.
.
Character © Masashi Kishimoto
Accidentally in Love
Story by Icha-Icha Fairy
Part 12
Scandal
enjoy
.
.
"Ino, jam berapa sport center membuka kelas yoga?" Sakura menghampiri meja kerja Ino sebelum beranjak pulang. Koordinator background 2D itu sedang memoles kembali lip cream warna wild carnation pada bibirnya. Entahlah..., sekarang nama warna lipstick semakin aneh.
"Kelas Yoga buka setengah enam pagi." Ino memasukkan lip cream-nya ke dalam tas lalu bersiap-siap. "Kau akan datang?"
"Kurasa begitu." Sakura menatap koleksi bolpoin Ino yang bentuknya aneh-aneh, ada daun locang, seledri, bunga...
"Ok, semuanya! sampai ketemu besok!" suara Obito terdengar nyaring saat meninggalkan meja kerja bersama Konohamaru.
"Sampai berjumpa besok Pinky..., hati-hati di jalan." pria itu menepuk pundak Sakura. "Cinta ada dimana-mana, pastikan matamu bekerja dengan baik." ujar Obito. Sakura langsung melempar salah satu bolpoin Ino ke arah pria itu dan juga Konohamaru yang berlari keluar pintu. Dasar kenak-kanakan...
"Ino, bisakah aku menukar meja kerjaku? terserah dengan siapa saja asalkan jauh dari duo moron itu."
"Tidak bisa." Ino beranjak dari meja kerjanya.
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena itu hanya akan menambah pekerjaan IT." sepertinya kau harus tabah menjalani hari-harimu Sakura...
"Bagaimana jika menukar meja kerja mereka dengan meja Mr. Smitty?" Tenten menghampiri sambil menaikkan kedua alisnya dua kali. Ino tersenyum sedangkan Sakura acuh sambil keluar ruangan.
"Ino, kita mampir ke Supermarket?" tanya Tenten. Mereka berjalan menelusuri taman.
"Ok, aku kehabisan bahan makanan."
Tiba-tiba Sakura menepuk jidadnya.
"Ada apa?" tanya Ino.
"Aku melupakan Naruto, rencananya kita juga akan belanja bersama." Sakura mengeluarkan ponselnya, menatap icon batrei yang begoyang-goyang gemulai menuju daya 10%. Sakura lalu memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku jaket. Ada felling bahwa Naruto dan Hinata akan meluruskan kegalauan mereka malam ini. Lebih baik jangan diganggu.
"Aku ikut kalian saja." Sakura melanjutkan langkahnya.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Naruto? kalian sangat akrab." tanya Ino.
"Dia tetanggaku sejak kecil. Sudah seperti keluarga."
"Apa mr. Smitty tau hal itu?" tanya Tenten.
"Dia tidak ada hubungannya." Shannaro... Sasuke lagi.
"Ya.., siapa tau dia akan salah..." Tenten menghentikan kalimatnya saat tiba-tiba Ino berhenti. Bola mata wanita itu mengikuti sesuatu yang bergerak. Tenten dan Sakura mengarah pada pandangan Ino dan mereka melihat Sasuke sedang berjalan santai bersama Ayame di teras gedung utama.
"Itu Ayame Masayo." ucap Ino. Sakura ingin menanyakan siapa wanita itu sebenarnya tapi dia gengsi.
"Siapa dia?" Ok, ternyata Sakura tidak gengsi.
"Kau tidak tau Ayame Masayo? dia penyanyi pendatang baru yang sedang naik daun. Ada berapa chanel TV yang kau punya?" sindiran yang bagus Tenten...
"Kudengar Ayame akan menyanyikan salah satu soundtrack Greenoch." terang Ino. ketiganya terus memandang ke arah Sasuke dan Ayame yang terlihat akrab itu. Lihat, tangan Ayame menyentuh lengan Sasuke. Apa kau baik-baik saja Sakura?
"Kau baik-baik saja Sakura?" tenten mewakiliku bertanya.
"Tentu saja." emerald Sakura bekerja baik memandang kedua orang itu hingga Sasuke menoleh dan melihat kearah mereka dari kejauhan, khususnya kepala merah muda. Sepertinya Sakura tidak jadi baik-baik saja karena gadis itu langsung mengalihkan pandangan.
"Dia melihat ke sini..." Ino menyikut Sakura dan gadis merah muda itu langsung melangkahkan kakinya terlebih dulu.
'Tetap tenang Sakura..., tetap tenang...' batin yang cukup bergejolak.
"Kau tahu, media pernah menggosipkan Ayame sedang dekat dengan seorang pria. Paparazzi mengatakan pria itu seorang Produser." ujar Tenten sambil membuka pintu mobil Ino. Masih saja membicarakan Ayame... telinga Sakura seakan mengembang seperti popcorn dalam oven.
"Apa menurutmu pria itu Sasuke?" perhatian Sakura langsung terpusat saat Ino menyebut nama Sasuke, padahal Tenten sudah menyebut-nyebut nama produser dari tadi. Sepertinya Sakura butuh air mineral. Loading-nya lambat.
"Tapi menurut kabar gosip studio, Sasuke itu masih single. Tenang saja Pinky..." Sakura merasa aneh saat Tenten menyuruhnya untuk tenang, tapi di saat bersamaan ia juga merasa lega. Lho? Lho?
'Sial apa yang kupikirkan...!' teriak inner Sakura.
"Ino apa semua pegawai baru memang tidak diberi tahu informasi mengenai studio ini secara lengkap? bahkan aku tidak tahu siapa produser film kita, atau kau memang mengerjaiku?" tanya Sakura setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Kau sudah tahu siapa Sasuke?" serempak Ino dan Tenten berbalik, menatap Sakura yang duduk di kursi belakang.
"Ya begitulah..." Sakura mengedikkan bahu.
"Bagaimana cara kau mengetahuinya?" Ino menyeringai dan Sakura meruntuki Ino dalam hati. Sialan...
"Perjalanannya panjang." Sakura malas membahasnya lagi, entah mengapa dia jadi mengingat Hayate si clening service, terutama Ayame.
"Kau ingat sehari sebelum kau masuk kerja?" tanya Ino sambil memasang sabuk pengaman.
"Ya, tapi waktu itu kau tidak melanjutkannya." Sakura mengingat ketika Ino mengajaknya berkeliling unit studio 2D sehari sebelum ia bekerja, sudah setengah perjalanan saat Ino menunjukkan ruang kerja Kakashi, tiba-tiba Sakura pamit berlari menuju toilet. Saat itu dia sedang diare berat. Aneh-aneh saja tapi ini benar-benar terjadi.
"Ada 2000 pegawai di studio ini, tidak semua akan dibawa masuk ke dalam ruang produser... paham? jika kau jadi aku, apa kau akan membawaku masuk ke ruang kerja Sasuke, duduk di sofanya dan bercengkramah santai dengannya?" Ino menghidupkan mesin mobil dan Sakura menggelengkan kepala.
"Saat itu Sasuke sedang di Sunagakure dalam waktu cukup lama, dua minggu. Di mulai saat kau pertama kali masuk kerja." sambung Ino, Sakura masih menyimaknya.
"Tapi setidaknya kau bisa melanjutkan setelah aku keluar dari toilet kan? kau bisa menunjukan ruang kerja Produser kita, aku bahkan pernah salah masuk ke ruang animator 3D." Ok, kalau itu murni kebodohanmu Sakura.
"Kau pikir sudah berapa kali kau masuk toilet huh? aku punya banyak pekerjaan dan menunggumu di depan toilet sangat membuang-buang waktu. Apalagi repot-repot membawamu ke gedung utama, ke ruangan Sasuke." Ino membenarkan kaca spionnya. "Ah... Satu lagi, aku juga bingung kenapa kau tidak memanfaatkan mesin pencarian google untuk mencari tahu Uchiha Sasuke." tiba-tiba Sakura mengingat ucapan Hayate.
'Hanya orang bodoh yang tidak tahu siapa Sasuke-san.' #clening_service_studio_gamabunta.
Ok cukup. Tenten terkekeh, Sakura tidak mau membahasnya lagi dan mobil Ino melaju ke Supermarket.
.
.
"Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?" Ayame meneguk segelas wine, ia dan Sasuke tengah duduk di dalam bar mini, tempat Sasuke biasa meluangkan waktu untuk berpikir ditemani alkohol. Catat! ini bocoran untuk para penggemar Sasuke. Lokasi? masih dirahasiakan.
"Aku sibuk akhir-akhir ini, bertemu banyak orang." Sasuke meneguk minumannya. Batender di hadapan mereka sedang melayani pengunjung lain, bar itu sepi dan suasana di sana remang-remang diiringi musik jazz slow.
"Benarkah?" Ayame melirik sambil tersenyum. "Apa salah satu dari mereka ada yang spesial?" Sasuke tidak menjawab, mungkin saja ia mengingat Sakura tapi kita tahu laki-laki ini susah ditebak.
"Kau bahkan tidak menghadiri acara perilisan albumku." singgung Ayame, sekejap rahang Sasuke mengeras. Keduanya terdiam, melodi musik mengiringi keheningan mereka.
"Sasuke, kupikir kita sudah meluruskan ini. Aku berharap alasanmu tidak datang karena kau..."
"Ayame." potong Sasuke.
"Kau menghindar. Aku tahu, apa menurutmu aku suka jika.."
"Kita pergi sekarang." Sasuke meletakkan gelasnya.
"Akan kubuat ayahku menerimanya. Kuharap aku tidak melukai dua pria disini." ucap Ayame. Sasuke pun langsung berdiri dari bangkunya.
"Kita pergi sekarang Ayame.." Sasuke menatap wanita itu.
Ayame pun menghela nafas. "Baiklah.. tuan Uchiha..." ia berdiri, menepuk pundak Sasuke lalu beranjak keluar bar.
.
.
'Cukup! aku tau kau bercumbu dengannya di toilet wanita!'
'Tidak sayang, aku bersumpah...'
'Kau sudah bersumpah lebih dari seratus kali. Aku yakin lipstick wanita itu masih menempel pada *tiiiit*' cepat lepas celanamu dan tunjukkan padaku!'
'Tidak!'
'Lepas!'
'Tidak!'
'Lepas!'
Sakura merasa siaran radio ini yang paling absurt tapi anehnya Ino dan Tenten serius mendengarnya. Pasangan dalam cerita tersebut masih bertengkar mengisi keheningan di dalam mobil Ino sepulang dari Supermarket. Lima belas menit Sakura bertahan mendengar drama itu sampai akhirnya tangannya menjulur kedepan lalu menekan tombol off.
"Heiii...!" Ino dan Tenten serempak berseru.
"Apa kau tidak pernah belajar etika menghargai hak asasi pendengar?" protes Ino.
"Ini sedang seru-serunya, Pinky!" Tenten hendak menekan tombol play kembali dan Sakura langsung bergerak kedepan untuk menghalangi. Kedua telapak tangannya menutupi tombol itu, di saat bersamaan mobil Ino berhenti di lampu merah.
"Aku tidak mengerti kenapa kalian mendengar cerita bodoh ini." sindir Sakura.
"Apa kau masih seorang gadis manis yang mendengar cerita cinderella? kau harus memperluas pengetahuanmu dengan berfantasi." omel Tenten.
"Kau pikir pelajaran dari mana untuk tidur dengan seorang pri..." Ino menggantungkan kalimat saat pandangannya mengarah pada jendela di samping Tenten. Ekspresinya terpaku. Sakura dan Tenten ikut menoleh ke samping kanan.
"Sasuke?" ucap Tenten, tahu betul pemilik Honda CR-Z hitam itu. Mobil Sasuke kebetulan berhenti di samping mobil Ino. Emerald Sakura langsung terfokus pada Ayame yang duduk di samping Sasuke walau kaca mobil terlihat remang gelap.
Ino pun mengalihkan pandangan ke depan. "Shit! apa itu paparazzi?" ia menunjuk mobil di depan mereka. Seseorang tengah diam-diam mengambil foto Sasuke dan Ayame di balik kaca belakang mobil. Ino bisa melihatnya walau tampak samar-samar.
"Sasuke-san! sasuke-kun!"
Spontan Sakura dan Tenten berseru, mereka melambaikan tangan ke arah Sasuke, pria itu sedang mengobrol dan tidak menyadari kode yang tertuju padanya. Sakura langsung bergerak membuka kaca jendela belakang dan Ino sedikit memajukan mobilnya.
"Sasuke-san! hei...!" Sakura melambai-lambaikan tangan, memperingatkan Sasuke bahwa seseorang sedang menguntit mereka tapi sialnya Sasuke tidak sadar, entah mobilnya itu kedap suara atau bagaimana. Sakura pun mengambil ponsel, hendak menelpon Sasuke tapi sialnya batrei menuju 1% dan off. Shannaro!
"Sasuke, sedang apa wanita itu?" Ayame kebetulan menoleh, ia melihat ke arah Sakura yang melambai-lambaikan tangan seperti tukang parkir pesawat, gadis itu memperagakan orang yang sedang mengambil foto seperti pantonim.
Sasuke pun menoleh, "Sakura?" dan lampu hijau menyala. Double Shannaro!
"Sasuke, lampunya." peringat Ayame, Sasuke langsung mengalihkan pandangan dan menginjak gas. Mobil Ino mengikuti di belakang.
"Apa kita harus mengikuti mereka?" tanya Ino. Terbesit di pikiran Sakura untuk menyelamatkan wajah Sasuke dari majalah gosip dan berita infotainment yang kejelasannya tidak pasti.
"Lakukan Ino!" seru Sakura. Ino langsung memasukkan gigi dua, menginjak gas dan mengejar mobil Sasuke seperti Fast to Farious.
"Apa kalian pikir mobil di belakang kita juga paparazzi?" Ino melihat dari kaca spion, ada mobil sedan hitam yang terus mengikutinya di belakang.
"Sial, dua paparazzi!" Sakura mengamati dari balik jendela, seorang pria membawa kamera lengkap dengan lensa telephoto. Ino langsung menambah kecepatan mobilnya.
"Ino percepat mobilmu!" seru Tenten.
"Aku sedang berusaha! kau pikir mobil Brian Oconner?!" mobil Daihatstu Mira L200 Ino bekerja keras pada kecepatan 80 km/jam. Jelas tidak bisa mengejar Sasuke.
"Itu! Sasuke belok kiri!" Tenten menunjuk ekor mobil Sasuke berbelok ke arah kiri saat melewati perempatan lampu merah. Sementara itu, Sasuke terus melihat kaca spion, heran kenapa mobil Ino mengikutinya.
"Sebenarnya mereka mau kemana?" gumam Ino, "Jika mereka akan pergi ke hotel, itu ide yang paling buruk."
Mobil Sasuke benar-benar berbelok, Tenten langsung menoleh ke belakang, "Sakuraaaaaaaaa...?"
"Sial, mereka menuju hotel!" seru Ino. Sakura terpaku, mengamati mobil Sasuke yang masuk ke area hotel bintang lima.
"Sakura!" bentak Tenten.
"Kenapa kau berteriak?! kau pikir aku harus bagaimana?!" Sakura panik. Mobil paparazzi di depan Ino berhenti di samping jalan, seorang fotografer turun dan berlari masuk area hotel, begitu juga mobil di belakang Ino yang hendak berbelok.
"Lakukan sesuatu Sakura!"
"Aku sedang berpikir!"
'Berpikir Sakura, berpikir!' otak bekerja keras.
"Sial! Ino masuk!" seru Sakura. Ino langsung banting stir.
Mobil mereka berhenti di teras hotel, tepat di belakang mobil Sasuke. Ayame keluar dari mobil saat Sasuke menyerahkan kuncinya pada petugas servis tamu. Tanpa berpikir panjang, Sakura langsung turun dari mobil dan berlari.
"Sasuke!" gadis itu menuju depan pintu masuk. Sasuke menoleh dan...
BLUK!
Sakura langsung menerjang, memeluk Sasuke. Mata Tenten dan Ino spontan melebar, Ayame terkejut dan Sasuke tidak berkutik dengan tindakan yang tiba-tiba itu.
"Sakura..." Sasuke heran dan juga terkejut.
"Sasuke..." Sakura gila, tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah melepas pelukannya. Mobil Ino perlahan berjalan melewati mereka.
"A-aku, aku... me-merindukanmu..." Sakura melepas pelukannya, tidak punya kosakata lain. Kasihan...pikiran buntu. Sasuke hanya memasang ekspresi tidak mengerti.
"Sudah lama sekali kita tidak berjumpa Sasuke-san..." apa? Lama tidak berjumpa? bahkan baru-baru ini kau menguntitnya! Sakura pun menampakkan deretan gigi sambil menepuk bahu Sasuke, matanya mencuri pandang, mencari mobil Ino. Dimana mereka? Oh itu..., mobil Ino melaju keluar area hotel. Loh? hei! kenapa kalian meninggalkan Sakura?!
"Apa yang kau lakukan?" Sasuke menginterupsi runtukan Sakura yang ditujukan kepada Ino dan Tenten dalam hati.
"Sasuke-san sebaiknya kita masuk ke dalam." Sakura merangkul lengan Sasuke dengan mesra. Astaga... jika aku jadi gadis itu mending lompat gedung saja.
"Ehem..." Ayame menekankan keberadaannya.
"Ah, hai..." Sakura tersenyum. "Bisa kita masuk sekarang?" pintanya dengan lembut, Sakura menatap Sasuke seakan mengatakan 'demi apapun, ayo kita masuk ke dalam sekarang!'
"Ino, apa ini ide yang baik meninggalkan Sakura?" tanya Tenten, Ino sejenak menepikan mobilnya setelah keluar dari wilayah hotel.
"Kau pikir dia bisa keluar dari lingkaran paparazzi itu sekarang? jika Sakura pergi dari tempat itu, dia hanya akan terlihat seperti maniak yang ingin memeluk Sasuke."
"Kau benar." Tenten mengangguk.
"Biarkan Sasuke yang mengurusnya. Kita tunggu cerita Sakura besok." Mobil Ino pun melaju pergi.
Good luck Sakura.
.
.
Manager Ayame menyambut mereka di lobi hotel, Sakura masih setia merangkul lengan Sasuke, ia terlihat seperti maniak tapi aktingnya harus tetap berlanjut. Tidak bisa dijamin para paparazzi itu sudah menghilang, pekerjaan mereka adalah menguntit dan mereka profesional. Sasuke meminta Ayame dan managernya menuju tempat pertemuan terlebih dahulu, pria itu lalu membawa Sakura menuju tepi kolam renang.
"Apa yang terjadi?" tanya Sasuke begitu Sakura melepas rangkulannya. Sakura menarik nafas panjang, memastikan jantungnya masih berkerja dengan baik.
"Kau mungkin menganggapku gila.., tapi paparazzi sedang mengikuti kalian berdua Sasuke-san." keduanya berharapan dalam jarak begitu dekat, bahkan Sakura menyentuh lengan Sasuke saat berbicara, aktingnya terus berlanjut.
"Paparazzi?" Sasuke menautkan alisnya.
"Em.., " Sakura mengangguk, "Mereka mengikuti kalian sejak tadi, kami menyadarinya saat mereka mengambil beberapa foto di lampu merah. Kami sudah memperingatkmu tapi sepertinya kau terlalu fokus pada..." Sakura menggantungkan kalimatnya.
"Pada apa?" tanya Sasuke,
"Pada..., lingkungan sekitar." Sakura ingin menyebut nama Ayame tapi entah kenapa mulutnya mengganti kosa kata lain, ia mengalihkan tatapan ke kolam renang, menghindari onyx Sasuke.
"Kau akan menjelaskannya nanti. Aku ada urusan sekarang." Sasuke hendak beranjak. Sakura pun mendekat dan merapikan rambut pria itu, tangannya bahkan gemetaran. Sasuke cukup terkejut pada perlakuan itu tapi ia menyimpannya di balik wajah datar.
"Sasuke-san..."
"Apa?"
"Aku tidak bisa pulang." hening dua detik. "Tasku tertinggal di mobil Ino, dan aku tidak membawa apapun saat ini." Sakura menampakkan deretan giginya.
"Kemana wanita tadi Sasuke?" tanya Ayame setelah Sasuke masuk ke ruang pertemuan dan duduk di sampingnya. Mereka dan beberapa pihak dari devisi sound studio Gamabunta akan mengadakan briefing untuk rekaman para penyanyi soundtrack film Greenoch bersama perwakilan orkestra.
"Aa, dia melakukan urusannya." jawab Sasuke, urusan apa Sasuke? mencari jalan pulang atau terjun ke kolam?
"Teman dekat?" Ayame berbisik sambil tersenyum, wanita itu tampak penasaran. Sasuke tidak menjawab dan briefing dimulai.
.
.
Sakura tidak mengerti kenapa Sasuke pelit meminjamkan uangnya untuk naik taksi. Pria itu hanya memintanya untuk menunggu dan sekarang Sakura duduk di tepi kolam renang ditemani secangkir cokelat panas sambil merenung aksi nekadnya tadi. Sebelumnya, Sasuke menawarkan untuk memesan kamar hotel tapi Sakura menolaknya mentah-mentah. Gadis itu menghindari dan mengantisipasi jika nanti kejadian tidur di kamar hotel bersama terulang kembali, karena itu akan merusak mentalnya. Diperjelas, mental hatinya.
"Hei..."
Beberapa jam kemudian, Sasuke membangunkan Sakura yang terlelap di bangku kolam renang. Entah mengapa gadis itu bisa tidur di sembarang tempat, padahal cuaca di luar lumayan dingin. Sasuke lalu berjongkok di samping Sakura, memandang kepolosan wajah si Pinky beberapa detik. Lelap sekali ya..., Sasuke pun menyentil kening gadis itu dengan sekali hentakan.
"Hah.., apa?! ada apa?"
Sakura terperanjat bangun, ekspresinya bingung apalagi saat menoleh dan melihat wajah Sasuke, gadis itu tersentak kaget dan langsung mengelus dada. Sasuke menyeringai tipis melihat respon itu.
"Ayo pulang." ajak Sasuke, ia masih berjongkok di samping Sakura yang tengah mengusap dahinya, tidak mengerti kenapa jidadnya perih. Serangga mana yang sudah menabrak jidad lebarnya.
"Aku ketiduran. Jam berapa Sekarang." Sakura masih mengumpulkan nyawa.
"Jam sepuluh." Sasuke berdiri lalu beranjak dari tepi kolam. Ia pun berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang, "Kau mau tidur di sini?" ia melangkah pergi. Sakura masih terdiam di tempat sambil memandang pria itu, tiga detik melamun hingga ia tersadar dan langsung bergegas.
"Tunggu aku!"
.
.
"Sudah makan malam?" Sasuke memecah keheningan saat mobilnya melaju kencang menuju apartemen Sakura.
"Belum." Sakura memandang tepi jalanan, sudah sejak tadi posisinya seperti itu, sepertinya ia gugup dengan sosok pengemudi di sampingnya.
"Kau ingin makan apa?" Sasuke melirik Sakura, gadis itu tidak mendengar atau pura-pura tuli?
"Sakura..."
"Ah, ada apa? kenapa?" akhirnya menoleh.
"Kau ingin makan apa?"
"Kau lapar? aku tidak punya bahan makanan di kulkas." Sakura tidak nyambung tapi Sasuke memakluminya.
"Kita makan malam di luar." ajak Sasuke. "Kau ingin makan apa"
"Em, terserah kau saja." Sakura kembali memandang tepi jalan. Grogi tingkat tinggi.
"Kau yang tentukan." pinta Sasuke. Sakura pun memikirkan makanan apa yang bisa mengisi kekosongan perutnya.
.
.
"Ittadakimasssssu!"
Satu porsi teriyaki tersaji di hadapan Sakura. Gadis itu mengangkat sumpit dan siap melahapnya. Setelah berputar-putar..., akhirnya mereka singgah di kedai makanan yang terletak di pinggir jalan. Banyak restoran yang sudah tutup sehingga mereka memilih apa yang ada. Sasuke menuruti keputusan si merah muda ketika memilih kedai itu, tipe pria yang tidak banyak menuntut. Ok, lagipula siapa yang mau menuntut orang yang bahagia melahap sepiring teriyaki?
"Kau tidak makan nasi Sasuke-san?" Sakura hanya melihat Sasuke melahap ikannya, pria itu tidak memesan nasi.
"Aku tidak begitu lapar." Sasuke menyeruput ocha hangat pesananya lalu meletakkan gelas dan memandang Sakura. "Jadi, bisa kau jelaskan alasan kenapa kau bersikap aneh?" tanya pria itu kemudian.
DEG! jantung Sakura langsung berdegup satu kali hentakan. "Aneh bagaimana?"
"Berlari dan memelukku."
Sakura langsung tersedak.
"Pa-Paparazzi Sasuke-san.." gadis itu menelan nasinya baik-baik lalu meneguk air putih.
"Aku tanya, tujuan kau melakukannya." Sasuke memperjelas maksudnya, mungkin saja ia paham alasannya tapi pria ini ingin mendengar penjelasan langsung dari Sakura.
"Mereka bisa menggosipkanmu dengan Ayame..., membuat berita yang tidak-tidak. Kemunculanku mungkin bisa menutupi kecurigaan mereka." terang gadis itu. Sasuke hanya menatap datar Sakura. Mungkin sedang memikirkan sesuatu tapi pikirannya sulit dibaca.
"Kau melakukannya untukku?" tanya Sasuke.
Sakura pun tersedak lagi.
"A-aku! Sasuke-san..., aku..." bingung mau menjawab apa. "Naluri kebajikan setiap insan manusia bisa bekerja tanpa diperintah." jawaban yang sangat heroic dan entah kenapa Sasuke seperti menahan seringainya.
"Kau melakukan sesuatu di luar dugaan." pria itu meletakkan gelasnya dan menatap Sakura secara intens. Mari kita lihat Sakura, apakah gadis itu tersedak lagi? benar... dia tersedak lagi! cukup Sasuke! kasihani dia!
"Bisakah kau tidak menatapku seperti itu Sasuke-san?" protes Sakura.
"Kenapa?" sepertinya Sasuke tidak sadar kalau tatapannya itu mematikan setiap individu. Apalagi wanita.
"Karena..., karena itu..."
BRAK!
Sakura menggebrak meja. Semua pengunjung serontak menoleh padanya, termasuk paman pemilik kedai yang tengah membersihkan meja. Sakura pun mengangkat mangkuk nasi dan melahapnya dengan ganas. Gadis itu tidak sabar menunggu hari esok untuk mengikuti kelas yoga. Rohaninya meminta bantuan.
.
.
Sasuke langsung membawa mobilnya menuju parkiran basement setelah melihat Sakura tewas tidak sadarkan diri. Membangunkan Sakura setelah makan malam akan membutuhkan sedikit usaha keras dan Sasuke tidak mau mobilnya berhenti lama di depan gedung apartemen.
"Hei..."
Benar..., untuk kesekian kalinya Sasuke berusaha membangunkan gadis itu. Sakura hanya menggeliat sambil bergumam 'tungu sebentar' entah apa yang sedang ditunggu di mimpinya. Sasuke memandang wajah yang tampak kelelahan itu. Bagaimana tidak? Sakura sudah hiper aktif beberapa hari belakangan ini. Dimulai dari berpikir keras menyangkal segala bayang-bayang Sasuke..., menguntit Sasuke..., dan mengejar Sasuke dari para penguntit paparazzi. Ini adalah minggu menguntit untuk Haruno Sakura.
Sasuke pun menyandarkan punggung pada sandaran bangku kemudi, ia mengurut kening hingga pelipis matanya. Pria itu juga lelah, tapi tentu saja bukan karena menguntit, ini karena pekerjaan dan... mungkin beberapa hal yang menggangu pikirannya. Sasuke lalu menoleh dan memandang Sakura kembali, kemudian ia menyandarkan kepala dan ikut memejamkan mata.
.
.
Keesokan harinya.
"Hai..." Ino dan Tenten menampakkan deretan gigi di hadapan Sakura, gadis merah muda itu berkacak pinggang di depan pintu Sport center ruang Yoga. Padangan Sakura sinis seperti mengatakan 'kenapa kalian berdua meninggalkanku di hotel tadi malam?'
"Kau tahu betul... kau tidak bisa meninggalkan Sasuke dan Ayame begitu saja sementara paparazzi sedang mengincar kalian." Ino bersedekap dan menatap Sakura. Tenten hanya memasang senyum manis.
"Lalu kalian meninggalkanku?" Sakura mengangkat tinggi sebelah alisnya.
"Ya..., kami pikir kau sudah berada di tangan yang tepat. Sasuke tidak akan menelantarkanmu." Ino menyeringai. Sakura pun menyerah, ia mengedikkan bahu lalu masuk ke ruang yoga.
'Lupakan...'
"Ceritakan pada kami apa yang terjadi setelah itu?" Tenten mulai mengintrogasi.
"Kau pikir apa? tentu saja berakting. Aku seperti seorang maniak." Sakura bergerak melakukan pemanasan.
"Ya. kau seorang maniak yang handal. Semoga Sasuke tertolong dari acara gossip murahan." Tenten membungkukkan kepala kedepan dan dagunya menyentuh dada.
"Apa kau juga mencium Sasuke setelah itu?" Ino merentangkan tangan ke depan dan membungkuk.
"Aku tidak segila itu." Sakura menatap Ino. Mencium Sasuke? sakura tidak akan datang ke kelas yoga pagi ini jika dia melakukan itu.
"Apa yang mereka lakukan di hotel?" Tanya Ino lagi, ia merentangkan tangan sejajar bahu lalu miring menyentuh kaki kirinya.
"Mereka brefing untuk soundtrack film Greenoch." jawab Sakura.
"Jadi kau menunggunya disana? Sasuke mengantarmu pulang setelah itu kan?"
"Tentu saja, bahkan aku tidak punya satu yen di tanganku. Hei, kalian membawa tasku kan?"
"Ya aku membawanya." jawab Ino.
"Apa Sasuke mampir ke apartemenmu?" Tenten sudah seperti komplotan Paparazzi kemarin.
"Tidak, dia hanya mengantarku sampai depan gedung apartemen." Sakura berbohong, mana mungkin ia mengatakan bahwa semalam mereka berakhir tidur di dalam mobil sampai Naruto pulang ke apartemen, memakirkan mobilnya ke basement, lalu mendapati sosok Sasuke dan Sakura yang tengah tertidur pulas. Untung saja Naruto membangunkan mereka. Jika tidak, yah bayangkan sendiri...
"Kuharap wajahmu tidak keluar di salah satu situs media gossip." ucap Ino, di saat bersamaan pintu ruang yoga terbuka, munculah sosok wanita cantik dengan tubuh montok berjalan anggun sambil menyapa para peserta yoga.
"Wow..." Sakura mengamati wanita itu, sangat mencolok terutama dadanya. Sakura tidak berkedip memandang dada yang memantul bebas 3,5 inches setiap wanita itu melangkah. Mungkin jika wanita itu berlari payudaranya bisa memantul sejauh 157 yard dan Sakura takjub saat membayangkan hal itu seakan baru pertama kali melihat keajaiban payudara seorang wanita.
"Hei..." lamunan Sakura pecah saat Ino dan Tenten serempak menyolek payudara Sakura secara bersamaan. Gadis itu langsung menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.
"Apa itu instruktur yoga?" bisik Sakura pada Ino.
"Ya, dia Nona Tsunade."
"Kau yakin ini kelas yoga?" Sakura merasa ruangan ini lebih cocok sebagai tempat pelatihan mempebesar payudara.
"Ya begitulah..., kau bisa meminta tips darinya untuk memperbesar punyamu." Ino menunjuk payudara Sakura yang ukurannya standar itu.
"Namaste..." Tsunade tersenyum sambil menyatukan telapak tangannya. Kelas yoga dimulai.
Tubuh adalah keadaan syaraf. Syaraf adalah saluran ekspresi diri, dan ekspresi Sakura saat ini tenang walau sebenarnya ia tengah bergelut dengan pikiran yang tidak mau singkron. Mereka sedang melakukan sikap duduk asana dengan pose teratai, bersila dan meletakkan tangan di atas paha dekat sendi lutut. Sakura sedang bermeditasi, sosoknya fokus bak biksu di pegunungan Tibet. pikirannya hanyut, ia harus bisa mengontrol tubuhnya yang akhir-akhir ini tidak bisa dikendalikan oleh pikiran, apalagi saat dia berada di dekat Sasuke.
Apa?
Sasuke
Sial! fokus...fokus...fokus..., Sakura menarik nafas dalam, berusaha bernafas secara teratur, kedua matanya masih terpejam, dalam...dalam... dan dalam... pikirannya memusat ke satu titik.
Hitam.
Titik bundar dan kelam. Hei... titik itu familiar. Titik yang mengganggunya akhir-akhir ini. Titik itu tajam seakan memancarkan sejuta pesona jagat raya. Sakura seakan tertarik ke arahnya. Perlahan dan perlahan... titik itu kian membesar dan merubah menjadi... onyx Sasuke.
Shannaro..
Keringat mulai bercucuran di dahi lebar Sakura, sepertinya yoga kali ini tidak akan berhasil.
"Permisi Tsunade-sama.." Sakura menghampiri Tsunade begitu yoga berakhir. Tenten dan Ino sudah menuju barbell untuk memperkecil lengan mereka.
"Haruno Sakura." Sakura menjabat tangan Tsunade, wanita itu tersenyum ramah pada Sakura walau auranya tegas.
"Apa yang mengganggumu?" Tsunade seperti bisa membaca pikiran orang dari raut wajahnya. Raut wajah Sakura saat ini seperti orang kewalahan.
"Apa ada gerakan yoga yang mempunyai manfaat untuk membuat kita melupakan sesuatu?" tanya Sakura, sesekali ia melirik dada Tsunade yang menakjubkan itu.
"Melupakan apa? seseorang?" sial... Tsunade memang ahlinya.
"Ya begitulah..." Sakura mengangguk.
"Jangan berusaha mengelaknya. Biarkan saja mengalir." Tangan Tsunade bergerak seperti arus air. Sakura memperhatikan tapi ia tidak begitu yakin. Ini seperti mengarah ke Utakata atau Sasuke?
"Semua yang mengganggumu hanya dikarenakan satu hal." Tsunade menggantungkan kalimatnya.
"Apa itu?" tanya Sakura.
"Kesiapanmu menghadapinya." Tsunade tersenyum dan Sakura resmi mengangkat wanita itu sebagai guru spiritualnya.
.
.
Ssssssssshhhhhhh...
Suara air hangat yang keluar dari shower sport center membasahi tubuh Sakura. Gadis itu sedang menikmati air yang menyentuh seluruh sel kulitnya. Nyaman. Air adalah sahabat terbaik untuk merelaksasi pikiran. Wajah Sakura mengadah ke atas. Air menerpa kulit wajahnya. Seperti biasa. Sosok Sasuke melintas di pikiran. Sakura mungkin mulai menyerah, membiarkan sosok itu menetap pada bayang-banyang. Ya.., seperti itu Sakura... biarkan semua mengalir seperti apa adanya. Seperti air... walau ia akan bermuara melewati selokan, pada akhirnya ia akan menemukan samudranya.
'Cinta tidak bisa dilawan.'
Sebuah bisikan terdengar di benak Sakura, gadis itu langsung mematikan kran air, menatap kran shower sejenak.
Uchiha Sasuke.
Ya..., pria itu sudah menganggu ketenangannya.
.
.
L... is for the way you look at me
O... is for the only one I see
V... is very, very extraordinary
E... is even more than anyone that you adore
Sakura tidak mengerti mengapa radio gamabunta memutar lagu Nat King Cole berjudul Love pagi-pagi bolong seperti ini, gadis itu sedang berdiri di depan kafetaria, menunggu Izumo menyiapkan pesanannya sambil harus mendengar Nat King Cole memperjelas definisi setiap huruf dari kata cinta.
"Satu vanilla latte..." Izumo menunggu kata magic Sakura sambil tersenyum ramah seperti biasa. Sepertinya Genma akan kalah pamor mulai sekarang.
"Kau tahu kata magic yang cocok untukku?" Sakura sedang tidak mau berpikir mencari kata magic.
"Jatuh Cinta." Izumo mengatakannya sambil melihat ke arah lain. Sasuke kebetulan melintas. Sakura menoleh dan emerald-nya langsung tertuju pada pria itu. Sasuke sedang berjalan bersama Ayame diiringi beberapa orang yang mengikuti mereka di belakang.
"Berikan kopinya padaku Izumo-san." pinta Sakura, entah apa yang membuat mood-nya sedikit tidak senang.
"Kau setuju dengan kata magic-nya?" Izumo mungkin belum pernah terkena tinju Sakura.
"Ya, aku menyetujuinya." Sakura tidak punya pilihan lain.
"Baiklah nona Sakura..." Izumo menyerahkan kopi itu.
"Hei...darimana kau tahu namaku?" tanya Sakura.
"Dari para pegawai. Mereka menyebut-nyebut namamu pagi ini. Dan..." Izumo memperlihatkan ponsel-nya sambil tersenyum. Sekejap mata Sakura langsung melebar.
Shannaro!
"Ini untukmu!" Sakura menyerahkan vanilla latte miliknya pada Izumo dan berlari dengan kecepatan penuh menuju ruang devisi Background 2D.
Sementara itu...
Obito tersedak minumannya saat melihat sesuatu yang ditunjukkan Konohamaru dari layar komputernya. Begitu pula dengan Tenten yang serius menatap layar komputer di meja kerja Ino, kedua gadis itu saling memandang penuh tanya.
Di ruang concept art 3D - "Garaa..." Deidara menunjukkan sesuatu dari layar komputernya. Garaa hanya memandang apa yang ditunjukkan padanya dalam ketenangan.
Di dalam ruang layout 2D - "Cih..." Karin berdecih saat melihat layar monitornya bersama para artist wanita yang berkerumun di belakangnya. Di sisi lain Sai hanya tersenyum di samping Lee yang tengah terpaku memandang layar komputer.
Ruang general manager 2D - "Yare..Yare..." Kakashi menyadarkan punggung pada kursi kerja sambil memandang layar komputer miliknya.
Ruang animator 2D - "Apa yang sedang kalihan lihat?" Naruto menghampiri para animator yang asik berkumpul di salah satu meja kerja artist. Mata Naruto melebar saat ia melihat ke arah layar komputer.
Di lain tempat - Konan tersenyum sambil melihat layar tablet-nya. Wanita itu sedang menunggu Kenji di taman kanak-kanak.
Pepatah mengatakan... Jika kepintaran tak mampu mengelabui banyak orang, maka bingungkanlah mereka dengan kebodohanmu.
Pepatah itu terniang di dalam kepala Sakura saat ini. Langkah kakinya yang memburu spontan berhenti ketika ia berpapasan dengan rombongan Sasuke. Emerald bertemu onyx. Keduanya seakan berbicara dalam kebisuan. Ayame yang berdiri di samping Sasuke tersenyum tipis. Sakura pun mengangguk dan melanjutkan langkahnya, melewati rombongan Sasuke dengan jantung berdebar. Alam selalu mempunyai cara mengejutkan seseorang.
