Our Family
Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, bayi mungil yang kulahirkan beberapa waktu lalu sekarang sudah berusia satu bulan lebih seminggu.
Rumah yang tadinya sepi karena hanya ada kami berdua, sekarang jadi ramai semenjak kehadiran Jiwon. Segala tingkah-polahnya yang menggemaskan seakan-akan jadi hiburan tersendiri yang membuat kami enggan beranjak sebentar saja dari sisinya. Bayi lucu kami itu terus menunjukkan perkembangan yang pesat dan menakjubkan, membuat aku dan Chanyeol selalu terkesima, bahkan tak jarang kami berdua akan mengeluarkan airmata haru dibuatnya.
Dia akan tersenyum kalau namanya dipanggil, balas menggenggam dengan erat saat ada yang menelusupkan jari ke tangannya yang kelewat mungil dan bahkan mencoba fokus menatap wajah ketika ada yang mengajaknya bicara. Hal lain yang membuatku tak berhenti bersyukur adalah Jiwon yang menyusu dengan lahap meski faktanya itu bukanlah ASI -ku. Menyaksikan bagaimana mulut mungilnya menghisap seluruh isi dot dengan rakus saja sudah mampu membuatku luar biasa bahagia, jadi, hal-hal seperti itu bukanlah susu yang berasal dari tubuhku; itu adalah susu dari tubuh wanita lain—sudah tidak terlalu membebani pikiranku lagi. Dan yang terpenting, dia bayi yang sehat.
Jiwon itu mirip seperti aku, tidak suka dingin. Karena itulah, selain tidur dan menyusu rutin setiap dua jam sekali, berjemur menikmati sinar matahari pagi yang hangat adalah hal favoritnya. Chanyeol meletakkan ayunan gantung berbentuk setengah lingkaran hadiah dari Kai di balkon dan memasangkan pembatas agar sinar yang masuk tidak begitu terik untuk bayiku. Di sanalah kami akan duduk santai sambil meletakkan Jiwon yang telanjang di pangkuanku—menjemur tubuhnya dengan posisi yang bergantian antara terlentang dan telungkup sambil memberikan pijatan lembut yang bisa membuatnya merasa nyaman.
Jiwon suka sekali sesi berjemur yang kami lakukan setiap pagi, aku tahu itu. Dia akan menggerakkan tangan dan kaki secara acak seperti sedang melakukan stretching, membuat suara-suara lucu seolah sedang mengadukan apa-apa saja yang ia mimpikan tadi malam dan tersenyum riang ketika kami bergantian mengusakkan wajah dengan gemas ke perutnya. Tidak hanya Jiwon, sejujurnya aku juga merasa kegiatan ini menyenangkan dan rasanya kami bisa melakukannya berjam-jam. Tapi karena pertimbangan bayi tidak boleh dijemur lama-lama, sesi itu akan berakhir dalam lima belas menit. Hal selanjutnya yang kami lakukan adalah memandikan Jiwon dan menyusuinya sampai kenyang. Aku dan Chanyeol baru akan sarapan kalau dia sudah kembali terlelap—begitulah cara kami mengawali hari.
Aku dan Chanyeol benar-benar menikmati peran baru sebagai orangtua muda. Tentu saja tidak gampang, mengingat kami ini bukan seperti pasangan normal pada umumnya. Mereka yang pria-wanita saja masih sering mengalami kesulitan di awal-awal punya anak pertama, apalagi kami yang sama-sama lelaki? Untungnya Chanyeol itu tipe suami yang bisa diandalkan dan mau melibatkan diri dalam mengurus Jiwon. Malah dia melakukannya lebih baik dariku.
Aku sendiri masih sering gugup kalau Jiwon menangis tiba-tiba, gemetaran waktu dia mengalami refluks saat minum ASI, panik ketika melihat pup-nya hanya sedikit dan agak cair—padahal semua itu normal-normal saja. Mama Park bilang khawatir itu adalah hal yang wajar untuk ibu baru, dia juga dulu begitu saat Chanyeol masih bayi.
Aku memang masih sering grogi, tapi aku memutuskan untuk merawat bayiku sendiri—walau Mama Park sudah menawarkan bantuan dan ayah diam-diam ingin menyewa perawat untuk mendampingiku. Semuanya kutolak karena aku ingin selalu jadi yang pertama menyaksikan pertumbuhan anakku dari yang sekecil-kecilnya tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Jiwon itu jadi bayi hanya sekali seumur hidup. Masa-masa seperti ini tak akan pernah terulang sampai kapanpun, jadi aku harus menggunakan kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Untung saja mereka mengerti keinginanku, tapi ada syaratnya tentu saja.
"Kau harus mengirimkan foto dan video Jiwon untuk kami setiap hari, Baek."
Kyungsoo yang mengusulkan itu, katanya supaya dia tetap bisa ikut memonitor perkembangan Jiwon meski sedang berada di Prancis. Ck, anak itu. Aku menurut saja karena memang menjadi fotografer Jiwon adalah pekerjaan baruku sepulangnya dari rumah sakit. Meski tren mencetak foto dan menempelkannya di album sudah agak ketinggalan jaman, namun hal itu tetap saja kulakukan. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri ketika melihat tumpukan album di kamarku bertambah dua puluh senti setiap minggunya. Ah, selain itu aku juga jadi suka membaca—terutama artikel atau buku-buku yang berhubungan tentang baby parenting.
Meski menyenangkan, mengurus bayi itu lumayan melelahkan juga. Tak bisa dipungkiri, aku jadi sering begadang, kurang istirahat dan tak jarang moodku terganggu karenanya. Hm, terimakasih pada Park Chanyeol yang dengan sigap bangun saat Jiwon menangis tengah malam karena haus atau pipis. Dia itu benar-benar suami yang pengertian.
"Biar aku saja, Baek—kau tidurlah kembali." Chanyeol mengelus rambutku dengan lembut sampai mataku yang tadinya sudah setengah terbuka kembali terpejam. Aku bukannya tidak dengar bayiku menangis, tapi badanku rasanya capek dan mataku berat sekali untuk dibuka. Chanyeol dengan cekatan mengganti popok Jiwon, memberinya susu, kemudian menimangnya sampai tertidur kembali. Semua itu dia lakukan dengan sabar tanpa mengeluh sedikitpun.
Tak hanya membantuku merawat Jiwon, sebagian besar pekerjaan rumah tangga juga suamiku yang mengerjakan. Sama seperti waktu kami masih di rumah lama. Sejujurnya aku sangat buruk dalam mengerjakan hal-hal seperti mencuci, beres-beres apalagi memasak—bakal lebih baik kalau aku tak menyentuh apapun yang berhubungan dengan itu. Aku sering merasa tak enak karena seharusnya itu semua adalah tugasku, tapi yang dia katakan selanjutnya malah membuatku terharu dan jatuh cinta padanya untuk yang kesekian kali.
"Jiwon adalah anak kita bersama, Baekhyun. Selama lebih dari sembilan bulan kau sudah menjaganya di rahimmu dengan baik, dan setelah dia lahir, itu juga kewajibanku untuk ikut merawat dan mengasuhnya. Siapa bilang pekerjaan rumah tangga itu hanya istri yang bisa melakukannya? Seorang suami juga bertanggung-jawab atas itu, jadi jangan terlalu memaksakan dirimu lagi, oke?"
Meski terkadang sok romantis berlebihan, aku tak bisa mencegah hatiku untuk tidak berbunga-bunga setiap mendengar dia bilang begitu.
Dibandingkan saat masih berada di rumah sakit, Jiwon jadi lebih suka tidur semenjak kami pulang ke rumah. Terkadang aku sebal karena dia terus-terusan terlelap sedangkan aku masih ingin bermain dengannya. Pernah, waktu Jiwon belum genap sebulan, saking gemas dan frustrasinya melihat bayiku yang tak kunjung bangun, aku menciuminya bertubi-tubi saat dia tengah tidur pulas—menyedot bongkahan pipinya yang kenyal itu sampai masuk ke dalam mulutku. Jiwon tersentak kaget, dia terbangun dan menangis nyaring sekali setelahnya. Chanyeol sampai menegurku dan kalian pasti bisa menebak apa yang terjadi kemudian. Suamiku harus kewalahan karena aku ikut-ikutan menangis dan mengurung diri di kamar mandi sampai setengah jam.
Hari yang kacau karena ibu dan bayinya sama-sama cengeng.
"Baekhyun, Sayangku, aku tahu kau hanya ingin mengajaknya bermain. Tapi bayi yang bahkan belum genap sebulan seperti Jiwon ini memang perlu waktu tidur yang lebih lama. Itu kan demi perkembangannya juga." Chanyeol mencoba memberi pengertian untuk yang kesekian kalinya.
Aku menangis bukan karena dimarahi, tapi karena merasa bersalah sudah mengganggu ketenangan bayiku hanya gara-gara aku yang tak bisa mengendalikan rasa gemas berlebih.
"Hei, aku tidak marah padamu. Please, berhenti menangis dan keluar dari dalam sana." Chanyeol membujukku dari luar kamar mandi dengan suara beratnya yang terdengar begitu memelas.
"Jiwon butuh mommynya..." Suara frustrasi Chanyeol bersahut-sahutan dengan tangisan Jiwon yang membuat batinku tercabik-cabik. Akhirnya aku keluar juga dan benar saja, mata suamiku sudah berkaca-kaca ditambah lagi bayi kami sedang meraung-raung di dekapannya.
"Ma-af. Maafkan aku."
Begitulah. Aku berjanji dalam hati untuk mengontrol diriku agar yang seperti ini tidak terjadi lagi. Gara-gara aku, Jiwon menangis lama sekali sampai wajahnya merah dan nafasnya tersengal. Tangannya menggapai-gapai ke arahku dan itu membuatku semakin merasa bersalah.
Kami punya cara sendiri untuk membuat Jiwon berhenti menangis selain dengan menimangnya sampai tidur. Karena kami melakukannya setiap hari, cara itu seakan sudah menjadi ritual bagi keluarga kecil Park.
"Buka bajumu, Sayang."
Aku dan Chanyeol akan bertelanjang dada, kemudian duduk berselonjor di ranjang dengan Jiwon yang diletakkan di atas tubuh kami—tanpa pakaian sehelaipun. Bersentuhan kulit secara langsung tanpa terhalang kain seperti ini bisa membuat bayi merasa nyaman. Selain itu, ikatan batin dengan kami orangtuanya juga bisa bertambah kuat, itu menurut buku yang kubaca.
Jiwon langsung berhenti menangis saat Chanyeol menelungkupkannya di atas perutku. Satu tanganku menopang pantat mungilnya sedangkan tangan Chanyeol berada di belakang kepalanya. Dia menggeliat lalu merangkak naik ke dadaku—mencari-cari puting susuku yang sampai kapanpun tak akan mengeluarkan ASI. Aku kegelian ketika mulut mungilnya mencecap-cecap nipple-ku dan menyedotnya dengan rakus.
"Sepertinya dia haus, mungkin karena capek menangis." Chanyeol beranjak dari ranjang untuk menyiapkan susu Jiwon. Bayi kami masih ikut program ASI eksklusif dari rumah sakit—hasil donor dari wanita-wanita berjiwa malaikat yang produksi susunya berlebih.
"Jiwona, minum yang ini saja—mommy kita tak ada susunya." Chanyeol terkekeh saat melihat Jiwon yang agak kesal karena putingku digantikan dengan karet dot. Tapi begitu benda itu masuk ke mulut, dia langsung menyedotnya tanpa ampun.
Kami asyik menonton Jiwon yang tengah disusui sambil sesekali berbagi ciuman mesra. Terkadang ciuman dan tangan nakal Chanyeol sudah menjalar kemana-mana dan aku terpaksa mengingatkannya berulang kali agar tidak kelewat batas. Suamiku yang malang.
Kami masih belum bisa bercinta dan selama ini dia terpaksa memuaskan hasratnya sendiri. Kadang dengan bantuan tangan, kadang aku juga memberinya oral, tapi lebih sering gagal karena terinterupsi oleh tangisan Jiwon yang seakan tak rela aku didominasi oleh sang ayah. Kepalaku rasanya mau pecah karena bingung harus memprioritaskan yang mana; suamiku yang nafsunya sedang di ubun-ubun atau bayi pemarahku yang sedang mengamuk minta perhatian. Tapi pada akhirnya, kami berdua lebih memilih Jiwon.
Tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk itu.
"Nanti kalau kau sudah pulih benar, aku tak akan memberimu ampun, Baek," ancam Chanyeol sambil tersenyum penuh maksud. "Aku tidak akan menahan-nahan diriku lagi seperti selama ini. Jadi, persiapkan dirimu sebaik-baiknya."
Sial. Tentu saja wajahku langsung memerah ketika mendengar ancaman itu.
Oke, kembali ke Jiwon.
Aku pernah baca kalau bayi itu sangat suka mendengar detak jantung sang ibu, karena suara itu sudah familiar bahkan sejak mereka masih dalam kandungan. Mungkin itu benar, karena aku sudah lihat sendiri bagaimana Jiwon dengan betahnya menempelkan sebelah telinga tepat di dadaku. Dia sudah kenyang menyusu dan sebentar lagi bayiku itu pasti akan tertidur.
Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut supaya dia bersendawa—penting untuk menghindari bayiku memuntahkan susu yang baru ia minum. Terkadang Jiwon akan buang angin alih-alih bersendawa dan kami menghabiskan waktu bermenit-menit hanya untuk menertawai suara kentut bayiku yang terdengar lucu itu.
Saat-saat tenang seperti ini kami manfaatkan untuk mengajaknya berbincang. Meski dia masih tidak mengerti, namun lebih sering berbicara dengan bayi akan sangat bermanfaat untuk menstimulasi perkembangannya, terutama kemampuan bahasa.
"Jiwona, kau tahu kan kalau daddy dan mommy sangat mencintaimu?"
"Benar, kami yang paling mencintaimu di dunia ini."
Aku dan Chanyeol mengucapkan ribuan kata cinta sambil menciuminya bergantian.
"Jiwona, semoga kau jadi anak yang baik dan kuat di masa depan."
"Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberimu kebahagiaan dimanapun kau berada."
Kami juga memanjatkan ribuan doa tulus untuknya.
"Terima kasih sudah lahir ke dunia ini, Son. Terima kasih karena sudah melahirkan Jiwon untukku, Baekhyuna. Aku cinta kalian."
Ritual kami akan berakhir saat Chanyeol berubah jadi sok romantis dan Jiwon sudah terlelap dengan sempurna dalam dekapanku yang hangat. Kami kembali memakaikan bajunya dengan gerakan sepelan mungkin, meletakkan tubuh mungilnya dalam boks bayi kemudian menghabiskan waktu lama sekali hanya untuk memandanginya.
"Aku tak percaya dia pernah berada di dalam perutku, Chan," ujarku sambil menatap wajah damai Jiwon yang tengah tidur.
"Kau benar. Aku juga sampai sekarang tak percaya kalau sperma yang kutitipkan di tubuhmu bisa berubah jadi bayi lucu seperti dia."
"Kau bukan menitipkan, tapi memasukkannya secara paksa!"
Chanyeol terkekeh sambil mengecup pelipisku, "Rahasiakan tentang itu dari Jiwon, oke? Jangan biarkan dia tahu bagaimana caranya dia bisa ada di sini, sampai kapanpun."
Memangnya aku tega suatu hari nanti bilang pada Jiwon kalau dia itu sebenarnya hasil dari pemerkosaan?
"Ck, seperti aku tega saja. Dia pasti akan sangat murka kalau tahu daddy-nya dulu brengsek sekali. Tak punya hati dan selalu membuat mommy-nya menangis."
Aku sempat melihat Chanyeol tertunduk, sepertinya ucapanku barusan menyinggung perasaannya. Langsung saja kutangkupkan tangan di pipinya lalu kukecup bibirnya dengan lembut, "Biar brengsek, tapi aku tetap cinta. Terimakasih karena sudah memperkosaku, Chan. Kalau kau tak memperkosaku dulu, mungkin Jiwon tak akan pernah ada dan kita tak akan bisa jadi seperti sekarang ini."
Ya, seperti itulah keluarga kecil kami. Lumayan aneh.
Meski masih dalam tahap pemula dan perlu belajar lebih banyak, tapi kami merasa jadi orangtua itu benar-benar menakjubkan. Sungguh. Rasanya seperti dititipi malaikat yang turun dari langit—semuanya begitu luar biasa. Aku sampai heran kenapa masih ada saja orang tak bertanggung-jawab yang tega membuang bayi mereka di jalanan.
Ah, omong-omong tentang Park Chanyeol, lima hari yang lalu kami bertengkar lagi. Padahal kami baru saja melakukan ritual rutin dengan Jiwon tapi keadaannya tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat tanpa bisa kucegah. Itu karena dia yang menerima telepon dari sebuah perusahaan dan bilang kalau surat lamarannya diterima. Dia bisa mulai bekerja minggu depan, sebagai staff rendahan yang harus rela disuruh mengerjakan apa saja dan aku langsung marah besar sebelum dia berhasil menyelesaikan penjelasannya. Aku hanya butuh sekian detik untuk menyeretnya keluar kamar untuk membuat perhitungan.
"Kau melamar pekerjaan ke perusahaan itu tanpa sepengetahuanku?"
"Baekhyun, aku bisa menjelaskan—"
"Kupikir kita sudah sepakat, Chan. Kau akan kuliah lalu bekerja nanti saja setelah tamat. Uangku kan masih cukup untuk biaya hidup kita. Lalu kenapa kau melakukan ini tanpa seijinku?"
"Kau benar, tapi aku berubah pikiran."
Sial.
Niatku sebenarnya bagus. Aku hanya tak ingin Chanyeol merasa terbebani karena harus menafkahi kami dan dia bisa fokus pada pendidikannya. Apa gunanya aku masih punya simpanan kalau tak dipergunakan? Apalagi uangku itu kan bukan dipakai untuk berfoya-foya atau apa—tapi untuk kebutuhan keluargaku. Bekerja hanya akan memecah konsentrasi Chanyeol dan itu adalah hal terakhir yang kuinginkan.
Namun Chanyeol sepertinya salah menafsirkan maksudku. Mungkin dia hanya tak tahu saja kalau aku sangat ingin melihat priaku itu melanjutkan mimpi yang sempat tertunda gara-gara apa yang terjadi di antara kami.
"Kau menyuruhku kuliah, menghabiskan hampir sebagian besar waktuku di luar sana sedangkan kau di sini kerepotan mengurus Jiwon seorang diri?"
"Itu kan memang sudah tugasku, Chan."
"Tapi menafkahi kalian juga kewajibanku!"
"Itu memang kewajibanmu, tapi kita kan sudah sepakat kau akan lanjut kuliah dulu."
"Kuliah itu akan membuatku sangat sibuk, Baekhyun. Mengerjakan tugas, belajar—"
"Lalu apa bedanya dengan bekerja? Bekerja juga akan membuatmu menghabiskan waktu dari pagi sampai petang di kantor. Belum lagi orang-orang di sana akan menyuruhmu mengerjakan macam-macam hal—aku tidak mau itu, Chan! Setidaknya dengan kuliah kau akan punya bekal untuk pekerjaan yang lebih baik di masa depan!" Aku mulai terpancing emosi. Chanyeol meremas rambutnya dan menghela nafas berat berulang kali.
"Apa kau lupa sudah berapa lama aku tidak bekerja dan jadi pengangguran?"
"Chan, kau tidak pernah menganggur! Kau hanya berhenti untuk sementara karena waktu itu aku akan melahirkan. Lagipula itu sama sekali bukan masalah untukku—"
"Bagimu memang bukan masalah, tapi harga diriku hancur karena aku merasa jadi suami yang tak berguna dan terus bergantung pada uang istrinya!"
"Astaga, Chan. Aku tidak pernah berpikiran sampai ke situ!"
"Tapi itu membuatku kepikiran, Baekhyun. Di luar aku memang tertawa, tapi kau kan tidak tahu apa yang ada di otakku. Aku tidak bisa seperti ini terus-menerus, Baek! Aku ingin bekerja lagi!"
Aku marah. Meski aku sudah puluhan kali menghela nafas agar sedikit tenang, tetap saja aku marah. Tapi kemarahanku hanya akan membuat suasana semakin panas, jadi aku memilih untuk mengalah saja.
"Oh, begitu rupanya. Kupikir kita sudah sepakat akan berdiskusi jika salah satu di antara kita punya masalah atau apa. Ternyata kau lebih suka memendam masalahmu daripada membicarakannya denganku. Terserah kau saja, aku capek!"
Chanyeol terhenyak.
Biasanya dia yang selalu jadi pihak yang mengalah, sedikit mengejutkan karena kini aku yang menarik diri dari perselisihan.
"Baekhyuna. Hei—mau kemana?"
Chanyeol melangkah dengan panik saat aku menerobos masuk ke kamar dan menghampiri Jiwon yang terlelap tenang dalam boks-nya. Aku mengangkatnya dengan hati-hati, mendekapnya di dadaku kemudian berjalan keluar kamar tanpa menghiraukan Chanyeol sedikitpun.
"Baekhyun! Astaga, jangan seperti ini!" Dia berjalan cepat menyusulku yang hampir sampai di pintu depan. Saat pintunya kubuka, Chanyeol langsung bergerak menghalangiku dengan tangan terentang lebar.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku mengaku egois karena sudah mengambil keputusan sendiri."
"Minggir, Chan! Aku mau pergi!"
"Tidak! Aku tak mau minggir!" Chanyeol menahan bahuku dengan kedua tangannya.
"Kubilang minggir!"
Jiwon menggeliat perlahan, membuka mata dan mulai merengek. Anak itu paling tidak suka kalau tidur pulasnya terganggu dan sepertinya dia terkejut oleh bentakanku barusan.
"Baek—" Chanyeol menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"—aku mengaku salah. Jangan pergi, kumohon. Ayo kita bicarakan baik-baik."
Rengekan Jiwon berubah menjadi tangis tertahan. Tangan besar Chanyeol terjulur ingin mengambil Jiwon, tapi aku langsung mendekap bayiku semakin erat. Bukannya tenang, tangisan bayiku malah bertambah kuat.
"Aku kecewa padamu, Chan! Bahkan sampai sekarangpun kau sepertinya belum bisa menerima statusku sebagai istrimu. Kau selalu saja seperti tak menganggapku ada. Mungkin sebaiknya aku pergi, minggir!"
"Tidak! Kau ini bicara apa, sih?"
"Aku bicara yang sesungguhnya! Minggir kubilang!" Jiwon menangis semakin kencang, seolah ingin protes agar kami berhenti adu mulut. Tangisnya melengking dan membuat batinku serasa dicambuk-cambuk.
"Jangan keras kepala, Baekhyun! Kau tidak lihat Jiwon menangis, hah? Jangan memeluknya terlalu erat, dia bisa sesak nafas!" Chanyeol berusaha merebut bayiku tapi aku langsung menginjak kakinya sekuat tenaga.
"Jangan sentuh anakku!"
"Argh! Dia kan juga anakku!"
Duh. Terkadang kami ini terlalu drama. Hanya gara-gara masalah sepele. Aku sampai sakit kepala kalau ingat itu.
Tanpa kami sadari, seseorang telah berdiri di belakang Chanyeol dan menonton pertengkaran kami yang memalukan itu entah sejak kapan. Salah sendiri kenapa bertengkar di dekat pintu yang terbuka lebar.
Ayahku.
Dia masih memakai setelan jas mahalnya dan menenteng plastik putih besar berisi kotak kue di tangan kanan. Kami bertiga langsung diselimuti rasa canggung dan Chanyeol-lah yang pertama kali berhasil menguasai keadaan.
"A-ayah?"
Byun Besar berdehem canggung kemudian tersenyum. "Aku hanya ingin mampir melihat cucuku. Apa aku mengganggu kalian?"
"Te-tentu saja tidak! Mari, silahkan masuk, Yah."
Tanpa mengucapkan apapun, aku berjalan cepat masuk ke kamar sambil membawa Jiwon—membiarkan Chanyeol menyambut ayahku sendirian di ruang tamu sana. Aku malu, serius. Perbuatanku bertengkar dengan Chanyeol barusan sudah jelas membuktikan kalau sifatku masih kekanak-kanakan. Apalagi kami melakukannya di depan mata ayahku.
Chanyeol menyusul masuk ke kamar sesaat kemudian, bertepatan dengan aku yang frustrasi karena bayiku tak kunjung berhenti menangis.
"Ayah ingin melihat Jiwon. Apa boleh kubawa dia ke ruang depan?" tanyanya pelan. Dia tahu, meski hubunganku dengan keluarga Byun membaik, tetap saja seperti ada garis pembatas tak kasat mata yang memisahkan kami. Dan Chanyeol selalu optimis Jiwon bisa menghilangkan garis itu.
Aku menyerahkan Jiwon sambil menunduk, tak ingin Chanyeol menyadari pelupuk mataku yang basah dan nafasku yang mulai memburu karena panik.
"Terima kasih."
Aku merasa terkhianati karena Jiwon berangsur-angsur tenang dalam pelukan ayahnya. Saat bayiku dibawa ke luar, aku tak mendengar tangisnya lagi.
"Jiwonie, cucuku..." Dari dalam kamar, aku bisa mendengar pekik kegirangan ayah saat bertemu Jiwon. Perasaanku bertambah buruk dan aku tak tahan lagi untuk tidak menangis. Aku duduk di pinggiran ranjang dengan kedua tangan menutupi wajah.
Sesak. Pedih. Kecewa. Marah. Itulah yang kurasakan. Sebagian tertuju untuk Chanyeol, tapi lebih banyak tertuju untuk diriku sendiri. Kenapa masalah sepele seperti ini harus berakhir dengan pertengkaran dan ujung-ujungnya Jiwon yang jadi korban? Kenapa suamiku memilih untuk memendam masalahnya sendiri dan memutuskan semuanya tanpa melibatkanku? Apa...apa karena dia tidak menginginkanku lagi?
"Baekhyuna, kenapa menangis?"
Entah sudah berapa lama aku menangis dalam diam, saat aku mendongak, wajah sedih Chanyeol adalah hal pertama yang menyambutku. Dia menarik belakang kepalaku dan aku otomatis memeluk perutnya yang kokoh, membenamkan wajahku di sana untuk meredam isakanku yang memalukan.
"Oh, ya ampun! Harusnya kita tak perlu bertengkar hanya gara-gara ini. Kau yang memarahiku, kau yang mau pergi dari rumah, tapi kau juga yang ujung-ujungnya menangis."
Bukannya mereda, tangisku malah semakin pecah saat dia membungkuk dan balas memelukku dengan erat. Apa kubilang? Kami bisa bertengkar hebat dan saling peluk hanya dalam hitungan menit.
Hanya Chanyeol yang bisa membuatku seperti ini. Hanya di hadapannya-lah aku bisa menunjukkan diriku yang sesungguhnya tanpa perlu berusaha jadi pribadi yang sok tegar.
"Baekhyun, berhenti menangis. Aku yang salah, aku minta maaf."
Mungkin memang ada yang salah dalam diriku. Aku jadi lebih cengeng dan mudah marah karena sebenarnya aku takut dia sudah tak mencintaiku lagi. Apalagi setelah hamil dan melahirkan Jiwon, tubuhku makin berisi, perutku ada bekas operasinya—pasti Chanyeol tak lagi tertarik padaku. Atau jangan-jangan dia bersikeras kerja di perusahaan itu karena di sana ada wanita yang dia incar?
Bisa saja, selalu ada kemungkinan untuk itu. Apalagi suamiku itu makin hari malah semakin tampan sedangkan aku kebalikannya.
Tapi mungkin juga karena aku mengalami ketergantungan Park Chanyeol sampai pada level dimana aku rela overdosis karenanya. Atau aku yang terlalu banyak berspekulasi dan itu menjadikanku paranoid.
Atau mungkin aku sudah gila.
"Maaf, ya?" bujuk Chanyeol sambil mengecup keningku dengan lembut. "Harusnya aku memberitahumu terlebih dahulu, aku tidak melakukannya karena kupikir kau pasti setuju. Aku mengaku salah."
Semarah apapun aku, aku pasti akan luluh kalau Chanyeol sudah membujukku dengan suara lembut penuh pemujaan seperti itu.
"Apa aku dimaafkan?" dia mengecup sudut bibirku sekilas. Aku mengangguk pelan ketika tangan besarnya mengusap airmataku sampai kering.
"Lain kali kau harus membicarakan semuanya terlebih dahulu padaku," kataku pelan.
"Iya, aku janji. Ehm, ayah bilang dia ingin bicara pada kita berdua. Maukah kau ikut aku menemui beliau?"
Tak bisa dipungkiri. Tak peduli berapa usiamu, terkadang kau masih membutuhkan orangtua untuk membantumu menyelesaikan masalah. Seperti aku, misalnya. Tak kuduga, ayah bisa mencarikan solusi dan membuat kami berdamai lagi. Yah, meski aku persis seperti anak kecil pengadu saat menceritakan semuanya pada ayah.
"Chanyeol, daripada kau bekerja di perusahaan lain, bagaimana kalau kau bekerja di tempatku saja?"
"Di-di tempat Ayah?" Chanyeol melirikku sekilas kemudian tertunduk entah memikirkan apa.
"Iya, di tempatku. Cepat atau lambat perusahaan itu memang akan jatuh ke tangan Baekhyun, tapi dia bilang masih belum mau memikirkan tentang pekerjaan karena harus mengurus Jiwon. Kau tahu, aku sudah tua dan tak mungkin mengurus semuanya sendiri. Aku butuh seseorang yang bisa kupercayai, seseorang yang bisa membantu dan mendampingi Baekhyun sampai dia siap mengambil alih. Aku sangat yakin kau adalah orang yang tepat."
Selain Chanyeol, orang yang sulit kumengerti adalah ayahku.
Kupikir selama ini dia membenciku, kupikir selama ini dia tak peduli padaku.
Tapi...
... kenapa setelah mendengar ucapannya hatiku jadi menghangat?
"Kudengar kau tertarik di bidang game. Kebetulan salah satu anak perusahaanku baru saja menanda-tangani kontrak kerja sama dengan SM Entertainment dan mereka akan meluncurkan aplikasi permainan terbaru dalam waktu dekat. Kenapa kau tak bergabung saja?"
Oh, mungkin aku hanya terlalu membenci Byun sampai-sampai lupa kalau dia itu sangat kaya dan punya perusahaan yang bergerak di banyak bidang.
"Jangan takut, Nak. Kau bisa bekerja sekaligus belajar dari awal, orang kepercayaanku sendiri yang akan membimbingmu. Bagaimana?"
"Ayah, a-aku sebenarnya sangat tertarik. Terima kasih atas tawaran ayah, tapi..." Chanyeol melirikku lagi.
"Kau takut Baekhyun tak bakal memberi izin, begitu?"
Aku langung merasa terpojok saat mereka berdua menatapku secara bersamaan. Sebenarnya ini juga sulit untukku. Menerima bantuan ayah sama saja dengan menjilat ludahku sendiri, tapi di sisi lain, perkataan ayah ada benarnya juga.
Saat-saat seperti ini, gengsi dan sifat egoisku perlu dibuang jauh-jauh.
"Aku setuju," ujarku lirih. Chanyeol sedikit tak percaya saat aku mengatakannya, "Baekhyuna, tidak perlu seperti ini. Aku bisa mencari pekerjaan lain dan—"
"Ayah, tolong terima Chanyeol di perusahaan. Aku mempercayakan dia pada ayah, mohon bimbing dia."
Dan aku berdiri kemudian membungkuk penuh hormat pada ayah—sesuatu yang sangat jarang kulakukan seumur hidupku. Biarlah aku mengingkari omonganku sendiri kalau itu demi Chanyeol.
Bahkan aku pun sanggup mengingkari seisi dunia ini demi dia.
Begitulah, akhirnya keputusan telah diambil.
Chanyeol akan bekerja di perusahaan ayah yang secara teknis adalah perusahaanku juga dan aku akan mengurus Jiwon di rumah tapi bebas mengunjungi suamiku kapan saja aku mau. Dia juga meminta pada ayah agar tidak diberi keistimewaan karena statusnya sebagai menantu Byun—dia benar-benar ingin memulai semuanya dari nol. Kabar baiknya, Luhan dan Sehun juga akan berhenti jadi butler dan bergabung dengan perusahaan bersama suamiku.
Dan tentang kuliah—kami akan mengikuti perkuliahan secara online semester depan. Praktis, kami bisa belajar tanpa meninggalkan Jiwon dan aku tak perlu cemburu suamiku akan diperebutkan para gadis kalau dia kuliah di universitas biasa.
Masalah selesai.
Misunderstanding
Tapi yang kuingat, masalahku dengan Park Chanyeol dulunya selesai tidak semudah itu. Butuh perjalanan berliku-liku, batin yang terombang-ambing tanpa kepastian dan kesabaran yang besar. Jika dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, akan sulit menentukan sebenarnya siapa yang memperjuangkan siapa dan siapa yang lebih banyak berkorban untuk siapa.
Bahkan sampai sekarang, aku masih sering terkejut melihat hubungan kami yang bisa berkembang sampai sejauh ini.
Sama seperti aku yang terkejut ketika merasakan seseorang memeluk tubuh telanjangku dari belakang, mengusap perut buncitku yang dipenuhi busa sabun dan mengendusi leherku dengan bibirnya yang tebal dan hangat.
"Baekhyuna, kenapa lama sekali mandinya?" Meski masih terkejut, aku langsung merasa lega setelah mengetahui penyusup mesum itu adalah Chanyeol.
"Paa—arkhhh..." Aku tak bisa melakukan apa-apa selain mendesah karena posisiku yang sama sekali tidak membantu—mata terpejam rapat dan kedua tangan berada di rambut. Aku sedang asyik keramas saat Chanyeol yang entah bagaimana bisa masuk ke kamar mandi dan mulai menggerayangi tubuhku dengan gerakan sensual.
"Apa itu memang kebiasaanmu tidak pernah mengunci pintu saat sedang mandi?" Suaranya yang berat berhasil menggetarkan gendang telingaku sampai ke sudut-sudut terdalam.
"Da-darimana kau tahu? Kau—"
"Itu kebiasaan yang berbahaya, Sayang. Masih untung aku yang masuk, bagaimana kalau orang lain? Kau bisa habis." Aku merinding geli saat kurasakan tiupan kecil di sekitar leherku.
"Park! Akh, hentikan!"
"Kau minta berhenti padahal aku baru saja memulainya, ck."
"Akhh. Jangan disana!" sergahku, tapi dia tak mengindahkannya sedikitpun.
"Hm, kau wangi sekali, Baek," bisiknya sambil menciumi tengkukku yang sensitif. Aku menggeliat dan berusaha membuka mata. Sialnya, buih sampo yang berjatuhan membuat mataku perih dan yeah—aku terperangkap dalam kungkungan tubuh besar Park Chanyeol tanpa daya.
Darahku berdesir ketika tangannya yang tadi mengelus perutku kini menjalar turun ke paha.
"Kulitmu mulus sekali, Baekhyun. Aku suka." Dia mengusap paha dalamku dan aku tanpa sadar malah melebarkan kaki menikmati sentuhannya seakan ingin meminta lebih. "Kau juga halus dan lembut, persis bayi."
"Park—ahh...aku masih mandi! Tunggu seben—taarrhhh..."
"Aku sudah tak sabar, Baek. Kita kan belum pernah melakukannya di kamar mandi, mau coba?" Chanyeol mengelus daerah paha dekat selangkanganku, sengaja menggoda agar aku berharap dia menyentuh penisku yang mulai menegang.
Aku yakin. Pasti dia menjadikan mengidam sebagai alasan saja.
"Park—astaga, mataku perih! Sebentarrr—akhh, jangan sentuh disitu!" Chanyeol terkekeh saat melihat aku dengan paniknya mengusap mata tapi yang kulakukan malah membuat busa jatuh semakin banyak. Bukannya membantuku membilas, tangannya malah mendarat di penisku dan aku rasanya mau pingsan saja. Dia menyentuh tempat itu dengan gerakan mengocok yang lambat sambil sesekali mengorek-ngorek uretraku yang seperti akan meledak sewaktu-waktu.
"Jangan sentuh yang ini? Jadi yang mana yang harus kusentuh? Disini?" Tangan besar sialannya itu meremas lembut bola kembarku, memijatnya bergantian dan lututku langsung lemas saat dia melakukannya. Untung dia berhasil menopang tubuhku sebelum benar-benar jatuh merosot di lantai.
"Paarkh—" Aku frustrasi karena sentuhannya yang membuatku nikmat tapi mataku sangat perih tak bisa dibuka. "Mataku perih..," rengekku pelan.
Aku sempat mendengar suara tawanya saat dia meraih gayung, mengguyur rambut, wajah dan tubuhku sampai seluruh busanya hilang. Jemarinya juga mengusap sudut mataku untuk memastikan tak ada sisa sabun disana.
"Cantik sekali," gumamnya saat aku membuka mata. Biasanya aku paling benci dibilang cantik, tapi kali ini kedua pipiku malah memanas setelah mendengar ucapannya—apalagi saat melihat sorot matanya yang seperti memancarkan kekaguman itu. Kami bertatapan untuk beberapa detik, saat itulah aku sadar kalau dia masih bertelanjang dada dan memakai jins yang sekarang jadi agak basah. Percaya padaku, dewa Yunani manapun akan kalah seksi dibandingkan Chanyeol yang seperti ini.
Meski dia tidak mencintaiku, aku tetap merasa beruntung sudah menjadi istrinya.
Mata nakalku tanpa sengaja bergulir turun dan mendapati ada sesuatu yang menggembung di daerah selangkangan lelaki itu, seakan celana jins yang ia pakai tak bisa menyembunyikan benda besar yang ada dibaliknya. Chanyeol pasti bisa melihat pipiku yang merona hebat hanya karena sibuk mengingat-ingat bagaimana bentuk dan seberapa panjang penisnya yang diam-diam kurindukan itu.
"Sedang memandangi apa, hm?"
"A-aku tidak—"
"Kau iya. Kau sedang memandangi ini." Chanyeol mengelus gembungan selangkangannya dengan gaya yang menyebalkan. Dadaku hampir meledak saat dia melakukannya. Terlihat mesum tapi sukses membuat bendaku semakin tegang. Sial. Aku tidak tahu berpisah selama dua minggu bisa membuat Chanyeol jadi sevulgar ini.
"Aku juga mau memandangimu, biar impas."
Dia mundur selangkah. Senyum miring tersungging di wajahnya dan dia balas memandangiku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Jantungku berdebar kencang saat melihat Chanyeol mengamati setiap inchi kulitku dengan kagum sekaligus bernafsu.
Tak peduli sudah berapa kali Chanyeol melihatku telanjang, aku masih saja merasa malu saat mata berkabut gairah miliknya itu menatap tubuhku yang polos tanpa penutup apapun. Rasanya aku bisa klimaks segera hanya dengan ditatapi seperti itu. Tanganku pun langsung bergerak canggung menutupi daerah selangkanganku yang menegang tanpa bisa kucegah.
"Aku kan sudah bilang tunggu sampai aku selesai mandi," ujarku malu.
"Aku kan juga sudah bilang kalau aku tak sabar lagi." Dia menyingkirkan tanganku lalu bergerak maju, menghimpit tubuhku di dinding kamar mandi dan tanpa aba-aba langsung menyerang bibirku dengan ciuman ganas. Bagusnya, aku tak mencegahnya melakukan itu.
Mungkin karena aku juga merindukan ciumannya.
"Hmpphh..."
Bibir penuhnya mengulum bibirku dan lidah panasnya membelit lidahku tanpa memberiku kesempatan melawan sedikitpun. Aku berusaha mengimbangi, tapi ujung-ujungnya tetap aku yang kalah terseret arus ciumannya yang memabukkan. Siksaan nikmat yang kurasakan makin menjadi-jadi ketika tangan Chanyeol bergerak menyusuri punggung dan berhenti di pantatku—meremas kedua bongkahannya sambil sesekali menggelitiki pintu masuk holeku dengan jarinya yang panjang.
"Ngghhhh..."
Ciuman kami terlepas karena aku yang melenguh saat dia menggoda lubangku lebih intens.
"Ketat sekali, Baek. Kau tidak menyentuhnya sama sekali saat aku tak ada?" bisiknya lembut sambil menusuk holeku perlahan-lahan. Aku berjengit saat kurasakan satu jarinya sudah tertanam masuk, terasa mengganjal dan sedikit perih. Chanyeol menyuruhku memeluk lehernya sedangkan dia menaikkan satu kakiku di atas pahanya. Posisi seperti ini membuatku terlihat pasrah tak berdaya, bersandar sepenuhnya di tubuh Chanyeol dengan sebelah kaki menapak di lantai dan kedua sisi bokongku terentang lebar. Aku hanya bisa mendesah saat jarinya meluncur keluar-masuk dan menyenggol-nyenggol kelenjar prostatku di dalam sana.
"Prostatmu sudah bengkak padahal aku baru memakai jariku saja. Nakal sekali."
"Hnghh... disitu Parkhhh..."
"Disini? Kau suka kalau aku menusuknya seperti ini?"
"Akhh... Parkhh...Akhhh...Sukaa..."
Rasanya seperti disetrum tiap kali titik kenikmatanku di dalam sana disentuh. Aku mengeratkan pelukan dan itu membuat penisku menempel di penis besarnya yang masih terbalut celana. Seingatku, inilah ketegangan seksual yang paling menegangkan yang pernah kualami bersama Chanyeol. Kalimat-kalimat vulgar yang ia lontarkan, aura mendominasinya yang berhasil membuatku menyerah pasrah, aroma tubuhnya yang membuatku hilang akal—aku merasa puncakku sudah semakin dekat.
"Apa kau merindukanku saat aku pergi?"
"Hnggh—rinhh...du..." Aku tak lagi fokus pada pertanyaan Chanyeol karena otakku hanya terpusat pada rangsangan yang kuterima.
"Benarkah?"
"Hmm—iyaahhh... Parkhh, sedikit lagiii... Akkhhh!"
Aku memekik keras saat satu jari lain memasuki holeku. Sedikit perih, jadi aku melampiaskannya dengan cara mendesakkan penisku ke selangkangan Chanyeol dan membenamkan kepalaku di ceruk lehernya.
"Kau merindukanku, kau juga bilang kalau kau mencintaiku, tapi kenapa kau mau bunuh diri kemarin?"
"Akhh! Pelan, Park!"
Dia menambah jarinya satu lagi dan menusuk holeku lebih cepat, seakan tak ingin memberiku kesempatan bernafas sama sekali.
"Apa kau tahu betapa takutnya aku, Baek? Atau kau memang sengaja ingin menghukumku, iya?"
"Parkhh—akhhh—shhhh Parkkh!"
"Seharusnya langsung bunuh saja aku, Baekhyun. Itu cara yang tepat untuk menghukumku, bukan dengan menyakiti dirimu sendiri seperti kemarin."
Gerakannya semakin lama semakin kasar, seperti ada kemarahan dan rasa frustrasi disana. Aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Chanyeol karena sibuk mengerang sambil menggigiti pundaknya yang kokoh.
Meski perlakuannya itu membuat holeku terasa perih, tapi ada hal lain yang berhasil membuat hatiku tercabik-cabik.
"Aku memang brengsek, Baekhyun. Aku yang paling bajingan di dunia ini. Kupikir hidupku bisa kembali seperti awal lagi kalau kau tidak ada, nyatanya aku salah. Aku tak berarti apapun tanpamu."
Kalimat itu berhasil membuatku membeku meski pergerakan tiga jari Chanyeol semakin cepat keluar-masuk di bawah sana.
Yang tadi itu—benarkah Park Chanyeol yang mengatakannya?
Benarkah dia tak berarti apapun kalau aku tidak ada? Apakah itu artinya aku berharga untuknya? Bukankah selama ini dia membenciku?
Seharusnya aku bahagia mendengar dia bilang begitu, tapi kenapa hatiku malah sedih sekali? Apa karena ingat cintaku yang bertepuk sebelah tangan tapi sekarang dia malah memberiku harapan lebih? Memangnya siapa yang tidak menggantungkan harapan kalau seseorang yang ia cintai mengatakan kalimat-kalimat seperti itu?
Seluruh rongga dadaku rasanya sesak sekali, mataku juga mulai memanas—jadi aku membaringkan kepala di pundak Chanyeol dan membiarkan dia melakukan apapun pada tubuhku. Aku juga tidak mengerti kenapa aku mudah sekali terbawa perasaan hanya karena kalimat yang belum tentu diucapkan dengan serius.
Mungkin Chanyeol merasakan pundaknya basah oleh airmata, dia menghentikan kegiatannya dan menyandarkanku di dinding. Jarinya sudah ditarik keluar dan aku berusaha mengatur nafasku yang memburu.
"Kau menangis? Astaga, apa aku menyakitimu?"
Aku menggeleng lemah sambil menghapus airmataku dengan cepat.
"Baekhyun? Apa tadi itu sakit sekali?" Chanyeol memegangi kedua bahuku dan merunduk untuk melihat wajahku lebih jelas. Aku menoleh ke samping tapi dia sudah memegang daguku dan membuat wajahku mendongak.
Tak ada pilihan lain selain membalas tatapan matanya yang sendu tapi penuh rasa khawatir itu.
"Aku tak berniat menyakitimu, Baek. Sungguh," ujarnya dengan suara memelas.
"Aku memang tak sabar ingin menyentuhmu lagi setelah sekian lama. Kupikir kau akan suka, tapi aku malah membuatmu kesakitan."
Sial.
Aku memejamkan mata sebentar dan mencerna apa yang baru saja terjadi. Sepertinya ada sedikit salah paham disini. Oke, ini salahku karena sudah merusak suasana. Aku menangis karena ucapan Chanyeol yang membuatku berharap banyak, sedangkan dia pikir aku menangis karena dia memperlakukanku dengan kasar.
Aku tidak tahu kalau terkadang Chanyeol bisa sepolos itu.
"Sebaiknya kita hentikan saja, kau kedinginan." Tanpa kuduga, Chanyeol tiba-tiba saja sudah mengambil handuk dan membungkus tubuhku rapat-rapat. Tidak hanya sebatas pinggang, dia memasangkan benda itu sampai menutupi dadaku secara keseluruhan.
"Park..." Aku menahan tangannya saat dia akan menarikku keluar dari kamar mandi. "...kita tidak jadi melakukannya?"
Terkadang aku tidak mengerti kenapa hubungan kami bisa seperti ini. Baru sekian menit lalu kami dilanda birahi, sekarang kami tampak seperti pasangan yang sedang bertengkar.
"Tidak usah, lain kali saja." Nada suara Chanyeol juga berubah, tidak lembut seperti tadi.
"Tapi aku tidak kesakitan!" pekikku berusaha meyakinkannya.
"Kalau tidak sakit lalu kenapa kau menangis?"
Aku terdiam sambil meremas ujung handuk. Mungkin Chanyeol tidak bermaksud membentakku, tapi suaranya yang menggema di kamar mandi membuatku sadar kalau aku baru saja merusak moodnya. Lalu aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku bilang yang sebenarnya karena Chanyeol sampai kapanpun tak akan pernah berbalik mencintaiku. Mengakui kalau aku jadi besar kepala hanya karena ucapannya hanya akan membuatku terlihat bodoh.
"Cepat pakai bajumu dan temui aku di dapur. Aku akan memasakkan makan malam untuk kita."
Dia keluar dari kamar mandi dan aku langsung mendapat firasat kalau sisa malam ini akan berlalu tidak sesuai harapanku. Padahal kami baru saja berbaikan, ck.
Dan firasatku memang benar. Semua angan indahku bubar dan makan malam kami tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Malah semakin memanas karena aku mendapati Jisoo sudah ada di dapur bersama Chanyeol, sibuk berdebat tentang menu makan malam apa yang akan dimasak. Mereka terlihat seperti pasangan suami-istri yang sesungguhnya, apalagi ketika Chanyeol memasangkan apron ke tubuh Jisoo dan membisikkan sesuatu entah apa ke telinga gadis itu.
Sialan. Aku yang istrinya saja belum pernah diajak memasak bersama apalagi dipakaikan apron seperti itu.
Mereka tidak tahu saja, aku berdiri mematung di ambang pintu dapur dan menatap semuanya dengan dada bergemuruh hebat.
Oh, jadi ini yang dikatakan dia tak berarti apapun kalau tidak ada aku? Cih.
Aku berjanji tak akan mempercayai apapun perkataan Chanyeol mulai detik ini.
"Eh? Hai, Baek! Wah, kau imut sekali pakai baju kebesaran seperti itu! Apa itu milik Chanyeol?" Jisoo menyapaku tanpa merasa bersalah, dia berlari kecil ke arahku dengan apron yang terpasang cantik di tubuhnya.
Kim Jisoo, harus bagaimana lagi caraku menghadapi gadis ini?
"Ah, bukan. Ini baju Sehun," jawabku pelan tanpa semangat. Tadinya Chanyeol sudah memilihkan piyama biru untuk kupakai malam ini, tapi aku berubah pikiran. Aku menemukan kaos besar milik Sehun di tasku—memang sengaja kubawa karena nyaman dan bisa menutup perutku dengan sempurna—dan tiba-tiba saja aku ingin memakainya.
"Ah, punya Sehun ya?" Jisoo tersenyum canggung lalu menarik tanganku agar duduk di kursi. Chanyeol sempat melirikku sebentar tapi kemudian berbalik untuk meletakkan panci di atas kompor.
"Baiklah, kalau begitu kau tunggu disini. Kami mau memasak dulu."
Mereka benar-benar melakukannya, memasak berdua di depanku sedangkan aku hanya bisa duduk diam jadi penonton dengan darah yang seakan-akan mendidih di dalam sana. Sumpah, aku benar-benar tidak tahu kenapa Chanyeol tak membalas senyumku barusan dan lebih memilih meladeni Jisoo yang merengek karena cumi-cuminya sulit untuk dipotong. Apa kami benar-benar sedang bertengkar? Tapi karena apa?
"Aduh, Yeol! Tanganku kena minyak!"
Aku langsung menunduk setelah melihat Chanyeol dengan sigap menghampiri Jisoo dan memegang tangan gadis itu dengan wajah khawatir. Tak hanya mengusap, Chanyeol juga meniup-niup tangan Jisoo dengan penuh kelembutan.
"Makanya hati-hati. Dasar ceroboh."
Ck. Apa aku harus memasukkan tanganku ke minyak panas dulu baru Chanyeol akan sekhawatir itu padaku?
Tidak hanya kalian. Aku juga berpikir kalau aku ini memang bodoh sekali.
Hah. Hanya gara-gara aku mencintainya jadi aku membiarkan saja dia berbuat sesuka hati dengan orang lain di depan mataku?
Harusnya tadi aku ikut Sehun saja. Harusnya aku tidak perlu mendengar bualan Jisoo tentang apa yang terjadi pada Chanyeol. Harusnya aku tidak berada di sini sekarang.
"Baek? Kenapa melamun? Ponselmu berdering sejak tadi."
"Eh?"
"Ponselmu..." kata Jisoo sambil menunjuk sakuku. Ah, aku baru ingat kalau Sehun menitipkan benda ini untukku. Dan ternyata yang menelepon memang dia, kebetulan sekali. Aku hendak beranjak dari dapur ketika Jisoo kembali melanjutkan ucapannya, "Jangan sungkan. Kau bisa menjawab teleponmu disini saja."
Chanyeol tak mengatakan apapun, dia sedang sibuk memasukkan sesuatu ke dalam panci yang mengeluarkan kepulan asap tipis di atas kompor.
Sebenarnya aku merasa tidak enak karena harus menjawab panggilan Sehun sedangkan suamiku ada di sini. Tapi setelah dipikir lagi, untuk apa aku merasa demikian? Dia saja tidak sungkan sok mesra dengan gadis lain di depanku. Lebih baik aku berbicara dengan Sehun daripada melihat drama murahan mereka itu.
"Halo? Sehuna..."
Dan akupun asyik mengobrol dengan Sehun sampai tak sadar kalau makan malam sudah terhidang di depanku. Mungkin hampir setengah jam kami berbicara dan aku baru tahu kalau dia sedang ada di Thailand bersama Luhan. Aku juga berbicara dengan Luhan, dia terus-terusan berterima-kasih karena aku sudah merelakan paket bulan maduku untuk mereka—aku tentu saja mengkerutkan dahi ketika mendengar ceritanya.
Aku tahu kalau Sehun hanya melihatmu selama ini, Baekkie. Dan kau pun pasti tahu kalau aku hanya melihat dia. Entah jasa apa yang kulakukan di masa lalu—aku tak percaya kalau Sehun mengajakku kesini! Aku benar-benar beruntung!"
Aku tersenyum ketika mendengar ocehan Luhan yang tampak begitu bahagia itu.
Dia mengajakku bulan madu meski kami belum menikah! Ah, semoga saja nanti kami bisa bulan madu betulan. Iya kan, Baekkie?"
Entah kenapa, aku merasa sedih mendengar ucapannya. Dia benar-benar bahagia hanya karena diajak Sehun pergi berdua saja. Luhan mencintai Sehun sejak lama sedangkan Sehun tak pernah membuka hatinya pada siapapun kecuali aku. Bukankah nasib kami hampir sama?
"Baekhyun, makan malam sudah siap," kata Jisoo pelan sambil tersenyum. Aku mengangguk dan tanpa sengaja melirik Chanyeol yang sudah duduk di depanku, di sebelah Jisoo. Tega-teganya mereka duduk berdampingan sedangkan tempat di sampingku kosong?
Mendadak aku tak berselera ingin makan apapun.
"Ah, Lu—sepertinya panggilannya kututup dulu, ya? Aku mau—"
"Tidak apa, Baek. Kau kan bisa makan sambil menelepon, nyalakan saja speakernya," usul Jisoo. Chanyeol tak mengatakan apapun, dia sudah duluan menyantap makan malamnya tanpa memperdulikanku.
Kalau begitu, kenapa aku juga harus peduli? Persetan dengan kesopanan atau table manner atau apalah itu. Aku tidak peduli lagi pada semua itu kalau keadaannya sudah seperti ini.
Aku menekan tombol speaker dan meletakkan ponsel di atas meja. Luhan terus-terusan mengoceh sedangkan di sini, kami bertiga makan dalam diam. Sesekali aku juga membalas ucapan Luhan dengan gumaman singkat.
"Apa Chanyeol memperlakukanmu dengan baik disana?"
Aku meremas sendok dan melirik Chanyeol sekilas. Masih tetap sama, dia tidak memperhatikanku sedikitpun meski Luhan jelas-jelas sedang menanyainya.
"Hm," jawabku singkat. Aku berharap Luhan tidak menanyaiku macam-macam, bisa canggung keadaannya nanti.
"Syukurlah. Ah, Baek! Sehun bilang ingin bicara lagi denganmu. Jangan bilang Sehun tentang yang kukatakan tadi, oke?" Kalimat Luhan yang terakhir diucapkannya sambil berbisik. Si penelepon di seberang sana beralih dan suara datar Sehun langsung terdengar melalui pengeras suara ponselku.
Baekhyuna..."
"Hm? Luhan bilang kau ingin bicara lagi. Ada apa?"
Jisoo menuangkan sup ke mangkuk-ku sambil tersenyum. Aku balas tersenyum lalu mulai mengaduk-aduk sup-ku tanpa benar-benar memakannya. Melihat Jisoo juga menuangkan sup ke mangkuk Chanyeol sukses membuat selera makanku lenyap.
Baekhyuna, apa kau bahagia sekarang?"
"Eh? Maksudmu?"
Maksudku, apa kau bahagia karena sudah bersama Chanyeol?"
Aku terdiam dan tidak perlu mendongak untuk melihat bagaimana reaksi Chanyeol, dia menghentikan makannya saat itu juga. Suasana di dapur semakin canggung dan aku menyesal kenapa harus menerima telepon dari Sehun dengan speaker yang dinyalakan.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku bahagia, tapi tidak bahagia di saat yang sama.
"Sehun, aku—"
Kalau kau bahagia, aku ikut bahagia untukmu. Tapi kalau tidak, tolong beri aku kesempatan untuk membuatmu bahagia. Aku bersumpah akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu, Baekhyuna. Itu karena aku mencintaimu. Sangat."
Jantungku seperti ditusuk dengan tombak saat mendengar ucapan tegas Sehun barusan. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi pria itu saat mengatakannya. Untung saja dia tidak ada di sini sekarang. Kalau tidak, mungkin dia bisa melihat wajahku yang memanas dan oh, astaga—Park Chanyeol ternyata sedang menatapku tajam-tajam. Dia memegang sendoknya kuat-kuat seperti hendak mematahkan benda logam itu dengan tangan kosong.
Kami bertatapan dalam diam seolah disana hanya ada kami berdua saja, meski jelas-jelas Jisoo sedang melirik kami secara bergantian.
Kenapa? Kenapa bukan Park Chanyeol yang mengatakan kalimat yang diucapkan Sehun barusan? Kenapa bukan Chanyeol saja yang bilang cinta padaku? Kenapa harus sahabatku sendiri?
Baekhyuna?"
Aku tergagap lalu mengambil segelas air untuk mendinginkan tenggorokanku yang ikut-ikutan memanas. Chanyeol masih terus memandangiku seakan ingin tahu jawaban apa yang akan kuberi. Ck, seperti dia peduli saja.
"Hm," jawabku singkat.
Aku mendengar helaan nafas Sehun di ujung sana dan hatiku terasa ngilu karenanya.
Baiklah, kuanggap itu artinya kau bahagia. Aku juga ikut bahagia kalau begitu. Baekhyuna..."
Chanyeol masih menatapku dengan pandangan yang bisa menghujamku sampai ke tulang-tulang. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan sebenarnya. Marah kah? Cemburu? Tapi yang terakhir itu mustahil terjadi karena dia sama sekali tidak mencintaiku.
Kalau suatu saat nanti aku mencintai orang lain, apa kau tidak akan marah?"
Oh Sehun. Mungkin semuanya akan jauh lebih mudah kalau aku mencintai dia saja. Tidak seperti mencintai Chanyeol yang selalu membuat batinku tersiksa. Aku tahu kalau bersama Chanyeol tak akan semudah yang kuinginkan, tapi tetap saja seluruh diriku condong padanya.
"Hm. Aku tidak akan marah, Huna. Aku juga akan berbahagia untukmu, terutama kalau orang itu adalah Luhan."
Sehun terdiam lalu mengubah nada suaranya menjadi lebih riang sedikit. "Baiklah. Ah, Luhan sudah lapar—kami pergi makan malam dulu, oke? Kau juga jangan lupa makan, minum susumu dan jangan terlalu capek. Titip salam untuk bayi kesayanganku."
"Hm, baiklah."
Aku mencintaimu, Baekhyuna. Sangat."
Aku butuh sekitar sepuluh detik untuk membalas ucapan Sehun itu. Entah kenapa. Padahal dulunya aku tak pernah sungkan bilang kalau aku mencintainya—meski cinta dalam artian yang berbeda.
"Aku juga mencintaimu, Sehuna. Sangat."
Segera setelah panggilan terputus, aku langsung bergegas pergi dari dapur tanpa berani melirik Chanyeol sedikitpun. Perasaanku campur aduk sekarang. Entah bagian mananya yang paling membuatku frustrasi; seks kami yang tertunda, Chanyeol dan Jisoo yang mesra-mesraan didepanku, ungkapan cinta Sehun yang membuatku dilema atau perasaan cintaku yang tak berbalas. Kamar mandi adalah tujuanku selanjutnya—aku ingin merendam kepalaku di dalam bak, kalau bisa, sampai aku mati saja sekalian.
Chanyeol's Clothes
"Sampai kapan kau mau seperti itu terus?"
Aku mengeluarkan kepala dari dalam bak, membuat air langsung meluncur dari rambut dan membasahi pakaianku. Nafasku tersengal, tapi aku merasa lega karena kepalaku tidak panas lagi. Saat aku berbalik, Park Chanyeol ternyata sudah ada di pintu kamar mandi—bersandar dengan tangan terlipat di depan dada.
"Jisoo sudah pulang," kata Chanyeol saat menangkap basah aku yang melirik gusar ke balik bahunya, seakan tahu pertanyaan apa yang ingin kulontarkan. Meski masih kesal, aku bersyukur akhirnya gadis itu pergi juga.
Kami berpandangan sebentar dan aku tidak bisa menerjemahkan arti tatapannya sama sekali. Aku juga tidak tahu apa yang ia pikirkan ketika aku mencoba menghindar dengan cara menerobos keluar—dia malah menahan tubuhku kemudian meletakkan sehelai handuk di atas kepalaku.
"Ini sudah malam dan kau merendam kepalamu dalam bak? Demi Tuhan, kau ini bukan anak kecil lagi, Baekhyun!" ujarnya sambil mengusak rambut basahku pakai handuk. "Kau baru saja keramas dan sekarang kau membuat rambutmu kembali basah? Bagaimana kalau kau sakit?"
Seharusnya aku senang karena kalimat dan ekspresi wajahnya barusan menunjukkan kalau dia mengkhawatirkanku. Tapi ketika sadar dia juga menunjukkan hal yang sama pada Jisoo, hatiku kembali memanas.
Aku mendengus lalu menepis dengan kasar tangannya yang sedang mengeringkan rambutku, "Aku sakit atau tidak, itu bukan urusanmu!"
"Selalu saja keras kepala." Aku sempat mendengar Chanyeol menggerutu sebelum akhirnya dia menarik tanganku dan membawaku keluar dari kamar mandi. Dia melemparkan handuk dengan kasar ke lantai dan menatapku penuh intimidasi.
"Lepas bajumu, semuanya!"
"Untuk apa aku melepas bajuku?" Mungkin karena suasana hatiku sedang buruk, aku malah balas menantang Chanyeol alih-alih merasa terintimidasi. Dia yang mulai duluan tadi, jadi kenapa kami tidak benar-benar bertengkar saja sekalian?
"Memangnya kau tak lihat bajumu basah?" Dia melirik pakaianku yang memang kena air di bagian depannya.
"Jadi kalau basah? Apa itu masalah buatmu?"
Aku merasa menang karena Chanyeol diam saja. Dia menghela nafas kemudian berjalan pelan ke arah lemari di dekat pintu.
"Buka bajumu dan ganti dengan yang ini."
Dia melempar satu stel pakaian tapi aku sengaja tak menangkapnya. Kain itu teronggok begitu saja di dekat kakiku tanpa kugubris sedikitpun.
"Kau pikir aku ini apa, hah? Memangnya kau tak bisa melemparkannya lebih kasar lagi daripada yang tadi?" sindirku.
Chanyeol kembali menarik nafas panjang saat melihatku menyingkirkan baju yang ia beri pakai ujung kaki. Kalau saja tadi dia memberinya secara baik-baik, mungkin aku juga tidak akan seperti itu.
"Baiklah." Dia membungkuk untuk memungut kembali bajunya, meraih kedua tanganku lalu meletakkan benda itu disana.
"Ganti bajumu, sekarang." Dia berkata dengan suara penuh penekanan.
Aku melirik benda yang ada di tanganku; sebuah kaos putih, briefs dan celana pendek hitam yang terlipat rapi. "Aku tidak butuh bajumu, aku masih punya baju cadangan di tas. Lagipula basahnya hanya sedikit, nanti juga kering."
"Kubilang pakai yang itu! Kenapa kau ini keras kepala sekali?"
Aku tersentak kaget karena benar-benar tak menduga dia akan membentakku hanya karena masalah baju.
"Sebenarnya apa masalahmu, Park?" Emosiku menanjak naik dan aku melemparkan kembali baju itu tepat di wajahnya.
"Yang keras kepala itu kau, asal kau tahu saja!"
Chanyeol mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh tapi aku tidak takut sama sekali. Aku memang sedang hamil, tapi bukan berarti aku tidak bisa berkelahi. Wajah pria itu memerah hebat dan tanpa berkata apapun, dia meraih tasku yang ada di atas ranjang—membongkar isinya sampai berserakan lalu mengambil semua baju yang kupunya.
"Yak! Apa yang kau lakukan?!"
Aku berlari mengikuti Chanyeol ke kamar mandi dan panik ketika melihat dia memasukkan seluruh pakaianku ke dalam bak mandi. Lelaki itu juga menahan tanganku yang terjulur ke dalam bak dan aku tak bisa menyelamatkan bajuku yang perlahan-lahan terendam air. Kaos, jins, pakaian dalam—semuanya basah.
"Sekarang kau sudah tidak punya baju lagi." Dia tersenyum puas dengan wajah super menyebalkan yang membuatku tak sabar ingin mencabut seluruh helaian rambut di kepalanya itu.
"Kenapa kau lakukan itu pada bajuku, hah?"
Chanyeol mengedikkan bahu kemudian berjalan santai keluar dari kamar mandi. Aku kembali mengikutinya dengan rasa kesal yang meletup-letup di dalam dada.
"Yak! Kubilang kenapa kau lakukan itu pada bajuku?!"
Tanpa menjawab sedikitpun, dia memungut baju miliknya yang sudah entah berapa kali dicampakkan itu, menyerahkannya kembali di kedua tanganku dengan ekspresi yang sulit kujelaskan.
"Aku hanya memintamu memakai bajuku, apa sesulit itu untuk mengabulkannya?" ucapnya pelan dengan kedua mata yang menatapku dalam-dalam. "Aku hanya tidak ingin kau sakit karena memakai baju basah, apa menurutmu yang kulakukan itu salah?"
"Baju basah tidak akan membuatku sakit, Park—jangan berlebihan. Lagipula aku kan sudah bilang tidak membutuhkan bajumu. Kau saja yang terus memaksa," sanggahku tak mau kalah. "Kau juga merendam semua pakaianku, ck. Berlebihan sekali," gerutuku kesal.
"Mungkin kau tak akan sakit, tapi bagaimana dengan kandunganmu?" Chanyeol mengarahkan pandangan menuju perutku. "Kau yakin dia akan baik-baik saja?"
Aku memutar mata dan nyaris muntah di tempat, sungguh. Setelah semua yang terjadi, dia baru mengkhawatirkan kandunganku sekarang? Selama ini dia kemana saja?
"Aku dan dia baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
Ya, seharusnya dia tidak perlu khawatir karena bayi yang kukandung ini luar biasa kuat. Dia bahkan selamat dari percobaan bunuh diri konyol yang kulakukan—karena itulah hal-hal sepele seperti baju basah tak akan membuatnya tersakiti.
Tapi bakal lain ceritanya kalau sang ayah terus bersikap menyebalkan seperti ini.
Pandangan mata Chanyeol berubah sendu, seperti ada guratan luka disana. Jenis pandangan yang akan membuat siapa saja merasa kasihan, termasuk aku. Tapi aku tidak terlalu yakin hal apa yang membuat dia terluka—entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja.
"Please, pakai ya?" Aku tahu pasti kalau Chanyeol masih emosi, tapi usahanya untuk tetap membujukku dengan suara lembut patut diacungi jempol.
"Tidak mau."
"Ayolah, pakai ini dulu untuk malam ini." Entah memang sudah sifatku atau bagaimana, aku malah semakin keras kepala ketika bujukannya bertambah gencar.
Chanyeol menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya, "Apa karena ini bukan baju Sehun makanya kau tak mau memakainya?"
"Apa?"
"Karena ini bukan baju Sehun makanya kau tak mau memakainya, iya kan? Mungkin kalau yang kuberikan adalah baju milik pria itu, kau akan memakainya tanpa perlu berdebat terlebih dahulu."
Dia menatapku tajam tapi, entahlah—lagi-lagi ada sorot terluka yang tak kumengerti disana.
"Kenapa kau membawa-bawa nama Sehun? Ini tidak ada hubungannya dengan dia!"
"Sehun ada hubungannya, tentu saja." ujar Chanyeol penuh penekanan. "Kau selalu saja lebih mementingkan dia daripada aku. Bahkan untuk masalah baju yang sebenarnya sangat sepele seperti ini saja kau lebih memilih dia."
Bahuku terkulai lemas dan aku menatap Chanyeol tak percaya. "Apa maksudmu, Park?"
"Kau tak pernah mau mendengarkanku, selalu saja keras kepala setiap kuajak bicara! Tapi ketika Sehun yang melakukannya, kau langsung berubah jadi penurut hanya dalam sekejap!"
Chanyeol melanjutkan ucapannya lagi, "Caramu bicara pada kami berdua juga berbeda. Kau selalu saja ketus dan kasar padaku, tapi tidak saat kau bicara pada Sehun."
Tanpa sadar, aku meremas ujung kaos basah yang kupakai.
Chanyeol tersenyum sinis, "Semua itu membuatku yakin kalau kau dan Sehun tidak hanya sekedar sahabat. Atau jangan-jangan orang yang kau cintai sebenarnya adalah dia, bukan aku. Iya kan?"
Aku tak sadar kalau tangan kananku tiba-tiba saja sudah terayun dan mendarat telak di pipi kiri Chanyeol. Tamparanku lumayan keras, sampai-sampai permukaan pipinya merah dan ada bekas tanganku disana. Dia terkejut dan langsung memegangi pipinya yang baru kutampar.
Dadaku rasanya sesak bukan main dan airmataku jatuh begitu saja.
Tega sekali dia menuduhku padahal sudah jelas satu-satunya orang yang mengisi hatiku hanyalah dirinya.
"Lalu apa bedanya dengan Jisoo?" rahangku beradu dan tanganku terkepal kencang di sisi tubuh. Aku menatapnya nanar, "Kau juga lebih mementingkan Jisoo daripada aku! Caramu memperlakukan kami berdua juga beda, kau pikir aku tidak tahu itu?"
Aku tak tahu kenapa situasinya bisa jadi seperti ini. Yang jelas, aku merasa kalau pertengkaran hebat tak bisa terelakkan lagi. Terserah, aku juga sudah muak.
"Kenapa Jisoo jadi terlibat?" Chanyeol menatapku bingung. "Kupikir dia tidak ada hubungannya dengan—"
"Kata siapa tidak?" Chanyeol tersentak ketika aku membentaknya dengan kasar. "Dia sangat terlibat karena aku yakin dia adalah alasan kenapa semua ini terjadi! Alasan kenapa kau pergi dari rumah, alasan kenapa sikapmu tiba-tiba berubah, alasan kenapa kau sulit untuk menerimaku—itu semua gara-gara dia, kan?"
Aku terus saja bicara tanpa memperdulikan kerutan dalam di kening Chanyeol.
"Kau bilang kau pergi karena keluargaku mengancammu, kau bilang kau melakukan itu semua demi kebaikanku! Demi kebaikanku apanya? Berani bertaruh, kau menjadikan semua itu sebagai alasan palsu padahal alasan sesungguhnya adalah agar kau menceraikanku dan menikah dengan cinta pertamamu itu. Kau ini terlalu mudah untuk ditebak, Park."
Dia tak mengatakan apapun dan aku sibuk menyeka airmataku yang terus saja berjatuhan.
"Dan bodohnya aku yang selalu saja percaya apapun ucapanmu," ujarku lirih dengan kepala tertunduk lesu. Entah kenapa, aku yakin sekali hubungan kami akan berakhir di sini. Tak ada yang bisa diselamatkan lagi dari pernikahan yang terjadi bukan karena cinta.
"Aku percaya saja waktu kau bilang kau menginginkanku. Aku percaya saja waktu kau bilang kau tak berarti apapun kalau itu tanpaku," suaraku tertahan oleh isakan yang bisa pecah kapan saja. "Bahkan kalau kau terus berbohong sampai kiamat sekalipun aku akan tetap mempercayaimu."
Padahal otakku sudah ribuan kali menegaskan kalau Park Chanyeol adalah orang yang tak bisa dipercaya, tapi tetap saja hati dan tubuhku mengatakan yang sebaliknya.
Mungkin aku jadi seperti ini karena jatuh cinta padanya. Mungkin jatuh cinta bisa merubah kebohongan menjadi kejujuran yang paling jujur.
Bukankah ini memalukan?
"Ada lagi yang ingin kau katakan?" Aku mengangkat wajah dan mendapati Chanyeol tengah menatapku dengan ekspresi datar. Batinku mencelos kecewa saat melihat raut macam apa yang lelaki itu berikan—tidak sesuai ekspektasiku. Sebagian kecil diriku memang berharap dia akan membujukku lagi, meminta maaf atau apa saja—tapi ternyata dia tidak melakukannya.
Aku benar. Tidak ada yang bisa diselamatkan lagi dari hubungan kami. Semuanya hancur.
Setelah keheningan selama beberapa saat yang kugunakan untuk meredakan emosi, akhirnya aku memutuskan untuk kembali bicara, itupun aku harus bersusah-payah menahan diri agar tidak kembali menangis.
"Aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya jadi Jisoo," ujarku pelan.
Chanyeol masih terus menatapku tanpa bicara sepatah katapun. "Pasti bahagia sekali kalau jadi dia. Kau sangat perhatian, kau selalu baik padanya, terlebih lagi kau juga mencintainya dari dulu. Aku jadi iri."
Aku memaksakan diri tersenyum meski itu tak ada artinya sama sekali, "Aku juga pasti akan sangat bahagia kalau seandainya kau bisa menyayangiku sedikit saja. Tapi sepertinya, itu tak akan pernah terjadi sampai kapanpun."
Saat mengatakan itu, ulu hatiku rasanya sakit sekali. Hah, ternyata sekarang seorang Byun Baekhyun rela merendahkan harga dirinya hanya untuk mengemis secuil kasih sayang.
Jatuh cinta itu benar-benar menyedihkan. Aku tak pernah tahu kalau rasanya bakal sesakit ini.
"Sudah?"
Aku memberanikan diri menatap wajah Chanyeol dan ternyata ekspresinya masih sama seperti tadi, datar sekaligus dingin.
"Sudah puas bicaranya?"
Aku meneguk ludah dengan gugup ketika dia berjalan maju tanpa mengalihkan tatapan dari mataku sedikitpun. Refleks, aku bergerak mundur sampai punggungku menempel pada lemari. Dan saat melihat satu tangannya terangkat di udara, aku langsung panik begitu saja. Lututku gemetaran karena kupikir dia akan memukulku setelah aku bicara lancang atau mau balas dendam karena tadi kutampar—ternyata tidak.
Tangannya terjulur untuk menyingkirkan poni lembapku yang terjuntai mengenai mata.
Jantungku berdebar keras sekali saat ujung jemarinya menyentuh dahiku dan menyibak rambutku dengan gerakan pelan. Belum lagi jarak kami yang terlalu dekat—kalau dia berjalan setengah langkah lagi, bisa dipastikan tubuh kami akan menempel satu sama lain.
"Jawab pertanyaanku, Baekhyun. Apa kau sudah puas bicaranya? Atau masih ada lagi yang ingin kau katakan? "
Aku bertambah gugup ketika menyadari tangannya yang tadi berada di dahiku sekarang diletakkan di samping kepalaku. Mirip adegan di drama-drama.
"Ti-tidak," gumamku nyaris tak terdengar. Aku bahkan tak sanggup lagi untuk berbicara dengan penuh emosi seperti tadi.
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang giliranku yang bicara."
Lagi-lagi dia menatapku dengan sorot yang tak bisa kupahami maknanya.
"Kalau kau berpikir aku akan menjelaskan semuanya lagi dari awal sampai akhir—kau salah. Aku tak akan menjelaskan apa-apa karena kau tak pernah mau mendengarkanku sama sekali."
Suara datarnya barusan berhasil membuatku semakin tertohok.
"Tadi kau bilang akan terus percaya padaku meski aku membohongimu sampai kiamat, lalu inikah yang kau maksud percaya itu? Kau tahu, kata-katamu barusan telah menunjukkan kalau kau itu tak pernah mempercayaiku sedikitpun. Kau selalu saja meragukanku padahal kau tak tahu apa yang terjadi sebenarnya."
Tanpa sadar, aku meremas bagian samping celanaku kuat-kuat.
"Sekarang terserah kau saja, Baekhyun. Kalau kau menganggapku sama seperti yang ada di kepalamu—itu hakmu. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar kau mengerti."
Chanyeol merendahkan tubuh hingga wajah kami sejajar.
"Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu—"
Aku menahan nafas ketika sorot mata Chanyeol berubah sendu dan suaranya mendadak lembut. "—aku melakukan itu semua karena aku menyayangimu."
Entahlah, rasanya jantungku berhenti berdetak dan seluruh tulang-tulangku berubah jadi selembek bubur. Bahkan aku nyaris tak bisa membedakan apa kepalaku masih terpasang di leher atau tidak.
"Kalau aku tak menyayangimu sama sekali, mungkin kami sekeluarga sudah tidur nyenyak di atas tumpukan uang sekarang. Tak perlu bekerja, bisa bepergian ke luar negeri kapan pun, makan enak dan belanja-belanja tanpa harus memikirkan harga. Kau tidak tahu saja apa yang ditawarkan oleh Tuan Byun kalau aku setuju menceraikanmu dan membiarkan mereka menggugurkan kandunganmu."
Tangan Chanyeol bergerak menyentuh puncak kepalaku dan mengelus tempat itu dengan lembut. Dan setelahnya, aku membeku ketika kurasakan satu kecupan mendarat di pelipisku. Kecupan singkat tapi efeknya luar biasa. Aku seakan tak terikat pada gravitasi dan jiwaku melayang-layang entah kemana.
"Aku juga tak mungkin mau mengelus kepalamu atau menciummu seperti ini kalau aku tidak menyayangimu."
Park Chanyeol, aku menyerah. Kau selalu saja berhasil mengaduk-aduk perasaanku tanpa ampun dan membuat seluruh amarahku menguap tanpa jejak hanya dalam hitungan detik.
"Aku memang menyayangi Jisoo, tapi sekarang kami hanyalah sebatas sahabat. Dan coba kau ingat-ingat lagi, pernahkah kau mendengar aku memanggil Jisoo dengan sebutan 'sayang'? Atau mungkin pada orang lain selain kau, pernah?"
Aku menggigit bibirku yang mulai gemetaran.
"Tidak pernah, kan? Aku memang tak akan memanggil seseorang dengan sebutan itu kecuali kalau aku benar-benar menyayanginya."
Aku tak kuat lagi menatap mata Chanyeol. Kualihkan pandangan dengan gugup ke arah lantai, tapi sedetik kemudian dia malah memegangi kedua bahuku dan memaksaku kembali melakukan kontak mata.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau bilang kau mencintaiku. Tapi kenapa saat menelepon Sehun tadi, kau mengatakan kalau kau juga sangat mencintainya? Kau tahu, kau ini membingungkan, Baekhyuna."
Chanyeol melepaskan tangannya dari bahuku dan mundur selangkah. Aku bisa bernafas lega karena akhirnya ada jarak yang tercipta di antara kami.
"Mungkin kau masih belum yakin dengan perasaanmu sendiri, Baekhyuna. Aku mengerti. Mustahil kau bisa mencintaiku secepat itu padahal kau tahu sendiri bagaimana hubungan kita."
Sialnya, aku tak bisa membalas ucapan Chanyeol sama sekali. Lidahku terasa kelu meski sangat ingin mengatakan kalau cintaku padanya bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun yang kulakukan hanyalah terdiam dan memandangi senyum sedih yang tersungging di bibirnya.
"Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau niatku memintamu memakai bajuku bisa berujung pada pertengkaran seperti ini. Harusnya aku tidak perlu memaksa."
Jemari Chanyeol tiba-tiba saja bergerak menyusuri pipiku. "Kau tahu, aku sama sekali tak pernah mengharapkan kita bakal bertengkar. Sedikitpun tidak. Kau tahu apa alasannya?"
Tanpa sadar, aku menggeleng dengan mata yang terus terpaku pada wajah di hadapanku itu.
"Karena kau selalu menangis setiap kali kita bertengkar, seperti yang terjadi sekarang. Aku paling tidak suka itu."
Dia menyeka pipiku yang basah oleh airmata entah sejak kapan, mengelus kepalaku sekali lagi, kemudian pergi keluar kamar setelah memberikan sebuah senyuman yang membuat batinku semakin perih. Begitu pintu kamar ditutup dari luar, aku langsung merosot duduk di lantai sambil memegangi dadaku yang terasa sesak bukan main.
Yang tadi itu—adakah yang bisa menjelaskan apa sebenarnya yang baru terjadi?
Chanyeol—menyayangiku?
Proposal
Pernahkah kalian mengalami saat-saat dimana jawaban atas pertanyaan sudah ada di depan mata tapi kalian malah tak bisa melihatnya sama sekali?
Kalau pernah, berarti kita sama.
Mungkin pikiranku terlalu kacau atau otakku memang luar biasa dungu untuk mampu menerjemahkan hints yang diberikan Chanyeol tentang perasaannya padaku. Entahlah. Untuk saat ini, aku tak ingin berspekulasi dulu. Meski masih belum percaya sepenuhnya pada apa yang baru kudengar, sedikit banyaknya aku senang ketika dia bilang dia menyayangiku.
Kalaupun itu bohong, mungkin aku akan memilih untuk tetap percaya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit saat aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan milik Chanyeol lalu pergi keluar kamar untuk menyusulnya. Entah sudah berapa lama aku hanya diam larut dalam pikiranku sendiri, akhirnya aku tersadar kalau dia tak kunjung kembali ke sini.
"Park?"
Aku mendapati Chanyeol duduk sendirian di meja makan dengan enam buah kaleng bir yang masih belum dibuka terletak di depannya. Dia menoleh tanpa mengatakan apapun. Rambutnya tampak acak-acakan dan matanya memerah. Sialnya, jantungku di dalam sini malah berdegup kencang karena dia terlihat sangat tampan. Aku melangkah pelan-pelan dan berdiri dengan jarak dua meter dari tempatnya duduk.
"Eh—ehm. Bajunya besar sekali. Apa kau tak punya yang lebih kecil lagi?"
Dia melirik kaos miliknya yang kupakai. Lebih besar dari baju Sehun, sampai-sampai celana pendek yang kukenakan tertutupi dan aku terlihat seperti tak pakai bawahan sama sekali. Belum lagi bagian lehernya yang terlalu rendah untukku—tulang selangkaku terlihat semua dan aku perlu sering-sering membenarkan letak kerahnya agar tidak merosot sampai bahu.
"Sepertinya tidak. Itu yang paling kecil."
"Ah, begitu rupanya."
Suasananya benar-benar canggung—aku tidak tahu harus bilang apa untuk memulai pembicaraan karena sepertinya mood Chanyeol sedang kurang baik.
Apa karena yang tadi? Apa dia masih marah padaku?
"Duduklah, jangan berdiri terus."
"Hm, baiklah."
Tatapannya terasa menghujam saat aku melangkah pelan ke kursi di hadapannya dan duduk di sana dengan kepala tertunduk. Aku juga tidak mengerti kenapa kali ini aku merasa sedikit takut padanya, mungkin karena sadar tadi itu omonganku kasar sekali.
"Kau sudah tenang?"
"Eh?" Aku mengangkat kepala dan menatapnya dengan wajah dungu.
"Kubilang apa kau sudah tenang? Sudah tidak marah-marah lagi?"
Aku menggeleng dan sedikit merona ketika dia melihat tersenyum. "Baguslah. Kalau begitu, malam ini kita bisa tidur seranjang, iya kan?"
Itulah hebatnya Park Chanyeol. Dia masih sanggup menggodaku seolah lupa beberapa waktu lalu kami baru saja bertengkar. Dan sialnya, aku selalu saja luluh atas sikapnya itu. Atau aku saja yang memang lemah kalau itu berhubungan dengan lelaki ini.
"Ng, apa kau sedang minum bir?" Pertanyaanku barusan memang agak canggung. Tapi aku sengaja mengatakannya agar Chanyeol berhenti menatapku seperti yang ia lakukan sekarang. Nyatanya dia hanya mengalihkan pandangannya sebentar lalu kembali terpaku pada wajahku.
Bagaimana mungkin aku bisa tidak gugup?
"Tadinya aku ingin minum. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, akan berbahaya sekali kalau aku sampai mabuk," jawabnya pelan. "Bisa saja aku memukulmu lagi atau bahkan memaksamu melayaniku—entahlah."
Aku menelan ludah karena bayangan tentang Chanyeol yang mabuk dan memukul wajahku waktu itu melintas lagi. Sepertinya dia memang punya potensi menjadi tak terkendali kalau minum terlalu banyak.
"Kalau begitu jangan diminum, Park. Aku... aku tak suka kalau kau mabuk."
Tak kusangka, dia malah terkekeh lalu mencodongkan tubuh ke arahku. Kedua tangannya diletakkan di atas meja menopang dagu dan sorot matanya berubah jahil. "Apa lagi? Tolong beritahu aku apa-apa saja yang tidak kau sukai supaya aku lebih bisa memperbaiki diri."
Aku menggaruk tengkuk karena tak menduga dia akan bilang begitu.
"Eung, aku tak suka kalau kau marah padaku?" Bahkan aku tak yakin dengan ucapanku sendiri.
"Baiklah, aku akan berusaha mengendalikan emosiku mulai sekarang. Lalu apa lagi?
"Jangan dekat-dekat Jisoo?"
Chanyeol kembali terkekeh sambil mengacak-acak rambutku dengan gemas. Lagi-lagi waktu rasanya seperti terhenti. Hanya ada aku, suara tawanya yang indah dan jantungku yang berdebar tak karuan di dalam sana.
"Kau ini cute sekali. Baiklah, aku janji tak akan dekat-dekat Jisoo lagi. Asal kau juga berjanji tidak akan dekat-dekat Sehun, bagaimana?"
"Tapi Sehun itu kan sahabatku. Mana mungkin aku bisa tidak dekat—"
Ucapanku terhenti karena tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Sehun adalah sahabatku, Jisoo adalah sahabat Chanyeol. Bagaimana pun juga, Jisoo mengenal Chanyeol lebih dulu dan tahu lebih banyak hal tentangnya daripada aku.
Tidak adil untuk Chanyeol kalau aku melarangnya dekat dengan sahabatnya sendiri. Karena aku juga tidak mau ada orang yang melarangku dekat dengan Sehun.
Mungkin benar, aku ini terlalu kekanak-kanakan.
"Ehm, maksudku—kau boleh dekat dengan Jisoo, tapi jangan terlalu dekat. Jadi maksudku—jangan pakaikan dia apron lagi dan semacamnya." Aku agak malu mendengar kalimatku sendiri.
"Baiklah, aku mengerti." Chanyeol tersenyum sambil menatapku lembut. "Lalu apa lagi?"
"Aku—aku juga tidak suka kalau kau menyembunyikan masalahmu sendiri. Aku tidak suka kalau kau bertindak sendirian tanpa melibatkanku. Aku... aku ingin kau lebih terbuka lagi padaku, Park Chanyeol. Kau tahu, meski terlihat tidak meyakinkan, tapi kau bisa mengandalkanku."
Benar saja, senyuman serta-merta menghilang dari wajah lelaki itu. Dia menatapku lama sekali entah memikirkan apa, sedangkan aku bertanya-tanya dalam hati apakah kalimatku barusan menyinggung perasaannya atau tidak.
"Eung, aku juga akan berusaha untuk tidak keras kepala dan kekanak-kanakan lagi, sungguh."
"Baekhyuna—" Dia memanggilku dengan suara rendah dan agak serak. Ibarat seekor kucing jinak yang dipanggil oleh tuannya, seluruh inderaku langsung merespon Chanyeol dan aku menanti-nanti kalimat apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"—kemarilah. Duduk di pangkuanku."
Chanyeol menepuk pahanya dan seperti terkena hipnotis, aku langsung menurutinya tanpa membantah sedikitpun.
"Be-begini?"
"Bukan, duduklah menghadapku. Ya, seperti ini."
Aku hampir pingsan, sungguh. Tadinya aku duduk di pangkuan Chanyeol menghadap ke samping, tapi dia dengan mudah membalikkan tubuhku sehingga posisi kami sekarang bisa dikatakan sangat intim.
Aku duduk mengangkang di atas pahanya dan itu membuat bagian tengah tubuh kami menyatu. Jujur, aku langsung salah tingkah begitu saja. Aku takut Chanyeol akan mendengar jantungku yang berdebar gila-gilaan, atau menyadari seluruh pori-poriku telah merinding atau mungkin melihat wajahku yang memerah hebat. Tapi di atas itu semua, aku lebih takut lagi tidak bisa bernafas dengan normal.
"Hei, apa kau gugup?"
Chanyeol merengkuh pinggangku dan menatapku dengan leher yang sedikit mendongak. "Lihat, telingamu sampai merah begitu."
"Ah, ti—sebaiknya aku—" Aku berniat melarikan diri dari posisi yang menegangkan itu, tapi Chanyeol sudah menahan tubuhku duluan.
"Tetaplah seperti ini, Baek."
Dan hal selanjutnya yang terjadi adalah Chanyeol melingkarkan tangan panjangnya di sekeliling tubuhku dan membaringkan kepalanya di atas dadaku.
"Ah, nyaman sekali." Dia bergumam pelan dengan kedua mata yang terpejam erat. Kalau ada yang bertanya bagaimana perasaanku saat ini, entahlah. Rasanya aku akan meledak sebentar lagi. Karena itulah aku mati-matian berusaha agar tetap tenang dan meredakan rasa gugupku yang berlebihan.
"Kau tak balas memelukku?"
"Eh?"
"Ayolah, peluk aku, Baekhyuna. Peluk aku yang erat."
Meski sempat ragu, akhirnya aku memberanikan diri memeluk Chanyeol, suamiku. Oh, Tuhan—bagaimana caranya agar pria ini tahu kalau aku sangat mencintainya? Bagaimana caranya agar dia percaya kalau perasaanku ini tidak main-main? Apakah cinta ini akan terbalaskan meski kemungkinannya hanya nol koma sekian persen saja?
Tapi tak apa, begini saja aku sudah sangat senang.
Tanpa sadar, aku menyusupkan jemari di sela rambutnya dan membawa kepalanya lebih dalam ke dadaku.
Kami terus berpelukan seakan itulah cara terbaik untuk berkomunikasi. Memang, terkadang kami tidak pintar mengungkapkan perasaan dengan kata-kata karena lebih sering berujung pada pertengkaran. Seperti ini lebih baik.
"Perutmu sudah semakin besar," bisik Chanyeol lirih.
"Hm. Dia sudah hampir lima bulan," balasku tak kalah pelan. Aku ikut memejamkan mata dan menikmati bagaimana hangatnya tubuh Chanyeol dalam dekapanku. Hidungku juga rasanya sangat dimanjakan oleh aroma tubuhnya yang membuatku tenang, efeknya lebih menenangkan dari obat penenang jenis manapun.
Kami terus berpelukan dengan posisi seperti itu tanpa ada satupun yang berusaha memulai percakapan.
Rasanya aku ingin kami seperti ini terus.
Damai. Tenang. Tanpa pertengkaran.
Dan—
"Park? Kau menangis? Hei—kenapa?"
Chanyeol dengan sigap menahan tubuhku yang hendak melepaskan pelukan kami. "Jangan lihat, Baekhyuna. Biarkan seperti ini dulu," ujarnya dengan suara parau. Dia menyurukkan kepala semakin dalam seolah ingin menyembunyikan wajahnya dariku.
"Yak, kenapa kau tiba-tiba jadi seperti ini? Ada apa?"
Aku merasakan tubuhnya bergetar menahan isakan dan bagian depan kaosku basah, mungkin karena airmatanya. Dia mendekapku semakin erat, meski tidak sampai membuatku merasa sesak.
Lelaki yang kucintai menangis dalam diam di pelukanku. Bagaimana mungkin perasaanku bisa tidak luluh lantak?
"Park..." Aku mengelus punggungnya dengan lembut dan berusaha agar tidak ikut menangis. Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu. Aku takut untuk menanyakan alasannya. Tidak, aku tidak siap untuk mendengar alasannya.
Mungkin benar. Setiap orang punya luka yang berbeda dan di sini yang tersakiti bukan hanya aku, tapi dia juga.
"Baek-hyuna..." Dia menyebut namaku di sela tangis. "Aku takut."
Chanyeol melepas pelukan kami secara perlahan. Aku bisa melihat bagaimana wajahnya memerah dan jejak-jejak airmata tertinggal di sana. Aku bisa melihat bagaimana mata sembabnya memancarkan kesedihan yang mendalam—kesedihan yang bahkan tak bisa kutebak apa penyebabnya. Dia tampak begitu—rapuh.
"Apa yang kau takutkan?" tanyaku sambil mengusap pipinya dengan lembut.
"Semuanya. Kyungsoo, kakakmu, Tuan Byun—aku takut mereka menyakitimu."
Dia mengatakan itu dengan airmata yang terus mengalir. "Kyungsoo—dia berniat balas dendam padamu. Dia ingin menyakitimu sampai kau koma seperti ibunya, bahkan mungkin lebih buruk dari itu."
Aku terkesiap. "Kau... kau tahu tentang ibu Kyungsoo?"
Chanyeol mengangguk lemah, "Kyungsoo membawaku menemuinya di rumah sakit. Setelah itu, dia mengajakku ke suatu tempat dan membeberkan segala rencana yang dimilikinya untuk membuatmu hancur. Dia bahkan bersumpah akan menghabisi siapa saja yang menghalangi rencananya, termasuk aku." Airmata Chanyeol jatuh semakin deras.
"Be-benarkah?" Aku berusaha untuk tetap tenang meski dadaku sudah bergemuruh hebat.
"Kyungsoo menjadikan Tuan Byun dan kakak-kakakmu sebagai alat agar tujuannya tercapai. Tuan Byun ingin kau kembali agar beliau bisa menikahkanmu dengan anak rekan bisnisnya yang lain, kedua kakakmu berniat menguasai warisan yang kau miliki dan Kyungsoo ingin melihatmu menderita, bagaimanapun caranya."
Aku memaksakan diri untuk tersenyum, "Aku tahu itu, Park. Aku sudah tahu apa yang mereka inginkan dari dulu. Hei—sudahlah, berhenti menangis. Kau ini, kupikir yang kau takutkan adalah perang atau semacamnya. Ternyata hanya masalah sepele, ck."
Chanyeol menangkap tanganku yang sedang mengusap airmatanya, menggenggamnya erat meski tangannya sendiri gemetaran. "Tapi ini tidak sepele, Baekhyuna. Setiap ancaman yang mereka berikan; salah satunya yang terjadi pada orangtuaku—mereka benar-benar melakukannya. Itu sudah membuktikan kalau mereka tidak main-main. Aku sangat takut kalau sampai terjadi apa-apa pada kalian berdua." Tangis Chanyeol tak terbendung lagi.
"Seandainya saja aku tahu beban hidupmu seberat itu, pasti aku tak akan pernah berani menyakitimu sedikitpun, Baekhyuna. Aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf."
Seketika aku merasakan kehangatan merasuk sampai ke relung-relung terdalam hatiku.
Aku tersenyum sambil mengelus rambutnya. "Hei, sudahlah. Itu bukan masalah besar untukku. Percaya padaku, apa yang mereka rencanakan tak akan pernah berhasil. Kau tak perlu takut, semua akan baik-baik saja."
Aku tahu, aku baru saja berdusta. Tak ada yang baik-baik saja dalam hidupku.
Mungkin aku bisa mengelak dari ayah dan kedua kakakku, tapi Kyungsoo—hanya tinggal menunggu waktu saja agar aku berada dalam genggaman tangannya. Masalahku dengan Kyungsoo tidak sesederhana itu. Tak ada yang sederhana kalau seseorang sudah menginginkan hidupmu jadi taruhannya. Balas dendam itu tak mengenal waktu, usia dan hubungan darah.
Kalau ditanya aku takut atau tidak—jawabannya adalah iya, aku takut.
Tapi aku harus tetap kuat dan tegar demi dia yang berada di kandunganku. Dan demi Chanyeol, lelaki yang kucintai.
Awalnya kami hanya saling tatap, tapi entah siapa yang mulai duluan, tiba-tiba bibir kami sudah bersatu dalam sebuah ciuman lembut tanpa nafsu . Aku melingkarkan tangan di leher Chanyeol dan dia memegangi pinggulku di kedua sisi—bibir kami bergerak seirama seolah sedang menghantarkan jutaan emosi yang terpendam di dalam jiwa. Kerinduan, harapan, cinta—semuanya bercampur jadi satu.
Sejauh yang kuingat, inilah ciuman terbaik yang pernah kami lakukan. Hangat dan penuh penghayatan—sensasinya mirip seperti ketika kau kembali ke rumah dan ada orang yang kau cintai menyambutmu di depan pintu.
"Aku ingin terus bersamamu, Baekhyuna," bisik Chanyeol di sela lumatannya pada bibirku. "Aku ingin kita memulainya dari awal lagi."
Mungkin, aku hanya sedang bermimpi.
"Tolong beri aku kesempatan sekali lagi. Aku janji, mulai detik ini, hanya akan ada kau, aku dan anak kita. Kau boleh menjambakku atau bahkan membunuhku sekalian kalau aku sampai berbohong."
Dia mengatakan itu sambil menangis.
"Aku juga tak ingin kita bertengkar lagi, Baekhyuna. Melihatmu marah dan menangis tiap kita adu mulut rasanya lebih menyakitkan dari apapun, aku tidak tahan kalau kita terus-menerus seperti itu. Apalagi kalau kau sampai menyakiti dirimu sendiri lagi seperti kemarin, lebih baik aku mati saja."
Dia kembali melumat bibirku sebelum aku sempat membalas ucapannya. Ciumannya benar-benar lembut, tidak terburu-buru dan sama sekali tidak ada hasrat menuntut di sana. Ada banyak hal yang kupertanyakan, ada banyak hal yang ingin kukatakan—tapi ciuman Chanyeol membuatku lupa segalanya.
Dia kembali melepaskan tautan bibir kami setelah beberapa saat, "Aku janji akan jadi pribadi yang lebih terbuka lagi, tidak akan menyembunyikan apapun darimu, jadi pendengar yang baik, jadi apapun yang kau butuhkan, akan menjaga dan melindungimu dengan seluruh kemampuanku, menuruti semua yang kau minta—apa saja. Aku akan melakukan apa saja agar kau tetap bersamaku, Baekhyuna."
Dia kebingungan ketika aku menjauhkan wajah dan menegakkan badan. Kedua tangan kekarnya langsung mencengkram pinggangku seolah tak mengizinkan aku beranjak sedikitpun.
"Kau—apa kau sedang melamarku? Ya, Park Chanyeol! Aku bisa salah paham kalau kau seperti ini terus!"
"Kau tidak salah paham, Baekhyuna. Aku memang sedang melamarmu."
Jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga.
"Park, kau betulan tidak sedang mabuk?"
Aku menoleh ke belakang untuk memastikan bir kalengan yang ada di atas meja itu belum ada yang dibuka. Masih tersegel rapat dan aku juga tak mencium aroma alkohol saat kami berciuman tadi.
"Kau sakit?" Aku meraba keningnya yang hangat dan membandingkannya dengan keningku sendiri.
"Sepertinya tidak demam," gumamku heran. "Kalau begitu, kau ini kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Dia balas bertanya.
Aku terkekeh sambil menggeleng dengan brutal. "Tidak, tidak. Ini tidak benar, kau pasti sedang bercanda."
Chanyeol mendesah frustrasi ketika aku buru-buru turun dari pangkuannya dan berjalan menuju dispenser. Aku butuh air karena rasanya seluruh tubuhku terbakar. Otakku bahkan tidak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi.
Maksudku, bagian mananya yang masuk akal? Melamarku dengan janji-janji manis secara tiba-tiba? Kalau kalian jadi aku, bisakah kalian tidak salah paham? Tidak, aku tidak mau dia membuatku berekspektasi yang tinggi.
"Baekhyun, aku serius. Aku sama sekali tidak sedang bercanda." Aku nyaris tersedak ketika menyadari dia sudah berdiri di belakangku. Dengan panik, aku meneguk dua gelas air sekaligus dan berjuang keras menahan godaan agar tidak berbalik saat itu juga. Malah aku berharap tubuhku lenyap ditelan bumi agar tidak perlu menghadapi situasi yang seperti ini.
"Baekhyun, kau selalu saja seperti ini setiap kita sedang bicara serius."
Gelas yang kupegang nyaris terjatuh ketika Chanyeol membalik tubuhku tiba-tiba. Kenyataan bahwa kedua matanya sembab dan suaranya parau menamparku telak-telak—yang tadi itu bukan mimpi.
Dia mengambil alih gelas di tanganku lalu meletakkannya di dekat meja. Belum sempat rasa terkejutku hilang, dia sudah menangkupkan tangan di pipiku dan menatapku dalam-dalam.
"Please, dengarkan aku sekali ini saja. Aku butuh keberanian yang besar untuk bisa berbicara seperti ini denganmu, tolong dengarkan aku sampai selesai. Masih banyak yang ingin kukatakan padamu."
Kalau bisa lari dari kenyataan, aku pasti dengan senang hati akan melakukannya saat ini juga.
Rasanya aneh, mendebarkan, sekaligus—menakutkan. Aku tak terbiasa dengan Park Chanyeol yang seperti ini.
"Ka-kau aneh, Park. Kenapa tiba-tiba—"
"Ini bukan tiba-tiba," sergahnya. "Aku sudah memikirkannya sejak beberapa waktu lalu. Aku terus memikirkan apa yang salah dalam hubungan kita, kenapa kita bisa jadi seperti ini, apa yang kau pikirkan tentangku, bagaimana caranya agar kita tidak saling benci terus—aku sudah memikirkannya, Baekhyuna. Kupikir aku bisa memperbaiki semuanya sendirian, ternyata aku salah. Ini tidak akan berhasil kalau kau tak mau bekerja sama denganku—kita harus memulai semuanya dengan awal yang baru lagi."
Untuk beberapa detik lamanya, penawaran Chanyeol terdengar begitu indah dan meyakinkan.
Aku menepis tangannya dengan gugup kemudian pura-pura menguap selebar yang aku bisa, "A-ku mengantuk, Park. Aku mau tidur dulu. Besok pagi-pagi sekali aku harus pulang ke Seoul."
Entahlah, mungkin aku sudah gila. Aku selalu mengeluhkan sikap Chanyeol yang sering tarik-ulur, tapi sekarang, aku malah melakukan hal yang sama.
Aku kabur ke kamar Chanyeol secepat kilat dan mengubur tubuhku rapat-rapat di dalam selimut. Setelah hari yang panjang dan melelahkan, hal yang paling kubutuhkan adalah tidur. Saat aku bangun besok, aku siap menata hatiku kembali dengan atau tanpa Chanyeol.
Oke, aku harus siap. Anggap saja yang tadi itu tidak pernah terjadi. Anggap saja kata-kata itu tak pernah keluar dari mulutnya.
Ya, aku harus menganggapnya seperti itu.
Tapi kenapa—
–airmataku tiba-tiba menetes?
Aku bertambah panik ketika mendengar pintu kamar dibuka dan seseorang berjalan mendekat. Dia duduk di tepi ranjang, berulang kali menarik nafas berat. Tangisanku masih berlangsung meski tanpa suara, aku berusaha menghapus airmataku pelan-pelan agar Chanyeol tidak curiga.
Apa-apaan aku ini? Selalu saja cengeng kalau sudah berhadapan dengan Park Chanyeol. Aku menangis kalau dia kasar, tapi aku juga menangis kalau dia lembut. Sebenarnya apa yang kuinginkan?
Meski tak melihat, aku tahu kalau tatapannya terus tertuju padaku.
"Tidurlah, kau pasti lelah seharian ini."
Kupikir dia akan mendesakku lagi soal yang tadi, ternyata tidak. Chanyeol menepuk kepalaku yang tertutup selimut kemudian beranjak dari ranjang. Aku masih bergeming tanpa mau membuka selimut sedikitpun meski aku mendengar dia berjalan mondar-mandir dari sisi yang satu ke sisi lain kamar.
"Selamat tidur, Baekhyuna. Semoga mimpi indah."
"Hm." Aku hanya membalas dengan gumaman singkat, dan setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk keluar dari persembunyianku. Ketika aku melongok ke bawah, ternyata Park Chanyeol sedang berbaring di lantai beralaskan selimut tipis dengan lengan yang menutupi mata. Pemandangan itu malah membuatku ingin menangis keras-keras, entah karena apa.
Di Seoul, kami biasanya tidur terpisah. Aku tidur di kamar mertuaku dan Chanyeol tidur di kamarnya sendiri. Kami akan tidur seranjang setelah melakukan seks, itu saja. Aku bahkan bisa menghitung berapa kali kami tidur bersama hanya dengan sepuluh jari. Kebiasaan tidur kami juga berbeda. Aku tidak bisa tidur kalau lampunya mati, sedangkan dia sebaliknya.
"Baekhyuna? Kenapa belum tidur?"
Aku tergagap ketika Chanyeol menangkap basah aku sedang memandanginya. Lengannya diturunkan sedikit, aku bisa melihat wajahnya yang tampak lesu dan tak semangat.
"Apa kau kedinginan atau—"
"Kenapa kau tidur di bawah, Park? Di bawah kan dingin." potongku cepat. "Kenapa kau juga tidak mematikan lampunya?"
Chanyeol tersenyum, "Tidak apa-apa, Baekhyuna. Aku tidur di sini saja. Ah, bukankah kau tidak bisa tidur kalau kamarnya gelap?"
Tanpa sadar, tanganku meremas selimut kuat-kuat.
"Da-darimana kau tahu?"
"Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku sering mengamati hal-hal kecil yang kau lakukan, tanpa sepengetahuanmu." Dia mengubah posisi menjadi berbaring miring menghadapku.
"Mungkin kau lupa—malam itu hujan turun sangat deras dan listrik di rumah kita tiba-tiba saja padam. Aku terbangun karena mendengar kau berteriak dan langsung berlari ke kamarmu saat itu juga. Ternyata kau ketakutan karena semuanya gelap gulita, dan kau tahu apa?"
Aku meremas selimut semakin kuat.
"Kau baru bisa tidur setelah aku memegangi lampu belajar di dekat wajahmu." Chanyeol terkekeh seperti sedang membayangkan sesuatu. "Saat itulah aku tahu kalau kau benci gelap. Kau bahkan tak mengizinkanku kembali ke kamar sebelum kau bisa benar-benar tidur, ingat?"
"Tidak! Aku tidak ingat yang seperti itu pernah terjadi!"
Yang seperti itu—memang pernah terjadi?
Park Chanyeol—
"Ck, kau ini pelupa sekali. Ah, aku juga tahu kalau kau benci dingin. Meski begitu, kau selalu saja menendang selimutmu jauh-jauh lalu menggigil kedinginan setelahnya. Karena itulah aku selalu bangun tengah malam dan masuk ke kamarmu diam-diam—untuk menyelimuti dan memastikan kau tetap hangat."
mengapa kau membuatku semakin jatuh cinta dengan cara yang menyakitkan seperti ini?
"Hah, tidak mungkin. Kau pasti sedang berbohong!"
Ya, itu tidak—mungkin?
Chanyeol menghela nafas berat kemudian berbalik memunggungiku. "Lupakan, yang tadi itu memang hanya akal-akalanku saja. Jangan terlalu dipikirkan."
Aku—entahlah. Aku tidak mampu berpikir apa-apa sekarang. Yang bisa kulakukan hanyalah menatap punggung lebar Chanyeol yang tak kunjung berbalik kepadaku.
Apa—yang baru saja terjadi dalam hidupku seharian ini? Kenapa ada banyak sekali hal yang terjadi hanya dalam sehari?
"Chanyeol..."
"Tidurlah, ini sudah larut malam," balasnya pelan. Reaksinya malah membuatku semakin tidak puas.
"Yak! Park Chanyeol!"
Suaraku bergetar dan aku meneriakinya kuat-kuat, padahal jarak kami kurang dari dua meter saja. Saking frustrasinya, aku juga melempar kepalanya pakai bantal.
"Yak! Kalau kau tak mau melihatku menangis lagi, cepat kemari dan tidurlah disampingku!"
Dia masih diam. Aku tiba-tiba saja merasa kesal, entah karena apa. Mungkin karena dia mengabaikanku atau karena mengetahui fakta bahwa dia secara diam-diam sering memperhatikanku. Apa? Menyelimuti dan memastikan agar aku tetap hangat katanya? Kenapa harus secara sembunyi-sembunyi kalau melakukannya secara terang-terangan bisa membuatku bahagia luar biasa?
Aku bersiap turun dari ranjang untuk menyeretnya karena dia sama sekali tidak merespon. "Aish, cepat kataku! Park Chanyeol! Kau bilang kau tidak suka melihatku menangis, tapi kenapa—"
Kalimatku terhenti karena Chanyeol tiba-tiba saja bangun, menghampiriku hanya dalam dua langkah panjang dan membungkuk di atasku, nyaris menindih. Kedua tangannya mengungkungku, membuatku merasa terpenjara dalam dominasinya.
"Tapi kenapa apanya?"
Wajahnya hanya setengah jengkal dari wajahku, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi yang ia tunjukkan. Garang, menantang—semacam itulah. Ekspresi yang selalu berhasil membuatku bertekuk-lutut menyerah di hadapannya.
Dan sialnya, aku selalu saja tak bisa berkata apa-apa kalau Chanyeol sudah seperti ini. Dia membuat semua keberanianku menguap begitu saja.
"Kau mau aku tidur di sini? Bersamamu?"
Aku mengangguk lambat-lambat, masih berada pada fase antara terkejut, ketakutan dan terpesona. "I-iya."
"Kau yakin? Tidak akan menyesal?"
Aku menelengkan kepala, "Ke-kenapa harus menyesal?"
"Tidur bersama—kau tidak berpikir yang kita lakukan benar-benar hanya tidur, kan?" Dia tersenyum miring sambil mengarahkan tangan untuk membelai pipiku.
"Suami-istri tidur bersama dalam satu ranjang—menurutmu, apa yang bakal terjadi?"
Tatapan ini, suara berat ini—akhirnya aku tahu apa yang dia maksud.
Aku mendorong dadanya dengan gugup dan cepat-cepat berbaring membelakanginya, "Aku hanya ingin kita tidur bersama, aku tidak minta kau meniduriku! Te-terserah kau saja kalau tidak mau, aku bisa tidur sendiri."
Apa-apaan dia itu. Memangnya aku sempat memikirkan seks kalau suasana hatiku sedang buruk seperti ini?
Chanyeol terkekeh dan sesaat kemudian kurasakan ranjang berderit ketika dia menaikinya.
"Kau sendiri yang membuat wajah menggoda seperti itu. Hei, jangan membelakangiku, Baekhyuna. Nah, begini lebih baik."
Aku diam saja ketika Chanyeol menyisipkan tangan di belakang leherku, memaksa kepalaku bersandar pada lengannya. Dia kemudian menyelimuti tubuh kami berdua dan tiba-tiba saja aku merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika dia memelukku. Seakan-akan tak ada tempat terbaik di dunia ini selain di pelukan Chanyeol.
Rasanya sudah lama sekali kami tidak seperti ini. Aku tidur di pelukannya, dia mengelus-elus punggung dan perutku, aku menghirup aroma tubuhnya—rasanya aku rela melakukan apa saja demi bisa seperti ini tiap hari bersama Chanyeol. Bahkan aku bisa merasakan bayiku begitu girang ketika sang ayah menyentuhnya dari balik kulit perutku.
Park Chanyeol, aku merindukanmu. Kami berdua merindukanmu. Sangat.
"Tidurlah. Jangan terlalu dipikirkan apa yang terjadi hari ini." Dia berbisik sambil terus mengusap punggungku. Mau tak mau aku akhirnya memejamkan mata, mencoba melepaskan semua beban berat yang merongrong batinku.
Baiklah, asal ada Chanyeol, semua akan baik-baik saja.
"Park, eomma dan appa—jam berapa mereka selesai berjualan?" tanyaku pelan. Pelukan hangat Chanyeol selalu berhasil membuatku rileks dan kantukku mulai datang.
"Sekitar jam tiga dinihari nanti. Memangnya kenapa?"
Aku menggeleng sambil menyurukkan kepala lebih dalam ke dadanya.
"Tak apa, aku hanya teringat saja. Ah, tentang yang tadi itu, kau serius ingin melamarku?"
"Aku serius. Kau saja yang menganggapku bercanda."
"Ck, seharusnya kau melakukannya lebih romantis lagi."
Chanyeol tak mengatakan apapun, hanya membalas ucapanku dengan pelukan yang lebih erat. Aku merasakan mataku bertambah berat dan tubuhku seakan berada di awang-awang. Meski demikian, aku masih setengah sadar ketika Chanyeol mencium pipiku lama sekali.
"Tidurlah. Hari ini kita berdua cengeng sekali, aku janji ini yang terakhir kalinya kita seperti itu. Besok aku akan melamarmu lagi—lebih romantis sesuai keinginanmu."
"Aku... akan... menolakmu... lagi." Aku membalas ucapannya dengan susah payah.
"Tak apa. Aku akan terus melakukannya sampai kau tak mampu menolakku lagi."
Aku mendengar kalimat terakhirnya samar-samar karena mataku telah terpejam rapat dan kantuk mengambil alih seluruh kesadaranku.
Surprise
Keesokan harinya—bagaimana aku harus mengatakannya, ya?
Termasuk salah satu hari terbaik dalam hidupku? Aku terkejut karena hari ini datang juga, padahal sebelumnya kupikir mustahil.
Hal pertama yang kusadari ketika terbangun adalah—ini bukan di kamar Chanyeol. Ranjang besar empuk dengan selimut yang lembut dan hangat, ruangan serba putih dengan jendela kaca besar yang tirainya melambai-lambai tertiup angin, suara debur ombak yang terdengar begitu dekat—apakah ini surga?
"Kau sudah bangun?"
Aku benar-benar yakin ini adalah surga dan yang bicara tadi itu adalah salah satu malaikatnya. Dia memakai bathrobe putih, rambutnya basah dan acak-acakan—intinya, dia luar biasa tampan. Di bumi pasti tidak ada yang setampan dia. Aku yakin sekali itu.
"Park Chanyeol?" Kesadaranku lama-lama terkumpul dan aku baru sadar kalau dia adalah Chanyeol-ku. Malaikatku. Dia berjalan menuju ranjang sambil tersenyum—serius, bagaimana mungkin seseorang bisa setampan itu hanya dengan sebuah senyuman?
"Iya, ini aku. Ah, kau mau langsung makan atau—"
"Ini dimana?" Tanpa sadar aku memotong ucapannya sambil melirik kesana-kemari dengan gusar. Dia tersenyum kemudian menjulurkan tangan untuk menyeka kotoran yang melekat di sudut mataku.
"HB Resort—ikon Pulau Jeju," ucapnya bangga. "Kau pasti tahu, iya kan?"
Namanya tidak terlalu asing, sepertinya aku pernah mendengarnya entah dimana. Tapi bukan itu hal yang terpenting.
"Lalu kenapa kita bisa ada di sini?"
"Karena aku yang membawamu?" Dia menelengkan kepala, tapi itu malah membuatku semakin tidak sabaran. Aku menyingkirkan selimut yang membalut tubuhku dan berlari menuju jendela. Yang kulihat selanjutnya malah membuat mulutku terbuka lebar dan rahangku nyaris jatuh.
"Woah—cantik sekali!" gumamku tanpa sadar. Aku tidak tahu kami sedang berada di lantai berapa, sejauh mata memandang, yang mendominasi adalah hamparan laut biru yang benar-benar indah, seperti lukisan. Sinar matahari yang memantul di atasnya terlihat berkilauan, seakan ditaburi milyaran berlian kualitas terbaik. Pikiranku langsung tenang hanya dengan melihat itu semua.
"Cantik, kan? Aku tahu kau pasti suka."
Chanyeol tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku entah sejak kapan. Mungkin sejak aku sibuk menempelkan kedua telapak tangan dan hidungku di kaca. Dia memeluk perutku dan meletakkan dagu di atas pundakku.
"Tapi lautnya masih kalah cantik darimu. Kau yang paling cantik di dunia ini."
Oke, mungkin Chanyeol sudah gila. Tapi—kenapa omongan orang gila sepertinya bisa membuat pipiku panas dan jantungku berdebar kencang?
Aku menggeliat dan melepas pelukannya dengan gugup. "Kau ini bicara apa sih? "
"Aku bicara yang sebenarnya. Ada yang salah?"
Dia kembali menarik tubuhku dan memelukku dari belakang, tak memperdulikanku yang meronta ingin dibebaskan. "Sudahlah, kecantikanmu itu mutlak dan tak perlu diperdebatkan lagi."
Meski kesal, aku sangat yakin kalau rona merah di pipiku tak akan hilang sampai besok pagi.
"Jadi, katakan kenapa kita bisa ada di sini," tuntutku ketika aku mulai tenang. Pelukannya sangat nyaman, jadi tak ada gunanya untuk terus menolak.
"Kau menolak kuajak berbulan madu ke Thailand, karena itulah aku memberikan seluruh voucher-ku pada Sehun. Dia menggantinya dengan uang dan—yah, akhirnya kita ada di sini sekarang."
"Lalu bagaimana caranya kita bisa berada di sini?"
Seingatku, tadi malam kami tidur berpelukan di ranjang Chanyeol yang sempit dan—
"Aku memanggil taksi—yah, begitulah," ujarnya malas-malasan. Sepertinya Chanyeol lebih suka menciumi rambutku ketimbang menjawab pertanyaanku.
Aku mendongak karena merasa tak puas dengan jawabannya. "Maksudmu kita kemari naik taksi? Lalu kenapa aku tidak ingat sedikitpun?"
"Itu karena kau tidurnya nyenyak sekali, Baekhyuna. Aku sudah membangunkanmu pakai ciuman—tapi ternyata cara itu tidak berhasil. Kau bahkan tak membuka mata sedikitpun ketika kugendong masuk ke dalam taksi dan tiba di sini."
"Benarkah?" ujarku sambil mencoba mengingat-ingat ulang, tapi tetap saja aku tidak ingat sama sekali.
"Sebenarnya Jisoo tak setuju kalau kau kubawa pakai taksi, katanya tidak romantis. Dia bahkan berniat meminjamkan mobilnya, tapi—"
"Tapi apa?" sergahku tak suka. Aku membalikkan badan sampai kami berhadapan, lalu menatap wajahnya dengan ekspresi menuntut. Aku memang agak sensitif kalau nama gadis itu disebut.
"—tapi kutolak." Chanyeol tersenyum polos, membuatku terpana ketika melihat sisi kekanakan yang jarang ia tunjukkan. "Bukankah kau sendiri yang memintaku agar tidak dekat-dekat Jisoo lagi? Daripada kau marah, lebih baik aku menolaknya saja."
Aku cepat-cepat menunduk agar dia tak melihat senyumanku.
"Aku juga sudah berjanji hanya ada kau, aku dan anak kita. Ingat?" Selesai berbicara, dia memajukan wajah dan nyaris saja mencium bibirku. Aku kaget dan langsung mendorong dadanya dengan spontan. Biarpun aku mencintainya sedemikian rupa, tetap saja aku tidak siap kalau dia menyerangku tiba-tiba.
"Yak! Ada apa denganmu, Park? Menggodaku pagi-pagi begini, seperti bukan dirimu saja. Dasar sok romantis!"
Meski wajahku cemberut, tapi hatiku rasanya berubah seperti taman bunga setelah mendengar kata-katanya. Apalagi ketika mataku tanpa sengaja melirik bathrobe yang ia pakai. Ikatannya agak longgar, membuat sebagian kulit dadanya kelihatan. Pipiku semakin panas ketika menyadari dia tidak memakai apa-apa dibalik benda itu.
"Ini bukan pagi-pagi lagi, Baekhyuna—ini sudah siang. Aku juga bukannya sok romantis, tapi memang benar-benar suami yang romantis. Dan lagi—"
Chanyeol lagi-lagi membuatku sulit bernafas karena tiba-tiba saja dia mendesak tubuhku merapat di jendela kaca. Belum habis rasa terkejutku, Chanyeol tiba-tiba saja membungkuk dan mendekatkan bibir ke telingaku.
"—tingkat keromantisanku akan menanjak seiring bertambahnya jam. Semakin sore, aku akan semakin romantis. Dan kalau harinya sudah malam, aku akan—"
Lututku seperti meleleh ketika Chanyeol mengecup sudut bibirku dengan gerakan lambat. "—bertambah romantis seribu kali lipat sampai-sampai kau frustrasi sendiri akan keromantisanku."
"Yak! Berhenti menggodaku, Park!"
Mataku membelalak ketika dia memegangi kedua sisi pipiku dan memandangiku dengan tatapan menggoda, "Aku akan memastikan kau tak meninggalkan ranjang sesentipun dan kau tak bisa berjalan dengan benar keesokan harinya. Ah, aku juga akan memastikan suaramu serak karena terlalu banyak menjerit nikmat—"
"Yak! Berhenti kataku! Dasar Gila!"
Chanyeol hanya terbahak ketika aku menepis tangannya dan berlari masuk ke kamar mandi dengan wajah semerah saga. Aku membanting pintu dan buru-buru menuju wastafel untuk membasuh mukaku yang panas membara.
"Dasar gila! Sinting! Tidak waras!" Aku terus merutuki Chanyeol yang sukses membuatku keringat dingin hanya dengan kata-kata aneh itu. Aku yakin sekali ada orang mesum yang mengajarinya bilang begitu, entah siapa. Pasti. Tidak mungkin Chanyeol yang biasanya sulit mengekspresikan perasaan bisa dengan lancar menggodaku seperti tadi.
Dan anehnya, salah satu bagian hatiku menggelepar bahagia dan ingin digoda lebih lama lagi. Sialan.
"Sayang, aku sudah meletakkan pakaianmu di dekat rak handuk. Cepat mandi, aku akan memesankan makanan untuk kita," teriak Chanyeol dari luar. Aku diam saja, masih berusaha menetralkan rona merah di wajahku yang tak kunjung pudar.
"Hei, kenapa tidak menjawab?"
"Yak! Kau membuatku kaget!"
Aku kembali berteriak karena kepala Chanyeol tiba-tiba saja muncul dari balik pintu. Aku nyaris saja melemparnya pakai botol sampo yang ada di dekat tanganku. Dia tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sedikitpun, "Maaf, itu salahmu karena tak cepat-cepat menjawabku dan selalu lupa mengunci pintu setiap berada di kamar mandi."
Aku berjalan menuju pintu dengan langkah terhentak.
"Park Chanyeol, jujur padaku—sebelum ini, kau pasti pernah mengintipku sedang mandi, iya kan?"
Di luar dugaan, dia mengangguk dengan ekspresi lugu. "Sering. Aku juga suka mengintipmu saat sedang memakai baju. Apalagi di bagian yang kau mengoleskan lotion ke seluruh tubuh sebelum memakai celana dalam, kau benar-benar seksi."
"Yak!"
Dia hanya tertawa sedangkan aku sendiri hampir menangis. Entah kenapa. Mungkin karena dia menggodaku terus-terusan, atau mungkin karena menyadari dia sering memperhatikanku diam-diam. Entahlah. Aku merasa kesal tapi senang di saat yang bersamaan.
Chanyeol menahan pintunya ketika aku siap-siap mendorong dengan kuat. "Jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kau mandi sekarang karena sebentar lagi kita akan memulai masa bulan madu kita secara resmi."
Dia menjulurkan leher untuk mencuri satu kecupan di bibirku. Aku terlalu terkejut untuk menyadari tingkahnya itu, aku tak bisa bereaksi apa-apa. Apalagi ketika dia mengedipkan sebelah mata dan menutup pintu kamar mandinya dari luar.
Memulai masa bulan madu secara resmi katanya? Siapa yang bisa percaya itu? Awalnya aku memang jual mahal dan bersikeras ingin pulang ke Seoul, tapi mendadak tak tega setelah mengetahui bagaimana susahnya Chanyeol mempersiapkan ini semua hanya karena ingin melihatku bahagia.
Meski masih tak percaya hari ini datang juga—nyatanya kami benar-benar menjalani bulan madu kami dengan penuh kejutan tak terduga. Chanyeol yang melayaniku seperti seorang ratu sepanjang hari, Chanyeol yang berubah perhatian dan romantis dengan caranya sendiri, kami yang pergi kemana-mana berdua saja seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara—semuanya begitu indah.
Bulan madu itu tidak sekedar bercinta sepanjang hari, tidak. Ada banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan selain itu—meski kami menjadikan seks sebagai hidangan utama. Bermain pasir di pantai, dilamar berulang kali karena aku terus saja menolak (apa gunanya dilamar kalau faktanya kami sudah menikah?), kencan naik scooter keliling Jeju dan berujung melakukan seks di tempat-tempat yang tak terduga (aku akan menceritakan tentang hubungan intim yang kami lakukan di dalam gua dan lainnya), membuat couple tattoo di pinggul (tattoo-nya temporer, Chanyeol bilang kami akan membuat yang permanen lain kali), ikut lomba foto baju Hanbok dan aku terpaksa memakai yang untuk perempuan, dan masih banyak lagi.
Bulan madu kami adalah salah satu hari terbaik dalam hidupku. Kalau aku tahu bulan madu bakal seseru ini, aku pasti minta diajak bulan madu setiap hari.
Apalagi ketika aku menyaksikan sendiri bagaimana Chanyeol cemburu—rasanya puas sekali karena bisa membuatnya merasakan apa yang pernah kurasakan. Meski saat itu aku tidak yakin dia mulai memiliki benih-benih cinta atau tidak.
"Dia siapa, Baekhyuna?" Air muka Chanyeol berubah ketika melihat seseorang tiba-tiba saja datang dan memelukku dengan erat. Dia juga tanpa segan-segan mencium pipiku di depan Chanyeol.
"Dia—"
"Perkenalkan, aku pemilik resort ini sekaligus mantan calon suami Baekhyun, Nam HaBaek. HaBaek oppa kesayangan Baekkie."
Kalau saja aku tidak cepat-cepat menjelaskan siapa HaBaek itu, mungkin akan terjadi perkelahian dan bulan madu kami terancam gagal.
Bulan madu kami memang luar biasa, tapi ternyata kebahagiaanku tak berlangsung lama. Hari terakhir dimana kami memutuskan untuk pulang bersama ke Seoul, sesuatu terjadi dan membuatku hampir saja berpisah dengan Chanyeol untuk selama-lamanya.
Aku sedang mengemasi barang-barang dan menunggu Chanyeol selesai mandi ketika Kai menelepon.
Baekhyuna, kau masih di Jeju?"
"Iya, memangnya kenapa?"
Tolong, jangan kembali dulu. Ini permintaanku padamu, tolong jangan pulang ke Seoul dan tetaplah berada di sana, kau akan aman bersama Chanyeol. Aku akan menjemputmu kalau keadaannya sudah tenang."
Mendengar suaranya yang ketakutan dan nafasnya yang memburu, aku yakin sesuatu sedang terjadi di sana.
"Bilang padaku ada apa, Kai."
Kyungsoo—dia tidak terkendali dan bersumpah akan membunuhmu sekarang juga. Aku tak tahu lagi bagaimana cara menenangkannya."
Ibunya—meninggal."
Ah, sudahlah. Aku akan menceritakannya lain kali saja.
Oke, lain kali saja.
Hi #sigh.
Percaya atau tidak, chapter ini udah kubuat mulai 2 bulan lalu dan baru selesai sepuluh menit lalu. What the heck? Sebenarnya banyak yang pengen kubilang, tapi aku mendadak lupa. Intinya, maaf. Aku gak niat gantungin atau apa. Cuma karena aku sibuk, nulis ff bukan prioritasku lagi untuk sekarang. Jadi maaf bgt kalo chapter ini tidak memuaskan.
Makasih buat PM-PM yang udah masuk. Aku terhura #sob. Ada salah satu PM yang minta ff kacang ini jangan sampe tamat. Kalo bisa yang pas ChanBaek masih SMA juga diceritain, ato pas masih bocah-bocah ingusan juga diceritain-apa aja diceritain asal jangan tamat. Haha-are u serious? Aku sih gak masalah, tapi siap-siap aja untuk bosan karena bakal panjang bgt wkwkw. Kalo kalian juga setuju, okay. Tapi mungkin apdetnya bakal lelet juga haha.
Semoga aja chap ini bisa nunjukin kalo sebenarnya ChanBaek udah saling cinta, tapi mereka frustrasi sama perasaan masing2. Yang satu denial dan yang satu skeptis. Dan, kenapa sih bulan madunya gak kelar2 dan makin lama ceritanya makin lambat? Gak tau, salahin aja akunya. Mungkin aku butuh Kokobop. Eh, sumpah ya, lagu Forever itu enak bgt gilaaaa! Kalo denger itu rasanya aku kayak di dunia lain gitu. Sensasi yang sama kalo pas aku dengerin Playboy, Machine, El Dorado, Lady Luck. Semoga EXO dan CHANBAEK makin berjaya tahun ini, amin.
Oh ya, aku agak males bahas konflik BH sama keluarganya di ff ini, pengennya fokus ke CB aja. Tapi seenggaknya udah bisa diraba-raba yakan gimana kejadian sebenarnya. Mungkin nanti kuceritain pake POV Kai ato Sehun ato Kyungsoo aja, tapi entah kapan wkwkw. Akhir kata, maaf bgt kalo chapter ini gak sesuai harapan. Mungkin kemampuanku memang hanya sebatas ini.
Okay, see ya next time.
