Part 12 :

Distance between us

XXX

Tapi aku masih mau main denganmu!" Rengek Chaeyoung, tangannya melingkar manja di leher Chanyeol. Chanyeol hanya terkekeh, mengusak-ngusak rambut Chaeyoung hingga empunya memasang wajah cemberut.

"Lain kali, ya. Aku harus latihan basket malam ini. Kau 'kan juga masih harus mengurus banyak hal karena kepindahanmu. Sehabis turnamen, ayo kita main dan saling cerita selama kita tidak bertemu," Kata Chanyeol sambil tersenyum hangat.

Chaeyoung mengangguk, melepaskan lingkaran tangannya dari leher Chanyeol dan memeluk singkat pemuda yang lebih tinggi.

"Aku pulang dulu, ya. Dah!" Chanyeol melambaikan tangannya kecil saat Chaeyoung masuk kedalam mobil sedan yang sudah berisikan supirnya. Hingga mobilnya melaju menjauh Chanyeol tetap melambaikan tangannya kecil.

Chanyeol terkekeh melihat sahabat kecilnya yang masih belum banyak berubah. Tapi, kekehannya menghilang saat badannya berbalik dan melihat Baekhyun sedang berdiri tak jauh di belakangnya. Sedang bersender di pohon taman sembari memainkan ponselnya.

"Kak Baekhyun?" Panggil Chanyeol menghampiri pacarnya itu.

Yang dipanggil mengalihkan pandangannya dari ponsel sejenak—menatap wajah Chanyeol sebelum kembali memainkan ponselnya. "Anak baru itu bahkan tidak tinggal di asrama. Memilih pulang ke rumah megahnya diantar dengan mobil mewah. Mengesankan." Baekhyun memasukkan kabel earphone kedalam lubang ponselnya. Menyangkutkan earphone itu di kupingnya sebelum memilih lagu yang akan diputar—meninggalkan Chanyeol setelah itu.

"Kak, kenapa kau ada di belakangku tadi?" Tanya Chanyeol setelah mengejar Baekhyun.

"Maaf, kau pasti merasa terganggu," Balas Baekhyun tenang.

"Terganggu? Bukan itu maksudku—"

"Iya, merasa terganggu acara berduaanmu dengan si anak baru." Chanyeol mengerutkan keningnya mendengar ucapan Baekhyun. Menahan lengan Baekhyun hingga yang lebih tua itu terhenti langkahnya.

"Apa maksudnya? Kau marah padaku karena aku berduaan dengan Chaeyoung?" Tanya Chanyeol menatap tepat di mata Baekhyun, heran.

Tapi Baekhyun malah menatap Chanyeol sejenak. Tersenyum tipis seraya menggeleng pelan. "Tidak, untuk apa? Kalian berdua kan sahabat masa kecil, sudah lama tidak bertemu juga. Pasti kalian sangaaaat saling merindukan 'kan?"

Chanyeol diam menatap Baekhyun. Melihat Chanyeol yang hanya diam menatapnya, Baekhyun memilih mengangkat bahunya acuh dan kembali berjalan menuju gedung asramanya.

"Lalu, kenapa kau terlihat seperti marah padaku? Kalau bukan karena Chaeyoung, terus kenapa?" Chanyeol kembali mengejar Baekhyun, menarik tangan pemuda Byun itu lagi.

Baekhyun melirik tangannya yang dipegang Chanyeol, melepaskannya dengan sedikit kasar.

"Kau bertanya kenapa aku marah? Karena kau bukanlah dirimu saat bersama Chaeyoung. Dimana Park Chanyeol si 061 yang paling tidak tahan melihat ketidak adilan atau seseorang yang melanggar peraturan sekolah? Chaeyoung meremehkan tim kedisplinan, mengabaikan perkataan dan peraturan kami, bersikap seenaknya sepanjang hari. Lalu apa yang kau lakukan? Hanya terus mengekorinya di belakang, tersenyum saat Chaeyoung memperkenalkanmu sebagai pacarnya dan meminta maaf pelan saat Chaeyoung berbuat kesalahan? Kau siapa? Suaminya?!" Baekhyun mengatur nafasnya yang berantakan karena berbicara panjang dengan nada tinggi marah, sebelum kembali berkata, "Aku tidak tahu si 061 yang selalu langsung berubah lemah hanya karena seorang perempuan."

"Kak, kau tidak mengerti. Chaeyoung bukan orang yang seperti itu. Pindah kesini tidak mudah untuknya. Ia memiliki masalah yang jauh lebih rumit. Dan kau tidak bisa menyalahkan Chaeyoung. Dia baru di Korea, belum mengenal bagaimana cara kita hidup disini. Dan, tidak semua orang sepertimu. Kau sempurna di segala hal 'kan? Jika kau mematok dirimu sendiri sebagai level pantas seseorang masuk SMA Jaeguk, bukan 'kah itu egois?"

Gigi Baekhyun bergemeletuk menahan marahnya. Tangannya terkepal kuat, bisa menonjok Chanyeol kapan saja. Sebelum akhirnya bisa mengontrol dirinya sendiri dan menghembuskan nafasnya dalam.

"Kita sudah berapa lama pacaran, Chanyeol? Sudah jalan hampir tiga minggu 'kan? Tapi kurasa, kau yang tidak mengenal diriku bukan aku yang tidak mengenal dirimu. Atau kau yang jauh lebih mengenal Chaeyoung, yang katanya teman masa kecil berhargamu itu. Kau tidak tahu bagaimana bencinya aku menunggu. Kau tidak tahu bagaimana bencinya aku direndahkan, diremehkam, disepelekan. Apalagi hanya karena kekuasaan yang Chaeyoung miliki."

Chanyeol terdiam, mencerna setiap kalimat yang Baekhyun ucapkan barusan.

"Biarkan aku sendiri untuk beberapa waktu ini, aku butuh menjernihkan pikiranku yang sedang kalut. Kau juga harus mengurus kepindahan Chaeyoung 'kan? Aku yakin dia juga mempunyai alasan beriskap seperti hari ini. Yah, pokoknya ayo kita selesaikan ini saat semuan pikiran kita sudah jernih. Selamat malam, Chanyeol."

Chanyeol terdiam saat Baekhyun berjalan meninggalkannya, pergi menuju gedung asramanya. Sedangkan Chanyeol masih terdiam, masih berusaha mencerna setiap perkataan Baekhyun.

XXX

"Hey, aku kira kau latihan tadi siang?" Tanya Jongin menghampiri Chanyeol yang sudah bolak-balik melakukan shoot. Berlatih basket saat malam hari memang yang terbaik menurut Jongin, tapi tidak jika itu sudah berlebihan.

"Aku belum puas." Chanyeol kembali memantulkan bolanya dan kembali menembak bolanya. Selalu tidak masuk.

"Park Chanyeol, kau yakin bisa bertanding dengan kemampuan shoot-mu yang seperti itu?" Chanyeol dan Jongin langsung menengok, mendapati kakak kelasnya, Wonho dan Kris datang menghampiri mereka. Kris langsung mengambil bola basket dari tangan Chanyeol, melemparkan dengan satu tanyan dan langsung kasuk kedalam ring basket dengan sempurna.

"Harusnya seperti itu kau melakukannya."

"Aku hanya sedang banyak pikiran," Balas Chanyeol sedikit kesal, mengambil bola basketnya lalu kembali mencoba menembak bolanya. Lagi-lagi tidak masuk kedalam ringnya.

"Memikirkan tentang pacar cantikmu yang baru saja pindah ke sekolah?" Tanya Wonho dengan nada jenaka, tapi Chanyeol malah menatap Wonho bingung.

"Aku bukan pacarnya, kami hanya sahabat sejak kecil," Balas Chanyeol serius.

"Ya tapi itu yang ia katakan kepada semua orang 'kan?" Wonho kembali menyaut, terkekeh setelahnya sebelum berlalu mengambil bola basket lainnya.

Chanyeol menatap Wonho bingung, sebelum menatap Kris meminta penjelasan.

"Persahabatan diantara pria dan wanita itu kadang hal yang mustahil. Apalagi melihat Chaeyoung itu seperti apa dan sikap luar biasanya untuk hitungan anak baru," Kata Kris sambil menggeleng-geleng, sebelum berjalan berlalu menghampiri Wonho.

"Aku tidak mengerti, sebenarnya ada apa?" Chanyeol beralih bertanya pada Jongin yang sedari diam memperhatikan.

"Kau ini benar-benar bodoh, ya. Pacar mana yang tidak cemburu melihat pacarnya menempel seharian dengan sahabat masa kecilnya? Apalagi—maaf-maaf saja, nih, ya, Chaeyoung terlihat sangat bitchy hari ini."

"Hei, Chaeyoung tidak seperti itu. Ya aku tahu hari ini dia memang aneh, tapi dia memiliki alasan tertentu. Bukankah itu sedikit berlebihan bersikap seperti itu kepada Chaeyoung? Aku tahu Chaeyoung hari ini banyak bersikap salah tapi kalau dia berpikir semua orang harus bersikap seperti dirinya, bukankah itu egois?"

Jongin diam menatap Chanyeol kaget sesaat. "Chanyeol, kau tidak mengatakan itu kepada senior Baekhyun, kan?"

"Aku kelepasan tadi, aku sedikit marah karena dia menganggap Chaeyoung seburuk—"

"Hei, cepat minta maaf. Untuk seseorang seperti senior Baekhyun, dia memiliki haga diri yang sangat tinggi. Dan kau telah melukai harga diri tertingginya. Chaeyoung sahabatmu, bukan berarti kau membela segala apa yang ia lakukan. Kau tahu apa yang membuatnya cemburu? Karena ada orang bodoh yang pernah bertanya, Pilih pacar atau sahabat. Dan banyak orang bodoh juga yang menjawab, memilih sahabatnya. Mereka bohong. Dan kau salah satunya." Jongin melemperkan bola basketnya sedikit kencang kearah perut Chanyeol, membuat Chanyeol sedikit meringis. Lalu ia melihat Jongin kesal dan mengambil tasnya sebelum pergi dari lapangan.

XXX

"Ikat tali sepatumu dengan benar."

"Kau, rapihkan dasimu."

"Apa kau tidak punya mata untuk berkaca? Kenapa rambutmu berantakan begitu?"

Hari ini, Killer Byun sedang berada dalam mode garangnya—atau setidaknya itu yang dikatakan orang-orang setelah melewati pintu gerbang sekolah. Dimana Byun Baekhyun dengan wajah datar dan mulut pedasnya membawa buku hitam dengan mata yang tidak bisa berhenti menilai penampilan siapapun yang masuk dengan detail.

"Baek, ingin aku gantikan? Kau belum sarapan?" Tepukan di bahu Baekhyun membuat ia menoleh. Kris sudah akan mengambil buku hitamnya namun dengan cepat ditahan Baekhyun.

"Biarkan aku yang menangani ini. Aku sedang dalam mood untuk membentak seseorang." Kris langsung mengangguk, mundur beberapa langkah memilih untuk menjauh. Tidak ingin menjadi seseorang yang akan dibentak Baekhyun dalam waktu dekat.

Dibentak Baekhyun pada pagi hari bukanlah ide yang bagus.

"Aduh, Chae. Jangan mengacak-ngacak rambutku!"

"Biarin, siapa suruh kau jadi lebih tampan begini?"

Oke Baekhyun, tarik nafas lalu buang. Keluarkan aura killer Byun-mu.

Langkah Chanyeol dan Chaeyoung langsung terhenti saat sebuah tangan menghalangi mereka masuk ke area sekolah. Chanyeol kaget melihat Baekhyun berdiri disana, benar-benar tidak menyadari ada kehadiran kekasihnya disana. Sedikit canggung mengingat baru tadi malam mereka bertengkar. Sebaliknya, Chaeyoung tersenyum menatap Baekhyun. Tersenyum meremehkan—Baekhyun tahu itu. Ia juga bisa melihat makin eratnya rangkulan Chaeyoung ditangan Chanyeol. Dia benar-benar tidak tahu apa motif dibalik perilaku menyebalkan Chaeyoung ini.

"Hah, ketua tim kedisplinan sekolah ini memang suka cari perhatian, ya," Cibir Chaeyoung keras, tidak lupa dengan bola matanya yang diputar malas. Chanyeol langsung melotot, memperingati Chaeyoung. Namun bahkan setelah Baekhyun menatapnya lama, tampaknya Chanyeol tidak ada niatan membuka suara untuk membelanya.

Kini, Baekhyun menatapnya dengan tatapan tajam. Menulis sesuatu di buku hitamnya. "Park Chanyeol, siswa kelas satu. Rapihkan rambutmu yang berantakan dan dasimu yang longgar. Ini pelanggaran pertamamu selama disini, jadi kami memberikan kelonggaran," Ujar Baekhyun formal, sebelum beralih menatap Chaeyoung dari atas ke bawah. Membuat Chaeyoung melotot dan menutupi dadanya.

"Kau mesum!" Seru Chaeyoung kencang, membuat beberapa orang menoleh penasaran.

Baekhyun tidak mempedulikan itu. Menggeleng sambil berdecak melihat penampilan Chaeyoung. Sepatunya berwarna merah dengan gambar unicorn, harusnya berwarna hitam atau putih. Rambutnya masih pirang, bahkan ia bisa melihat ada semburat warna merah muda baru yang belum ia lihat kemarin. Gadis itu menggunakan chocker di lehernya dan macam-macam gelang di tangannya. Baekhyun menutup bukunya, menatap Chaeyoung tidak berminat.

"Park Chaeyoung, tolong ikut aku ke ruang kedisplinan sekarang. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan," Ujar Baekhyun lalu melirik Chanyeol, "Tanpa siapapun yang menemanimu."

"Kalau aku tidak mau?" Tantang Chaeyoung. Membuat orang-orang yang mengantri untuk masuk kedalam gerbang sekolah mengerang protes—protes karena Chaeyoung membuatnya semakin lama.

Baekhyun mendorong bahu Chaeyoung dengan pulpen di tangannya. "Direktur sekolah bisa membantumu masuk kesini. Kepala sekolah bisa melindungimu. Tapi, aku memiliki kekuasaan untuk menentukan siapa yang bisa dan siapa yang tidak bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah ini. Direktur dan kepala sekolah tidak bisa menolak perintahku untuk hal ini." Baekhyun tersenyum manis. Memberikan buku hitam serta pulpennya kepada Kris—menyuruh wakilnya itu untuk menggantikannya. Lalu ia berjalan, seakan tidak peduli Chaeyoung akan mengikutinya atau tidak.

Chaeyoung menghentak-hentakkan kakinya kesal.

"Ikuti ketua tim kedisplinan, jangan membuatnya marah," Bisik Chanyeol, membuat Chaeyoung pada akhirnya mengangguk dengan wajah cemberutnya. Mengecup pipi Chanyeol kilat.

"Tunggu aku dikelas, Chan!" Lalu Chaeyoung terpaksa masuk mengikuti Baekhyun.

Chanyeol terkekeh kecil ditempatnya, sebelum tawanya hilang saat sadar Kris sedang menatapnya dengan tatapan tidak biasa.

"Aku rasa, aku menganggapmu sebagai anak yang baik terlalu cepat, 061."

XXX

"Ini kunci lokermu, ini bukumu pelajaranmu selama semester ini. Tapi mungkin kau hanya akan mempelajari setengahnya. Kau harus bersiap ekstra untuk menghadapi ujian semesteran. Ini kunci asramamu, aku harap kau selalu tinggal disana selama bersekolah disini. Jika memang harus berada di luar semalaman penuh dihari belajar, maka kau harus membuat surat ijin atau itu akan dihitung sebagai poin pelanggaran. Lalu baca buku peraturan ini, semuanya ada hal yang boleh kau lakukan dan tidak boleh kau lakukan. Jam ketentuan sekolah, denah sekolah juga kode guru dan ruang di sekolah ini. Setiap pelanggaran akan mendapatkan poin yang berbeda-beda. Semakin banyak poin yang kau kumpulkan, semakin banyak tugas detensi yang harus kau kerjakan."

Chaeyoung menatap tak percaya dengan apa saja yang baru Baekhyun jelaskan panjang lebar. Beralih menatap kunci-kunci serta buku-buku diatas meja.

"Aku tidak memerlukan ini. Aku tidak peduli. Aku ke sekolah ini untuk Chanyeol bukan untuk belajar," Kata Chaeyoung senga.

"Terserah, aku tidak peduli. Kau patuh aku menghargainya, kau melanggar aku hanya tinggal memberikanmu poin dan kelas detensi." Baekhyun membalas tidak peduli dan tetap tenang. Membuat Chaeyoung kesal.

"Aku bisa melaporkannya kepada kepala sekolah atau direktur atas perbuatanmu padaku!"

Baekhyun memilih tidak peduli, ia malah berjalan mendekati Chaeyoung. Berjalan makin dekat hingga membuat Chaeyoung terintimidasi dengan tatapannya.

"Ubah warna rambutmu menjadi warna gelap," Kata Baekhyun sambil mengusap halus rambut Chaeyoung. Membuat yang rambutnya diusap tidak bisa berkata-berkata merasakan sentuhan lembut Baekhyun, "Jangan memakai riasan ke sekolah. Kau bisa mengenakan pelembab bibir atau yang natural-natural saja." Tangan Baekhyun beralih mengusap pipi Chaeyoung dan sampai di bibir gadis itu. Membelai bibir Chaeyoung hingga empunya menahan nafas.

Tangan Baekhyun berjalan menuju leher Chaeyoung, memegang leher itu. Posisinya duduk dimeja sedangkan Chaeyoung duduk dikursi, memudahkannya untuk menunduk hingga bibirnya hanya beberapa senti dari telinta Chaeyoung. Ia membelai choker yang melingkari leher Chaeyoung.

"Jangan gunakan benda ini kesekolah. Tapi itu boleh saja. Kau mengingatkanku pada anak anjing dirumahku. Dia suka menyalak, sama sepertimu." Lalu Baekhyun menjauhkan wajahnya dari wajah Chaeyoung, berdehem sebelum merapihkan dasinya. Berdiri dari duduknya.

"Kau adalah orang berharga dari orang berharga milikku. Jadi, mau seberapapun aku ingin menyekikmu karena semua hal yang kubenci ada didalam dirimu, aku tahu aku tidak boleh melakukan itu. Aku kehabisan cara untuk menjinakkanmu, tapi tenang, ini belum cara terbaikku. Masih banyak yang lain. Kau boleh keluar setelah kau selesai, Park Chaeyoung." Baekhyun terkekeh kecil sebelum keluar dari ruang kedisplinan itu. Sebelum beberapa detik kemudian kepalanya kembali menyembul dari balik pintu.

"Sepulang sekolah, kembali keruangan ini. Banyak yang harus kau urus sebagai anak baru." Lalu setelahnya Baekhyun benera-benar pergi. Menyisakan Chaeyoung yang tubuhnya masih menegang dan tidak bisa berkata-kata.

Wajah Chaeyoung memerah. Ia mengigit bibir bawahnya menahan hawa panas menjalar dipipinya.

"Sial, Byun Baekhyun lebih licik dari yang kuduga."

XXX

"Wajahmu terlihat jelek." Baekhyun melirik siapa orang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya dan langsung mengomentari wajahnya. Ia hanya mendengus tanpa niatan ingin mengangkat kepalanya atau menoleh ke arah Jinseok.

"Bahasa Koreamu terdengar lebih lancar dan fasih ketika mengatai wajahku."

Jinseok tertawa singkat, sebelum ikut menidurkan wajahnya diatas meja mengikuti Baekhyun. Menatap rambut hitam Baekhyun yang terlihat bersinar itu.

"Your hair smells good by the way." Baekhyun hanya menatap aneh Jinseok ketika pemuda California itu memujinya. Menggeleng singkat sebelum kembali menidurkan kepalanya.

"Sedang badmood? Cemburu dengan anak baru?" Bisii Jinseok dengan kalimat terbata dan aksen hancurnya. Tapi tetap berhasil membuat Baekhyun bangun dan menatap Jinseok protes.

"Sok tahu, tidak, tuh."

"Really? Sekolah sedang ramai membicarakan what kind of relationship that Chanyeol and the new student have. Gosipnya sih mereka pacaran sudah lama, tapi aku 'kan tahu siapa sebenarnya pacar Chanyeol. Jadi gosip ini sounds weird jika aku dengar."

"Aku tidak peduli, lah. Chanyeol bisa menjaga dirinya sendiri. Mereka teman masa kecil. Wajar mereka seperti itu setelah bertahun-tahun terpisah." Baekhyun sedang tidak mood menggunakan bahasa inggris, tapi sepertinya Jinseok sudah sedikit banyak mengerti.

Wah, cepat juga anak itu belajar bahasa Korea.

"But, you look like the one who's jealous," Kata Jinseok, dengan menaik turunkan alisnya.

Baekhyun melotot, tidak terima. "What the hell are you talking about? I never get jealous!"

"Why you deny it? Tidak ada hukum yang menyatakan kau tidak boleh cemburu dengan pacar sendiri 'kan?" Jinseok menyenderkan punggungnya dikursi, tapi Baekhyun belum melepaskan tatapan protesnya.

"Memang tidak ada hukumnya. Tapi aku tidak cemburu," Sangkal Baekhyun, bersikukuh dengan perkataanya.

"Aku sudah mengamati hubungan kalian selama beberapa hari pindah kesini. You are the denial type and Chanyeol the one who always express the love. Dan iya, kau sedang cemburu sekarang."

Baekhyun menatap Jinseok kesal, tapi terlalu malas untuk beradu mulut lebih lanjut. Mood nya sedang buruk dan mengobrol dengan Jinseok tidak membuatnya merasa lebih baik.

Tapi, dia jadi sedikit penasaran dengan apa yang tadi Jinseok katakan.

Dia cemburu?

XXX

"Chaeyoung, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Chanyeol heran ketika Chaeyoung kembali berdiri didepan kelasnya dengan senyuman lebarnya.

"Aku meminta ayah untuk dipindahkan kesini!" Seru Chaeyoung girang, tidak mempedulikan tatapan tidak suka dari teman-teman sekelas Chanyeol.

"Tapi aku kira kau berada di jurusan seni?" Tanya Chanyeol lagi.

"Tidak peduli itu jurusan seni atau jurusan ilmu alam, aku harus ada didekatmu." Chanyeol hanya tersenyum sedikit terpaksa mendengarnya. Mau bagaimanapun, ia sedikit risih dengan perlakuan Chaeyoung yang baru padanya. Chaeyoung yang dulu bukanlah tipe yang seperti ini. Dia anak yang manis dan selalu rendah hati. Tidak bitchy seperti ini—seperti kata Jongin.

"Hei, kau yang jelek! Bangun, itu tempatku!" Chaeyoung berjalan sambil berseru, menggebrak meja Jongin setelahnya. Jongin yang sedang tidur langsung bangun, menatap Chaeyoung tidak percaya.

"Gila, memangnya secantik apa dia sampai mengatai Jongin jelek begitu?" Ujar Seulgi tidak percaya—diam-diam ia mengagumi kulit tan Jongin dan bibir tebal Jongin.

Jongin mengusak rambutnya, mengambil tasnya dan bangkit tanpa berkata apa-apa. Sedikit melirik Chanyeol kesal, tapi tidak berkata apa-apa. Sejak semalam, Jongin memang terlihat marah kepada Chanyeol.

"Chae, kau tidak bisa seenaknya. Jongin itu sahabatku, kau tidak bisa mengusirnya begitu saja." Nada bicara Chanyeol sedikit meninggi, kesal juga lama-lama.

"Kau marah padaku? Tapi aku ini sahabat kecilmu yang baru kembali..." Kata Chaeyouny dengan nada mendayu. Chanyeol baru akan membalasnya namun bunyi bel masuk diiringi dengan guru yang masuk membuat Chanyeol mengurungkan niatnya.

Chanyeol menoleh, menatap teman-temannya—Jongdae, Junmyeon, Seulgi, Joohyun, Jongin bahkan Luhan yang menatapnya malas.

"Chae, ada waktu sehabis pulang sekolah besok? Ayo pergi jalan-jalan," Bisik Chanyeol.

"Kita kencan?" Tanya Chaeyoung balik bersemangat.

Namun, Chanyeol tidak berniat membalasnya.

XXX

Sekolah jadi terasa lebih cepat berlalu. Dan rasanya, Baekhyun sedang tidak ingin berinteraksi dengan manusia jenis apapun.

Ia menolak ajakan mengerjakan pr geografi bersama dengan Minseok dan Kyungsoo. Padahal kalau ia ikut, nilai sempurna sudah dipastikan ia dapatkan.

Ia menolak ajakan Sehun makan tteokpokki di kedai langganan mereka. Anak itu merajuk karena akhir-akhir ini ia jauh lebih dekat dengan Kris ketimbang dirinya. Mungkin di lain waktu saat mood-nya sedang tidak buruk, ia akan mengajak Sehun ketempat arkade.

Kris mengajak Baekhyun menonton latihan basket, tentu saja langsung ditolak keras oleh Baekhyun. Kemungkinan ia bisa bertemu dengan Chanyeol sangat besar. Sama besarnya dengan kemungkinan ia akan melihat Chanyeol ditemani latihan dengan Chaeyoung.

Mengingat nama itu sudah membuat Baekhyun kembali kesal.

"Baekhyun, what is aegyo?"

Baekhyun menghela nafas mendengarnya, melirik kesal kearah Jinseok yang berjalan santai disampingnya.

Baekhyun malas berinteraksi dengan manusia, jadi sudah dipastikan Jinseok bukan salah satu jenis manusia. Entah itu manusia modern atau manusia purba homo sapiens atau pitechantropus. Jinseok itu pasti sebangsa dengan alien.

"What? Why you make face like that?" Tanya Jinseok merasa tidak bersalah.

"Nothing,"Balas Baekhyun singkat.

"Daripada kau cemberut begitu, lebih baik kau memperkenalkan klub-klub di sekolah ini." Ucapan Jinseok langsung membuat Baekhyun menoleh dengan tatapan semangat.

"Ayo-ayo! Ada kurang lebih dua-puluh jenis kegiatan di sekolah ini, pokoknya semuanya keren dan ada yang menarik perhatianmu," Ujar Baekhyun bersemangat. Jinseok tertawa kecil melihatnya, Baekhyun benar-benar mencintai sekolah ini. Apapun yang berhubungan dengan SMA Jaeguk langsung membuatnya bersemangat.

"Really? That's sounds cool."

"Jinseok, are you have a kind of hobby or activity you like? Maybe our school have the clubs."

Mereka berjalan beriringan mulai keluar dari koridor kelas tiga. Suasana sekolah masih tergolong ramai karena bel pulang baru saja dibunyikan beberapa menit yang lalu. Jinseok tampak berpikir, kira-kira hal apa yang ia sukai.

"Honestly, I never have any interest of any clubs in my previous school." Jinseok mengangkat bahunya, tidak tahu ia menyukai apa. "Disekolahku dulu, aku tidak mengikuti kegiatan apapun. But in this school, I must have."

Langkah Baekhyun terhenti di sebuah koridor dengan cat berwarna biru muda disepanjang dindingnya. Ada pintu-pintu berjejer beserta plang-plang nama klub yang ada di dalam ruangan itu.

"Koridor ruang klub. Atau bisa dibilang kantornya masing-masing klub. Aku akan memperkenalkan yang terkenal disekolah ini." Baekhyun mengajak Jinseok mengintip disalah satu ruang klub—klub drama. Didalamnya ada beberapa orang yang sibuk memegang kertas dialog dan berlatih drama. Ada juga beberapa yang sibuk membuat latar.

"Definitely no." Jinseok langsung menggeleng.

Baekhyun menarik Jinseok mengintip ruang klub lainnya. Didalamnya banyak orang berkacamata memakai jas putih sedang bereksperimen dengan cairan-cairan kimia.

"How about this?" Tanya Baekhyun antusias.

"Baek, but we are in the social major if you forget."

"Oh, yes. You right."

Mereka megintip ruang klub selanjutnya. Didalam ruangan itu, terdapat kaca besar di dinding. Suara musik berdentum cukup keras. Beberapa orang didalamnya bergerak mengikuti irama musik. Baekhyun ingat ini klub dance, klub yang diketuai oleh Sehun. Dan Baekhyun bisa lihat juga ada Jongin didalam sana.

"Cool, I'm in." Jinseok langsung membuka pintu klub dan masuk begitu saja. Disambut antusias mengingat ia memang terkenal karena kemampuan menarinya. Ia bisa melihat Jinseok dari dalam melambaikan tangannya setelah membuat gestur menyuruhnya untuk pergi duluan. Baekhyun memberikan jempolnya. Ketika ia berbalik untuk menuju asramanya, ia sedikit kaget melihat Chanyeol keluar dari ruang klub basket yang tepat berada disamping ruang klub dance.

Baekhyun melirik sekilas Chanyeol sebelum berjalan melewati Chanyeol begitu saja. Tapi terhenti saat tangannya ditahan Chanyeol.

"Kak, kau masih marah padaku? Aku benar-benar minta maaf dengan apa yang sudah aku katakan semalam. Aku tidak bermaksud," Ujar Chanyeol penuh sesal.

Baekhyun menghela nafasnya. "Tidak apa-apa, kau tidak sepenuhnya salah."

"Lalu, kenapa kakak terlihat masih tidak ingin bicara denganku?" Tanya Chanyeol bingung, membuat Baekhyun berbalik menatapnya dan menyilangkan tangannya.

"Apa yang kau katakan kemarin benar, Chanyeol. Aku seharusnya tidak bersikap terlalu strict terhadap Chaeyoung. Tapi aku mohon, jangan bersikap memanjankan sahabatmu disekolah ini. Karenanya, ia merusak citra penuh disiplin sekolah. Aku bukan egois karena aku ingin semuanya menjadi sesempurna diriku. Aku egois demi sekolah, dan memang sudah tugasku sebagai ketua tim kedisplinan." Baekhyun memijit pangkal hidungnya, sebelum kembali bicara. "Aku harap Chaeyoung bisa mengerti jika itu kau yang menjelaskannya." Baekhyun lalu melepaskan tangannya dari genggaman Chanyeol. Hendak berjalan meninggalkan Chanyeol.

"Kak, tapi kumohon percaya. Chaeyoung bukan seburuk yang kakak kira."

Baekhyun terus berjalan ketika mendengarnya. Ia benar-benar tidak peduli.

XXX

"Namanya Byun Baekhyun, menjabat sebagai ketua tim kedisplinan. Bukan dari latar belakang keluarga pengusaha. Orangtuanya hanya membuka usaha restoran keluarga. Latar belakang pendidikannya juga biasa saja. Namun berdedikasi tinggi dan mendapatkan banyak penghargaan di SMA Jaeguk. Dan itu benar bahwa dia dan tuan Chanyeol berpacaran."

Chaeyoung mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari pesuruh pribadinya. Menggulingkan badannya ke kasur dan menatap layar laptopnya yang berisikan profile Baekhyun serta berbagai macam foto-fotonya.

"Aku tak menyangka Chanyeol gay. Bahkan dengan seseorang pecundang yang hanya mengandalkan kemampuan berbicara kasarnya. Tidak lebih cantik dariku lagi." Chaeyoung berdecih, memikirkan cara untuk menyingkirkan Baekhyun dari Chanyeol. Tapi kemudian, dia sedikit mengigit pipi dalamnya, "Tapi kalau dilihat-lihat, ia juga sedikit tampan, sih. Ah jangan terpengaruh olehnya, aku harus menyingkirkannya."

"Apa yang akan anda lakukan nona?" Tanya pesuruh itu hati-hati, takut menyinggung majikannya.

"Aku sudah pernah melepaskan Chanyeol dan semuanya berakhir buruk. Kini, aku akan kembali membuat Chanyeol jatuh padaku, tidak akan melepaskannya untuk yang kedua kalinya. Tidak ada yang bisa menghentikanku, apalagi si pria Byun lemah ini." Chaeyoung terkekeh, sebelum tersenyum-senyum membayangkan saat Baekhyun sudah tidak ada maka Chanyeol akan menjadi miliknya seutuhnya. Membuat pesuruhnya ikut tertawa terpaksa.

"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?"

"Cari kelemahan Byun Baekhyun. Semuanya tanpa terkecuali. Aku harus membuatnya dikeluarkan dari SMA Jaeguk. Aku tidak bisa membiarkannya dekat-dekat dengan suamiku."

XXX

"Kau tidak sedang menggodaku 'kan, Baek—AW, KAU BARU SAJA MEMUKULKU DENGAN SUMPIT BESI!"

"Kau bukan tipeku, Wu."

Kris datang ke kamar Baekhyun tepat setelah ketua tim kedisplinan itu menelpon dan mengajaknya untuk makan ramen bersama. Malam hari, dan Baekhyun mengajak seorang pria untuk makan ramen dirumahnya. Bagaimana Kris tidak curiga?

Kris mengusap-ngusap dahinya yang terasa sedikit sakit, melirik Baekhyun yang sedang sibuk menuangkan air panas di ramen instan milik mereka. "Lalu, untuk apa kau memanggilku kesini? Aku yakin bukan untuk menggodaku atau sekedar bosan ingin ditemani makan 'kan?"

"Hah, kau terlalu mengenalku baik." Baekhyun duduk dihadapan Kris, meletakkan dua cup mie ramen instannya yang perlu waktu sekitar tiga menit sebelum bisa mereka makan. Sudah ada acar lobak dan kimbap yang dibawa Kris. Mengunyah salah satu acar lobak itu sambil berkata, "Aku rasa, aku bertengkar dengan Chanyeol."

"Sebuah kemajuan. Akhirnya Byun Baekhyun mengalami fase dimana akan memanggilku untuk curhat karena bertengkar dengan pacarnya," Kata Kris diselingi tawanya. Membuat tabokan protes dari Baekhyun mendarat di tangannya.

"Aku serius!"

"Oke-oke, aku serius. Ini pertama kalinya kau bertengkar serius setelah beberapa minggu pacaran. Apa penyebabnya?" Tanya Kris, sembari mengintip cup mie ramennya dan kembali menutupnya saat melihat mie nya belum matang.

Baekhyun sekarang menguyah kimbapnya. Memasang wajah bingung. "Sebenarnya, aku juga tidak tahu kenapa. Atau bagaimana kami memulai pertengkaran ini. Aku bahkan tidak tahu ini disebut sebuah pertengkaran atau tidak."

"Kau selalu membuat semuanya menjadi rumit." Kris mengeryit tidak paham, "Ceritakan padaku secara detail."

"Ini awalnya karena Chaeyoung. Pasti kau tahu betul 'kan bagaimana sikap tidak sopannya pada hari pertamanya masuk sekolah. Bahkan ia tidak tinggal di asrama hari ini. Seluruh tim anggota kedisplinan pasti merasakan hal yang sama. Kesal, marah, merasa tidak dihargai, dan disepelekan. Kita semua marah, tapi kau tahu 'kan betapa sensitifnya aku tentang hal itu?" Baekhyun mulai memakan ramennya disetiap jeda kalimatnya.

"Aku sangat tahu. Kau yang paling membenci hal itu dari semua orang." Kris mengangguk, ikut memakan ramennya.

"Nah, dan semua itu di perburuk dengan pacarmu yang malah terus berada disamping sumber kemarahanku hari ini. Aku tahu mereka sudah berteman sejak kecil, Chanyeol sudah menceritakan semuanya padaku. Tapi itu bukan berarti kau boleh membiarkan teman masa kecilmu berlaku seenaknya kalau ia berbuat kesalahan 'kan? Bukan juga berarti memaklumi segala yang teman mu lakukan hanya karena dia orang baru. Kita membicarakan Chanyeol disini! Dia si 061, si pahlawan masa orientasi yang berani melawan ketua tim kedisplinannya. Tapi seharian ini dia terus berada disamping Chaeyoung, mengangguki setiap perkataan dan kemauan Chaeyoung layaknya anjing yang penurut kesayangan majikannya.

"Aku sudah mencoba membuatnya terpukul, mengatakan bahwa ia seharusnya tidak bersikap seperti itu seharian ini hanya karena Chaeyoung anak baru, teman masa kecilnya sekaligus mempunyai koneksi dengan direktur sekolah. Tapi kau tahu apa yang dia bilang? Dia bilang aku egois. Aku benar-benar tak percaya dia mengatakan itu padaku hanya untuk membela Chaeyoung." Baekhyun menggebrak meja, membuat Kris yang sedang menikmati ramennya sambil mendengarkan cerita Baekhyun tersentak kaget.

Kris menelan makananya, meminum setengguk air putih. "Jadi kau marah karena seharian ini Chanyeol berada disamping Chaeyoung, menuruti setiap perkataan Chaeyoung, bahkan membela Chaeyoung?" Baekhyun mengangguki semua kalimat Kris, mendengus tidak semangat.

"Aku benar-benar kesal. Apalagi dia benar-benar mengatakan sesuatu yang membuatku sedikit banyak sakit hati, tidak percaya dia punya pikiran seperti itu padaku."

"Memangnya dia bilang apa?"

"Dia bilang, aku ini egois karena mengangap semua orang harus sama sempurnanya dengan diriku. Maka hal itu baru benar. Woah, itu benar-benar membuatku tidak bisa berkata-kata. Dia bahkan tidak tahu alasannya dan seenaknya bilang begitu. Aku rasa dia belum cukup mengenal semua sifat—"

"Bagaimana Chanyeol bisa tahu jika dirimu sendiri saja tidak membuka diri padanya? Chanyeol terus membuka dirinya, mengekspresikan cintanya cukup dengan hal kecil. Ia belum banyak mengenalmu karena masalahnya ada di dalam dirimu," Potong Kris berbiacara dengan anda serius. Membuat Baekhyun sedikit merinding mendengar suara berat itu berbicara dalam.

"Tapi—"

"Baekhyun, kau cemburu 'kan melihat Chanyeol seharian berduaan dengan Chaeyoung?" Tanya Kris tiba-tiba.

"Cemburu apanya, tidak—"

"Lagi! Kau menyangkalnya lagi. Kau bilang tidak cemburu padahal dirimu cemburu. Kau bilang semua perlakuan Chanyeol terlihat menggelikan padahal sebenarnya itu membuatmu salah tingkah. Jika kau saja tidak terbuka pada dirimu sendiri, bagaimana Chanyeol bisa tahu?"

Baekhyun mengigit bibir bawahnya mendengar itu semua. Menjeduk-jedukkan kepalanya frustasi dan meraung.

"Aku tidak akan bilang semua perkataanmu benar. Tapi aku tetap benci saat aku tidak bisa membalas perkataanmu."

"Sama-sama, Baekhyunee."

XXX

Baru beberapa menit yang lalu Kris pergi pulang ke kamarnya. Baru beberapa menit yang lalu juga ia membersihkan sisa cup ramen yang baru saja ia makan bersama Kris. Namun, pintu kamarnya sudah diketuk lagi untuk yang kedua kalinya pada malam ini.

"Siapa—"

"Look at this Byun!" Sebuah kertas langsung tertempel di jidatnya, membuat pandangannya terhalang. Dengan sedikit mendengus, ia mengambil kertas itu sambil menatap Jinseok jengkel.

"What the hell, dude?"

Lihat dulu kertasnya, president!"

Senyuman Baekhyun tanpa bisa dikintrol terukir puas ketika melihat lembaran kertas dengan coretan angka tujuh puluh lima disana. Menatap Jinseok bangga sambil menepuk-nepuk bahunya dramatis.

"Kau lebih pintar dari yang kuduga."

"Hey, tentu saja. Aku ini langganan juara kelas di LA!" Jinseok menyaut bangga, membusungkan dadanya layaknya baru saja memenangkan sebuah perlombaan besar.

Baekhyun terkekeh, serius tidak menyangka pria pindahan luar negeri itu mendapatkan nilai diatas rata-rata untuk tes bahasa korea kemarin. Lagi, Jinseok juga sudah tampak mulai berbicara bahasa korea walau masih terbata dengan aksen kebarat-baratan.

"Mau aku traktir?" Tanya Baekhyun cuma-cuma yang langsung disambut Jinseok antusias.

"Hell yeah, kapan lagi president Byun akan mentraktirku?"

Baekyun tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu langsung masuk kedalam kamarnya cepat, mengambil dompet, ponsel juga jaketnya sebelum menarik Jinseok cepat untuk turun dari lantai kamar mereka.

"Kita akan makan diluar?" Tanya Jinseok sedikit tersengal karena tiba-tiba Baekhyun bersemangat sekali mentraktirnya. Ia membuka pintu gedung asrama saat Baekhyun sudah berada diluar. Memakai jaketnya yang belum terpasang dengan benar.

"Dimana tempatnya?" Tanya Jinseok lagi dengan nafas tersengal.

"Tempatnya tidak jauh dari sini." Baekhyun berjalan diekori oleh Jinseok dibelakangnya. Mereka berjalan mengikuti jalanan trotoar meninggalkan gedung asrama mereka. Tapi, Jinseok langsung mengerutkan dahinya begitu melihat Baskhyun berhenti didepan sebuah mini market.

"Are you wanna bought something first?" Tanya Jinseok heran mengikuti langkah Baekhyun yang masuk kedalam mini market. Mengangguk membalas sapaan penjaga kasir sebelum berjalan menuju rak-rak penuh dengan makanan khas mini market korea.

"This is what i called heaven! Free to choose anything, or if you feel confused about what the tasty one you can ask me. I will go to that lunch box corner!"

"Yak, president Byun! Aku tidak mengerti ini apa dan maksudnya apa?" Langkah Baekhyun terhenti, langsung berbalik kembali menuju tempat Jinseok berdiri dan tersenyum.

"Ini traktiranmu. Orang korea normal mana yang belum pernah mencoba makanan-makanan surga ini?" Baekhyun berdecak diakhir, menatap Jinseok seakan melihat betapa malangnya dia karena belum mencoba makanan-makanan ini.

"Jadi kau akan mentraktirku makanan kemasan ini?" Tanya Jinseok dengan nada protes, namun Baekhyun menggeleng cepat.

"Jangan memandang ini sebelah mata, kau belum mencobanya. Baiklah, aku akan memilihkannya." Baekhyun menggulung lengan bajunya, seperti mau melakukan tugas berat—ia mulai menyusuri satu-satu rak yang ada di dalam mini market itu.

Jinseok hanya menatap Baekhyun aneh tapi tetap mengekori Baekhyun dari belakang. Ia melihat Baekhyun mengambil banyak cup-cup dengan warna yang berbeda-beda. Ia mengambil sekotak keju leleh, mengambil dua kotak makan siang instan dengan isian berbeda dan menarik tiga plastik sosis kemasan dari tempat kaitannya.

Mata Jinseok sedikit membelalak saat Baekhyun akhirnya berhenti dan berbalik menghadapnya—menunjukkan betapa penuh tangannya membawa makanan-makanan yang sebenarnya bisa dibilang kurang sehat itu.

"Apa kurang banyak?" Tanya Baekhyun lugu.

Jinseok langsung menggeleng, kembali menatap Baekhyun protes. "Kurang banyak apanya? Are you sure we can eat them all?"

"One hundred percent sure. Sana ambil minumannya. Aku mau memasak ini semua."

Jinseok diam-diam terkekeh namun tetap berjalan menuju kulkas dan mengambil minuman botolan secara asal—karena dia belum lancar membaca hangul dan tak tahu apa artinya.

Ia memgambil tempat duduk dekat jendela yang jauh dari pintu masuk dan penjaga kasir. Mengamati Baekhyun yang sedang sibuk menyeduhkan isi cup, membuka tutup oven dan mengaduk sana-sini. Walau wajahnya terlihat biasa saja, Jinseok tahu bahwa sebenarnya ketua tim kedisplinan itu bersemangat tentang makan di mini market ini.

Jinseok memilih memainkan ponselnya, hingga beberapa menit kemudian suara kursi ditarik membuatnya mendongak. Tau-tau, meja mereka sudah penuh dengan makanan.

"Woah, the look is not as bad as i think." Jinseok menatap satu persatu makanan didepannya. Asap menguar dari masing-masing makanan dan ia akui bau nya tidak begitu buruk walau ia masih belum terbiasa dengan aromanya.

"Let me introduce you, this precious one by one." Baekhyun menunjuk kearah cup dengan kue beras, kue ikan, saus merah dan lelehan kejua didalamnya, "This is called tteokpokki. They have rice cake, fish cake, and I added some melted cheese in there. Kau bukan orang korea kalau belum memakannya."

"Lalu ada samyang buldak. Korean fried noodle that spicy as hell if you can't handle it. But I added some cheese to in there." Mata Jinseok beralih ke cup berisikan mie berwarna merah pekat dengan bau pedas yang kuat. Tertutupi oleh lelehan keju ditambah taburan rumput laut diatasnya.

"Then, we have two lunch box in here. This one is tonkatsu lunch box. We have a big slice of tontkatsu, fried rice, mac and cheese, and kimchi in there. Second we have—"

"Gosh, stop it President. Let just eat, okay?" Potong Jinseok sedikit pusing mendengarkan penjelasan bertubi-tubu dari Baekhyun. Sang ketua tim kedisplinan menyengir, menutup mulutnya sadar bahwa ia terlalu bersemangat disini.

"Sorry, ayo makan!"

Awalnya, Jinseok tampak ragu menyentuh makanan-makanan itu. Namun Baekhyun dihadapannya terus berusaha menyakinkan bahwa makanan ini super enak.

Jadi dengan gerakan ragu, Jinseok mengambil sumpitnya.

"Bagaimana?" Tanya Baekhyun tidak sadar.

Jinseok memasang tampak berpikir seraya mengunyah. Hingga matanya sedikit melotot, dan senyuman terukir diwajahnya.

"This so fucking delicious!" Jinseok bertepuk tangan kecil. Lalu Baekhyun tersenyum puas melihat bagaimana Jinseok memakan semua makanan itu dengan lahap. Bahkan sampai membuat Baekhyun harus tersenyum paksa kepada penjaga kasir yang menatap mereka berdua dengan pandangan geli.

Jinseok makan seperti babi, satu fakta yang baru Baekhyun ketahui hari ini.

"Oh, ya Baek. Aku sudah masuk kedalam klub dance, kau harus menambahkan itu kedalam biodataku."

"Really? That fast? Padahal kudengar seleksi masuk ke klub dance cukup sulit."

"Baek, you talking with pro dancer in here."

Baekhyun memutar bola matanya malas, sedangkan Jinseok tertawa kecil sambil terus makan.

"Dulu, sebelum sekolah di SMA Jaeguk, aku sering kesini jam tiga pagi saat aku kelaparan." Baekhyun tiba-tiba teringat masa sekolah menengah pertamanya. Terkekeg geli mengingat bagaimana ia mengendap-ngendap keluar dari rumah untuk makan di mini market.

"Untuk apa makan disini jam tiga pagi?" Tanya Jinseok masih dengan mengunyah makanannya hingga belepotan.

Baekhyun sedikit berdecak melihat bagaimana Jinseok makan. Ia mengambil tissue dan mengelapkannya ke wajah Jinseok dengan sedikit kasar.

"Aku suka kelaparan ditengah malam karena sibuk untuk belajar. Hei, jangan belepotan!"

Jinseok terkekeh lagi, mengambil tissue nya dari tangan Baekhyun dan mengelap wajahnya sendiri.

"Biarkan saja. Kan aku punya ketua tim kedisplinan yang sedia mengelap mulutku yang belepotan kapanpun kumau," Ujar Jinseok dengan nada merayu.

Baekhyun memasang tampang ingin muntahnya. "Like I want."

Lalu mereka tertawa setelahnya, namun kedua kepalanya menoleh begitu seseorang memanggil mereka berdua dari arah belakang.

"Senior Jinseok? Kak Baekhyun?"

Senyuman Baekhyun langsung luntur dari tempatnya.

Satu dari seribu juta orang yang mungkin akan pergi ke mini market ini, kenapa harus Chanyeol?

XXX

Adios! Chanpawpaw.