Disclaimer: "I don't own all characters in here. They are belongs to them selves. If I can, I would do it ! xD I don't own the story. The original story made by Guiyeon. I just insipired by her story. I make no money from this—please don't sue me. "

Title: SHINE

Based on manhwa: "That Guy Was Splendid" by Guiyeon

Author : blackorange aka nda
Rating : T

Main Casts: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin

Other Casts: Shirota Yuu, TOP, Tiffanny, Jessica

Genre : AU, crack, romance, fluff, humor, school life.
Length this chapter : 18 pages MsW


"Twelve: Untold"

Salah satu sudut bibirnya terangkat hingga membentuk sebuah seringaian ketika ia melihat laki-laki berambut blonde itu mengerutkan wajah dan mengerucutkan bibirnya karena kesal. Sudah dua hari berlalu sejak Jaejoong kembali padanya dan pembalasan dendam yang ia lakukan pada Jaejoong sudah cukup membuat Yunho tersenyum puas melihat wajah cantik itu mengerut kesal karenanya.

Surely, Jaejoong is the cutest one.

"Kau ini benar-benar sangat menyebalkan dan merepotkan seperti bocah!" Jaejoong beringsut kesal sambil meletakan kotak kecil berisi sepotong blueberry cheese cream cake ke atas meja nakas di samping tempat tidur Yunho. Nafasnya terdengar naik turun tidak teratur, bahkan keringat mulai nampak di balik poni pirang yang menutupi keningnya ketika ia harus berlari agar tiba di rumah sakit tepat waktu.

Manik mata hitamnya menatap tajam Yunho yang hanya tersenyum menyeringai padanya. Ia menggertakkan gigi sebal dan rasanya ia ingin menghapus seringaian menyebalkan itu dengan kepalan tangannya.

Sudah dua hari ini Jaejoong HARUS (wajib) datang ke rumah sakit untuk menjenguk Yunho tepat pukul 03.00PM setelah ia pulang dari sekolahnya pukul 02.30PM dengan persyaratan yang begitu menyebalkan. Ia tidak boleh datang terlambat, bahkan ia harus membawakan Yunho sesuatu yang membuatnya mau tidak mau harus berlari dan mengeluarkan uang lebih untuk membelikan Yunho sesuatu.

Kalau ia datang terlambat dan tidak membawakan sesuatu untuknya, Yunho tidak akan menginzinkan Jaejoong pulang lalu akan membawanya ke kediaman Jung dan tidak akan membebaskannya untuk selamanya. Jaejoong tertawa keras ketika mendengar ancaman Yunho yang terdengar lucu di kedua teliganya. Ia pikir Yunho hanya bercanda, namun ekspresi datar dan tatapan matanya yang tajam itu cukup membuat Jaejoong bergidig ngeri jika Yunho benar-benar serius dengan ucapannya.

Kau tahu, Yunho selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan.

"Kau terlambat satu menit." Ucap Yunho tidak menanggapi ucapan Jaejoong sambil mengangkat kedua bahunya tidak peduli.

Jaejoong membelalakan matanya horror mendengar pernyataan Yunho, "APA?! Kau tidak serius 'kan?!" lengking Jaejoong panik. Ia memeriksa jam di ponsel Samsung Galaxy Ace nya lalu mengerang kesal ketika melihat angka 02.58PM di layarnya. Ia tidak terlambat, bahkan ia masih memiliki sisa waktu 2 menit.

"Jangan menipuku, Jung Yunho!" Jaejoong menunjukkan ponselnya ke hadapan wajah Yunho.

Manik mata coklat Yunho menatap ponsel yang di tunjukkan padanya. Ia mendengus pelan melihat jam di ponsel Jaejoong, namun setelahnya ia mengerang kesal ketika menyadari Jaejoong tidak memakai ponsel yang ia berikan padanya.

"Tapi jam ku menunjukkan pukul 03.02PM!" balas Yunho tidak mau kalah. " –dan kenapa kau tidak memakai ponsel yang kuberikan padamu?!"

Jaejoong memutar kedua bola matanya jengkel. "That's your clock, not mine!" jawab Jaejoong berusaha sabar menghadapi sikap Yunho yang sekarang benar-benar terlihat seperti bocah menyebalkan dengan segala alasan irasional untuk bisa 'menculik' nya. " –dan mengenai ponselmu itu, aku sudah menjualnya." Lanjut Jaejoong mendengus pelan. Ucapan Jaejoong tadi cukup membuat Yunho membelalakan matanya terkejut.

"Kenapa kau menjualnya?! Kalau kau butuh uang, aku bisa memberikannya padamu!"

"Ya! Apa aku terlihat seperti seseorang yang matre dimatamu?!"

"Kalau begitu, kenapa kau menjualnya?!"

"Iisshh! Aku tidak menjualnya! Astaga! Take a joke, will ya?!"

"Kalau kau tidak menjualnya, kenapa kau tidak memakainya?! Kau ini benar-benar cari mati, hah?!"

"Haish! Berhenti mengatakan 'mati' padaku!"

"Ok stop! Seriously, guys! Kalian ini benar-benar terlihat seperti pasangan bodoh yang tidak ada habisnya. Apa yang kalian ributkan itu sungguh tidaklah penting! Just do make up kiss already and stop with those nonsense things! Teriakan kalian sungguh mengganggu!"

Suara husky Yoochun menghentikan adu argumen pasangan itu. Yunho dan Jaejoong menolehkan kepala menatap Yoochun yang duduk di atas sofa krem sambil membaca komik Bleach. Jaejoong mengerjapkan matanya ketika ia tidak menyadari kalau Yoochun sedari tadi ada di dalam kamar inap Yunho ketika perhatiannya hanya tertuju pada laki-laki bar-bar itu.

Yoochun mendengus kesal ketika waktu bersantainya terganggu karena suara teriakan Yunho dan Jaejoong. Ia memutar kedua bola matanya tidak percaya dengan apa yang mereka ributkan. Ia sampai merasa 'gerah' ketika mendengarnya.

"Apa yang kau bawa?" tanya Yunho pada Jaejoong tidak mempedulikan Yoochun. Manik mata coklat hazelnut nya kembali bergerak menatap Jaejoong. Jaejoong pun kembali menolehkan kepalanya menatap wajah tampan Yunho. Jaejoong tersenyum lebar ketika ia ingat apa yang ia bawa untuk Yunho dan seolah lupa dengan adu argumen yang baru mereka lakukan beberapa detik lalu.

"Aku membawakan cheese cake spesial untukmu. Kau tahu, kue ini adalah icon toko pastry yang terkenal di Gangnam." Ucap Jaejoong bangga sambil membuka kotak kecil itu lalu menunjukkannya pada Yunho. Ia tersenyum semakin lebar dan berharap Yunho menyukai apa yang ia bawa untuknya.

Yoochun hanya mendengus sebal ketika ia benar-benar tidak dianggap oleh keduanya seperti angin lalu. Well yah.. ia juga tidak peduli dengan pasangan bodoh itu kalau saja mereka tidak berisik. Ia meneruskan kembali kegiatan membaca komik Bleach nya dan membiarkan pasangan itu berada di dunia mereka sendiri.

"Aku tidak suka kue."

Ucapan datar Yunho membuat Jaejoong hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia terdiam sambil menatap wajah tanpa ekspresi Yunho tanpa mengerjapkan mata barang sedetikpun. Ia merasa ada yang salah dengan pendengarannya.

"Kau –apa?!"

"Sudah kubilang, aku tidak suka makanan manis."

"Kapan kau mengatakan itu padaku?!"

"Seharusnya kau tahu apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka."

"Ya! Kau pikir aku bisa membaca apa yang ada di dalam otakmu?!"

"Aish! Seharusnya kau sudah mengetahui segala hal tentang diriku!"

"Memangnya kau siapa sampai aku harus mengetahui segala sesuatu tentangmu, hah?!"

"Aku Jung Yunho!"

Jawaban egois Yunho membuat Jaejoong memutar kedua bola matanya sebal. Ia menutup kembali kotak kue yang tadi dibukanya. Sikap Yunho yang semakin egois, kekanak-kanakan, dan menyebalkan itu sudah cukup membuat seluruh uratnya menegang menahan kesal.

"Kalau kau memang tidak suka, setidaknya kau bisa berpura-pura suka dan mengucapkan terimakasih padaku karena sudah membawakan kue mahal untukmu! Kau tahu berapa uang yang harus ku keluarkan hanya untuk sepotong kue ini?!"

"Kalau aku tidak suka, kenapa harus memaksakan diri untuk menyukainya?"

"Haish! Kau ini benar-benar sulit dipercaya! Kau bilang padaku, apapun yang kubawa, kau akan menyukainya. Sekarang apa yang baru saja kau katakan padaku?"

"Mau bagaimana lagi? Aku tidak suka makanan manis."

"Kalau begitu, dibuang saja kalau kau tidak suka!" ucap Jaejoong semakin kesal sambil membawa kotak kue itu dan hendak membuangnya ke dalam tempat sampah. Ia bahkan sampai merasa tidak berselera untuk memakannya sendiri. Ia sudah menginjak tempat sampah itu hingga tutupnya terbuka ketika tangan Yoochun tiba-tiba saja menahan Jaejoong untuk tidak membuang kue malang itu.

"Oh demi Tuhan, kalian sungguh terlihat konyol. Kalau kalian berdua bertengkar hanya karena sepotong kue, berikan saja kue itu padaku. Aku tidak keberatan untuk memakannya." Ucap Yoochun sambil mengambil kotak kue dari tangan Jaejoong. Manik mata hitam Jaejoong menatap Yoochun yang sedang tersenyum menyeringai padanya, lalu menghembuskan nafas sambil memberikan kotak kue itu pada Yoochun.

"Baiklah, untukmu saja. Setidaknya, uang 5000 won ku tidak terbuang sia-sia." ucap Jaejoong sambil melirik Yunho tajam dari sudut mata bermaksud menyindirnya.

Yoochun terkekeh pelan ketika kotak kue itu sudah ada di tangannya. Ia tahu, kue yang di bawa Jaejoong adalah cheese cake dari toko pastry yang sangat terkenal di daerah Gangnam. Dari gosip yang beredar, siapa saja yang memakan kue itu, mereka seperti melayang terbang ke surga ketika memakan sesendok potongannya. Well, Yoochun memang termasuk orang yang tidak terlalu suka makanan manis, tapi bukan berarti ia juga tidak suka makanan manis. Kalau ada yang gratis, kenapa tidak?

"Hey Yoochun ah, kemarilah." Panggil Yunho sambil menggerakkan jari telunjuk kanan mengindikasikan pada Yoochun untuk mendekatinya ketika melihat Jaejoong memberikan kotak kue itu pada Yoochun.

Yoochun menolehkan kepalanya dan berjalan mendekati tempat tidur Yunho dengan komik berada di tangan kiri dan kotak kue berada di tangan kanan. Ia sudah berdiri di samping tempat tidur Yunho dan menunggu leader nya untuk mengatakan apa yang ia inginkan darinya ketika tiba-tiba saja kotak kue yang di pegangnya di rebut oleh Yunho.

"Mwoya?!" Yoochun terkejut ketika kotak kue itu kini sudah berpindah tangan.

"Kue ini dibeli untukku, bukan untukmu."

"Ta –tapi, kau tadi bilang tidak suka makanan manis." Yoochun berargumen berusaha mengambil kembali kuenya.

"Lalu kenapa? Aku bisa menyimpannya dan tidak perlu memakannya."

"Kau ini gila?! Kalau kau hanya menyimpannya, kuenya akan berjamur!" Yoochun mengerang pelan ketika mendengarnya.

"Aku tidak peduli, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan dengan kueku."

Jawaban asal Yunho membuat Jaejoong tertawa keras karenanya. Ia sampai menutupi bibir dengan punggung tangan kanannya untuk menahan suara tawa yang begitu lepas ketika melihat tingkah Yunho. Ia benar-benar dibuat takjub dengan sikap dan sifat Yunho yang sangat kekanak-kanakan.

"Bilangnya tidak suka, tapi begitu diambil orang lain, kau mengambilnya lagi. Tsk~ dasar bocah." ucap Jaejoong berdecak pelan sambil duduk di atas sofa krem dan tersenyum menyeringai pada Yunho. Ia menaikkan sebelah alis mata sambil melipat kedua tangan di depan dada seolah menantang Yunho untuk membalas ucapannya. Namun ia hanya mendapatkan tatapan tajam darinya ketika Yunho tidak berkutik untuk membalas.

Surely, Yunho is the cutest one.

"Keluarlah, Yoochun." Suara baritone Yunho membuat Yoochun menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

"You jerk! Setelah merebut kueku, sekarang kau menyuruhku untuk keluar? Tsk~ you are really something."

"Aku tidak akan mengulang ucapanku, Park Yoochun." Desis Yunho menatap tajam Yoochun.

"Shi~ro~ aku tahu kalian akan melakukan 'ini' 'itu' jika aku keluar dari sini. Oh come on man, you are not in best condition. Maybe, Jaejoong can not be satisfied with your current state? Patient is the key, man." Ucap Yoochun tersenyum menyeringai pada Yunho kemudian menolehkan kepala menatap Jaejoong lalu mengedipkan sebelah mata padanya.

"YA!" keduanya berteriak ketika mendengar ucapan Yoochun. Jaejoong berteriak karena ia merasa malu dengan apa yang dikatakan Yoochun, sedangkan Yunho berteriak karena Yoochun mengedipkan sebelah matanya pada Jaejoong.

"Just get the hell out from here." Desis Yunho berbahaya dengan nada suara yang begitu mengerikan hingga mampu membuat bulu kuduk Jaejoong berdiri karenanya. Ia bahkan ingin ikut untuk keluar dari sana dan tidak ingin terjebak berdua saja dengan seorang Jung Yunho.

"Ok." Jawab Yoochun langsung menurut ketika ia mendengar nada suara itu. Tidak seharusnya ia membuat gara-gara dengan Yunho, tapi ia sungguh tidak tahan untuk tidak menggoda leader nya. Tanpa banyak kata lagi, Yoochun langsung keluar dari kamar inap Yunho dan meninggalkan Jaejoong sendiri di dalamnya.

"Be careful, Jaejoongie~" ucap Yoochun terkekeh sebelum akhirnya ia benar-benar keluar dari sana.

Ucapan Yoochun membuat Jaejoong hanya bisa menelan ludahnya perlahan. Ia menatap pintu kayu itu menutup dengan perlahan hingga akhirnya ia benar-benar berdua saja dengan Yunho.

Hening.

"Kunci pintunya." Suara baritone Yunho menyadarkan Jaejoong dari lamunannya. Ia menolehkan kepala menatap wajah serius Yunho.

"Apa? Kenapa harus menguncinya?" tanya Jaejoong sedikit panik ketika Yunho menyuruhnya mengunci pintu yang artinya, tidak akan ada seorang pun yang bisa menolong jika terjadi sesuatu padanya.

"Apa kau ingin Yoochun kembali masuk dan mengganggumu, he?" tanya Yunho dari tempat tidurnya.

Jaejoong terdiam memikirkan ucapan Yunho. Memang benar apa yang di katakan Yunho padanya. Semenjak kejadian 'nekat' yang ia lakukan dua hari lalu itu, Yoochun selalu saja mengganggu dan menggodanya. Yoochun seperti radio tua yang konslet karena rusak dan membuatnya kembali terlihat seperti Park Yoochun yang menyebalkan dan menjengkelkan yang tidak pernah gagal membuat urat-urat Jaejoong menegang karenanya.

"Fine." Gumam Jaejoong akhirnya sambil berjalan mendekati pintu lalu menguncinya. Ia menghembuskan nafas perlahan berusaha untuk menenangkan diri kemudian berbalik dan mendekati sofa krem untuk duduk di sana ketika suara baritone Yunho menghentikannya.

"Kenapa kau duduk di sana?"

"Karena hanya ada sofa ini satu-satunya tempat yang bisa ku duduki(?)"

Jawaban Jaejoong membuat Yunho mengerang pelan kerenanya. Sikap dingin Jaejoong selalu saja membuatnya ingin cepat sekali sembuh dan keluar dari rumah sakit. Luka-luka yang di deritanya benar-benar menghambat gerak mobilitasnya. Terutama kaki kanannya yang patah hingga ia membutuhkan tongkat penyangga hanya untuk pergi ke kamar mandi. Itu sangat merepotkan.

Ia selalu ingin berada di dekat Jaejoong karena hal itu benar-benar membuatnya merasa aman dan nyaman, namun Jaejoong selalu saja menghindar bahkan tidak ingin mendekatinya meskipun Jaejoong sudah mengatakan bahwa ia tidak akan pergi meninggalkannya lagi, tapi tetap saja Yunho masih merasa insecure.

"Kemarilah, kau terlalu jauh."

"Uhm.. kita hanya terpisah 2m saja, Yunho."

"Aish! Tapi aku tidak bisa menyentuhmu karena kau terlalu jauh."

"APA?!"

"Cih.. aku rasa kau harus mengunjungi dokter THT karena sepertinya ada yang salah dengan pendengaranmu." Yunho mendengus pelan mendengar Jaejoong yang selalu berteriak 'apa' setiap kali ia berbicara.

"Aniya~ tidak ada yang salah dengan pendengaranku. Aku bisa mendengar setiap kata yang keluar dari bibirmu dengan jelas, bahkan aku bisa mendengar hembusan nafasmu. Maksudku, apa maksud dari 'kau tidak bisa menyentuhku'?!"

"Aku ingin menyentuhmu. Bagian mana dari kalimat itu yang tidak bisa kau mengerti? Haish… apa kepalamu benar-benar hanya berisi labu saja, ohng?"

"Ya! Kalau kau hanya ingin mengataiku, lebih baik aku pulang!"

"Kau ini benar-benar cari mati?!"

"Sekali lagi kau mengatakan mati padaku, aku akan –"

"–kemarilah, aku merindukanmu." Suara baritone Yunho menghentikan ucapan Jaejoong. Jaejoong terdiam sambil mengerjapkan mata berkali-kali. Manik mata hitamnya menatap wajah serius Yunho. Wajahnya tiba-tiba terasa memerah dan memanas ketika ia mengerti dari kalimat itu. Ia memalingkan wajah ke samping menutupi rasa malunya karena perkataan Yunho yang begitu blak-blakkan.

Pribadi Yunho memang sangat sulit untuk di tebak dan di terka, bahkan tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Semuanya selalu saja terjadi begitu cepat dan spontan bahkan sebelum ia sempat untuk bereaksi. Bicaranya memang kasar dan menyebalkan, namun dari kata-katanya yang menyebalkan itu selalu saja ada makna tersirat yang tidak bisa dimengerti sebelum Yunho mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan dengan blak-blakkan –dan hal itu yang justru tidak pernah gagal membuat wajah Jaejoong selalu terasa memanas dan memerah.

"Geez, seriously Yunho. Kau tidak perlu bicara blak-blakkan seperti itu." Gumam Jaejoong pelan sambil berdiri dari sofa yang ia duduki lalu berjalan mendekati tempat tidur Yunho dimana ia duduk bersandar pada headboard dengan sebuah bantal di balik punggungnya.

Well yah, tidak bisa dibohohongi kalau Jaejoong juga merindukan laki-laki bar-bar itu.

Yunho hanya tersenyum menyeringai melihat Jaejoong yang salah tingkah. Ia selalu merasa senang jika ia berhasil membuat wajah putih itu memerah karena dirinya. Ia mengulurkan tangan kanannya dan menarik tangan kiri itu ketika Jaejoong sudah berada dekat dengannya hingga membuat Jaejoong terduduk di tepi tempat tidur. Ia menautkan tangannya dengan tangan Jaejoong, merasakan tangan lembut dan dingin itu di permukaan kulitnya yang kasar.

Belum pernah ia merasa senyaman ini ketika menyentuh seseorang, bahkan Yuu sekalipun. Hanya Jaejoong yang mampu membuatnya merasa nyaman dan hanya Jaejong yang mampu membuat rasa trauma itu seolah menguap mengudara ketika menyentuhnya, hingga rasa ingin menyentuh Jaejoong seolah bagaikan candu yang terasa begitu adiktif.

"Kenapa tanganmu selalu terasa dingin setiap kali aku menyentuhnya?" tanya Yunho sambil menggenggam erat tangan putih itu. Manik matanya yang coklat menatap kedua tangan mereka yang bertautan. Masih merasa tidak percaya kalau Jaejoong sekarang benar-benar berada di sampingnya dan berada dalam genggamannya. Rasanya seperti mimpi.

"Tsk, kau ini. Tentu saja kau merasa tanganku dingin karena demam yang kau derita membuat suhu tubuhmu lebih tinggi dari suhu tubuhku." Jawab Jaejoong berusaha terdengar logis meskipun pada kenyataannya, ia selalu merasa gugup hingga kedua tanganya terasa dingin setiap kali ia berada di dekat Yunho. Ia menggigit bibir bawahnya perlahan ketika merasakan tatapan mata coklat hazelnut Yunho yang kini menatapnya. Tatapan matanya terlihat begitu tajam namun dengan sorot mata yang begitu lembut tidak pernah gagal membuat wajah Jaejoong semakin memanas seperti terbakar.

"Oh –kupikir kau gugup karena berduaan saja dengan orang tampan sepertiku, kkk." Yunho terkekeh pelan mendengar alasan logis Jaejoong.

Suara tawa Yunho dan ucapan narsisnya membuat tarikan di kedua sudut bibir Jaejong melengkungkan sebuah senyuman. Melihat Yunho yang seperti ini membuatnya benar-benar terlihat seperti seorang anak kecil yang manis dan menggemaskan.

Senyuman Jaejoong membuat Yunho terdiam ketika melihatnya. Ia mengerjapkan matanya ketika merasa skeptis dengan apa yang dilihatnya itu hanyalah ilusi semata. Akhirnya.. ia bisa melihat bibir merah cherry itu melengkungkan sebuah senyuman manis untuk dirinya.

"Geez, kau ini benar-benar membuatku terlihat seperti orang idiot." Gumam Yunho sambil menarik Jaejoong ke dalam pelukan untuk menyembunyikan senyuman lebarnya dari Jaejoong. Ia tidak bisa menahan senyumannya lagi. Rasanya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Ia mengenggelamkan wajah di lekukan leher putih itu. Merasakan hangatnya tubuh Jaejoong dan aroma tubuhnya yang terasa begitu manis dan menyegarkan. Aroma tubuh yang tidak pernah bisa ia lupakan –vanilla mint.

"Dan kau sudah membuatku terlihat seperti orang gila." Balas Jaejoong di dalam pelukan Yunho dan merasakan hembusan nafas yang terasa panas itu menggelitik lehernya. Ia bisa mendengar suara decakan Yunho di lehernya kemudian ia mulai memejamkan kedua mata dan merasakan detak jantung Yunho yang berdetak begitu liar sama seperti detak jantungnya.

Kedua jantung itu berdetak seirama.

Perlahan, Yunho melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Jaejoong dalam jarak yang begitu dekat hingga ia bisa melihat setiap detail lekuk wajahnya. Perpaduan ekstrim antara cantik dan tampan itu benar-benar menyatu dengan sempurna pada diri Jaejoong. Manik mata coklat hazelnut Yunho menatap sepasang mata besar dan hitam yang selalu menariknya seperti blackhole dan menjebaknya di dalam sebuah labirin tak berujung. Mata hitam yang sudah membuat seorang Jung Yunho menyukai laki-laki manis yang ada di hadapannya hingga mampu membuatnya nyaris gila. Tatapan matanya perlahan bergerak turun menatap hidung Jaejoong yang mancung dan runcing, kemudian semakin turun menatap bibir merah cherry yang selalu terlihat menggoda untuk diciumnya.

Tangan kanan Yunho perlahan terangkat dan menyentuh dagu Jaejoong lalu menariknya. Ia mendekatkan wajahnya dengan perlahan hingga kedua ujung hidung mancung mereka bersentuhan dan merasakan hembusan nafas itu menggelitik bibirnya.

Jaejoong memiringkan kepalanya ketika ia mengerti apa yang Yunho inginkan. Ia memejamkan kedua mata dan membiarkan Yunho yang memegang kendali ketika bibir penuh itu menyentuh bibirnya dengan perlahan. Memagutnya dengan begitu lembut tanpa paksaan.

Yunho mulai menggerakkan bibirnya yang langsung dibalas oleh Jaejoong, hingga kedua bibir itu kini bergerak dalam gerakan yang begitu seirama dan harmonis. Tidak ada lidah dan gigitan dalam ciuman itu, seperti ingin merasakan tektsur lembut bibir manis Jaejoong di atas permukaan bibirnya dan mengingat sensasi berciuman dengan Jaejoong di dalam otaknya.

Simple and sweet kiss.

"Aku tidak pernah mencium orang sebelumnya." Bisik Yunho di atas bibir merah Jaejoong, lalu memagut bibir manis itu sekali lagi. Ucapan tidak masuk akal Yunho membuat Jaejoong memutar kedua bola matanya.

"Ya.. ya.. katakan itu pada orang yang mempercayainya."

"Maksudmu, kau tidak percaya padaku?"

"Oh ayolah, Jung? Siapa yang akan percaya dengan ucapanmu kalau kau tidak pernah mencium orang sebelumnya? Dengan wajah sepertimu, aku meragukan kau belum pernah berciuman di masa pubertasmu. Bahkan ciumanmu yang kemarin seperti layaknya seorang yang pro!"

"Aish! Maksudmu, aku berbohong padamu? Aku menciummu seperti itu karena kau yang membuatku melakukan apa yang kau lakukan padaku! Aku belajar darimu!" ucap Yunho membela diri, namun setelahnya ia mengerang pelan ketika ia menyadari dan membayangkan kalau Jaejoong sudah sering melakukannya jika dilihat dari ciumannya yang kemarin. " –sudah berapa orang yang kau cium dan menciummu, hah?" tanya Yunho tidak bisa menahan rasa cemburunya.

"Aku tidak tahu.. well, aku tidak menghitungnya."

"YA!" jawaban asal Jaejoong membuat Yunho semakin terbakar oleh rasa cemburu. Jaejoong adalah orang pertama yang menyentuh bibirnya, dan ia pun ingin dirinya yang pertama menyentuh bibir merah menggoda itu.

"Aaahh telingaku." Jaejoong menutup telinga dengan kedua tangannya ketika mendengar teriakan Yunho. Manik mata hitamnya menatap Yunho yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam " –aish.. kau ini benar-benar sulit dipercaya. Hanya karena ciuman kau sampai merajuk seperti bocah. Aku ini remaja yang sedang dalam masa pubertasnya, itu wajar kalau aku berciuman."

Yunho hanya diam tidak menanggapi ucapan Jaejoong sambil terus menatapnya dengan tatapan tajam. Rahangnya ia katupkan kuat-kuat hingga menimbulkan suara gigi yang menggertak. Jaejoong hanya menghembuskan nafasnya perlahan melihat Yunho yang seperti siap akan meledak setiap saat.

"Hey, tenanglah. Ciuman yang kulakukan dengan gadis-gadis itu hanya ciuman biasa, tidak ada yang spesial bagiku. Tidak pernah ada yang menciumku seperti yang kau lakukan padaku kemarin, kecuali kau dan –"

Ucapan Jaejoong terhenti. Ia terdiam ketika tiba-tiba saja bayangan masa lalu terlintas di dalam benaknya. Ia membelalakan mata ketika nama itu hampir saja terucap dari bibirnya hingga membuat lidahnya terasa begitu kelu dan kaku. Tenggorokannya terasa tercekat hingga rasanya ia sulit untuk bernafas dan membuat nafasnya mulai terasa berat. Tubuhnya perlahan bergetar ketika ia mengingat wajah itu. Bayang-bayang masa lalu mulai memenuhi pikirannya seperti kabut tebal. Pandangan matanya terlihat mengabur ketika ia mengingat apa yang terjadi padanya 5 tahun yang lalu. Ingatan masa lalu yang membuat sayatan luka di hatinya terasa perih kembali. Luka tak kasat mata yang tidak pernah mengering itu kembali menganga meskipun waktu sudah meninggalkan masa lalunya.

Ia seolah tertarik dan tenggelam ke dalam lorong waktu.

"–joong?"

"Jaejoong?!"

Jaejoong tersentak kaget ketika seseorang berteriak memanggil namanya. Ia mengerjapkan mata yang membuat air hangat itu tertelan kembali. Manik matanya yang besar dan hitam menatap mata coklat hazelnut Yunho yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Ada apa denganmu?" tanya Yunho sambil menyentuh pipi kiri Jaejoong. Namun apa yang selanjutnya terjadi cukup membuat Yunho terkejut karenanya. Jaejoong menepis tangan kanannya dengan sangat kasar.

"Jangan sentuh!" lengking Jaejoong dengan nada suara yang bergetar sambil berdiri menjauh dari Yunho. Ia memeluk sendiri tubuhnya yang bergetar begitu hebat ketika kejadian 5 tahun lalu itu terus berputar di dalam kepalanya seperti kaset rusak. Ia bisa melihatnya dengan jelas. Bahkan begitu jelas hingga rasanya ia ingin berteriak sekencang yang ia bisa.

"Hey –kau kenapa?"

Suara baritone yang terdengar menenangkan itu kembali terdengar dan membuat kabut tebal yang memenuhi pikirannya tiba-tiba saja menghilang seperti menguap mengudara. Ia seolah terbangun dari mimpi buruk yang menghampirinya ketika ia bisa merasakan hangat tubuh Yunho yang memeluk tubuhnya.

Jaejoong menghirup nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan dan kembali bernafas dengan normal. Ia memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya yang terasa berat di atas bahu kiri Yunho. Ia bergumam pelan mengucapkan 'gwaenchana' berkali-kali seperti mantra yang mampu membuatnya kembali tenang.

"…."

"Maafkan aku." Lirih Jaejoong pelan ketika ia menyadari apa yang tadi ia lakukan pada Yunho. Ia melakukan gerakan itu secara reflek ketika bayang-bayang masa lalu begitu membelenggu dan menggerogotinya tanpa ampun. Ia seperti tertarik dan tertelan kembali ke dalam lubang hitam tak berdasar yang sudah menjebaknya dalam rasa sakit yang tidak pernah menghilang setiap kali ia mengingatnya.

Yunho mengerutkan keningnya samar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Jaejoong. Jaejoong tiba-tiba saja seperti kehilangan fokusnya dan tatapan matanya menunjukkan sorot ketakutan yang begitu luar biasa hingga membuat tubuhnya bergetar tidak karuan. Wajah putih bersinarnya bahkan terlihat begitu pucat, seperti ada kenangan buruk yang diingatnya hingga memicu rasa takut dan trauma seperti yang sering ia alami. Ia bisa merasakannya.

"Sstth~~ kau tidak perlu meminta maaf." Jawab Yunho tanpa melepaskan pelukannya dan memberikan keyakinan pada diri Jaejoong bahwa ia aman berada di dalam pelukannya.

"Tidak –sungguh, aku minta maaf karena sudah menepis tanganmu yang –ASTAGA!" tiba-tiba saja Jaejoong berteriak sambil melepaskan diri dari pelukan Yunho lalu membelalakan matanya lebar-lebar.

"Apa yang sedang kau lakukan, hah?!" teriak Jaejoong lagi ketika menyadari Yunho yang berdiri di hadapannya dengan kaki kanan yang masih di perban dan di gips tanpa menggunakan tongkat penyangga untuk menahan tubuhnya. Yunho hanya menggunakan kaki kiri yang menjadi titik tumpu untuk menopang tubuhnya. Ia buru-buru melingkarkan tangan kanan Yunho di lehernya dan membantu Yunho untuk kembali ke tempat tidur.

"Kau ini –aish! Jinjja! Aku benar-benar tidak bisa mengerti dengan jalan pikiranmu! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan dengan berdiri seperti itu tanpa tongkatmu, hah?!"

Yunho hanya terdiam sambil kembali merebahkan tubuh ke atas tempat tidur dengan bantuan Jaejoong. Ia sendiri tidak tahu bagaimana ceritanya ia bisa turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Jaejoong yang tadi menjauhinya. Perasaan ingin memeluk dan melindungi tubuh bergetar itu begitu menggorogotinya hingga ia sendiri tidak menyadari apa yang di lakukannya.

Manik mata coklat hazelnut Yunho menatap Jaejoong yang masih beringsut memarahinya. Tatapan matanya tidak pernah melepas mata besar dan hitam itu. Mata hitam yang kini terlihat seperti sebuah kotak pandora.

Ia ingin melihat isi kotak pandora itu.

"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu tadi?" pertanyaan tiba-tiba Yunho membuat Jaejoong membeku di tempatnya. Manik mata hitamnya bergerak menatap mata coklat yang sedang menatapnya dengan tatapan yang seolah mampu membuka paksa pintu yang terkunci rapat di dasar hatinya yang terdalam. Ia mengerlingkan matanya menghindari tatapan mata Yunho.

"Tidak.. tidak ada apa-apa. Aku.. aku hanya –kelelahan." Jawab Jaejoong seadanya, namun Yunho tidak mempercayai ucapan Jaejoong ketika ia tahu arti dari ekspresi itu. Ekspresi yang selalu ia tunjukkan setiap kali ada orang yang ingin mencoba untuk membuka kotak pandoranya.

"Jangan berbohong padaku. Aku tahu kau menyembunyikan se –"

~Doushite kimi wo suki ni natte shimattandarou
Donna ni toki ga nagarete mo kimi wo zutto
Koko ni iru to omotteta noni~

Mou kaerenai

Suara ponsel Jaejoong menghentikan ucapan Yunho. Jaejoong bisa bernafas lega ketika ponsel yang berdering telah menyelamatkannya. Ia buru-buru mengambil ponsel yang masih berdering tidak sabar dan tersenyum ketika melihat siapa yang menelponnya.

"Hey~" Sapa Jaejoong berbisik pelan sambil membalikkan tubuh agar Yunho tidak bisa mendengar percakapannya.

"Hyung~~ kau dimana?"

"Aku di rumah sakit menjenguk Yunho. Ada apa?"

"Hum~ hum~ semenjak dua hari yang lalu kita belum bertemu lagi."

Jaejoong berdecak pelan ketika ia bisa membayangkan wajah mengerut dan bibir yang dikerucutkan Changmin. Ia menjadi merasa bersalah karena tidak sempat untuk memperhatikan dongsaeng nya akhir-akhir ini.

"Aaahh~~ minahae, ne? Bagaimana kalau malam ini aku main ke rumahmu?"

"Hey, Jaejoong kenapa kau bebisik-bisik seperti itu? Siapa yang menelponmu, eh?" suara baritone rendah Yunho membuat bulu kuduk Jaejoong berdiri karenanya. Ia bisa merasakan tatapan tajam Yunho yang seolah menusuk punggungnya. Ia menolehkan kepala kebelakang dan tersenyum kaku padanya.

"Ehhm… Junsu(?)" jawab Jaejoong tidak yakin. Ia hanya tidak ingin menyulut emosi Yunho jika ia mengatakan bahwa ia sedang berbicara dengan Changmin. Ia tahu, Yunho sangat sensitif jika mendengar nama Changmin.

"Ya! Berikan ponselmu, aku ingin berbicara dengan bocah jerapah itu!"

"Bagaimana kau tahu kalau Changmin yang menelponku?" Jaejoong membelalakan matanya horror ketika ia ketahuan berbohong pada Yunho. Tatapan mata Yunho semakin terlihat tajam.

"Jadi bukan Junsu, eh?"

Shit. Jaejoong terjebak oleh permainan Yunho.

"Minnie ah~ aku akan menelponmu lagi, ne? Ada beruang yang mengamuk disini. Nanti malam aku akan –"

"–hyung, aku ingin berbicara dengan Yunho."

"Eh?"

"Berikan ponselmu padanya. Aku ingin berbicara padanya."

"Aahh~ tidak perlu Minnie. Aku khawatir kalian akan sama-sama keras kepala seperti batu yang tidak mau kalah. Yunho sudah meminta maaf karena memukul hidungmu, kau akan memaafkannya 'kan?" ucap Jaejoong bersalasan dan berusaha melakukan negosiasi meskipun ia sendiri tidak tahu apakah Yunho akan meminta maaf atau tidak. Ia hanya tidak ingin keduanya kembali bertengkar.

"Hyung, berikan saja ponselmu padanya."

"Tapi –"

"Hyung!"

Jaejoong menggigit bibir bawahnya perlahan sambil melirik Yunho dari sudut matanya. Ia menghembuskan nafas pasrah sambil memberikan ponselnya pada Yunho.

"Changmin ingin berbicara padamu." ucap Jaejoong pada Yunho. "–tapi kumohon, kalian jangan bertengkar." Lanjutnya masih cemas dan khawatir.

Yunho tidak menanggapi ucapan Jaejoong kemudian mengambil ponsel itu dari tangannya. Ia langsung menempelkan ponsel Jaejoong di telinga kanannya, setelah itu ia bisa mendengar suara Changmin yang terdengar begitu serius.

"Hey, Yunho. It's payback time."

Manik mata coklat Yunho bergerak menatap Jaejoong yang berdiri gelisah dan khawatir di samping tempat tidurnya. Ia hanya terdiam mendengar ucapan Changmin. Ia tidak mengatakan apapun padanya sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan telepon itu.

"Aku akan menyita ponselmu."

"APA?!"

"Aish, apa perlu aku merekomendasikan dokter THT untuk pengobatan telingamu, ohng?!"

"Ya! Kenapa kau menyita ponselku?!"

"Karena aku tidak akan membiarkan orang lain menelponmu, tertutama si bocah jerapah itu."

Mulut Jaejoong sudah terbuka untuk mengatakan sesuatu. Namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika rasa tidak percaya itu lebih mendominasi dirinya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Yunho benar-benar sangat tidak dewasa dan begitu menjengkelkan.

"Haish! Kau ini benar-benar sulit dipercaya. Changmin hanya teman masa kecilku yang sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Jangan katakan padaku kalau kau cemburu karenanya?" Jaejoong beringsut kesal sambil menyapu rambut blonde nya ke belakang kepala. Ia sekarang benar-benar frustasi menghadapi sikap Yunho.

"Kalau iya, kenapa? Aku tidak suka melihatmu dengannya."

"Isshh! Sudah kubilang Changmin sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Rasa cemburumu sungguh tidak berasalan."

"Aku tidak bisa menjamin itu."

"Terserah kau saja! Aish!"

Jaejoong memutar kedua bola matanya jengah. Ia lebih memilih menghentikan perdebatannya ketika ia tidak tahu kapan adu argumen itu akan berakhir jika bukan ia yang mengalah. Ia mengingat sifat Yunho yang sangat keras kepala dan tidak mau kalah. Manik mata hitamnya perlahan bergerak menatap ponsel putih Yunho yang tergeletak di atas meja nakas di samping tempat tidur. Ia tersenyum menyeringai ketika ia tahu apa yang akan ia lakukan untuk membalas Yunho.

Jaejoong buru-buru mengambil ponsel Yunho dan berjalan mundur menjauhi tempat tidur. "Fine! Kau boleh menyita ponselku, tapi sebagai gantinya, aku akan menyita ponselmu." Ucap Jaejoong sambil meleletkan lidahnya. Yunho membelalakan mata melihat Jaejoong yang sudah berjalan mundur sambil membawa ponselnya.

"YA!"

"Well, sepertinya sudah saatnya aku pulang." Ucap Jaejoong terkekeh pelan.

"Kau pikir apa yang kau lakukan, Kim Jaejoong?" tanya Yunho sedikit panik jika ponselnya di bawa oleh Jaejoong karena artinya, ia tidak bisa menghubungi siapapun ketika semua kontak ada di dalamnya.

"Melakukan apa yang kau lakukan padaku." Jawab Jaejoong mendengus pelan sambil terus berjalan mendekati pintu lalu membuka kuncinya.

"Kau mau kemana?!" panggil Yunho ketika menyadari Jaejoong sudah membuka pintu kamar inapnya.

"Tentu saja pulang. Masih banyak hal lain yang harus kulakukan. Aku akan kembali lagi besok. Annyeong~~ Yunho yah~"jawab Jaejoong sambil menolehkan kepala kebelakang dan tersenyum manis pada Yunho. Ia mengedipkan sebelah mata padanya sebelum akhirnya ia keluar dari kamar inap Yunho.

"YA –aish!"

Yunho mengacak rambut coklat kemerahannya ketika melihat Jaejoong yang pulang sambil membawa ponsel miliknya. Kini ia tidak bisa menghubungi siapapun ketika ia tidak ingat satupun nomor kontak di dalam ponselnya.

"Aish! Troublesome!"

'CKLEK'

Yunho mendongakan kepalanya menatap pintu yang terbuka. Ia sudah akan berteriak memanggil nama Jaejoong, namun ia hanya terdiam ketika orang yang masuk ke dalamnya bukanlah orang yang ia harapkan. Tatapan matanya terlihat menajam ketika ia melihat seseorang yang kini sudah ada di dalam kamar inapnya.

"Kupikir kau tidak serius dengan apa yang kau ucapkan padaku tadi." Desis Yunho ketika ia melihat laki-laki jangkung itu.

Laki-laki itu hanya berdecak pelan sambil membuka topi yang menutupi kepala kemudian mengacak rambut hitam pendek itu dengan tangan kanannya.

"Well.. kupikir aku harus menunggu lebih lama lagi hingga Jaejoong hyung kluar dari sini. Tapi sepertinya ia keluar lebih cepat, huh?" tanya Changmin tersenyum menyeringai pada Yunho. Yunho hanya mengulum lidah ketika melihat seringaian itu.

"Jadi kau benar-benar serius dengan ucapanmu tadi, eh? Bahkan kau sengaja datang untuk bertatap muka langsung denganku?"

"Apa aku tidak boleh meminta bayaran darimu setelah apa yang kulakukan untuk menyelamatkanmu dan kkapgae mu, huh? Kau tahu, tidak ada yang gratis di dunia ini." Ucap Changmin masih tersenyum menyeringai sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Yunho hanya menatap tajam Changmin dengan mata coklat hazelnut nya.

"Nyalimu cukup besar juga untuk meminta bayaran padaku."

"Oh come on rich young master, your account wouldn't get hurt, would it?"

"What do you want?" desis Yunho berbahaya. Changmin hanya tertawa mendengar suara Yunho yang berdesis berbahaya padanya. Ia berjalan mendekati Yunho dengan langkah yang begitu angkuh.

"It's quite expensive. Apa kau yakin kau bisa memenuhi keinginanku, huh?" tanya Changmin dengan senyum seringaian terlukis di wajah tampannya.

~.~.~.~.~.~

Jaejoong beringsut sebal sambil berjalan keluar rumah sakit ketika ponselnya di sita oleh Yunho. Kalau saja Changmin tidak menelponnya di saat yang tidak tepat seperti itu, ponselnya tidak akan di sita. Namun, ia juga merasa beruntung karena Changmin telah menyelamatkannya dari desakan Yunho yang memaksa untuk menceritakan masa lalunya. Masa lalu yang seharusnya sudah ia hapus dari memori otaknya.

Jaejoong mengangkat tinggi-tinggi ponsel iphone 5 Yunho kemudian tersenyum lebar seperti orang idiot. Ia terkekeh pelan ketika akhirnya ia bisa melihat isi ponsel itu. Ia menurunkan ponsel Yunho kemudian mulai membuka satu persatu konten yang ada di dalamnya. Mulai dari picture, video, pesan, email, recent call, bahkan kontak sekalipun.

Ia mengerang pelan ketika folder picture dan video hanya berisi file bawaan dari ponsel. Tidak ada satupun foto atau videonya, benar-benar bersih seperti ponsel baru.

"Are you for real, Jung Yunho?!" Jaejoong mendengus pelan. " –kau ini membeli ponsel terbaru tapi tidak di gunakan dengan maksimal. Apa kau hanya ingin menyombongkan kekayaanmu, ohng? Cih! Spoil brat!" gumam Jaejoong pada dirinya sendiri. Merasa kesal dengan sikap 'I'm young master' Yunho yang arrogant.

Ia memeriksa pesan dan email di ponsel Yunho, namun tidak ada yang begitu menarik dari semuanya. Bahkan isi inbox dalam pesannya masih bisa dihitung jari dan isi emailnya hanya berisi pesan promosi-promosi. Namun keningnya berkerut samar ketika memeriksa recent call. Puluhan panggilan tak terjawab dari Yuu memenuhi recent call sejak dua hari lalu dimana Yuu memukul wajah Yunho. Tidak ada satupun panggilan dari Yuu yang di jawab olehnya.

"Aish! Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?" Jaejoong beringsut penasaran dengan apa yang terjadi pada Yuu hingga memukul Yunho. Apakah yang dikatakan Yunho saat itu adalah benar kalau Yuu menyukai Tiffanny hingga ia merasa kesal dan marah karena Yunho memperlakukan orang yang disukainya seperti itu?

Jaejoong menghentikan langkah kakinya ketika ia berada di dekat taman kota Gangnam distrik. Ia menolehkan kepala menatap air mancur di tengah-tengah taman sambil memikirkan pertanyaan yang tadi terbesit di dalam benaknya. Ia semakin tenggelam memikirkan hubungan persahabatan Yunho dan Yuu yang hancur hanya karena seorang perempuan bernama Tiffanny.

Tiba-tiba saja ponsel Yunho bergetar di dalam genggaman tangannya. Ia menatap ponsel itu dan melihat sebuah pesan masuk. Ia tidak sengaja membuka pesannya ketika ponsel touchscreen itu tersentuh ibu jari tangan kanannya.

From: Yuu

Date: Tue, Feb 26

Time: 04.12 PM

Subject: Pick up my damn call!

'Yunho hyung! Kenapa kau tidak mengangkat semua panggilanku, hah?! Aku tahu kau tipe orang yang malas membaca dan mengetik pesan, but seems like I don't have any choices! Sudah dua hari kau menghiraukan panggilanku. Kau berhak marah padaku karena memukul wajahmu tanpa alasan, tapi demi Tuhan, angkat telepon dariku jadi aku bisa menjelaskan kesalahpahaman kemarin! Aku memukulmu untuk membuat sedikit keributan agar Tiffanny tidak 'mengatakannya' di hadapan Jaejoong. I know you will freak out if Jaejoong found out about it. Kalau kau membaca pesanku ini dan kau mengerti apa yang aku maksud, segera hubungi aku, you jerk!'

Jaejoong terdiam ketika ia membaca pesan dari Yuu untuk Yunho. Ia membaca kata demi kata itu dengan perlahan agar ia bisa memahami maksud pesan Yuu.

Ia mengerjapkan mata berkali-kali ketika namanya ikut terseret dalam situasi yang membingungkan.

'I know you will freak out if Jaejoong found out about it.'

Apa? Rahasia apa lagi yang di sembunyikan Yunho darinya?

================ TBC ================

NB (Please read!)

1: annyeooooooooongggg! Aaaahh miss meh? :DDD akhirnya bisa juga buat apdet ini ff

2: tbh, chapter 12 ini seharusnya ampe semua rahasia yunho terkuak, tp karena progress scenes itu masih 20%, kepaksa aku harus memenggal(?) scene itu yg nntinya akan berada pada part 13 *I'm sorry* /deep bow/ aku ngejar deadline nih soalnya *lari marathon*

3: this part is decrease! Aku nulisnya cuma 18 hal :p but well yah, aku rasa itu cukup membuat kalian semakin penasaran dengan ceritanya.. kukukukuku~~

4: ANNOUNCEMENT! I'll take my HIATUS for awhile.. jadi aku ga tau, minggu depan bisa apdet apa ga (aku ga yakin bisa), makanya di sini aku mau bilang.. minggu depan jangan di tungguin :( aaaakkkkkkk.. aku bakal hiatus ampe akhir tahun nanti 8'D oh dear… I'm so sorry #sobs

5: sebagai gantinya aku yg hiatus, so here I give you some of fluffy sweet scene between yunjae xDDDD dan jangan berharap banyak dariku buat bikin M scene, because no.. not yet… aku ga mungkin bisa memembuat mereka berhubungan fisik sekarang mengingat Yunho yang masih terbelenggu oleh rasa traumanya (cieee elaaaahhh xD) so just like yoochun said, 'patient is the key, man' well, I guess :p dan ditekankan sekali lagi, aku bukan author yg pinter bikin M scene #dies

6: aku mau ngucapin, makasih bangeeeeeeetttt buat smua reader yg udah baca bahkan ampe follow, favorite even review this ff! #huggles aku bener-bener terharu banyak yg suka 8'D dan semoga makin banyak yang suka X3

7: jangan lupa untuk review nyaaaaaaaaaa /smooch/

8: last but not least, thank you very much! I do really love u guys 8'D

9: THANK YOU!

NB 2:

gia: ah iya say, harusnya knop, bukan knob xD baru nyari di kamus lengkap Indonesia dan adanya knop, sorry dear.. my mistake ^^

nickeYJcassie: onn, gmn bisa kangen cerita NC aku klo aku jarang bgt bkin ff NC? O.o well, actually, I have one story with rated NC21, tp itu jg blm kelar.. satu part lg trus stuck di tengah2 =o= aaakkkkk

all: pkknya buat smua pertanyaan2 tentang cerita SHINE, di tunggu aja jawaban2 nya di part2 selanjutnya xD karena smua jawaban bakal terjawab di part2 berikutnya… okie? Patient is the key, man ;) #wink