WARNING!
IT'S CHENMIN/XIUCHEN! SLIGHT CHANBAEK, HUNHAN, XINGDAE/LAYCHEN! BOYxBOY! HOMOPHOBIC MENJAUH, GAK USAH DEKET DEKET SANA HUSH HUSH!
RATE SUATU SAAT BISA NAIK JIKA AUTHOR SEDANG MOOD :v
ALUR GAJE, CERITA PASARAN, BAHASANYA JUGA ACAK KADUT, NO JUDGE PLEASE :))
SELAMAT MEMBACA
.
.
Drap drap drap, bruk!
Jongdae kaget ketika Minseok menyimpan tasnya kasar setelah berlari di koridor. "Kau kenapa? Dikejar setan?" Ledeknya. Minseok menggeleng, mukanya merah sempurna. Seperti bakpau yang baru matang.
"Lalu?"
"Jongdae, bantu aku!" Minseok mengguncang-guncang bahu Jongdae. "Okay okay, kenapa?" Ujar Jongdae lagi. "Waktu itu kau pernah menyebut nama 'Kim Jong In' kan?" Jongdae mengangguk.
"Tadi dia menyatakan perasaan padaku, karena aku tak bisa menjawab, dia mengejarku, makanya aku lari sampai kesini!" Seru Minseok. "Jongin memang begitu, abaikan saja Hyung." Suara Sehun menginterupsi cerita Minseok. Seketika Jongdae dan Minseok menatapnya.
"Dia sepupuku, sebetulnya dia tenar, tapi dia tak tertarik dengan yeoja, makanya dia mengejar namja, tapi para namja yang dia tembak selalu kabur, dan dia akan mencari namja lain lagi." Jelas Sehun. "Jadi .. sekarang Minseok aman?" Tanya Jongdae. Sehun mengalihkan tatapannya pada Jongdae. Dia berkomunikasi dengan Jongdae lewat kontak mata.
'Aku berbohong, dia tak aman. Jaga dia baik-baik Hyung,'
Jongdae menelan ludahnya dan mengangguk. Dia mengerti, Sehun berbohong agar Minseok tenang. "Apa? Kenapa kalian saling bertatapan?" Tanya Minseok. "Kau aman Hyung, asal kau ada disisi Jongdae-hyung." Sehun menjawab singkat. "Ogah," ucap Minseok seketika. Jongdae menatap Minseok sengit.
"Yak! Bukankah kau yang tadi meminta tolong padaku?!" Serunya. "Aku meminta tolong bukan berarti aku ingin ada disisimu!" Minseok cemberut. "Kau berisik bakpau sialan, ayo ke kantin!" Jongdae menarik paksa Minseok.
"Hah? Mau apa?" Minseok mencoba lepas. "Aku mau beli roti, kan kau harus ada disisiku, makanya aku tarik." Jawab Jongdae sambil merangkul Minseok. Modus sedikit sepertinya tidak masalah. "Lepas!" Minseok menarik tangan Jongdae dari bahunya. Dia mendekat dan berbisik. "Bukankah seharusnya kita tidak saling kenal, Tuan terhormat Kim Jong Dae?"
Jongdae merasa dirinya tersambar petir, dia 100% lupa akan permintaannya sendiri. "Ah, itu.." Jongdae bingung mau berkata apa. "Kau juga memintaku pergi jauh dari hidupmu, ingat? Saat di UKS? Jadi, pergilah sendiri!" Bentak Minseok dan dia kembali ke kelas. Jongdae merasa dadanya sesak. "Mian.." gumamnya pelan.
.
.
"Minseok-ah?"
"Eh? Nde ssaem?" Balas Minseok sopan. "Kau kemarin mendaftar ulang klub ke bagian alat musik, kan?"
"Ne.."
"Pulang sekolah nanti kutunggu di ruanganku," ujar Kris ssaem dan beringsut pergi.
Jongdae mendengus kesal. Tadi dia bersembunyi dan menguping pembicaraan antara Kris, guru musiknya, dan Minseok. Buat apa Minseok datang ke ruangan Kris? Setau dia, Chanyeol yang bagian alat musik dan suka bolos klub saja tak pernah dipanggil ke ruangan.
"Min–" Jongdae menghentikan panggilannya. Dia menggigit bibirnya, dia tidak mau jika Minseok membahas kejadian lalu. Dia benci itu. Karena dia melihat kilatan luka dari dalam mata Minseok. Tapi–
"Minseok!"
–Persetan! Dia tak mau mengabaikan Minseok lebih lama. Jongdae langsung berlari dan memeluk Minseok dari belakang. "A-Apa yang kau lakukan?!" Seru Minseok. "Menurutmu apa?" Jongdae mempererat pelukannya. Minseok tidak menjawab.
"Jangan temui Kris-ssaem.."
"Huh? Wae?"
"Kecuali kalau ada aku, baru boleh!"
"Kenapa? Kau ini kebanyakan makan mecin ya?" Tanya Minseok. "Sepertinya Kris-ssaem menaruh hati padamu, aku tidak rela kalau begitu," jawab Jongdae. "Lelucon mu lucu sekali," Minseok melepas tangan Jongdae yang melingkari pinggangnya.
"Minseook~"
"Berhenti ber-aegyo, kau menyeramkan."
"Ish, kenapa kau jadi dingin begini eoh?"
"Kau yang membuatnya dingin." Jawaban Minseok sangat menohok hati Jongdae. "Aku duluan," Minseok langsung jalan ke kelas tanpa menunggu Jongdae.
"F*ck!" Jongdae mengumpat. "Yak! Kulaporkan pada Eomma kalau kau berkata kasar!" Baekhyun yang tiba-tiba ada di koridor langsung menjewer Jongdae. "Ah Hyung! Mian," teriak Jongdae sambil melepas tangan Baekhyun.
"Hyung.." Jongdae menahan nafasnya sebentar, Baekhyun menatapnya. "Apa aku.. menyerah saja ya?"
Baekhyun terkejut, tapi melihat raut wajah Jongdae yang bercampur aduk antara kecewa, marah, merasa bersalah membuatnya tak tega memarahinya. "Kalau memang kau mau menyerah, terserah padamu. Tapi jangan menyesal di akhir," jawab Baekhyun akhirnya. "Aku tidak menyerah, aku akan menyukainya diam-diam saja, dan aku akan mengabulkan apa yang dia minta,"
"Apa?"
"Pergi jauh dari hidupnya."
.
.
Hari demi hari, Minggu demi Minggu Jongdae lewati tanpa menyapa Minseok lagi. Mereka memang sebangku, tapi jarak mereka seperti jarak bumi-langit, jauh sekali.
Buk!
"Ah appo appo," Minseok tak fokus. Kali ini mereka sedang pelajaran bela diri, ini diwajibkan untuk semua murid. Biasanya dia yang paling jago, tapi tadi perutnya kena bogem karena tak fokus. "Mianhae Minseok-ah," Namja tadi membantu Minseok berdiri.
"Gwaenchana, gomawo Kyungsoo-ya.." balas Minseok.
"Kalau latihan yang benar! Lanjutkan," bentak Jongdae. Minseok mendengus kesal, Kyungsoo hanya mengangguk. Karena Jongdae terpilih–lebih tepatnya sial–menjadi ketua kelas, dia disuruh menggantikan guru Taekwondo yang tak masuk hari ini.
Minseok dan Kyungsoo mengambil ancang-ancang lagi. Kyungsoo maju, hendak menyerang. Minseok menahannya, dia hendak membalas, tapi tatapan Jongdae padanya tak membuatnya fokus.
Buk! Buak! Bruk
"Ugh," Kali ini tendangan Kyungsoo melebihi batas. Dia awalnya menendang terjangan Minseok, tapi setelah itu dia tak sengaja menendang dada Minseok sangat kencang, dia hanya ingat teknik yang diajarkan, jadinya langsung dipraktekkan dengan tenaga yang kuat.
"Omo! Minseok!" Kyungsoo berlari mendekati Minseok yang terpental agak jauh tadi. "Gwaenchana?!" Dia panik karena nafas Minseok putus-putus.
"Lu.. Han.. tas.. in.. healer.." ucap Minseok. Jongdae yang tadi memantau latihan masing-masing partner langsung menghampiri Minseok. "Yak! Apa yang kau lakukan?" Tanya Jongdae panik. Kyungsoo menggeleng panik.
"Awas," Suara dingin menginterupsi. Jongdae dan Kyungsoo menyingkir. Sehun langsung membawa Minseok ke ujung gedung olahraga. Jongdae dan Kyungsoo mengikuti.
Sehun menurunkan Minseok dari pangkuannya, kemudian dia beranjak ke belakang Minseok. Sehun menaruh kedua tangannya di pundak Minseok dan dia menekankan kedua lututnya dipunggung Minseok kemudian menarik bahu Minseok ke belakang. "Tarik nafas dalam-dalam," ujar Sehun. Minseok menurutinya, dia melakukan itu berulang kali hingga nafasnya normal.
"Selesai. Makanya kau harus menuruti Luhan, Minseok-hyung,"
Minseok nyengir. "Gomawo Sehun-ah," ujarnya. Sehun mengangguk dan pergi. Kyungsoo diam. Jongdae syok. "Huwaaa mianhae Minseok!!!" Kyungsoo menghambur ke arah Minseok.
"Gwaenchana, itu juga salahku karena tak fokus, Kyungsoo-ya," Minseok menenangkan Kyungsoo. Kemudian dia menatap Jongdae. "Apa latihannya sudah selesai, pak ketua?" Tanya-nya. "Terserah," jawab Jongdae singkat dan dia kembali memantau.
.
.
"Yak! Sudah kubilang apa Minseokkie! Kau tidak mau menuruti aku sih! Kau itu tidak kapok kapok ya? Blablabla"
Minseok menutup telinganya ketika dengan tidak sopannya, Luhan masuk ke kelas dan mengomeli dia dengan kecepatan 9999 km/jam. Sialnya juga ini pulang sekolah, jadi Luhan akan terus membacot tidak jelas.
"Kau dengar aku tidak?" Tanya Luhan. Minseok mengangguk. "Kulaporkan pada Ahjumma!"
Minseok membulatkan matanya. "Andwaeeee Luhannie mianhaeee~" Sial. Luhan tidak kuat dengan godaan aegyo Minseok. "Sudahlah, lain kali jangan lupa bawa, Luhannie, ayo," Sehun menarik tangan Luhan dan mereka pergi, untuk kencan tentunya. "Hhhh.." Minseok lega ketika Luhan sudah pergi.
"Minseok.." Tunggu. Minseok tidak salah dengar?
"Han Minseok," Ah, mungkin khayalan. Sudah hampir 3 bulan Jongdae tak memanggil namanya lagi.
"Jawab aku, sialan!" Minseok terkejut dan langsung menatap bangku di kanannya. Jongdae menatapnya dengan kesal. "Kalau kau sakit kenapa memaksakan latihan?" Tanya Jongdae. "Aku tidak memaksakan, jika aku sanggup ya aku lakukan." Jawab Minseok acuh.
"Ayo pulang," Jongdae menarik tangan Minseok. "Terimakasih, aku bisa sendiri." Balas Minseok sambil melepas tangannya dari Jongdae. "Aku punya tanggungjawab menjagamu sebagai ketua kelas."
"Sudah sore, rumah mu jauh, tidak perlu."
"Berisik," Jongdae mendekat dan,
Plak!
"Mau apa kau mesum?" Seru Minseok setelah menampar wajah tampan Jongdae. "Mencium mu, tentunya. Apalagi?" Jawab Jongdae terlampau lugas. Minseok mendelik jijik. "Dasar mesum!"
Buak!
"ARGH! Yak! Han Minseok–ugh, sialan!" Jongdae ambruk setelah Minseok menendang aset berharganya. Ingatkan Jongdae kalau Minseok sangat jago Taekwondo dan asetnya berdenyut membuatnya perih.
Beberapa detik kemudian Jongdae berdiri dan mencoba menyusul Minseok yang sudah berlari jauh entah kemana.
.
.
"Tadi kencang tidak ya?" Minseok melambatkan larinya. "Dia akan mandul tidak? Astaga Minseok," Minseok mulai meracau.
Bruk
"Aduh," Minseok menutup matanya ketika ada orang di belakangnya yang mendorongnya ke tembok dan mengunci pergerakan tubuhnya dalam kukungannya. "Jong–"
"Ya, ini aku Hyung, Kim Jong In.."
Minseok membuka matanya dan terkejut. "Apa yang kau lakukan disini?"
.
.
Jongin itu anak SMP gaes, kelas 3. dia sepupu nya Sehun, tapi Sehun kan masuk lebih awal, jadi dia udh SMA kelas 1 sekarang. terus si Jongin ini suka sama Minseok, tapi cuman sekedar suka doang, gak lebih.
terus, si Minseok gajadi ke ruangan Kris, dia takut sama omongan Jongdae yang katanya Kris suka sama dia, jadinya dia nurut sama Jongdae , sialnya malah ketemu si Jongin.
ujungnya nanti Jongin sama Kyungsoo kok '3')
#spoiler
