Naruto milik Masashi Kishimoto

.

.

Like Puppy Love

Chapter XII

.

.

Jantung Sakura terasa berhenti dan jatuh merosot ke perut. Keseriusan di sepasang mata kelam itu…

"Kita sudah sama-sama dewasa, aku tak ingin bertele-tele."

"Aku menginginkanmu."

Ekspresi Sakura yang membuat Sasuke merasa hebat tersebut lama kelamaan membuat wajah Sasuke terasa panas sendiri.

"Katakan sesuatu!" tuntut Sasuke dengan wajah protes yang menurut Sakura manis, pria berparas tegas itu nampak… malu.

"Ah," begitulah suara Sakura yang memberi tahu lawan bicaranya kalau ia tersadar dari keterpanaan. Apa ini nyata? Sakura masih ragu.

"Baiklah, um… sejak kapan?"

Sasuke mengerutkan alis, sungguhan tidak mengerti.

"Apanya?"

"Sasuke-san…menyukaiku?" wajah wanita muda itu memerah dan membuat Sasuke salut masih bisa menanyakan hal seperti ini.

"Sejak pertama kali melihatmu," jawab Sasuke langsung, wajahnya panas dan ia tak peduli lagi. "Hanya saja aku baru menyadarinya setelah aku cemas kau salah paham, soal yang tadi."

Sakura menunduk sambil mengangguk, ia tersenyum, senyuman yang tidak sanggup ditahan. Kesenangannya sungguh terlukis. Cinta pada pandangan pertama bagi Sakura adalah omong kosong, tapi penjelasan Sasuke lewat kalimat "hanya saja baru sadar setelah…" membuat Sakura menerima kelogisan proses yang ada.

Tundukan Sakura yang sedang berseri senang itu membuat Sasuke lupa akan kesadaran dalam berpikirnya, ia nge-blank, antara lega dan tak tahu harus apa selanjutnya sampai…

Sakura terkejut ketika ada sebuah tangan besar yang menyentuh pipinya. Sakura merasakan ada kekuatan yang tersimpan di balik tangan tersebut di samping permukaannya yang agak kasar selayaknya tangan laki-laki. Sakura mengangkat wajahnya, menatap Sasuke yang sudah lebih dulu menatapnya.

Wanita merah muda itu tersenyum, ada guratan merah samar di pipi tirus Sasuke yang menemani rona merah nyata di pipi Sakura.

Tiba-tiba saja Sasuke mengerutkan alis dan membuat Sakura bingung dengan ekspresinya. Sasuke melepas pipi Sakura dan membuang wajah.

Tch!

Untuk menghindari kesalahpahaman karena wajah cemas Sakura, Sasuke pun bergumam kalau ia malu. Tingkahnya seolah sedang menghadapi seorang wanita untuk pertama kalinya.

.

.

Seorang pria mengenakan jas hitam sedang duduk di kursi kerja dan berkutat dengan beberapa dokumen di atas mejanya. Mata biru safirnya rajin menekuni lembaran kerja. Rambutnya yang pirang disisir rapih membuatnya terlihat tampan.

"Naruto."

Pria yang dikuncir tinggi muncul di pintu ruang kerja yang mewah tersebut.

"Shikamaru," balas Naruto mempersilakan rekannya masuk.

"Bagaimana?" Naruto menutup map-map yang ada di atas mejanya setelah melihat map yang di tangan Shikamaru.

Shikamaru bergumam dan duduk di seberang meja Naruto sambil menaruh sebuah map hitam di atas meja.

"Ini adalah tindakan terakhirku selaku kawanmu." Shikamaru melipat tangan sambil bersandar di kursinya selagi Naruto meraih map itu. "Sisanya, benar-benar terserah padamu. Aku tak akan lagi membahasnya agar kau tak terganggu."

Naruto mengangguk sebelum membuka, ia menatap Shikamaru. "Aku hargai segala upayamu dan kupastikan tak akan sia-sia." Dan dibukalah map tersebut.

Shikamaru dapat melihat adanya kilat bening di mata Naruto saat menatap isi dari map hitam tersebut.

Sebuah foto pernikahan. Naruto menatap ada potret dirinya dalam balutan setelan serba putih dengan wanita berambut merah muda yang mengenakan gaun pengantin cantik yang senada dengan ekspresi senyumnya.

"Uzumaki Naruto & Haruno Sakura" tulisan tersebutlah yang dibuat oleh Shikamaru di bawah foto.

Shikamaru membuka laptop dari tas kerja yang dibawanya sementara Naruto membuka lembar berikutnya.

Adalah foto Naruto dengan seragam pilot sedang merangkul wanita yang Shikamaru sebut "Sakura" sedang berperut buncit dan tersenyum hingga menampakan giginya yang rapi.

Berikutnya, Naruto melihat-lihat foto-foto lainnya… foto ia dan Sakura seluruhnya.

Saat masa SMA, wisuda Naruto, rekreasi bersama dan lain sebagainya. Foto-foto tersebut sudah lebih dari cukup menggambarkan betapa dekat hubungannya dengan wanita bernama Sakura tersebut. Apa lagi ekspresi-ekspresi yang terlukis dari wajah-wajah di dalamnya.

"Ini."

Naruto menoleh, melihat Shikamaru sedang menyodorkan layar laptop yang terbuka. Situs media sosial yang didominasi warna biru, facebook, sedang terpampang; nampak di pojok kanan atas nama Nara Shikamaru selaku pemilik account yang sedang login.

"Akun pribadinya," jelas Shikamaru. Naruto melihat nama Uzumaki Sakura yang dalam kurung Haruno Sakura di halaman tersebut. Foto profil yang dikenakan adalah foto seorang balita cantik berambut pirang sedang tertawa memamerkan gigi susunya yang rapi.

'Uzumaki Naruko-chan' adalah kiriman terbaru dari akun tersebut yang dilampiri sebuah foto balita bermata biru itu sedang bercermin bersama boneka Barbie.

"Anakmu, begitu mirip denganmu." Shikamaru berharap kawan pirangnya langsung paham kalau ia tak berminat dicurigai seperti sebelumnya. "Aku bisa lakukan satu hal terakhir lagi untukmu… tes DNA dengan anak itu. Akan kuhubungi—"

"Tak perlu," potong Naruto matanya takjub menyentuh layar tersebut. Ia sedang melihat foto yang lain yang dikirim akun tersebut, foto lama yang memuat gambar bayi pirang dibalut kain bersebelahan dengan foto Naruto berseragam pilot.

'Halo, Ayah.' Kiriman yang mendapat banyak like dan komentar tersebut membuat Naruto bergetar.

"Aku tertarik untuk menemuinya."

Shikamaru tersenyum tipis, usahanya meluruskan hidup kawannya membuahkan hasil. Setelah sekian minggu ia berusaha menghubungkan Naruto—yang hilang ingatan pasca kecelakaan—dengan istrinya kini membuahkan hasil.

"Sesuaikan jadwalku untuknya, tolong. Aku mengandalkanmu, Shikamaru."

.

.

"JADI KAU SUDAH JADIAN DENGANNYA?!" suara Ino di sambungan telpon membuat Sakura mengernyit menjauhkan ponsel dari daun telinganya.

"Ya… um…" Sakura melirik ke belakang, sudah ada Ken dan Konohamaru yang makan ice cream di depan televisi. Posisi Naruko yang menyedot botol susu di pangkuan Sasuke yang sedang menonton televisi membuat Sakura tersenyum lebar. Wajahnya terasa panas.

"TERUS KAPAN NIKAHANNYA?" Ino di telpon masih tidak mampu santai. Perkataan Ino mampu membuat Sakura terpojok dalam rasa malu dan gugup yang tak tertahankan, terutama pemandangan di ruang televisinya. Serasa melihat suami dan anak-anak sedang bersantai. Rasa baru yang tak ternilai harganya.

"Kau gila, ya?!" Sakura nyaris berteriak dengan muka merahnya. "A-ah… pokoknya besok saja ngobrolnya. Kau tahu kan, sekarang aku lagi…"

"Ya, ya. Aku diusir nih mentang-mentang lagi kencan sama sang pacar."

"M-mana ada kencan di rumah." Sakura mulai lupa dengan niatnya menjaga suara. Meski suara telivisi cukup mendominasi, Sasuke melirik karena mendengar ucapan Sakura di telpon barusan.

"Makanya jalan-jalan dong! Bailah. Aku tutup dulu. Tidak ingin ganggu. Hihi. Jaa~"

PIP. Dan Ino memutus sambungan begitu saja. Sakura mematikan layar ponselnya seraya bernapas melepas rasa 'baru-jadian'-nya. Ia kemudian berbalik dan duduk di sebelah Sasuke sambil mengelus rambut pirang Naruko.

"Mau jalan-jalan ke luar?" tanya Sasuke langsung membuat Sakura kaget. Ditatapnya wajah pria yang sedang sedikit mengangkat alis menuntut jawaban.

"Kemana?"

"Makan malam."

Ugh, rasanya Sakura siap meleleh menerima tatapan sang kekasih hati. Mata hitam Sasuke yang berkarisma memberinya sorotan lembut tanpa menghilangkan roman tegas.

Sakura tersenyum dan berbisik... "Merayakan hari jadi?"

Kepala Sasuke yang dihiasi rambut hitam legam bergaya emo itu mengangguk. Mungkin hanya dirinya sendiri dan Tuhanlah yang tahu betapa kuatnya rasa senang yang membuncah di dalam hatinya—yang tertutupi ekspresi tenangnya. Berbeda dengan Sakura yang pada dasarnya ceria menjadi lebih bersemangat, terlihat dari ekspresinya yang benar-benar transparan.

.

.

Tahukah kalian, dua tokoh utama dalam cerita ini sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya?

.

.

Restauran fast food malam ini menjadi pilihan setelah Konohamaru dan Ken kompak merengek ingin menu anak-anak yang terdiri dari nasi, ayam dan tambahan susu juga pudding cokelat. Ditambah ada area bermain kecil di sana.

Naruko telah tertidur digendongan Sasuke saat mengantri di kasir bersama Sakura. Ken dan Konohamaru sudah berlari ke area bermain sejak pertama masuk dan mempercayai Sakura untuk memesankan menu anak-anak kepada mereka.

"Sasuke-san, biar aku yang menggendong Naruko. Pasti pegal, sejak tadi."

Sasuke mengoper Naruko ke gendongan Sakura. Sejujurnya ia tidaklah merasa pegal sama sekali, ia hanya ingin mengambil dompet dengan lancar saat membayar.

Ken dan Konohamaru langsung berlari menghampiri tanpa disuruh saat melihat Sasuke sedang membawa nampan berisi makanan mereka ke meja di mana Sakura sedang duduk membenarkan posisi Naruko yang tertidur dalam kain gendongannya.

Goresan semburat merah tipis muncul di pipi Sasuke yang masih berwajah kalem. Ia kembali mengambil sedotan, saus dan beberapa makanan yang sebelumnya tidak sanggup dibawa sekaligus.

"Maaf Sasuke-san, kau repot membawa sendiri."

"Tak apa." Sasuke duduk di sebelah Sakura yang tersenyum.

"Wuah! Susu cokelat!"

"Puding cokelat!"

Konohamaru dan Ken masih seru.

.

.

Seorang wanita berambut merah panjang sepinggul sedang duduk di sebuah kursi mewah dengan meja kopi di depannya. Mata hitamnya menatap kosong ke depan dengan tatapan tak terdefinisi.

"Kushina-sama," Shikamaru berdiri diambang pintu memberi salam, ia datang bersama Naruto yang datang.

"Mom."

Ekspresi wanita bernama Kushina itu langsung berubah teduh melihat putra tampannya, Naruto.

"Naruto."

Naruto mencium pipinya. "Ada apa memintaku ke sini?"

Kushina mempersilakan Naruto dan Shikamaru duduk dengan uluran tangannya yang mengarah ke kursi-kursi mewah yang lain.

"Aku memintamu pulang. Sampai kapan mau di apartemen? Kurang nyaman apa rumah ini? Banyak pelayan yang akan membantumu."

Naruto duduk. Ia tak menatap ibunya. Alasan sesungguhnya ia menyendiri di apartemen adalah karena Shikamaru sudah beberapa minggu ini berusaha menyadarkannya.

'KAU MASIH HIDUP?' kata pertama Shikamaru saat bertemu Naruto di sebuah restoran kelas atas.

'Kau tidak mengingatku?'

'Istrimu menderita melahirkan dan membesarkan anakmu sendirian.'

'Aku tak percaya kau dan keluargamu menelantarkannya.'

Ucapan-ucapan Shikamaru mulanya membuat Naruto menjauhinya.

Naruto tidak mudah percaya. Ibu kandung Naruto sendiri tak pernah berkata kalau ia mempunyai seorang istri. Naruto sudah membongkar seisi rumah ini dan tak menunjukan adanya tanda kalau ada seorang istri yang pernah ia miliki.

Namun Shikamaru terus berusaha dengan alasan 'Aku hanya bertindak selaku kawan lamamu.'

Naruto meminta bukti, Shikamaru menunjukan salinan surat pernikahan yang tersimpan di pemerintahan dan undangan pernikahan yang diterimanya. Bukti pertama itu membuat Naruto meninggalkan rumah, pindah ke apartemen dengan alasan dekat dengan kantor. Kushina tak pernah membenarkan status Naruto yang sudah berkeluarga setiap Naruto bertanya.

Lalu Shimaru mengajak Naruto melihat Sakura langsung saat perlombaan—yang Shikamaru hafal selalu diikuti Konohamaru dan Sakura selalu menemani—tempo lalu, sempat membuat Naruto menjadi sangat menderita karena sakit kepala juga menjadi sangat pendiam dan sibuk berpikir. Apa lagi, baru kemarin Shikamaru mengajak Naruto mendatangi 'kuburan' Naruto yang dulu didatangi Shikamaru—yang menyaksikan bagaimana Sakura menangis dengan perut besarnya hingga pingsan.

Sampai akhirnya Shikamaru hampir menyerah dengan memberikan halaman akun facebook Sakura yang berisi semua foto yang bisa dicetaknya pula untuk ditunjukan ke Naruto. Termasuk foto Shikamaru bersama Naruto dan Sakura yang memakai setelan pengantin.

"Kudengar, kau masih bertanya-tanya tentang status pernikahanmu." Kushina membuka topik yang membuat Shikamaru cemas.

Shikamaru tahu, Kushina tak pernah menyukai Sakura…

'APA YANG MEMBUAT IBU BEGITU MEMBENCINYA?'

'DIA TIDAK MENCINTAIMU, NARUTO!'

'KARENA DIA TIDAK MENCINTAIMU, KARENA ITULAH AKU MEMBENCINYA!'

Shikamaru menjadi saksi drama keluarga konglomerat ini. Sebagai sahabat Naruto yang dulu sangat mencintai Sakura, Shikamaru yang tahu betul Naruto pergi dari rumah meninggalkan harta kekayaannya untuk menikahi Sakura.

'Sakura mencintaiku, aku tidak mengerti dengan pemikiran Ibuku.'

Shikamaru membantu Naruto membanting tulang tak hanya sebagai pilot tapi sebagai pengusaha kecil-kecilan secara rahasia untuk memanjakan Sakura.

Jadi, ketika telah lama berpisah dengan Naruto yang dikabarkan meninggal dan kemudian bertemu di restoran sebagai orang asing… Shikamaru tak ingin membuat Naruto menyesal ribuan kali lipat ketika ingatannya kembali. Shikamaru yang paling tahu betapa Naruto mencintai Sakura.

"Soal itu… Ya." Naruto menjawab tegas. "Mengapa kau menyembunyikannya? Aku mempunyai seorang istri kan?"

"…" Kushina menghindari tatapan Naruto dengan tatapan tidak suka namun kosong. Ia menatap Shikamaru. "Shikamaru, apa yang kaurencanakan? Kau menginginkan uang atau—"

"—cukup." Shikamaru memberanikan diri, mungkin saja ia terbunuh setelah pulang dari sini. Tapi ini demi sahabatnya sendiri. "Aku tak butuh seperserpun dari kalian. Aku ingin Naruto tidak menyesal saat ingatannya kembali. Kushina-sama, maafkan aku."

Shikamaru lantas menebar serangkaian foto dan salinan surat pernikahan Naruto-Sakura di atas meja kopi. Tak ada yang dapat melihat mata Kushina yang tertutupi poni panjang ketika menunduk melihat benda-benda di atas meja.

Kushina tersenyum anggun. Sejujurnya sejak pertama kali Naruto melihat Kushina setelah lupa ingatan, Naruto menyadari kasih sayang yang besar dari seorang Ibu—

"Apa yang kau bicarakan, Shikamaru?"

—namun, Kushina menjadi makhluk tanpa jiwa tiap disinggung soal status pernikahan Naruto.

"MOM!"

Wajah terkejut Kushina yang nyaris menangis membuat Naruto mengusap wajahnya sendiri. Ia bukan anak durhaka. "Maaf." Naruto bernada sesal setelah suara beratnya sempat membentak menggetarkan hati.

Naruto menggeser kursinya mendekat, memegang telapak tangan Kushina yang lembut dengan kedua tangannya sambil menatap mata Ibunya yang sudah berkaca-kaca. "Apa dosaku sampai tak pantas menerima kebenaran?"

Kushina diam, ia lari dari tatapan Naruto. Air matanya jatuh ke pipi, ia tak sanggup menahan kesedihan. Anaknya sudah dewasa dan cerdas hingga tak mungkin ia bohongi lagi.

"Minato pergi meninggalkan kita, sesaat kemudian aku melihat putraku menuruti cinta bodohnya pada seorang gadis manja." Suara Kushina sejak tadi telah melengking, dibarengi lelehan air mata. Wanita itu sesunggukkan. "Aku menderita, aku ingin anakku bahagia dengan gadis yang pantas."

Akhirnya wanita anggun berambut merah panjang itu melepas perasannya. Setelah kematian suaminya, putra yang dicintainya lebih memilih gadis yang dibencinya. Ia benci Sakura dalam banyak hal yang menuju garis besar: Sakura hanya memanfaatkan kebaikan Naruto.

"Jangan tinggalkan aku lagi, Naruto… jangan…"

Naruto diberi pilihan yang sulit. Istri yang tak sengaja ditelantarkannya atau Ibu yang tak sengaja disakitinya.

"Maafkan aku… Mom." Naruto memeluk erat Kushina.

.

.

Sasuke, Sakura, Konohamaru dan Ken sudah usai makan. Naruko masih pulas dipangkuan Sakura.

"Ba-san, main dulu yah di sana."

"Sudah malam, Konohamaru."

"Baru jam setengah delapan. Lagian besok tanggal merah."

"Baiklah, sampai jam delapan saja ya."

Konohamaru mengangguk menarik Ken. Mereka berlari dan suit di depan tangga seluncuran.

"Jadi…" Sakura menghadap Sasuke, kebetulan mereka mengambil tempat di pojok untuk makan, sofa. "Ceritakan bagaimana Ibu Ken bilang seperti tadi di telepon?"

Ekspresi Sakura yang sangat menaruh perhatian membuat Sasuke mendengus. Tangan Sasuke melewati tengkuk dan bahu Sakura untuk mengelus dahi kecil Naruko yang bersender di bahu Ibunya.

Sasuke menghela napas. Baiklah. Sakura berhak mengetahui kebenarannya. "Setelah bertahun-tahun menghilang, tiba-tiba saja ia muncul dan langsung meminta kesempatan."

Posisi Sasuke yang merangkul Sakura membuat Sakura menyandarkan kepalanya. Ia masih mendengarkan walau tak bisa menatap. "Lalu…?"

Sasuke bisa menghirup aroma shampoo yang Sakura pakai. Pria yang hari ini mendapatkan wanita yang diinginkannya itu menceritakan bagaimana pembicaraannya dengan Karin tadi siang yang membuatnya sadar kalau ia juga tak ingin menyesal kalau tidak memperjuangkan Sakura.

Sakura mendengus malu, lalu bertanya, "kemana saja dia selama ini?"

"Entahlah. Ia pergi sesaat setelah memberikan Ken padaku. Waktu itu usia Ken masih dua minggu."

Sakura mengerutkan alisnya, ia bangkit dari sandaran dan menatap Sasuke. "Tunggu… 'Memberikan', katamu? Kalian… tidak satu rumah?"

"Kami tidak pernah menikah." Sasuke menatap jendela kaca restauran yang menampilkan pemandangan kota Konoha di malam hari. "Dan tak pernah saling mencintai."

Sasuke mengungkap, ia dan Karin mulanya hanya teman sejak kuliah bersama dua orang lainnya—Juugo dan Suigetsu, Suigetsu yang menyukai Karin.

Karin selalu berusaha menarik perhatian Sasuke meski Sasuke tidak tertarik pada urusan perempuan. Sejak dulu ia fokus dengan nilai dan penelitian tugas akhirnya.

Saat bekerja, Sasuke menjadi sedikit dianggap ber-casanova oleh kawan-kawannya. Keluar dengan banyak wanita hanya untuk bersenang-senang dengan kelamnya dunia malam. Tapi tak satu pun disentuhnya di atas ranjang, karena Sasuke bahkan tak mendekati wanita-wanita itu. Mereka datang silih berganti dan akhirnya tak tahan sendiri dengan ketidak pedulian Sasuke.

"Suau hari, setelah acara reuni. Kami mabuk dan…" itu terjadi. Karin mengaku mengambil kesempatan. Sasuke hanyalah pria biasa yang kehilangan kesadaran. Meski tidak mencintai Karin, Sasuke tetap memiliki niat baik untuk mengajak Karin menikah saat mengetahui perut Karin yang sudah besar karena hamil enam bulan.

"Tapi dia menolak."

"Dia menolak?!" Sakura menyalin Sasuke, dengan nada tak percaya.

Sasuke mengangguk, matanya kosong menatap meja kini. Tipikal perempuan penggemar pesta tidak suka diikat, begitulah istilah yang Sasuke lontarkan—meski tak berniat mengikat Karin, ia hanya ingin bertanggung jawab dengan bayi yang berasal dari benihnya sendiri.

Sakura takjub, menatap Sasuke yang terlihat makin memesona. Pria itu benar-benar punya pemikiran waras dan baik di balik wajahnya yang tegas dan boleh dikatakan pantas menjadi penindas tampan.

"Aku tidak habis pikir, ia lari meninggalkan Ken setelah memberikannya padamu?"

Suara Sakura membuat Sasuke memutar kembali ingatan bagaimana Karin datang memberikan Ken yang masih bayi kepada Sasuke. Wanita berambut merah dengan kaca mata itu mengaku sangat menyukai Sasuke tapi tidak dapat menampung kehadiran seorang bayi—Karin sangat tidak siap. Setelahnya, Karin menghilang tak dapat dihubungi.

"Sejak itu, aku merasa kacau, hidupku..."

Sakura mengerti, seorang pria yang sebenarnya punya kepribadian baik seperti Sasuke pastilah kacau diberikan seorang bayi yang Ibunya sendiri lari.

"Antara sedih dan bersyukur."

Setelah Sakura menagih maksudnya, Sasuke menjelaskan ia sangat bersyukur Karin pergi menghilang, karena ia menjadi tahu seperti apa wajah sebenarnya di balik kemenawanan Karin.

Dan ia bersedih karena tak dapat mengurus Ken dengan terampil. Sejak bayi Ken dirawat oleh seorang nenek yang merupakan tetangga Sasuke yang iba dengan keadaannya. Sasuke hanya memberi uang terima kasih sekaligus biaya yang dihabiskan Ken. Ia sangat tertekan tak dapat menjadi Ayah yang baik walau pun ia ingin. Begitu tertekannya melihat Ken tumbuh menjadi bocah kesepian yang mengimpi-impikan tangan Ibu kandungnya.

"Karena kecerobohanku. Semua karena kesalahanku yang membuatnya ada hanya untuk menderita…"

Sakura menggenggam tangan Sasuke, ia menatap mata yang sedang melukiskan rasa sesal yang amat dalam itu. "Kau sudah berusaha, kau Ayah yang baik, Sasuke-san… um… Sasuke-kun."

Sementara itu.

Konohamaru mengeluh melihat jam yang menunjukan pukul delapan. "Ken, ayo, waktu kita habis!"

Ken mengangguk dengan ekspresi tak kalah kecewa dengan habisnya waktu. Namun ketika bergegas, ia tak sengaja menubruk punggung Konohamaru.

"Kenapa niichan?"

Konohamaru berbalik, "masih ada bonus waktu, ayo lanjut main."

Ken tergeret oleh Konohamaru. Mata merah Ken melihat Ayahnya sedang merangkul dan mengobrol dengan 'Mama'nya.

Dan di meja…

Sakura berekspresi lembut. Sasuke tak mampu menepis kehangatan yang menyusupi hati kelamnya.

"Jadi," Sasuke berujar cepat, "Bagaimana dengan…" menelan ludah, "…Ayah Naruko?"

Sakura menarik napas. Memang tak bagus untuknya membuka luka lama, tapi Sasuke juga sudah melakukan hal yang sama untuknya terlebih dulu tadi, jadi Sakura patut membalas.

Namun, tak sengaja mata Sakura melirik ke jam dinding. "Eh? Jam delapan lewat?"

Melihat itu, Sasuke memanggil, "Ken, Konohamaru. Ayo pulang."

Dan Konohamaru yang masih menggeret Ken pun melemaskan bahu.

"Aku ceritakan di apartemen saat anak-anak tidur, oke?" Sakura menawarkan. "Besok tanggal merah, kan?"

Sasuke tersenyum sangat tipis sambil mengangguk.

.

.

Melihat tangisan Kushina dan tatapan sengsaranya, membuat Naruto berpikir ulang untuk menemui istri dan anaknya. Tapi…

"Mom, tidak seharusnya kau biarkan cucu kandungmu terlantar meski kau membenci Ibunya."

Naruto berdiri. "Aku ingin kembali ke istri dan anakku tanpa meninggalkanmu, Mom."

Kushina menggebrak meja. "Tidak."

Naruto mendapatkan kembali makhluk tanpa jiwa itu—yang telah menelan kelembutan dan kasih sayang ibunya.

"Kau tidak diperbolehkan pergi."

Kushina mengisyaratkan pengawal untuk menjaga pintu.

"Kau bahkan tak mengingatnya, kan? Tidak usah mendatanginya!"

Shikamaru tak dapat bergerak pula. Ia dan Naruto dipegangi oleh pengawal. Tak heran jika mengingat seberapa kayanya Uzumaki Kushina.

"Mom, ini bukan dirimu…"

"Tau apa? Kau sedang lupa ingatan, Naruto!"

Naruto masih dengan tatapan kecewanya. "Kau yang tahu rasanya ditinggalkan suami dengan seorang anak tunggal. Bagaimana dengan cucumu? Aku merasa sangat tertekan dan terbebani sudah menelantarkan puteriku sendiri, Mom… tolong…"

Kushina yang sejak tadi berteriak kini berusaha mengatur napasnya.

"Baiklah, jika itu yang kauinginkan…"

.

.

Terdapat rona hitam di bawah mata Kushina yang sangat terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Wanita tua yang masih cantik dan anggun itu terlihat begitu kehilangan dirinya sendiri. setidaknya itulah yang terpikirkan oleh Shikamaru.

"Kau benar-benar lancang, Shikamaru. Aku tidak pernah mengusik hidupmu." Kushina berucap.

Setelah mengurung paksa Naruto di kamar lamanya, kini giliran Shikamaru yang diadili.

"Maaf, Kushina-sama. Aku hanya ingin…"

"…Naruto tidak menyesal?" potong Kushina. "Kau tahu apa? Akulah ibunya! Aku yang paling mengenalnya dan aku tahu dia akan sangat menyesal suatu saat bila perempuan itu menunjukan sisi busuknya!"

Shikamaru menggeleng kecil dan pelan untuk dirinya sendiri, "Kau salah, meski manja, Sakura memperlakukan Naruto dengan baik pula."

"JANGAN KAUSEBUT NAMANYA DI SINI!"

Teriakan Kushina cukup membuat Shikamaru terkejut. Wanita itu siap menjadi gila kapan saja bila menyangkut putera dan perempuan yang dibencinya.

Kushina terduduk di kursinya dan menghela napas mengatur emosinya. Tak hanya rona hitam di kantung dan kelopak mata, Kushina memiliki mata merah mengelilingi iris hitamnya, karena emosi.

"Mengertilah, Shikamaru." Kushina menatap dengan sorot mata lain dengan yang tadi, "Aku ibunya… aku tau yang terbaik…"

"Kushina-sama…"

"Jika kau tak dapat melegakan seorang Ibu yang menyayangi anaknya ini, aku tak punya pilihan lain…" Kushina menyalakan LCD di dekatnya melalui remot.

"Shikadai!" Shikamaru melotot melihat rekaman puteranya sedang bergandengan tangan dengan Temari, istrinya, sedang mengobrol di tengah jalan dengan pengawal-pengawal berjas lambang pelayan Uzumaki.

"Tolong jangan sentuh mereka." Mohon Shikamaru dengan suara sesak.

Kushina tersenyum dengan wajah sayunya.

"Kita sepakat untuk tidak saling ikut campur?"

Shikamaru menatap berat tangan Kushina yang terulur.

Maaf, Naruto…

.

.

Anak-anak telah tidur. Sakura membawa dua cangkir teh ke teras yang sebenarnya lebih difungsikan sebagai jemuran. Sasuke telah berdiri menyandarkan kedua siku di atas pembatas teras apartemen Sakura yang bukan berada di lantai dasar ini.

"Lain kali aku belanja kopi untuk Sasuke-kun…"

Sasuke tersenyum menerima sodoran teh, Sakura ikut menyandarkan siku pada pembatas.

"Jadi…?" Sasuke menyesap tehnya sambil melirik ke Sakura lalu kembali ke pemandangan di depannya.

Sakura mendenguskan senyum. "Dia kakak kelasku waktu SMP, dia kelas 2 SMA sewaktu aku kelas 1 SMP. Jarak umur kami 4 tahun sebenarnya."

Sasuke mendengarkan dengan baik ketika Sakura menceritakan betapa kayanya Naruto dulu dan mendekatinya dengan harta. Tapi Sakura terlalu polos, ia memanglah manja tapi ternyata harta tak dapat memikatnya.

Sakura tidak peduli cinta, yang ia pedulikan hanya dirinya sendiri. Ia sibuk menerima cinta dari orang-orang di sekitarnya. Statusnya sebagai anak rantau membuatnya di atas angin menerima banyak perhatian orang terutama dari Naruto. Dikejar Naruto hingga lulus SMA, Sakura akhirnya mengalah.

Dari sekian pemuda yang mengaku jatuh hati padanya, Narutolah yang paling gigih dibanding mereka yang menyerah dengan keacuhan Sakura. Tak hanya fasilitas, perhatian Naruto menyirami hari-hari Sakura. Sakura pun resmi menjadi pacar Naruto ketika kuliah.

"Kau kuliah?" tanya Sasuke, dijawab oleh anggukan.

"Jurusan biologi," Sakura meneruskan ceritanya, saat semester dua Sakura terpaksa putus kuliah karena tersandung biaya. Selama ini yang membiayai kuliahnya adalah Naruto. Namun saat itu Naruto yang masih berusaha lulus dari akademi penerbangan tak dapat uang lagi dari orang tuanya karena tidak menyukai Sakura.

"Kenapa mereka begitu membencimu?"

Sakura menatap lurus ke atap-atap rumah warga dan gedung lain. "Ibunya memusuhiku karena menganggap aku manja. Aku akui itu…" Sakura mengaku setransparan mungkin pada Sasuke kalau memang ia sangat bergantung pada Naruto. Ketika Naruto tak dapat lagi memfasilitasinya, Sakura menjadi marah dan berusaha menghilang dengan bekerja di beberapa tempat dan pindah ke apartemen yang lebih kecil dan jauh dari sebelumnya.

"Reaksinya?" Mata Sasuke masih ingin tahu.

"Reaksinya?" Sakura tertawa kecil, "Keluar akademi penerbangan sebagai lulusan terbaik. Langsung bekerja dan berusaha mencariku."

Sasuke pun bertanya apa yang membuat orang tua Naruto setuju menikahi Sakura.

"Mereka tidak pernah setuju… setelah Ayahnya meninggal, Ibunya semakin gencar memisahkan kami."

Bila diingat-ingat, perjuangan Naruto sangatlah menyedihkan untuk mendapatkan Sakura. Maka ketika Naruto menyatakan cintanya untuk kesekian kali dan meminta Sakura menjadi istrinya di umur yang sama-sama cukup, Sakura menerimanya.

"Tunggu…" Sasuke nampak seperti berpikir, alisnya mengerut tipis menatap Sakura. "Apa kau mencintainya?"

Sakura membalas tatapan pria tampan itu. Pancaran mata Sakura tersenyum. "Kau begitu memahamiku. Benar, aku tidak mencintainya."

Boleh dibilang Sasuke tidak paham dengan maksud dari ekspresi Sakura.

"Kaulah orang kedua setelah Ibunya yang menyadari aku tidak mencintainya…tidak, kau bahkan lebih hebat, hanya dengan aku sekali cerita. Kau langsung paham Sasuke-kun."

Tentu saja Sasuke menanyakan alasan sebenarnya Sakura menerima lamaran Naruto. "Pasti bukan karena harta, kau tak sebegitunya. Di samping keuangannya sudah jatuh karena berpisah dari keluarganya."

Sakura mengangguk takjub. Sasuke mengerti sekali dirinya.

"Alasan aku menerimanya? Karena orang yang berusaha itu pantas mendapatkan penghargaan." Naruto selalu berusaha memanjakan Sakura meski dalam keadaan tak punya uang. Ia bekerja banting tulang dan membelikan kebutuhan Sakura dan perlengkapan yang mungkin memudahkan Sakura di rumah dan segalanya yang bisa membuat Sakura senang.

Sakura tak memikirkan cinta, baginya cinta itu tidak ada. Ia tak pernah merasakannya, dulu, ia menerima Naruto karena Naruto pantas mendapatkannya. Namun lambat laun rasa sayang yang samar itu ada yang kemudian Sakura namai itu cinta.

Tapi Sakura merasa sangat kotor, ia pikir dengan menerima Naruto ia sudah menjadi perempuan baik dengan menjadi istri yang baik. Nyatanya ia salah.

"Karena ketika kematiannya…" Sakura menatap kosong. Sasuke memerhatikan betapa bersinarnya kulit putih Sakura di bawah sinar rembulan. "…yang kutangisi bukan kepergiannya, tapi kesendirianku."

Sakura mengaku kepada Sasuke bahwa perasaan bersalah Sakura hanya karena mengingat semua pengorbanan Naruto. Makanya ia meragukan perasaannya sendiri terhadap Sasuke.

"Sakura… apa kau menyukaiku?"

Sakura menaikan alisnya, ia sedikit terkejut melihat adanya raut cemas samar di wajah Sasuke. Benar, meski sepakat secara tak tertulis untuk menjalin hubungan, Sakura belum membalas kata suka Sasuke.

"Aku suka padamu…"

"Kau tampak tak yakin."

Sasuke terlalu memahami Sakura.

Sakura membasahi bibirnya dan matanya lari dari tatapan Sasuke dengan tangan yang menggenggam telapak pria itu.

"Apa aku jahat?" Sakura menyebutkan segala debaran yang ia miliki untuk Sasuke. Semua perasaan baru yang ia rasakan hanya untuk Sasuke. "Aku tidak tahu. Tapi aku tidak ingin menyakitimu."

Sasuke paham, kecemasannya hilang.

Mereka berdua tak lebih dari dua orang dewasa yang terlambat merasakan bagaimana jatuh cinta yang sesungguhnya.

.

.

Setelah berusaha beberapa minggu yang lalu, Shikamaru mendapat alamat apartemen Sakura dari kawannya. Sakura tak bisa dihubungi di facebook karena jarang online.

Dan di sinilah ia, berdiri tengah malam di depan pintu apartemen Sakura.

Shikamaru ingat, ia sudah sepakat dengan Kushina untuk tidak saling ganggu. Tapi untuk kali ini, ia berjanji dengan diri sendiri ini yang terakhir. Naruto adalah sahabat terpentingnya.

Setelah mengetuk beberapa kali dan berpikir Sakura pasti sedang tidur, Shikamaru putuskan untuk gigih mengetuk pintu sampai pintu terbuka.

"Shikamaru…?"

Pada saat pintu terbuka, Shikamaru menjadi ragu dan cemas…cemas akan Naruto saat melihat keberadaan Sakura ditemani seorang pria tinggi berambut hitam di belakangnya.

"Ada apa malam-malam begini?"

Hati Shikamaru tergores berkali-kali, ia patah hati atas nama Naruto.

.

.

TBC

4k+ maaf kalau kebanyakan, karena dipotongnya nanggung.

Sebenernya aku lagi gak pengin bikin cerita yang agak lebay kayak di atas. Tapi plot Like Puppy Love sudah lengkap dibuat di awal cerita jadi aku harus ngejaga biar endingnya gak geser kayak fic aku yang lain. Pertanyaan-pertanyaan di kotak review akan selalu dijawab melalui plot di fic. Maaf sekali, aku gak hobi bocorin cerita atau jelasin ulang. Aku ingin pembacaku menikmati dengan teliti. Btw update-nya cepet kan? :D