Dan adalah seorang penerus tunggal dari keluarga Katou. Sebuah keluarga besar yang berada didalam desa terpencil, bernama Hayakawa.
Semua anggota dalam keluarga Katou merupakan seorang dokter yang handal. Entah itu semenjak para leluhur hingga penerus, keluarga ini selalu berisi dengan orang-orang yang berbakat dalam dunia medis. Bahkan rumah sakit satu-satunya yang berada didalam desa Hayakawa merupakan rumah sakit milik keluarga Katou.
Keluarga Katou terkenal akan keramahan dan sikap peduli yang begitu besar, tak heran jika semua warga desa disana begitu mengagumi dan menghormati keluarga tersebut, pun itulah yang ditunjukan oleh Dan Katou.
Seorang penerus keluarga yang terjebak akan cintanya pada seseorang yang telah berumah tangga.
..
Awal pertemuannya dengan sang pujaan adalah ketika dirinya tidak sengaja melihat seorang pria dengan anak kecil yang tengah terlelap dalam gendongan hangatnya. Membawa sebuah koper dan beberapa tas yang terlihat berat dimata Dan.
Pria raven itu terlihat sangat kelelahan, raut wajahnya yang berhias peluh dan merah akan teriknya matahari membuat Dan merasa iba dalam hatinya.
Dan sangat yakin ketika itu dia adalah seorang pendatang baru yang memang belum mengenal tempat ini. Karena yang ia tahu, desa ini sangatlah jarang dikunjungi turis karena tempatnya yang memang terpencil.
Dengan seulas senyum tulus, Dan menghampiri Pria raven itu. Mencoba memberikan bantuan yang mungkin bisa ia lakukan.
..
"Sumimasen, Adakah yang bisa saya bantu ? " tanyanya tiba-tiba dari arah samping tempat sang pria berdiri. Dan tentu saja hal tersebut sukses membuat sosok didepannya terkejut akan kemunculannya yang tiba-tiba.
"Perkenalkan namaku Dan katou. Maaf sebelumnya datang tiba-tiba, tapi anda terlihat kebingungan, mungkin ada yang bisa saya bantu tuan ?" ucap Dan lagi dengan senyum teduhnya yang selalu melekat.
Hening beberapa saat, hingga akhirnya pria bermata Onyx itu membuka suaranya. Bertanya dengan nada gugup yang terselip.
"... A-Apa anda warga sini ?" tanyanya ragu.
"Tentu saja."
"Aku mencari sebuah penginapan, tapi sulit sekali menemukannya didesa ini."
"Sayang sekali, disini memang tidak ada penginapan atau hal semacam itu." Nada sesal tersirat dalam ucapan Dan ketika mengatakan hal tersebut. Terlihat berhati-hati ketika onyx itu sedikit redup setelah mendengar perkataannya.
"Jarang sekali ada orang luar datang ke sini untuk tinggal. Jadi hal yang wajar ketika tidak ada penginapan didaerah sini." Jelas Dan kepada sosok didepannya.
"Kalau begitu mungkin aku akan mencarinya didesa lain." balas sang raven pelan dengan gurat kecewa menghiasi wajah rupawannya.
"Terima kasih atas informasinya."
Setelah mengatakan hal itu, pria yang belum ia ketahui namanya kini membungkuk sedikit tanda berterima kasih, membalikkan tubuhnya, dan melangkah pelan menjauhi Dan.
"Matte.. "
Teriak Dan memanggil sang pria.
"Jika anda bersedia, anda bisa tinggal dirumah saya. Kebetulan disana masih ada kamar kosong. Kurasa akan sama sulitnya mendapatkan penginapan walaupun pergi kedesa seberang." Tawar Dan dengan tulus.
Ia melihat pria raven itu berpikir sejenak, raut wajahnya yang terlihat sangat kelelahan membuat Dan tak bisa melepaskan pandangannya dari pria dihadapannya.
Sungguh ia sangat penasaran kenapa pria asing ini datang ke desa Hayakawa yang jelas-jelas jauh dari pusat keramaian. Terlebih lagi pria ini tidak memiliki saudara ataupun kenalan disini.
"Bagaimana ?" tanya Dan memastikan kembali setelah menunggu sejenak.
"Baiklah." Balas sang pria pelan dengan binar cerahnya karena merasa senang.
Menolehkan pandangannya kearah Dan. Sosok itu pun kembali berucap.
...
"Arigato Katou-san."
Lanjutnya dengan sebuah senyum lembut yang terukir indah dalam retina mata Dan yang terpesona.
.
.
.
.
.
.
.
Disaat Lamunannya dimasa lalu buyar, Dan tersentak kaget ketika suara lembut terus saja memanggil namanya. Sebuah suara yang telah lama bungkam dan begitu ia rindukan.
Menolehkan kearah sosok yang memanggilnya, Dan pun kemudian tersenyum hangat, menyambut tatapan teduh dari mata segelap malam itu.
"Ya, Sasuke."
"Apakah kau baik-baik saja ?" tanya Sasuke khawatir ketika melihat Dan yang sedaritadi terus saja berdiam diri.
"T-Tentu saja.. Gomen, tadi aku hanya sedikit melamun."
...
"Dan, ini sudah lebih dari lima hari aku tidak melihat Menma, kapan aku bisa bertemu dengannya ?"
"Sampai kau benar-benar sembuh seperti sedia kala. Ingat, masih banyak therapy yang harus dilakukan." Jelas Dan sambil menyelipkan sebuah bantal dan membantu Sasuke agar bisa bersandar pada dashboard ranjang.
"..."
"Kau tahu bukan, anak kecil dilarang untuk masuk keruangan khusus ini." Lanjutnya dengan tersenyum hangat pada Sasuke.
Setelah pembicaraannya dengan Sakura tempo hari yang lalu, Dan tiba-tiba saja menemukan keadaan Sasuke yang tengah membuka matanya. Diiringi dengan hembusan nafas yang pelan, pria yang dicintainya itu berucap lirih memanggil nama 'Menma.'
Hal itu sontak saja membuat dirinya luar biasa senang dengan keajaiban yang didapatkannya. Setelah hampir berbulan-bulan orang yang dicintainya mengalami koma, kini ia pun dapat kembali siuman. Walaupun hal itu harus dibayar dengan kelumpuhan yang dialami oleh Sasuke.
Akibat koma yang berkepanjangan, seluruh fungsi syaraf dan persendian Sasuke menjadi kaku sehingga dirinya sama sekali tidak dapat menggerakan anggota tubuhnya.
Dan karena hal itu juga dirinya tidak sanggup untuk berkata jujur kepada Sasuke tentang kembalinya Menma bersama ayah kandungnya.
Tak sanggup ketika ia harus kembali melihat luka dalam mata segelap malam itu.
Ia tahu betapa Menma sangat berarti untuk Sasuke. Namun dirinya harus tetap menunggu. ..
Menunggu sampai keadaan Sasuke kembali normal.
...
"Dan.." panggil Sasuke pelan ketika kehingan yang sempat melanda mereka.
"Ya."
..
"Jika aku tidak bisa bertemu dengan Menma, Bolehkan kau membantuku untuk menghubunginya ?" tanyanya dengan sorot mata Onyx yang penuh harap itu kepada Dan. Gurat putus asa yang tercetak jelas dalam wajah Sasuke membuat hati Dan tercubit seketika.
Sungguh tatapan itu membuat perasaan bersalah kembali menghantuinya.
...
"Err.. i-itu... maaf Sasuke, tapi peraturan melarang membawa handphone kedalam ruangan therapy ini."
.
.
"... Souka." Balas Sasuke lirih.
.
.
'Maafkan aku Sasuke.. maaf..'
Rapal Dan dalam hatinya, ketika melihat Onyx sosok pria yang dicintainya semakin meredup.
Tersirat akan rasa kecewa dan kerinduan yang mendalam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
_x0x_
.
"Stres ringan ?"
..
"Ya, anak anda sepertinya sedang tertekan sehingga menyebabkan tubuhnya mengalami demam tinggi , Namikaze-san." Ucap seorang dokter berambut putih dengan kacamata besar yang membingkai kedua mata hitamnya itu.
Sorot mata Kabuto, sang dokter pribadi keluarga Namikaze itu terlihat begitu serius, menatap intents keadaan Menma yang masih tak sadarkan diri dengan deru nafas yang tidak teratur akibat suhu badannya yang terlampau tinggi.
"Sebaiknya jauhkan hal yang membuat anak anda tertekan, karena itu akan menggangu mental bahkan kondisi tubuhnya." Lanjut sang dokter sambil menuliskan sebuah resep obat untuk Menma.
Disisi lain, Naruto yang mendengar penjelasan dari dokter pribadinya itu hanya terdiam tak berkutik.
Sedih , cemas, dan rasa sesal menyelimuti perasaannya saat ini.
Ia sama sekali tak menyangka akibat perbuatannya dengan memisahkan Menma dan Sasuke akan berefek sebesar ini. Padahal selama ini ia begitu yakin bahwa putera sulungnya akan tetap bahagia asalkan terus bersamanya.
Tapi kini ia mulai paham akan satu hal.
Bukan dirinya yang dibutuhkan oleh Menma.
Melainkan Sasuke.
Orang yang ia tinggalkan sendiri dalam keadaan koma.
..
Kepalan tangan kekar Naruto menguat, mencoba menyalurkan segala rasa yang terus bergejolak dalam hati kecilnya. Sungguh ia harus berbuat sesuatu untuk anaknya kali ini. Tak ingin membuat anak tercintanya kembali menderita.
..
"Anata.." Panggil Shion khawatir setelah melihat raut wajah suaminya yang terlihat kacau.
Setelah mendengar perkataan sang dokter, Shion terus saja gelisah. Tak bisa menebak samasekali apa yang tengah dipikirkan oleh suaminya itu.
Jika bisa dirinya ingin sekali memeluk dan menenangkan suaminya. Memberikan support sebagai seorang istri yang baik.
Walaupun nyatanya kemungkinan itu akan sangat mustahil mengingat dirinya tidaklah berarti apa-apa bagi Naruto.
..
"..."
Keheningan terus saja menyelimuti. Hingga detik berikutnya Naruto pun kembali membuka suara.
"Shion, Persiapkan barang-barang Menma ...
.
.
"Aku akan membawa kembali Menma pada Sasuke..."
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
