruto semakin bingung
"hah lihatlah Hinata, untung sekali kau tidak menikah dengan pria bodoh ini. Kalau kau menikah dengannya pasti kau akan di lupakan seperti dia melupakan istrinya" ujar Kiba sambil mengalihkan pandangannya pada Hinata. dia heran melihat sahabatnya itu yang memalingkan muka " Hinata.. kau kenapa? Hei kau menangis... sudahlah, aku kan sudah bilang lupakan pria bodoh ini. Masih banyak laki-laki yang mengantri untuk bisa bersamamu" lanjut Kiba saat melihat Hinata sudah mengalirkan air mata.
Naruto masih mencerna setiap perkataan Kiba dan sikap Hinata yang berubah. Mulai menghubungkan ketidak adaan pesan dari istrinya sejak kemarin sore, kemarahan Neji dan sikap sang istri yang tak ingin melihatnya saat ini. Lalu... Shit!
"Kiba Inuzuka... sebaiknya kau jelaskan apa yang sudah kau katakan pada istriku sekarang juga, sebelum aku mencincang-cincang tubuhmu dan menjadikannya makanan untuk anjing-anjing jalanan!" Naruto mengancam setelah dia mulai paham apa yang terjadi
"istrimu? Apa yang harus aku katakan pada Sakura?" Kiba masih belum paham
"istriku bukan Sakura bodoh..!" Naruto mulai geram
'kau jangan bercanda Naruto. apa kau lupa kita bertemu di rumah sakit, kau sedang mengantar Sakura untuk cek up ke dokter kandungan"
"aku hanya mengantarnya Kiba, tapi dia bukan istriku. Dengarkan aku dulu sebelum kau berfikir yang macam-macam. Sakura memang hamil tapi bukan olehku. OK" Naruto menjelaskan ketika melihat raut menyelidik yang Kiba lontarkan padanya. "istriku adalah Hinata Namikaze, wanita yang sekarang sedang ada disini terbaring karena ucapanmu yang sembarangan" lanjutnya emosi
"ap-apa! Kau pasti sedang bercanda Naruto.. hei ini bukan april moop dan tidak baik bergurai mengenai seseorang yang sedang sakit." Ujar Kiba
"aku serius dan tidak sedang bercanda, seseriuis nasibmu yang sedang di ujung tanduk jika kau tidak menutup mulut bodohmu itu" ancam Naruto
"oh bro.. ayolah tidak usah seperti itu. lagipula ini semua bukan sepenuhnya salahku juga kan? Kau jelas-jelas tidak memberikan kabar tentang pernikahanmu dengan Hinata, lalu tiba-tiba aku bertemu denganmu yang sedang mengantar Sakura memeriksa kehamilannya pada dokter kandungan" Kiba mulai sedikit takut melihat raut wajah Naruto yang benar-benar sedang marah
"jadi menurutmu semua ini adalah salahku?"
"ya tidak begitu juga sih" Kiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Jelas dia kebingungan apalagi melihat kemarahan pria yang biasanya tersenyum ramah di hadapannya.
"sudah sebaiknya kau keluar Kiba, aku ingin berbicara dengan Hinata."
"tapi Naruto.."
"keluar Kiba Inuzuka!"
"hah.. baiklah. Hei Hinata.. maafkan aku, sumpah aku sama sekali tidak tahu kalu kau adalah istri Naruto" ujar Kiba mencoba meminta maaf pada sahabatnya yang masih membalikan badan membelakangi, enggan bertetapan dengan nya dan Naruto. "ya sudah aku keluar. Aku akan datang lagi kesini nanti" ujar Kiba akhirnya dan dia berlalu keluar dari ruang rawat Hinata.
Naruto menatap punggung istrinya yang masih tetap diam setelah Kiba keluar. Dia memutuskan untuk menaiki ranjang rawat Hinata dan membaringkan tubuhnya di belakang tubuh sang istri. Pria bersurai kuning itu memeluk tubuh Hinata dari belakang. Menyalurkan rasa sayangnya pada sang wanita.
"hei princess.. kau tahu rasanya aku lelah sekali. Bayangkan aku hanya di berikan waktu kurang dari 5 jam untuk sampai kesini oleh si sadako. Dan kau tahu sesampainya di sini bukannya memberikan pelukan hangat pada adik iparnya yang tertampan ini, dia malah memukulku. Wajahku sakit sekali, sepertinya memarnya gak akan sembuh dalam waktu seminggu" Naruto mencoba mencari perhatian Hinata. Biasanya wanita yang sekarang tetap tidak bergeming di pelukannya ini akan luluh jika mendengar dirinya sedang nelangsa. Tapi sepertinya hari ini hal itu tak terjadi.
"sayang.. kau marah padaku? Kau sudah dengar sendiri kan tadi kalau Kiba hanya salah faham." lanjut Naruto.
"Naru apakah kau adalah ayah dari bayi yang di kandung Sakura?" tanya Hinata dengan suara tertahan masih dalam posisi membelakangi Naruto. dia sudah menghapus air matanya.
Naruto sedikit tersentak dengan pertanyaan yang di lontarkan istrinya itu. Dia langsung membalikan tubuh Hinata agar menghadapnya tak peduli Hinata yang tersentak kaget.
"bagaimana bisa kau melontarkan pertanyaan seperti itu pada suamimu, Hinata?" tanyanya dengan amarah yang di tahan. Naruto bangun dari possi tidurnya diikuti oleh Hinata.
"um itu.. seseorang mengatakan padaku bahwa sepertinya Naru adalah ayah dari bayi yang di kandung Sakura" Hinata menjawab sedikit takut. Dia merutuki mulutnya yang reflek tadi sehingga melontarkan pertanyaan yang sepertinya membuat Naruto marah. Tapi dia juga penasaran dengan kebenaran itu
"pasti Kiba kan yang mengatakan hal itu padamu Hinata?" tanya Naruto curiga
"bu-bukan... Kiba tidak mengatakan hal seperti itu padaku" jawab Hinata sedikit gugup
"kau jangan membelanya" ancam Naruto..
"aku tidak membelanya." Hinta diam sebentar "Naru.. jika aku mengatakan sesuatu padamu, apa kau akan percaya padaku?" tanya Hinata, dia menggenggam tangan suaminya itu.
"apa maksudmu bodoh" ujar Naruto sambil memencet hidung Hinata "tentu saja aku percaya, kau itu istriku" lanjutnya kemudian mencium telapak tangan sang istri.
Hinata tersenyum. Inilah saat yang tepat mengatakan pada Naruto tentang kehamilan Sakura dan fakta-fakta yang di temukan diriya dan Karin.
"ekhem..begini Naru" Hinata mula membuka pembicaraan " sebenarnya bayi yang di kandung oleh Sakura itu bukanlah anak Sasuke" lanjutnya melihat lurus ke arah wajah Naruto
"Oh.." Naruto menjawab. Hinata mengernyit heran dengan sikap yang di tunjukan Naruto. dia tidak terlihat kaget saat mendengar perkataan Hinata.
"jadi karena itu kau mengira aku adalah ayah dari bayi itu?" Naruto bertanya santai.
"kau kelihatannya sudah tahu hal ini. Jadi apakah itu benar Naru? A-aku hanya ingin tahu dan..dan seandainya kau benar-benar ay.."
"hentikan Hinata sudah kubilang apapun yang Kiba katakan jangan kau percaya" potong Naruto sebelum Hinata melanjutkan ucapannya
"ta-tapi..."
"dengar kan aku sayang. Aku memang mencintai Sakura, bahkan saat aku menikah denganmu aku masih merasakan perasaan itu terhadap Sakura" Naruto berhenti sebentar mengamati wajah istrinya. Terlihat mata Hinatanya yang mulai tidak mau memandangnya dan berkaca-kaca mendengar pernyataannya tadi.
Hinata langsung tersentak mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Naruto. dia sudah tahu akhirnya pasti akan seperti ini. Matanya mulai berkaca-kaca, dia harus menghindar dari pandangan menyelidik pria di depannya. Hinata hendak menundukan kepalanya, saat tangan hangat dan besar milik Naruto menangkup kedua sisi wajahnya.
"hei.. aku belum selesai bicara princess dan aku tak suka jika lawan bicaraku tidak melihat ke arahku" ujar Naruto sambil mengelus lembut pipi Hinata sementara sebelah tangannya dia gunakan untuk menggenggam tangan istrinya yang terkepal. Naruto tahu Hinata pasti sedang menahan tangis. Tapi dia harus menjelaskan ini, agar Hinata mengerti dan tak meragukannya lagi.
"seperti yang sudah aku katakan tadi aku memang mencintai Sakura. Namun sebesar apapun rasa cintaku padanya dia bukanlah wanita yang halal untukku. Kau boleh mengejekku bahwa aku adalah pria yang kolot, tapi itulah prinsip hidupku Hinata. aku tidak akan menyentuh seorang wanita jika wanita itu bukan di takdirkan untukku. Aku hanya akan berhubungan dengan wanita yang menikah denganku, dan kau adalah satu-satunya wanita yang aku ikat dalam janji sakral di hadapan tuhan" Ujar Naruto berhenti sejenak
"jadi... wanita yang mengandung anakku hanya satu-satunya di dunia ini, dia adalah wanita tercantik di seluruh muka bumi ini yaitu Hinata Namikaze." Lanjut Naruto kemudian mengecup kening Hinata lalu membawawa tubuh istrinya itu ke dalam pelikan.
Mereka sama-sama terdiam dalam posisi itu.
"Na-naru.. apa.. apa kau masih mencintai Sakura?" Hinata mendorong pelan tubuh Naruto yang memeluknya
Naruto membungkukkan tubuhnya agar kepalanya sejajar dengan perut Hinata
"hei baby.. lihatlah mommy mu masih saja ragu pada daddy.. padahal daddy sudah mengungkapkan jutaan kali kalau sekarang daddy hanya mencintainya dan dirimu saja" Naruto curhat pada perut Hinata kemudian mengecup perut istrinya itu. dia mendongak kembali ke posisi awal, berhadapan dengan Hinata
"sayang.. bukankah sudah aku katakan bahwa aku hanya mencintaimu saja, kauu masih ragu pada ucapankku?" Naruto sedikit marah pada Hinata
"ta-tapi tadi Naru mengatakan bahwa, kau mencintai Sakura bahkan saat kita menikah?" tanya Hinata ragu, dia tadi tidak salah dengar kan?
"ya.. itu memang benar, tapi sayang... setelah kita menikah dan aku semakin dekat denganmu. Hatiku mulai berpaling padamu, aku jadi sangat mencintaimu, bahkan perasaan cintaku padamu lebih dalam dari perasaan yang pernah aku rasakan pada Sakura. hah malah paman Iruka bilang bahwa jauh sebelum kita menikah aku sudah mencintaimu. Jadi kau tidak usah khawatir hatiku saat ini ada dalam genggamanmu sepenuhnya" ujar Naruto meyakinkan
Mendengar ucapan suaminya Hinata tidak tahan untuk tidak menangis dia mengalungkan tangannya di leher Naruto kemudian memeluk suaminya itu dengan erat, dia menangis di dada Naruto, mengeluarkan seluruh kekhawatirannya selama ini. Sekarang dia sudah yakin bahwa Naruto hanya mencintainya saja. Dia tahu Naruto tidak mungkin berbohong mengenai ucapannya itu.
hope you like it.. jangan lupa review yang membangunnya ya..
