"Sas, tunggu... Nngh! Wa..!"
"Ini akan lama kalau kau tidak diam." Geram Sasuke. Ia menarik Naruto dari dinding dan menghempaskannya ke atas sofa mewah merah di dekat mereka sebelum ia kembali merunduk ke area tubuh bagian bawah si pirang dengan rusuh.
"Sas! Agh...,"
Naruto sudah memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak terpancing ketika Sasuke masuk ke dalam ruangannya lima belas menit yang lalu. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk tidak menuruti sugestinya tiap kali tatapan mereka bertemu?
Padahal tadi Sasuke hanya mengecupnya ringan ketika ia datang. Bagaimana bisa mereka malah berakhir seperti ini?
Bercumbu di dalam kamar mandi pribadi miliknya di jam kerja!
Bagaimana kalau sampai ada yang masuk?
"Sas, hnnggh...hen...tikan...Sai punya kunci ruanganku." Keluhnya disela-sela gerakan abstrak rumbai hitam di selangkangannya.
Tidak ada respon dari si penyerang. Naruto justru langsung diserbu suara seruput basah nyaring yang terdengar amat cabul ketika Sasuke menyesap 'aset' miliknya.
"NNNGHH―AH!"
.
.
.
"Kau yakin dia ada di dalam?"
"Lebih dari yakin."
Shikamaru bergeming. Niat awal sebenarnya adalah untuk tidak ingin terlalu mencolok di depan asisten Naruto ini, tapi tentu saja bersedekap tangan sembari berdiri tepat di tengah-tengah arah pintu masuk ruangan Naruto terlihat terlalu mencurigakan bagi si kulit salju...dan semua mata di lantai itu.
Sementara Shikamaru berusaha memasang wajah senormal mungkin, seolah berdiri di tengah-tengah jalan adalah hal terlumrah sejagat Jepang, Sai sendiri sudah melunturkan senyum palsu andalannya sejak semenit yang lalu, benar-benar tidak dalam mood siap meladeni tingkah bodoh pria Nara itu.
Siapa coba yang bisa ia bodohi dengan cara ini? Ia pikir ini taman kanak-kanak?
Ia ada perlu dengan Naruto dan harus masuk ke ruangan bosnya segera, tapi sejak lima menit yang lalu, Shikamaru seolah menjadi batu dan jelas-jelas terlihat pura-pura jika ia tidak mengerti bahwa ia tengah menghalangi jalan.
"Shikamaru-san." Panggil Sai, "Aku perlu mas―"
"Aku kan sudah tanya, memangnya kau yakin Naruto ada di dalam?"
"Kau lupa kalau aku asistennya?"
"Tidak."
"Lupa kalau aku yang mengatur jadwalnya?"
"Hm...entahlah. Bisa jadi Naruto sedang makan siang."
"Ini jam 9 pagi, Shikamaru-san. Naruto-san sudah sarapan sebelum ke kantor. Aku yang memastikannya sendiri."
"Oh, kau sarapan bersama Naruto?"
Sai tidak menjawab. Ia benar-benar kesal sekarang.
"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?" Ia menoleh pada Juugo yang berdiri tepat di belakang, "Siapa di dalam sana, Juugo?"
Sebelum pria besar berwajah masam itu membuka mulut, Shikamaru buru-buru berbalik, meneror Juugo dengan pelototan tajam untuk bungkam.
Merasa bingung apakah ia harus menjawab pertanyaan Asisten bosnya ataukah menuruti si Vice President yang juga sekaligus sahabat dekat bosnya itu, Juugo akhirnya memilih berdehem lalu mengangkat dagu. Memberi sikap bahwa ia tidak punya hak untuk menjawab pertanyaan siapapun. Tugasnya adalah menjadi tameng fisik Uzumaki Naruto, bukan menjawab pertanyaan.
"Cih!"
Sejujurnya baru kali ini Shikamaru mendengar si putih berdarah dingin di depannya ini berdecak. Tanda bahwa Sai benar-benar diujung tanduk kesabarannya. Tapi itu tidak cukup untuk membuatnya beranjak.
Sai langsung berbalik badan. Memelototi semua pegawai yang seketika itu juga menciut ke dalam kubik mereka masing-masing.
"Siapapun dari kalian. Apa kalian melihat seseorang masuk ke dalam ruangan Tuan Naruto?" Teriaknya.
Seperti halnya tengah menonton pertandingan bulu tangkis gerak lambat, seluruh staff menyambut teriakan Asisten CEO mereka barusan dengan berbalik serempak ke arah Shikamaru yang memandang mereka beku lalu kembali menatap wajah Sai yang tidak kalah tegas. Mulut mereka terkunci rapat-rapat. Berkutat dalam hati akan siapa yang harus mereka patuhi.
Namun sebelum keheningan itu terlalu lama meremangi buluk kuduk mereka, suara decitan pintu oak berat kantor Naruto akhirnya melengking. Menjawab pertanyaan Sai sekaligus menyelamatkan seluruh pegawai di lantai itu dari masa depan yang kelam.
"Selesai pukul empat sore." ujar Sasuke, dari arah daun pintu yang terbuka, lebih riang dari biasanya.
"Ya. Empat. Oke." Sahut Naruto dari dalam, lebih lelah dari seharusnya.
Pria jakung yang hari itu mengenakan jas navy yang senada dengan pantofelnya tersebut baru saja akan melangkah keluar dengan senyuman yang sangat berusaha ia tahan ketika ia harus tersangkut oleh pemandangan mengganggu di depannya.
Spontan berhenti.Sasuke memendar pandangannya sejenak, meski ia sama sekali tidak tertarik untuk menerka-nerka masalah apa yang tengah berlangsung sampai Sai memasang wajah yang begitu tegang dan berdiri menghadang di tengah jalan seperti itu, ia mau tak mau menyadari bahwa semua orang di lantai itu terlihat jelas tengah menunggu dirinya muncul sejak tadi.
Shikamaru sendiri yang kini menyeret tubuhnya menjauh dari posisi pertahanannya nampak hanya menghela nafas dengan sorot datar ketika Sasuke menoleh padanya, ia kemudian memutar bola mata, seperti menunjukkan bahwa Sasuke salah timing untuk muncul.
Apa ia dalam masalah?
"Oh." seru Sai. Memecah.
"Masalah kau apa?" sambut Sasuke dingin, berbalik tajam pada Sai yang tengah bergerak menghampirinya. Hasratnya untuk tersenyum sekarang berubah jadi ambisi untuk menerkam. Apa-apaan intonasi 'Oh' barusan itu?
"Kau menghabiskan waktu cukup lama di dalam sana."
"Kurang dari setengah jam."
"Dua puluh satu menit, lebih tepatnya. Tuan Naruto seharusnya sedang sibuk mengecek beberapa laporan." Sai menyoroti mata pria di depannya tanpa berkedip. Ia tau semua orang di belakang sedang menonton mereka, tapi keinginannya untuk tidak menahan diri di hadapan Uchiha rakus ini sedang membara.
"Lalu masalahmu apa?"
"..."
Sasuke menyayati sambutan dingin Sai dengan penekanan suara yang lebih sinis. Sasuke sangat yakin pria itu tau ia menanyakan masalah yang sebenarnya ada di balik alasan-alasan sepele yang barusan ia lontarkan. Sai menyambutnya dengan ketidakramahan hanya karena berkas-berkas laporan? Yang benar saja.
Seringai tipis tersulam samar di wajah Sasuke ketika Sai terlihat mulai tersulut. Sai sangat berkomitmen bila mengenai pekerjaan di wilayah kantor, ia mungkin menggilai Naruto tapi dedikasinya yang tanpa celah jelas berhasil menutupi fakta itu dari sebagian besar orang di gedung ini. Sekarang Sasuke akan menantangnya untuk berkata jujur. Silahkan saja jika ia berani terang-terangan bilang cemburu. Sasuke akan dengan senang hati meladeninya.
Mau dilihat dari sudut manapun ia tetaplah unggul. Sasuke tidak sabar melihat ekspresi pria licik di depannya ini jika sampai ia tau bahwa dirinya dan Naruto sekarang sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
"... Anda mengganggu pekerjaan orang lain." Kata Sai akhirnya, kembali menggunakan nada formalnya.
Sasuke mendorong wajahnya ke belakang dan mendengus tak percaya.
Apa-apaan perubahan mood itu?
Cih!
Memang benar-benar tidak mudah membuat orang satu ini terlihat tidak profesional di area kantor.
Nah, terserah. Tidak masalah untuk sekarang, pikir Sasuke.
Sudut bibir Sasuke menyunggingkan senyuman tipis sembari ia melangkah melewati Sai, ia tampak sempat memberikan beberapa tepukan berat pada pundak kurus itu ketika berlalu.
Terimakasih pada kemampuan mengendalikan ekspresi wajahnya sendiri, Sai tidak perlu membuat semua orang di lantai itu sampai tau bahwa tepukan di atas bahunya barusan cukup memberinya kejutan nyeri. Sasuke menggunakan kelima otot jarinya untuk mencengkram tulang bahunya sekuat mungkin pada tiap tepukan, cukup untuk membuat Sai harus mengingatkan dirinya untuk mengecek apakah disana akan ada lebam atau tidak malam ini.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Naruto ketika Asistennya itu akhirnya berhasil masuk ke ruangan dan menutup pintu di belakangnya.
"...Saya baik-baik saja." sahut Sai tersenyum.
Kedua alis Naruto berkerut curiga. "Ini hanya perasaanku saja atau kau barusan berjalan masuk dengan badan sedikit miring ke samping?"
Sai baru akan mengulang kalimat yang sama sekali lagi ketika Naruto sudah lebih dulu berdiri dari kursinya dan tergesah-gesah menghampirinya. Menatapnya dengan penuh cemas sembari memutarinya. "Naruto san...aku baik-baik saja."
"Kau terlalu banyak bekerja kurasa. Mungkin kau perlu istirahat?"
Ya Tuhan, Sai benar-benar ingin merajuk dan memberitahu Naruto bahwa mungkin saja tulangnya bergeser gara-gara dihantam oleh Sasuke barusan di luar ketika Naruto melontarkan pertanyaan itu. Berharap itu akan membuat bosnya berpikir bahwa si Uchiha itu terlalu barbar sebagai kawan dan dia akan ―paling tidak― bisa memercikinya dengan perasaan benci terhadap Sasuke.
Sai mendengus keras. Itu terlalu kekanak-kanakan, pikirnya, "Naruto san apa laporan yang kusiapkan tadi pagi sudah kau periksa?"
"Hm? Oh, sedang kukerjakan. Kau yakin kau baik-baik saja?"
Betapa menyenangkannya siraman perhatian ini, pikir Sai. Ia tidak peduli jika rasa nyeri ini menggerogotinya sepanjang hari, melihat pria emas bercahaya ini mengkhawatirkan dirinya saja rasanya seolah mampu mengalahkan kemampuan morfin untuk meredakan nyeri tulangnya.
Sai memandang bosnya dan tersenyum lebar, "Tentu."
Meski tidak begitu yakin dengan jawaban Sai, Naruto memilih untuk mempercayainya saja. Ia kembali meghampiri deretan kertas yang terhampar penuh di atas mejanya. Mencari-cari pena favoritnya diantara puluhan selembaran. "Aku dengar ada masalah di pesta semalam?" tanya Naruto, masih berusaha mencari pena emasnya di titik yang ia yakin ia letakkan beberapa menit yang lalu. "Apa itu masalah serius?"
"Saya belum bisa memastikan itu sekarang. Ada dua tamu tidak diundang datang ke pesta."
Naruto menghentikan pencariannya untuk menoleh. Memasang wajah tanya 'Apa mereka bikin ulah?' pada asistennya.
"Mereka tidak memberikan masalah secara langsung pada pesta. Hanya saja saya khawatir jika ini sampai diketahui oleh tamu-tamu semalam. Orang-orang penting yang sebagian besar pengawalnya kita tahan di halaman kantor dan tidak diijinkan masuk melindungi majikan mereka. Jika sampai mereka tau ternyata ada orang asing tidak dikenal berhasil menyusup, itu akan membuat reputasi Gaiden dalam memegang kepercayaan klien dan koleganya terancam." Sai menilik ekspresi bosnya dengan teliti sebelum melanjutkan. "Ada dua tamu dengan identitas palsu memasuki pesta. Mereka diijinkan masuk atas perintah Tuan...Kakashi Hatake."
"Kakashi sensei?" Seru Naruto, heran. "Kenapa?"
"Saya berusaha menghubungi beliau. Tapi panggilan saya tidak pernah dijawab."
"Ah, dia memang tidak suka menjawab panggilan langsung."
"Karena itu saya menghubungi tuan Iruka Umino."
Naruto merebahkan bokongnya ke atas kursi, menyerah mencari pena miliknya. Perhatiannya terfokus pada pria di hadapannya tersebut.
Ia begitu mabuk semalam. Dan lagi ia tidak mengenal seratus persen orang-orang yang datang, jadi ia sama sekali tidak cukup membantu untuk mengenali siapa tamu asing yang datang ke pestanya semalam. "CCTV?"
Sai menggeleng pelan. Sama kecewanya dengan ekspresi yang Naruto tunjukkan saat ini.
Hingga malam merangkak di atas langit gedung Gaiden, Naruto masih tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang tamu asing yang dibiarkan Kakashi masuk ke dalam pestanya semalam. Ia ingin menghubungi Kakashi atau mungkin Iruka hari itu juga lalu membahas masalah ini. Tapi ia merasa hal seperti ini sebaiknya dibicarakan secara langsung.
Malam itu pun ia memberitahu Sasuke sebelum mereka pulang. Berpikir pria itu bisa memberitahunya alasan apa yang mungkin Kakashi punya sampai berani menyelundupkan orang asing ke dalam pesta private yang dipenuhi orang-orang penting berkuasa seperti semalam.
Sasuke secara tidak langsung bisa dibilang besar bersama Naruto di bawah perawatan Kakashi dan Iruka. Sasuke dulunya adalah murid di sekolah dasar tempat Iruka mengajar, bersama Naruto. Mereka menjadi dekat dan dengan berkala Sasuke akan selalu muncul di rumah Naruto dan mengajaknya bermain, sering kali menginap dan melakukan banyak aktivitas bersama Naruto dan keluarga kecilnya hingga mereka menjadi begitu dekat hingga sekarang. Jadi Naruto sangat yakin Sasuke bisa saja mengenal Kakashi sama dekatnya dengan dirinya.
"Kakashi selalu punya rahasia. Kau tau dia mantan anggota federal. Rahasia sepertinya sesuatu yang sudah mengalir dalam darahnya."
"Apa menurutmu ia akan memberitahuku jika aku bertanya?"
"Aku akan ikut denganmu."
Naruto segera setuju, ia perlu dua kepala untuk menghadapi ayah angkatnya itu dan Sasuke adalah pilihan terbaik, "Aku harus pulang lebih dulu."
"Aku ikut denganmu." ujar Sasuke sekali lagi.
"Hah?"
"Nah, nii-san. Kenapa kau masih membenci paman Sasuke?"
Bibir kecil itu mengerucut. Ia nampak kesal dengan sisa makanan yang tidak juga menghilang dari penggorengan yang digunakan kakaknya memasak kari betapapun ia menggosok permukaan alat masak itu dengan beringas di dalam bak cuci yang penuh.
Boruto mendengar pertanyaan adik perempuannya tapi memilih untuk ia abaikan, "Gunakan lebih banyak sabun untuk mengangkat minyaknya." Ia berkata, mengucurkan beberapa sendok makan cairan hijau ke atas penggorengan yang tengah digenggam Himawari sebelum kembali ke sudut lain dapur, lanjut menata gelas-gelas bersih ke dalam jejeran kabinet kayu di atasnya.
"Niisan...!"
"Hm."
"Niisan bilang kalau Niisan benci karena Sarada nee menderita dalam hal ini. Tapi sekarang Paman Sasuke dan Sarada nee sudah baikan... jadi...apa yang membuat Niisan masih membenci Paman Sasuke?" Himawari meletakkan penggorengan yang sudah bersih ke deretan rak pengering dengan perlahan sembari melirik pada pemuda tinggi berambut pirang yang tengah membelakanginya di sana. Ia berusaha mencari reaksi atau kedutan di bahu bidang itu selama beberapa detik sebelum ia melanjutkan, "Apa Niisan homophobia?"
Boruto sontak terlonjak dengan muka memerah di tempatnya. Bola matanya membulat, seketika membatu ketika pertanyaan ini menembus lubang telinganya.
"Ka-Kau ngomong apa sih?!" Pekiknya parau. Tidak berani berbalik badan. Ia tidak mengerti kenapa wajahnya memanas dan ia tidak siap jika Himawari sampai mempertanyakannya.
"Hmmm...,"
Boruto semakin bergidik mendengar gumaman barusan. Ia yakin sekali Himawari pasti sedang memandang lurus pada ruas-ruas tulang punggungnya dengan tatapan penuh curiga saat ini.
"Aku tidak pernah bilang begitu!"
"Hmm, lalu kenapa masih benci pada paman Sasuke?"
Boruto tidak menemukan jawabannya. Tapi sesuatu di dalam dadanya berkecamuk dan membisikinya bahwa ia masih perlu membenci pria yang baru beberapa minggu yang lalu menjadi 'Contoh Ayah Idaman'-nya itu lebih lama lagi. Dengan kesal yang tidak terarah, Boruto berbalik badan, menunjuk kesal pada adiknya dan berteriak, "Kau sendiri coba jelaskan tingkah anehmu itu!"
Himawari memperbaiki posturnya, berkedip pelan dengan polos, "Tingkah...aneh?"
"Kau sama sekali tidak masalah Jiji didekati Sasuke san yang begitu? Kau pikir aku lupa apa yang kau lakukan di penginapan? Bagaimana kalau Jiji jadi begitu juga, hah?! Kaasan pasti akan sedih jika tau ini! Si Jiji itu bisa-bisanya...!" Seru Boruto berapi-api. Wajah merahnya kini semakin membara, membuatnya kian bingung dengan emosi apa yang sebenarnya membanjiri kepalanya saat ini. Apa dia marah? Atau justru malu? Membayangkan ayahnya dan Sasuke berduaan di pojokan rumah melakukan hal-hal yang hanya pernah ia lihat dilakukan oleh pria dan wanita membuat pembuluh darah di wajahnya makin uring-uringan.
"Hmm...," Gumam Himawari, terlalu tenang. Dengan telunjuk menekan sisi dagunya ia terlihat berpikir sejenak, "Hima rasa Kaasan tidak akan keberatan."
"Hah?"
"Tousan tidak mengkhianati Kaasan." Ungkap gadis muda itu. Sekilas ia melempar pandangan pada potrait yang tergantung di ruang tamu yang nampak dari tempat mereka berdiri. "Kaasan bilang Tousan mencintainya sampai akhir hayat. Bukankah itu berarti Tousan sudah menepati janjinya? Kaasan juga pernah bilang ia ingin membuat Tousan bahagia, apapun yang terjadi... tapi karena Kaasan sudah tidak ada disini... Hima...Hima ingin menggantikan tugas Kaasan...," Kedua manik biru putri bungsu Uzumaki Naruto perlahan bergetar samar sebelun wajah itu mendongkak penuh keyakinan. "Karena itulah jika ada seseorang yang memiliki niat tulus untuk membahagiakan Tousan, siapapun itu, apapun gender-nya, berapapun umurnya, dan darimana pun mereka berasal, Hima akan membantu mereka sekuat tenaga untuk membahagian Tousan!" Serunya mantap. "Niisan dan Hima bukan satu-satunya yang sedih kehilangan Kaasan. Tousan juga, dia kehilangan seseorang yang selama ini menjadi tempat ia menyandarkan kasih sayangnya sebagai seorang pria, sebagai seorang manusia yang punya kebutuhan biologis..."
"ERKK?!" Boruto beringsut nanar. Bagaimana bisa dan sejak kapan adiknya yang polos, manis dan suci ini punya jalan pikiran se-absurd ini? Apapula maksudnya dengan kebutuhan biologis itu?! Apa jangan-jangan...
"Niisan tau tidak kalau dibanding wanita, pria itu lebih sulit untuk menahan hasrat seksu―,"
"S-STOP! STOPPP! ARRRGHHH TELINGAKUU!"
.
.
.
"Aku perlu mandi dan ganti baju. Selama itu kau harus ingat untuk tidak membuat masalah." Naruto mengingatkan. Ia berjalan cepat dua meter di depan pria yang bersikeras ikut pulang bersamanya itu sepanjang koridor menuju apartemennya. "Boruto sekarang ada di rumah. Aku tidak mau ada barang pecah kalau Boruto sampai mengamuk lagi."
Sasuke mendengus sinis, "Menyusahkan." Ketusnya.
"Teme...!" Diikuti raungan dalam, Naruto tanpa basa basi langsung menarik kerah pria di depannya dengan amat jengkel, memasang wajah kesal paling buruk rupa yang ia punya, bisa tidak sih orang ini sekali saja menuruti perintahnya di luar kantor?! "Kau seharusnya bersyukur aku tidak menyuruhmu tinggal di mobil, teme. Aku sudah pusing punya anak sebesar Tokyo Tower yang mengintimidasiku di rumah, aku tidak senang sama sekali mendapat bonus satu pria besar berotak anak-anak lain yang harus kuurus."
"Naruto, dengar. Aku tidak ada masalah dengan Boruto. Boruto yang punya masalah denganku."
"Siapa bilang?" sebuah suara lain terdengar menyahut di belakang Naruto, seketika membekukan pertikaian mereka.
Pemuda pirang dengan tanda lahir sama dengan ayahnya. Berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana beberapa meter dari kedua pria yang tengah bersitegang di koridor. Memandang mereka lurus selama satu menit, terkhusus pada pria Uchiha satu-satunya di lantai itu. Yang lalu beranjak begitu saja masuk ke dalam pintu apartemen Naruto.
Sasuke dan Naruto sama-sama berusaha mencerna kejadian barusan sebelum saling melempar tatap.
"Barusan...itu apa?"
"Kau ayahnya. Seharusnya aku yang bertanya."
"Kau lebih sering menghabiskan waktu dengannya dari kecil, Sas-bangsat. Kau seharusnya lebih tau isi otaknya."
.
.
Malam itu dua buah sport car mewah melaju nyaris beriringan di jalanan kota Tokyo, saling mengejar hingga ke pinggiran kota.
Naruto memutuskan setuju membawa kedua putra putrinya ikut bersama mereka menuju kediaman Hatake Kakashi dan Umino Iruka, sebuah bangunan sederhana yang sudah berdiri disana sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Rumah yang menjadi tempat Uzumaki Naruto tumbuh dan dibesarkan.
Masih dengan warna tembok yang sama. Luas tanah yang sama. Bahkan pagar pendek yang melingkupinya pun masih dibiarkan dengan bentuk dan cat yang sama persis dengan yang terakhir Naruto ingat. Sangat sulit untuk tidak bernostalgia tiap kali ia menginjakkan kaki disana.
Hiwamari segera berlari turun dan memasuki pagar sesaat setelah mereka tiba. Dan sementara Naruto menyusul putrinya masuk, Boruto justru menghampiri mobil mewah satunya yang tiba bersama mereka bertiga.
Audi R8 coupe biru metalik dengan kaca samping yang tengah bergerak membuka. Nampak menyambut pemuda pirang yang menghampiri si pemilik kendaraan yang masih terduduk di balik kemudi.
Ketika wajah Boruto muncul di seberang pintu, Sasuke hanya menatapnya lurus. Ia tidak berkata apa-apa meski rasa penasaran akan kalimat yang putra sulung kekasihnya itu katakan di koridor apartemen masih bercokol di sudut otaknya.
Siapa bilang?
Boruto nampak punya segudang uneg-uneg pedas untuk dimuntahkan. Padahal selama perjalanan tadi ia telah menyiapkan matang-matang tiap kalimat yang akan diucapkannya. Tapi ekspresi wajahnya yang tidak tenang dan gerutu-gerutu samar yang bergumam dibalik bibirnya yang terkatup rapat jelas menunjukkan bahwa ini tidak menduga bahwa bicara langsung akan sesemerawut ini.
Ayahnya punya hubungan dengan seorang pria. Ia tidak membenci pria yang bersangkutan, malah sebaliknya, ia sangat mengagumi pria itu. Ia pun tidak pernah menjadi pembenci kaum homoseksual, tidak sejauh yang ia ingat. Jadi sebenarnya tidak tepat membenci Sasuke dalam kasus ini. Boruto sempat berpikir bahwa ia mungkin saja kesal karena merasa Naruto mengkhianati ibunya, tapi itu pun tidak sepenuhnya tepat. Naruto mencintai ibunya sampai mati. Ia tau meski pada akhirnya ia bersama dengan Sasuke atau siapapun, cinta Naruto pada ibunya pasti akan selalu ada.
Tapi kenapa rasanya ia masih tidak rela ayahnya jadi milik Sasuke?
Apakah ia... cemburu?
"Boruto, kita harus segera masu―"
"...A-Aku memaafkanmu." Potong Boruto.
"..."
"Aku tidak... tidak masalah apapun hubunganmu dengan Jiji. Asal kau tau. Tapi bukan berarti aku menerimanya begitu saja. Aku akan tetap mengawasimu. Dan kalau kau sampai membuatnya sedih... aku tidak akan menahan diri! Ingat itu!"
Boruto melangkah meninggalkan si pengemudi mobil cepat-cepat. Berharap ia tidak akan menyesali ucapannya barusan.
Wajahnya menggelap ketika meninggalkan halaman.
Sebenarnya masih ada yang bercokol di dalam relung hatinya. Tapi ia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjabarkannya.
Bukan karena ia membenci Sasuke. Bukan karena ia kecewa pada ayahnya. Sesuatu... Sesuatu yang lain... Ketidakrelaan yang tidak bisa ia terjemahkan...
Sementara itu...Uchiha Sasuke terlihat masih bergeming dibalik kemudi mobilnya. Cukup terkesiap dengan kalimat kurang dari sepuluh detik yang disiramkan padanya barusan.
"..."
Saat ia akhirnya bisa mencerna kalimat putra sulung Uzumaki Naruto yang super singkat itu dalam sekali tegukan ludah... untuk pertama kalinya dalam hidupnya... wajah Uchiha Sasuke memanas dan memancarkan semburat merah akibat ulah orang lain selain Naruto.
Sukses membuat wajah stoic itu kehilangan wibawanya dalam sepersekian detik solid di bawah sinar rembulan.
Apa... seperti ini rasanya direstui?
.
.
Rentetan potrait berjejer di sepanjang dinding. Persis seperti yang terakhir Naruto ingat. Jejeran foto masa kecilnya hingga dewasa. Foto terbaru di ujung lorong adalah Naruto dan kedua putra putrinya, di perayaan kelulusan sekolah menengah pertama Himawari. Boruto masih setinggi ayahnya saat itu.
Naruto hanya bisa tersenyum.
Gerak gerik di dalam ruang tengah terasa agak janggal ketika mereka bergerak ke dalam. Naruto dan Himawari sudah memanggil Iruka dan Kakashi sejak mereka masuk dari pintu depan. Fakta bahwa tidak ada yang menyambut mereka di pintu dan membuat Naruto dan yang lainnya harus masuk sendiri saja rasanya sudah aneh. Iruka selalu akan menyambut mereka.
Ketika mereka tiba di ruang tengah, sosok berambut perak dan berambut coklat terlihat tidak sendirian. Setengah lusin pria berkulit gelap tengah mengelilingi sofa tempat keduanya tengah duduk.
Salah satu pria berkulit gelap berambut pirang dan sangat familiar tengah bersiteru dengan Iruka ketika Naruto bergabung di ruangan itu.
Seluruh mata di sana sontak tertuju ke arah Naruto ketika ketiga pengikutnya malam itu bergabung di ruang tengah.
"Darui?!" Seru Sasuke, mewakili keheranan pria pirang di sampingnya.
Iruka segera bangkit dari sofa. Terlihat cukup terkejut. Seolah ia tidak ingin Naruto melihat kehadiran keenam tamunya.
Sementara itu Kakashi dengan sifat tenang khasnya menyambut putra angkatnya itu dengan senyum hangat. Ia tidak mengenakan masker di rumah, jadi seluruh tamunya bisa menikmati wajah tampan bertahi lalat itu dengan puas. Namun sekaligus dapat melihat perubahan mood pria itu dari gerakan bibirnya langsung yang tidak tertutup kain.
"Apa ini?" Kini Naruto yang mengajukan suara.
"Kau perlu duduk, Naruto." Tepis Kakashi, menghampiri Naruto, menyentuh lengan pria itu, "Kau pun harus duduk Sasuke." Sambungnya kemudian.
Setelah menyamankan diri, Naruto pikir salah satu dari ayah angkatnya akan menjelaskan duduk perkara alasan rombongan bodyguard pribadi wakilnya itu ada di rumah mereka. Namun yang maju ke depan justru adalah Darui.
"Bukankah kau seharusnya tidak boleh meninggalkan Kyuubi? Itu tugas utamamu 'kan?"
"Betul." Jawab Darui. "Kami punya satu masalah besar."
Naruto tidak bisa menyembunyikan raut tegang di wajahnya. Sejak masuk ke ruangan ini, atmosfirnya sudah sangat berat, ia tidak berharap sama sekali jika yang keluar dari mulut Karui adalah sesuatu yang bagus setelah semua pemandangan ini.
"Tuan Kyuubi Kurama menghilang."
Naruto terlonjak samar dari kursinya.
Hah?!
Kyuubi tidak pernah menghilang sepanjang sejarah pemuda itu hidup. Ia selalu dijaga ketat. Bahkan seekor nyamuk pun tidak akan bisa menancapkan gigitannya menembus kulit itu di bawah penjagaan bodyguard pilihan kelas tinggi yang selama ini menjaganya. Bagaimana bisa?
"Tuan Kyuubi diam-diam mengelabui pengawas di kediamannya dan berhasil menyelinap keluar. Kami tidak menemukan jejak kemana ia pergi." Darui nampak bertukar pandang dengan Kakashi sebelum melanjutkan, "Dari informasi yang Kakashi dono berikan Tuan Kyuubi kemungkinan besar mendatangi sebuah rumah di perfektur Aichi pukul 13.04 dua hari yang lalu, mengikuti kartu undangan yang diberikan. Orang-orang kami sudah mengecek tempat itu. Dan bangunan yang disebutkan di dalam undangan telah diratakan."
"Jadi kalian tidak menemukannya?"
Darui menggelengkan kepala. "Ada banyak selongsong peluru disekitar halaman hingga ke lintasan kereta yang kebetulan berada tepat di samping reruntuhan."
Naruto nampak mencengkram lengan kursinya ketika Darui menjelaskan kemungkinan seseorang ditembaki disana.
"Tidak ada jejak tetes darah. Hanya ratusan selongsong kosong. Mengarah ke rel kereta." Darui menunjukkan beberapa foto TKP dari ponselnya kepada Naruto dan Sasuke, setelahnya ia melanjutkan, "Di jam yang sama, kereta Shinkansen melintas di sana."
"Ada yang tertabrak?!" Naruto melompat dari kursinya. Ia tidak ingin bertanya gamblang apakah itu Kyuubi yang melarikan diri dan apakah Kyuubi tersambar ataukah tertabrak disana. Jika sampai tertabrak, bukan hanya tetesan darah yang seharusnya ada disana, pasti tubuh itu akan hancur berkeping-keping.
Darui menggeleng sekali lagi. "Tidak, Tuan." Jawabnya, "Kereta itu berhenti di sana."
.
.
.
"Kau yakin ini aman?"
"Keluarga Kurama punya ratusan hunian yang terpencar di seluruh belahan bumi. Ini yang teraman."
Manik merah memandang jauh ke depan. Menembus lebatnya hutan yang begitu hijau, berisi ratusan spesies burung yang berterbangan keluar dari sarangnya, menyambut mentari dengan semangat penuh.
Puluhan kilometer di ujung hutan itu, sebuah gunung menjulang tiga ribu meter di atas permukaan laut. Nampak tandus di satu sisi, namun jalanan yang mengintarinya dipenuhi pinus-pinus tua yang lebat. Jauh di atas sana, diantara pepohonan dan lekukan bebatuan curam, sebuah vila beton tertancap dan dibangun di dalam badan gunung. Sebagian besar ruangan vila itu berada di perut gunung tersebut. Tidak hanya membuatnya sulit ditemukan, namun juga sulit untuk diterka denahnya. Banyak jalan-jalan pintas dan rahasia yang dibangun di dalam sana, yang terhubung hingga ke kaki gunung.
"Disini lumayan ramai." Dengus Kisame. Menoleh pada kerumunan penduduk desa yang tengah berlalu lalang di pasar mingguan yang tengah terselenggara tepat di bibir hutan tempat mereka bertiga berdiri.
"Ada banyak orang yang bermukim di desa ini," Itachi menambahkan, "Kau yakin tidak akan ada yang mengenali nama Kurama disini?"
Pemuda merah yang sejak tadi mengamati hamparan pemandangan luas di depannya itu terdengar mendengus samar. Ia tidak pernah menyangka akan kembali ke rumah ini. "Rumah ini dibangun atas nama Kushina Namikaze." Kyuubi berbalik kepada dua pria yang telah berhasil membawanya begitu jauh ke negara terpencil itu. Ia tersenyum pada keduanya dengan bangga. "Nama ibuku." Ungkapnya. "Ini tidak ada dalam daftar properti milik kerajaan bisnis Kurama."
Kyuubi sangat yakin anggota Akatsuki sekelas Itachi dan Kisame yang terbiasa berada di dalam sistem dan menyamar akan tau. Bahwa marga asli istri pertama Tuan Besar Kurama nyaris hilang dari seluruh pusat data bahkan ingatan orang-orang yang masih hidup. Wanita itu muncul dan seketika dikenal dengan nama Kushina Kurama. Tidak ada yang cukup berani mempertanyakan asal klan atau pun marganya ketika Tuan Besar Kurama memilihnya. Karenanya, hingga detik ini pun hanya segelintir orang yang tau siapa sebenarnya nama belakang istri pertama Tuan Kurama tersebut. Ini dimanfaatkan Kyuubi untuk menggunakan properti peninggalan atau mengambil alih sesuatu menggunakan nama asli ibunya. Seluruh pergerakannya tidak akan tercantum sebagai milik keluarga Kurama. Membuatnya bisa bersembunyi dan menghindari konflik politik yang selama ini selalu dibawa nama besar ayahnya.
"Dan...bagaimana rencanamu naik ke atas sana?" Sahut Kisame.
"Mendaki."
"Dengan kaki?"
"Ada dua pagar penjaga yang mengintari badan gunung. Tidak ada kendaraan yang muat melalui pintunya."
Kisame nyaris terlihat tak percaya, memandang bodoh pada partner kerjanya, berharap si Uchiha bisa memberinya penjelasan. "Apa di atas sana ada orang?" Bagaimana cara orang-orang itu naik turun jika benar ada?
"Ada." Jawab Kyuubi. "Ada dua pengurus rumah yang selalu membersihkan tempat itu. Mereka sudah kuminta pergi sebelum kita sampai."
"Mereka membersihkannya dengan rutin? Naik turun gunung? Mereka itu apa? Monyet?" Kisame tidak percaya bagaimana pria merah ini mengoprasikan otaknya. Bagaimana bisa ia memasang pagar pintu kecil yang tidak bisa dilewati kendaraan bermesin untuk menuju rumahnya yang bertengger di atas gunung?
"Kita hanya perlu naik sekali. Aku akan membuka pintu dan selanjutnya kita bisa menggunakan jalur lain untuk naik dan turun dari tempat ini." Sahut Kyuubi. Kali ini tidak ingin mendengar protes apapun lagi dari mahluk biru di belakangnya. Ia melangkah masuk ke hutan, segera diikuti oleh kedua pria di belakangnya.
Beberapa menit diantara semak, sebuah jalan setapak pun terlihat.
Mereka bertiga mengikuti jalanan kecil tersebut selama nyaris tiga jam dan tiba di gerbang pertama.
Pagar itu menjulang tiga meter dari permukaan tanah. Berbentuk jaring yang sesekali bergemeritik atau berdengung pelan.
"Listrik?" Celetuk Kisame.
"200 Ampere. Jiwamu akan hangus seketika." Balas Kyuubi sinis. Ia mendekati sebuah pintu dengan lebar kurang dari satu meter di depan mereka. Mengangkat sebuah papan yang rupanya penutup deretan tuts keyword.
Kyuubi nampak memasukkan kombinasi kata dan angka disana. Membuat pintu yang menghadang mereka berdencit dan membuka. Ketiganya lalu bergiliran melewati pintu itu sebelum gerbang tersebut tertutup kembali.
Itachi melepas pandangannya dari suara gaduh di belakang mereka barusan lalu menatap ke atas. "Tiga ribu meter kau bilang? Itu artinya kita perlu tiga jam lagi hingga ke puncak."
"Tidak. Kita lewat sini." Potong Kyuubi. Berbelok ke kanan di luar jalan setapak yang nampak. "Dua pagar itu bukan untuk menghalangi penyusup untuk naik ke atas. Tapi untuk mengapit vila dari kedua sisi." Ujarnya, sembari tetap melangkah meliuk-liukkan tubuh kecilnya diantara semak belukar dengan lincah. Seolah baru kemarin ia terakhir datang ke kediaman itu.
Di antara gemerisik-gemerisik dedaunan yang mereka lewati, Kisame melempar pandangan pada partner-nya yang rupanya juga sama clueless-nya dengan tempat yang mereka tengah tuju tersebut.
"Kupikir kau sudah pernah ke vila itu? Kau tidak terlihat mahir diantara ranting ini." Bisik Kisame, terlihat ledekan dari cara pria biru itu menyeringai.
Itachi hanya memasang wajah tanpa ekspresi miliknya sembari berusaha mengejar pemuda merah di depan mereka. "Kami menggunakan heli waktu itu. Aku tidak pernah tau harus serimba ini untuk ke atas dengan jalur biasa."
"Sampai."
.
.
"Akatsuki?!"
Awalnya Iruka pikir yang akan berteriak lebih dulu adalah putra angkatnya. Tapi rupanya setelah mereka menjelaskan lebih jauh masalah yang sedang berlangsung. Uchiha Sasuke justru menjadi yang pertama yang bersuara nyaring.
"Ini ada hubungannya dengan dua tamu asing di pesta?" Naruto mencoba mencari benang merah. "Kakashi sensei." Desisnya dalam. "Kenapa?"
Dua jam yang lalu enam orang dipimpin Darui, sang kepala pengawal mendatangi kediaman Hatake Kakashi saat ia dan suaminya ―Iruka akan bersiap-siap menyambut Naruto yang siang tadi sudah memberitahukan rencana kunjungannya. Kakashi sudah menjelaskan semuanya secara rinci kepada Iruka sesuai janjinya. Tentang undangan, tentang dua anggota Akatsuki yang mengunjunginya, dan bahkan membahas masa lalu Uchiha Itachi dan apa dampak yang akan terjadi jika Sasuke juga Naruto tau hubungan antara mantan elit Jepang yang tertuduh berkhianat itu dan putra Tuan Besar Kurama dengan mereka berdua.
Setelah berdiskusi panjang, Iruka dan Kakashi setuju untuk menahan rahasia yang mereka genggam lebih lama lagi.
Tidak sampai Darui datang dan memberitahukan Tuan Muda mereka telah menghilang sejak tadi siang.
Jika saja yang mereka bicarakan ini Naruto, mungkin saja mereka akan berpikir bahwa Naruto lagi-lagi disembunyikan Sasuke dan juga Shikamaru untuk berlibur, toh belum juga sehari menghilang.
Hanya saja yang hilang sekarang adalah pemuda merah yang seumur hidupnya tidak pernah lepas dari penjagaan para pengawalnya. Ia menyusup ke dalam pasar gelap Akatsuki pun beberapa orang kepercayaan terbaik si merah tetap ada disana, berkamuflase diantara para tamu, selalu dalam kondisi siap kombat jika Tuan Muda mereka dalam bahaya. Bahkan ketika Kyuubi tengah menggunakan kamar mandi di ruang kantornya pun, Karui pasti ada di depan pintu berjaga-jaga.
Jadi jika musang merah itu tiba-tiba keberadaanya menghilang selama beberapa jam, kepanikan di dalam klan Kurama tidak dapat dielakkan lagi.
Kakashi bukan terintimidasi oleh desakan Karui untuk memberitahunya semua informasi yang ia punya. Hanya saja, ia lebih khawatir karena ini... berkaitan dengan Naruto.
"Aku menerima salinan undangannya. Sebagai imbalan dua orang dari Akatsuki boleh masuk ke pesta dan memberikan undangan yang sama pada Kyuubi." Kakashi menjulurkan tubuhnya ke depan, kedua siku ia tumpu di atas kedua lututnya sembari menatap lurus Naruto dan Sasuke bergantian. "Kalian mungkin bertanya mengapa aku tidak segera melaporkan ini pada pengawal Kyuubi. Atau kenapa aku tidak kesana dan mencegah Kyuubi." Untuk saat ini Kakashi berharap ia tidak akan menyesali apapun yang akan diucapkan, ia menoleh pada Iruka, melihat pria itu mengangguk mendukungnya, "Hanya saja aku tidak tau apa rencana Kyuubi Kurama dan apa yang ingin ia peroleh dengan bertemu Akatsuki. Jika aku ceroboh datang kesana, bukan hanya itu akan mengancam nyawaku, tapi Kyuubi pun di posisi yang sama. Kurasa itu bukan hal yang diinginkan pihak Kurama untuk terjadi. Hal ini tetap berlaku jikalaupun kita diam-diam mengepung tempat itu, atau mengirim negosiator untuk meminta Kyuubi kembali. Kalian harus ingat, Kyuubi ke tempat itu atas keinginannya sendiri, dengan kesadaran penuh atas situasi yang bisa terjadi pada dirinya." Kakashi menarik tubuhnya, menegakkan punggung. "Bukannya aku tidak khawatir dengan keselamatannya... Tapi jika kita datang kesana, bisa jadi kita justru mengacaukan rencana Kyuubi."
"Kakashi dono!" Bentak Darui. Ia tidak bisa mengabaikan pesan tersirat bahwa pria itu baru saja menganggap Tuan Mudanya bersekongkol dengan Akatsuki, yang mana merupakan penghinaan besar bagi klan Kurama.
Pria perak itu sendiri hanya melirik dingin pada Darui yang memandangnya bengis, "Kau sendiri tidak tau rencana Tuanmu sendiri bukan?" Tanya Kakashi, perlahan memiringkan kepalanya dengan curiga, mengamati gerak gerik pria gelap di hadapannya, "Atau kau belum memberitahukan semuanya pada kami?"
Disana, Darui bergeming. Ia memang meminta Kakashi memberitahukan semua yang ia punya untuk menyelamatkan Tuan Mudanya, namun ia sendiri sangat berhati-hati tentang modus utama Tuan Mudanya itu hingga begitu nekat kesana. Ia melirik khawatir pada sosok pirang berkardigan yang tengah duduk dengan sorot mata yang serius di ruangan itu. "Jika aku memberitahukan ini, masalah baru akan terbuka."
"Tidak masalah." Celetuk Kakashi. Intonasi itu terdengar santai, tapi seluruh orang di ruangan itu bisa menangkap kesinisan dari sorot kelabunya.
Naruto menyadari gelagat Darui yang tidak beres. Laki-laki dua kali umurnya itu tidak pernah terlihat cemas. Kyuubi menghilang memang masalah serius, tapi sepertinya pria itu cemas untuk perkara yang berbeda. Ia menyembunyikan sesuatu. Dan entah mengapa Naruto rasa Kakashi tau tentang itu.
"Kurasa memang sudah waktunya." Iruka merebahkan telapak tangannya ke atas punggung tangan Kakashi. Menatap pria itu dan menghela nafas dengan berat hati.
"Sampai kapan kalian mau mengulur waktu? Aku perlu tau soal Akatsuki." potong Sasuke. Naruto di sisinya sontak berbalik, nyaris melupakan emosi meledak pria di sampingnya beberapa menit lalu itu ketika Darui menyinggung Akatsuki.
Uchiha Itachi ―kakak kandung Sasuke, diberhentikan secara sepihak oleh menteri pertahanan dari jabatannya sebagai elit militer setelah ia diketahui bergabung dengan Akatsuki. Naruto dan Sasuke masih remaja saat itu. Situasinya sangat kacau. Itachi punya peran sangat penting di Jepang, dan seketika dicap berkhianat ketika ia bergabung dengan perusahaan raksasa berumor buruk seperti Akatsuki. Tidak ada penjelasan yang diberikan pihak Itachi ketika ia menghilang, adiknya, Sasuke bahkan sampai jadi tahanan negara untuk membujuk Itachi menjelaskan alasannya membelot.
Tapi tidak ada upaya yang membuahkan hasil.
Sasuke melalui begitu banyak tekanan dan ribuan masalah semenjak kakaknya masuk ke Akatsuki. Dirinya sampai nekat mengejar Itachi ketika ia mendapat bocoran bahwa seluruh anggota Akatsuki akan berkumpul di Brazil untuk bertransaksi di sebuah festival besar tahunan disana demi meminta jawaban langsung dari sang kakak. Namun, sayangnya ia tidak memperoleh apapun. Bahkan Itachi yang hari itu hadir disana hanya berdiri memandangnya dari balik kerumunan pesta pora. Tidak bergerak seinchi pun menyambutnya, tidak mengucapkan satu kata pun untuk melepaskannya dari kebingungan yang ditinggalkan untuknya.
Dan disanalah...
Ketika Sasuke kembali ke Jepang...
Titik balik pandangan hidupnya berubah.
Ia menjadikan saudara satu-satunya sebagai musuh.
Ditambah seluruh desas desus, tuduhan, dan perintah tembak mati di tempat ketika memasuki wilayah yurisdiksi Jepang dikeluarkan untuk sang Kakak. Semua gelombang negatif itu memberi efek yang cukup signifikan selama dua belas tahun semenjak kejadian di Brazil terhadap kebencian Sasuke pada Itachi.
Jadi Naruto sangat paham mengapa pria di sampingnya ini, kekasihnya, menjadi tidak terkendali.
"Sas...," Naruto menggapai udara di antara mereka, hendak menyentuh bahu itu.
Di belakang mereka Boruto tidak bisa mengentikan raut wajah gusarnya. Semua orang di ruangan ini membicarakan sesuatu yang sangat krusial dan ia masih belum menangkap poin utamanya. Kyuubi menghilang. Itu berita buruk. Pengawal berwajah seram Kyuubi nampak menyembunyikan sesuatu. Begitupun kedua orang tua angkat ayahnya.
Berbeda dengan ia dan ayahnya yang sama-sama terlihat berusaha menerka rahasia penting apa yang berusaha disembunyikan ketiga pria tua di depan mereka sampai membuat mereka harus berdebat saat masalah utamanya adalah Kyuubi yang menghilang, seolah rahasia lain yang mereka perdebatkan jauh lebih penting ketimbang kondisi Kyuubi saat ini, Himawari sendiri, adiknya, nampak lebih tenang dan seperti mengikuti seluruh alur kekhawatiran ketiga pria di depan mereka tanpa hambatan.
Boruto benar-benar harus mencari waktu untuk mengorek apapun yang adiknya tau dari keluarga ini. Ia merasa adiknya tidak hanya berpegang teguh dengan prinsipnya yang ingin membantu siapapun yang ingin membuat ayah mereka bahagia.
Ia jelas tau sesuatu yang lain.
Iruka berdiri dari sofa, menghampiri Naruto. Ia menjulurkan tangannya, mendorong helaian pirang yang menutup telinga pria itu ke belakang telinganya dengan penuh kasih sayang.
"I-Iruka sen...,"
"Dengarkan dengan baik Naruto." Iruka tersenyum tipis. Itu senyum bijak miliknya, bukan senyuman hangat yang biasanya Naruto dapatkan. "Kau tau, kau putraku yang paling berharga lebih dari apapun yang pernah kutemui di dunia." ia menyentuh lantai di depan kaki Naruto dengan lututnya, menarik satu lagi tangannya ke atas untuk mengatup wajah manis pria dewasa yang tengah balas memandangnya dengan tatapan penuh tanya. "Aku merasa bersalah menyembunyikan ini darimu. Ketika seseorang meletakkan keranjang berisi dirimu yang masih memerah di depan pintu, aku tidak pernah tau tanggung jawab apa yang baru saja diserahkan padaku." Keranjang itu begitu besar, berisi selimut dan sepucuk surat. Iruka berpikir itu berisi curahan hati orang tua bayi tersebut yang entah karena apa harus meninggalkannya di sana. Namun surat kecil itu hanya berisi dua kata.
Uzumaki Naruto.
Iruka dan Kakashi sudah tinggal bersama saat itu. Keduanya segera menghubungi seluruh kontak panti asuhan yang bisa mereka dapatkan selama berminggu-minggu. Dan dengan sangat ganjil, tidak satupun mau menerima Uzumaki Naruto saat itu.
Kakashi segera menaruh curiga. Namun Iruka sudah terlajur menginginkan Naruto. Ia ingin merawat bayi itu sendiri. Mengingat dirinya tidak akan mungkin memiliki anaknya kandung sendiri dengan orientasinya, maka ia membulatkan tekad untuk merawat Naruto. Bahkan ketika Kakashi meninggalkannya kembali ke Amerika. Iruka tetap merawat Naruto dengan penuh kasih.
Ia begitu bahagia. Merasa lengkap sebagai seorang pria yang tidak akan pernah bisa memiliki keluarga dengan cara yang normal.
Dan itu berubah ketika Kakashi tiba-tiba kembali pulang membawa berita yang didapatkannya selama menjadi anggota federal.
Fakta yang membuat Iruka dan Kakashi merubah pandangan mereka terhadap balita yang kini tengah tumbuh dengan begitu lucunya saat itu.
"Kami menyembunyikan identitas keluargamu yang sebenarnya."
"Keluargaku yang... sebenarnya?"
Iruka memejamkan mata, menguatkan diri, "Setelah kami tau. Semuanya menjadi jelas. Tentang mengapa kau muncul di depan pintu rumah kami. Dan tentang siapa orang yang cukup punya kuasa sampai bisa menyabotase seluruh panti asuhan di seluruh kota sekaligus." kedua telapak tangan yang menngatup wajah Naruto terjatuh dan mendarat di kedua sisi lengan Naruto, mencengkramnya kuat sembari kalimat terakhir bergema. "Ayahmu adalah Tuan Besar Kurama. Kau adalah saudara kandung Kyuubi, Naruto."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Selamat bermalam jum'at!
