Yoongi sudah merasa segar. Ia baru saja selesai menata rambut dan matanya melirik pada bunga dan catatan kecil yang tadi pagi Jimin berikan padanya. Yoongi tersenyum kecil. Menyentuh mawar kuningnya dan semua pikiran tiba-tiba muncul dalam otaknya.
Yoongi tak pernah menyangka jika Jimin sosok yang romantis. Jimin sosok yang benar-benar manis. Dulu saat masih mengagumi Jimin, terkadang Yoongi memikirkan bagaimana Jimin di belakang kamera. Apakah suka tersenyum seperti saat Jimin menghadiri suatu variety show? Apakah Jimin sehangat layaknya video dimana Jimin sering sekali memeluk teman-teman idol pria lainnya.
Nyatanya,
Jimin benarlah sosok yang begitu hangat. Hangat hingga rasanya Min Yoongi ingin selalu didekap Jimin.
Namun sore ini Jimin sama sekali tak terlihat. Jadi Yoongi memutuskan untuk keluar kamar dan mencari Jimin. Senyum Yoongi langsung tercetak saat melihat Jimin duduk di sofa yang dekat dengan jendela. Fokus pria itu adalah pemandangan luar, dengan segelas wine pada tangan Jimin. Sore hari Jimin sudah dengan wine saja, gumam Yoongi.
"Jimin?" Panggil Yoongi pelan lalu duduk tak jauh dari Jimin.
Jimin hanya menoleh dengan diam, dan membuat Yoongi merasa kikuk. "Sedang apa? Kau sudah mandi?"
"Sudah. Kau lapar?"
"Sedikit."
"Aku menyiapkan potongan buah di kulkas, bisa kau makan. Biar kuambilkan saja." Jimin berdiri meletakkan wine pada meja kayu dan berjalan ke arah dapur. Entahlah perasaan Yoongi saja, atau memang ada yang berbeda dengan Jimin, suara Jimin terdengar berbeda. Yoongi menggeleng dengan cepat, membuang jauh-jauh perasaan buruknya.
"Ini." Jimin menyerahkan kotak makan berisi beberapa potong buah dan Yoongi menerima dengan senang hati. Namun keningnya berkerut saat tangan Jimin yang lain juga tengah memegang sebuah kaleng. Kaleng beer.
"Kau minum beer Jimin?" Maksudnya, untuk sekarang di tempat seperti ini.
"Yap." Mereka diam. "Yoongi, katakana lagu apa yang kau sukai dariku?" Yoongi tersenyum lebar, mengunyah buah apelnya lalu menelannya cepat agar ia bisa menjawab pertanyaan Jimin dan berharap Jimin menyanyikannya sekarang.
"Serendipity, covermu yang we don't talk anymore, house of cards, Love is not over, tony Montana- ah masih banyak lagi."
"Kau mendengarkan semua laguku?" Yoongi mengangguk ragu.
"Bagaimana penampilan konserku? Menakjubkan?"
"Huh?"
"Berapa post di akun twitterku yang sudah kau like?"
"Berapa jam dalam sehari kau mendengarkan laguku?"
"Ah apa semua foto yang aku upload di sns semua sudah kau simpan? Foto fansites juga sangat bagus, memang cocok untuk di simpan. Konser dua tahun lalu saat aku melempar bunga mawar, apa kau bisa menangkapnya. Ah bisa kau beritahu penampilan mana yang membuatmu merasa takjub padaku?"
"Jimin?" Jantung Yoongi berpacu dengan kencang.
"Katakan yang sesungguhnya. Apa maumu? Kau menyukaiku dan terobsesi padaku lalu melakukan semua ini? Berbohong padaku? Menghancurkan karirku?"
"J-jimin apa maksudmu?"
Braak
Jimin melempar kaleng pada tembok dan jelas membuat Yoongi terlonjak sangat kaget. Jimin tengah marah besar.
"Kau iblis Yoongi. Menyamar menjadi sosok lugu yang masuk ke dalam hidupku. Datang padaku menuntut perut yang ada dalam kandunganmu adalah anakku, berlagak kau membenci seorang Park Jimin, namun nyatanya kau salah satu fans gilaku. Yoon-" Yoongi membola saat melihat Jimin meneteskan air mata "Setelah semua yang terjadi. Ternyata kau membohongiku?" Jimin melirih di akhir kalimat lalu menunduk.
Yoongi diam, bungkam seribu bahasa. Matanya sama sekali tak dapat berkedip saat ia menyaksikan Jimin menyeka matanya. Jantung Yoongi seolah berhenti berdetak.
"K-kau membohongiku Yoon. S-setelah aku mulai menyukaimu, menerimamu, kau ternyata membohongiku? Kau tahu bagaimana gilanya aku saat tiba-tiba kau datang pada hidupku berkata kau mengandung anakku? Kau tahu, aku nyaris bunuh diri." Yoongi meneteskan air mata "Kau tahu bagaimana beratnya aku memikirkan masa depanku? Hidupku? Karirku? Kisah cintaku? Masa tuaku? Aku ingin mati saat itu Yoon. Lalu tiba-tiba ada bisikan bahwa aku juga harus merasakan penderitaanmu, bahwa aku juga harus mengenalmu dengan dalam. Bahwa kau juga sakit sepertiku. Aku mulai menerimamu, menanam jauh rasa benciku. Dan setelah sejauh ini ternyata kau membohongiku?" Jimin mengambil nafas dengan dalam, dadanya nyaris sesak bahkan ia sulit bernafas "Kau layaknya fans gila yang menginginkanku. Dan dengan cara begitu menjijikan Yoon. Aku-aku tak habis pikir. Bisa kau jelaskan, siapa anak itu?" Jimin melembut, namun matanya begitu menusuk Yoongi.
Apa yang harus ia lakukan? Ia bahkan tak pernah menyangka Jimin akan mengerti semua ini. Tahu bahwa Yoongi adalah salah satu fans Jimin. Tahu bahwa Yoongi tergila-gila dengan Jimin.
"Dia anakmu." Jawab Yoongi bergetar "Aku tak bohong soal ini. Ini anakmu. Aku ingin menjelaskan sesuatu." Jimin diam menanti.
Jimin bukanlah tipe yang mau mendramatisir suatu masalah. Jadi ia akan diam mendengar Yoongi menjelaskan semuanya,sekalipun dalam hatinya, ia sangat membenci Yoongi saat ini.
"Kala itu, seseorang menelepon kami dan meminta minuman, aku di paksa membawa minuman oleh temanku, dan berakhir aku masuk ke dalam kamarmu. Awal aku berniat meninggalkanmu karena kau meracau tidak jelas. Saat itu kau sangat mabuk. Tubuhku kecil, bahkan aku tak bisa mendorongmu menjauh dariku. Sekalipun saat itu jantungku seolah melambung menyaksikan idolaku berada tepat di depan wajahku. Tapi aku juga masih berpikir realistis bahwa itu salah. Salah. Namun aku tak dapat berbuat banyak. Kita melakukannya." Yoongi meremas kotak makan berisi buah dalam pangkuannya. "Dari awal aku tak meminta apapun darimu, kecuali marga. Orang bilang, anak akan merasa sakit jika ia terlahir dengan marga ibunya, seolah ia adalah anak yang tak di harapkan dan terjadi karena sebuah kesalahan." Mata mereka saling bersitatap. Yoongi menyukai Jimin yang mau diam dan mendengarkannya, ia menyukai Jimin yang tidak membabi buta , Yoongi mencintai Jimin
"Dan soal aku menyembunyikan kisahku tentang siapa aku sesungguhnya, itu karena setelah aku dinyatakan hamil aku sangat membencimu. Sangat. Bahkan aku tak melihatmu sebagai idola yang ku kagumi. Aku menyembunyikan ini semua karena-karena aku tak mau di anggap seperti sekarang ini. Fans gila yang ingin sekali memilikimu." Yoongi menelan salivanya kuat, sekuat tenaga menahan tangis, oh, sedari tadi Yoongi sudah berusaha begitu tegar "Aku mencintaimu bahkan aku tak ingin kau kehilangan karir ataupun Seulgi." Yoongi tak kuasa, ia menunduk, menangis. "Maaf."
Jimin menghela nafas "Kemasi barangmu. Kita pergi malam ini juga-" Jimin berdiri lalu menatap Yoongi yang masih menunduk "Kita datangi kuasa hukumku, membuat perjanjian, dan aku mengembalikanmu pada apartemenmu. Kurasa," Jimin memalingkan wajah "Kita berakhir Yoon." Lalu berjalan menjauh.
Dan tangis Yoongi pecah namun ia sama sekali tak mau menjerit.
Semua memang salah Yoongi
.
.
.
Mereka membisu.
Perjalanan kali ini rasanya begitu menyakitkan bagi mereka. Yoongi yang hanya menatap keadaan luar yang gelap dan Jimin yang fokus pada kemudi.
Yoongi masih ingin menangis, namun ia merasa tak pantas menangis di depan Jimin. Seolah ia masih layaknya fans gila yang mengharapkan Jimin untuk tidak meninggalkannya. Jadi ia tetap diam. Yoongi bahkan tak mau menyentuh perutnya. Ia.. ia merasa begitu bodoh.
Jimin pun selama mengemudi, otaknya di penuhi dengan apa saja yang sudah terjadi dalam hidupnya. Dadanya begitu nyeri bahkan hanya merasakan Yoongi duduk diam di sebelahnya. Jimin merasa begitu di bohongi mati-matian. Ia merasa di jebak.
Tapi anak dalam kandungan Yoongi adalah anaknya. Tetap saja. Itu anak Jimin.
Namun bersama Yoongi adalah pilihan yang buruk. Jimin tak akan tahu rencana apalagi yang akan datang.
Sekalipun dalam hati kecilnya, Jimin bahkan tak sanggup melihat Yoongi menangis.
Karena suasana malam yang begitu sepi, mereka sampai lebih cepat. Jimin memakirkan mobil dan mematikan mesin, lalu menoleh pada Yoongi yang tengah tertidur. Jimin membeku.
Ia dapat melihat pipi tembam Yoongi, bibir Yoongi yang terkatup, mata sembab Yoongi, deru halus nafas Yoongi yang terdengar jelas di telinganya, tangan kurus Yoongi.
Jimin tak mau bohong dengan hatinya. Ia sudah menyukai Yoongi.
Namun semua terjadi, Jimin takut, Jimin takut bahwa Yoongi akan semakin menenggelamkannya. Jimin takut bahwa Yoongilah alasan Jimin mati. Jimin takut, Jimin takut bahwa ia akan membenci Yoongi.
"Yoongi-" panggilan pertama Jimin sudah membuat Yoongi membuka mata. Terlihat jelas bahwa wanita itu merasa kaget , ada rasa sedikit menyesal dalam hati Jimin "Kita sudah sampai di rumah pengacaraku. Kurasa ia sudah merampungkan apa yang aku katakan. Pengacaraku akan menjelaskan semuanya.-" Jimin menjeda "Kuharap perceraian kita berakhir dengan diam-diam Yoon. Kau harus mendatangani perjanjiannya."
Malam itu, Yoongi dapat merasakan bagaimana sinar bulan mulai menghilang, awan-awan hitam melaju dengan kencang seolah bersiap menguasai bumi. Rasanya ia juga kini berada dalam lingkaran awan gelap yang siap melahapnya.
Mungkin Yoongi juga akan ikut , redup.
Ia bahkan belum sempat mengatakan bahwa , ia mencintai Jimin dengan dalam, tanpa mengharapkan sesuatu apapun. Berharap bahwa Jimin selalu bahagia. Dan berharap bahwa, Jimin tak pernah bertemu dengannya dan membuat Jimin hancur.
.
.
.
Tbc heheheheheheh
Maaf yah
