Elfjoy137 Present
KYUMIN FANFICTION
Bared To You
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan, ada beberapa tokoh OOC
DLDR
Please enjoy ^^
Remake Novel karya SYLVIA DAY 'Bared To You'.
Hak cipta terjemahan Indonesia : Gramedia
This is mature story. Don't Like? Just Don't Read !
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
~JOYER~
.
.
.
.
BAB 12
.
Kyuhyun bertemu denganku di kamar mandi keesokan harinya. Ia berderap ke kamar mandi utama dalam keadaan telanjang, berjalan dengan keanggunan sama dan penuh percaya diri yang sudah ku kagumi sejak awal. Melihat ototnya ketika ia berjalan, aku bahkan tidak bisa berpura-pura tidak menatap bagian yang mengesankan di antara kakinya.
Walaupun airnya hangat, puncak payudaraku mengeras dan bulu kudukku merinding.
.
.
Kyuhyun tidak mendapat mimpi buruk kemarin malam. Seks sepertinya berhasil berfungsi sebagai obat penenang, dan aku merasa sangat bersyukur karenanya.
"Kuharap kau tidak berpikir bahwa kau berhasil lolos," katanya ketika menghampiriku di dapur. Ia mengenakan setelan bergaris-garis hitam yang rapi, menerima secangkir kopi yang kuberikan kepadanya, dan memberikan tatapan penuh janji nakal kepadaku. Aku melihatnya dalam balutan pakaian yang sangat sopan dan memikirkan namja tak kenal puas yang menyelinap ke ranjangku kemarin malam.
"Teruslah menatapku seperti itu," Kyuhyun memperingatkan, bersandar santai di meja dan menyesap kopinya. "Lihat apa yang akan terjadi."
"Aku akan kehilangan pekerjaan gara-gara dirimu." Ucapku.
"Aku akan memberimu pekerjaan lain."
Aku mendengus. "Sebagai apa? Budak seksmu?"
"Benar-benar saran yang menggoda. Mari kita bicarakan."
"Dasar jahat," gerutuku, membilas cangkirku di tempat cuci piring setelah sebelumnya kusabuni. "Sudah siap untuk bekerja?"
Kyuhyun menghabiskan kopinya dan aku mengulurkan tangan hendak mengambil cangkirnya, tetapi ia berjalan melewatiku dan mencuci cangkirnya sendiri. Setelah itu, ia menghadapku. "Aku ingin mengajakmu makan malam di luar hari ini, lalu mengajakmu pulang ke tempat tidurku."
"Aku tidak ingin kau kelelahan gara-gara aku, Kyuhyun." Ia adalah namja yang terbiasa hidup sendiri, namja yang tidak pernah menjalin hubungan fisik yang berarti untuk waktu yang lama. Berapa lama lagi sebelum nalurinya untuk kabur akan muncul? Di samping itu, kami benar-benar harus menjauh dari public sebagai sepasang kekasih…
"Jangan membuat alasan." Raut wajahnya mengeras. "Kau tidak bisa memutuskan bahwa aku tidak bisa melakukan ini."
Aku mengomeli diriku sendiri karena membuatnya tersinggung. Ia sedang mencoba dan aku harus menghargainya, bukan menghalanginya. "Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin terlalu mendesakmu. Di tambah lagi, kita masih harus—"
"Sungmin." Ia mendesah. "Kau harus percaya padaku. Aku percaya padamu. Aku harus percaya padamu, kalau tidak, kita tidak akan berada disini sekarang."
Oke. Aku mengangguk dan menelan ludah dengan susah payah. "Kalau begitu, makan malam dan apartemenmu. Aku benar-benar tidak sabar menunggunya."
.
Bared to You
.
Kata-kata Kyuhyun tentang kepercayaan menempel dalam benakku sepanjang pagi, yang merupakan sesuatu yang bagus ketika berita Google kembali muncul dalam inbox-ku.
Kali ini ada lebih dari selembar foto. Setiap artikel dan blog memuat beberapa foto diriku dan Donghae yang berpelukan mengucapkan selamat tinggal di depan restoran ketika kami makan siang kemarin. Tajuk utamanya menyiratkan hubungan kami dan beberapa diantaranya menyatakan bahwa kami tinggal bersama. Yang lainnya menyatakan bahwa aku memancing 'multimiliuner Cho yang playboy' sekaligus mempertahankan kekasihku yang calon model.
Alasan dari publisitas ini makin jelas ketika aku melihat foto Kyuhyun yang berbaur bersama foto-fotoku dan Donghae. Foto itu diambil kemarin malam, sementara aku menonton film bersama Donghae dan Eunhyuk—pada saat Kyuhyun seharusnya makan malam bersama rekan bisnisnya. Dalam foto itu Kyuhyun dan Jung Jessica tersenyum intim satu sama lain, tangannya menyentuh lengan Kyuhyun sementara mereka berdiri di depan restoran. Tajuk utamanya berbagai macam, dari pujian atas 'deretan sosialita Kyuhyun' sampai spekulasi bahwa ia sedang sakit hati karena perselingkuhanku dengan berkencan dengan yeoja lain.
Kau harus percaya padaku.
Aku menutup inbox-ku, napasku cepat dan debar jantungku terlalu kencang. Kebingungan dan kecemburuan melilit dalam perutku. Aku tahu Kyuhyun tidak mungkin berhubungan intim secara fisik dengan yeoja lain, dan aku tahu ia peduli padaku. Tetapi aku sangat membenci Jung Jessica—sudah jelas ia memberiku alasan untuk membencinya ketika kami mengobrol di kamar kecil—dan aku tidak tahan melihatnya bersama Kyuhyun. Tidak tahan melihat Kyuhyun tersenyum sayang kepadanya, terutama setelah cara yeoja itu memperlakukanku.
Aku memutuskan untuk kembali memusatkan perhatian pada pekerjaanku. Hangeng akan bertemu Kyuhyun besok untuk membahas pengajuan penawaran untuk iklan Kingsman, dan aku yang mengatur informasi antara Hangeng dan departemen-departemen lain yang terkait.
"Hei, Sungmin." Hangeng melongok dari ruangannya. "Aku dan Heechul akan bertemu di Seoul Park Grill saat makan siang. Dia memintaku bertanya padamu apakah kau mau ikut. Dia ingin bertemu denganmu lagi."
"Dengan senang hati." Siangku berubah cerah karena berpikir bisa menikmati makan siang di salah satu restoran kesukaanku bersama dua orang namja yang mempesona.
Ketika aku menerima amplop internal beberapa saat kemudian, kupikir isinya adalah contoh iklan untuk Kingsman, tetapi aku malah menemukan secarik pesan dari Kyuhyun.
TENGAH HARI. KANTORKU.
"Yang benar saja?" gerutuku, kesal karena kurangnya kata-kata pembuka dan penutup. Apalagi itu tidak terdengar seperti permintaan. Dan siapa yang bisa melupakan kenyataan bahwa Kyuhyun sama sekali tidak mengungkit pertemuannya dengan Jessica saat makan malam kemarin?
Aku membalik kartu Kyuhyun dan menulis kata-kata singkat tanpa tanda tangan.
Maaf. Punya rencana lain.
Jawaban yang ketus tapi Kyuhyun pantas mendapatkannya. Ketika jam menunjukkan pukul 11.45, aku dan Hangeng turun ke lantai dasar. Ketika aku dihentikan oleh petugas keamanan dan ia menelepon Kyuhyun untuk memberitahunya bahwa aku ada di lobi, kekesalanku berubah menjadi amarah.
"Ayo, kita pergi," kataku pada Hangeng, berjalan ke arah pintu putar dan mengabaikan permintaan si petugas keamanan untuk menunggu sebentar. Aku merasa tidak enak padanya karena menempatkannya di tengah-tengah masalah.
Aku melihat Shindong dan mobilnya di pinggir jalan tepat pada saat aku mendengar Kyuhyun memanggil namaku. Aku menghadapnya ketika ia bergabung dengan kami di trotoar dengan wajah datar dan mata dingin.
"Aku akan pergi makan siang bersama atasanku," kataku padanya.
"Kalian akan pergi ke mana, Tan?" tanya Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangan dariku.
"Seoul Park Grill."
"Akan kupastikan dia tiba disana." Setelah itu, ia mengamit lenganku dan menuntunku dengan tegas ke arah mobil dan pintu belakang yang dibuka Shindong untukku. Kyuhyun mendesakku dari belakang, memaksaku bergeser dikursi. Pintu di tutup dan kami pun berangkat.
Aku merapikan rokku dengan kasar. "Apa yang kau lakukan? Kau mempermalukanku di depan atasanku."
Kyuhyun menyampirkan sebelah lengannya di sandaran kursi dan mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Apakah Donghae jatuh cinta padamu?"
"Apa? Tidak!"
"Apakah kau pernah tidur dengannya?"
"Apakah kau sudah gila?" Panik, aku melirik ke arah Shindong dan melihat namja itu pura-pura tuli. "Persetan denganmu, playboy multimiliuner dengan deretan sosialitamu yang cantik."
"Jadi kau sudah melihat foto-fotonya."
Aku begitu marah sampai napasku terengah-engah. Berani-beraninya dia. Aku memalingkan wajah, mengabaikannya dan tuduhan-tuduhan bodohnya. "Donghae sudah seperti saudaraku. Kau tahu itu."
"Ah, tapi apa arti dirimu baginya? Foto-fotonya sangat jelas, Sungmin. Aku tahu cinta itu seperti apa."
Shindong melambatkan mobil untuk mebiarkan para pejalan kaki menyeberangi jalan. Aku membuka pintu dan menatap Kyuhyun, membiarkannya menatap wajahku dengan seksama. "Sudah jelas kau tidak tahu."
Aku membanting pintu dan berjalan dengan cepat, diselimuti amarah. Aku sudah menahan pertanyaan-pertanyaan dan kecemburuanku sendiri dengan susah payah, tapi apa yang kudapatkan? Kyuhyun yang marah-marah dan tidak rasional.
"Sungmin. Berhenti."
Aku menoleh ke belakang, mengacungkan jari tengahku ke arahnya, dan berlari menaiki anak-anak tangga ke Seoul Park.
Sayang sekali bagiku, Kyuhyun berhasil mengejarku dan menangkup pinggangku.
"Jangan lari," desisnya di telingaku.
"Sikapmu seperti orang gila."
"Mungkin karena kau membuatku gila." Pelukannya mengeras. "Kau milikku. Katakan padaku bahwa Donghae menyadarinya."
"Benar. Seperti Jessica yang tahu bahwa kau adalah milikku." Kuharap ia menempatkan sesuatu di dekat mulutku sehingga aku bisa menggigitnya. "Kau membuat kehebohan."
"Kita bisa melakukannya di kantorku, kalau kau tidak begitu keras kepala."
"Aku punya rencana lain, brengsek. Dan kau mengacaukannya!" Suaraku pecah, air mataku tumpah ketika aku merasakan orang-orang mentap kami. Aku akan dipecat karenamenjadi bahan tontonan yang memalukan. "Kau mengacaukan semuanya."
Kyuhyun langsung melepaskanku, membalikkanku menghadapnya. Cengkeramannya di bahuku memastikan bahwa aku tidak bisa kabur.
"Demi Tuhan." Ia memelukku dengan erat, bibirnya menempel di rambutku. "Jangan menangis. Aku minta maaf."
Aku memukul dadanya, yang efeknya seperti memukul dinding batu. "Apa yang salah denganmu? Kau boleh keluar dengan yeoja jalang licik yang menyebutku pelacur dan berpikir dia akan menikah denganmu, tapi aku tidak boleh makan siang bersama teman baik yang sudah berpihak padamu sejak awal!"
"Sungmin." Kyuhyun menangkup bagian belakang kepalaku dengan satu tangan dan menempelkan pipinyake pelipisku. "Jessica kebetulan ada di restoran yang sama tempat aku makan malam bersama rekan-rekan bisnisku."
"Aku tidak peduli. Kau bicara tentang raut wajah seseorang, lalu apa arti raut wajamu saat itu? Bagaimana bisa kau menatapnya seperti itu setelah apa yang dia katakan padaku?"
"Angel…" Bibir Kyuhyun bergerak-gerak di wajahku. "Raut wajah itu adalah untukmu. Jessica mencegatku di luar dan kukatakan kepadanya bahwa aku akan pulang menemuimu. Aku tidak bisa mengendalikan raut wajahku ketika aku memikirkan bahwa kita bisa berduaan."
"Dan kau berharap aku percaya bahwa dia tersenyum mendengarnya?"
"Dia titip salam kepadamu, tapi kupikir itu tidak akan diterima dengan baik, dan aku tidak mungkin mengacaukan malam kita gara-gara dia."
Lenganku melingkari pinggangnya dari balik jasnya. "Kita harus bicara. Malam ini, Kyuhyun. Ada yang harus kukatakan padamu. Kalau wartawan menggali ditempat yang benar dan beruntung… kita harus merahasiakan hubungan kita atau mengakhirinya. Apa pun pilihannya, itu lebih baik untukmu."
Kyuhyun menangkup wajahku dan menempelkan keningnya ke keningku. "Dua-duanya bukan pilihan yang bagus. Apapun itu, kita akan mengatasinya."
Aku berjinjit dan menempelkan mulutku ke mulutnya. Lidah kami saling membelai, ciuman itu sangat liar dan penuh gairah. Samar-samar aku menyadari banyak orang yang berlalu lalang di sekitar kami, tapi semua itu tidak penting ketika aku dilindungi oleh Kyuhyun.
"Nah," bisiknya sambil membelai pipiku dengan ujung jarinya. "Biarkan orang-orang itu heboh."
"Kau tidak mendengarkanku, dasar namja gila keras kepala. Aku harus pergi."
"Kita akan pulang bersama sesudah kerja." Kyuhyun melangkah mundur, memegang tanganku sampai jarak memisahkan jari-jari kami.
.
.
.
Ketika jam lima menjelang, aku menguatkan diri untuk menceritakan rahasia-rahasiaku. Aku merasa tegang dan serius ketika aku dan Kyuhyun masuk ke mobil, dan kegelisahanku semakin buruk ketika aku merasakan Kyuhyun mengamati sisi wajahku yang dipalingkan. Ketika ia meraih tanganku dan mengangkatnya ke bibir, aku merasa ingin menangis.
Kami tidak bicara sampai kami tiba di apartemennya.
Ketika kami memasuki rumahnya, ia menuntunku melintasi ruang duduknya yang indah dan luas, menyusuri koridor ke arah kamar tidurnya. Di sana, di atas ranjang, terdapat sehelai gaun malam yang indah berwarna biru safir dan jubah sutra hitam panjang.
"Aku punya sedikit waktu luang untuk berbelanja sebelum makan malam kemarin," jelasnya.
Kecemasanku berkurang, dikalahkan oleh kesenangan karena pengertiannya. "Terima kasih."
Ia meletakkan tasku di kursi di samping meja rias. "Aku ingin kau merasa nyaman. Kau bisa mengenakan jubah itu atau salah satu pakaianku. Aku akan membuka sebotol anggur dan kita tidak perlu keluar rumah. Kalau kau sudah siap, kita akan bicara."
"Aku ingin mandi sebentar."
"Apapun yang kau inginkan, angel. Anggap saja rumah sendiri."
.
.
Ketika aku sudah siap, aku melihat Kyuhyun berdiri di samping sofa di ruang duduk. Ia sudah berganti pakaian mengenakan celana piama sutra hitam yang tergantung rendah dipinggulnya. Hanya itu. Api kecil menyala di perapian dan sebotol anggur ditempatkan di dalam ember berisi bongkahan es di atas meja kopi. Lilin-lilin berwarna gading dijadikan sebagai hiasan di tengah-tengah meja, cahaya lilin yang keemasan adalah satu-satunya penerangan selain api diperapian.
"Maaf," kataku dari ambang pintu ruangan. "Aku sedang mencari Cho Kyuhyun, namja yang tidak ahli dalam hal-hal romantis."
Kyuhyun tersenyum malu, senyum kekanak-kanakan yang bertentangan dengan sensualitas dari tubuhnya yang bertelanjang dada. "Aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya mencoba menebak apa yang bisa membuatmu senang, lalu aku mencobanya dan mengharapkan yang terbaik."
"Kau membuatku senang." Aku menghampirinya, jubah hitam itu berayun-ayun di sekeliling kakiku. Aku menyukai kenyataan bahwa ia mengenakan sesuatu yang senada dengan pakaian yang diberikannya padaku.
"Aku ingin menyenangkanmu," katanya sungguh-sungguh."Aku berusaha melakukannya."
Aku berhenti di hadapannya, mengamati wajahnyayang tampan dan kesan seksi rambutnya. Aku membelai lengannya dengan lembut sebelum melangkah mendekatinya dan menempelkan wajahku ke dadanya.
"Hei," gumamnya dan memelukku. "Apakah ini tentang aku yang bersikap seperti bajingan saat makan siang? Atau apapun yang ingin kau katakan padaku? Bicaralah padaku, Sungmin, sehingga aku bisa memberitahumu bahwa semuanya akan baik-baik saja."
"Sebaiknya kita duduk. Aku harus menceritakan banyak hal tentang diriku. Hal-hal yang buruk."
Kyuhyun melepaskanku dengan enggan ketika aku menjauh darinya. Aku meringkuk di sofa dan ia menuangkan anggur untuk kami berdua sebelum duduk. Ia mencondongkan tubuh ke arahku, menyampirkan sebelah lengan di sandaran sofa, dan memegang gelasnya dengan tangan lain, memberikan seluruh perhatiannya kepadaku.
"Oke, ini dia." Aku menarik napas dalam-dalam sebelum memulai, merasa pusing karena denyut nadiku yang berpacu. Aku tidak ingat kapan terakhir kalinya aku merasa begitu gugup.
"Appa dan eomma kandungku tidak pernah menikah. Aku benar-benar tidak tahu banyak tentang bagaimana mereka bisa bertemu, karena mereka berdua tidak mau membicarakannya. Aku tahu eommaku berasal dari keluarga yang kaya. Tidak sekaya namja yang dinikahinya, tetapi ia lebih kaya dari sebagian orang. Mengandung diriku adalah kesalahan yang membuat keluarganya memutuskan hubungan dengannya, tetapi dia mempertahankanku."
Aku menunduk menatap gelasku. "Aku benar-benar mengaguminya untuk itu. Banyak tekanan yang di tujukan kepada eommaku untuk menyingkirkan bayi itu—menyingkirkanku, tapi dia tetap mempertahankan kehamilannya. Sudah jelas."
Jemari Kyuhyun membelai rambutku yang masih lembap karena baru selesai mandi. "Aku memang beruntung."
Aku menangkap jarinya dan mencium buku-buku jarinya, lalu menahan tangannya di pangkuanku. "Bahkan dengan seorang anak, dia mampu mendapatkan miliuner. Namja itu duda dengan seorang anak laki-laki yang usianya dua tahun lebih tua dariku, jadi kupikir mereka berdua mengira telah mencapai kesepakatan yang sempurna. Suaminya sering berpergian dan jarang ada di rumah, eommaku menghabiskan uangnya dan membesarkan anak laki-lakinya."
"Aku memahami kebutuhan akan uang, Sungmin," gumam Kyuhyun. "Aku juga merasakannya. Aku membutuhkan kekuasaannya. Keamanannya."
Mata kami bertemu. Sesuatu terjadi di antara kami setelah pengakuan kecil itu. Hal itu membuatku merasa lebih mudah mengatakan apa yang terjadi selanjutnya.
"Umurku sepuluh tahun ketika oppa tiriku pertama kali memperkosaku—"
Kaki gelas Kyuhyun patah dalam pegangannya. Ia bergerak begitu cepat sampai aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, menahan cangkirnya di paha sebelum isinya tumpah.
Aku bergegas berdiri ketika ia berdiri. "Apakah kau terluka? Apakah kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," cetusnya. Ia berjalan ke dapur dan melempar gelas yang hancur itu, membuatnya lebih hancur lagi. Aku meletakkan gelasku sendiri dengan hati-hati, tanganku gemetar. Aku mendengar lemari-lemari di buka dan di tutup. Beberapa menit kemudian Kyuhyun kembali membawa segelas cairan yang lebih pekat.
"Duduk, Sungmin."
Aku menatapnya. Tubuhnya kaku, matanya sedingin es. Ia mengusap wajah dan berkata dengan lebih lembut. "Duduklah… tolong."
Lututku melemah dan aku duduk ditepi sofa, merapatkan jubahku.
Kyuhyun tetap berdiri, meneguk apapun yang ada di tangannya itu. "Kau tadi berkata pertama kali. Berapa kali seluruhnya?"
Aku menarik napas dengan hati-hati, mencoba menenangkan diri. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menghitungnya."
"Apakah kau memberitahu seseorang? Apakah kau memberitahu eommamu?"
"Tidak. Demi Tuhan, kalau dia tahu, dia pasti sudah membawaku keluar dari sana. Tapi Kris memastikan aku terlalu takut untuk memberitahunya." Aku mencoba menelan ludah dengan kerongkonganku yang tersekat dan kering, dan mengernyit merasakan sakit. Ketika suaraku kembali, suaraku hanya berupa bisikan. "Adakalanya keadannya begitu buruk sampai aku nyaris mengatakan semuanya. Jadi dia mematahkan leher kelinciku dan meninggalkannya di tampat tidurku."
"Ya Tuhan." Dada Kyuhyun naik-turun. "Dia tidak hanya kacau, dia sudah gila. Dan dia menyentuhmu… Sungmin."
"Para pelayan pasti tahu," aku melanjutkan tanpa merasakan apa-apa, menatap tanganku yang saling meremas. Aku hanya ingin menyelesaikannya, menceritakan segalanya sehingga aku bisa menyimpannya kembali di dalam kotak di benakku di mana aku bisa melupakannya dalam keseharianku. "Kenyataan bahwa mereka tidak berkata apa-apa menyatakan bahwa mereka juga takut. Mereka sudah dewasa dan mereka tidak berkata apa-apa. Aku masih kecil. Apa yang bisa kulakukan kalau mereka tidak melakukan apa-apa?"
"Bagaimana kau bisa keluar dari sana?" tanya Kyuhyun serak. "Kapan semua itu berakhir?"
"Ketika usiaku empat belas tahun. Kupikir aku mengalami menstruasi, tetapi darahku terlalu banyak. Eommaku panik dan membawaku ke UGD. Ternyata aku keguguran. Selama pemeriksaan, mereka menemukan bukti-bukti… luka lain. Luka di vagina dan anus—"
Kyuhyun meletakkan gelasnya di tepi meja dengan keras.
"Maafkan aku," bisikku, merasa ingin muntah. "Aku tidak ingin menjelaskan detailnya kepadamu, tapi kau harus tahu apa yang mungkin di gali seseorang. Rumah sakit melaporkan pelecehan itu ke bagian pelayanan anak-anak. Semuanya ada dalam laporan public, yang sudah dirahasiakan, tetapi ada orang yang tahu kisah sebenarnya. Ketika eommaku menikah dengan Kangin, Kangin memperkuat rahasiannya, mengeluarkan uang untuk menjaga kerahasiannya… dan semacamnya. Tapi kau berhak tahu bahwa masalah ini bisa terkuak dan membuatmu malu."
"Membuatku malu?" bentaknya, tubuhnya gemetar marah. "Malu tidak ada dalam daftar perasaanku."
"Kyuhyun—"
"Aku akan menghancurkan kerier wartawan mana pun yang menulis tentang masalah ini, lalu aku akan mengobrak-abrik koran yang memuat berita ini." Ia marah besar, sikapnya sedingin es."Aku akan mencari monster yang menyakitimu, Sungmin, di mana pun dia berada, dan aku akan membuatnya berharap dia sudah mati."
Tubuhku gemetar, karena aku percaya padanya. Semuanya terlihat di wajahnya. Suaranya. Energi yang dipancarkannya dan perhatiannya yang tajam. Ia tidak hanya gelap dan berbahaya dari segi penampilan. Kyuhyun adalah orang yang mendapatkan apa yang diinginkannya, apa pun risikonya.
Aku berdiri. "Dia tidak pantas diributkan."Tidak pantas kau ributkan."
"Kau. Kau berharga, Sungmin."
Aku berjalan menghampiri perapian, membutuhkan kehangatannya."Ada juga jeka uang. Para polisi dan wartawan selalu mengikuti jejak uang. Seseorang mungkin bertanya-tanya kenapa eommaku keluar dari pernikahan pertamanya dengan membawa uang dua milyar won, sedangkan putrinya dari hubungannya sebelum itu mendapat lima milyar won."
Tanpa melihatnya, aku merasakan Kyuhyun bergeming. "Tentu saja," lanjutku, "uang berdarah itu mungkin sudah lebih banyak sekarang. Aku tidak mau menyentuhnya, tapi Kangin mengurus uang itu untukku. Kalau kau pernah merasa cemas bahwa aku menginginkan uangmu—"
"Berhenti bicara!"
Aku berbalik menghadapnya. Aku melihat wajahnya, matanya. Melihat rasa kasihan dan kengerian di sana. Tetapi apa yang tidak kulihatlah yang paling menyakitkan bagiku.
Itu adalah mimpi burukku yang menjadi kenyataan. Aku takut masa laluku bisa mempengaruhi minatnya padaku dengan cara yang buruk. Donghae pernah memberitahuku bahwa Kyuhyun mungkin akan tetap bersamaku karena alasan-alasan yang salah. Bahwa ia mungkin akan tetap bersamaku, tetapi aku masih tetap akan kehilangan dirinya—dalam segala hal.
Dan sepertinya aku sudah kehilangan dirinya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Annyeong ^^
aku update dua BAB sekaligus, karena takut gak bisa update untuk beberapa saat ke depan. gimana? puas gak dua chapter sekaligus? kkk~
waduh, disini masa lalu Sungmin udh kebongkar. lalu bagaimana masa lalu Kyuhyun? dan bagaimana kelanjutannya?
See u next chap ^^
Big Thanks To:
Heldamagnae , Love Kyumin 137 , Rly. , abilhikmah , kyuxmine , Kyuminsimple0713 , Frostbee , TiffyTiffanyLee , dewiktubagus , OvaLLea , Tika137 , PumpkinEvil , HaeHar , siganteng , Hana , kyumin sefi , babyChoi137 , Cywelf , HeeKyuMin91, parkhyun , Rinda Cho Joyer , asdfghjkyu, PaboGirl , pinkKYUMIN , farihadaina , Nuralrasyid , Gyeomindo , 99 , kyumin , fariny , bunyming , BTY , ChoLeeKyuMin , pinzame , miadevi137 , kyuminJoy137 , kimjaejoong309 , steffifebri, Lee mingma , isjkmblue , lee kyurah , BB137 , ai siti Fatimah, danhobak15 , Love Kyumin 137, ncisksj , ChoLee , Heeni and Guest. (Yang di cetak tebal adalah reviewer di BAB 7 dan 8 ^^ serta bab 5&6 yang baru masuk).
For 'Noona-nim' , I know who you are.. gomawo ^^
For 'sujummaBRAT' please jangan nyampah di FF gue *gak deng* thank you chagi :* mumumual :*
Buat yang namanya belum tercantum diatas, maaf ya, mungkin review nya belum masuk u.u
Thank You So Much :*
And keep REVIEW ~~
