PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul
THE PROPOSITION
(The Propotition #1)
By
KATIE ASHLEY …
ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !
Bab 11
Benak Jaejoong berperang ketika sedang di dalam lift yang merangkak menuju lantai kantornya. Kau melanggar semua aturan dengan pergi ke rumahnya! Ingat mantramu 'datang, bercinta, lalu pergi'?
Setuju untuk membiarkan dia memasak dan menghiburmu jelas bukan bagian dari rencanamu. Kau akan menyesalinya! Dia telah menjadi musuh terburuknya sendiri.
"Cukup!" Dia berteriak tepat pada saat pintu lift terbuka. Dua orang wanita yang sedang menunggu memberinya tatapan aneh. Dia menundukkan kepala lalu berjalan cepat menuju kantornya.
Menyambar dompet dan tasnya, kemudian membanting dan mengunci pintu.
Begitu sampai di bawah dia mondar-mandir di lobi. Saat Jaejoong berpikir untuk meninggalkan Yunho demi menjaga kewarasannya sendiri, ia muncul di depan Jaejoong, "Maaf aku membuatmu menunggu."
"Ehm, tidak, tidak apa-apa."
Jaejoong mengikuti Yunho keluar melalui pintu samping ke arah gedung parkir. Ketika kunci remote di tangan Yunho membuat lampu sebuah Mercedes convertible hitam legam berkedip, Jaejoong bersiul rendah. "Mobil yang bagus, Mr Jung."
Yunho terkekeh. "Terima kasih, Miss Kim."
"Aku terkesan dengan semua kemewahan ini."
Dia menggeleng. "Kau mulai lagi dengan mulutmu itu."
Jaejoong melempar tasnya ke lantai mobil lalu meluncurkan pantatnya di kursi kulit. Selain fakta bahwa harga mobil ini dua kali lipat harga Honda-nya, seluruh bagian interiornya benar-benar bersih. Tidak ada remah bahkan setitik debu yang dapat ditemukan, berbeda sekali dengan keadaan interior mobilnya yang bahkan bisa memberi makan sebuah desa kecil dengan sisa-sisa sarapan atau makan malamnya di jalan yang berceceran.
"Keberatan kalau aku menurunkan atapnya?"
"Tidak masalah. Ini hari yang indah."
Yunho menekan sebuah tombol di konsol, dan atap mulai tertarik ke belakang. Saat mereka keluar dari gedung parkir, Jaejoong merogoh tasnya mencari jepit rambut. Setelah menjepit rambut panjangnya ke belakang, dia menutup mata dan membiarkan angin meniup dirinya.
"Jangan bilang aku sangat membosankan sampai membuatmu mengantuk?"
Jaejoong terkikik. "Maafkan aku. Aku hanya mengistirahatkan mataku sebentar."
Mereka tidak lama berkendara di jalan tol sebelum Yunho melajukan mobil keluar jalan tol. Ketika ia memasuki kawasan tua yang elite, Jaejoong sontak berpaling padanya. "Kau tinggal di sini?"
Dia terkekeh. "Memang kenapa?"
Jaejoong mengedikkan bahu. "Aku tak tahu. Kurasa aku membayangkanmu tinggal di gedung apartemen khas bujangan yang elegan dan mewah."
"Well, jika kau ingin tahu, sebenarnya dulu aku terbiasa tinggal di, seperti yang kau katakan gedung apartemen yang elegan dan mewah di pusat kota. Tapi kemudian kakakku, Angie, yang merupakan agen real estate, meyakinkanku bahwa aku harus berhenti menghamburkan uang untuk membayar sewa dan mulai berinvestasi beberapa properti. Bagaimanapun dia berhasil membujukku untuk membeli rumah tetangga kakak kami, Sungmin. " Dia melirik pada Jaejoong dan tersenyum. "Aku pikir itu hanya akal-akalan mereka agar bisa mengawasiku, tapi sepadan karena aku bisa mendapat banyak makanan gratis." Dia menunjuk ke kiri pada sebuah rumah mewah dua lantai bergaya kolonial dengan sebuah teras depan melengkung.
"Itu rumah Sungmin."
"Cantik."
"Terima kasih," jawab Yunho, lalu membelokkan mobilnya kembali.
"Dia membutuhkan rumah besar untuk mengurung monster-monster
itu tetap di dalam."
"Monster-monster?"
"Tiga keponakanku."
Jaejoong tertawa. "Aku mengerti."
Yunho memasuki jalan masuk sebuah rumah bata berlantai dua dengan kolom putih. Jaejoong melongo menatap rumah yang modelnya sama sekali tidak sesuai dengan Yunho. Kekurangan dari rumah itu hanya pagar kayu putih dan mainan-mainan berserakan, dan Yunho akan terlihat seperti seorang suami dan ayah di sebuah kota pinggiran pada umumnya.
Setelah Jaejoong keluar dari mobil, dia berjalan keluar dari garasi dan matanya melebar menatap pada rumput sehijau zamrud dan bunga beraneka warna. "Wow, kau melakukan semua ini?" Tanyanya sambil menunjuk ke halaman yang terjaga rapi.
Yunho mendengus. "Ya Tuhan, tidak. Aku tidak bisa menumbuhkan apapun kecuali sedikit jamur di kulkas. Ayahku adalah salah satu yang ahli dengan tanaman. Tidak hanya itu, tapi dia sudah pensiun, jadi berkebun di halaman rumah anak-anaknya adalah misi terakhir hidupnya."
"Dia benar-benar manis." Jaejoong mengikuti Yunho menaiki tangga teras depan menuju ke dalam rumah. Dia menekan kode ketika alarm mulai berbunyi. Jaejoong berusaha untuk tidak menunjukkan keterkejutannya ketika ia melangkah ke dalam ruang tamu yang luas dan terbuka. Jendela-jendela yang lebarnya dari lantai ke langit-langit membuat ruangan bermandikan cahaya, serta pilar-pilar kayu yang tinggi berselang-seling hingga menyentuh langit-langit.
Mengingat kesan pertamanya tentang Yunho, dia mengharap furnitur yang fungsional, modern, namun dingin. Bukannya kursi empuk yang hangat, sofa dua dudukan atau selimut antik yang menyelimuti sofa. "Apakah kau memiliki dekorator?" Tanyanya sambil mengikuti Yunho menuju dapur.
"Tidak, aku melakukan semuanya sendiri. Well, kakak-kakak perempuanku ikut membantu tentu saja. Mereka mengambil kesempatan untuk memanjakanku di semua area domestik." Yunho berbalik dan mengamati ekspresi Jaejoong. "Jadi apa kau menyukai rumah ini?"
"Suka? Aku mencintai rumah ini. Kau hanya berpikir tentang investasi properti. Tapi ini adalah sebuah rumah yang akan membuat siapapun merasa bangga."
Senyum lambat mengembang di wajah Yunho. "Terima kasih. Pujian yang datang dari seseorang sepertimu benar-benar sangat berarti."
"Seseorang sepertiku?"
Yunho melarikan jari-jarinya ke rambut, berhenti menarik-narik tengkuknya. "Oh kau tahu, seseorang yang nyata-seseorang yang menghargai rumah sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni."
Jaejoong membuka mulutnya hendak menjawab, tapi bunyi gedebuk keras menyela mereka.
Yunho memutar bola matanya. "Mungkin aku harus memperingatkanmu tentang Taepoong."
"Kau punya teman sekamar?"
Dia terkekeh. "Tidak, kecuali kalau kau menganggap anjing Labrador hitam seberat delapan puluh pound (40 kg) yang menggigitku baik di dalam maupun luar ruangan dan mendengkur lebih keras dari beruang adalah teman sekamar."
"Oh kau memiliki anjing!" Pekik Jaejoong.
Yunho memberinya tatapan aneh. "Sial, aku tidak berpikir kau akan kegirangan tentang Labrador tua-ku yang bau."
Dia menyeringai. "Kau tidak tahu betapa aku mencintai anjing! Aku sudah lama ingin punya satu, tapi jadwalku benar-benar gila, aku takut akan meninggalkannya lama sendirian."
"Aku mengerti. Aku sebenarnya menitipkan Taepoong ke Penitipan Anjing beberapa hari dalam seminggu."
"Kau melakukannya?" Tanya Jaejoong, berjuang untuk mencegah sudut-sudut bibirnya tersenyum.
Yunho menjawab sambil cemberut, "Ya, ya, aku seperti banci."
Jaejoong berjinjit untuk mengacak rambut Yunho. "Aw, aku pikir kau manis melakukan itu untuk Taepoong." Jaejoong menggeser tangannya ke dada Yunho. "Dan itu menunjukkan apa yang selama ini aku percaya —bahwa kau mempunyai hati di dalam sini."
"Aku senang kau sedikit terkesan padaku. Aku benci kalau anak- anak kita kelak akan ketakutan karena ibunya mengira bahwa ayahnya adalah seorang bajingan seks yang tidak berperasaan."
Wajah Jaejoong merengut saat ia menyentak tangannya menjauh dari dada Yunho. Yunho menatapnya malu. "Aku tidak bermaksud membuatmu kesal dengan menyebutkan bayi."
"Tidak apa-apa. Aku terlalu emosional hari ini. "
Yunho menangkup dagu Jaejoong lalu memberinya senyum menenangkan. "Itu akan terjadi, Jaejoong. Mungkin bulan depan atau tahun depan, tetapi kau tetap akan hamil."
Air mata menusuk matanya. "Terima kasih."
"Bahkan pada saat kita mati saat mencoba, kita akan tetap mewujudkannya."
Jaejoong tertawa. "Kadang aku berpikir kau akan menikmati bagian kematian dikarenakan oleh seks."
Matanya tertutup karena kebahagiaan yang luar biasa. "Aku tidak bisa membayangkan hal lain yang lebih baik."
Mereka terinterupsi oleh lolongan rendah bersemangat dari pintu basement. "Kurasa sebaiknya aku membiarkan Taepoong keluar sebelum sarafnya terganggu," kata Yunho. Ia memutar kenop, dan Taepoong
menerjang keluar. Anjing itu segera menerjang lutut Jaejoong, tapi Jaejoong hanya tertawa. "Turun Taepoong! Jangan lompat!" teriak Yunho.
"Tidak apa-apa," kata Jaejoong tepat saat Taepoong menyapukan lidah merah mudanya di pipi Jaejoong. "Dia hanya senang melihat orang."
"Dia produk gagal dari sekolah kepatuhan," gumam Yunho.
"Aw, aku yakin dia anjing terbaik di seluruh dunia! Iya kan, sayang?
"Kata Jaejoong, suaranya naik satu oktaf. Taepoong menggoyangkan ekornya menyambut perhatian yang diberikan Jaejoong, ekornya bergoyang diantara kaki Yunho. Dia melayang ke surga anjing ketika Jaejoong mulai menggaruk-garuk belakang telinganya, mendengus dan akhirnya duduk diam.
"Oke, waktunya ke luar."
Taepoong menolak untuk menjauh dari Jaejoong. Yunho memutar bola matanya dengan putus asa. "Keluar. Sekarang! "
Jaejoong mencium puncak kepala Taepoong lalu bangkit berdiri. "Kau lebih baik keluar sebelum menyebabkan kita berdua dalam masalah," katanya sambil menunjuk pintu belakang.
Taepoong dengan enggan melintasi dapur, cakar-cakarnya mengetuk lantai kayu. Yunho membuka pintu dan membiarkannya menuju halaman belakang. Dia menggelengkan kepalanya ketika Taepoong berlarianmengejar kupu-kupu. "Hebat. Dia benar-benar sudah jadi patuh padamu."
"Aku tidak bisa mencegah semua orang, bahkan binatang, mencintaiku," canda Jaejoong.
Yunho berbalik padanya dan tersenyum lebar. "Ada yang sombong malam ini." Matanya melebar saat melihat kaki Jaejoong. "Oh sial, aku minta maaf."
Jaejoong menatap ke bawah dan melihat lubang compang-camping di stokingnya karena cakar Taepoong. "Bukan masalah besar."
"Kau ingin ganti?"
Jaejoong mengangguk. "Ya, terima kasih."
"Ikut aku."
Jaejoong mengikuti Yunho menyusuri lorong. Dia tidak terlalu senang dengan kemungkinan masuk kamar tidur utama bersama Yunho, jadi dia berhenti di depan dinding yang penuh foto. "Apa ini semua foto keluargamu?"
Yunho berbalik lalu mengangguk. "Ya, Angie yang melakukannya.
Dia punya semua foto keluarga saat bersama kemudian mengatur foto-foto itu untukku sebagai hadiah pembukaan rumah."
"Dia melakukan pekerjaan hebat." Ketika Yunho masuk ke dalam kamar tidur, Jaejoong terus menatap foto-foto. Yunho mirip sekali dengan mendiang ibunya. Ada beberapa foto orang tua mereka saat masih muda hingga tua.
"Aku suka salah satu foto orangtuamu saat di ulang tahun pernikahan ke-50 mereka. Ibumu sangat cantik," Serunya.
"Trims."
"Ayahmu juga tampan."
"Aku kan sudah bilang kalau aku mewarisi ketampanan dari mereka!" Jaejoong memutar bola matanya terhadap kesombongan Yunho. "Ayahmu terlihat benar-benar manis dan baik."
Yunho melongokkan kepalanya dari pintu kamar tidur. "Kenapa?"
Jaejoong mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Kurasa aku membayangkan ayahmu mirip Hugh Hefner, dan kau mewarisi jejaknya."
Yunho tertawa sambil menyerahkan sweat pants biru dan t-shirt putih. "Percayalah, ayahku beda jauh dengan Hef. Orangtuaku adalah pasangan kekasih sejak SMA. Aku tidak tahu apakah dia pernah tidur dengan orang lain selain dengan Mom. Mom sudah meninggal lima tahun yang lalu, dan ayah tidak berkencan sekalipun."
"Itu sangat romantis," Sembur Jaejoong.
"Ya, tapi dia kesepian. Jika tidak menggangguku dia akan mengganggu salah satu saudara perempuanku, dia selalu meneleponku, mendesak untuk mengunjunginya. Aku tahu dia ingin seseorang berada di sampingnya sepanjang waktu, tapi dia tidak bisa melupakan Mom. Aku terus mengatakan kepadanya untuk melanjutkan hidupnya, tapi ia menolak."
Jaejoong mulai jengkel mendengar nada bicara Yunho. "Mungkin dia belum siap. Mungkin perasaan cinta yang begitu besar diantara
mereka tidak mudah untuk berakhir seperti yang kau pikirkan,"
Sahut Jaejoong.
"Kurasa juga begitu. Tapi, ya Tuhan, dia perlu mengenyahkan harapan bahwa aku harus selalu menelpon dan berada disampingnya."
Jaejoong mengangkat tangannya putus asa, tidak mampu menahan amarahnya lagi. "Apakah dia telah menjadi ayah yang baik bagimu atau tidak?"
"Ya, tentu saja dia baik."
"Jadi seharusnya dia tidak perlu menelpon untuk memaksamu datang. Kau-lah yang seharusnya menelpon ayahmu dan bertanya bagaimana keadaannya. Membalas sebagian pengorbanan yang ia lakukan saat kau sedang tumbuh dewasa."
"Aku tahu, itu hanya-"
"Percayalah padaku Yunho, dia tidak akan berada di dunia ini selamanya. Aku telah melakukan semua yang aku mampu untuk ibuku ketika dia masih hidup, namun kadang rasa bersalah masih melingkupi perasaanku. Aku tidak ingin nantinya kau dihantui perasaan menyesal."
"Sialan, Jae, kau membuatku merasa seperti seorang bajingan."
Seiring dengan kemarahannya menguap, tiba-tiba Jaejoong merasa malu karena memarahi Yunho. Jaejoong menundukkan kepala.
"Maafkan aku. Aku hanya tahu kau memiliki hati yang benar-benar baik, itu saja. "
"Kalau kau benar-benar percaya padaku, aku akan berusaha berbuat lebih baik, oke?"
Jaejoong mengintip Yunho melalui bulu matanya dan tersenyum.
"Oke."
Dia berdeham dan menunjuk seberang lorong. "Kau bisa mengganti pakaian di kamar mandi."
"Terima kasih. Aku mungkin juga perlu mencuci wajah setelah mengomel dan menangis seharian. Aku mungkin berantakan."
"Apa kau ingin mandi sekalian sementara aku menyiapkan makan malam?"
"Kau menyindirku bau ya?" Tanyanya, sambil menyeringai.
Yunho terkekeh. "Tidak, aku hanya berpikir mungkin itu akan membuatmu merasa lebih baik. Kalau kau mau, kau bisa berendam di bak Jacuzzi."
Jaejoong memejamkan mata dan menghela napas. "Sempurna."
"Ayo."
Jaejoong mengikutinya ke kamar tidur. Dindingnya berwarna biru muda dan putih cerah, membuat ruangan itu terasa lapang dan nyaman. Dia menahan dorongan untuk tertawa karena telah membayangkan—penutup ranjang berbahan sutra, cermin di atas tempat tidur, dinding bercat hitam atau merah.
Kamar ini justru sebaliknya. Sebuah ranjang besar dan mewah berada di tengah ruangan. Satu-satunya hal yang mencuri perhatiannya adalah segala sesuatu begitu rapi dan terorganisir. "Kau pasti harus mengeluarkan banyak uang untuk pengurus rumah tangga," renungnya.
"Aku tidak punya pengurus rumah tangga."
"Kau melakukan semua ini sendiri?"
"Ya, aku suka bersih-bersih."
Setelah mengintip kamar mandi, Jaejoong merenung, "Kau penggila kerapian, ya?"
"Aku hanya ingin menyimpan segala sesuatu secara terorganisir."
"Hmm."
"Dan apa maksudnya itu?" tanya Yunho, seraya meletakkan tangannya di pinggul.
"Tidak."
"Biar kutebak. Kau mengambil beberapa mata kuliah psikologi di perguruan tinggi, dan para ahli mengatakan bahwa seringkali penderita obsesif kompulsif disebabkan oleh kondisi emosional mereka yang kacau?"
"Aku tidak bilang begitu."
Dia mendengus. "Kau tidak perlu mengatakannya, Dr. Phil. Kalau kau sudah selesai menganalisis kepribadianku, aku akan membiarkanmu pergi mandi."
"Aku hargai itu."
Setelah menutup pintu, Jaejoong menyalakan air. Sambil melepas pakaian, ia mencoba untuk mengenyahkan stres. Begitu bak rendam penuh, dia menyalakan jet. Menyelinap ke dalam air panas dan mendesah penuh kepuasan. Dia baru saja menyandarkan kepala ketika pintu tiba-tiba terdorong terbuka.
Sambil menjerit, dia bergegas untuk menutupi payudara dengan tangannya. Yunho terkekeh. "Ya Tuhan, Jae, tidak perlu panik. Aku sudah pernah melihat semua yang ada di dirimu, ingat? "
Kehangatan merambat ke pipinya. "Aku tahu. Kau mengejutkanku, itu saja. "
Dia mengangkat dompet Jaejoong. "Kau meninggalkan ini di dapur, kupikir kau mungkin membutuhkannya."
Jaejoong mengangguk. "Terima kasih."
Yunho meletakkan dompet di konter. "Oke, kali ini aku benar-benar akan pergi, dan berjanji akan meninggalkanmu dalam damai."
Jaejoong terkikik lalu kembali berendam setelah Yunho menutup pintu.
Dia mungkin bisa tinggal di sini selama berjam-jam, tapi ketika jari-jarinya mulai keriput dan aroma wangi mulai lenyap, dia pikir sudah waktunya untuk keluar.
Setelah mengeringkan diri, ia memakai baju Yunho lalu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Ketika ia meraih dompet, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Junsu. Belum melihatmu sejak makan siang. Kuharap kau baik-baik saja.
Jaejoong berjuang menahan isak tangis putus asa yang mengancam akan menenggelamkannya. Dengan jari-jari gemetar, ia mengirim sms balasan pada Junsu. Sedang datang bulan. Aku di rumah Yunho.
Aku telpon besok.
Hanya butuh sedetik bagi Junsu untuk membalas. Aku benar-benar menyesal, babe. Aku di sini untukmu. Mencintaimu.
Jaejoong tidak bisa menahan perasaan terkejut terhadap reaksi Junsu.
Dia tadinya menduga kalau Junsu akan menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya ia lakukan di rumah Yunho hingga melewatkan kesempatan menikmati beberapa gelas margarita dengannya. Pada akhirnya, Jaejoong berpikir untuk tidak melibatkan Junsu ke dalam masalahnya dengan Yunho tentang menghasilkan bayi.
Sambil menghela napas, ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam dompet lalu keluar dari kamar tidur.
*** … ***
