Disclaimer : Naruto kepunyaan Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lain nya.
Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave&follow fict ini
Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian
Chapter 12 : Talk
"…"
"…"
"…"
"Pig~! Oh? Narutoooo?!" pekik Sakura begitu memasuki kamar tempat Ino dirawat, matanya tertuju pada kedua sahabatnya yang saling memandang dalam diam, tak yakin dengan apa yang mereka bicarakan namun kekasih Shikamaru itu kemudian menyunggingkan senyuman lembut, melangkahkan kedua kaki jenjangnya pada tempat dimana kedua sahabatnya berada "Kau bahkan tidak mendengarkanku! Huh?"
Perlu sepersekian detik hingga akhirnya Naruto mendapatkan kembali 'kesadarannya', wajahnya terlihat tersipu, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dari wajah ayu sosok di depannya pada sosok yang baru saja datang dan berhasil menyadarkannya "Sakura-chan!" dengusnya kesal pada mantan rekan setimnya di akademi "Kau mengagetkanku!"
"Benarkah?" Sakura mengangkat satu alisnya tak yakin.
"Apa maksudmu, Forehead?!"
"Maksudku? Hei! Bahkan saat aku masuk tadi aku melihat kalian yang saling menatap tanpa mempedulikanku yang sudah berteriak pada Naruto, Pig!" ejek Sakura pada Ino dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kami tidak!" elak Ino. wanita yang kini tengah mengandung keturunan Uchiha itu mengerucutkan bibirnya kesal yang kemudian dihadiahi gelak tawa oleh Naruto dan Sakura.
"Apanya yang lucu?"
"Kau sangat lucu, hahaha! Ku kira kondisimu sudah sangat baik, tapi kenapa kau masih seperti itu heh?" Kunoichi penyembuh itu menyibak selimut yang menutupi tubuh Ino "Bangun dan rapikan dirimu, jangan terlihat menyedihkan seperti ini!"
"Aku? Menyedihkan? Tidak mungkin!" elak Ino dan bergegas untuk bangkit dari ranjangnya "Kau dengar itu Hokage-sama? Aku boleh keluar dari tempat menyedihkan ini, jadi akan ku tagih janjimu!" pernyataan Ino kali ini benar-benar membuat Naruto tercekat, rona merah tiba-tiba saja menghiasi wajah tampannya, suhu tubuhnya seakan memanas padahal nyata-nyata Konoha sudah melewati musim panas.
Dapat terlihat dengan jelas oleh Sakura bagaimana ekspresi Naruto yang berdiri di sampingnya, bak udang rebus wajah Hokage muda itu benar-benar memerah sempurna.
"Kau mencintainya?" bisik Sakura, begitu Ino sudah meninggalkan ranjangnya untuk ke kamar mandi.
Naruto terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya, "Lebih dari yang kau kira, Sakura-chan!" jawabnya singkat, menghela nafasnya panjang dan tersenyum, jemari panjangnya kemudian mengacak rambut merah muda Sakura gemas "Kau tau benar bagaimana rasanya ketika cintamu tak berbalas bukan?"
Sakura mengangguk dan tersenyum dengan pertanyaan Naruto padanya, namun sekarang ia sudah bahagia karena memiliki Shikamaru di sampingnya dan ia menginginkan bahwa Naruto bisa melupakan perasaannya pada Ino dan menemukan seseorang yang ia akan cintai nanti.
"Tapi semenjak Sasuke-Teme selalu menyakitinya, aku akan berusaha untuk membahagiakannya!"
"Kau tak berfikir untuk merebutnya dari Sasuke-kun 'kan?" tanya Sakura mendelikkan mata pada Naruto yang mengangkat kedua bahunya, pandangan Naruto beralih pada jendela yang terbuka lebar menampakkan bau-bauan segar dari luar ruangan "Bagaimana aku bisa merebutnya jika pikiran dan hatinya tetap untuk Sasuke, Sakura-chan?"
Sakura hanya tak mampu terdiam tak mampu untuk berkata-kata lagi, ia menginginkan Sasuke, Ino dan Naruto bahagia tapi apakah harus serumit ini? bagaimana ia harus bersikap? Ia benar-benar mencintai ketiga orang itu layaknya seperti keluarga sendiri.
"Aku akan berada di sampingnya, sampai ia bosan, sampai ia tak menginginkan melihat wajahku lagi berada di dekatnya!" senyuman bodoh itu! senyuman khas milik Naruto yang membuat Sakura ingin segera memukul kepala si jabrik itu dengan sekuat tenaga.
"Naruto . . ."
Tatap Kunoichi itu iba, Ino yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian dan dandanan rapi terlihat bingung dengan suasana yang berubah menjadi sedikit kaku "Eumm~ apa ada yang aku tidak ketahui?"
"Oh, Ino!" Naruto tersenyum lembut pada wanita yang berdiri di ambang pintu dengan raut penuh kebingungan.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" wanita keturunan Yamanaka itu kemudian melangkahkan kaki jenjangnya ke tempat dimana Naruto dan Sakura berdiri berdampingan, dapat ia lihat dengan jelas bagaimana ekspresi Sakura dan Naruto yang terkesan menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Aku bukan orang bodoh yang akan percaya begitu saja ketika seseorang mengatakan 'tidak apa-apa' ayolah Naruto-kun, Sakura!" pinta salah satu Kunoichi penyembuh itu, wajahnya yang kemarin terlihat pucat sekarang terlihat lebih segar dengan sapuan bedak tipis dan bibir tipisnya yang ia pulas dengan warna peach membuatnya nampak lebih cantik.
"Dan ketika aku berkata bahwa tidak ada apa-apa maka kau harus mempercayainya, Ino-chan!" Naruto menyunggingkan seringaian khasnya, tampan dan entah mengapa perasaan Ino terasa nyaman melihat Naruto yang seperti ini di hadapannya, mau tak mau ia membalas sikap Naruto itu dengan senyuman "Baikalah! Karena aku sudah sangat lapar, aku tidak akan mempedulikan lagi apa yang tadi kalian bahas! Kita pergi sekarang?"
Hokage muda itu mengangguk, tak ingin lebih lama lagi membuat Ino memojokkan mereka dengan pertanyaan yang sama ia segera berpamitan dengan Sakura, Kunoichi merah muda itu menghela nafas panjang sesaat setelah Ino dan Naruto keluar dari ruangan yang semalam menjadi tempatnya untuk merawat Ino "Ku harap semua akan baik-baik saja!" ungkapnya kemudian berjalan meninggalkan ruangan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
…
"Beef Ramen porsi besar untuk kalian sudah siap, selamat menikmati Naruto-sama, Ino-chan!"
Keduanya tersenyum dengan penuh semangat ketika melihat semangkuk Ramen di hadapan mereka "Ayo berlomba untuk menghabiskannya, jika kau yang menang aku akan mengabulkan 1 permintaanmu dan jika aku yang menang maka kau harus mengabulkan permintaanku!"
Ino mengangkat satu alisnya, berfikir dengan tantangan Naruto padanya, "Baiklah!" serunya, dengan cepat ia melahap ramen porsi besarnya.
"Aku belum mengatakan untuk mulai, kau curang Ino-chan!" pekik Naruto pada wanita yang tengah melahap ramen miliknya tak mempedulikan protes sang Hokage.
"Cewwpat makwan Ramenmwwu jika tak ingin kawwlah, Hokage-sama!" ujar Ino sembari melahap ramennya, Naruto terkikik geli, tanpa menjawab Ino ia segera melahap ramennya dengan cepat.
"Owh?"
"Aku selesai Ino-chan!" seringai Naruto begitu menyelesaikan 'acara' makan ramennya, bahkan tak sedikitpun kuah yang tertinggal di mangkuk milik Hokage Konoha itu, Ino yang masih setengah jalan untuk menghabiskan ramennya mau tak mau berhenti dan takjub dengan apa yang ia lihat sekarang "Bagaimana? Bagaimana bisa kau menyelesaikannya secepat itu?"
"Haahahaha …."
Wanita Yamanaka itu mendengus kesal karena tidak dapat mendapatkan jawaban yang ia inginkan, satu tangannya ia gunakan untuk mengambil gelas yang berada di samping mangkuknya kemudian meminumnya dengan sekali teguk, kesal karena dirinya kalah dari Naruto "Apa permintaanmu, Hokage-sama?" tanyanya pada Naruto yang belum bisa menghentikan tawanya karena melihat ekspresi Ino.
"Naruto-kun!" ucap Ino sebal.
"Hahaha, maaf maaf Ino-chan! Eheum, . . ." Naruto berusaha untuk menguasai dirinya. "Satu permintaanku adalah aku ingin melihatmu bahagia, Ino-chan! Aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi, melihatmu sakit atau melihatmu menangis, aku tidak suka dan itu adalah permintaanku untukmu, Ino-chan! Ku mohon padamu!"
"Naruto-kun, . . . !"
Ino tercekat, aquamarine miliknya dengan intens menatap biru sapphire milik Hokage desa Konoha itu kemudian tersenyum "Terimakasih banyak!"
Jujur saja Ino benar-benar merasakan kebahagiaan berlebih karena sikap Naruto yang seperti ini, hal yang tak pernah ia rasakan selama ia bersama Sasuke.
"Apa aku tidak terlihat bahagia? Aku bahkan tidak menangis lagi seperti saat itu! hahaha …"
"Ku harap kau akan selalu bahagia dan juga jagoan ini!" ujar Naruto, tangan kekarnya mengusap lembut perut Ino yang sudah terlihat membuncit itu.
"Kazuki!"
"Heum?"
"Hahahaha! Namanya Kazuki, hah~ tadi malam aku bermimpi bahwa aku mempunyai anak kembar, kembar 3 Naruto! salah satu dari anak itu diberi nama Kazuki!"
"Kazuki? Nama yang sangat bagus Ino-chan!" putra dari Minato Namikaze itu tersenyum memandang Ino yang juga tersenyum memandang dan mengusap perutnya dengan lembut "Dia akan menjadi Ninja yang hebat sepertimu dan Sasuke-kun!"
Naruto mengangukkan kepala, mengamini pernyataan Ino. ia sangat yakin bahwa Kazuki akan terlahir sebagai ninja yang hebat sepertinya dan juga Sasuke, juga akan tampan seperti ayahnya.
"Juga akan tampan seperti Sasuke!" imbuh Naruto. "Maka dari itu kau harus terus bahagia!"
"Terimakasih, Naruto-kun!"
.
.
.
.
Pemuda raven itu hanya berdiri mematung di luar kedai ramen tempat dimana Ino dan Naruto berada, tak ada sedikitpun keinginannya untuk masuk, berusaha meluruskan apa yang telah terjadi, ia sadar betul bahwa ini semua adalah kesalahannya dan disaat seperti ini hanya Naruto yang dapat menenangkan Ino bukan dirinya.
Ia menghela nafas panjang, ia merindukan Ino, sangat merindukan wanita yang tengah mengandung anaknya itu, merindukan bagaimana senyumannya, lembut tangannya, harum yang menguar dari tubuhnya dan tentu saja calon bayinya.
Untuk pertama kalinya ia merasa cemburu, ia merasa marah dan iri pada Naruto karena Ino, mengapa sahabatnya itu mampu membuat tenang Ino sedangkan dirinya hanya bisa menyakiti wanita itu?
Seorang Uchiha tak pernah diajari tentang kelembutan namun sekarang dirinya berbeda, mengapa dirinya benar-benar lemah sekarang? Mengapa ia harus mencintai seorang Yamanaka Ino padahal ia tak pernah sedikitpun meliriknya dulu?
Ia menghela nafas panjang, akan melangkahkan kakinya menjauh sebelum akhirnya ia mendengar suara Naruto yang memanggilnya, membuatnya berdiri tertahan di tempatnya, tak mampu untuk melangkahkan kakinya menjauh ataupun menengokkan kepalannya untuk membalas sapaan Hokage muda Konoha sekaligus sahabatnya itu.
"Teme! Apa yang kau lakukan?" seru Naruto, ia mengedipkan satu matanya pada Ino kemudian melangkahkan kaki mendekat pada Sasuke yang berdiri terpaku "Teme!" ucapnya menepuk pundak sang sahabat "Dobe!"
"Kau tak ingin berbicara dengan Ino-chan?"
Pertanyaan Naruto itu semakin membuatnya tertekan, ia tercekat, tak mampu untuk menjawab pertanyaan dari sahabat sekaligus Hokage desa Konohagakure itu, ia menghela napas panjang, kemudian menggelengkan kepalanya.
Dapat terlihat dari ekor matanya sosok pirang dengan mata aquamarine indah berdiri tak jauh dari tempatnya dan Naruto berada, wanita itu tak berucap apapun, ia nampak cantik dengan polesan make up tipis pada wajahnya.
"Aku pergi dulu, Naruto! aku harus mengurus beberapa laporan di ANBU department, tolong jaga Ino dan bayiku!" ujarnya dingin, meskipun kakinya terasa berat untuk melangkah ia tetap berjalan menjauh pergi dari kedua sosok pirang itu.
Terasa sangat perih seperti sebilah pedang mengiris hatinya, mengapa ia harus merasakan jatuh cinta itu? mengapa Karin harus datang saat ia dan Ino telah bahagia bersama menunggu kelahiran anak pertama mereka?
Seorang Uchiha Sasuke merasakan betapa terpuruknya ia saat ini, ia sangat menyadari betul bahwa ini semua adalah kesalahannya itu mengapa ia tak mampu untuk memberanikan diri untuk menatap sosok cantik yang sangat ia cintai itu, meskipun hatinya menginginkan untuk segera menerjang tubuh mungil itu, membelai dan mencumbunya namun ia sadar dengan apa yang telah ia lakukan selama ini, seberapa parahnya ia telah menyakiti Ino selama ini dan Naruto lah yang mampu mengobati luka yang ia tinggalkan.
Haruskah ia merelakan Ino untuk Naruto? Haruskan ia membiarkan anaknya, seorang keturunan Uchiha dibesarkan oleh seorang Uzumaki, Namikaze?
"Berhenti, Sasuke!"
Suara itu . . .
"Apa kau mencintai Karin hingga kau lupa bahwa bayi yang berada di kandunganku adalah bayimu? Jika memang harus kita akhiri sekarang, setidaknya kau harus berbicara dan menyelesaikan semua ini denganku! Tidak bersikap seperti pecundang yang takut dan lari begitu saja dari perbuatanmu!" sekali lagi wanita Yamanaka itu menghela napas panjang, pelan ia melangkahkan kaki jenjangnya untuk mendekat pada tempat dimana Sasuke sedang berdiri mematung.
Tak ada pergerakan berarti dari pemuda itu selain kedua onyxnya yang ia tutup rapat karena tak ingin memandang raut kesedihan yang ada pada wajah cantik wanita yang ia cintai itu.
"Katakan sesuatu Uchiha Sasuke!" perintah Ino begitu ia telah sampai di samping pemuda raven itu, wajahnya nampak tenang seolah siap dengan apapun keputusan yang akan diambil oleh ayah dari bayinya itu.
Mengapa hidupnya menjadi sangat rumit seperti ini setelah perang berakhir? Memang benar ia mencintai Sasuke, memang benar selama ini ia selalu terkungkung oleh cintanya yang sangat besar pada pemuda itu, namun tak pernah ia merasakan rasa sakit yang sesakit ini karena mencintai sosok Uchiha Sasuke.
"Jawab!"
Namun, pemuda itu hanya diam membisu, tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan Ino, aku telah banyak menyakitimu! Apalagi yang dapat kau harapkan dariku selain rasa kesakitan yang akan menderamu secara bertubi-tubi? Apa kau berharap akan terus ku sakiti dan juga kau berharap aku menyakiti anak kita nanti?"
"Hah~!" Naruto menghela nafas panjang menyaksikan sepasang 'kekasih' itu bersikap seperti itu. ia baru saja akan mendekat pada Ino dan Sasuke namun terhenti ketika Ino tertawa terbahak entah karena apa "Begitukah Sasuke-kun?" tanya wanita pirang itu pada makhluk tampan yang hanya berdiri mematung di hadapannya "Lihat aku Sasuke!" perintahnya.
Kemudian Onyx dan Aquamarine itu beradu "Baiklah! Kita selesaikan sampai disini hubungan kita! Jangan pernah mendekatiku atau bayiku lagi! Carilah wanita lain yang mampu untuk selalu melihatmu, mampu bertekuk lutut dan patuh, dan buatlah anak sebanyak mungkin untuk membangun clanmu lagi! Itu tujuanmu, bukan? aku sudah tidak peduli lagi!"
"Ino/Ino-chan!" pekik Sasuke dan Naruto hampir bersamaan. Kedua pemuda itu tak percaya dengan apa yang mereka dengar baru saja, bagaimana perkataan itu dengan lancar keluar dari mulut Yamana Ino? mereka berdua tau betul bagaimana Ino sangat mencintai Sasuke, tapi mengapa?
"Kau tak pernah sedikitpun mencintaiku bukan? kau menyukai Sakura 'kan dulu? Kau tau betapa menyakitkannya hal itu? beberapa tahun yang lalu aku mencoba memberikan bunga untukmu tapi kau tak mempedulikannya, kau membuatku sakit hati untuk pertama kalinya saat itu, saat kau meninggalkan Konoha, Sakura lah yang kau temui! Cintaku untukmu bukan sekedar cinta seorang fangirl pada idola-nya, Sasuke! kau memilihku karena bayi ini!" Ino menghela napas panjang, dengan penuh kasih sayang ia membelai lembut perut buncitnya "Tapi sekarang aku tak akan berpura-pura bodoh, sejak Karin datang kemari dan Sakura telah menjalin hubungan dengan Shikamaru, kau harus memilih Karin, dia tidak pernah salah dalam hal ini, dia sangat mencintaimu! Jadi jangan pernah menyiakan cinta yang telah diberikan seseorang padamu sebelum semuanya terlambat, Sasuke! jangan mengkhawatirkanku dan bayiku, aku pasti akan menjaganya dengan baik!" Putri Yamanaka Inoichi itu lantas membalikkan tubuhnya setelah ia rasa cukup untuknya berbicara panjang lebar seperti itu di hadapan Sasuke, rasanya seperti keajaiban ketika ia mampu mengucapkan semua itu tanpa air mata yang jatuh dari kedua aquamarine miliknya, untuk satu hal ini ia benar-benar merasa bangga pada dirinya sendiri.
Dengan mantap wanita pirang yang akan segera menjadi ibu itu melangkahkan kaki jenjangnya menuju tempat Naruto berada "Antar aku pulang, Naruto-sama!"
Gluup~ Naruto yang masih ternganga tak percaya kemudian menelan ludahnya cepat, ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya baru saja "Naruto-kun!" bisik Ino pelan yang akhirnya dapat membawa kembali kesadaran pemuda pirang jabrik itu, Naruto kemudian mengangguk mengerti "Dapatkah kau membelikanku kue Dango terlebih dahulu? Aku akan menghampirimu disana setelah aku berbicara dengan Teme"
Ino mengangguk dan segera berjalan pergi meninggalkan kedua pemuda Uzumaki dan Uchiha di belakang.
Naruto lagi-lagi menghela napas panjang untuk meringankan pikirannya "Teme!" Ia berjalan mendekati sahabatnya dan menepuk pundak kokoh milik sang sahabat, namun tak ada reaksi berarti dari pemuda itu.
Sasuke nampak rapuh dengan kepala yang tertunduk lesu menatap tanah yang ia pijak, bahkan ia tak menyahuti sapaan sang Hokage sekaligus mantan rekan setimnya dulu di Tim 7 bersama dengan Haruno Sakura, Kunoichi yang mau tidak mau akhirnya ia sadari ia pernah menyukainya sejak kecil. Ino benar! Tidak ada yang salah sedikitpun dari perkataannya tadi, yang membuat hati pemuda itu semakin tertohok. Sakit.
"Aku . . .!"
"Susul dia dan jaga dia untukku, Dobe!" ucap pemuda Uchiha itu dingin pada Naruto, tanpa melihat lawan bicaranya, Sasuke pun berjalan pergi meninggalkan Naruto.
"Dia hampir kehilangan anak kalian kemarin!" ungkap Naruto sebelum pemuda itu berjalan lebih jauh, nyatanya pernyataan Naruto tadi sukses membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya untuk secara lebih jelas memandang Naruto "Apa maksudmu?"
"Semalam ia menginap di Rumah Sakit karena ia mengalami pendarahan, untung saja Sakura-chan dapat menyelamatkan kandungannya dan pagi ini ia sudah bisa keluar dari Rumah Sakit! Kurasa itu saja yang penting untuk kau ketahui, Teme! Kau tenang saja, aku akan mmenjaga Ino-chan dan anak kalian sampai kau mempunyai keberanian untuk menjelaskan semuanya pada Ino-chan!"
"Dobe . . .!"
Kali ini Naruto yang tak mengindahkan panggilan Sasuke, pemuda keturunan Namikaze dan Uzumaki itu berjalan menjauh. Entah apa yang ada difikiran pemuda itu sekarang, yang pasti sekarang ini ia harus segera menemui Ino di kedai Dango favoritnya, ia tak ingin membuat wanita itu menunggu lagi, tidak akan!.
Naruto berjalan cepat menuju tempat dimana Ino berada, ia tersenyum mana kala melihat sosok berambut panjang pirang tengah membenarkan rambutnya yang berterbangan tersapu hembusan angin, nampak cantik, surai rambut pirangnya nampak berkilauan ditempa sinar matahari. Salahkah dia mencintai sosok 'malaikat' itu? salahkah ia bersikap sedemikian rupa hingga terbersit dalam pikirannya untuk menggantikan posisi Sasuke menjaga dan mencintai Ino dan bayi yang kini sedang dikandungnya?
Menyadari pemuda Uzumaki sekaligus pemimpin tertinggi Konoha tengah menatapnya dari seberang jalan Ino lantas menyunggingkan senyumannya, melambaikan tangan pada Naruto yang disambut dengan cengiran khas rubah itu.
Naruto kemudian melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita yang kini tengah membawa sekantung penuh kue Dango untuknya "Kita pulang?"
"Tentu saja! aku harus segera mengantarmu pulang, ingat! Kau harus banyak beristirahat, kau hampir saja kehilangan bayimu!"
"Kau cerewet, Naruto-kun!" potong Kunoichi cantik itu kemudian berlalu.
"Ino-chan!"
Putra Namikaze itu menggelengkan kepalanya, ia sangat gemas dengan tingkah Ino yang seperti itu, segera saja pemuda itu berlari kecil untuk mengejar ketertinggalannya dari putri Yamanaka Inoichi itu, kini keduanya sudah berjalan beriringan.
Ino hanya tersenyum ketika menyadari bahwa sosok pirang selain dirinya itu kini berjalan di sampingnya, tak satupun dari mereka yang berucap, hanya suara burung-burung yang terdengar juga cahaya matahari senja yang menemani perjalanan mereka menuju kediaman Clan Yamanaka.
.
.
.
.
To Be Continued . . .
Pendek ya? :D, lagi buntu . . . tapi berusaha untuk update in buat yang nunggu *kalau ada* ayo berikan semangat untukku kawan-kawan *Lohh*
Hehehe …
Enjoy ^^
#Vale
