Marry The Night

.

Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC, TYPOS, DLL…

Genre : Drama, Romance, Hurt/comfort, Crime, Tragedy, Violence, Dll…

.

Chapter 12 : Setelah itu

# # # # #

Naruto membawa Hinata ke kamarnya dan saat ini, sedang menunggu istrinya itu selesai mandi dengan bersandar di jendela dengan segelas minuman keras di tangannya. Meskipun safirnya melihat ke arah luar jendela yang mengarah ke taman, pikirannya tidak berada di sana.

Ia merenungkan kejadian tadi siang, dimana ia menangis karena kalimat Hinata padanya dan mengajak wanita itu ke kamarnya, untuk menjalankan apa yang dinamakan sebagai malam pertama pengantin. Meskipun ia sudah melewatinya terlebih dulu sebelum menikah, ia hanya berusaha untuk menutupi apa yang terjadi tadi siang di taman.

Menangis? Seorang bos mafia menangis di depan wanita?

Jika ada yang mengetahui hal itu, Naruto yakin ia tidak akan memiliki wajah untuk menemui siapapun lagi. Ia berusaha untuk menyembunyikannya, namun tetap saja Hinata akan tahu mengingat wanita itu membalas pelukannya.

Tapi, kenapa ia menangis? Selama ini tidak pernah airmatanya keluar, meskipun ia telah melihat berkali-kali bagaimana keadaan kamar orangtuanya hingga melihat anak lain yang mengalami hal sama dengannya. Namun kali ini, hanya dengan satu kalimat dari wanita bermata unik itu ia tidak bisa menahan airmatanya.

Aku tidak akan mengkhianatimu… aku tidak akan meninggalkanmu…

Aku akan mewakilkanmu untuk menangis…

Naruto menegak minumnya hingga gelas tersebut kosong kemudian meletakkannya pada meja tidak jauh dari tempatnya. Ia meringis sambil menutup mata, berpikir betapa memalukannya hal tersebut telah terjadi.

"Naruto?"

Suara merdu itu membuat Naruto membuka matanya, menatap sang istri yang kini berdiri dengan wajah penuh keheranan padanya. Ia memakai jubah mandi dan rambutnya yang panjang masih basah dengan air berjatuhan, membasahi jubah mandinya. Sejujurnya, Naruto menganggapnya sangat terlihat seksi seperti itu.

"Kau sudah selesai mandi," ujar Naruto mengulurkan tangannya. "Kemari."

Hinata berjalan menghampiri Naruto, menggapai tangan sang suami yang kemudian menariknya tiba-tiba ke dalam pelukan. Ia bisa merasakan betapa hangatnya tubuh Naruto yang memeluknya dengan kepala tenggelam pada lehernya.

"Kau wangi," Naruto mencium leher Hinata. "Dan aku menyukainya."

"Em… terima kasih?" Hinata tidak tahu harus menjawab apa

LEMON ALERT!

Tangan Naruto turun dari punggung Hinata, namun tidak melepaskannya begitu saja melainkan mengikuti garis punggungnya dengan erotis hingga meremas kedua bokongnya, membuat Hinata memekik terkejut.

"Sssh… "

Hinata menelan ludah. Ia bisa merasakan tubuhnya semakin panas seiring dengan tubuh mereka yang menempel satu sama lain. Apalagi ia hanya menggunakan pakaian dalam di balik jubah mandinya, tentu saja ia bisa merasakan betapa dekatnya tubuh Naruto dengannya. Dan betapa Naruto menginginkannya.

"Naruto… "

"Hm?"

Hinata mendorong sedikit tubuh Naruto, membuat pria itu berhenti dan menatap Hinata dengan kedua tangan di pinggangnya agar tubuh mereka masih menempel satu sama lain.

"Ada apa?"

"K-kita benar-benar akan melakukannya?"

Naruto menyipitkan matanya,"Kau mau berbohong padaku?"

Cepat-cepat Hinata menggelengkan kepalanya,"A-aku tidak akan berbohong padamu… "

"Kalau begitu," Naruto mengecup pipi Hinata. "Berikan aku kesempatan untuk memulai malam pernikahan kita."

Wajah Hinata semakin berwarna merah padam,"I-ini sedikit aneh?"

"Aneh?" tanya Naruto tersinggung. Ia akan bercinta dengan istrinya dan disebut aneh?

"Maksudku," lanjut Hinata. "Kau bersikap lembut. D-dan itu… aneh."

Tawa Naruto menyembur keluar. Oke, wanita yang menjadi istrinya ini bukan hanya naif dan polos. Tapi tidak terlalu mengenalnya karena memang ia tidak pernah memperlakukan Hinata maupun wanita manapun yang tidur dengannya dengan lembut. Mungkin bisa dikatakan, Hinata adalah wanita pertama yang akan merasakan kelembutan sikapnya.

"Kalau begitu," Naruto mencium bibir Hinata dengan lembut namun juga menuntut hingga mengigit agar mendapatkan celah untuk memasukkan lidahnya kemudian menguasai Hinata hingga istrinya tersebut mengerang lalu melepaskan bibir mereka. "Aku akan menunjukkannya padamu malam ini, di tempat tidur kita. Bagaimana aku akan bersikap lembut pada istriku."

Setelah mengatakannya, Naruto mengangkat Hinata pada kedua tangannya dan menjatuhkannya ke tempat tidur kemudian memposisikan dirinya di atas sang istri yang menutup wajahnya dengan tangan.

Naruto tidak kehabisan akal. Ia tidak akan memaksa Hinata, toh ia masih memiliki tempat lain untuk membuat dirinya terpuaskan malam ini. Juga Hinata, kalau wanita itu tidak sanggup untuk menutupi wajahnya dengan tangan.

Bibir Naruto mengecup punggung tangan Hinata yang menutupi wajah dan turun ke leher putih istrinya, mengigit pelan dan mengecup tempat itu hingga meninggalkan bekas memerah di sana. Setelah itu, ia turun mengikuti garis tubuh Hinata hingga ke tengah dada dengan kedua tangan sibuk membuka pengikat jubah mandinya.

Safir Naruto berkilat lapar saat melihat tubuh di depannya yang terlihat seksi dan menggairahkan meski masih tertutupi oleh pakaian dalam serta jubah mandi yang tidak lagi berguna untuk menutupi tubuh. Tanpa membuang waktu, Naruto mengecup dada Hinata dan meremas salah satunya dengan tangan, membuat Hinata mengerang.

"Kau menikmatinya, bukan?" tanya Naruto

Tidak ada jawaban dari Hinata, namun ia tahu jika istrinya itu setuju dengannya. Ia kemudian melanjutkan kegiatannya dengan membuka bra Hinata kemudian membuangnya begitu saja ke lantai serta jubah mandinya. Safirnya melirik, mendapati Hinata masih menutup wajahnya.

Namun satu yang Hinata tidak tahu. Naruto menyukai permainan apapun jika ia bercinta, jadi ia akan berpura-pura untuk menjadi seorang suami yang penyabar dan mengecup dada Hinata, menggodanya hanya untuk membuat istrinya itu menyerah dengan mengerang.

Sampai ketika tangan Naruto berusaha untuk melepaskan celana dalam Hinata, membuatnya langsung melepaskan tangannya dari wajah hanya untuk menahan tangan Naruto.

"JANGAN!"

Tangan Naruto berhenti, membuatnya menatap Hinata dengan senyuman penuh niat tersembunyi. "Hm? Kenapa?"

"A-aku malu… "

"Untuk apa? Aku sudah pernah melihat bagian ini sebelumnya," ujar Naruto menunjuk bagian yang dimaksud

Hinata menunduk,"T-tetap saja… sebelumnya kau berbeda, jadi aku-"

"Baiklah, baiklah!" potong Naruto menegakkan tubuhnya kemudian menjatuhkan diri di sebelah Hinata. "Aku tidak akan memaksamu."

Hinata bergelung menghadap suaminya,"N-Naruto?"

"Tapi aku punya ide menarik lainnya," ucap Naruto menyeringai. "Kau mau tahu?"

"Aku yakin aku tidak akan menyukainya."

"Mungkin awalnya ya. Tapi setelahnya, kau akan ketagihan hingga tidak bisa berhenti menggerakkan bokongmu-"

"NARUTO!" tegur Hinata, terlalu malu mendengar kelanjutan kalimat Naruto

Tetap saja, pria itu menyeringai semakin lebar. "Jadi? Putuskan sebelum bagian tubuhku yang memuaskan kita berdua harus kehilangan gairahnya."

Hinata melirik bagian yang dimaksud dan terkejut karena ternyata selama ini bagian itu terlihat cukup menonjol dari balik celana Naruto. Ia memutuskan untuk melirik ke tempat lain dimana wajah Naruto berada, dengan safir yang masih menatap ke dalam lavendernya seakan menunggu jawaban darinya.

"Y-ya… aku akan melakukan idemu-"

Tanpa membuang waktu untuk mendengarkan Hinata menyelesaikan kalimatnya, Naruto melumat bibir istrinya yang berwarna merah menggodanya sedaritadi. Tangannya bergerak menuju leher Hinata, turun hingga ke dada wanita itu hanya untuk memainkan puncaknya yang sudah mengeras.

"Engggh… eemmmhhh~"

Hinata mengerang di tengah ciuman mereka, membuat Naruto semakin memperdalam ciumannya dan tangannya semakin bersemangat untuk bergerak. Hingga tangan Naruto lainnya menangkap pinggang Hinata dan menariknya untuk memposisikan Hinata berada di atas tubuhnya.

"Eemmhh~, Nar-, Nggh… Naruto?"

"Sssh… ini ide menarikku. Kau berada di atas tubuhku," bisiknya di leher Hinata

Kepala Hinata otomatis mengadah, menikmati cumbuan sang suami. "T-tapi… aku tidak bisa…"

Tangan Naruto bergerak di sepanjang punggung Hinata hingga menemukan batas celana dalam sang istri,"Aku tahu kau pasti bisa melakukannya, istriku."

Hinata mengigit bibirnya. Ia tidak tahu apa-apa tentang teknik bercinta, bahkan ia hanya melakukannya beberapa kali dengan Naruto dan membencinya. Tapi kenapa sekarang tubuhnya terasa panas, seolah menginginkan pria itu?

Apakah karena ia merasa kasihan seperti kata Naruto? Atau rasa tanggung jawab karena perbuatan kejam kakaknya pada keluarga Naruto? Tidak. Bukan itu semua. Entah kenapa, ada sesuatu di hatinya yang tertarik pada sisi gelap Naruto dan sejujurnya, ia tidak tahu rasa apa itu.

Tiba-tiba tangan besar Naruto yang hangat menyentuh pipinya, menyadarkannya dari lamunan. Safir Naruto terlihat berkilat di tengah lampu redup menatapnya dengan senyuman jahil. Namun ia tahu pria itu menunggunya.

"Kau melamun? Astaga, berarti kau memang suka aku berbuat kasar ya?"

"B-bukan begitu!" sahut Hinata cepat

"Lalu?"

Lavender Hinata melirik dada telanjang Naruto yang bidang,"A-aku… tidak tahu cara melakukannya…"

Naruto tertawa pelan, menarik Hinata pada pelukannya hingga dada keduanya saling menempel erat dan tangan Naruto bergerak di punggung Hinata hingga celana dalamnya, menariknya ke bawah.

"Aku akan membimbingmu," bisiknya kemudian mencium bibir Hinata

"Nnggh~"

Tangan Naruto terus bekerja hingga celana dalam Hinata lolos dari tubuhnya, membuang benda itu begitu saja kemudian meremas kedua bongkah besar yang montok hanya untuk menggesekkannya pada pusat gairahnya.

"Aaahh! N-Naruto!"

"Kau suka itu?" tanya Naruto membuka ritsliting celananya

Hinata tidak menjawabnya, ia mengigit bibir untuk menghentikan erangan yang berkali-kali lolos dari bibirnya tanpa bisa ia tahan. Meskipun Naruto masih memakai celananya, ia merasakan sesuatu menyengat tubuhnya hanya karena gesekan tubuh mereka.

Dan tiba-tiba saja Naruto menegakkan tubuhnya, membuat Hinata mengeryit heran.

"Masukkan. Kau tahu caranya, bukan?"

Wajah Hinata memerah,"T-tidak! Aku tidak tahu caranya! B-bagaimana mungkin-"

"Kau tahu caranya," potong Naruto yakin. "Kau hanya malu mengakuinya."

Hinata ingin sekali jatuh dari tempat tidur dengan kepala dibawah untuk kehilangan ingatan. Namun untuk saat ini, demi gairah mereka berdua, ia tidak bisa melakukannya. Tidak sebelum ia dan Naruto terpuaskan.

Dengan tuntunan tangan Naruto, Hinata berusaha untuk membimbing sang gairah ke dalam dirinya. Terasa menyesakkan seolah seluruh darahnya terpompa ke kepala dan jantung berdetak sepuluh kali lebih cepat. Terlebih, titik sensitif dibawah perutnya semakin berdenyut setiap sang gairah memasuki tubuhnya.

Safir Naruto memandangi Hinata yang bersusah payah melakukannya sambil tersenyum simpul. Ia benar-benar menikmati pemandangan di depannya. Dan ia mengagumi betapa beruntungnya ia memiliki istri secantik dan semenarik Hinata meskipun darah pria yang ia benci mengalir di tubuh wanita itu.

"N-Naruto… aahh… sudah c-cukup… " desah Hinata kepayahan

"Hm? Tapi masih ada setengah lagi-"

"A-aku tidak bisa… aku tidak bisa melanjutkannya… "

Naruto menghela nafas, namun tidak benar-benar merasa keberatan untuk membantu Hinata untuk menyatukan diri mereka hanya dengan sekali gerakan dari Naruto, membuat istrinya itu menjerit keras.

"Aaaaaahhhh!"

Senyuman Naruto melebar,"Kau merasakannya sekarang?"

Hinata berusaha mengatur nafasnya, ia merasa benar-benar penuh saat ini. Lupakan menjawab pertanyaan sang suami, saat ini entah kenapa seluruh inderanya tidak berfungsi dengan baik selain tubuhnya yang merasakan sang suami menggerakkan tubuhnya.

"Ngghh… aaah! Aaahh… Aaaahhh… Naruto… "

Ia tidak tahu apapun lagi. Yang ia tahu, bibirnya mengeluarkan suara-suara desahan serta nama Naruto mengikuti. Begitu pula saat tangan Naruto melepaskan pinggangnya, ia tidak berhenti setelah pria itu tidak perlu lagi membimbingnya. Kini, tangan Naruto sibuk berada di dada Hinata, memijatnya dan bermain dengan puncak yang mengeras tersebut.

Peluh Hinata berjatuhan, lavendernya melihat sang suami yang menggeram dan safirnya yang tidak melepaskan pandangan darinya. Entah insiatif darimana, Hinata mencium Naruto dengan ganas. Seakan saat ini, ia tidak sedang menjadi dirinya yang polos dan naif. Ia menjadi liar dan bergairah karena suaminya.

Dan tidak ada selama ini yang bisa melakukannya selain Naruto.

Hingga teriakan Hinata serta tusukan terakhir Naruto sebelum menumpahkan cairannya mengakhiri segalanya.

"Aaaaaahhhhh!"

Naruto memeluk Hinata yang masih berada di atas tubuhnya, peluh membanjiri tubuh keduanya sesaat bibir mereka terpisahkan. Nafas keduanya saling memburu dengan kedua mata saling memandang tanpa ada yang berniat memisahkan diri.

Sampai sebuah senyuman penuh kepuasan Naruto terlihat,"Kau benar-benar… luar biasa menggairahkan dan… hah… hebat… "

Dan tiba-tiba saja segala indera Hinata serta kesadarannya kembali. Wajahnya memerah bagaikan direbut saat ia mengingat apa yang telah ia lakukan di atas tubuh Naruto tadi, kemudian menenggelamkan kepalanya pada leher Naruto karena malu.

Naruto terkekeh,"Kau hebat, sayang. Kau benar-benar memuaskanku… malam pengantin pertamaku, istriku mengendalikanku dari atas tubuh-"

"Hentikan!" protes Hinata. "I-itu memalukan… "

"Kau mau melakukannya lagi untukku?" tanya Naruto mengabaikan protes Hinata

Tidak ada jawaban dari Hinata, membuat Naruto yakin jika wanita yang menjadi istrinya itu juga menginginkan hal yang sama dengannya. Satu ronde sama sekali tidak cukup untuknya setelah semua pengalamannya selama ini.

Naruto menarik Hinata pada pelukannya tanpa melepaskan sang gairah masih terhubung diantara keduanya, kembali memenuhi Hinata membuat wanita itu terkejut. Dengan cepat, Naruto membalik posisi mereka hingga kini ia berada di atas tubuh istrinya tersebut.

"N-Naruto?"

"Akan memalukan jika seluruh ronde malam ini akan dipimpin oleh istriku. Kali ini, biarkan aku yang memuasakanmu," ucap Naruto mencium paha putih Hinata

Dan sebelum Hinata memprotes atau membalas ucapannya, Naruto sudah kembali menggerakkan pinggulnya hingga yang bisa dikeluarkan oleh Hinata hanyalah desahan-desahan penuh kenikmatan yang bagaikan lagu, membius dirinya untuk terus menikmati percintaan mereka.

Di sela-sela kegiatan itu, Naruto tersenyum.

Akhirnya, ia membuat tubuh Hinata tidak bisa meninggalkannya. Ia akhirnya benar-benar membuat wanita itu menjadi miliknya. Menjadi pionnya.

# # # # #

Neji berdiri di depan bangunan besar dengan keadaan yang benar-benar tidak bisa dibilang baik. Baju berantakan, luka dimana-mana serta beberapa bagian tubuh mulai membiru dan penampilannya? Jangan ditanya. Benar-benar hampir bisa dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memiliki rumah.

Setelah melewati hari yang panjang, kini ia sudah berada di depan bangunan besar yang disebut sebagai markas dan rumah keduanya. Tempat dimana pelindung sekaligus penjagalnya berada.

Bagaimana ia bisa berada di sana?

Sesudah dibuang oleh Shikamaru dan Iruka, Neji berjalan ke jalanan yang cukup ramai dengan susah payah. Sinar matahari yang menyengat sama sekali tidak membantunya yang sedang terluka. Bahkan saat itu, ia melihat puluhan orang melihatnya seakan ia adalah tunawisma yang masih mudah dan patut dikasihani.

Berusaha mengabaikan pandangan orang-orang, Neji menemukan sebuah sepeda tidak dirantai atau dikunci. Ia melihat sekeliling, merasa aman karena sepeda itu berada di sebuah gang kecil dan tidak terlihat ada satu orangpun yang memilikinya. Tanpa membuang waktu, Neji mengambil sepeda tersebut dan melaju menuju tempat dimana ia harus melapor segera.

Menghela nafas, Neji ingin sekali cepat-cepat melupakan beberapa menit terburuk dalam hidupnya tersebut. Ia kemudian berjalan memasuki gedung tersebut dan melewati beberapa orang berpakaian hitam yang ia tahu adalah bawahannya, meskipun ia tidak mengenal mereka.

Neji melesat menuju sebuah pintu yang tertutup rapat di ujung ruangan. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu dan masuk ke dalamnya. Seperti yang ia duga, Asuma sang ketua duduk di balik meja kerjanya sambil menggeram pada seseorang yang menghubunginya lewat ponsel. Beberapa detik kemudian, pria berjenggot itu melemparkan ponselnya yang hampir mengenai Neji sambil memaki.

"Maaf, Bos. Saya gagal-, ah tidak. Lebih tepatnya hampir berhasil," ujar Neji mengabaikan rasa penasarannya dengan apa yang terjadi barusan

Asuma menaikkan kedua kakinya di atas meja,"Hampir berhasil? Kau gagal. Dan aku tahu itu."

Lavender Neji membulat, terkejut dengan apa yang dikatakan Asuma tapi tidak bertanya apapun. Ia memutuskan untuk mempelajari apa yang dimaksud oleh Asuma sebelum gegabah mengatakan sesuatu.

"Jadi, apa yang kau dapatkan dari sana? Kulihat kau mengalami hari yang buruk. Bagaimana dengan Hinataku?"

Neji ingin sekali muntah saat pria itu mengatakan adiknya seolah-olah benda yang telah dimilikinya. "Hinata menikahi Naruto. Sebagai perjanjian untukku… bebas."

Asuma menggeram dan menendang gelas yang berada di atas mejanya dengan penuh amarah hingga gelas itu terjatuh dan pecah berkeping-keping. Neji sudah memperkirakan bagaimana reaksi pria itu, ia hanya perlu menunggu apa rencana pria itu selanjutnya. Atau tepatnya, rencananya yang harus disetujui oleh pria itu.

"Dasar brengsek! Hinataku… menikahi pria itu?!"

Neji mengangguk,"Maafkan aku, Bos."

"Bagaimana dengan yang lain? Apakah mati?" tanya Asuma menyadari jika Neji kembali seorang diri

Neji berdiam diri sejenak. Ia berpikir untuk tidak memberitahu keberadaan Akatsuki, polisi pemburu yang dibentuk secara rahasia oleh kepolisian untuk menumpasnya. Kemungkinan besar, Bos nya juga akan menyusul, cepat atau lama. Dan itu adalah satu hal yang menguntungkannya.

"Kami berpisah di jalan. Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana nasib mereka saat ini karena aku tertangkap oleh Naruto di mansionnya," ujar Neji berbohong. "Mungkin saja mereka juga sudah mati kini."

Kepala Asuma mengadah ke langit-langit ruangan sambil mengerang,"Baiklah… Apa rencanamu selanjutnya?"

Ini dia yang Neji tunggu. Dengan mantap, Neji memandang Asuma yang kini sudah kembali berfokus padanya. "Menyerbu Naruto secara langsung. Di tengah kekacauan, aku akan menculik Hinata dan membawanya ke sisimu. Setelah itu, terserahmu jika ingin melakukan sesuatu pada Naruto dan mansionnya."

"Kau menculik adikmu dan membawanya ke sisiku?" tanya Asuma

"Ya, Bos."

"Konyol. Adikmu sudah menjadi istrinya. Apa yang membuatmu berpikir Naruto akan meninggalkan istrinya begitu saja?"

"Tentu saja Hinata pasti akan dijaga. Prioritas utama kita adalah mendapatkan Hinata dan menghancurkan Naruto, benar kan Bos?"

Asuma mengangguk,"Baiklah baiklah. Terserahmu saja, tapi aku tetap memiliki rencana cadangan lainnya jika kau gagal. Kau sadar kan kalau kau sudah mengecewakanku dua kali? Dan melihatmu yang seperti ini… " Asuma melirik Neji dari atas hingga bawah. "Benar-benar memalukan. Aku tidak bisa percaya lagi padamu begitu saja."

Kedua tangan Neji terkepal di balik tubuhnya. Ia hanya bisa menahan perasaan kesal karena dihina oleh Asuma, tapi tidak masalah. Sedikit lagi ia bisa mendapatkan Hinata dan menghancurkan Asuma bersama Naruto. Dengan begitu, ia dan Hinata dapat kembali pada dunia terang dan bersih seperti dulu.

Tapi, apa yang dimaksud bosnya dengan rencana cadangan?

Neji tidak bisa bertanya. Tapi ia memastikan akan mencari tahu apa rencana Asuma nanti sebelum hari untuk menyerang Naruto tiba.

"Kau masih disitu? Keluarlah dari ruanganku, kau bau sekali. Aku mau melihatmu bersih dan rapi. Lagipula ini sudah malam," ujar Asuma menggelengkan kepalanya

Neji mengangguk dan cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut, hanya untuk mendengar tentang betapa Asuma memuja adiknya dalam hal tidak sehat. Jika bukan karena lima tahun lalu Asuma tidak mengetahui segalanya dan melihat adiknya, ia tidak akan terjebak pada kegelapan seperti ini.

Hanya orangtua dan Hinatalah, satu-satunya yang mampu membuatnya kembali mengingat bagaimana ia yang berada di dunia penuh dengan cinta.

.

Sasuke tercengang dengan apa yang dikatakan Itachi padanya barusan. Ia baru saja pulang dari rumah Sakura, mengantarkan kekasihnya itu pulang setelah selesai bekerja di rumah sakit. Ketika ia sampai di rumah, Sasuke mendapati Itachi duduk di sofa dan memanggilnya untuk berbicara.

Apa yang dikatakan oleh Itachi benar-benar membuatnya tidak dapat berkata apapun. Akatsuki sudah merencanakan sedemikian rupa untuk menghabisi Naruto dan Bos Neji. Hal yang tidak ia sangka-sangka akan direncakan secepat itu karena bawahan Neji tertangkap.

"Maaf, Sasuke. Bagaimanapun juga, kau harus memahami posisiku." Itachi berkata dengan nada pelan dan berharap pengertian dari adiknya

Kedua tangan Sasuke terkepal,"Apa tidak ada jalan lain? Apa harus membunuh Naruto-, astaga. Kau tahu Naruto, dia tidak bersalah apapun! Ia hanya ingin balas dendam atas kematian orangtuanya!"

"Aku tahu," sahut Itachi menunduk. "Tapi kau juga seharusnya tahu sebagai sahabat dan pengacaranya, jika Naruto membuat bisnis ayahnya semakin berkembang. Hingga ke titik meresahkan masyarakat."

"Kau bisa menutupinya!"

"Tidak mungkin," jawabnya menghela nafas. "Apa aku perlu memberitahumu siapa Akatsuki, sekali lagi?"

Sasuke menggeram,"Tapi mereka teman-temanmu!"

Sepasang Onyx Itachi membalas tatapan adiknya. "Dewasalah, Sasuke. Di dalam pekerjaan, tidak ada teman. Yang ada atasan dan bawahan serta masalah yang harus diselesaikan. Lagipula, aku tidak ingin menjadi kepala kepolisian baru yang korup. Kau mengerti?"

Cukup menyakitkan, saat Itachi mengatakannya. Selama ini, pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu jarang sekali menegurnya dengan kata-kata yang tajam. Ini tidak seperti pembicaraan antar saudara yang mengkhawatirkan sahabat adiknya. Tapi seperti pengacara tersangka dengan kepala kepolisian.

Itachi memperhatikan adiknya yang berdiam diri di depannya, seolah adiknya itu sedang berpikir keras. Ia tersenyum simpul, meski ia berbicara seperti itu pada Sasuke, ia juga mengkhawatirkan Naruto. Meski ia tidak pernah menyukai sahabat adiknya itu.

Tapi benar kata Sasuke. Naruto tidaklah bersalah. Anak tidak bisa memilih di keluarga mana ia di lahirkan dan nasib apa yang menimpanya kelak. Ia bisa memahami perasaan pria yang melihat bagaimana keluarganya dibantai di depan matanya. Bahkan saat itu, adiknya yang masih janin harus meninggal sebelum melihat dunia.

Bagaimana jika ia berada di posisi Naruto? Mungkin ia sudah menjadi pembunuh saat ini.

Tapi kembali lagi pada pekerjaannya. Ia tidak bisa memihak Naruto, ia harus memihak dunia terang dan masyarakat sebagai kepala kepolisian. Pemilihan padanya dilakukan atas dasar kepercayaan, meski ia terbilang sangat muda dan banyak orang yang meremehkannya. Karena itulah, ia tidak bisa melakukan apapun.

Termasuk menyelamatkan Naruto yang diincar oleh teman-temannya yang sangat memperdulikan keadilan dari bangku kuliah dulu. Hanya inilah yang dapat Itachi lakukan, memberitahu Sasuke tahapannya dan biarkan pria itu memikirkan apa yang akan terjadi nanti untuk mencegahnya.

"Baiklah," ucap Sasuke akhirnya. "Maafkan aku, Aniki. Seharusnya aku berterima kasih karena kau sudah memberitahuku informasi sepenting ini."

"Tidak masalah. Asal kau tidak memberitahu Naruto," kata Itachi menyandarkan punggungnya

"Tidak akan. Aku akan mencoba untuk mencari cara lain. Dan aku tahu orang yang tepat untuk melakukannya," ujar Sasuke tersenyum misterius

Itachi bersiul,"Wow. Kau terkadang memang menakutkan. Aku bersyukur kau memilih untuk menjadi pengacara dan tidak mencoba merebut posisiku dengan otakmu yang selalu cepat berpikir itu."

Mendengar pujian kakaknya membuat Sasuke malu, ia berdiri sambil berbalik pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Ia harus tidur cepat malam ini, banyak yang harus ia kerjakan besok selain mengurus perceraian Naruto dengan Sakura dan klien lainnya. Ia juga harus melaksanakan rencananya secepat mungkin.

Mungkin ia akan memberitahu Sakura nanti. Bagaimanapun, ia juga sahabat Naruto.

# # # # #

Pagi itu Hinata terbangun dari tidurnya. Secara mengejutkan, ia merasa segar sekaligus pegal setelah apa yang ia lakukan bersama Naruto sebelum keduanya jatuh tertidur. Lavendernya melirik pria yang kini masih mendengkur di sebelahnya dengan wajah damai seakan pria itu bukanlah seorang Bos mafia, seakan ia tidak memiliki masa lalu kelam itu.

Hinata menyelimuti tubuh atas Naruto yang sedikit terbuka, berpikir jika pria itu akan merasa kedinginan namun lavendernya tidak sengaja mendapatkan sebuah luka tembak yang masih membekas di bahunya.

Apakah itu luka yang kakaknya tembakan pada Naruto di malam tragedi itu?

Dan bukan hanya luka tembak itu yang ia temukan. Seharusnya Hinata menyadarinya karena selama ini Naruto selalu tidak memakai baju saat bercinta dengannya. Ternyata, di belakang tubuhnya ada sebuah tato bergambar rubah berekor sembilan berwarna emas dengan api mengelilinginya.

Kenapa ia tidak menyadarinya selama ini?

Jari Hinata mengikuti garis punggung Naruto dengan penasaran, sebelah tangannya menutupi dada telanjangnya dengan selimut dan menyebrangi tubuh Naruto yang masih tidur menyamping. Kini ia bisa melihat dengan jelas indahnya tato pada punggung pria tersebut. Namun tiba-tiba saja sebuah tangan menarik pinggangnya.

"Kau boleh mengambil foto punggungku, lebih tahan lama untuk dilihat."

Suara parau khas orang bangun tidur jelas terdengar dari suara Naruto, namun seringai jahil pria itu sama sekali tidak berubah saat menatap Hinata.

"S-sejak kapan kau bangun?"

"Sejak kau menyentuhku dengan jari mungilmu," jawab Naruto mengecup tangan Hinata

Hinata menarik tangannya,"Seharusnya kau bilang kalau kau sudah bangun."

Naruto menguap dan mengecup pipi Hinata,"Aku sudah bangun."

Perlakuan Naruto aneh dan lembut, membuat Hinata mundur dengan wajah memerah serta mengusap pipi yang dikecup suaminya tersebut. Setelah semua yang ia alami dengan pria itu, Hinata merasa ada yang kurang saat Naruto bersikap bagaikan seorang pria sejati.

Cepat-cepat Hinata menggelengkan kepalanya dan turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintunya tanpa melihat Naruto atau pria itu akan semakin menjahilinya dengan kata-kata manis yang memabukkan. Lavender Hinata melirik cermin di sampingnya, yang menampilkan tubuh telanjangnya yang penuh dengan rona merah.

"I-ini… jangan katakan… " Hinata menutup mulutnya tidak percaya

Tidak salah lagi, sebagai ganti sebuah memar kebiruan atau warna merah karena tamparan atau pukulan, Naruto meninggalkan tanda baru di tubuh Hinata. Meski dulu pernah meninggalkannya yang lebih sedikit daripada bekas memar, kini tanda ciuman pria itu menyebar di seluruh tubuhnya.

Leher, dada, perut, paha… di tempat-tempat intim pun ada. Membuat Hinata teringat betapa liarnya ia tadi malam.

"Tidak, tidak, tidak… aku tidak percaya ini! Apa yang kulakukan… kenapa aku… "

Wajah Hinata kian memerah mengingat percintaannya dengan Naruto tadi malam. Entah keberanian dari mana ia mendapatkannya. Apakah wanita yang bercinta dengan pria juga mengalami hal sepertinya? Meski kejadian sebelumnya adalah pemaksaan?

Atau jangan-jangan… ia luluh dan tertarik pada sisi gelap Naruto?

Tidak mungkin.

Ia tidak mungkin tertarik pada pria itu. Tidak mungkin, setelah sebuah cerita masa lalu tentang kekejian kakaknya dan percintaan panas yang diiringi kalimat manis?

Sedangkal itukah dirinya? Atau memang… ada sesuatu yang lain?

.

Naruto bergelung di kasur, berusaha untuk duduk dan mengambil rokok yang selalu ia simpan di lemari kecil dekat tempat tidur. Setelah menyalakannya sejenak, ia menghembuskan asap rokok itu ke udara dan menyandarkan tubuhnya pada punggung tempat tidur. Kepalanya mengadah ke langit-langit kamar.

Ia berhasil. Hinata luluh pada ceritanya dan membuat istri barunya itu berpihak padanya setelah mengetahui sepak terjang Neji selama ini. Tepat sekali keputusan Neji untuk tidak bercerita tentang perbuatannya lima tahun lalu pada Hinata sendiri, ia pasti tidak akan sanggup melihat bagaimana Hinata menangis.

Tapi berbeda dengannya. Ia tidak ragu-ragu untuk melakukannya meski ia juga menangis karena ucapan Hinata padanya. Dan sejujurnya, itu membuatnya malu. Namun tidak masalah, Hinata tidak akan mengungkit hal itu padanya. Selamanya.

Mungkin, keadaan akan ia buat sedikit berbeda kali ini. Ia akan memainkan peran lain yang menguntungkannya karena Neji kini telah bebas dan dipastikan kembali pada sang ketua. Naruto tersenyum muram, mengingat jika orang yang ia benci selama ini seharusnya bukan hanya satu. Tapi dua.

Jika apa yang dikatakan Neji benar kalau Asumalah yang memerintahkannya selama ini, berarti ia harus melenyapkan pria itu. Meski harus menggunakan cara terkejam sekalipun. Toh, ia sudah sendirian di dunia ini. Tidak akan ada yang menangis untuknya. Tidak pula Hinata yang sudah menjadi istrinya.

Cklek

Naruto mengamati sang istri yang keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh yang dibalut jubah mandi. Seperti semalam, wanita itu tampak menggiurkan meski ia sadar bercak kemerahan masih terlihat jelas di lehernya.

"Harum sekali," puji Naruto tersenyum

Hinata menunduk malu,"Mandilah. Apa kau tidak bekerja hari ini?"

Naruto mematikkan rokoknya setelah menghembuskan asap terakhir,"Tentu saja aku harus bekerja. Sekarang, berpakaianlah dan temui aku di ruang makan. Karena kini kau bukan tawanan dan berstatus istriku, aku mengijinkanmu untuk berkeliling mansion ini."

"Aku sudah melakukannya kemarin sebelum kau mengijinkanku,"jawab Hinata

"Oh satu lagi," ujar Naruto mengabaikan ucapan Hinata. "Kalau kau melakukan hal aneh atau berusaha melarikan diri dari mansion ini… kau tahu apa akibatnya."

"Aku tidak akan pernah melakukannya!" seru Hinata. "Kau tahu kalau aku berjanji padamu-"

Naruto memutar safirnya, menjawab Hinata sebelum masuk ke dalam kamar mandi,"Kau masih mempunyai pikiran naif itu rupanya. Aku tidak akan terpaku pada janji manis, sayang. Kalau aku mempercayai ucapan manis seperti itu, sudah daridulu aku tidak bernyawa."

Setelah mengakhirinya dengan pintu tertutup, Hinata hanya bisa terpaku di tempat sebelum sempat menjawab apapun pada Naruto. Pria itu benar-benar keras kepala, atau dapat dikatakan jika kepercayaan pria itu lebih mahal dari emas atau berlian apapun di dunia ini.

Meski ia tidak bermaksud untuk berbohong, Hinata setuju ia mengatakan sebuah kata-kata manis pada pria itu. Tapi, bukankah pria itu akhirnya menangis karena kata-katanya? Atau ada yang lain? Hinata menghele nafas.

Naruto adalah sebuah misteri. Bagaikan sebuah malam di dalam kegelapan yang dengan mudahnya tersesat tanpa cahaya, ia tidak bisa menemukan jalan untuk menggapai hati pria itu. Bagaimana ia dapat membuat pria itu mengerti, membuatnya sadar jika kepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan?

.

Hinata melewatkan hari dengan membosankan. Naruto pergi bekerja bersama Shikamaru, Iruka, Lee dan Sai sedangkan Kiba diberi perintah untuk mengawasinya. Meski ia diijinkan untuk berkeliling di mansion, namun apa gunanya jika harus sendirian serta diawasi?

Namun saat ia menyibukkan diri di taman bunga yang menjadi hiburan satu-satunya, Kiba datang padanya membawa dua orang yang kini sudah cukup akrab dengannya. Sasuke dan Sakura.

"Terima kasih, Kiba. Kau boleh kembali," ujar Sasuke

Kiba mengangguk dan pergi bersama dengan anjing besarnya yang berwarna putih. Hinata mengerjapkan mata pada sepasang kekasih itu. Ada apa mereka datang dan mencarinya? Jelas sekali jika keduanya tidak mencari Naruto karena pria itu kini sedang bekerja dan jarang berada di rumah pada siang hari.

"Hai, Hinata. Kuharap kami tidak menganggumu?" sapa Sakura tersenyum

Hinata cepat-cepat menggelengkan kepalanya,"T-tentu saja tidak! Sebenarnya, aku merasa bosan disini… jadi aku sedikit bersyukur kalian datang."

Sakura melihat sekelilingnya kemudian tertawa pelan,"Ya… memang membosankan sekali terkurung di tempat ini meski terlihat mewah, bukan?"

"Hinata, kami perlu bicara denganmu. Apa kau keberatan?" tanya Sasuke menginterupsi sebelum keduanya berbicara lebih jauh

"Tidak. Ehm, kalian mau bicara dimana?"

"Mari berbicara di ruang tamu," sahut Sakura riang. "Aku ingin teh yang Naruto dapatkan dari luar negri. Dia pasti masih memilikinya!"

Hinata bertanya-tanya dalam hati, apakah yang dimaksud oleh Sakura adalah teh yang disiramkan Naruto padanya kemarin atau bukan. Tapi ia mengurungkannya dan lebih memilih untuk berjalan ke ruang tamu bersama sepasang kekasih yang juga sahabat suaminya tersebut.

"Jadi, ada apa kalian mengunjungiku? Apa ini berkaitan dengan… Naruto?" tanya Hinata

Sasuke dan Sakura mengangguk secara bersamaan,"Ya. Dan kami ingin memberitahumu sebagai istrinya. Kami harap kau mau mendengarkan."

"Tentu saja. Sebenarnya… ada apa?" tanya Hinata semakin penasaran

"Begini," Sasuke memulai. "Neji sudah dibebaskan, benar?"

Hinata mengangguk.

"Kemarin, sehari sebelum Neji dibebaskan yaitu hari dimana Neji menyerang mansion ini… teman-teman aniki menangkap beberapa bawahan Neji yang seharusnya menyerang bersamanya."

"Teman-teman kakakmu… berarti polisi?"

Sasuke menggelengkan kepalanya,"Mereka Akatsuki. Mungkin bisa dikatakan polisi dan bukan polisi. Mereka sekumpulan teman Aniki yang memiliki rasa keadilan yang tinggi meski tidak terlihat dari penampilannya. Keahlian mereka menemukan target dan mengumpulkan informasi benar-benar hebat."

Hinata menatap bingung, tidak mengerti maksud dari ucapan Sasuke. Sakura menghela nafas jengah, wajar jika Hinata tidak mengerti mengingat wanita itu baru berada di dunia 'seperti ini' setelah menjalani kehidupan dua puluh tahun sebagai gadis naif.

"Jangan membuatnya menjadi rumit, Sasuke. Intinya, Akatsuki itu polisi sekaligus hakim. Mereka mengejar target penjahat mereka dengan cara apapun, kemudian setelah tertangkap mereka akan memutuskan akan memberikan hukuman mati atau penjara seumur hidup," jelas Sakura menyesap teh nya

Lavender Hinata membulat. Kini ia mengerti apa maksud kedatangan kedua sahabat Naruto itu padanya. Meski hanya menjelaskan tentang grup bernama Akatsuki tersebut, ia sudah mengerti apa maksud dari inti pembicaraan mereka.

"Naruto… menjadi salah satu target mereka?" tanyanya hampir berbisik, seolah apa yang diucapkannya akan menjadi kenyataan jika diucapkan keras-keras

Namun sayangnya, keduanya mengangguk membuat tubuh Hinata mendadak lemas.

"K-kenapa…? apa karena Naruto adalah mafia?"

Sasuke membuka mulut, namun Sakura menepuk bahunya agar diijinkan berbicara. Sakura menatap lembut Hinata yang terlihat shock kini.

"Mungkin kau sudah tahu jika bisnis Naruto bukan hanya pengkreditan, bukan?" Hinata mengangguk. "Jadi, kau sudah tahu apa saja pekerjaan Naruto sebagai mafia?"

Wajah Hinata memucat. Memang benar, beberapa kali ia mendapati Naruto mengatakan secara gamblang apa pekerjaannya. Dan sejujurnya, ia tidak pernah mengira jika pria itu akan terjebak masalah seperti ini karena sebelumnya, semuanya berjalan mulus dan lancar saja. Benarkan?

"Perjudian illegal, penjualan manusia dan bisnis obat terlarang. Itu semua sudah meresahkan masyarakat dan Naruto kini dikejar oleh Akatsuki sebagai musuh mereka," jelas Sasuke

"T-tapi… mafia bukan hanya Naruto. Kenapa hanya dia?"

"Kau benar. Mafia bukan hanya Naruto. Kau pasti sadar kalau kakakmu juga bekerja sebagai bawahan seorang bos mafia, benar?"

Kini, Jantung Hinata berdegup keras. Bukan hanya suaminya, Naruto yang diincar. Kakaknya juga?

Sakura menatap prihatin,"Oh Hinata. Maafkan kami membawa kabar buruk seperti ini, tapi hanya padamulah kami bisa meminta tolong."

"A-apa? Pertolongan apa… " Hinata masih shock dan belum sepenuhnya mengerti pertolongan apa yang dimaksud

"Sebelumnya, apakah kau mengenal Sarutobi Asuma?" tanya Sasuke

Hinata mengeryit sesaat kemudian menggelengkan kepalanya,"Tidak. Ada apa? Siapa pria itu?"

Sasuke melirik Sakura yang juga meliriknya, kemudian kembali lagi pada Hinata. "Kau yakin?"

"Y-ya… ini adalah pertama kalinya aku mendengar-"

Hinata memutuskan kalimatnya saat ia mengingat kembali jika Naruto pernah mengatakan nama itu dalam ceritanya kemarin. Pria yang menjadi musuh ayahnya kalau tidak salah, bukan?

"Hinata?"

"Ah, sebenarnya… Aku mendengarnya dari cerita Naruto. Pria itu salah satu musuh ayahnya, bukan?"

Sakura terkesiap,"Naruto sudah bercerita padamu?"

"Sakura," tegur Sasuke. "Bisa kita fokus? Kita harus selesaikan hal ini secepatnya sebelum Naruto kembali karena Kiba melaporkan kedatangan kita!"

Pasti saat ini Naruto telah mendapatkan kabar jika mereka berdua bertamu ke mansionnya meski ia tidak berada di tempat. Kiba pasti melapor dengan patuh pada Naruto, jika Hinatalah tujuan mereka datang. Sebelum pria itu datang dan menghancurkan segala rencananya, ia harus cepat-cepat memberitahu Hinata.

"A-apa yang bisa kulakukan? Jika itu harus menolong Neji-nii dan Naruto… "

Sasuke berdehem,"Sebenarnya, Neji dikejar oleh Akatsuki dan nyaris tertangkap meskipun mereka membiarkannya lepas untuk mengikuti rencana mereka kemarin."

"Dan," Sakura melanjutkan. "Akatsuki memiliki rencana untuk menghancurkanmu serta Bos Neji, kemungkinan Neji juga termasuk karena ia seorang tangan kanan Bos mafia dan seorang pembunuh."

Kedua tangan Hinata saling bertaut untuk menghentikan getaran,"A-aku… "

"Hanya ini yang bisa kau lakukan. Hinata, bujuklah Naruto untuk beristirahat sejenak dari kegiatannya seperti bekerja sebagai mafia. Kalian bisa pergi ke luar kota sekalian untuk menghindari rencana Akatsuki terjadi, atau rencana Asuma karena Neji pasti kembali ke tempatnya."

Pergi ke luar kota?

"Ya, pergilah berlibur. Untuk masalah disini, biarkan kami menyelesaikannya semampu kami, Hinata. Kau istrinya kini, ia pasti akan mendengarkan permintaanmu. Kau masih ingat apa yang kukatakan padamu tentang perasaan Naruto, bukan?" timpal Sakura

Hinata mengangguk dengan wajah memerah. Tapi masalahnya, bagaimana ia membujuk Naruto?

Sasuke mengeryit pada Sakura,"Tunggu sebentar. Apa maksudmu tentang perasaan Naruto?"

Alih-alih menjawab, Sakura mengerling pada kekasihnya. "Rahasia wanita."

"Dasar wanita," gerutu Sasuke kembali pada Hinata. "Bagaimana menurutmu rencana kami?"

"L-lalu… sampai kapan? Kau tahu Naruto, aku tidak mungkin bisa menahannya begitu lama," ujar Hinata

"Kau benar. Naruto begitu pemaksa dan penuh ambisi untuk membalas dendam," jawab Sakura memaklumi. "Tapi seperti kataku, kalau kau yang meminta ia pasti akan menurutinya. Dan kami perlu waktu hingga..."

"Dua minggu," Sasuke melanjutkan. "Pergilah selama dua minggu dan setelah itu kalian bisa kembali ke kota ini dengan selamat."

Dua minggu. Waktu yang cukup lama untuk menjauhkannya dari tempat kelahirannya. Hinata tidak pernah pergi ke luar kota sekalipun selama ini. Orangtuanya terlalu sibuk untuk itu dan ia tidak terlalu ingin membebani mereka lagi.

Namun, ada pemikiran yang menganggu Hinata selain bagaimana caranya ia membujuk Naruto. Apa yang harus ia lakukan bersama Naruto selama dua minggu itu?

Sakura memperhatikan Hinata yang berpikir, tersenyum karena sedikit merasa gemas melihat tingkah laku istri sahabatnya itu. Entah kenapa, ia merasa bagaikan seorang kakak saat bersama Hinata. Semacam rasa khawatir seorang kakak kepada adiknya. Entah karena Hinata terlalu polos atau memang wanita itu memiliki kesan tersendiri.

"Kau akan baik-baik saja selama dua minggu itu," ujar Sakura kemudian. "Aku yakin, Naruto memperlakukanmu dengan baik, bukan?"

Hinata mengangkat kepalanya,"Y-ya… kurasa seperti itu… "

Sakura tertawa pelan,"Aku bisa melihat tanda yang ia buat. Jangan berusaha menyangkalnya, Hinata."

Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sakura. Namun setelah memikirkannya selama beberapa detik apa yang dimaksud oleh tanda yang dikatakannya, ia teringat kejadian tadi pagi di kamar mandi. Tidak membutuhkan waktu lama, Hinata langsung merasa wajahnya panas dan menundukkan kepalanya sedalam mungkin.

Sasuke menghela nafas sambil menggelengkan kepala melihat sikap usil kekasihnya itu,"Karena urusan kami sudah selesai, kami akan pamit dulu. Sebelum Naruto pulang."

"K-kalian tidak akan menunggu Naruto?"

"Sayangnya tidak," jawab Sakura berdiri. "Seluruh pembicaraan kita hari ini, tolong jangan katakan pada Naruto. Kami akan memberitahunya setelah kami berusaha untuk mengagalkan rencana Akatsuki terhadapnya."

Hinata mengangguk mengerti, ia mengikuti pasangan kekasih itu hingga keluar dari mansion untuk mengantarkan mereka sampai mobil yang dikendarai keduanya menghilang setelah gerbang besar mansion tertutup.

Kini ia menatap bingung apa yang akan dilakukannya. Mungkin malam ini, saat Naruto pulang ke mansion ia akan bertanya kenapa Sasuke dan Sakura datang tanpa memberitahunya. Ia harus memikirkan sebuah alasan untuk mengelabui suaminya. Bukan hanya itu, ia harus memikirkan bagaimana membujuk Naruto yang benar-benar cerdik dan cukup keras kepala. Apalagi Naruto sudah menekankan jika ia orang yang tidak mudah percaya.

Dan sebuah ide gila terlintas di kepalanya.

# # # # #

TBC

Bad news!

Risa ngga tau kapan bisa update, entah seminggu atau dua minggu lagi atau malah, setelah lebaran karena kesibukan yang menyiksa *garuk-garuk pohon*

Tapi tenang, kita usahain kok tetap menyicil ini fic sampai detik terakhir tenaga kita *mengacungkan tinju* kita hanya ngga mau aja ngasih harapan palsu pada kalian, kata Goryukanda

Akhir kata, Reevvviiieeewwwwwww XD