EMPTY ENVY

A Shiroe_Ino story

Naruto ©Masashi kishimoto

Pairing : Ino, Sasuke, Gaara, etc.

Warning : OOC, typo, genre tidak tetap, fict for fun don't be 'BAPER', DLDR. ;)

Chapter 12: i'm (trying to not) afraid.

"Tidak apa-apa, aku hanya kehilangan nafsu makanku" ucapku kemudian menenggak habis minumanku dan kembali berbaring di tempat tidur Dei-nii. Sasuke terus memperhatikanku dan aku mengacuhkannya karna aku tahu dia khawatir padaku.

"Aku ingin tidur, bangunkan aku jika kau menemukan sesuatu" ucapku pada Sasuke sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut. Dia menghembuskan nafas seperti biasa sebelum menjawabku dengan gumaman.

.

.

.

Aku tak melihat jam berapa saat Sasuke membangunkanku dari mimpi burukku, tapi aku yakin bahwa ini sudah larut malam atau mungkin dini hari.

"Apa yang kau temukan?" tanyaku begitu nafasku mulai teratur dan mengelap keringat yang telah mengucur deras dari dahiku.

"Kau bermimpi buruk." bukannya menjawab, dia malah menyodorkan air padaku.

"Aku tahu" protesku dan langsung menenggak air putih itu sampai tandas.

"Sebaiknya besok kau pulang saja biar aku yang menemui Deidara dan mengurus sisanya"

"Apa kau mau menyingkirkanku?" ucapku seraya bangkit dan mendorongnya dari hadapanku bersama gelas yang tadi masih kupegang, aku melirik flashdisk Dei-nii yang diletakkan didekat komputer jinjing dengan masih berdebat dengan Sasuke kemudian saat Sasuke lengah aku dengan cepat mengambil flashdisk tersebut dari meja yang ada di belakang Sasuke.

Aku sudah hampir pergi dari sana setelah menyambar tas dan mengambil jaketku tanpa menghiraukannya lagi, namun tarikan yang begitu kuat pada tanganku menghentikan langkahku sebelum aku berhasil mencapai pintu, aku tersudut di antara dinding dan tubuh Sasuke yang menjulang tinggi yang mengeluarkan aura intimidasi. Alarm dalam otakku mengingatkanku akan tanda bahaya kemarahan dari Sasuke namun aku mencoba mengabaikannya karena rasa muakku sama besarnya dengan kemarahanku setiap kali dia bersikap sok pahlawan padaku atau keluargaku, pada akhirnya aku masih belum bisa menghilangkan rasa iri dan cemburuku padanya.

"Ino, Dengarkan aku!" ucapnya penuh penekanan.

"Lepas! Bukannya tadi kau yang menyuruhku untuk pulang ha?" aku meneriakinya sambil berusaha melepaskan pegangannya pada pergelangan tanganku.

" Aku tak akan melepaskanmu sampai kau mau mendengarkanku" ancamnya padaku.

"Kalau begitu katakan saja!" aku berhenti memberontak dan membiarkannya bicara namun aku masih enggan menatapnya.

"Dengarkan aku baik-baik!" ucapnya lagi tanpa mengurangi intensitas penekanan dalam kata-katanya.

"Sekarang coba kau pikirkan, bibi sedang sakit dan paman pasti lebih membutuhkanmu untuk menyemangati mereka karna Deidara tak mungkin bisa melakukannya, kalau kau bersikeras terlibat dalam kasus Dei-nii kau hanya akan membuat semua orang khawatir" aku masih bungkam dan mencoba mencerna apa yang dikatakannya.

"Lalu aku harus apa?" aku berteriak frustrasi, lelehan air mataku kembali membanjiri pipiku tanpa bisa kucegah.

"Pulanglah, temani paman dan bibi. Kau hanya perlu berada didekat mereka setiap saat dan tegarkan dirimu, jangan tunjukkan wajah sedihmu dihadapan mereka, meski paman bilang itu untuk bibi tapi aku yakin paman juga merasa lebih sedih saat melihatmu menangis" tangan Sasuke melepaskan pegangannya pada pergelanganku, dia melangkah mundur hanya untuk membungkukkan badannya agar setara denganku dan mulai mengusapi air mataku yang masih belum mau berhenti dengan lembut, "Apa kau sudah mengerti?" aku hanya mengangguk patuh padanya persis seperti anak kecil yang baru diberi nasihat oleh orang tuanya.

"Baguslah, sekarang jangan menangis lagi!" pungkasnya sambil tersenyum dan memberi tepukan lembut pada puncak kepalaku lalu melangkah mundur menjauh dari tempatnya berdiri.

.

.

Aku pulang tanpa menemui Deidara lagi, dan membiarkan Sasuke melakukan rencananya.

'aku membencimu karna kau selalu benar'

Tanpa sadar aku mengirim pesan chat berisi kalimat pendek yang mewakilii perasaanku saat itu pada Sasuke.

Saat aku sampai di stasiun Tou-San menelponku dan mengatakan bahwa kondisi kaa-san memburuk, seketika aku menangis saat Tou-san bilang aku harus datang ke rumah sakit saat itu juga. Aku berdo'a dalam hati sepanjang perjalanan semoga Kaa-san bisa bertahan dan diberi umur panjang, air mataku juga entah sudah berapa kali kuhapus sampai pipiku terasa perih.

.

Baru saja aku sampai di halte bis untuk menunggu bis ke arah rumah sakit, seseorang yang masih dalam posisi menaiki motor sport yang begitu familiar berhenti di depanku dan menyodoriku sebuah helm. Aku yang masih diliputi rasa khawatir malah hanya memandangi sikap pengendara itu dengan pandangan tak mengerti. Baru aku sadar bahwa pengendara itu adalah Gaara saat membuka kaca helmnya.

"Cepat naik, apa lagi yang kau tunggu, paman menyuruhku menjemputmu?!" tanpa pikir panjang aku langsung menyambar helmnya dan melompat ke atas boncengannya secepat yang aku bisa saat dia menyebut kata paman.

.

.

Kami berlari menyusuri koridor rumah sakit tanpa menghiraukan apapun menuju ruang ICU dimana kaa-san sebelumnya dirawat, namun ternyata Kaa-san sudah masuk ruang operasi, kami pun segera menyusul mereka ke sana.

Aku melihat Tou-san yang begitu gelisah menunggu di luar ruang operasi seorang diri, pemandangan yang begitu menampar egoku mengingat aku sempat bersikukuh untuk ikut terlibat dalam masalah Dei-nii dengan Sasuke tanpa memikirkan Tou-san.

Aku menghambur ke arah Tou-san dan memeluknya erat begitu dia melihat ke arahku dengan tatapan sedihnya.

Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan Tou-san, dan berkali-kali menggumamkan kata maaf karna pergi ke tempat Dei-nii tanpa seizinnya maupun memikirkan kondisi Tou-san sendiri.

Harusnya aku sadar sejak awal bahwa bukan hanya aku yang sedih dan terpukul atas kondisi keluarga kami tapi semua orang dikeluarga kami bahkan Sasuke pun juga merasakan hal yang sama, mereka melakukan segala hal yang terbaik yang mereka bisa untuk membantu dan saling menguatkan tapi sikap yang kutunjukkan justru hal yang tak membantu sama sekali.

Seharusnya aku mengisi posisi kosong yang belum terisi, mendampingi dan membantu Tou-san selama Kaa-san di rumah sakit.

"Apa yang terjadi pada kaa-san?" aku bertanya pada Tou-san masih dengan linangan air mata.

"Kondisinya tiba-tiba menurun dan Tou-san memutuskan untuk menyetujui operasi Kaa-sanmu meski kemungkinan berhasilnya juga kecil. Maafkan Tou-san, Seharusnya Tou-san mengambil keputusan ini sejak awal." Aku kembali memeluk Tou-san berharap dapat mengurangi kesedihannya, aku sangat paham betapa Tou-san menyesal tak memaksa kaa-san operasi sejak awal, mau bagaimana lagi aku yakin Tou-san sudah berusaha membujuk kaa-san tapi kaa-san yang tahu kondisi keuangan Tou-san takkan mau mengorbankan keluarga untuk pengobatannya. Lagi pula takkan ada yang bisa membujuk kaa-san jika kaa-san sudah memutuskan sesuatu termasuk Tou-san sendiri.

Waktu serasa berjalan begitu lambat selama kami menunggu operasi berlangsung. Gaara beberapa kali membujukku untuk memakan makanan yang telah dia belikan tapi selalu kutolak karena enggan, makanan itu pun berakhir dingin di sebelah tempatku duduk begitu pula Tou-san yang hanya memakannya sedikit, tak ada diantara kami yang masih berselera untuk makan.

Ketika aku hampir tertidur karna lelah menunggu, ruang operasi akhirnya terbuka memperlihatkan wajah lelah para dokter yang telah bekerja keras menolong kaa-san dari penyakitnya, kami segera berlari menghampiri dan bertanya pada dokter tentang bagaimana operasinya, dokter penanggung jawab operasi itu menjawab bahwa operasinya telah berhasil namun mereka belum bisa memastikan kondisi kaa-san, katanya ada beberapa hal yang masih harus dilihat dan dipastikan lagi setelah kaa-san benar-benar sadar. Mendengar penjelasan sang dokter hati kami sedikit lega meski kami belum bisa sepenuhnya tenang, setidaknya kaa-san masih bisa bertahan melewati operasi tersebut.

.

.

.

Aku pulang lebih dulu karna di ICU hanya diizinkan satu orang untuk menemani pasien dan aku tentu saja memberikan kesempatan itu untuk Tou-san, lagipula aku juga butuh mandi dan ganti baju, sudah dua hari aku belum menyentuh air selain untuk ke toilet.

Aku duduk di bangku halte sendirian. Jika kalian tanya dimana Gaara, aku sudah menyuruhnya pulang sejak tadi. Dia sempat mendapat telepon dari kakaknya Temari sensei, jadi aku menyuruhnya segera pulang meski awalnya dia sempat menolak namun dia langsung menurut saat Tou-san juga menganjurkan dia pulang.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat dan aku hampir saja kembali tertidur ketika menunggu datangnya bus yang akan membawaku pulang ke rumah jika saja seseorang tak membangunkanku dengan suara klakson yang membuatku terlonjak kaget.

"Hei, naiklah! Akan kuantar kau pulang" Gaara si pengendara motor yang akhirnya kukenali dari motornya itu menawariku tumpangan pulang, aku yang sudah lelah pun hanya menurut dan segera naik ke belakangnya tanpa mengatakan apapun. Aku benar-benar lelah sampai untuk basa basi menolak pun aku tak sanggup. Hanya diam yang menemani perjalanan pulang kami.

"Apa kau baik-baik saja?"

"Hn, Terimakasih tumpangannya, sebaiknya sekarang kau pulang Gaara!" ucapku lelah sambil menyerahkan helm padanya lalu berjalan menuju pintu.

"Tunggu, kau yakin baik-baik saja?" ucapnya masih dengan mengekoriku. Aku hanya mengangguk dan mengatakan 'ya' dengan lemah, aku benar-benar sudah tak berdaya lagi untuk berdebat dengannya, kepalaku rasanya sudah pusing sejak tadi, tubuhku juga terasa berat dan lemah, sekarang rasanya malah bertambah parah mataku bahkan mulai berkunang-kunang.

"Tapi kau terlihat pucat" ucapnya sangat khawatir. Sepertinya aku memang tidak dalam keadaan baik, tapi aku tak mungkin merepotkannya lebih dari ini, lagipula hanya dengan istirahat saja aku pasti akan kembali pulih jadi kupikir aku hanya perlu menyuruhnya pulang agar aku bisa segera tidur.

"Aku sungguh..." belum sempat aku menyelesaikan kalimatku tiba-tiba aku kehilangan kekuatan untuk menopang berat tubuhku sendiri dan semuanya menjadi gelap.

.

.

.

Hal pertama yang kulihat saat aku bangun adalah ruangan putih dan bau obat, aku segera sadar bahwa ini adalah rumah sakit atau semacamnya.

"Kau sudah sadar?" Suara Gaara langsung memenuhi indra pendengaranku.

"Aku dimana?" tanyaku memastikan. Hal yang paling kutakutkan saat ini adalah jika aku berada di rumah sakit yang sama dengan kaa-san dan membuat Tou-san khawatir.

"Kau berada diklinik kakak kiba." jawab Gaara santai.

"syukurlah, apa tou-san tahu aku berada di sini?"

"Tenang saja aku tak memberi tahu siapapun selain petugas medis yang membantu membawamu kemari, tapi kurasa teman-temanmu sudah tahu. Mereka bilang sedang menuju kemari" ucapnya sambil menunjukkan chatt grup tempat kami sering membahas tentang game.

Aku menghela nafas sebelum memegangi kepalaku yang masih sedikit pening.

Gaara berusaha membantuku saat melihatku akan bangun dari posisi berbaringku. Kakak Kiba yang bertugas di klinik itu baru saja datang dan memeriksa kondisiku, setelah memastikan bahwa aku baik-baik saja dia menuliskan resep vitamin yang bisa kutebus di apotek setelah keluar dari klinik, namun entah kenapa resep itu malah diserahkan pada Gaara bukannya padaku.

"Kenapa anda memberikan resep itu padanya dan bukannya padaku?" reflek aku bertanya heran pada kakak Kiba.

"Oh, itu karena aku lebih percaya padanya daripada padamu Ino-chan" jawabnya sambil tersenyum. Seketika aku langsung merasa dongkol dengan jawabannya.

"kalau begitu aku pergi dulu ya, dan kau boleh membawanya pulang setelah infus ditangannya habis. Nanti mintalah perawat untuk membantu melepaskan jarum infusnya" ucap kakak kiba sambil berlalu meninggalkan kami.

"Inooo..." suara pekikan Naruto dan kiba menggema di klinik tersebut membuat kakak kiba yang baru saja keluar kembali masuk dan memberi teguran pada kami semua lalu hanya dibalas dengan cengiran khas duo berisik itu.

"Ino, bagaimana keadaanmu?" tanya Naruto yang diikuti dengan anggukan Kiba.

"Aku baik." Jawabku singkat.

"Tapi kau tak masuk sampai dua hari padahal besok sudah liburan musim panas. Kenapa kau bisa sampai kolaps, sebenarnya apa yang kau lakukan beberapa hari ini?"

Belum sempat aku menjawab pertanyaan mereka berdua, Shikamaru dan Chouji masuk dan menanyakan hal yang sama.

"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan. Terima kasih sudah menghawatirkan aku" aku mengucapkannya dengan tulus. Jujur saja aku cukup tersentuh dengan kedatangan mereka yang menjengukku beramai-ramai seperti ini, membuatku jadi merasa berharga.

"Kami sudah dengar kalau bibi sedang sakit, jika kau butuh bantuan katakan saja pada kami jangan memaksakan untuk menanggung semuanya sendiri" Chouji dengan bijaknya memberiku nasihat, aku hanya bisa tersenyum senang mendengarnya.

"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan bibi sekarang?" giliran Shikamaru yang bertanya.

"Dokter masih belum bisa memastikan kondisinya sampai kaa-san benar-benar sadar pasca operasi" ujarku sambil menggeleng lemah.

"Jadi bibi sudah dioperasi?" lanjut Shikamaru.

"Iya, kemarin dia langsung dioperasi setelah kondisinya sempat memburuk"

Aku, Shikamaru dan Chouji mendominasi percakapan diantara kami karena mereka memang sempat menjenguk kaa-san bersama keluarga mereka tempo hari saat aku pergi ke kota dengan Sasuke, jadilah kami tanpa sadar membahas kondisi kaa-san, meski Gaara juga termasuk orang yang sering menjenguk kaa-san tapi dia sepertinya cukup mengerti kedekatan kami sebagai teman masa kecil dengan memilih diam selama kami bertiga bicara serius tentang kaa-san.

Keluarga kami bertiga memang sudah lama saling mengenal sebagai tetangga dan lagi ayah kami juga sudah bersahabat lama makanya kami bertiga bisa akrab seperti saudara, apalagi kami tak pernah beda sekolah sejak TK jadi sudah barang tentu mereka sangat peduli terhadap hal-hal yang terjadi dikeluargaku, justru yang agak aneh adalah sikap Gaara yang notabene orang baru dalam lingkaran kehidupan keluargaku, namun dia beberapa kali menjenguk kaa-san bahkan ikut menunggui kaa-san bersama tou-san dan aku saat kaa-san menjalani operasi tempo hari.

Apa yang dia lakukan benar-benar diluar dugaan mengingat sikapnya sebelum-sebelumnya padaku. Namun jika dipikir-pikir lagi, mungkin karna dia sudah tersentuh dengan kebaikan kaa-san dan tou-san yang bisa menerima kehadirannya dengan hangat dikeluarga kami sejak pertama kalinya dia datang ke rumahku makanya dia bisa bersikap sangat peduli seperti itu.

Aku baru keluar dari klinik itu pada tengah hari, karena entah bagaimana aku bisa melupakan kesedihanku sementara ketika bicara dengan teman-temanku, bahkan Naruto dan Kiba sempat membuat candaan yg berhasil membuat kami semua tertawa.

"Aku sungguh bersyukur mempunyai teman-teman seperti kalian." Ucapku tulus saat kami harus berpisah dan akan pulang ke rumah masing-masing. Semua kepala menengok kearahku yang kini mulai berkaca-kaca lalu satu per satu memberikan senyuman tulus yang menguatkan jiwaku kembali. Diawali oleh Shikamaru yang memberi usapan lembut pada puncak kepalaku, lalu Chouji yang memberi pelukan hangat dan sukses melelehkan air mataku, disusul dengan Naruto dan Kiba yang menyemangatiku dengan beberapa tepukan pelan dibahuku. Tanpa banyak kata mereka menyalurkan perasan tulus mereka untuk memberiku kekuatan menghadapi semua cobaan ini.

"Aku akan mengantarnya pulang" Ucap Gaara memecahkan keharuan diantara kami, aku sama sekali tak sadar kapan dia mendekat dan kini menggenggan erat tanganku seolah meyakinkan pada semuanya bahwa aku akan aman bersamanya. Seperti sebuah sihir semuanya termasuk Shikamaru dan Chouji mengiyakan kalimatnya.

"Baiklah, kami titip Ino padamu. Pastikan dia istirahat, nanti sore kami akan datang" kata Chouji.

"Kalau perlu kau ikat dia agar dia tak kemana-mana" imbuh Shikamaru.

"Tenang saja, aku akan mengurusnya" jawab Gaara penuh percaya diri. cih.

"Jangan biarkan dia bermain Game"

"Suruh dia makan yang banyak" tambah Naruto dan Kiba.

"Hei, aku bisa mendengar kalian" sahutku agak kesal mendengar pembicaraan mereka yang seolah melupakan keberadaanku. Dan semuanya tertawa termasuk aku bahkan Gaara.

"Tunggu, hei Shika, Chouji, Naruto dan Kiba juga kenapa kalian tidak mengajakku pulang bersama kalian saja rumah kita kan searah, lagipula Gaara juga perlu pulang istirahat dan ganti baju kenapa kalian tega sekali?" aku bertanya curiga pada mereka, pasalnya dari tadi aku merasa ada hal yang aneh, seperti ada yang mereka sembunyikan dariku.

Mereka saling memandang satu sama lain, lalu malah melihat ke arah Gaara, seolah meminta bantuan. Benar-benar aneh, aku jadi curiga apalagi dari tadi juga tak ada yang menawariku pulang bersama.

"Gaara membawa motor, akan lebih mudah untukmu jika kau butuh bantuannya, benar kan?" jawab Shikamaru yang disetujui oleh yg lain.

"Ck, kalian pasti berpikir aku terlalu merepotkan" Sanggahku.

"Mendokusai, Gaara sudah berbaik hati menawarkan diri mengantarmu bukankah seharusnya kau menghargainya?" tukas Shikamaru kemudian. Tapi apa yang dikatakannya memang benar, tak sehaeusnya aku bersikap seperti ini.

"Iya Ino, sebaiknya kau pulang dengan Gaara jadi kau tak akan kelelahan lagi karena berjalan jauh dari halte sampai rumahmu" timpal Chouji.

"Itu benar Ino, di saat seperti ini akan lebih baik bila Gaara yang menemanimu, jadi kalau kau butuh sesuatu dia bisa lebih cepat membantumu daripada kami" tambah Naruto.

"Kalian benar, maafkan aku Gaara" ucapku kemudian. Aku benar-benar tak mengerti kenapa mereka malah kompak memojokkan aku.

"Tak masalah" jawab Gaara yang kali ini tak menggunakan gumaman dengan senyum tipis, membuatku heran dan tanpa sadar memiringkan kepalaku untuk menatapnya lebih lama. Tunggu, kenepa dia tersenyum, Bukankah itu aneh? Pikirku.

Setelah Gaara mengambil motornya kami semua akhirnya berpisah.

"Berhenti melihatku dengan tatapan aneh seperti itu!" ucap Gaara sambil menyodorkan helm ke arahku.

.

.

.

Begitu sampai di rumah, hal lertama yang ingin kulakulan adalah mandi, tubuhku benar-benar sudah terasa lengket karena keringat. Begitulah yang kupikirkan selama perjalanan pulang karna tak banyak percakapan yang terjadi diantara kami.

"Terima kasih untuk semuanya, sekarang kau bisa pulang dan istirahat Gaara, maaf sudah merepotkanmu sampai seperti ini." ujarku begitu turun dari motor dan menyerahkan helmnya kembali. Tanpa menunggu jawabannya aku segera berbalik ke arah pintu dan membuka kuncinya sebelum masuk ke rumah. Aku langsung ke kamar mandi karena keinginan buang air yang mendadak tak bisa ditahan lagi.

'hn, aku sudah sampai'

Baru beberapa saat aku berada di toilet aku mendengar Gaara masuk sambil bicara ditelepon.

'dia hanya kelelahan'

'soal itu, aku sudah mengurusnya'

'Bagaimana dengan rencanamu?'

'hn, nanti sore kami akan bertemu'

'jangan khawatir, aku bisa jamin dia aman tapi kau jangan menyesal'

'Jika nantinya dia memilihku'

'kita lihat saja nanti'

'hn' klik.

Setelah suara pembicaraan Gaara ditelepon itu selesai aku mendengar langkahnya menjauh, aku mengira-ngira dengan siapa dia bicara, kutebak mungkin dengan Sasuke namun aku tak ingin peduli lebih jauh. Aku masih menikmati ritual panggilan alamku di toilet saat tiba-tiba suara panik Gaara memanggilku reflek aku menyudahi ritual alamku dan bergegas keluar dari toilet untuk menanyakan apa yang terjadi.

.

.

.

Jajaaaaang...tereret tereeet...akhirnya saya bisa balik meneruskan fic ga jelas ini. Mohon maaf kalau lama, semoga aja masih ada yang mau baca...😢

Ini entah kenapa lama-lama makin menjauh dr genre romance malah mengarah ke arah friendship. Maafkanlah kelemahan saya dlm membuat cerita romance yg selalu gagal.