Married ?
.
.
.
Chapter 12
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Indonesian
Genre : Friendship, Romance, Sacrifical & Married-life
(Gak terlalu tahu nentuin genre, jadi terkadang genre tidak sesuai)
Cast : Sakura H., Shikamaru N., Ino Y., Sasuke U., and other.
.
.
Semua karakter yang ada disini milik MK.
Saya cuma minjem bentar.
.
WARNING : OOC, AU, CERITA ABAL, GAJE, NGEBOSENIN, TYPOS, DKK (Semoga aja ngak).
.
.
Hai, ketemu lagi sama author yang satu ini. Saya mengucapkan terimakasih buat para readers yang mau membaca dan mereview fic gaje ini. Dan Author juga mau minta maaf sebesar-besarnya apabila author melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja sampai membuat readers tersinggung ataupun marah. Gomennasai Minna.
Sekarang waktunya menanggapi review :
Zhai Beh chapter 11 : Mantap (y) . Lanjut :D
Jawab : Arigatou senpai #bungkukbungkuk. Sip (y) .
mira cahya 1 chapter 11 : Ciee..ciee shika jealous neeh..wkwkwk. Oh iya, sedikit komentar.. td sempet nyelip kata2 'dong, gak, kayak, n gini'. Tp its ok. Msh bisa ditoleransi. :)
Jawab : Iya, hahahaha /ditimpuk pake sendal sama Shika/. Iya makasih sarannya. tapi kalau dikasih yang begituan gak boleh ya senpai? soalnya kata-katanya terlalu baku, jadi biar lebih nyantai. Tapi arigatou udah mau kasih saran + review. Mohon dijawab ya senpai.
have no account chapter 11 : Yaay! Akhirnya update juga!. Shika cemburu banget yaa ama sasu terus kayaknya saku bakal ngebuat shika di sahabat zone
sekali kali shika pov dong, penasaran pikiran shika kayak apa haha. Semangat thor updatenya!
Jawab : hehehehe, gomenne. Gak bisa update soalnya menjelang hari raya. Hahahaha iya, bener-bener. hehehehe, saya sebenernya juga penasaran pikiran Shika kayak apa#Plaaaak. Arigatou senpai.
lala chapter 11 : yaaay akhirnya update jugaaa xD lanjut thoooor
Jawab : Hehehehe, gomenne. Sip (y) .
Herocyn Akko chapter 11 : updatenya lelet-.- chapter ini juga masih pendek! chap depan panjangin! jangan pendek dong. haruuus! klo nggak panjang akko bakalan demo, suruh nurunin harga bbm:v*plaaak* oke next aja! jangan telat lagi yah updatenya. ganbatteeee
Jawab : Hehehehe, gomenne. Kalau begitu chapter ini juga pendek dong. Siap-siap Akko-san bakalan demo. Sip (y) . Ini udah update. Arigatou senpai.
dara093 chapter 11 : hahaha. nah lo, shika iri ama sasuke. jdi ngajak saku ke resto trus disuapin. shika manta pembalap ya, smpe ngebut gitu. ino siap2 ya, kok kyknya hati shika udh agak berpaling. next chap ada ino dong. hwaiting next
Jawab : Bener tuh, Shikanya irian...heheheheheh/ditimpuk pake sendal sama Shika/. Kasihan ya Ino-chan, Shikanya akan berpaling?#plaak/digebukinbarengbareng/Iya, Ino ada lagi kok :D . Arigatou senpai.
Sekali lagi saya ucapkan terimakasih sudah mau review fic ini. Jangan bosen review ya. Janee~~~
Happy reading ^_^
.
.
.
.
.
.
Matahari telah bersinar, pastinya terbit dari timur. Sinarnya melewati jendela kamar tidurku membuat tidurku terusik karenanya.
"Ah."gumamku sambil merubah posisiku. "Sekarang jam berapa?"gumamku lagi sambil melihat ke arah jam weker. "Jam setengah tujuh."lanjutku pelan sambil kembali menutup mataku.
Ternyata masih jam 06.30.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Apa? Setengah tujuh? Tidak, aku bisa terlambat masuk kuliah. Aku berlari ke arah kamar mandi. 5 menit aku sudah selesai mandi. Ah, aku juga tak tahu apakah badanku bersih atau tidak yang penting sekarang aku bergegas pergi agar tak terlambat.
Memakai dress selutut berwarna pink dengan celana jeans hitam, tak lupa aku memakai jam tangan berwarna hitam dengan rambut yang digerai.
Kemudian aku langsung mengambil tas yang lumayan besar berwarna putih. Lalu mengumpulkan buku-buku yang kubutuhkan. Setelah itu aku langsung memasukkan semuanya ke dalam tasku, tak lupa beberapa alat tulis.
Setelah dirasa selesai, aku mulai melangkah ke arah pintu lalu membukanya.
"Ponselku."gumamku pelan. Tiba-tiba aku mengingatnya dan bergegas mengambilnya setelah itu menaruhnya di dalam tas lalu melangkah keluar kamar.
Hal yang kulakukan berikutnya adalah mencari keberadaan Shikamaru yang ternyata berada di dapur. Dia sedang memakan roti dengan tenang. Tapi ada yang berbeda darinya, tak biasanya dia memakai jas. Ah, bodo amat. Yang terpenting sekarang aku segera pergi.
"Shika, antarkan aku. Aku hampir telat."kataku berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
"Kau tak melihat, aku sedang makan."katanya dingin sambil terus memakan rotinya. "Kau sendiri makanlah dulu."lanjutnya lagi.
"Ah, tapi tak ada waktu."kataku mulai panik.
"Makan."perintahnya sambil menatapku tajam.
"Hah, baiklah."aku menghela napas lalu mengambil roti tersebut dan menarik pergelangan tangan Shikamaru.
"Ck, merepotkan."itulah katanya setelah aku menyeretnya pergi. Tapi, dia tak menolak ataupun mencoba melepaskan genggaman tanganku.
Sekarang kami telah berada di dalam mobil. Kemudian Shikamaru menyalakan mesin mobilnya lalu melaju kencang. Sementara aku sedang sibuk memakan rotiku sambil sesekali melihat jam tanganku. Untungnya dia tak mengabaikanku. Syukurlah.
Dua minggu, tak terasa kami telah dua minggu menjalani kehidupan sebagai suami dan istri. Setelah dia bersikap manis kepadaku tempo hari dengan menyuapiku, sikapnya kembali lagi seperti semula. Malah sepertinya lebih parah lagi, dia terus mendiamiku bahkan tak meresponku ketika aku mengajaknya bicara. Dia juga tak pernah lagi membangunkanku pagi-pagi sekali hanya untuk membersihkan apartemennya. Aku rasa dia sedang menjaga jarak denganku. Sebenarnya aku juga memiliki pemikiran seperti itu, menjaga jarak dengannya.
Tapi, tak tahu kenapa rasanya sungguh berat. Setiap kali aku tak acuh padanya, dia malah juga mendiamkanku. Dan itu malah berhasil membuatku terus mencoba untuk bicara padanya, tapi dia malah terus mengabaikanku.
Kenapa hal itu membuatku merasa ada sesuatu yang hilang? Biasanya aku dan dia akan selalu bertengkar masalah inilah itulah walau terkadang hanya masalah kecil.
Aku mulai menggelengkan kepala. Hah, apa yang kuinginkan. Aku memang tak bisa mendapatkan hal yang lebih, bahkan dengan keadaan seperti ini saja aku sudah terlalu serakah. Aku harus ingat, benar-benar ingat bahwa dia adalah milik Ino dan aku tak berhak meminta lebih. Seharusnya aku yang menghindar darinya dan menghilang seperti gelembung.
Kenapa juga aku merasa kehilangan? Mungkin karena dia adalah sahabat yang baik. Bahkan sepertinya bersahabatpun dengannya adalah sesuatu yang salah.
"Sakura."
"Sakura."
"Hey, Sakura."
"Ah, iya-iya."kataku setelah tersadar.
"Kau melamun? Dari tadi aku memanggilmu. Cepatlah, kau akan terlambat. Ck, merepotkan."
Aku terus memandangnya berbicara, sampai sebuah kata yang membuatku teringat. TELAT. Oh, tidak. Aku kemudian keluar dari mobil dan melesat pergi. Kulihat jam tanganku telah menunjukkan pukul 07.25. Hah, hampir telat. Aku terus berlari, dan berlari. Aku memang tak beruntung, karena sekarang dosen itu yang mengajar, dosen killer bernama Orochimaru. Bisa-bisa aku diusir nanti.
"Hah...hah...hah..."kataku mengatur napasku di ambang pintu yang sudah kubuka.
"Forehead...Forehead..."panggil Ino pelan. Aku langsung tersadar dan menoleh, ah, gawat ternyata aku terlambat.
"Ma..aaf sa...saya ter..."kataku tergagap.
"Keluar."teriak Orochimaru-sensei memotong perkataanku.
"Baik."jawabku cepat sambil membungkuk lalu pergi dari tempat ini.
Hah, aku menghela napas panjang. Padahal baru lima hari aku kuliah sudah terlambat seperti ini. Diteriakin dosen lagi. Kuputuskan untuk pergi ke halaman lalu duduk di salah satu kursi dekat pohon.
Menyandarkan kepalaku di meja. Perutku lapar, tadi aku hanya makan roti dan hanya 1 lagi. Membeli, aku tak punya uang. Sudahku bilang majikanku pelit, bahkan sangat pelit sekali. Mungkin aku harus menunggu Ino keluar. Lagi pula aku masih ada jam kuliah nanti. Biasanya aku akan belajar jika mempunyai waktu senggang seperti ini tapi karena perutku lapar aku jadi tak bersemangat.
10 menit.
20 menit.
30 menit.
45 menit.
Hoam. Tak terasa aku mulai mengantuk. Tapi tiba-tiba seseorang malah memukul kepalaku dari belakang.
"Aw, I..."kataku meringis sambil mengelus kepalaku lalu menatapnya namun seketika aku terdiam setelah melihat orang tersebut, kupikir dia Ino.
"Ini."katanya datar sambil duduk di sampingku dan memberikan botol air mineral yang sempat dia gunakan untuk memukul kepalaku.
"Ah, makasih."kataku sambil mengambilnya.
"Dasar."dengusnya.
"Ck, kau mengejekku."kataku kesal lalu meminum air tersebut.
"Kalau begini, kau tak akan bisa mengalahkanku."katanya dingin tapi tak menatapku.
"Kau tahu tentang hal itu?"tanyaku kaget, padahal aku tak pernah memberitahu siapapun kecuali Ino. Ketika aku memutuskan untuk mengalahkannya kami tak pernah berbicara satu sama lain dari dulu. Baru-baru ini aku bicara padanya.
"Mana mungkin aku tak tahu. Kau selalu menatapku sinis ketika mata kita berpapasan."
"Benarkah? Mana mungkin. Hahahaha."kataku tertawa hambar sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. Bagaimana dia bisa tahu? Itu bahkan hanya respon tanpa sadar dari tubuhku.
"Hn."
Aku mulai terdiam. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan, keadaan hening seketika. Sampai aku mengingat kejadian laknat itu ketika dia menci..., ah jangan diteruskan. Yang terpenting aku harus tahu kenapa dia melakukan tindakan bodoh seperti itu.
"Em, Sasuke."panggilku ragu.
"Hn."
"Waktu itu..."
"Hey."tiba-tiba ada seseorang mengagetkanku dengan berteriak lalu memegang bahuku. Dari suaranya saja aku tahu bahwa itu Ino.
"Ino, kau membuatku kaget."kataku kesal sambil menatap Ino yang berdiri di belakangku.
"Hehehehe...gomen Forehead. Tapi, kalian berdua sedang apa? Hayo."kata Ino dengan nada yang sangat menyebalkan, dia sedang mengejekku sekarang.
"Hanya berbicara. Diamlah Ino."kataku sedikit kesal.
"Baiklah, kau harus menceritakan tentang hal ini kepadaku. Aku akan pergi dulu."kata Ino tersenyum jahil kepadaku lalu melangkah pergi.
"Hey, kau ingin kemana?"tanyaku sedikit berteriak. Aku sudah berdiri sekarang.
"Menemui Shikamaru."katanya sambil tersenyum.
"Bukankah kita masih ada jam kuliah?"
"Iya aku tahu. Aku akan segera kembali."teriaknya lalu dia benar-benar menghilang di balik tembok. Hah, aku mulai menghela napas. Lalu mendudukkan diriku lagi. Padahal aku ingin meminjam uang, aku sedang lapar sekarang.
"Kau kenapa?"tiba-tiba ada suara bertanya. Ah, iya. Sasuke masih berada di sampingku. Aku hampir saja melupakannya.
"Ah, tidak."kataku sambil menggelengkan kepala yang pastinya bohong.
"Ini."dia memberikanku sebuah tempat makanan. Aku sungguh terkejut, benarkah sifat Sasuke seperti ini? dan yang membuatku terkejut lagi tempat makanannya berwarna pink. Hihihihi, tak kusangka Sasuke memiliki barang seperti ini, kukira dia orang yang anti dengan barang-barang menggelikan bagi kaum Adam ini. Aku menahan agar tawaku tak keluar. Tapi ini sungguh sangat manis, ternyata dia bisa bersikap seperti ini, baru tahu aku. Tapi tunggu, bukankah aku sudah berjanji untuk tak menemui Sasuke. Me-ne-mu-i Sa-su-ke ya, bukankah aku tak menemuinya malah dia yang menemuiku. Jadi, tak ada masalah. Janjiku padanya tetap kutepati.
"Untukku?"tanyaku untuk memastikan.
"Hn."katanya tapi tak menatapku, dia malah memalingkan wajahnya.
"Arigatou."kataku sambil tersenyum lalu mengambilnya. Aku mulai membukanya. Wah, cantik. Bahkan bentuk bekalnya seperti untuk anak-anak TK yang sangat menarik.
"Aku yang membuatnya."katanya lagi, tetap memalingkan wajahnya.
"Benarkah?"tanyaku tak percaya. Aku langsung memakannya. "Wah, enak."lanjutku bahkan dia pintar memasak, apa cuma aku yang bodoh dalam hal memasak.
"Hn."
"Aku..."kata kami bersamaan.
"Kau duluan."kataku mengalah.
"Kau saja."kata Sasuke tetap dengan nada dingin.
"Ah, baiklah. Terima kasih Sasuke."kataku tulus lalu memakan makananku lagi.
"Hn."
"Sekarang giliranmu."kataku ketika Sasuke hanya membalas Hn dan tak melanjutkan perkataannya.
"Tidak ada."yasudahlah. Memang begitu karakternya mau bagaimana lagi. Aku melanjutkan memakan makananku sampai tak bersisa. Lalu menaruh kotak tersebut di tasku.
"Akan kucuci dulu."kataku sambil tersenyum lalu aku meminum air.
"Hn. Kau sudah baikan?"tanyanya tak menatapku, dia hanya terus memandang ke depan.
"Ah, sudah. Makasih obatnya dan..."jedaku mengingat sesuatu. "Oh iya, aku belum membayar ramen yang kumakan waktu itu."kataku setelah ingat.
"Tak usah. Yang terpenting kau sehat."katanya menatapku lalu tersenyum.
Hah, aku mengerjabkan mataku beberapa kali. Sasuke bisa tersenyum juga. Bukannya dia adalah Prince Ice, itu julukannya waktu SMA.
"Kenapa? Aku aneh?"
"A-ah, ti-tidak."kataku sambil menggelengkan kepalaku. "Lebih baik kita segera masuk."lanjutku lagi setelah melihat jam tanganku telah menunjukkan pukul 09.50.
.
Sekarang aku telah bersama Ino di halaman. Masih sama, kami berada di kampus. Kami berdua duduk di salah satu kursi dekat pohon. Sekarang jam kuliah kami sudah selesai. Ino sesekali menyedot es jeruknya sedangkan aku sibuk membaca buku.
"Forehead."
"Ada apa?"tanyaku, tapi tetap tak berpaling dari apa yang kubaca.
"Kau dan Sasuke pacaran."kata Ino sedikit menjerit.
"Mana mungkin Ino-pig."kataku sambil memutar bola mataku bosan.
"Ta-tapi tadi kalian sedang melakukan apa?"ucap Ino antusias sambil mencoba membuatku menatapnya dengan cara mengambil buku yang kubaca.
"Hah, kami hanya berteman."kataku bosan. "Kembalikan Ino-pig."lanjutku sambil mengambil bukuku dari tangannya lalu kembali lagi membacanya.
"Aku tak percaya."kata Ino sambil memanyunkan bibirnya. Tapi seketika itu Ino terdiam. Biasanya dia akan terus nyerocos sampai dia puas dengan jawabanku. Kusingkirkan bukuku perlahan lalu meliriknya.
"Ayo, Shikamaru sudah ada di luar."kata Ino cepat sambil menyeretku.
"Eh."kataku terkejut sambil meraih bukuku.
Kami telah berada di luar gerbang. Telah ada Shikamaru yang berdiri di depan mobilnya.
"Shika,"kata Ino manja sambil memeluk Shikamaru.
Aku hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Ino. Mataku dan mata Shikamaru bertemu saling menatap sejenak. Bukankah mereka memang sangat serasi, Ino dan Shikamaru. Tenang, mungkin tembok yang awalnya menjadi pemisah kalian akan segera rapuh dan runtuh, yang hanya menyisakan puing-puing tak berarti. Ingin rasanya aku pergi dari sini. Bisakah aku menghilang sekarang?
"Ayo Forehead,"kata Ino menyadarkanku dari lamunanku. Kembali ke dunia nyata yang rasanya sangat pahit padahal aku tak terlalu suka rasa itu.
Aku telah berada di dalam mobil. Jangan ditanya pastinya aku duduk di belakang. Mobilpun melaju perlahan.
"Shika, kau tahu? Sekarang Forehead sudah memiliki pacar."ucap Ino dengan antusias.
Tunggu dia bilang apa? Aku punya pacar? Hah, dasar Ino-pig, Ino-pig. Selalu saja menyebarkan hal yang belum pasti. Tapi tak tahu kenapa aku tak ingin membantah perkataan Ino. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Shikamaru setelah mendengar hal itu.
"Hn."
Apa yang kuharapkan? Bodoh, pastinya Shikamaru tak akan peduli. Lagi pula ini hanya perjodohan, ingat Sakura ini hanya perjodohan. Dan kita tak mungkin lanjut.
"Dan Shika kau tahu siapa pacarnya? Dia berhasil meluluhkan hati sang Prince Ice, Sasuke,"
Cktiiiiit.
Seketika itu Shikamaru mengerem mendadak. Untungnya dia sedang tidak mengebut sekarang. Jadi tak ada yang terluka ataupun kenapa-napa.
"Ada apa Shika? Kau menabbrak sesuatu?"tanya Ino panik.
"Tidak. Hanya saja aku merasa tak enak badan."jawab Shikamaru dingin.
"Benarkah? Kau ingin kubuatkan sup atau kutemani?"tanya Ino khawatir.
"Tak usah. Aku hanya ingin istirahat sebentar."kata Shikamaru sembari menjalankan mesin mobilnya lagi.
"Baiklah. Cepat sembuh."kata Ino sambil mengecup pipi Shikamaru. Aku terpaku ketika melihatnya. Fikiranku kosong sekarang, aku bahkan hanya diam dan terus begitu.
Setelah Ino turun dari mobil. Mobil melaju kembali. Dan kita hanya terdiam, tak ada yang ingin memulai pembicaraan sampai kami telah berada di dalam apartemen Shikamaru.
Aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang tengah. Menyandarkan punggung dan kepalaku lalu memejamkan mata.
Ketika aku membuka mataku perlahan, aku terkejut. Wajah Shikamaru sangat dekat dengan wajahku. Reflek aku mendorongnya, membuat jarak di antara kami merenggang.
"Apa yang kau lakukan?"tanyaku terkejut sampai membuatku berdiri.
"Sudah kuduga."bukannya menjawab dia malah berkata tak jelas dan langsung pergi ke dalam kamarnya.
Blaam...
Terdengar suara pintu yang di tutup dengan keras.
Aku menghela napas panjang. Apa maksudnya berkata seperti itu? Bahkan dia terlihat sangat marah kepadaku. Shikamaru, aku mohon jangan seperti ini. Kembalilah menjadi Shikamaru yang kukenal.
Tolong.
Jangan menjahuiku.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Pertanyaan, pernyataan, kritik dan saran monggo di keluarkan. Jangan sampai anda memendamnya. REVIEW ya... Saya tunggu. Jangan sampai readers menjadi pembaca gelap, jadi kalau baca di tempat terang# jangan flame, kalau dikit-dikit boleh lah. Janee~
THANKS FOR READING EVERYONE. REVIEW! REVIEW! THE MORE REVIEWS I GET THE MORE DETERMINED I FEEL TO UPDATE!
.
.
.
