Disclaimer : ATLUS (c)
Bakat. Kau yang berbakat. Kau yang paling pantas. Marga Senjii. Argh! Mati saja kamu kakek tua! Sakura mengumpat kesal dalam hati. Setelah pembicaraan aneh mengenai calon suami yang berbuntut dengan pilihan 'menikahi Negyuu' atau 'jadi penerus', ia diminta kembali ke kamarnya untuk memilih salah satu opsi. Kesal, ia membanting dirinya ke kasur. Meski kamarnya memiliki nuansa Jepang yang sangat kental dengan tatami dan pintu geser di dua sisi dinding yang berhadapan, interiornya tetap saja sangat Barat sekali. Hanya bedanya, tidak ada jendela. Ia cukup membuka pintu di satu sisi dindingnya dan ia langsung mendapatkan pemandangan deretan pohon Sakura serta seluruh isi halaman rumahnya.
"Salah satu opsi, ya? Heh, rasanya semua opsi itu sama saja. Sama-sama membuat aku harus memegang kepemimpinan. Kalau menikah dengan Negyuu pun, rasanya sama saja. Dan lagi aku malas membayangkan harus membayangkan sisa hidupku bersama orang itu. Sial!" serunya kesal sambil melempar bantal yang sukses menghantam dinding. "Dasar kakek tua sialan! Cepat mati sajalah!"
"Sakura-sama, tidak baik mendoakan seseorang seperti itu, nanti kualat," Negyuu tiba-tiba menimpali self conversation yang sejak tadi dilakukan Sakura, membuat si gadis galak itu menatap kesal.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk kamarku? Keluar," perintahnya sambil berjalan ke arah pintu yang menghadap ke taman. Negyuu tertawa kecil.
"Rasa-rasanya, sejak dulu tidak pernah ada yang mengizinkan saya keluar masuk kamar Anda, tapi Anda tidak pernah protes. Kenapa baru sekarang protesnya." Sakura mendelik kesal lagi.
Si botak ini, ia mengumpat dalam hati. Ingin rasanya ia melempar kursi terdekat pada Negyuu, tapi hal itu hanya akan menghancurkan kamarnya saja. "Apa maumu?" katanya sambil membuka pintu, membuat angin menerobos masuk, menggoyangkan helai rambut hitamnya.
"Maaf sebelumnya, tapi saya tidak sengaja mendengar monolog Anda barusan, dan menemukan Anda menyebut-nyebut nama saya. Ditambah lagi Anda menyebutkan kata 'menikah' sebelum nama saya, apa benar?" suara Negyuu yang biasanya terlampau santai dan menyebalkan kini berubah jadi lebih serius. Sakura menatap bawahan setia kakeknya itu.
"Memang kenapa?"
Negyuu berjalan pelan menghampiri Sakura. Ada yang aneh dengan matanya ketika ia menatap Sakura, bukan pandangan penuh hormat yang selama ini selalu ia tunjukkan. Saat ia berdiri di sebelah Sakura, ia menyentuh beberapa helai rambut Sakura.
"Saya, kalau Anda tidak keberatan, saya juga tidak keberatan menikahi Anda, Sakura-sama." Negyuu menatap lurus pada Sakura sambil mencium helai rambut yang ia pegang. "Selama ini, saya menganggap Anda sebagai adik, dan majikan tentu saja. Tidak lebih dan tidak pernah kurang. Namun, melihat Anda kabur begitu saja dan melihat Anda begitu bahagia dengan lingkungan baru, saya tidak bisa menahan diri. Saya iri. Tidak pernah sekali pun Anda menunjukkan wajah bahagia seperti itu di rumah ini. Sungguh, saya iri, Sakura-sama." Negyuu mengakhiri kalimatnya dengan pelan nyaris berbisik dan mendekatkan tubuhnya ke Sakura, menghimpit nona muda itu antara dia dan pintu geser.
"Kebebasan Anda adalah impian saya, Reijin, dan semuanya. Kami tidak ingin Anda terikat dengan apa yang tidak pernah Anda inginkan. Keputusan Tuan Raiga menjadikan Anda penerus pun tidak pernah kami setujui, sebenarnya, dan berat bagi saya untuk harus melukai Anda ketika Anda menolak pulang. Mungkin ini curang, tapi, saya mencintai Anda, bukan sebagai seorang Sakura Senjii yang sangat kami segani, tapi sebagai seorang Sakura yang saya kenal sejak dulu. Seorang gadis yang keras kepala, namun lembut," Negyuu menyentuh lembut pipi Sakura yang bersemu kemerahan dan kaget. Ia tersenyum geli. "Tidak perlu terburu-buru, saya juga tidak berharap banyak tapi, pikirkanlah." Negyuu berbisik pelan tepat di telinga Sakura, membuat ia merosot ke bawah dengan muka merah padam sementara si pelaku kejahatan pergi begitu saja.
"Woooo, rumah yang saaangat besar!" Junpei bersorak. "Nona muda, eh?"
"Ahahaha, aku bisa dihajar habis oleh Negyuu-senpai nih. Yah nasibku," kata Reijin ringan.
"Kenapa bicara seringan itu? Tidak takut dihajar? Kudengar si Maguro ini sangat kuat, iya 'kan Aki?" Shinji meminta dukungan sahabatnya itu. Reijin tertawa.
"Hahaha, kamu lapar ya, Aragaki-san? Bukan Maguro, tapi Negyuu. Yaa, takut sih, tapi kalian kemari untuk membawa pergi Sakura-sama, 'kan?" Akihiko menoleh ke arah Reijin.
"Kenapa kalimatmu itu seolah meminta kami untuk membawa Sakura pergi?" Minato angkat suara. Setelah insiden penggodaan di pusat kota tadi ia jadi diam seribu bahasa, malu akan kelakuannya sendiri. Reijin menggosok-gosok hidungnya.
"Yah, sebenarnya, kami sengaja membiarkan Sakura-sama kabur. Maksudku, ini rumah kami. Setiap hari kami patroli malam dan tidak ada satu pun yang luput dari pandangan kami. Begitu juga dengan acara minggat yang dilakukan Sakura-sama. Kami sengaja membiarkannnya kabur."
"Untuk menghajarnya dan membawanya kembali?" Akihiko berkata kesal, tidak percaya. Reijin menggeleng.
"Bukan begitu. Well, kalau boleh jujur, aku sangat ingin minta maaf atas kelakuan Negyuu-senpai, Harucchi, dan Kei padamu di gudang itu. Mereka memang, sedikit di luar batas, aku tahu. Tapi kau tahu, sebelum itu pun kami menyesali ketidakberdayaan kami dalam melanggar perintah Raiga-sama. Kami ingin membiarkan Sakura-sama bebas, tidak terikat dengan semua hal aneh ini. Kalau memang harus ada penerus, salah satu dari kami bisa menanganinya. Lagipula dia kan perempuan," Reijin mengakhiri penjelasannya dengan lemas.
"Ini semua mulai aneh, kau tahu," Junpei mengerutkan dahinya bingung. Minato terkekeh geli.
"Membingungkan karena otakmu yang seadanya itu, Junpei."
"Jadi intinya, kamu membawa kami kemari untuk membawa Sakura pergi untuk selamanya?" Mitsuru menyimpulkan. Reijin mengangguk.
"Aku tipe diplomasi, sebenarnya. Sejak awal aku tahu kalau Sakura-sama pakai cara ekstrim untuk bisa pergi, ia akan dikejar dan kami terpaksa pakai cara kasar untuk membawanya pulang. Dan aku juga sangat mengerti bahwa Sakura-sama bukanlah orang yang bisa berpikir tenang dan membujuk orang lain. Ototnya lebih bekerja dibanding otaknya, kurasa. Kalian ini kelihatannya berbeda. Lebih tenang dan menggunakan otak, terutama Minacchi dan Anda, Kirijo-san. Kupikir mungkin kalian bisa pakai cara damai untuk membawa Sakura-sama pergi," Reijin menatap Minato dan Mitsuru dengan tatapan polos, seperti anak-anak. Mitsuru tersenyum.
"Yah, kami akan coba memikirkannya kalau….
TINGTONG!
"Sakura! Sakura!" Akihiko berteriak-teriak memanggil si pemilik nama sambil terus menekan bel. Teman-temannya hanya menatap lemas si petinju ini.
"Aku lupa, dia juga tipe otot, bukan otak." Shinji nyengir.
Saya mencintai Anda. Saya iri. Saya mencintai Anda, Sakura-sama.
Kata-kata Negyuu itu terus-menerus berputar di kepala Sakura yang masih ada dalam posisi terakhirnya. Duduk dekat pintu dengan muka merah dan panas. Rasanya ada yang salah dengan pendengarannya, atau dengan sekrup otaknya, atau entahlah. Pokoknya ada yang salah dengan kelakuan Negyuu.
"Heh, Negyuu-senpai menyatakan cinta, ya?"
"WAH!" Sakura kaget bukan kepalang mendengar suara bas sedikit cempreng tiba-tiba muncul dari belakangnya. Dua sosok pria, berambut cepak dan berambut oranye sedang menyunggingkan senyum lebar.
"Dari reaksinya, sepertinya begitu," kata si cepak. Si rambut oranye mengangguk.
"Kamu liat ekspresi Negyuu-senpai tadi, Haru? Mukanya merah padam dan dia tersenyum-senyum begitu. Kesenangan rupanya," kata si oranye. Haru mengangguk.
"Keliatannya dia yakin bakal diterima tuh. Iya ga Kei?" kali ini giliran Kei yang mengangguk.
"Jadi, mau diterima ga nih Sakura-sama?" tanya keduanya berbarengan, membuat Sakura yang sudah merah semakin merah saja.
"Sakura! Sakura!"
Negyuu menoleh ke pintu depan. Ia mendengar suara familiar. Suara yang tidak ingin ia dengar lagi. Suara yang membuat ia menjadi lepas kendali dan menyatakan perasaannya pada Sakura.
"Cih, ngapain dia kemari?" Negyuu beranjak pergi menuju pintu depan.
Sakura, mengenal dengan baik suara yang memanggilnya itu, langsung berdiri dan berlari menuju pintu depan.
"Akihiko-senpai!"
Raiga sedang menyesap tehnya ketika ia mendengar seseorang memanggil Sakura. Ia menatap keluar sebentar sebelum menaruh cangkir tehnya.
"Sepertinya mulai seru di luar sana."
"Sakura! Sakura!"
"Err, senpai, kecilkan suaramu kumohon," Junpei memohon. "Kita tidak kemari untuk ribut. Seperti tadi kata Rei-chan, kita kemari untuk berdiplomasi. Serahkan saja semuany pada Junpei-sama, sang ahli diplomasi!" katanya bangga, tapi yang bersangkutan tidak menggubris.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan Negyuu muncul. Mukanya ketus. Ia menatap Reijin yang sedang memamerkan giginya.
"Kamu berkhianat, eh?" Negyuu menuduh Reijin. Reijin mengangkat bahunya.
"Sama sepertimu, aku juga suka pada Sakura-sama, Senpai. Dan itu artinya aku lebih suka mati daripada melihat dia terjebak di sini. Kau juga begitu, kan?" Reijin membalas dengan tegas.
"Dia, milik Senjii." Negyuu berkata geram. Akihiko mulai bergerak untuk menghajarnya tapi ditahan oleh Reijin. Ia lalu beringsut ke depan Akihiko, menghadapi Negyuu langsung.
"Oh, bukan. Dia bukan milik Senjii, bukan milik Tuan Raiga. Sama seperti ia bukan milikmu, meski aku yakin Senpai sudah menyatakan perasaan padanya." Semburat merah muncul di wajah Negyuu. Reijin tersenyum usil.
"Dan aku tidak buta, Senpai. Ia bahagia dengan teman-teman barunya. Dengan kehidupan barunya. Jadi, kalau memang ungkapan 'asal kau bahagia aku pun bahagia' memang ada," Reijin memasang kuda-kuda, "Itu jelas berlaku padaku."
Negyuu menatap orang yang ia anggap adik itu dengan tatapan aneh. Buas dan gila. Ia lalu memasang kuda-kuda juga.
"Kalau memang itu maumu, Reijin."
A/N : waaaaaai! Huahahaha apa kabar kalian semua? Menyenangkan kurasa. Sekarang saya lagi libur panjang dan tidak ada kerjaan, seperti biasa. Sungguh saat ini saya iri sama anak sekolah yang liburnya cuma 2 minggu. Libur 2 bulan itu me-nye-bal-kan.
Dan sungguh, saya bingung setengah mati kenapa ini cerita jadi roman-roman cinta segi-sekian begini? Ergh, jadi mual sendiri saya.
Anyway, gimana dengan sedikit review? Dan doa di liburan ini cerita ngawur yang sedang kalian baca tamat juga.
Best regards,
tasyatazzu
