Hari ini, Mom and Dad pulang ke New York, diiringi perpisahan haru dengan keluarga Sasuke. Orangtua kami hanya bertemu sebentar saja, tapi mereka semakin dekat setelah pernikahan kami dan makan malam di Hard Rock Café. Mom bahkan memberikan hadiah perpisahan berupa sepasang jam tangan couple untuk orang tua Sasuke sebelum berangkat ke bandara. Itachi terus menerus mengatakan kalau orangtuaku selalu disambut dengan tangan terbuka di Tokyo, dan ia bersedia memandu mereka ke manapun mereka mau pergi. Apalagi, ternyata ayah Sasuke punya ketertarikan yang sama dengan Dad, yaitu Shinkansen. Dad sempat menyesal tidak mencoba Shinkansen jarak pendek dari Tokyo, tapi ayah Sasuke memastikan lain kali kami akan naik Shinkansen bersama-sama ke kampung halaman keluarganya. Aku senang melihat ayah Sasuke bisa tertawa sambil merangkul Dad ketika mereka saling mengajari istilah-istilah dalam Bahasa masing-masing.
Mom berjanji pada ibu Sasuke, kalau ia akan datang lagi akhir tahun ini. Atau di musim gugur, kalau memungkinkan. Mom merasa sangat senang punya teman baru dari Jepang, terutama karena teman barunya berbesan dengan dirinya. Ibunya Sasuke membawakan Mom oleh-oleh teh celup Sakura dan sake Sakura juga. Mom berjanji untuk selalu mengingatnya setiap kali meminum teh dan sakenya. Ibu-ibu ini bisa menggombal juga rupanya. Sesekali ibunya Sasuke menyisir rambutmerah Mom, dan mengagumi warna asli rambut Mom. Okaa-san, (Ibu Sasuke minta kupanggil seperti itu) sempat meminta ijin pada Otou-san (panggilanku untuk ayah Sasuke) untuk mengecat rambutnya jadi merah, yang ditanggapi dengan wajah datar dan kalimat:
"Minta saja rambut Kushina setengah!"
Itachi dan Sasuke termangu berdua. Ruangan seketika hening, dan kedua bersaudara plus Izumi-san tertawa sekeras-kerasnya. Aku, Mom, and Dad hanya termangu bingung, dan ketika Sasuke menjelaskan arti kalimat ayahnya sambil menahan tawa, kami meringis prihatin pada humor ayah Sasuke yang terlalu kaku itu. Okaa-san hanya menggeleng pasrah dan duduk di sofa sambil mendengus.
Setelah ratusan "Goodbye", "I will miss you", "See You Soon!" kemudian, aku, Sasuke, Mom and Dad, kembali ke Haneda Airport dengan sejuta kenangan yang kami punya di Tokyo. Aku teringat pertemuan pertamaku dengan Sasuke, dan kepulanganku yang memisahkan kami berdua selama beberapa bulan. Dan hari ini, aku mengantar orangtuaku pulang ke Amerika, memisahkan mereka denganku selama beberapa bulan, sebelum kami bertemu lagi. Mereka sebenarnya sangat tertarik tinggal di Tokyo, tapi terlalu banyak hal yang harus diurus di kota kelahiran mereka sebelum bisa mendapat ijin resmi untuk tinggal di sini. Mom and Dad berjanji untuk mengunjungi kami lagi tahun ini, dan durasi tinggalnya akan lebih lama. Kali ini, kami tidak naik kereta, tapi naik mobil dengan Sasuke yang menyetir, karena ini adalah jam sibuk kereta, jadi akan merepotkan kalau membawa koper besar.
Aku dan Sasuke melepas Mom and Dad dengan pelukan dan ciuman di pipi. "Mom akan sangat merindukan kalian." Mom memeluk Sasuke. "Tapi tempat Naruto adalah di Tokyo bersama Sasuke, bukan begitu?"
Dad menepuk-nepuk bahuku. "Kau dan Sasuke kami tunggu di New York kalau kalian ada waktu liburan. Sasuke juga harus tahu kampung halamanmu di Philadelphia."
"Aku akan senang mengunjungi Mom and Dad," kata Sasuke. "Kami usahakan cari cuti di tahun ini."
Dad melihat jam tangannya, dan memeluk kami. "Sampai jumpa, anak-anakku. Kami pulang dulu ya. Jaga diri baik-baik."
Kami tidak banyak bicara sampai di parkiran mobil. Jadi ketika pintu ditutup dan Sasuke menstarter mobilnya, aku menanyakan pertanyaan penting yang membayangi otakku.
"Sasuke," tanyaku. "Kapan kita mendaftarkan pernikahan kita?"
"Buat apa?" tanyanya. "Apa ini tidak cukup?" Suamiku itu menggoyangkan sedikit tangan kirinya yang terdapat gelang dan cincin kawin.
"Hmm ... Aku hanya ingin memastikan kita punya sertifikat pernikahan resmi."
"Buang-buang waktu saja. Kau harus terima kenyataan kalau kita ini bukan pasangan normal." Suara Sasuke mulai meninggi. "Sertifikat itu tidak akan berarti apapun."
"Tapi..."
"Bisa diam? Aku tidak mau menabrak."
Aku baru tahu kalau Sasuke bisa sekesal itu padaku. Lebih tepatnya, ia diam sepanjang perjalanan. Kami memang berencana untuk pergi ke taman Koishikawa Korakuen untuk melihat bunga Sakura yang sedang pada masa puncak mekarnya. Dalam bayanganku, kami akan bergandengan sambil tertawa-tawa dan berpelukan, tapi kurasa Sasuke tidak sedang mood sekarang, meski ia tetap mengarahkan mobilnya ke sana.
Sepasang mata Sasuke tertuju ke jalan raya di hadapannya, tanpa berniat mengajakku bicara sedikitpun. Aku sadar pernikahan ini tidak sampai seumur jagung, begitu cepat terjadi, karena diisi bahan bakar berupa cinta yang menggebu-gebu, dan tanpa pertimbangan panjang tentang apa yang terjadi setelah kami bertukar cincin. Kedua orangtua kami setuju semata-mata karena mereka lebih memikirkan kebahagiaan kami. Kalau saja Sasuke itu perempuan, ayah dan kakaknya akan menyuruhku duduk di ruang tamu, dan menjejaliku dengan pertanyaan, "Bagaimana kau akan menafkahi putriku (atau adikku)? Bagaimana kelakuanmu di masyarakat? Apa kau sehat atau punya sakit parah? Apa kau punya banyak uang atau banyak hutang?" Ayahnya tidak akan semudah itu memberikannya padaku, meski aku memohon dan membuktikan aku bertanggung jawab.
Namun di kehidupan kami sebagai pasangan gay, ketika kami memutuskan untuk menikah, ayahnya hanya memberi restu saja, dan, ya, itu saja. Yang lain terserah pada kami. Karena kami sama-sama dua orang lelaki yang punya pekerjaan. Jadi sebenarnya, yang seharusnya aku khawatirkan bukanlah restu, tapi bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga setelah menikah.
Ketika kami sudah sampai di taman itu, seperti dugaanku, Sasuke tetap diam. Aku menggandeng tangannya, dan ia tetap menolak memandangku. Beberapa kali aku mengambil kelopak-kelopak bunga yang jatuh di kepalanya atau di bahunya, dan Sasuke tetap tidak mau melihat padaku. Meski demikian, aku tetap menikmati kunjungan kami ke sini. Aku suka bunga Sakura, atau lebih tepatnya aku suka pemandangan Sasuke yang dikelilingi bunga berwarna pink pucat itu. Rasa-rasanya, semua bunga di taman ini memang berkonspirasi untuk membuat Sasuke terlihat sangat indah, tidak peduli di manapun ia berdiri.
"Maaf."
Sasuke meminta maaf padaku. Tanpa kata-kata pengganti, tanpa basa-basi ataupun kata-kata yang malu-malu. Lalu suami Jepangku itu meletakkan kepalanya di bahuku, dan meremas tanganku erat-erat. Sungguh, aku tidak marah padanya sedikitpun. Tadi aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku soal sertifikat pernikahan, tanpa bermaksud menyinggung perasaannya. Namun aku menikmati saja suasana penuh cinta ini, karena tidak setiap hari Sasuke berinisiatif untuk bermesraan di depan umum.
"Aku tidak marah, kalau itu yang kau pikirkan, Sasuke." Aku mengelus kepalanya yang entah kenapa selalu penuh dengan kelopak bunga. Apakah bunga-bunga ini sengaja mengorbankan diri untuk membuatkan Sasuke mahkota bunga? Mungkin di kehidupan masa lalu, Sasuke adalah salah satu dewa bunga yang disayangi oleh pohon-pohon Sakura ini.
"Thanks."
Sebuah jawaban tidak jelas, yang menurutku sangat jelas artinya kalau datang dari bibir tipis Sasuke. Berterima kasih karena aku tidak marah? Hanya Sasuke yang bisa berkata seperti itu. Kami menghabiskan sore kami dalam diam, sambil menikmati beberapa botol minuman dingin dari vending machine. Aku mulai mengerti kepribadian Sasuke yang berbeda denganku, ia lebih suka berbicara dengan tubuhnya, sedangkan aku mengatakan terus terang dengan bibirku.
"Aku suka bunga Sakura," bisikku di telinganya. "Tapi aku lebih suka Sasuke yang dihiasi kelopak bunga Sakura." Kucium pipinya, dan kuselipkan rambutnya ke belakang telinganya. Aku bersumpah melihat Sasuke tersenyum sepanjang waktu kami di taman itu, meski tidak mengatakan apa-apa padaku.
Malam itu, Sasuke memasakkan makan malam yang sangat enak dan membuka satu botol jus apel. Setelahnya, kami kembali ke kamar dan berbaring berjam-jam sambil mendiskusikan berbagai macam hal tentang kehidupan kami yang akan datang. Tanpa kuduga, tiba-tiba Sasuke menindihku dan meletakkan dadanya di wajahku.
"Bisa hentikan diskusinya? Ayo kita lakukan hal lain." Dan aku berhenti bicara.
Sasuke berjalan ke jendela apatoku, dan menutup gorden yang menampakkan pemandangan malam Nihonbashi. Lalu, seperti déjà vu, Sasuke melepas semua pakaian yang ia kenakan, dan memakai bando kucing dengan choker di video call tempo hari. Namun kali ini dengan tambahan celana dalam dengan ekor kucing yang menjuntai. Sasuke merangkak ke atas ranjang, dan menindihku.
Aku menjilati bibirku. Sasuke terlihat terlalu seksi sekarang.
Satu hal soal Sasuke yang aku baru mengerti hari ini. Ia memang terlihat seperti seorang laki-laki yang tidak terlalu banyak mengungkapkan ekspresi dan memiliki pengendalian diri tinggi, tapi, ia adalah seorang laki-laki yang berbeda 180 derajat ketika berada di kamar berdua denganku. Ketika aku menyentuh punggungnya, Sasuke mendengkur seperti anak kucing, lalu ia berguling ke sampingku dan mengeong manja, "Nyan~"
Dan saat itulah aku kehilangan akal sehatku.
Rasanya aku seperti bermimpi menjadi seorang tokoh utama anime yang menemukan seekor anak kucing di pinggir jalan, lalu merawatnya, dan si anak kucing berubah jadi lelaki manis dan seksi untuk berterima kasih padaku, dan mengijinkanku menikmati tubuhnya. Sasuke sepertinya melupakan semua kata-kata Bahasa Inggrisnya, dan hanya mampu berkata: Naruto, Naruto, Naruto, Naruto, dan Naruto setiap kali cinta dari hatiku mengetuk pintu utama tubuhnya. Kami memang tidak berencana tidur malam itu, meski menurut ramalan cuaca, besok adalah hari Minggu yang cerah, dan cocok untuk berjalan-jalan. Aku lebih peduli dengan Sasuke yang sedang manja-manjanya malam ini.
Sentuhan dari ujung jarinya yang licin dan lembut seperti embun di kelopak bunga Sakura, ditambah aroma alami tubuhnya yang menggoda. Aku merengkuhnya, dan merebut kendali darinya di bawah linen putih yang menutupi setengah tubuhnya. Angin malam Tokyo seperti memberi bisikan sugesti untuk meminta lebih padanya. Kedua mata kami yang berbeda warna beradu pandang, seakan sama-sama meminta kesempatan untuk menanggalkan semua keraguan yang kami pakai di tubuh kami. Bibir tipisnya itu bergerak di bibirku, menggetarkan seluruh syaraf sampai ke tulang belakangku. Sasuke seperti sumur air dingin yang membasahi jiwaku yang terbakar hasrat. Kekasihku itu seperti fermentasi anggur yang memuaskan seorang pemabuk yang rakus.
Tubuh kekasihku itu berkilauan, rasa lapar itu seakan-akan mengalir keluar melalui pori-porinya. Kulit putihnya beradu dengan kulitku, dan dengan lincah ia berpindah ke atas tubuhku, dan naik turun dengan lembut. Sasuke memasukkan lidahnya semakin dalam ke mulutku ketika aku mengarahkan panah cintaku ke benteng hatinya. Nafasnya yang terengah melepas ciumannya, dan aku menyibakkan anak rambut yang menempel di dahinya yang berkeringat. Tanganku membantunya menemukan ritme yang tepat, dan kekasihku memberiku arah di tengah gelora hasrat kami.
Sasuke memejamkan matanya ketika titik delirium itu membutakannya. Punggungnya melengkung, dan tenggorokannya menggemakan namaku, hanya namaku. Aku memberinya lebih dari yang ia butuhkan, aku meracuninya dengan cintaku. Kudesahkan namanya, dan aku melepaskannya untuk mencari puncak kenikmatannya, aku meremas lengannya, berusaha merelakannya untuk lepas dari kendaliku sebentar.
Rasa kulitnya di antara gigiku, adalah rasa favoritku yang baru. Suaranya yang memohon, adalah lagu yang tidak akan bosan kudengarkan. Aku memberikan kendali padanya, membiarkannya meremas rambutku, dan meremas leherku hingga tengkukku meremang. Kami bergerak dengan gerakan terakhir, memaksakan jalan kami menuju puncak kesucian cinta.
Kedua nama kami melantun indah seperti paduan suara malaikat. Aku membawa kekasihku dalam pelukanku, ia menindihku, dengan kulitnya yang masih panas dan membara. Aku merasa diriku bagaikan matahari yang memberi kehangatan yang bulanku rindukan. Nafas Sasuke yang menderu seperti angin malam yang meniupkan daun-daun di tanah, menyempurnakan keindahannya yang memikatku sejak pertama kali bertemu dengannya.
Aku sempat bersumpah ketika aku kembali ke Tokyo, aku akan menyeret Sasuke ke kamar apatoku, dan memeluknya selama satu bulan untuk memuaskan dahagaku. Terdengar berlebihan, memang. Aku tidak pernah mencintai dan mengagumi seseorang seperti ini sebelumnya, tidak pernah merasakan sebuah kenikmatan ketika mencinta seperti ini. Rasanya semua bagian otakku berkonsentrasi untuk membuat Sasuke merasuk dalam jantungku.
Perasaan nyaman dengan tubuh seseorang memang tidak bisa diukur dengan logika. Bahkan ketika kami hanya duduk bersebelahan sambil memikirkan hal lain, atau ketika kulit kami bersentuhan, atau ketika suara kami beradu di udara, atau bahkan hanya dengan saling memandang. Rasanya magnet misterius itu berada di sana, terkubur entah seberapa dalam di balik tulang rusukku. Sebuah ketertarikan yang tidak bisa dipaksakan, seperti seorang ahli bedah tidak bisa memaksa tubuh seorang pasien untuk menerima ginjal dari donor yang salah.
Sasuke dan aku, kami adalah donor cinta yang sempurna, secara genetis telah dirancang oleh semesta. Tidak ada satupun bagian dari tubuh kami yang alergi dengan tubuh satu sama lain. Tidak ada yang tidak pas, tidak ada yang butuh adaptasi, dan tidak ada yang saling menolak. Semuanya yang ada di kehidupan percintaan kami saling melengkapi.
"Naruto," bisik Sasuke, membawaku ke kaca besar di sudut ruangan, menunjukkanku tubuhnya yang telanjang, dan rambutnya yang berantakan yang membingkai wajahnya, namun membuatnya semakin seksi. Aku memeluk pinggangnya dari belakang, dan ia berbisik lagi. "Kau membuatku jatuh dalam jurang ... Semua sentuhanmu itu dosa ... kau menjeratku."
Aku yakin sekali, Sasuke mengatakannya karena kami merasakan cinta sesungguhnya kala bercinta. Sasuke sendiri masih gemetaran, tubuhnya masih memutar ulang adegan yang baru saja ia rasakan. Getaran hasrat itu menghujam langsung ke jantungnya, dan cukup kuat untuk membuat nadinya berkontraksi. Namun lelaki Jepang itu membawaku kembali ke ranjang, dan berkata dalam Bahasa Jepang, "Kite kudasai, Shujin-sama." Come here, master.
Tanpa kusangka, Sasuke adalah ahli ucapan cinta di atas ranjang. Dan di atas ranjang lah, aku lebih cepat belajar Bahasa Jepang tanpa harus melihat Google Translate. Aku naik tingkat, dari "Hachiko", menjadi Hachiko-sama. (Terjemahan langsung: Tuan Hachiko) Belakangan ini aku sama sekali tidak butuh meningkatkan kemampuan Bahasa Jepangku, tapi tiba-tiba aku belajar semuanya di atas ranjang. Setelah menit-menit penuh cinta selesai, Sasuke berbicara dengan Bahasa Jepang yang sederhana. "Kau akan bosan menyentuhku. Suatu hari kau akan lelah memanggilku beautiful."
Try me, mister.
Aku mulai lupa sudah berapa hari kami menjalani pernikahan ini. Jiwaku menghilang di bawah selimutnya, tergelincir di antara sentuhan jari-jarinya. Aku menyukai perasaan ketika aku lupa hari dan tanggal. Rasanya seperti ada angin misterius yang melempar semua kalenderku ke luar jendela.
"Sasuke, kau pernah bilang kau mencintaiku. Apa kau mau mengatakannya sekarang?" Aku memang berbohong, tapi aku ingin sekali bibirnya mengatakan hal itu.
"Kapan?"
"Waktu kita dulu bersujud di hadapan orangtuamu, meminta restu, kau bilang kau mencintaiku."
"Mungkin kau salah dengar," lelaki tampan itu bersikeras, dan aku hanya tersenyum, aku tidak ingin merusak momen ini dengan mendesaknya. Sasuke sangat anti mengatakan cinta dengan gamblang, dan mungkin kau juga, kalau kau seorang introvert yang rumit seperti Sasuke. Dia sangat ingat semua detail jadwal kegiatan dan daftar belanjaan yang ia perlukan, tapi kalau soal momen-momen romantis, aku merasa aku mengalami halusinasi ketika mengingat-ingat semua detail itu sendirian.
"Naruto?"
"Ya?"
"Apa seks nya menyenangkan?"
Wow. Pertanyaan apa ini. "Ya, tentu saja." Aku menjawab dengan yakin.
"Apa sarapan buatanku enak?"
"Enak. Selalu enak."
Sasuke selalu meminta konfirmasi dariku, benar-benar perfeksionis. Suamiku itu selalu memasakkanku sarapan setiap pagi, dan membuatnya dengan porsi berlebihan agar aku bisa membawanya ke kantor dalam wadah bento. Masakan Sasuke mungkin bukanlah yang terenak di seluruh Jepang, tapi aku bisa merasakan seluruh cinta yang ia tumpahkan di setiap sendok masakannya. Jadi, aku tidak berbohong.
"Mau kusiapkan air mandi? Pakai garam Epsom dan minyak Lavender?"
Suamiku ini memang selalu berlebihan. Dua ronde bercinta saja, ia sampai memakai minyak dan garam mandi segala. Untuk otot yang lelah, dan menghilangkan stress, katanya. Setelah air di bathtub siap dan semua lilin sudah menyala, ia memanggilku untuk duduk di bathtub dan memastikan airnya sudah pas, lalu duduk di atas pangkuanku tanpa peringatan, dan mendesah keenakan. Aku bersyukur semesta telah menempatkanku di bak mandi pribadi ini, di mana aku bisa duduk dalam keheningan dan membelai kekasihku dalam kedamaian ditemani suara kecipak air.
Aku merasa sangat rileks, rasanya seperti sedang bermeditasi, dengan air panas yang disiapkan kekasihku. Mata biruku memperhatikan kekasihku yang kini duduk di bersandar di dadaku, telanjang, tapi bermandikan cahaya lilin, membuat kulit dan rambutnya berkilauan, seakan-akan ia adalah malaikat yang diberikan padaku oleh semesta. Tanpa perlu bicara, rasanya tubuhnya sudah mengkonduksikan panasnya api cinta padaku. Dan aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Mengapa aku masih perlu memaksanya mengucap kata cinta?
Stupid Naruto.
Besoknya, aku menelepon Mom waktu Sasuke masih tidur, dan mendengarkan semua nasehatnya, dengan suara latar Dad yang bermain gitar. Sesekali Mom bertanya apakah pernikahan kami baik-baik saja sampai sekarang, dan aku menjawab kalau Mom tidak perlu khawatir. Semua berjalan sempurna, dan malaikat kesayanganku itu sangat luar biasa.
Aku hampir bisa mendengar suara desahan Mom di antara suara petikan gitar Dad.
"Kau sudah berapa kali orgasme hari ini, sayang?"
Oh, Mom.
Rupanya setelah lanjut bercinta malam sebelumnya, seks membuat Sasuke dan aku kelelahan. Kami berdua sakit pinggang, dan jari-jari Sasuke kebas karena terlalu banyak mencengkeram bahuku. Untung saja kami tidak sampai harus masuk rumah sakit karena terlalu banyak bercinta, karena itu terlalu memalukan.
"Seks itu lucu," kata Sasuke sambil memberikan segelas teh madu hangat padaku. "Kita bisa jadi gila karena seks, dan menginginkan lebih, sampai akhirnya kita sakit berdua." Hari itu, aku menemukan fakta baru Sasuke, yaitu ia punya fantasi menjadikan dirinya sebagai kucing seksi di ranjang. Tiba-tiba aku jadi tertarik memakai telinga anjing, dan bermain jadi anjing galak yang horny.
"Kenikmatan seks bisa membuatmu melakukan hal-hal gila, seperti roleplay menjadikucing." Aku mendengus lalu menciumi telinga Sasuke, membuatnya menggeliat. Salah satu hal yang aku temukan dari Sasuke setelah menikah, adalah ia sebenarnya cukup sering bicara, tapi hanya pada orang-orang yang sangat ia percaya. Salahkan kepribadian ISTP nya. "Ngomong-ngomong, kau tidak minum obat?" tanyaku khawatir.
Sasuke menggeleng. "Nanti aku berendam air hangat lagi. Lagipula sakit pinggangku tidak separah itu, kok."
"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu malam ini. Hanya tidur saja." Aku sedikit menyesal membuatnya jadi tidak bisa berjalan benar, dan malam ini aku memutuskan untuk beli makanan saja, jadi kami tidak perlu memasak.
"Ngomong-ngomong, di Jepang ada layanan seks dari perusahaan bernama White Hands untuk orang-orang dengan disabilitas dan kelumpuhan permanen," kata Sasuke. "Perawat perempuan akan datang ke rumah, dan membantu pasiennya sampai klimaks dengan tangan mereka, pakai sarung tangan medis tentunya. Penemunya Shingo Sakatsume, alumni Todai juga. Penemunya percaya, kalau seks, sama halnya dengan makan, tidur, dan buang kotoran, adalah fungsi tubuh yang paling dasar dari setiap manusia."
Aku mengernyit. "Maksudmu? Apa tujuannya kau cerita padaku?"
"Mungkin kita harus mencoba roleplay lain, Naruto. Kau bisa berpura-pura menjadi seorang lelaki yang tidak bisa menggerakkan tangannya karena diperban, dan aku memakai pakaian perawat dengan telinga kucing. Ahn ... Aku akan menyentuhmu dengan sangat perlahan, meraba kulitmu dengan ujung jariku, menciumi dadamu dan menggigit lehermu, oh ... "
Dan tiba-tiba, aku merasa wajahku panas sempurna. "Kau membuatku horny, Sasuke," aku mengipasi wajahku. "Aku jadi membayangkannya sekarang. Celana dalamku sesak. Berhenti membicarakan seks. Kita hanya akan tidur nanti malam, OKE? Hanya TIDUR!"
Setelah pembicaraan tentang seks yang panas, bulan-bulan berlalu dengan ranjang yang panas, dan akhirnya datanglah musim yang panas. Untuk persiapan menghadapi serangga, kami berdua membeli banyak kapur barus, obat-obat pengusir nyamuk, dan semprotan serangga yang ampuh. Aku juga membeli salep pencegah gigitan nyamuk, supaya kulit putih kekasihku yang lezat itu tidak rusak karena luka gigitan nyamuk.
Tanggal dua puluh tiga Juli datang, dan usia Sasuke bertambah satu tahun. Itachi meneleponku, ia berencana untuk merayakan ulangtahun adiknya di sebuah steak house, dan mengajakku untuk memberinya kejutan. Kami akhirnya memutuskan untuk membelikannya sepasang sepatu olahraga yang akan sangat berguna untuk lari pagi ataupun dipakai memandu wisata.
Awalnya, aku dan Itachi berpura-pura melupakan ulangtahunnya, dan Sasuke tampak biasa saja. Ia bahkan mengajakku untuk makan malam di restoran sushi yang mahal, dan hanya berdua saja. Kalau aku mau, ia akan langsung memesan tempat. Aku sangat panik dan segera menghubungi Itachi, yang datang dalam waktu kurang dari satu jam dengan membawa hadiah Sasuke dan sebuah Cheesecake besar, lengkap dengan lilin ulangtahunnya.
Aku masih ingat ketika Sasuke membuka pintu dengan wajah bingung yang diiringi suara kami yang menyanyikan lagu Happy Birthday. Rupanya Sasuke sendiri lupa kalau ia berulang tahun. Kami bertiga tertawa sekeras-kerasnya, bahkan Sasuke pun tidak marah ketika Itachi bilang ia lupa memesan tempat di steak house itu. Kami akhirnya setuju untuk memasak yakiniku dengan daging mahal dari supermarket dengan beberapa macam es krim. Ini perayaan ulang tahun, jadi harus istimewa, bukan? Sasuke memaksa membeli wine meski ia tidak kuat minum. Aku dan Itachi hanya menurut saja.
"Jadi bagaimana, pernikahan kalian?" tanya kakak iparku di sela-sela kunyahannya.
"Baik-baik saja," kata Sasuke sambil menyumpit daging ke mulutnya. "Kami baru saja bertengkar kemarin."
Aku hampir tersedak, dan mulai khawatir Itachi akan memukulku dengan botol wine yang baru saja kami habiskan. Namun, lelaki berkacamata itu tersenyum. "Bagus, bertengkar berarti kalian bisa mengenal satu sama lain lebih jauh." Mataku hampir melompat keluar dari rongganya. "Aku serius, Naruto. Aku dulu bertengkar dengan Izumi dalam perjalanan pulang dari pernikahan kami. Aku mencubiti hidung kecilnya karena gemas." Itachi tersenyum lebar sambil mengingat-ingat. "Menurutnya, hidungnya yang mungil itu pembawa rejeki, dia tidak ingin membuat hidungnya mancung kebablasan seperti hidung tengu, jadi, aku disuruh berhenti mencubiti hidungnya."
Sasuke mencolekku, lalu menunjuk kakaknya. "Tampan di luar itu mudah dicari, tapi yang tampan luar dalam seperti dia, itu sudah langka. Dia ini suami sempurna."
Itachi terpingkal. "Apa kalian tidak pernah memuji satu sama lain?"
"Aku sering memujinya," kataku membela diri. "Tapi Sasuke mana pernah. Yang ada dia memanggilku Hachiko."
"Hey! Hachiko itu pujian! Kau itu pirang, kekar, dan setia seperti dia!" Sasuke tidak mau kalah. "Kau harusnya bangga!"
Aku dan Itachi tertawa, kami sangat menikmati perayaan ulangtahun kecil ini. Sasuke mengatakan kalau terakhir kali ia makan berdua bersama kakaknya adalah waktu ia masih SMA, ketika ia tinggal berdua dengan kakaknya di apato dekat kampus. Itachi mengingatkan padanya tentang gadis-gadis cantik adik kelasnya yang mengejar Sasuke, sampai-sampai adiknya itu minta dikawal olehnya setiap kali berangkat ke kelas pertama. Lelaki berkacamata itu terpingkal ketika adiknya marah-marah dan mengancam akan melemparnya keluar jendela.
"Kau akan ditangkap ayah," Itachi mengusak rambut adiknya. "Ayah masih jago menangkap orang sampai sekarang."
"Ayah kalian dulu kerja apa?" tanyaku penasaran.
"Ayah kami itu kepala polisi di Takasaki, baru pensiun tahun ini," jelas Itachi.
Aku terbelalak. "SERIUS? MERTUAKU POLISI?!"
Kedua bersaudara itu mengangguk bersamaan. Aku sekarang mengerti kenapa ayah mereka punya aura sangat mengintimidasi. Rupanya wibawa polisi itu masih terbawa padanya sampai sekarang. "Kenapa? Takut ya, sama ayahku?" Itachi tersenyum, diikuti adiknya yang ikut menggodaku. "Kau tahu," Sasuke menyahut. "Ayah dulu selalu bilang, kalau anjing Shiba Inu itu anjing yang paling setia. Mungkin ayah merestui kita karena kau mirip Shiba Inu." Suami sahku itu mulai terkekeh dengan wajahnya yang memerah. Aku sudah tahu dia tidak kuat minum, tapi tetap memaksakan diri.
"Ne, ne, Sasuke, kau sudah mabuk tuh, berhenti minum." Itachi bermaksud meminum wine di gelas Sasuke, tapi tangannya ditepis lembut oleh adiknya yang terkekeh.
"Jangan khawatir, nii-san, Shiba Inu ku menjagaku kok." Sasuke menunjukku, lalu menarik wajahku dan mengulum bibirku. "Lihat? Penurut kan?" Suamiku itu kini beranjak duduk di pangkuanku. "Hachiko, suapi aku. Aaaaahhhh." Mulut Sasuke terbuka lebar, siap menerima daging dan nasi di mulutnya. Aku mencium pipinya yang bergerak-gerak lucu ketika mengunyah makanan, dan lanjut mengobrol dengan Itachi sambil menghabiskan makanan kami. Saat itu, Sasuke sudah setengah sadar, dan hanya mampu tertawa-tawa ketika aku mendaratkan ciumanku di bibirnya.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan kami sudah menghabiskan semua es krim, Itachi pamit dari tempat kami. Kakak iparku itu membantuku membereskan semua alat masak yang kotor, karena tidak ingin merepotkan Sasuke dan aku. Setelah itu, ia menggendong Sasuke ke kamar, dan mencium kening adiknya sebelum benar-benar pergi.
"Kau tahu, Naruto," katanya ketika kutemani menunggu lift. "Sasuke sangat beruntung memilikimu."
Aku terkekeh. "Bukannya sebaliknya?"
Itachi menggeleng, dan masuk ke lift yang terbuka. "Goodnight, bro."
Aku langsung kembali ke kamar, dan tidur di samping Sasuke. Wajahku rasanya kencang karena tersenyum semalaman setelah dipuji kakak ipar. Aku memeluk Sasuke sangat erat sampai tertidur, dan terbangun pagi-pagi karena telepon dari Itachi. Kakak iparku itu memberitahu kalau mereka akan pergi berkunjung ke rumah keluarga di kampung halaman mereka di akhir minggu. Tanpa menunggu persetujuan Sasuke, aku langsung mengiyakan, karena akan sangat menyenangkan melihat kota kecil di mana Sasuke dibesarkan.
Sebenarnya, rencana awal adalah naik Shinkansen bersama-sama satu keluarga. Namun, Sasuke mengatakan kalau menyetir pun tidak masalah karena hanya sekitar dua jam saja. Itung-itung kami bisa mengobrol di dalam mobil, tidak seperti Shinkansen yang harus duduk terpisah tiga-tiga, dan bisa jadi kami harus duduk berjauhan. Orangtuanya setuju naik mobil, dan kami pun berangkat di hari Jumat pagi. Itachi dan Sasuke memutuskan bergantian menyetir, meski akhirnya Sasuke lah yang bersedia menyetir sampai perjalanan selesai. Untung saja tipe mobil mereka adalah APV yang leluasa dan bisa memuat banyak orang, jadi Izumi-san bisa leluasa mengajak putri mereka bermain supaya putrinya tidak bosan.
Perjalanan dua jam tidak terasa sama sekali karena orangtua Sasuke mengobrol panjang lebar denganku soal kehidupan di Tokyo yang sangat cepat, dibandingkan dengan kota kecil mereka. Aku tersenyum mengiyakan karena sudah mengalaminya sendiri selama hampir enam bulan belakangan, dan membandingkannya dengan Philadelphia. Aku memang sudah lama tinggal di New York, tapi kalau bisa memilih, aku ingin tetap tinggal dikampung halamanku.
Begitu sampai di rumah keluarga Sasuke, aku tersenyum lebar ketika melihat kampung halaman mereka. Sebuah kota kecil di mana semua penduduknya saling kenal, dengan rumah-rumah yang hanya bisa kulihat di komik-komik Jepang jaman dulu. Setelah membantu menurunkan semua barang bawaan, Sasuke mengajakku untuk berkeliling kota kecil ini. Dan sebuah kebetulan ketika kami bertemu dengan pamannya yang berjualan yaki imo atau ubi bakar tradisional dengan truk berkap terbuka yang masih memakai kayu bakar.
"Ojii-san!" teriak Sasuke, lalu berlari kecil menuju pamannya yang sedang melayani ibu-ibu pembeli.
Lelaki tua itu menyipitkan matanya. "SASUKE!" Pamannya memeluk erat Sasuke, dan seketika ibu-ibu itu semua ikut tersenyum dan menyapa suamiku itu. "Kapan datang, nak? Kenapa tidak bilang-bilang?"
Sasuke tersenyum. "Kalau bilang-bilang nanti tidak kejutan dong, paman, bibi."
"Eh, Sasuke, ayo kapan ke rumah Bibi lagi, nanti Bibi kenalkan dengan gadis cantik." Salah seorang ibu-ibu itu menyahut dengan santai. "Sasuke, jadi menantu bibi saja, jangan pedulikan bibi yang itu." Sahut yang lain dengan tawa renyah.
Aku menghampiri Sasuke yang sedang dikerubuti ibu-ibu itu, dan sang paman mulai mengusir pembelinya dengan nada bercanda, sebelum mereka akhirnya berjalan pergi. "Jadi, ini suamimu, nak?" tanya sang paman, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalamiku. Aku tersenyum. Lelaki paruh baya iitu merangkulku dan menepuk-nepuk bahuku. "Gagah sekali Naruto ini, dulu aku mirip kau waktu masih muda," katanya lalu terkekeh. "Mau yaki imo? Ambil saja berapapun kalian mau."
"Terima kasih paman, tapi dua saja cukup," jawab Sasuke lalu mengambil dua buah yaki imo dan mengupas kulitnya. "Ayah dan ibu ada di rumah, kalau paman sudah selesai bekerja, datang saja makan malam bersama kami."
Paman itu tersenyum dan mengusak rambut Sasuke, lalu memakai kembali maskernya. "Oke, sampai jumpa di rumahmu, ponakanku." Truk itu kembali distarter, dan terdengar suara sang Paman menyerukan yaki imo, yaki imo, dari speaker di mobil itu.
Kami duduk di pinggir jalan sambil menikmati manisnya ubi bakar berwarna emas itu. Aku berani sumpah, ini adalah ubi bakar terenak yang pernah aku makan. Kata Sasuke, semestinya satu buah ubi bakar ini dijual seharga 200 Yen, tapi pamannya selalu memberi gratis untuk keluarganya.
Setelah ubi itu tinggal kulitnya saja, Sasuke langsung menggandengku berjalan lagi. Sasuke menceritakan tentang sebuah kuil di atas bukit yang dulu sangat sering ia kunjungi dengan keluarganya di akhir minggu, bernama Shorinzan Daruma-ji. Sebenarnya Sasuke menawarkan untuk mengambil mobil di rumahnya, tapi aku menolak karena kami sudah cukup duduk di atas mobil, dan sekarang waktunya jalan kaki. Apalagi, perjalanannya hanya sekitar lima belas menit.
Setelah menaiki jembatan penyebrangan di jalan tol, kami melewati sebuah sungai besar yang dangkal dan aliran airnya tidak terlalu deras. Ada beberapa anak kecil yang tampak senang mendapat ikan-ikan kecil di sana, dengan orangtua mereka yang mengawasi. Aku tersenyum membayangkan Sasuke kecil dulu memancing dengan kakak dan orangtuanya di sana. Pasti Sasuke punya masa kecil yang menyenangkan di sini.
Dalam hitungan menit, kami sampai ke bukit kecil dengan petunjuk arah menuju kuil yang dimaksud suamiku itu. Sepanjang jalan, Sasuke menjelaskan kalau Takasaki adalah daerah asal boneka Daruma, boneka spesial bermata melotot yang tidak punya tangan dan kaki, dan didesain unik sehingga selalu berdiri tegak. Boneka Daruma mempunyai filosofi "Tidak pernah Menyerah", sehingga mau didorong sekeras apapun, maka bonekanya akan kembali berdiri.
Selain itu, boneka Daruma punya delapan warna berbeda dengan arti yang berbeda pula. Warna merah melambangkan keberuntungan, putih berarti kesucian, kuning atau emas berarti uang dan kepopuleran, hitam untuk mencegah kesialan, oranye untuk kesuksesan dalam pendidikan, biru untuk status pekerjaan, hijau berarti kesehatan, dan ungu berarti penyempurnaan diri.
Ketika kami sampai di sana, kami menaiki tangga putih tinggi menuju bangunan utama kuil unik itu. Ada dua altar besar yang dipenuhi dengan Daruma berwarna merah. Aku melihat banyak logo dari perusahaan besar yang menyumbangkan boneka Daruma ke kuil ini. Sasuke mengatakan, aslinya bagian mata boneka Daruma itu kosong, tapi kalau kita punya permintaan, kita hitamkan satu matanya, dan kalau sudah terkabulkan, kita hitamkan mata satunya.
Sambil mengelilingi kuil ini, aku mengagumi lokasinya yang menghadap gunung dan berdempetan dengan sebuah lapangan golf. Keren sekali bukan? Sentuhan modern bertemu tradisional. Namun, aku lebih tertarik melihat seorang bhiksu yang tengah menyapu daun-daun di tanah. Aku mendekat dan memperhatikan sebuah gambar yang dibuat dari daun-daun yang berguguran itu. Kuhampiri sang Bhiksu, dan bertanya apakah itu adalah sebuah smiley face. Sang Bhiksu berkacamata yang tampan itu menggeleng dan menunjuk gambarnya dengan bangga, "Daruma!"
Oh, iya. Ini 'kan kuil Daruma. Sasuke menghampiriku dan tersenyum pada sang Bhiksu yang rupanya saling kenal dengannya itu. Tak berapa lama, dua orang gadis kecil mendatangi sang Bhiksu dan bercanda sambil berjalan mengelilingi gambar Daruma dari daun itu. Sasuke menjelasakan sebuah filosofi Buddha, yaitu "mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati, meski tugasmu hari itu hanyalah menyapu tanah" Dan filosofi itu rupanya dipegang erat oleh Bhiksu berkacamata di hadapan kami yang melanjutkan menggambar Daruma-Daruma lain dari daun di tempat yang berbeda. Orang lain mungkin hanya akan menyapu daun dan membuangnya, tapi sang Bhiksu rela harus kerja dua kali. Satu kali untuk menyusun daun, dan nantinya harus menyapu lagi untuk membuang daun yang kering.
Setelah memotret kuil unik ini, kami turun dan pergi ke toko souvenir Daruma di dekat tangga putih itu, dan kami dilayani oleh seorang Bhiksu. Sambil melihat-lihat gantungan kunci dan boneka Daruma berbagai ukuran, Bhiksu itu menyapa Sasuke dengan "Bagaimana kabar Keisatsu Taicho (Kepala Polisi)?" yang disahuti dengan kekehan suamiku itu. Kami akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah boneka Daruma berwarna merah seukuran bola sepak, untuk dipajang di apatoku.
Sasuke terus bercerita sepanjang jalan turun dari bukit, kalau ia datang kembali ke Kuil Daruma dengan keadaan yang sangat berbeda. Sejak terakhir kali ia ke sini, Sasuke sudah menjelajahi Tokyo dan sekitarnya dengan klien-kliennya, bertemu denganku, dan sekarang menjadi suami resmiku. Semuanya terdengar seperti akhir cerita sebuah dongeng sebelum tidur. Namun bedanya, kami tidak menyelamatkan seorang putri, kami sama-sama adalah pangeran yang berjuang untuk mendapatkan akhir cerita yang bahagia. Kalau mendengar Sasuke berceloteh riang seperti ini, aku sungguh penasaran betapa imutnya dia ketika masih kecil dan belajar bicara, pasti sangat-sangat menggemaskan.
Tiba-tiba kami mendengar suara teriakan semangat "GANBAREMASHO!" dari belasan remaja laki-laki plontos yang menuntun sepeda menuju kuil Daruma. Meski kecapaian mengayuh sepeda menaiki bukit kecil ini, tapi jiwa mereka tetap semangat. "GANBAREMASHO!" teriak Sasuke menyemangati mereka. Para remaja itu tertawa dan ikut berteriak "GANBAREMASHO!" sambil mengangkat kepalan tangan mereka di udara.
Kami bergandengan tangan menyusuri jembatan dengan sebuah pajangan Daruma di lengan kanan Sasuke, dan tertawa-tawa sambil sesekali berciuman. Dan sekarang aku sadar, kalau kami tidak butuh sertifikat pernikahan, karena cinta kami sudah terlalu kuat untuk mengikat Sasuke denganku, begitu juga sebaliknya.
"GANBAREMASHO!" teriakku ke langit ketika kami berjalan bergandengan menuju rumah keluarga Sasuke, lalu aku menoleh pada suamiku itu.
Semangat menjalani hidup bersamaku, Sasuke?
Sasuke tersenyum mengerti, dan mengangkat boneka Daruma itu tinggi-tinggi.
"GANBAREMASHO!"
