.

Taehyung rasa ini belum terlambat untuk mengunjungi Jimin. Tujuan utamanya bukan untuk bertamu tentu saja, tapi untuk memastikan bahwa Jimin dalam keadaan baik-baik saja disana.

Sudah lima menit, namun Jimin tak juga membalas pesannya. Mungkin Jimin sedang mandi, sedang belajar, atau mungkin juga masih tidur, jadi tidak tau kalau ada yang mengiriminya pesan, pikir Taehyung. Jadi dia memutuskan untuk langsung masuk saja.

Seperti biasa, tujuan pertama adalah kamar Jimin di lantai 2. Begitu tau yang dicarinya tak ada, Taehyung turun ke lantai 1. Mungkin Jimin sedang makan malam.

Benar saja, yang dicari memang sedang ada di meja makan. Duduk dengan posisi membelakanginya.

"Chim.."

"..." sama sekali tak ada respon.

"Jimin?"

"..." masih tak ada respon.

'Apa suaraku terlalu pelan hingga Jimin tak mendengarku?' batin Taehyung.

Sementara itu Jimin masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Terlalu bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Harus memakan sup kepiting yang sudah dimasakkan eomma-nya dengan susah payah ini, atau tidak.

Kalau tidak dimakan, Jimin takut Seokjin akan kecewa dan berakhir dengan dirinya yang juga ikut-ikutan Jimin tak memakan sup daging kepiting itu.

Tapi kalau Jimin memakannya.. ia takut alerginya kambuh dan Seokjin memarahinya seperti dulu, sewaktu alergi Jimin kecil yang kambuh hanya karena memakan seujung sendok sup kepiting. Sakit di tenggorokannya sudah menyiksa, tapi yang lebih membuatnya sakit adalah Seokjin yang malah memarahinya habis-habisan dan menganggap dirinya sebagai perusak mood makan wanita cantik itu.

Jimin tak tahu harus melakukan apa.

Taehyung berinisiatif mendekati Jimin, lalu menepuk pelan pundak namja mungil yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandung itu.

Sungguh, Taehyung yakin kalau tepukannya tadi sangat pelan. Bahkan bisa dikatakan yang tadi itu hanyalah sentuhan, bukan tepukan. Tapi kenapa respon Jimin terlihat berlebihan?

Bahkan Jimin sampai tidak sengaja menjatuhkan sendok berisi sup-nya saat merasakan ada tangan yang mendarat pelan di pundaknya. Nafasnya pun sedikit berat. Tak lupa dengan tangan kiri yang sekarang ada di dadanya, meremat tepat dimana jantungnya berada, seperti sedang berusaha menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba bekerja lebih cepat dari keadaan normal.

"Hey Chim, apa aku mengagetkanmu? Maaf, aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu kaget. Maafkan aku."

Taehyung yang merasa bersalah langsung duduk disamping kiri Jimin, mengelus-elus di bagian punggung, berharap hal itu bisa sedikit membantu Jimin agar lebih tenang.

Bukannya lebih tenang, Jimin malah menunjukkan raut bingung, takut dan seperti sedang ingin menyembunyikan sesuatu. Membuat Taehyung mengerutkan dahinya bingung. Apa dirinya baru saja melakukan kesalahan pada Jimin? Kalau iya, kesalahan apa? Taehyung sama sekali tak mengerti.

'Ta-taehyung..'

Seketika Jimin panik. Bukan hanya masalah Taehyung yang tiba-tiba muncul dan membuatnya kaget. Ada hal lain yang lebih membuat Jimin panik.

Sup kepiting.

Kalau sampai Taehyung tau bahwa Seokjin memberikan sup kepiting untuk Jimin, pasti Taehyung akan berpikir bahwa mereka sedang ingin menyakiti Jimin lagi. Tidak. Jangan sampai ini terjadi.

Dengan tangan bergetar Jimin berusaha menjauhkan mangkuk berisi sup kepiting dari jangkauan mata Taehyung. Dan sayangnya Taehyung menyadari gerak gerik tak biasa yang Jimin lakukan itu, namun masih belum mengerti apa maksudnya.

"Jimin kau ken-" pertanyaan Taehyung terhenti seketika saat dirinya melihat ke objek yang sedang berusaha Jimin singkirkan. Terlihat jelas bahwa sorot matanya memancarkan amarah yang begitu besar. Ingin rasanya Jimin menjelaskan pada Taehyung, kalau ini hanya salah paham. Eomma-nya sama sekali tidak ada niatan untuk menyakitinya lagi.

"Apa maksudnya ini Jim?"

Belum sempat Jimin menjelaskan entah dengan cara seperti apa, tiba-tiba saja Taehyung menarik mangkuk yang beberapa detik lalu masih Jimin pegang. Melemparkan mangkuk itu ke lantai, hingga menimbulkan suara yang cukup 'nyaring'.

Prangg

"Kau taukan kalau makanan ini sama sekali tidak boleh ada didekatmu? Lalu apa ini maksudnya?!"

Taehyung tanpa sadar berteriak tepat di depan wajah Jimin. Membuat Jimin menunduk takut. Sungguh, kalau bisa Jimin ingin menjelaskan kesalah pahaman ini. Tapi apa daya, tiap ingin berkata-kata, hanya udara tanpa suara yang keluar dari bibirnya.

"Atau jangan-jangan mereka sengaja melakukan ini? Mereka ingin menyakitimu lagi?! Katakan padaku Jimin!"

Jimin tau 'mereka' yang dimaksud Taehyung. Maka dengan cepat Jimin mendongak untuk menatap Taehyung. Menggeleng berkali-kali sekedar memberi tahu bahwa itu tidak benar.

Mereka, Namjoon dan Seokjin tak berniat menyakiti Jimin. Ini hanya salah paham. Sayangnya Taehyung sama sekali tidak peduli, amarah sudah telanjur menguasai setiap bagian tubuh dan pikirannya.

"Kau harus-"

"JIMIN-"

Perkataan Taehyung terhenti sejenak karena teriakan Seokjin. Namun seolah tak menganggap keberadaan Nyonya Kim itu, Taehyung meneruskan perkataannya tadi.

"-ikut aku pulang. Tempatmu bukan disini."

Jimin menggeleng cepat. "Tidak Tae, bukan seperti itu. Kau salah paham.. "

Bahkan saat Taehyung menarik tangannya pun Jimin tetap bergeming, tak membiarkan sedikitpun tubuhnya bergerak menjauh dari Seokjin yang perlahan berjalan kearahnya.

"Jimin." ucap Taehyung dengan nada dingin, yang lagi-lagi hanya mendapat penolakan. Bahkan kini Jimin berusaha melepaskan genggamannya, dan berniat berlari kearah eomma-nya. Membuat emosi Taehyung semakin memuncak hingga tanpa sadar menggenggam tangan Jimin dengan sangat kuat.

"JANGAN MEMBANTAH JIMIN. KAU HARUS IKUT DENGANKU!"

Tanpa aba-aba, Taehyung menarik tangan Jimin dan berjalan dengan sangat tergesa-gesa meninggalkan rumah itu. Rumah yang menurut Taehyung tak ubahnya seperti neraka bagi Jimin. Namun tanpa Taehyung tau, rumah itu sudah seperti surga bagi Jimin. Tempat dimana Jimin menemukan pusat kebahagiannya.

"Kumohon, jangan bawa Jimin pergi." Lirih Seokjin tanpa bisa berbuat apa-apa. Kakinya serasa lemas tak bertenaga untuk mencegah Taehyung yang membawa pergi secara paksa Jimin-nya.

Lima menit berlalu, hanya suara tangisan pilu yang terdengar di penjuru rumah itu. Hingga terdengar suara pintu utama yang terbuka. Menciptakan sedikit harapan di hati Seokjin bahwa Jimin-nya telah kembali. Namun sayang, itu hanya sekedar harapan.

"Ya ampun Jin. Ada apa?"

Namjoon yang baru masuk langsung membuang tas kerjanya sembarangan lalu menghampiri Seokjin yang terduduk di lantai sambil menangis. Menuntun perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu untuk duduk di kursi.

"Jim-jimin.."

"Jimin kenapa?" Namjoon mengedarkan pandangannya, berusaha menemukan keberadaan anak kesayangannya itu.

"Jimin pe-pergi." Ucap Seokjin sesenggukan.

"Pergi? Apa maksudmu?"

"Taehyung, hiks, membawa Jimin."

Seokjin menangis semakin keras, membuat Namjoon secara reflek memeluk dan menyandarkan kepala Seokjin ke dadanya. Berusaha memberi ketenangan yang entah akan berhasil atau tidak.

Singkat kata, otak jenius Namjoon tau apa maksud perkataan Seokjin. Dan sangat paham bahwa semua ini hanyalah kesalah pahaman saja. Seokjin sama sekali tidak berniat buruk apalagi mencelakai Jimin dengan cara memberinya sup kepiting. Dan disaat yang tidak tepat, Taehyung datang. Membuat sesuatu yang harusnya bisa diselesaikan semudah membalikkan telapak tangan, menjadi sesulit meneliti apa saja molekul pembentuk DNA.

"Tenanglah sayang, aku tau kau tidak bermaksud buruk. Semua hanya kesalah pahaman saja. Dan aku yakin Taehyung akan menjaga Jimin dengan sangat baik."

Namjoon membopong Seokjin menuju kamar mereka, mengistirahatkan tubuh lemah itu di ranjang. Menaikkan selimut hingga menutupi bagian kaki sampai dada. Mencium lama kening mulus istrinya, yang Seokjin sadari memberikan efek ketenangan.

"Sekarang istirahatlah, aku tau kau lelah. Kita tak mau adik Jimin kenapa-kenapa kan?" Namjoon mengelus perut Seokjin yang agak membuncit itu dari luar selimut, membuat Seokjin mengangguk. "Besok kita akan ke rumah Hoseok, menjelaskan semuanya."

Dengan begitu Seokjin perlahan menutup matanya, dengan Namjoon disampingnya yang masih mengelus kepalanya sayang. Lalu dengan gerakan perlahan Namjoon mengambil handphone nya dan mengirim pesan pada seseorang.

To : Jung Hoseok

"Hoseok, apa kau bisa menolongku?"

Sementara itu..

Jimin masih berusaha melepaskan genggaman Taehyung yang sedikit kasar mencengkram tangannya. Bahkan disepanjang perjalanan Jimin berkali-kali hampir tersungkur karena tak bisa menyamakan langkah kaki kecilnya dengan langkah kaki Taehyung.

Menangis.. hanya itu yang bisa Jimin lakukan. Memikirkan semua ini membuat Jimin pening. Dirinya yakin, setelah ini Taehyung tak akan dengan mudahnya membiarkan appa dan eommanya, Namjoon dan Seokjin untuk menemuinya. Taehyung dalam puncak amarahnya, Jimin tau itu.

Tapi haruskah semuanya berakhir seperti ini?

Baru saja Jimin merasakan hidup bahagia dengan orang tua yang sangat menyayanginya. Impiannya selama ini baru saja terwujud. Tapi karena sedikit kesalah pahaman, hanya sedikit, semuanya terancam musnah. Kehidupan bahagianya dengan Namjoon dan Seokjin.

Tidak. Jimin tak akan membiarkan ini terjadi. Dirinya masih ingin merasakan kebahagiaan sebagai anak Keluarga Kim yang disayang. Selain itu, masih ada Jungkook yang harus Jimin perjuangkan. Jangan sampai usahanya terhenti disini.

Keduanya kini sampai di depan kediaman Keluarga Jung.

Jimin tersentak kaget saat mendengar pintu utama yang dibuka dan tutup dengan keras, setelah itu tubuhnya terduduk dengan kasar di sofa ruang tamu. Jimin tak habis pikir, kenapa Taehyung bisa semarah ini hingga meperlakukannya sedikit kasar? Padahal sebelumnya Taehyung tak pernah memperlakukannya seperti ini.

"Apa orang tua seperti itu yang kau inginkan Jim?! Kau membela mereka mati-matian bahkan sampai mengacuhkanku. Dan lihat sekarang. Mereka bahkan ingin mencelakaimu!"

"Bukan Tae. Eomma sama sekali tidak berniat mencelakaiku. Ini hanya salah paham." Elak Jimin dalam hati.

Dari tatapan mata saja, Taehyung tau yang sedang dipikirkan Jimin. Sungguh, tak mengerti dengan si mungil itu. Apa yang sebenarnya Jimin pikirkan tentang orang tuanya. Orang tua yang menurut Taehyung-

"Aargggh! Brengsek! Mereka benar-benar brengsek. Apa belum cukup menyiksamu sejak sebelum kau lahir, bahkan sampai kau hampir mati! Sekarang mereka mau mencelakaimu lagi Jimin! Sebenarnya kau ini terlalu baik atau bodoh hah! Seandainya aku jadi dirimu aku tak akan lagi sudi melihat muka mereka. Aku akan lebih memilih dengan keluarga lain yang mau menerima dan menyayangiku."

Taehyung benar-benar mengeluarkan semua emosinya. Mengumpat dan berteriak di depan Jimin, tak mempedulikan bahwa tubuh Jimin bergetar takut saat ini. Melihat Jimin yang hanya menunduk tanpa merespon sedikitpun, membuat Taehyung kesal. Maka Taehyung mendekat, lalu mengguncang tubuh itu dengan brutal. Membuat Jimin mau tak mau mendongak.

"Jawab Jimin. KAU MEMILIH KAMI ATAU ORANG TUAMU?!"

Jimin masih tak menjawab. Terlalu shock dengan perlakuan kasar Taehyung.

"TAE HENTIKAN. Kau menyakiti Jimin, Taehyung!"

Hoseok dan Yoongi yang baru saja sampai di rumah berlari panik saat melihat perlakuan kasar anak mereka ke Jimin. Maka dengan sigap Hoseok berusaha melepaskan cengkraman Taehyung di bahu Jimin. Terjadi tarik menarik yang cukup kuat saat itu. Karena Taehyung sama sekali tak membiarkan tangannya terlepas, sementara Hoseok terus berusaha melepaskan Jimin. Mungkin saking eratnya cengkraman Taehyung, akan muncul bekas membiru di bahu Jimin.

Yoongi yang melihat hal itu hanya bisa menangis. Tak tau harus berbuat apa untuk menyadarkan Taehyung yang terlihat sangat emosi.

"Kau seharusnya menjauh dari mereka Jimin! Mereka jahat, mereka sama sekali tak menyayangimu. Tapi kenapa kau tetap saja membela mereka?! KATAKAN PADAKU JIMIN. KATAKAN!" Taehyung kembali berteriak. Membuat Jimin semakin pening.

"Sekali lagi ku tanya. Kau memilih kami atau orang tua brengsek-"

"CUKUP!"

Empat orang yang ada di rumah itu terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

"Aku tau kau sangat membenci appa dan eomma ku, tapi bukan seperti ini caranya Taehyung! Ini hanya salah paham. Lagipula, apa kau tau betapa aku menyayangi mereka? betapa aku menunggu saat ini tiba? Ketika aku benar-benar merasa menjadi Kim Jimin. Diakui bahkan sangat disayang oleh Kim Namjoon dan Kim Seokjin? apa kau tau apa yang sudah ku korbankan untuk mendapatkan semua ini? Dan.. apa kau tau alasan kenapa aku ingin tetap berada di sisi appa dan eomma sampai tiba waktunya?"

Taehyung tak menyangka bahwa Jimin yang selalu berkata lembut tiba-tiba saja membentaknya. Tapi lebih dari itu, Taehyung masih mencerna apa yang Jimin katakan. Taehyung merasa gagal melindungi seseorang yang sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya, tak sepenuhnya mengerti dengan apa yang dirasakan Jimin. Dari semua kalimat panjang yang Jimin ucapkan, hanya bagian akhir yang bisa Taehyung dengar tanpa tau apa maksudnya. Apa yang sudah Jimin korbankan? Apa alasan Jimin untuk tetap berada di sisi orang tua kandungnya?

Rasa bersalah membuat Taehyung melepaskan cengkramannya pada kedua bahu Jimin. Tanpa mengucap satu kata pun, Taehyung berlari menuju kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan kasar. Tanpa peduli bahwa Hoseok berlari mengikutinya. Membujuk agar Taehyung mau keluar dan membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.

Namun sayang, Taehyung sama sekali tak peduli.

Sedangkan Jimin, tak tau harus bereaksi seperti apa. Hanya diam, sampai suara benturan sangat keras terdengar dari kamar Taehyung. Barulah Jimin tersadar dari keterkejutan. Badannya lemas seketika, jatuh terduduk diatas sofa. Yoongi yang ada disampingnya pun memeluk tubuh Jimin. Sangat tau kalau anak Namjoon dan Seokjin itu sedang shock.

Baru kali ini Jimin sanggup bicara dengan nada tinggi pada Taehyung, pemuda yang sudah dianggapnya sebagai saudara kandung. Tapi selain itu, ada satu hal lagi yang membuat Jimin menganga tak percaya..

"Suaraku.. aku, aku sudah bisa berbicara lagi? Benarkah ini semua nyata, bukan sekedar imajinasiku saja kan? Akhirnya aku bisa... "

Awalnya Jimin ingin tersenyum karena satu fakta dan anugrah yang baru saja dia dapatkan, tapi sedetik sebelum eye smile itu muncul..

"Mama.. aku jahat. Aku sudah menyakiti hati Taehyung. Ak-aku, mengecewakan orang yang sudah sangat menyayangiku. Aku membentaknya, aku memarahinya, aku meneriakinya." Jimin mulai menangis, di pelukan Yoongi.

"Tidak sayang, kau tidak salah, kau tidak jahat. Ini hanya salah paham saja."

"Tapi aku-"

"Mama tau Jiminie sama sekali tak berniat menyakiti hati Taehyung. Percayalah, Taehyung pasti mengerti. Jangan pikirkan ini semua, oke? Istirahatlah, besok kita akan membicarakan masalah-... Jiminie?"

Yoongi terkejut bukan main saat melihat mata Jimin yang terpejam. Tak hanya itu, tangan Jimin yang semula memeluknya erat kini terkulai lemas.

Oh tidak! Ini buruk.

"Jimin?! kau kenapa sayang? Bangunlah. Bangun Jimin.." Yoongi menepuk-nepuk pelan pipi Jimin berusaha menyadarkannya. Namun Jimin tak kunjung membuka matanya, bahkan Yoongi bisa merasakan sekujur tubuh Jimin yang malah terasa dingin.

Yoongi yang panik berteriak memanggil Hoseok. Mendengar teriakan Yoongi, Hoseok berlari menuju ruang tamu. Tanpa basa basi dibopongnya tubuh Jimin dan berlari menuju mobil. Mendudukkan Jimin di bangku belakang dengan Yoongi yang memeluknya erat. Lalu dengan tergesa-gesa dan kecepatan penuh melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.

Meninggalkan Taehyung yang kini terdiam di balkon kamarnya, dengan rasa bersalah yang begitu besar.

"Apa yang sudah kulakukan..." Taehyung memandang sendu mobil hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumahnya. Sampai mobil itu benar-benar tak terlihat oleh pandangan matanya.

"Maafkan aku Jimin.. maaf.. Aku tidak seharusnya melakukan ini padamu. Aku seharusnya melindungimu, bukan malah menyakitimu. Aku memang egois, dan sama sekali tak pantas menjadi saudaramu. Aku, aku..."

.

Hoseok dan Yoongi menunggu dengan cemas di depan ruang UGD. Sudah hampir setengah jam, tapi tak ada satupun dokter atau perawat yang keluar dari ruangan itu. Otomatis tak ada yang bisa mereka tanyai tentang bagaimana keadaan Jimin.

"Sayang, Jimin baik-baik saja kan?" Tanya Yoongi dengan cemas.

"Jimin anak yang kuat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Bohong kalau Hoseok tak merasa khawatir dengan keadaan Jimin. Tapi demi kebaikan istrinya yang sedang hamil, Hoseok berusaha terlihat tenang. Karena dia tidak mau Yoongi stress dan berakibat juga pada kondisi kesehatan janinnya.

"Kuharap juga begitu.."

"Lebih baik kita berdoa agar Jimin baik-baik saja."

Beberapa menit kemudian pintu ruang UGD terbuka, menampilkan sosok dokter dan beberapa perawat yang mengikutinya dari belakang. Membuat Hoseok dan Yoongi seketika berdiri dan mendekat kearah dokter itu.

"Bagaimana keadaan Jimin?"

Yang ditanya menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan dari Nyonya Jung itu.

"Syukurlah tidak ada yang serius dengan keadaan Jimin. Hanya saja dia butuh istirahat sekarang. Dan lagi.. " dokter itu menjeda sejenak. " ... bukankah aku pernah bilang untuk selalu menjaga emosinya? Jangan biarkan Jimin stress, berpikir berat, lelah berlebihan, dan apapun itu yang membuat jantungnya bekerja terlalu keras."

Hoseok dan Yoongi hanya diam, tak tau harus menjawab apa.

"Jimin akan segera dipindahkan ke ruang rawat, kalian bisa menemuinya. Jaga dia baik-baik."

"Terima kasih." Ucap Hoseok sambil membungkuk dalam.

.

"Hyung. Jimin hyung, ayo bangun~"

".."

"Hyung jangan tidur terus. Kookie bosan dari tadi menunggumu bangun."

"..."

"Ish hyung!"

Jungkook kesal bukan main karena hyung kesayangannya itu tak bangun-bangun. Padahal biasanya dengan sekali percobaan Jimin hyungnya akan langsung bangun. Tapi kali ini tidak.

Tak sampai satu menit memandangi wajah hyungnya yang sedang tertidur, bocah itu tersenyum lebar. Mendapatkan ide agar hyungnya segera bangun.

Jungkook naik ke atas ranjang, memposisikan tubuhnya di sisi kanan Jimin. Lalu perlahan mendekatkan kepalanya ke wajah Jimin dan..

BITE!

Menggigit dengan gemas pipi hyungnya yang seperti mochi. Membuat pemilik pipi mochi itu terbangun dan segera mengusap-usap pipinya yang terasa agak perih.

"Ugh Jungkookie.. kenapa kau menggigit pipiku?" Jimin duduk lalu bersandar di kepala ranjang.

"Hehehe" bocah itu tertawa lebar, membuat gigi kelincinya semakin terlihat. "Salah hyung sendiri kenapa dari tadi tidak mau bangun. Padahalkan Kookie ingin main dengan Jimin hyung." Kini bocah kelinci itu merubah ekspresinya menjadi kesal, yang malah terlihat imut di mata Jimin.

"Aigooo. Maafkan hyung ne~ karena sudah membuat Kookie menunggu." Jimin menusuk-nusuk pipi menggembung Jungkook dengan jari telunjuknya.

Jungkook masih jual mahal dengan tak merespon permintaan Jimin.

"Beneran nih Kookie gak mau maafin Jimin hyung?"

"..."

"Ya sudah kalau Kookie masih marah. Lebih baik hyung tidur lag-"

"Jangan hyung! Siapa bilang Kookie marah? Kookie tadi cuma bercanda kok. Mana mungkin Kookie marah sama Jimin hyung yang imut ini~" Jungkook mencubit kedua pipi mochi Jimin, membuat pemilik pipi itu tersenyum bahagia.

Segala hal tentang Jungkook, memang selalu berhasil membuat Jimin bahagia dan melupakan sejenak semua masalahnya. Alasan itu jugalah yang membuat Jimin sanggup bertahan sampai sekarang. Karena kebahagiaan Jungkook adalah segalanya bagi Jimin.

Seperti keinginan Jungkook tadi, kini Jimin menemaninya bermain. Keduanya benar-benar menikmati waktu berdua. Seperti biasa, Jungkook akan selalu bersemangat saat bersama hyungnya. Begitupun dengan Jimin.

.

Namjoon : "Ada apa Hoseok?"

Hoseok : "Jimin pingsan, jadi kami membawanya ke rumah sakit."

Namjoon : "Pingsan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"

Hoseok : "Kau tak perlu khawatir, dokter sudah menanganinya."

Namjoon : "Terima kasih. Aku dan Seokjin berhutang banyak pada kalian."

Hoseok : "Tak masalah. Karena Jimin juga anak kami."

Namjoon : "Maaf aku tidak bisa kesana sekarang, mungkin besok pagi. Seokjin.. dia masih sedikit shock dengan kejadian tadi. Kalau memberi tahu nya sekarang tentang keadaan Jimin, aku takut itu akan berpengaruh dengan psikologisnya dan kondisi bayi kami."

Hoseok : "Aku mengerti. Jaga baik-baik calon adik Jimin."

Namjoon : "Sekali lagi terima kasih banyak."

.

Jimin duduk di ranjang sambil menepuk pelan bokong Jungkook, membuat si pemilik gigi kelinci itu semakin nyenyak. Bahkan sesekali Jungkook tersenyum dalam tidurnya, membuat Jimin yang melihat ikut tersenyum bahagia.

Tekad Jimin untuk memperjuangkan hidup Jungkook semakin besar. Apapun halangannya, sebesar dan sesulit apapun akan Jimin hadapi. Untuk adik tersayangnya.. Kim Jungkook.

"Apakah semua berjalan lancar Jimin?" sosok itu tiba-tiba muncul. Posisinya ada di samping Jimin, membelai rambut si bocah yang sedang tertidur nyenyak.

"Aku tidak tau." Jimin menghela napas, setelah itu melangkahkan kakinya menuju sebuah sofa di tengah ruangan. Tak mau pembicaraan itu akan menganggu tidur adiknya.

"Kau ragu?" secepat kedipan mata, sosok itu kini sudah duduk di sofa samping Jimin.

"Sedikit."

"Sedikit?"

"Appa dan eomma bersikap sangat baik padaku, mereka menjagaku setiap waktu. Selalu memastikan bahwa aku dalam keadaan baik-baik saja tanpa kurang apapun. Bahkan terkadang mereka bersikap over protective. Melarang hal-hal sederhana yang ingin kulakukan, dengan alasan yang terkadang sedikit konyol."

"Lalu apa masalahnya?"

"Taehyung bilang.. appa dan eomma tidak benar-benar menyayangiku. Taehyung bilang appa dan eomma hanya pura-pura menyayangiku. Bahkan Taehyung mengumpati appa dan eomma yang menurutnya sudah berusaha mencelakaiku. Taehyung juga bil-"

"Dan kau percaya begitu saja semua yang dibilang Taehyung?"

"Aku... aku, tak tau."

"Ikuti kata hatimu Jimin. Maka kau akan tau apa yang seharusnya kau lakukan."

Jimin terdiam. Berbagai pemikiran berkecamuk dalam batinnya. Menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan. Kembali ke pelukan appa dan eommanya, atau menuruti perkataan Taehyung untuk menjauhi appa dan eommanya..

Dan tepat di saat itulah Jimin melihat ke arah Jungkook.

"Jimin.. hyung.." gumam si gigi kelinci yang tersenyum dalam tidurnya.

Seketika itu Jimin sadar. Apapun itu, tak ada alasan bagi Jimin untuk meninggalkan Namjoon dan Seokjin, appa dan eomma nya. Bukan masalah mereka akan benar-benar menyayangi Jimin atau tidak, tapi ini demi Jungkook. Demi Jungkook yang memang seharusnya Jimin perjuangkan. Demi Jungkook yang harus hidup bahagia. Demi Jungkook, Jimin rela melakukan apapun, bahkan mengorbankan nyawanya pun Jimin rela.

Tidak ada kata mundur, apalagi menyerah.

"Bagaimana, sudah tau apa yang akan kau lakukan?"

"Tentu saja." Jimin tersenyum. "Demi Jungkook.."

.

.

.

Pagi-pagi sekali Hoseok kembali ke rumah untuk menjemput Taehyung dan mengantarnya ke rumah sakit, untuk mengunjungi Jimin.

Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Taehyung hanya diam. Sama sekali tak berkata apa-apa. Bahkan ketika sampai di ruang rawat Jimin pun Taehyung masih diam.

"Tae, appa akan mengantarkan eomma mu untuk memerikasakan kandungannya. Tolong jaga Jimin sebentar."

Taehyung mengangguk, membuat Yoongi yang melihat hal itu sedikit cemas.

"Sayang, eomma tau semalam kau sama sekali tak ada niat untuk menyakiti Jimin. Kau hanya berusaha melindunginya, mungkin saja caramu agak salah." Yoongi memeluk Taehyung, lalu menangkup wajah anak pertamanya itu. "Minta maaflah pada Jimin dan bicarakan baik-baik. Eomma yakin Jimin akan mengerti. Ne?"

"Ne.. eomma."

Sepeninggal Hoseok dan Yoongi, Taehyung hanya memandangi Jimin yang masih menutup matanya di atas ranjang.

Bahkan hampir satu jam setelahnya Taehyung masih dalam posisi yang sama, tidak melakukan apapun. Sampai akhirnya Taehyung melihat Jimin yang menggeliat kecil dan mulai membuka matanya.

"Ugh, Tae.. " ucap Jimin ketika retina nya menangkap sosok Taehyung.

"H-hai Jimin." Entah kenapa, suasananya terlalu canggung bagi Taehyung.

"Tae, ini bukan kamarku, juga bukan kamarmu. Lalu ini dimana?" tanya Jimin saat dirinya merasa asing dengan keadaan di ruangan tempatnya berada saat ini.

"Emm, ini memang bukan kamarmu atau kamarku Chim."

"Jadi?"

"Ini di rumah sakit."

"Rumah sakit?" Jimin mengangkat tangan kirinya, dan benar saja.. ada jarum infus yang menancap di kulitnya. "Kenapa aku disini Tae? Kau tau kan kalau aku sangat tidak suka ada di rumah sakit..." Jimin mencicit di akhir kalimat.

"Emm, itu.. karena.. maafkan aku Chim. Semua ini salahku. Gara-gara aku kau jadi kembali ke tempat ini. Padahal aku tau kau sama sekali tak suka dengan tempat ini. Tolong maafkan aku yang egois ini, dan ku mohon jangan membenciku. Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku, dan aku tak mau kehilangan saudaraku."

Butuh beberapa detik bagi Jimin untuk mengerti maksud perkataan Taehyung, dan barulah setelah itu Jimin tersenyum.

Jadi ini permasalahannya.

Perlahan Jimin mengangkat tangan kanannya untuk mengelus kepala Taehyung yang sedang menunduk. Membuat si pemilik kepala mau tak mau mendongak.

"Tae, kau saudaraku. Dan aku.. juga tak mau kehilanganmu.. "

Dan begitulah, selalu seperti itu. Sehebat apapun pertengkaran mereka sebelumnya, pasti akan berakhir dengan permintaan maaf.

Sementara diluar sana, empat orang dewasa yang sedari tadi mendengarkan percakapan Taehyung dan Jimin sedang menahan haru. Sekalipun tak mempunyai ikatan darah, tapi hubungan Taehyung dan Jimin lebih dari sekedar teman ataupun saudara.

..

Sore hari, karena kondisinya sudah membaik maka Jimin diperbolehkan pulang. Namjoon dan Seokjin sudah bicara baik-baik dengan Taehyung.

Keduanya meminta maaf karena secara tidak sengaja 'melukai' Jimin. Setelahnya meminta ijin untuk membawa Jimin kembali ke rumah Keluarga Kim.

Awalnya Taehyung tidak menyetujui, karena takut sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Jimin. Namun dengan bujukan Hoseok dan Yoongi, akhirnya Taehyung memberikan ijin agar Jimin kembali kerumahnya.

Konyol memang, ketika orang tua kandung Jimin harus meminta ijin pada orang lain untuk membawa pulang anak mereka. Tapi.. memang seperti itulah. Setidaknya ini adalah bentuk rasa terima kasih Namjoon dan Seokjin pada orang yang selama ini sudah merawat Jimin.

...

Sepanjang perjalanan pulang, Jimin duduk dengan nyaman di antara appa dan eomma nya yang juga tak henti-hentinya memberikan sentuhan sayang. Bahkan saat sampai di rumah, dengan alasan Jimin yang masih lemas, Namjoon bersikeras menggendong anaknya itu menuju kamar. Dan Jimin tak bisa untuk menolak, karena memang kondisi badannya masih sedikit lemas.

Setelah membaringkan Jimin di ranjang, Namjoon segera keluar untuk menerima panggilan telepon dari salah satu karyawannya. Meninggalkan Jimin dan Seokjin di kamar bernuansa baby blue itu.

"Tidurlah sayang, nanti eomma bangunkan saat makan malam." Seokjin mengusap sayang pucuk kepala Jimin.

"Terima kasih eomma.. untuk semua kasih sayang yang sudah kalian berikan." Ucap Jimin tulus.

"Seharusnya kami yang berterima kasih, karena Tuhan mempercayakan malaikat sepertimu untuk menjadi anak kami."

Setelah mencium kening Jimin, Seokjin berniat meninggalkan kamar itu. Namun baru selangkah, tarikan ringan terasa di bajunya.

"Ada apa sayang, apa kau butuh sesuatu?" Seokjin kembali duduk di samping Jimin, sambil membenarkan letak selimut biru muda yang sedikit tersingkap karena gerak tangan pemiliknya itu.

"Eomma, bolehkan Jimin menanyakan sesuatu?"

"Tentu saja sayang. Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Emm... bagaimana keadaan.. Kookie?"

Seokjin mengerutkan keningnya bingung, tidak mengerti apa arti pertanyaan Jimin. "Kookie?"

"Jungkookie.. adikku."

"Adik? Maksudmu adik yang ada di dalam perut eomma ini?" Seokjin mengelus perutnya pelan. "A~~ jadi namanya Jungkook?"

Jimin mengangguk.

"Sebenarnya.. tidak terlalu baik." Ucap Seokjin jujur.

Selain kesedihan, Jimin bisa dengan jelas melihat raut penyesalan di wajah cantik eomma-nya itu. Membuat Jimin yakin, keadaan seperti ini bukanlah sesuatu yang disengaja, mungkin.

"Eomma.. maukah berjanji satu hal padaku?"

"Hm?"

"Tolong jaga Kookie dengan baik, karena Jimin sangat menyayanginya. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi. Jimin juga ingin Kookie bisa hidup bahagia dengan limpahan kasih sayang dari appa dan eomma. Bisakan.. appa dan eomma menjaga Kookie sampai waktunya tiba nanti? Jimin mohon..."

Seokjin merasa ada sesuatu yang janggal dari perkataan Jimin, namun tak tau apa tepatnya. Hanya saja Seokjin merasa ada sesuatu yang meremas hatinya, membuatnya ingin memeluk Jimin dan tak pernah melepasnya.

Entahlah, Seokjin tak bisa mendeskripsikan perasaan macam apa yang dirasakannya saat ini.

"Tidak sayang. Bukan hanya eomma dan appa yang akan menjaga Kookie, tapi kau juga. Berjanjilah kita akan menjaganya bersama-sama."

Jimin tidak mengiyakan ataupun menolak janji yang diucapkan Seokjin. Hanya senyuman yang diberikan sebagai jawabannya.

"Cepatlah sembuh, karena lusa kita akan membeli semua perlengkapan untuk Kookie. Baju, boneka, kereta dorong, mainan, dan semua hal lain. Kita akan membeli lalu menatanya bersama-sama. Ne... "

"Bersama-sama?" Namjoon yang baru masuk kamar Jimin langsung menyahut. "Apa kalian tidak ingin mengajakku?" ucapnya pura-pura sedih.

"Jiminie, haruskah kita mengajak pak tua yang gila kerja itu? Yang bahkan masih mengurusi masalah kantor walaupun sudah ada di rumah?"

"Ayolah... yang barusan itu hanya sekretarisku. Aku bahkan minta jadwalku selama dua minggu kedepan dikosongkan. Karena pak tua ini ingin sekali pergi menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya."

Seokjin dan Jimin berpandangan, setelah itu sama-sama tersenyum jahil.

"Tapi Tuan Kim, apa kau sanggup menghadapi istrimu yang sedang hamil ini? Karena sepertinya akan ada banyak sekali hal-hal aneh yang diinginkannya."

"Emm.. " Namjoon pura-pura berpikir.

"Jimin juga punya banyak tempat yang ingin dikunjunginya."

Namjoon menyudahi kegiatan pura-pura berpikirnya dan berdiri dengan tegak. Membuat gesture seperti sedang hormat bendera.

"SIAP. Apapun yang Ratu Seokjin dan Pangeran Jimin inginkan pasti hamba laksanakan. Tanpa terkecuali."

"Ku pegang janjimu Raja Namjoon."

.

Berapa lama lagi?

.

.

.


BTS – Come Back Home

22 November 2017