Author's Note: Mungkin kata ini udah nggak berarti lagi saking banyaknya disebut, tapi…

GOMEN.

Gomen. Maaf. Banget.

Hueeee… minna-san, para readers, para author-senpai… Dx Maaf aku lagi-lagi telat BANGET updatenya… x(

Lebih dari dua bulan!! Dx

Gomengomengomen.

Suatu hari nanti pasti aku tebus.

PASTI.

Update chapter dua kali, mungkin? Semoga bisa…

Daripada banyak omong lagi, langsung aja deh… :) Silakan membaca xD

Warning: OOC-ness.

Disclaimer: Bleach is Tite Kubo's. But Nana is mine. This story (all the idea and what-so-ever) belongs to ME. (hehe.)

ENJOY R&R!!


Wintry Weather Rumble – chapter 12. HungOver


Hitsugaya

's POV

Aku berdiri tegak, tangan terlipat rapi di belakang, pandanganku lurus ke depan, menatap ke arah Soutaichou yang duduk di kursi. Para kapten lainnya berdiri di tempat masing-masing di sekelilingku, dan para wakil mereka berdiri di belakangnya. Matsumoto berdiri di ujung barisan ini, di belakangku.

Kami berada di ruangan meeting yang lain. Biasanya, saat rapat kapten per-bulan, saat tidak ada kejadian yang signifikan, kami akan menggunakan ruang meeting pertama, yang berisikan meja panjang dan tempat duduk. Untuk keadaan darurat dan yang lebih penting (misalnya, pelantikan) kami akan mengadakan rapatnya di sini.

"Baiklah, dengan ini, aku nyatakan rapat kapten dan wakil kapten dimulai." Kata Soutaichou pelan. Suasana di ruangan sangat tenang, tidak ada satupun yang berani membuat keributan.

Aku menoleh sekilas pada Matsumoto, dan aku melihat tampangnya yang biasanya, menahan senyum dan tak sabaran ingin memeluk/menghancurkan seseorang dan berteriak gembira. Aku menghela nafas.

Akankah Matsumoto jadi serius, setelah pindah Divisi?

"Seperti yang telah kalian ketahui, kemarin kita telah mengadakan…" Soutaichou memulai, berbasa-basi dan selalu mengikuti prosedur. Basa-basi, pembukaan, pokok permasalahan, ceramah, penyelesaian masalah, ceramah, penutup, ceramah… aku bosan sekali.

"…Jadi, dengan ini, aku meresmikan Nana, seorang murid shinigami, sebagai wakil-kapten Divisi 10."

Aku berkedip-kedip beberapa kali, mata sedikit membesar, kaget. Itu tadi… sangat cepat. Mana basa-basi dan yang lainnya? Ah, well, mungkin orang tua itu pun sudah capek berbicara panjang lebar.

Beberapa kapten dan wakil-kapten bertepuk tangan dan tersenyum padaku, tanda menerima. Aku membungkukkan badan dalam, menyatakan hormatku.

Aku berdiri teagk lagi dan menatap Soutaichou tepat di matanya, memasang tampang serius, dan berkata, "Terimakasih, Yamamoto-Soutaichou. Hamba tidak akan mengecewakan anda.", karena itulah hal yang patut kau katakan setiap kau diberi kepercayaan terhadap sesuatu.

Soutaichou melihatku sebentar—aku merasa tatapannya agak sedikit lebih lama dari biasanya—dan akhirnya mengangguk.

Sebenarnya, hal ini agak aneh. Aku agak tidak suka dengan ini. Fakta bahwa yang sekarang naik jabatan tiba-tiba, dari murid menjadi wakil kapten, bukanlah aku yang sebenarnya, membuatku agak kesal. Aku berjuang keras untuk orang lain. Untuk karir orang lain. Seberapa menyebalkannya itu?

Dan lagi, apa kamu tahu bagaimana upacara pelantikan fukutaichou kebanyakan? Tidak ada. Yang biasanya akan terjadi adalah, Sasakibe-fukutaichou, atau siapapun fukutaichou Divisi 1 saat itu, akan memutuskan siapa yang berhak menjadi wakil saat laporan para wakil kapten perbulan-nya, lalu dia akan melaporkan penilaiannya pada Soutaichou, lalu Soutaichou menyetujui, dan fukutaichou Divisi 1 itupun akan mengirimkan seorang fukutaichou lain (atau terkadang malah hanya shinigami biasa) untuk memberikan surat pada wakil baru itu, dan besoknya akan ada meeting bagi sang fukutaichou baru dan fukutaichou Divisi 1, dan saat itulah kau akan diberi penjelasan tentang tugas-tugasmu secara rinci.

BUKAN akan diadakan acara pertarungan besar-besaran, pesta besar-besaran (Sangat. Besar.), lalu akan ada rapat seluruh kapten-dan-wakil-kapten esok harinya.

Hal ini hanya berlaku pada kenaikan jabatan kapten. Bukan WAKIL kapten.

Mungkin kebosanan itu memang sangat membunuh.

"Dan, untuk Abarai-fukutaichou…" Soutaichou menoleh ke arah Abarai. Abarai agak tersentak. "Ya, Soutaichou?" Jawabnya agak gelagapan, namun berusaha terdengar siap.

"Mulai besok kau akan menjadi Kapten di Divisi 5."

Dalam hati, aku berteriak keras, mata membelalak lebar.

APAAA??!! Abarai itu??? Menjadi seorang kapten?? Apakah Soutaichou melupakan segala sikap kecerobohan dan tidak bertanggung jawabnya?? Serta sikap seenaknya sendiri?? Mana bisa dia memegang tanggung jawab besar itu??

Tapi, yah, kalau dilihat, Kyouraku juga tidak kalah buruk. Dia pemabuk, pemalas, penggoda wanita(bahkan wakilnya sendiri), tidak pernah serius. Tapi Divisi 8 tetap berjalan lancar karena Ise-fukutaichou.

Kalau begitu, mungkin Momo bisa. Selama ini dia bisa mengurus seluruh Divisi sendirian, dan tidak pernah ada masalah. Apa susahnya menambah satu monyet untuk diawasi?

Aku melirik ke Momo sebentar, melihat reaksinya. Dia tersenyum tulus, bahkan dari matanya terpancar rasa tidak sabaran untuk memeluk dan menyelamati Abarai.

Dan sebelumnya aku was-was dia akan sedih saat akhirnya posisi Aizen akan tergantikan. Bodohnya aku. Aizen bukanlah apa-apa lagi di mata Momo. Dia sudah lama melewati masa itu. Dan sampai sekarang aku masih khawatir. Sekarang baru aku bisa merasa lega.

Aku menenangkan ekspresiku, dan ikut bertepuk tangan kecil untuk si Monyet itu.

"Aku telah memberikan kepercayaanku padamu, jadi, jangan pernah mengecewakanku, Abarai-taichou." Kata Soutaichou serius, menatap tajam Abarai. Jadi, mulai sekarang aku harus memanggilnya Abarai-taichou…? Itu… agak… uhm, membuatku antara ingin muntah dan tertawa.

"Tentu saja, Soutaichou! Aku tidak akan mengecewakanmu!" jawab Abarai. Sesuai sifatnya, dia merasa tidak perlu repot mengganti kata 'aku' dengan 'hamba' atau 'saya', walaupun sedang berbicara dengan Sotaichou di saat begini. Perlu kau ketahui, khusus pada saat kau baru dinobatkan dan dinaikkan pangkatnya (apalagi dari tingkat bawah ke kelas wakil kapten/kapten) ada aturan tidak tertulis untuk berkata sesopan mungkin, mengganti kata aku dengan kata hamba dan semacamnya. Tapi, setelah beberapa dekade kau menjabat, kau akan merasa aturan itu tidak berguna dan tidak ada orang yang protes saat kau mulai tidak terlalu kaku. Itu hanya seperti… sesuatu yang membedakan orang baru dengan orang lama.

Yah, karena Abarai sudah lama di sini, dan tidak pernah sekalipun kudengar dia memanggil dirinya sendiri 'hamba', aku tidak terlalu mempermasalahkannya.

"Matsumoto-fukutaichou," panggil Soutaichou lagi. Aku menoleh ke arah Matsumoto dan baru teringat tempat mana yang tersisa untuknya. Aku membelalak lagi membayangkan Matsumoto berdiri berdampingan dengan kapten barunya.

"Kau akan menjadi wakil-kapten di Divisi ke 6."

Aku menahan nafas. Jantungku terhenti sesaat.

Sedetik kemudian aku mengehembuskan nafas dalam tanpa mengeluarkan suara.

Setelah semua kejadian-kejadian mengejutkan dan beberapa fakta yang membuatku menarik nafas tertahan, aku belajar untuk tidak mengambil setiap kejutan secara berlebihan. Cukup kaget seperlunya saja. Dua atau tiga detik sudah cukup.

Well, setidaknya aku akan berusaha—mungkin beberapa kejadian akan sangat mengejutkan, sampai aku tidak bisa mengontrol efeknya. Sudah banyak contohnya.

"Nana-fukutaichou," panggil Soutaichou lagi dan aku menegakkan badan. "Majulah ke tengah ruangan agar kita bisa menyelesaikan sumpahmu." Katanya lagi.

Tanpa ragu aku melangkah ke depan.

Sumpah Gotei 13. Itu adalah hal yang wajib kau katakan di depan kapten dan wakil kapten di Divisi kamu ditempatkan, untuk memberi janji kau tidak akan melakukan hal-hal bodoh pada Gotei 13.

Biasanya hal ini dilakukan bersamaan dengan Shinigami-Shinigami baru lainnya, dan disaksikan petugas kursi tinggi (kursi ke 10 sampai kapten), tapi sekarang sangat spesial, karena pertama kali diriku yang seorang cewek gila ini masuk Gotei 13, aku langsung menjadi fukutaichou, bukannya menjadi bawahan rendahan dulu, yang kerjanya hanya mengepel lantai.

(hanya supaya kalian tahu, aku juga sama dengan yang lainnya dalam hal itu. Meski hanya 3 hari, atau 1 minggu atau bertahun-tahun, tetap saja berarti kau pernah menjadi kelas bawah. Well, untungnya aku memutuskan mengikuti tes kenaikan jabatan dan… jabatan kaptenlah yang kudapat.)

Sebenarnya, ini tidak lebih dari sekadar formalitas. Tapi, dengan tekanan di bawah semua kapten ini, bisa jadi ini adegan yang sangat…menakutkan, atau setidaknya, SANGAT serius, bagi beberapa orang. Apalagi sekarang, setelah ada yang berkhianat.

Well, aku sudah pernah menjalani ini(walaupun tidak di hadapan semua kapten yang jauh lebih tegas dan menakutkan, bukannya aku takut), dan waktu itu aku sangat serius dengan apa yang kukatakan, sampai sekarang aku berpikir rasanya itu terlalu berlebihan. Jujur saja, saat itu aku agak gugup. Tapi, hanya bagian terkecil di pojok dalam sebuah titik di perasaanku.

Tapi sekarang, setelah pernah menjalaninya, aku tidak merasa ada sesuatu yang perlu aku takutkan. Cukup tenangkan dirimu dan gunakan topeng seriusmu.

"Ulangi perkataanku," perintah Soutaichou, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Dia membuka sebuah gulungan kertas (keramat) yang diberikan Sasakibe-fukutaichou.

Dia membacakan sumpah itu. Aku membuka mulut, menirukannya.

"Aku, sebagai salah satu anggota Gotei 13, akan berjanji untuk setia selamanya pada Gotei 13 dan tidak akan berbuat sesuatu dan/atau menimbulkan sesuatu yang bisa membahayakan keutuhan, keberadaan, maupun keselamatan anggota Gotei 13." Aku menyelesaikan sambil menatap Soutaichou serius. Setelah mengamati mataku beberapa saat dan yakin aku serius, dia melanjutkan.

Aku menirukan:

"Aku berjanji untuk selalu, setidaknya berusaha sampai batas maksimal yang bisa kuberikan, untuk menjaga ketentraman dan keseimbangan antara SoulSociety dan DuniaManusia."

Lagi:

"Aku akan selalu menuruti perintah Komandan-Jendral tertinggi (Soutaichou) yang menjabat dan tidak akan pernah melanggar perintahnya."

Soutaichou memandangiku lagi, memastikan kata-kataku benar. Dia menutup matanya beberapa menit kemudian. Aku sedikit relax.

"Bagus. Jangan sampai kau melanggar sumpahmu tersebut." Katanya.

"Hai." Jawabku mantap, tegas.

"Jadi, biarkan aku menekankan satu hal terakhir," kata Soutaichou terputus. Dia mengambil nafas dalam dan membuka matanya, menatap tajam ke mataku.

"Ada banyak peraturan yang harus kau taati, dan buku rinciannya akan diberikan padamu besok. Tapi, ada satu hal yang harus kutekankan sekarang, sebelum semuanya.

"Tidak ada hubungan antara Shinigami dan Manusia melebihi teman atau rekan."

Jantungku berdetak agak cepat, tubuhku agak menegang lagi. Aku merasakan hal yang sama dari sekelilingku.

Bukannya seperti aku punya perasaan dan niatan ingin menjalin hubungan dengan manusia. Mereka juga begitu, meski aku tidak yakin 100%.

Tapi, karena suaranya, penekanannya, beban berat dalam aturan itu, yang membuat kami semua agak menegang.

"Hai." Jawabku, berusaha tetap tegas.

Soutaichou menutup matanya lagi.

"Oh ya sudahlah. Tidak ada yang perlu kukatakan. Kalian dipersilahkan untuk keluar."

Aku terpleset. Aku cepat-cepat memperbaiki posisi (SoiFon-pun juga), dan menatap Soutaichou sambil melotot.

Ada apa dengan perubahan drastis nada bicaranya??

"Nana-fukutaichou, aku ingin berbicara empat mata denganmu. Ikut denganku." Kata Soutaichou, berbalik ke arah ruangannya saat semua sudah memberi hormat dan akan beranjak pergi. Satu-satu mereka pergi melewati pintu besar itu.

"Hai." Jawabku. Aku menyusul Soutaichou.

Di dalam, sudah ada teh panas yang disajikan, dan Soutaichou sudah duduk rapi di kursinya, seakan tidak pernah pergi dari awal. Pintu di luar tertutup bersamaan dengan aku menutup pintu ruangan Soutaichou.

Aku mendekati meja Soutaichou dan menunduk hormat.

"Apakah ada yang ingin anda bicarakan, Yamamoto-Soutaichou?" tanyaku.

"Angkat kepalamu, Nana-fukutaichou." Aku mengangkat kepalaku dan memandang Soutaichou.

"Bagaimana kabar… kapten barumu, saat kau tinggal tadi? Aku dengar dia terpaksa ditinggal di Divisi 10 dan menginap di kantornya sendiri?" tanya Soutaichou dengan nada basa-basi.

"Dia baik-baik saja, setidaknya terakhir saya melihatnya tadi pagi. Tapi mungkin nanti dia akan terbangun dengan sakit kepala." Kataku tenang, datar.

Setelah kemarin malam—adegan muntah-muntah yang menjijikkan itu—, setelah hampir saja dengan bodoh dan naïve-nya cewek sinting itu memberitahu Matsumoto bahwa kami bertukar tubuh, (oh YA, dia berniat melakukan itu, buat yang belum menyadari apa yang mau dikatakan kemarin. Dia pikir dengan mengatakan itu Matsumoto akan merasa lebih baik. Atau apalah. Di tengah-tengah keadaan setengah tidak sadarnya dia mengucapkan hal itu.), saat kami sedang dalam perjalanan ke rumahku, dia muntah lagi. Dan pingsan. Atau tertidur, bisa dibilang.

Yang aku ingat adalah, aku berusaha menyeretnya masuk ke kantor di divisi-ku, mengganti bajunya dengan pakaian bersih, meletakkannya di kamar yang ada di sana, yang memang khusus untukku, jika aku kerja lembur.

Sisanya benar-benar tidak berharga untuk diingat.

Dan perlukah aku ingatkan kalau aku sedang berada dalam tubuh cewek menyusahkan, dan memakai gaun konyol pula saat sedang membereskan kekacauan itu?

"Oh… begitukah…?" kata Soutaichou, tangannya mengelus-ngelus janggut panjangnya, terlihat berpikir. Aku menunggu dia memulai pembicaraan yang sebenarnya dengan tenang. Setelah beberapa detik, mata sipitnya terbuka dan memandangku tajam.

"Nana-fukutaichou, aku tidak akan basa-basi lagi dan langsung ke poin pembicaraan ini." Katanya tenang, sekarang tidak terlalu terdengar seperti orang tua sakit-sakitan.

"Aku sudah melihat data siswa Akademi Shinigami-mu." Katanya serius.

Jantungku berdetak keras. Keringat dingin mulai mengalir di leherku. Dia tetap memandangku tajam.

"Di sana tertulis… bahwa kau baru masuk Akademi 11 bulan yang lalu, dan sama sekali tidak ada tanda dalam waktu dekat kau akan bisa menggunakan shikai."

Aku terdiam, pandanganku jatuh ke meja Soutaichou.

Apa yang harus kukatakan? Kalau aku jujur sekarang, sudah terlambat. Bisa-bisa aku dihukum karena tidak menyampaikan berita secepatnya.

"Yah, tampaknya latihanmu belakangan ini sangat berguna. Apakah benar, kau mendapatkan shikaimu sebelum kau bertemu dengan Hitsugaya-taichou?" tanya Soutaichou.

Aku berkedip beberapa saat. Apa? Aku tidak tahu apa-apa tentang itu.

Ah! Masa bodoh! Aku hanya tinggal mengarang cerita saja… hm hm hm… tunggu…

"Ah… ya. Kami… sempat bertabrakan di koridor, dan dia menyadari reiatsu hamba yang besar—setidaknya itulah yang dikatakannya. Tapi guru hamba di Akademi tidak pernah berkata demikian. Hitsugaya-taichou mengatakan dia ingin melihat shikai hamba, dan hamba menurutinya. Sebenarnya, hamba baru satu kali memanggilnya saat itu. Hamba baru saja akan menunjukkannya pada guru hamba siang itu." Jelasku, mengarang. "Hamba tidak menyangka akan menjadi seperti ini." Tambahku lagi, agar tambah meyakinkan.

Semakin lama otakku makin mudah diajak berbohong… Itu hal baik atau hal buruk?

"Oh… begitukah…?" Soutaichou terdiam lagi, tangan mengelus-elus janggut, pura-pura berpikir. (ada yang mengalami déjà vu di sini? Karena aku mengalaminya.)

Suasana begitu hening sampai detak jantungkupun terdengar. Aku menyadari ternyata jantungku berdetak lebih keras dari biasanya.

"Jadi… nama Zanpakutou-mu adalah…" kata Soutaichou terputus, menantiku menjawab. Aku langsung menjawabnya.

"Kuroka." Kataku seadanya. Hanya itu identitas yang kuketahui. Aku tidak tau dia berwujud binatang apa, atau memang hanya seorang perempuan? Satu-satunya yang paling jelas pada Zanpakutou itu adalah elemen apinya.

Soutaichou terdiam, matanya sipit dan menurut pandanganku dia setengah tidur. Aku menunggu beberapa saat sambil tetap menatapnya serius, padahal dalam hati aku sibuk menanyakan kesadaran orang tua itu. Apakah dia tertidur?

Aku masih ingat betapa tidak warasnya dia bisa menerima aku masuk ke Gotei 13 hanya dengan satu pertandingan kecil saja, mengingat aku hanya seorang murid shinigami yang bahkan masih jauh dari lulus.

"Kalau begitu, kau sudah boleh kembali ke Divisi-mu. Sebelum itu aku minta kau mendatangi Sasakibe-fukitaichou untuk diberitahu lebih lanjut tentang tugas-tugasmu sebagai letnan pertama (wakil-kapten) di Divisi. Dia juga akan memberitahumu lebih lanjut tentang aturan-aturan yang perlu kau taati." Kata Soutaichou datar. Aku hanya mengangguk dan menggumamkan 'hai' kecil, tidak mempertanyakan betapapendek dan agak tidak bergunanya obrolan ini.

Aku berjalan kea rah pintu, dan saat di ambang pintu, aku mendengar Souatichou memanggilku dan bertanya.

"Kenapa kau tidak punya…"

Aku mengerutkan kening, tidak menangkap bagian terakhir. "Maaf, Yamamoto-Soutaichou. Hamba tidak mendengar bagian terakhir itu." Kataku sopan, agak penasaran. Apa yang ingin diucapkan Soutaichou?

Soutaichou tersenyum datar dan menggelengkan kepalanya, untuk kesekian kalinya dia mulai terlihat seperti kakek-kakek biasa. "Tidak ada." Katanya.

Aku mengerutkan kening dalam hati dan akhirnya menunduk hormat, lalu berbalik dan pergi ke tempat Sasakibe-fukutaichou.

-

-

-

Nana's POV

Aku membuka mata dan tanganku langsung otomatis melindungi mataku dari cahaya yang tiba-tiba.

Bintang bertebaran di mana-mana, langit-langit di atasku terlihat begitu bercahaya. Mataku mengkerut, kepalaku pun terasa berdenyut. Tidak pernah sebelumnya aku bangun dengan perasaan se-tidak enak ini.

Aku menolak untuk bangun dan makin menenggelamkan diri di selimutku, tapi saat berbalik, perutku terasa berputar, perasaan mual mulai merambat… tidak ada yang lebih kuinginkan dari tidur sekarang. Aku mengerutkan diri, menarik selimut rapat-rapat di sekelilingku dengan harapan mendapat kehangatan yang nyaman.

"Ungh…"

Mataku terbuka dengan otomatis, sensor bahayaku langsung menyala. Dalam satu detik aku bangun duduk, mataku langsung melihat sekeliling dengan waspada.

Suara siapa itu?

Sedetik kemudian kenyataan menabrakku keras dan aku jatuh ke kasur lagi.

"Arrrgh," aku mengerang keras saat aku merasakan akibat dari gerakan duduk tiba-tiba tadi. Badanku pegal, seperti habis push-up beberapa ratus kali, dengan satu jari. Tapi, sekarang seluruh otot di badanku terasa pegal, setiap gerakan yang kubuat untuk mencari kenyamanan di kasur ini malah semakin menyakitkan.

Kenapa aku seperti ini? Apa yang terjadi kemarin?

Sekarang aku sudah ingat, aku bertukar tubuh dengan Toushirou. Untuk sekejab tadi ingatanku hilang. Tapi… ingat-ingat, Nana… apa yang kaulakukan semalam? Kenapa badanmu pegal begini? Kenapa aku merasa ingin muntah?

Aku terus berpikir, berusaha mengingat kejadian kemarin malam yang samar-samar terlihat di bayanganku. Sementara itu aku masih bergerak-gerak gelisah mencari posisi yang paling nyaman, tapi sepertinya setiap posisi makin membuat tubuhku mendenyut pegal.

Otakku tidak bisa berpikir jernih.

Selain seluruh ototku serasa mengkerut, tenggorokanku gatal, bahkan bisa dibilang sakit, dan aku merasa aku belum minum air selama satu minggu. Mulutku kering dan terasa menjijikkan, seperti ada asam menempel di gigiku, dan inilah salah satu faktor yang membuatku ingin muntah. Tapi, aku lebih menginginkan air dari apapun saat ini. Atau tidur untuk melupakan semuanya.

Perutku terus berputar dari tadi, melilit dan memaksa isinya naik ke tenggorokanku, walaupun aku tahu lambungku sudah lama kosong.

Yang paling parah, kepalaku berdenyut keras, dan ketika aku mencoba menganggkat kepala dan melihat di mana segelas air berada, dunia berputar dengan keras dan pandanganku langsung gelap lagi.

Setiap senti dari tubuhku menderita, dan aku bisa merasakan airmata mulai terbendung di mataku. Aku tidak pernah se-sakit ini sebelumnya. Satu dua kali demam atau flu, tapi tidak pernah se-menderita ini.

Dan lagi, saat aku demam, ada orang yang merawatku, yang memberiku minum saat aku membutuhkan, dan ada sepasang tangan kecil yang menggenggam tanganku, khawatir dan menenangkanku. Sekarang aku sudah tidak bisa bertemu kedua orang itu lagi.

"Hei, kenapa kau menangis?" tanya sebuah suara yang sangat familiar, yang terdengar setiap hari keluar dari mulutku. Well, setidaknya sebelum kami bertukar tubuh. Nadanya kaget dan bingung, dan aku tau orang itu tidak terbiasa dan tidak berdaya melihat airmata.

Tidak peduli hal lain, aku langsung menengadah, membuka mata ke arah suara dengan penuh harapan.

"Toushirou…" kataku lemah dan kering, suaraku hampir tidak terdengar. Aku menatap wajahnya yang terlihat kaget, alis berkerut dan mata menatapku balik. Wajahnya agak terlihat kabur karena air mataku.

"Apa—? Sejak kapan aku mengijinkanmu memanggilku dengan nama depan—hei!" dia mulai memprotes tapi aku tidak mendengarkan. Aku langsung saja mendorong badanku sekuat mungkin dan mencengkram sosoknya yang lebih kecil dariku.

"Eh—OI! Apa yang kau—" katanya, dan aku mendengar nada panik berlebihan. Aku tau cowok ini memang anti-sosial, jadi aku rasa dia tidak terbiasa orang menyentuhnya, apalagi memeluknya dengan seluruh energi kehidupan yang masih tersisa.

Untungnya dia tidak jatuh, dan cukup kuat untuk menopangku dalam posisi duduk. Dengan adanya sandaran, pusingku sedikit berkurang dan entah bagaimana tirai rambut halus yang menyentuh wajahku serta wangi shampoo-nya menenangkanku.

Aku mencoba berkata, tapi tidak keluar suara. Dia menyadarinya dan menunggu. "…air…" kataku lemah, sebuah suara yang seperti berasal dari hantu.

***

Hitsugaya's POV

Sejam setelah itu, yang diisi dengan suara 'hoeeekkk' 'ugh' 'to-hiro' 'huekkk' dan aku membersihkan lantai, membersihkan hakamanya lagi, dan buru-buru menggotongnya ke toilet, dan beberapa hal lain yang sangat tidak perlu diingat, Unohana datang ke ruanganku.

Aku merasakan reiatsu-nya di luar pintu ruang kerjaku, dan hampir saja berteriak 'Matsumoto', dan aku teringat bahwa akulah wakilnya sekarang.

Dengan menghembuskan nafas lelah aku berjalan ke pintu menuju ruang kerjaku. Aku mencuri satu pandangan lagi ke sosok putih menggumpal di atas kasur untuk memastikan dia tidak akan muntah dalam waktu dekat.

"Selamat siang, Unohana-taichou." Kataku membuka pintu dan membungkukan badan menghormat. Kalau aku adalah diriku yang biasa (seorang kapten) aku hanya perlu menyapanya sekadarnya. Tapi aku melihat beberapa shinigami lebih rendah yang sedang berjalan dan aku terpaksa memerankan peran 'wakil-kapten'ku.

"Hai, Nana-chan." Jawab Unohana dengan senyum lembut. Aku mundur sedikit dari pintu dan mempersilakan dia masuk. Aku melihat Unohana membawa barang yang terbungkus kain warna biru tua dan aku berharap isinya adalah penghilang mual, atau penghilang sakit kepala agar anak bayi di kasurku itu bisa sedikit tenang. Dia cengeng sekali.

"Bagaimana Nana?" tanya Unohana langsung, sambil memerhatikan sekeliling. Dia tampak sedang menilai sebersih apa kamarku, layak tidak ditinggali, dan menilai standar kebersihanku.

Sayangnya, dia tidak menemukan hal yang tidak perlu dikomentari. Standarku hampir sama dengan standarnya dan aku hampir tidak bisa membiarkan benda-benda tidak pada tempatnya. Tanganku pasti gatal untuk membereskannya.

"Baik-baik saja. Untuk orang yang tidak pernah minum alkohol dan langsung menenggak dua botol." Kataku, sarkatisme mulai memanjat dari tenggorokanku. Aku berusaha menahannya.

"Ini," Unohana berbalik dan memberiku sebuah kotak kecil dari dalam bungkusan itu. "Ini akan membantunya menghilangkan sakit kepala dan mualnya. Juga rasa pegal-pegal dan lemas." Lanjutnya.

Aku menghembuskan nafas lega dan menerima kotak kecil itu dengan penuh rasa syukur. Setidaknya dia akan sedikit diam.

"Dan ini," Unohana mengeluarkan satu kotak lagi, kali ini lebih besar, dan ada dua.

"Ini adalah pil yang biasa diminum pasien amnesia karena kecelakaan. Pil ini bisa memulihkan shock dan membantu membangkitkan lagi memori yang hilang. Aku mangansumsikan kejadian kalian berhubungan dengan ini. Mungkin ingatan kalian tertukar?

"Jadi, daripada duduk diam dan menunggu saja, lebih baik kita mencoba sesuatu kan? Lagipula pil ini tidak memiliki efek samping." Lanjutnya.

Aku memandangi kotak yang sekarang terlihat sedikit bersinar itu.

Penyelamat hidupku!

…walaupun kemungkinannya agak kecil.

"Berapa kali sehari? Biasanya orang amnesia akan sembuh dalam berapa hari?" kataku penuh harapan, menerima kotak itu dan langsung membukanya.

"Dua kali, kalau amnesianya parah. Saat sebelum tidur dan saat makan pagi. Kau boleh minum satu sekarang." Kata Unohana dan aku tanpa pikir panjang lagi langsung memasukkan satu ke mulutku dan menelannya bulat-bulat.

"Biasanya… pasien akan sembuh setelah beberapa bulan. 3-4 mungkin…?"

Aku terbatuk keras dan pil itu loncat lagi keluar.

"Tiga atau empat?? Yang benar saja!" teriakku tidak percaya. Yang benar saja… aku akan tersangkut di tubuh ini selama empat bulan?! Bagaimana dengan pekerjaanku??

"Ya. Dan tidak ada yang bisa kulakukan dengan itu. Kalau bisa, pasti sudah kuusahakan." Kata Unohana tetap dengan senyum lembutnya, tapi aku merasakan nada final dan agak tersinggung, jadi aku diam saja. Aku merasakan sedikit tekanan dari Unohana.

"O-oke…" kataku menurut saja. Aku mengambil satu butir pil itu lagi dan menelannya bulat-bulat, sebagai pengganti pil yang tadi kumuncratkan. Aku menyimpan obat itu di atas sebuah meja kecil, agar aku ingat membawanya ke rumahku dan memberikan satu kotak lagi untuk sang bayi.

Bicara tentang bayi.

Dia cengeng sekali. Menangis hanya karena tidak bisa menahan sakit. Apakah sakitnya separah itu? Aku tidak pernah mabuk, jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya itu di pagi hari setelah aku minum-minum. Tapi aku rasa tidak akan separah itu. Sampai perlu menangis segala. Dia selalu menangis. Airmatanya terus mengalir tanpa henti. Bayi cengeng.

"Baiklah kalau begitu, Hitsugaya-taichou. Aku akan pergi dulu, aku masih banyak tugas di divisi." Kata Unohana berbalik lagi padaku.

"Ah—oh, iya. Terimakasih, Unohana-taichou." kataku. Setelah pamit dan memberitahu beberapa hal tentang orang mabuk, dia pergi menuju divisinya.

Aku menghela nafas dan menutup pintu geser itu.

Tanganku otomatis melayang ke kepala, mengurut-ngurut kepalaku yang rasanya berdenyut stress.

Masalah tidak pernah berhenti bagiku.

Kecil maupun besar.

Aku menyambar kotak obat milik sang bayi, dan berjalan memasuki ruang tidur. Dia masih tergeletak lemas di sana, posisi melingkar dan mengerutkan badan sebisa mungkin.

"Hei," panggilku. Dia mendongak.

Matanya merah dan lebar, terlihat sekali habis menangis. Pipinya terlihat kemerahan juga, efek dari tangisnya. Kantung matanya terlihat, alisnya berkerut. Mulutnya kering dan rambutnya berantakan. Lebih terlihat seperti orang sakit daripada orang yang baru saja mabuk.

Aku merasakan sedikit denyutan di dadaku.

Bagaimana bisa dia memasang wajah anak-anak yang 'terluka' seperti itu di wajahku? Bahkan membuatku merasa—agak—bersalah, dan kasihan padanya. Padahal itu wajahku sendiri… aku hanya tidak tega melihat ekspresi begitu.

Sedingin apapun aku, aku masih punya perasaan.

Aku memelankan dan mencairkan sedikit suaraku. "Aku akan ambilkan air."

Aku kembali dengan segelas penuh air hangat, aku duduk di kasur itu dan mengambil pil-pil yang perlu dia minum.

Aku menyerahkan pil itu padanya. Dia berusaha bangkit keposisi duduk dengan susah payah dan berkata lemah, "Apa ini?"

Suara seraknya itu makin membuatku tambah tidak tega untuk membentaknya.

"Pil, untuk sakit kepalamu dan perasaan mual," kataku semakin mencairkan nada bicaraku, walaupun masih terdengar agak keras.

Aku tidak bisa. Suaraku tidak bisa sedingin yang kuinginkan, melihat wajah dan mendengar suaranya. Hampir seperti dosa jika bersikap kasar padanya. Anak kecil malang yang ada di depanku ini.

(Aku mau muntah kalau memikirkannya ulang.)

Dia memandang sesaat pil itu dengan wajah… takut?

Untuk sesaat dia ragu, tapi dia akhirnya mengambil pil itu dan menelannya sekaligus dalam satu teguk.

Dia terdiam sesaat, mata tertutup rapat dan terlihat sedang berusaha untuk tidak memuntahkan obat itu.

Beberapa detik kemudian dia menghela nafas dan langsung jatuh berbaring lagi.

Aku ikut menghela nafas lega dan mengambil gelas dari tangannya, lalu berbalik ke dapur.

Aku menghidupkan keran, mengaliri gelas itu dengan air dan mengambil sabun, mencucinya. Aku kembali teringat wajahnya, dan teringat akan kenangan saat kecil, saat seseorang yang bisa kusebut dengan teman, Momo, terbaring di futon. Saat itu demamnya sedang tinggi, dan setiap aku melepas tangannya dia pasti akan menangis.

Mereka memiliki ekspresi yang sama. Sakit, lelah.

Tiba-tiba kemarahan bergejolak di dalam diriku. Kenapa aku mengkhawatirkannya??

Momo, ya, boleh saja aku mengkhawatirkannya. Dia adalah orang pertama yang tidak lari ketakutan melihatku, melihat keanehan penampilanku. Dia orang pertama yang bisa kusebut teman. Walaupun aku tidak pernah mengakuinya, dia berharga bagiku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindunginya.

Tapi, siapa dia??

Seorang cewek menyebalkan, yang mengganggu hidupku yang seharusnya sudah bisa tenang (dalam artian hanya masalah Matsumoto) lagi setelah Aizen mati, Momo terselamatkan, dan tidak ada tanda Aizen akan bangkit lagi—tidak ada yang tahu sebatas mana kekuatan Aizen yang sebenarnya.

Dia hanya seorang cewek kekanakan, egois, tidak pikir panjang dan bodoh. Idiot.

Yang dengan hebatnya bisa membuat sosok Hitsugaya Toushirou menampilkan ekspresi kekanakan. Tertawa polos tanpa maksud. Dan sekarang menampilkan ekspresi anak-anak yang terluka.

Oh Tuhan.

Kalau dia benar ada, aku akan membekukannya dengan Hyourinmaru.

…kalau aku sudah bisa memakainya lagi.

UGH.

Oke, tenangkan dirimu, tarik nafas. Keluar. Bagus.

Walaupun dia se-menyebalkan apapun, dia tetap sedang ada di dalam tubuhku sendiri, Jadi aku akan merawat tubuhku sendiri sebagaimana seharusnya.

Jadi, aku membuat makanan.

Bukan bubur sih, aku malas menunggu. Lagipula, tidak pernah kudengar kalau orang mabuk harus diperlakukan sama dengan orang demam. Dia mabuk, bukan demam, jadi, yah.

Aku membuat misosiru(1) dan fillet ikan. Aku menyiapkannya di atas meja dan mengisi mangkuk dengan nasi.

Nah, sekarang… Aku akan membawanya ke sana, atau aku paksa dia ke sini?

"Hmmm… kelihatannya enak."

Aku menoleh ke belakang, mata membelalak dan refleksku siap untuk memukul balik lawan di balikku.

"Buatku?" tanya seorang cowok memakai hakama putih, yang sewarna dengan rambutnya. Matanya berbinar senang.

Aku sedikit memandangnya sinis. Ternyata hanya dia.

"Ya," jawabku singkat dan detik berikutnya dia sudah menarik kursi dan duduk dengan semangatnya. Adegan ini benar-benar mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang merupakan temannya. Reaksinya sama persis dengan Na—siapa namanya, oh—Natsumi.

Aku menghela nafas dan mengambil nasiku sendiri, lalu ikut duduk. Aku juga belum makan.

"Itadakimasu!!!" teriaknya dengan riang, lalu langsung menyambar sumpit (ck.) dan makan. Dengan semangat. Dan berantakan.

Aku memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Terlalu banyak yang harus aku urus. Siapapun yang membuat kekacauan di ruanganku, maka dialah yang harus membereskannya. Tidak. Peduli. Apapun.

"Jadi, kenapa tiba-tiba kamu semangat sekali? Perasaan baru semenit yang lalu kau terbaring tak berdaya." Kataku dengan sarkatisme yang tajam.

Tapi tampaknya dia tidak sadar. "Ya, setelah minum obat itu aku merasa jauh lebih baik! Rasa mualku hilang, badanku juga sudah kembali seperti semula. Obat itu ajaib sekali!" katanya riang, seperti anak kecil yang baru menemukan fakta

Ugh. Sekali lagi, aku akan mengulanginya.

Dia ada di dalam tu-buh-KU.

Dia melanjutkan makan dengan semangat, dan aku ikut makan. Dalam hati, aku sibuk memikirkan kata-kata yang cocok untuk dibawanya. Seperti; Bodoh, Tolol, Sialan, Seenaknya, Sombong, Kurang ajar… list-nya masih terus berlanjut.

-

-

-

TBC…

(1)Soup Miso. Sup khas Jepang gitu deh… hehehe.

-

Agak NGGAK MUTU. Pendek banget. Aku tau. Tapi apa boleh buat, aku nggak tega ngebiarin lebih lama lagi.

Untuk percakapan dengan Soutaichou, aku sengaja make "hamba", karena kesannya lebih kuno dan cocok buat hubungan yang kolot… (maksudnya, bukan majikan dan bawahan, tapi lebih kayak raja dan prajuritnya… master dan ninjanya… pada zaman dahulu… hahaha) tapi kok jadi rada aneh ya? Mungkin juga keselip-keselip "aku"… -__- anggap aja itu salah Hitsu, kebiasaan ngomong sama bawahan sih, jadi keceplosan xP.

OH YA, waktu dua bulan pembuatan chapter ini (sebenarnya nggak dua bulan. Aku mulai tulis ini beberapa minggu yang lalu… sebulan kemarin itu aku sibuk skul—ada acara turnamen basket gitu deh, aku termasuk panitia utama, ada Halloween, terus… nggak penting deh— dan nonton anime… hehe. GOMEN MINNA-SAN! Dx) aku baru nonton Diamond Dust Rebellion.

DONLOD. Saking niatnya.

KEREN SEKALIIII!!! xDD

Lovelovelovelovelovelove HITSU!!!! xDD

(hehe, mungkin udah ketinggalan banget sih… yg lain pasti udah nonton kan? Dan FYI nih… aku juga nggak nonton anime bleach lho… Cuma dikit. Lompat2 pula… manganya juga nggak baca… Cuma pernah baca vol 1-9… minjem, pula! Menyedihkan!!! Dx Fans macam apa aku ini?!)

Btw…

Respons!

Kirazu Haruka-MAAP telat update!! entah kenapa author's block terus aja menghantuiku… T-T SANKYU! xD hahahahah. Ini updatenya! Thx udah nge-review! xD

101 hiru-san-MAAF!!! Maaf banget, Hiru-san! . Tapi, makasih chapter 11 udah dibilang keren!! xD yang mau dibilang sama Nana itu… dia mau mengaku kalau dirinya itu bertukar tubuh dengan toushirou, udah baca kan? ^^ ini updatenya!thx atas reviewnya!

Red-Deimon-Beta-THANKYOU! xD hehehe… gapapa, aku juga sering lupa review ;) hehehe. Thx buat reviewnya, Red-chan!! xD

Chapter 11 ini reviewnya Cuma tiga… T-T Tapi, aku ngerti kok… aku tau diri, udah updatenya lama, masa minta review banyak? Tapi aku harap chapter 12 ini lebih banyak yang ngasi pendapatnya… ^^

-

love (for u readers), Double love (for u who alert-ed my story), More love(for u who fav-ed my story), and A LOTS MORE love (for u who reviewed!!!! X3),

Cherrylime x)

P.S: 'Writing a review takes a minute, but the pleasure of reading it lasts ALL DAY.' Quote yang paling kusuka x3 hope you like it too x) –no pressure intended-.