Balas REVIEW : (t'login)
leny : ^^. Iya. Vhy juga bersyukur ^^
ryani clouds : ^^, Danke~ doanya. Sekarang Vhy udah sembuh total ^^
Jy : OK! ^^
satya : Hayo,, di cari lagi ^^ *PLAK.
Guest : Iya. Jangan Thor donk panggilnya, huuhuuu T^T
hye jin park : Ja. Ini update ^^
Vhy + GE Presents :
.
Summary :
Akhirnya, dengan putus asa Yesung melepaskan tangan itu dan melihat Kibum dengan tatapan tak mengerti. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang dilakukan Kibum padanya. Sedang marah? Bosan? Tidak suka anjing?
.
.
OUR houseHOLD
Cast : Kim Jong Woon, Kim Ki Bum, and another cast -SUJU's member-
.
.
Disclaimer : ALL OF THE PLOT IS MINE !
.
.
RATED : – TA – ( Tidak Aman )
.
GENRE : DRAMA/ROMANCE
.
CHAPTER : 12
.
Warning : SC –Straight Character–, Typos –pasti..ada aja –, POOR EYD ,alur EXPRESS , general LIFE–not as SUPERJUNIOR member- ^_^
Warning ++ : diSARANkan untuk membaca cerita ini dengan POSISI PALING NYAMAN & SANTAI...
.
DON'T FORGET to SEND me A RIVIEW, ne~~?
.
.
.
! HAPPY READING !
"Kau cemburu?"
"tidak."Kau terlalu cepat menjawab. Itu berarti kau cemburu.
Yesung merebah di sebelah Kibum. Ia melingkarkan tangannya untuk memeluk Kibum.
"Kau lulus ujian kedua." Ujar Yesung menutup mata.
Membuat Kibum tak mengerti, tapi ia tak begitu mempedulikannya. Kibum ikut menutup matanya.
Mereka berdua belum terlelap, meski keduanya sama-sama menutup mata.
Yesung sedang menikmati ketenangan, tapi tiba-tiba Kibum membuka matanya.
Kau mempermainkanku? Batin Kibum memandang wajah cekikikan Yesung yang sedang menutup mata.
Dia terus saja membuatku menjadi orang yang aneh. Batinnya lagi.
Kini, ia memutar tubuhnya untuk kembali memeluk Yesung.
"Kau sudah menyadarinya?" Yesung mengatakannya dengan nada girang.
"Kau harus membayar mahal untuk itu." Ucap Kibum setengah mendengus dan tersenyum.
"Aaaa!" Yesung langsung menjerit ketika tubuhnya di putar terlentang, dan Kibum sudah berada di atasnya.
"Ya! Apa yang kau-mmmph.." Bibir Yesung langsung terbungkam.
Kibum menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dan kedua tangannya langsung membelai seluruh tubuh Yesung.
Mereka bertukar saliva, tangan Kibum meremas buah dada Yesung secara bergantian dan kejantanan Kibum terus saja menggesek bibir vagina Yesung.
"Eeenghhaaaaa..." Yesung mendongak ketika salah satu tangan Kibum langsung masuk ke holenya.
Kibum memindahkan ciumannya ke daerah bahu Yesung dan meninggalkan kissmark. Sedang Yesung hanya bisa memberikan akses yang diperlukan Kibum, dan menahan nafsunya, karena dirangsang oleh Kibum seperti itu.
"Euummpphh...hhaaaa..." Kibum dengan gencar menggerakkan satu jarinya, dan melumat buah dada kiri Yesung, Satu tangannya menyanggadan tubuhnya terus ia gesekkan tak beraturan di tubuh Yesung.
"Aaahh..." Wajah Kibum turun ke vagina Yesung dan melumatnya, seperti sedang bercumbu dengan bibir Yesung, Ia mempermainkan klirotis Yesung sesekali, dan menyodokkan lidahnya ke dalam hole Yesung.
Kibum kembali mempertemukan bibir mereka,
JLEB!
"Aaaa!"
Setengah dari kejantanan Kibum tiba-tiba masuk ke hole. Yesung tak berani bergerak, meski dirinya merasa sangat tegang.
Kibum mengelus perut Yesung memutar, juga menciumnya lagi, dan terus mengalihkan perhatian Yesung dari rasa sakit yang—
"AAAahh..ssshhh..." Beralih. Kejantanan Kibum berhasil menembus Yesung sekali lagi, dan langsung tepat di titik kenikmatannya.
"Boleh aku bergerak?" Kibum bertanya.
Tapi, sebelum Yesung menjawab, ia menggerakkan kejantanannya keluar masuk, dan membuat Yesung menggigit bibir bawahnya erat.
Kibum melihat dengan jelas raut sakit itu, dan ia turun untuk mencium bibir Yesung lagi. Ia mencumbui setiap senti wajah Yesung, membuat bekas kemerahan di wajahnya.
Ia juga mengigiti gemas leher dan bahu Yesung, sambil terus menggerakkan kejantanannya perlahan.
"Ahh." Kibummenemukannya. Ia melihat ekspresi nikmat yang ada di wajah Yesung saat ia menemukan titik yang membuat Yesung mendesah. Kibum menyeringai.
Jleb!
Dengan hentakan keras ia memasukkan kejantanannya, Yesung melenguh sambil mendongak.
JLEB!
"AAAhh..hh.."
Suara itu lagi.
JLEB~
JLEB!
JLEB~
Kibum terus menghujam Yesungdengan sangat tegas dan keras. Bahkan tubuh Yesung ikut terhentak karenanya.
JLEB!
"AAAh..." Kibum merasakan otot-otot vagina Yesung merapat dan semakin menjepit kejantanannya. Tapi ia tak berhenti. Ia malah mempercepat temponya, dan menggesekkan tubuh mereka, seirama.
"Eeuuepphh...aaahh...aaaahhah...aaah..." Desahan Yesung makin serak, makin menggoda, makin membuat Kibum terus dan terus mendorong dirinya agar tak berhenti.
"Euunghhh...aaaaaa..." Yesung mencapai klimaksnya. Kibum menghentikan genjotannya, dan memandang Yesung. Ia mengangkat satu tangannya, untuk merapikan poni Yesung.
JLEB!
"Aaah..."
JLEB~
"AAAH..."
Kibum kembali menghujam Yesung, ia merasakan bahwa ia hampir sampai di puncaknya.
HAP!
Ia mengubah posisi terlentang Yesung dan memebawa setengah duduk bersandar di bed.
JLEB!
"Aaahh..."
JLEB!
"AAH...'
Hentakan Kibum terus saja meningkat. Dinding vagina Yesung terus saja melebar dan menyepit seraya datangnya hujaman itu.
Kibum selalu tau dimana letak kenikmatannya.
Yesung yang melihat wajah Kibum mererah karena nafsu, melingkarkan kedua tangannya ke leher Kibum, dan ikut bergerak, berlawanan arah denganKibum. Memperdalam hujamnnya, Sakit, panas, nikmat, bergairah. Yesung tak bisa merasakan apapun selain hujaman Kibum dalam dirinya.
Tatatapan mereka bertemu, dan mereka salim melumat, penuh nafsu di tengah hujaman yang tak berhenti.
"Eeenghh..a..aaaaaa..." Cairan Kibum lumer di dalam holeYesung.
Yesung menggeliat, aneh saat merasakan cairan itu seakan memenuhi dirinya.
"Euummppphh..." bibir mereka bertemu. Bukan lumatan nafsu. Kibum menciumnya dengan sangat lembut, dan tak terkesan terburu- buru.
Chuu~~~
"Gomawo..." Kibum mendaratkan kecupan di dahi Yesung. Lalu ia membenarkan posisi mereka berduamenjadi miring berhadapan, dengan kejantanan Kibum yang masih berada di dalam Yesung.
"Lelahh?" Kibum bertanya, sangat lembut, sangat perhatian. Matanya menatap Yesung, sambil tersenyum.
"Em. Lelah sekali."
"Euumpphh..." Kibum memberinyakecupan di bibir.
"Kau bisa tidur seperi, ini?" Sebenarnya, pertanyaan Kibum adalah apakah kau bisa membiarkan kejantananku berada di holemu lebih lama?
"Kau ingin tidur? ini sudah..." Yesung melirik nakas. "...jam 8.50 pagi. Tak ada yang akan tidur jam segini."
Kibum tersenyum mendengarnya. Ternyata maksud Kibum tak tersampaikan ke Yesung secara tepat.
"Geurae..." Kibum memutar tubuh mereka lagi. Saling berhadapan, dengan Yesung di bawah.
"Kita akan lanjutkan saja."
"NE?...aaaahh..." Yesung mendesah di sentuhan pertama.
-::::::::::::::::::::::::::::-
8^_^8
-::::::::::::::::::::::::::::-
11.30 AM
Getaran handphone di nakas, mengusik ketenangan Kibum dalam tidur.
Ia mengerjapkan matanya beberapakali untuk menyadarkan diri, dan meraba benda bergetar itu dari nakas.
"Yeoboseo." Entah bagaimana bisa suaranya tak serak setelah tidur.
Kibum mendengarkan baik-baik ucapan Hankyung appa dari sebenrang line.
Lalu mengangguk, dan mengatakan 'arrasemnika, abeoji.'
"Ahh...ye. Gamsahamnida abeoji.."
"Eeeuumpphh..."Sebuah lenguhan membuat Kibum menoleh tepat ke samping kirinya.
Ia melihat Yesung sedang bergelung tak nyaman. Mungkin karena berisik.
Kibum menutup telepon setelah berpamitan, dan mengambil sebuah amplop data dari laci nakas. Ia baca sekali lagi selembar kertas di dalamnya, tersenyum, dan menutupnya lagi.
-::::::::::::::::::::::::::::-
8^_^8
-::::::::::::::::::::::::::::-
Dengan pakaian santai dan hangat,Kibum keluar dari kamar hotel dan mengikuti langkah Yesung yang mendahuluinya.
Melihat punggung Yesung yang bergerak terus menjauh, Kibum memutuskan untuk mengejarnya, dan menggenggam tangan kiri Yesung untuk berjalan berdampingan.
Sebuah audi merah berhenti tepat di depan pintu hotel, dan seseorang yang terlihat seperti pegawai hotel keluar dari dalam.
Tanpa menyematkan senyum, Kibum mengambil kunci darinya dan membukakan pintu untuk Yesung dari sisi lain.
V
"Menurutmu mana yang paling lucu?" Mereka berdua ada di sebuah petshop dan sedang melihat beberapa anjing di sana.
Tak ada jawaban dari Kibum. Dia malah berdiri saja di salah satu tiang dan melihat Yesung yang sibuk memilih calon peliharaannya.
"Kibum-ah. Bagaimana menurutmu?"Yesung menggendong seekor cihuahua dengan mata yang lebar dan moncong yang lucu.
"Sebentar ya, eonni.." Yesung menaruh kembali anjing itu, dan menjauh dari si penjual, mendekati Kibum yang hanya sibuk melihatnya.
"YA! Kim Kibum! NEO! Aku dari tadi bertanya padamu!"Teriakan Yesung bahkan tak membuat Kibum bergerak dari posisinya. Bahkan tatapannya hanya terus ditujukan pada Yesung.
"Kibum-ah...Ppali...ayo lihat-lihat. Ayoo~~."Yesung yang merasa tidak dipedulikan, langsung menarik kuat-kuat lengan Kibum yang di dada dan menariknya mendekati anjing-anjing di sana.
"Ppaliii...Ppaliiiii..."Yesung terus menarik lengan itu, tapi tak bergerak sama sekali. Bahkan Kibum tak membuka mulutnya.
"Wae?" Akhirnya, dengan putus asa Yesung melepaskan tangan itu dan melihat Kibum dengan tatapan tak mengerti. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang dilakukan Kibum padanya. Sedang marah? Bosan? Tidak suka anjing?
Apa?
"Kibum-ssi."Yesung menatap Kibum dengan mata berkaca-kaca. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Kibum tiba-tiba bersikap dingin dan tak mempedulikannya.
"Hhaaaaahh.."Kibum menghela nafas, dan maju selangkah untuk menghapus airmata yang mengalir di pipi Yesung.
"Bukankah kau berjanji untuk memanggilku Kibum-ie?"Ucapnya sangat lembut dan mensejajarkan wajahnya pada Yesung. Kedua tangannya ia tangkupkan di pipi Yesung yang memerah.
Yesung mengerjapkan matanya. Ia baru ingat akan hal itu. Kemudian ia tersenyum lebar dan menghapus sisa airmatanya.
"Kalu begitu...Kkajja. Kita pilih anjingnya, Kibum-ie." Ucapnya dengan ceria sambil menarik Kibum untuk memilih anjing yang akan mereka rawat.
V
V
Sesuai janji. Mereka membeli dua anjing yang langsung dinamai Kkoming dan Ddangkoma, mereka meminta untuk dititipkan dulu di sana, karena mereka ingin jalan-jalan lagi.
Hari sudah beranjak siang.
Mereka berhenti di sebuah kedai di pinggir pantai dan memesan makanan laut di sana.
Bukan restaurant mahal seperti yang di sarankan Kibum. Selain ingin menikmati makan siang yang santai, Yesung juga berpikir akan lebih baik berhemat jika perusahaan Kibum benar-benar bangkrut dan harus gulung tikar.
"Bummie~." Yesung memanggil dengan nada manja dan kedua tangannya digunakan untuk menumpu dagunya.
"Hmm." Mendengar deheman dari Kibum, Yesung langsung mendengus dan meneruskan makan siangnya.
"Wae~?" Melihat gelagat Yesung yang kesal, Kibum bertanya.
"Ani. Eobseo." Ucap Yesung ketus, dan sibuk dengan makan yang tersaji di mejanya.
Dia ini mudah sekali berganti mood. Batin Kibum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
V
V
Berkat syal yang digunakannya hingga menutupi pipi dan topi yang rendah, Kibum berhasil mengikuti Yesung ke semua tempat dan membeli berbagai barang tanpa di kenali siapapun. Dia bahkan diperlakukan seperti pelanggan biasa di departemen store miliknya.
Baru saja mereka berdua keluar dari departemen store itu dan sedang menyebrangi zebracross..
"Sekilas berita...Perusahaan Lee mengalami kemajuan pesat selama 3 hari ini. Harga saham meningkat drastis. Perusahaan kecil yang bernaung di bawahnya juga kian meningkat. Bahkan perusahaaan Kim adalah salah satu dari perusahaan yang dinauni oleh perusahaan Lee. Pemindahan..."
Sebuah TV yang menggantung di dekat departemen store itu berbunyi cukup keras untuk di dengar semua orang di pun begitu. Bahkan ia berhenti di tengah zebracross saat nama Lee disebutkan.
Menyadari sesuatu, Yesung langsung menolehkan kepalanya ke belakang.
Ia menemukan Kibum di sana, melihatnya dengan biasa dan berjalan mendekat.
Yesung berjalan berbalik mendekatinya. Ia masih tak percaya apa yang terjadi..
Kim Kibum...Kim Kibum yang ada di depannya sekarang...
"Apa yang kau lakukan." Meski itu pertanyaan, Yesung tak mengatakannya dengan nada bertanya. Kalimatnya bergetar, dan dipenuhi oleh sebuah ketidakpercayaan.
Tiiinn...ttiiinn...
Klakson mobil berbunyi, dan menyadarkan keduanya untuk segera minggir dari sana, dan berjalan menyusuri jalan.
Teep.
Yesung menghentikan langkahnya, menghapus airmata yang menetes dengan kasar, dan memasang wajah marah.
"Kau berusaha membeliku?" tanya itu membuat Kibum menghela nafas, dan tersenyum dibalik syal yang menutupinya.
Kemudian, Kibum berjalan mendekat. Menghapus jejak air mata yang tersisa di pipi yeoja yang sangat dicintainya itu.
"Membelimu dengan impian appamu. Kurasa itu harga yang bahkan belum pantas." Kibum melepaskan topinya dan memakaikannya untuk Yesung. Impian appa Yesung tiba-tiba terwujud seperti ini. perusahaan appanya tiba-tiba menjadi perusahaaan yang besar seperti impian appanya.
"hikkss..hikksss..." Mendengarnya, Yesung malah semakin senggukan dan menangis. Ia menunduk dalam. Ia tak berani menatap mata kelam yang membuatnya semakin malu itu.
"Sssstt...Sudahlah. Kau pasti lelah dan kedinginan sekarang. Kita kembali ke hotel dan beristirahat, ne~?" tawar Kibum seraya melepaskan syal yang melingkar di lehernya untuk Yesung, mengusap sekali lagi pipi Yesung yang memerah karena menangis.
Yesung hanya mengangguk lucu dan memeluk Kibum erat. Tak memepedulikan pandangan beberapa orang yang mengenali Kibum karena melepas topi dan syalnya.
"Ki—hikkss..Kibummiee.."Yesung terus menangis dalam pelukan Kibum. Menumpahkan segala rasa terimakasih, dan rasa bahagianya sekarang.
"Heemm?" Kibum mengusap kepala Yesung untuk menenangkannya.
"apa tidak apa-apa?" Ucap Yesung setengah terbungkam dengan dada Kibum yang menempel di wajahnya.
"apanya?"
"Perusahaanmu. Wajahmu." Ucap Yesung bergumam karena ia pun tak yakin dengan pertanyaannya.
Kibum yang mengerti dengan maksud Yesung pun mengeratkan pelukannya dan mendongak menatap langit.
"Gwaenchana... Lagi pula...aku juga ingin semua orang tau jika aku sudah memiliki seorang istri yang cantik."
BluuSSHH..
"Aaauu.." Kibum akan berjingkat karena merasakan ada yang mencubit perutnya keras.
"Aku ingin pulang." Ucap Yesung melepaskan pelukannya, tapi masih menunduk. Ia yakin banyak orang yang sedang melihat ke arahnya sekarang. Lebih tepatnya ke arah Kibum.
"Baiklah...Kkajja." dengan santai, dan tanpa mempedulikan tatapan orang ke arahnya, Kibum menggandeng tangan Yesung dan kemblai ke hotel.
V
Semua orang di hotel itu kaget ketika mendapati Kibum masuk ke hotel berbintang lima itu, apalagi dengan menggandeng seorang yeoja, dan melewati mereka begitu saja tanpa melakukan check in.
"Tuan.." Seorang namja membungkuk hormat pada Kibum dan tersenyum lembut.
Kibum hanya menoleh tak mengerti dengan apa yang akan dilakukan seorang manager hotel itu pada Kibum.
"Kami telah menyiapkan sebuah ruangan khusus di hotel kami untuk tempat Tuan menginap." Ucapnya sangat sopan sambil menunduk sekali lagi untuk Kibum.
Mendengarnya, Kibum tersenyum, begitu juga dengan Yesung.
Melihat Kibum tak menjawab, Yesung berinisiatif untuk menjawabnya.
"Kami telah menempati semuah kamar suit di lantai paling atas." Ucap Yesung ramah, dan berjalan menuju liftbersama Kibum.
"Memangnya sejak kapan mereka datang? Kau tak memberitahukanku?" Ucap menager itu agak gusar pada pegawainya yang ada di bagian recepsionist.
-::::::::::::::::::::::::::::-
8^_^8
-::::::::::::::::::::::::::::-
"Chagiiiiii~~~.." teriakan nyaring itu datang dari handphoneKibum yang sedang di pegang oleh Yesung.
"Ye, Eomma."Yesung sedang duduk bersandar kepala ranjang, setelah mandi beberapa saat lalu.
"Yesung-ie?" Tanya Kim Heechul setengah kaget karena yang mengangkat teleponnya adalah sang menantu.
"Ne,eomma. Kibum-ie sedang mandi sekarang." Ucap Yesung sambil mengambil potongan buah apel di atas meja nakas di sampingnya.
"ahh...Begitu. A-apa kau sudah mendengar beritanya?" Suara diseberang sana terdengar sedikit ragu.
"Ne,eomma. Aku mendengarnya saat kami berjalan-jalan..." Ucap Yesung menunduk, karena ia pun agak tak tega melihat perusahaan mertuanya itu tiba-tiba menjadi perusahaan kecil.
Terjadi jeda di sambungan telepon. Eomma Kim juga tak tau apa yang akan dipikirkan Yesung sekarang. Entah senang, atau malah kecewa karena merasa semua ini hanya sebagai sogokan untuk memberinya keturunan.
"eeemm..Ye-Yesung-ie?"
"Ye, eomma."
"eomma mohon, ne~? Jangan berpikir kalau ini semua hanya untuk membuatmu merasa berterimakasih. Apalagi berpikir jika semua ini untuk memaksamu melakukan 'itu' dengan Kibum sampai kau semua keputusan Kibumie dan appa, Eomma...eomma tak akan memaksamu. Eomma tau...eomma terlalu menekanmu selama ini. Eomma minta maaf..."
Mendengar itu, Yesung merasa matanya panas sekali, apel yang akan masuk ke mulutnya tiba-tiba jatuh begitu saja.
"Mulai sekarang...Kau harus hidup dengan baik. Kau harus bahagia,ne~? Eomma tak mau melihatmu menangis lagi. Apalagi mendegar jika Kibum memaksamu lagi. Jika Kibum memaksa melakukan 'itu' padamu, kau bilang saja pada eomma. Eomma akan menghajarnya untukmu.Ne~?" Terdengar sedikit isakan di telinga Yesung. Ia yakin Kim eomma menangis mengucapkannya.
"Eo-eomma.."
"Yesung-ie dengar eomma, ne~? Yesung-ie hanya perlu memikirkan kebahagian Yesung-ie saja. Jangan memikirkan hal lain. Kalau Yesung-ie masih ingin main, ingin menulis, ingin kuliah.. apapun itu, Yesung-ie tinggal bilang ke eomma, atau Kibum-ie. Nanti, eomma dan Kibum-ie urus semuanya.Eomma minta maaf...eomma benar-benar minta maaf..."Tiap ucapan Kim eomma membuatnya makin teharu. Mau tidak mau ia terisak menahan semua kebahagiaan yang datang padanya.
"Yesung-ie?"
"Ah..Ne eomma." Ucap Yesung sadar dari lamunannya, dan segera menghapus airmatanya.
"Terimakasih eomma...terimakasih. Yesung-ie tak akan menangis lagi."Ucapnya dengan nada ceria terdengar Kim eomma berpamitan untuk menutup telepon.
Saat ia mendongak ke arah pintu kamar mandi, mata Yesung menangkap Kibum yang sedang berdiri bersandar pintu kamar mandi sambil megangkat salah satu alisnya.
"Bukankah kau bilang tidak akan menangis lagi?" Ucap Kibum mendekat ke bed sambil tersenyum.
Lalu ia berjongkok di depan Yesung yang telah duduk di bibir bed.
"Uljima.."Ucapnya mengangkat satu tangannya untuk mengusap pipi basah Yesung, dan tangan yang lain menggenggam tangan Yesung erat.
"Apa yang kau lakukan? Sana pakai bajumu!" Ucap Yesung langsung menghempaskan tangan Kibum dan langsung menelungkupkan dirinya ke bed lalu menutupinya dengan bed cover sampai batas kepalanya.
Kibum hanya tersenyum melihat Yesung. Ia melihat sekilas rona merah di pipi Yesung saat melihatnya tadi.
Brruuukk..
Kibum menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Yesung lalu memeluknya erat dari samping. Menghiraukan tubuh dan rambutnya yang agak basah.
"Bummie~~. Sana. Aku ingin tidur. Lelah sekali." Ucap Yesung masih di bawah bedcoverya.
Bukannya berpakaian, Kibum yang memakai bathrope itu malah menyingkap bedcover lalu ikut masuk ke dalam. Kembali memeluk Yesung erat.
"Bummie~. Dingin.. Sana pakai bajumu."Yesung yang masih membelakangi Kibum terus berusaha melepaskan pelukan Kibum di pinggangnya dan menggeliat karena Kibum mulai mengecupi tengkuk dan telinganya..
"Euunngghh..."Yesung tetap tak dapat melepaskan pelukan itu, malah tangannya yang berusaha melepaskan pelukan itu mengerat menahan desahan akibat kecupan Kibum di lehernya.
"Bummiiee~~..." Tanpa mempedulikan rengekan Yesung, Kibum memutar tubuhnya, dan sekarang ia telah berada tepat di atas tubuh Yesung yang terlentang.
"Bummie mau apa?"Yesung mengerjapkan matanya tak mengerti melihat Kibum yang menatapnya aneh.
"Eomma bilang kau tak boleh memaksaku. Lagi pula...kau sudah tak butuh keturunan untuk KIM. Perusahaanmu sudah bangkrut. Minggir sana." Ucap Yesung menepuk pundak Kibum untuk minggir dari tubuhnya sambil tersenyum lebar.
"Aku memang tak membutuhkan keturunan Kim untuk perusaahanku. Tapi, sekarang..Kau yang membutuhkan keturunan untuk meneruskan perusahaan appamu."
BLLUUSSSHHH
Rona merah di pipi Yesung menghilangkan sikap angkuh yang sedari tadi ia coba pasangkan di wajahnya.
Chuu~~~
Kecupan ringan jatuh di kening Yesung, membuatnya menutup mata untuk menikmati sentuhan lembut Kibum.
"Gomawo , Kim Yesung-ssi."Kibum menatap manik Yesung dalam, dan merendahkan tubuhnya untuk benar- benar menempel dengan tubuh Yesung.
"Bummiiee~~." Yesung menunduk mendengar itu. Harusnya dia yang berterima kasih, keujji?
Perlahan, Yesung mengalungkan kedua tangannya seputar leher Kibum, lalu membalas tatapan dalam Kibum.
"Aku tak akan berterima kasih. Eomma bilang itu tidak perlu."
Chuu~~~
Yesung mengakhiri kalimatnya dengan senyum singkat lalu mengecup bibir Kibum sekilas.
"Saranghae." Kali ini ia mengucapkan dengan menunduk. Ia tak berani mengucapkan kalimat itu dengan menatap mata Kibum yang kelam. Ia tak berani. Terlalu memalukan.
"Kau mengatakan itu untuk berterima kasih?" Tiba-tiba nada Kibum sangat dingin. Yesung tersentak mendengarnya.
Ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya keras untuk menampik ucapan itu.
"Tidak. Ti-tidak. Itu tidak benar." Ada sebuah ketakutan yang tiba-tiba merasuki diri Yesung. Tidak. Ia benar-benar mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Itu bukan ucapan terimakasih. Bukan.
"Gwaenchana." Ucap Kibum tersenyum singkat lalu meninggalkan Yesung dan mendekati lemari pakaian.
"Bum-Bummie~."Yesung yang masih syok dan bingung hanya melihat punggung Kibum tak percaya.
Ia langsung bangkit dari tidurnya, dan memeluk Kibum dari belakang.
"Tidak. Itu tadi bukan ucapan terimasih. Bukan." Ulang Yesung seraya mengeratkan pelukannya pada Kibum.
Tanpa terasa ada airmata yang kembali mengalir di pipinya.
" Baiklah, sekarang tidurlah, Kau pasti lelah." Dengan perlahan Kibum memutar tubuhnya, lalu mengusap surai Yesung perlahan, lalu tersenyum manis.
"Bumiiee~~. Aku serius."
"Aku juga serius memintamu tidur..." Ucap Kibum kembali berbalik untuk memilih baju tidurnya.
"Kau kejam sekali..hikkksss..." Mendengar isakan tangis itu lagi, Kibum terus menahan dirinya untuk tidak berbalik. Ia tak boleh berbalik, atau akan terjadi masalah.
"Hhaaahh...Kau ini. Cepatlah tidur, sebelum aku menidurimu." Ucap Kibum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengenyahkan pikiran tentang desahan yang ia dapat jika ia memilih membungkam bibir kissable itu dengan bibirnya.
"Eh?"Yesung yang tak mengerti langsung mendongak dan mendapati Kibum menatapnya dalam.
"Tidurlah. Jangan menggodaku dengan cara seperti itu." Ucap Kibum akhirnya melihat manik Yesung.
Yesung yang menyadari maksudnya malah melangkah maju. Ternyata bukan itu yang membuat Kibum tiba-tiba bersikap dingin. Kibum ternyata sedang menahan gairahnya.
"Saranghae." Ucap Yesung sambil membelai pipi Kibum lembut.
Chuu~~
Ia juga mendaratkan kecupan di bibir Kibum sekilas lalu tersenyum hangat.
"Kau tak boleh menggodaku dengan cara seperti ini." Gumaman Kibum masih tertangkap di telinga Yesung, yang membuat Yesung memeluk Kibum erat dan menelusupkan kepalanya ke dada Kibum yang agak terbuka karena hanya memakai bathrope.
"Aku tidak terlalu lelah, jika kau-AAAaaaaaaa.."Yesung langsung berteriak karena merasakan tubuhnya terangkat begitu saja.
"Kau sendiri yang bilang tidak lelah, kan?"Kibum merebahkan Yesung di bed, lalu menindihnya. Tanpa membuang waktu Kibum mengecupi seluruh bagian wajah Yesung ringan, dan melumat bibir Yesung agak lama setelahnya.
Rambutnya yang setengah basah dan menguarkan bau shampoo yang segar membuat Yesung nyaman, dan ciuman lembut itu sama sekali tak menuntutnya.
Perlahan Yesung mengalungkan lengannya di leher Kibum ketika lidah Kibum meminta permisi untukmengekplorasi mulutnya.
"Eeeuummpphh.."masih dengan lembut Kibum menyapukan lidahnya ke seluruh bagian yang dapat dijangkaunya dan mengajak lidah Yesung menari.
"Aaah..."Kibum menarik lidahnya menggoda, dan memasukkannya lagi, hingga saliva mereka bertukar bahkan tercecer di pinggir bibir hingga dagu.
"Euummpphhh..Hhooeeekk~..."Yesung langsung mendorong tubuh Kibum kasar ke samping, dan berlari ke kamar mandi.
"Hoooeeekk~~..."Yesung merasakan ada yang memaksa keluar dari lambungnya.
"Apa ada?" merasa khawatir, Kibum ikut berlari ke arah Yesung dan memeluknya dari belakang. Satu tangannya memijat tenggkuk Yesung.
"Kau baik-baik saja, Yesung-ie?" Nada Kibum sangat khawatir. Yesung yang melihat raut itu dari cermin, langsung berbalik dan mengelus pipiKibum untuk menenangkannya.
"Gwaenchana..hooeeekk~~.." Yesung langsung berbalik lagi dan memuntahkan isi perutnya. Bahkan sekarang hanyatinggal liur yang terus mengalir.
"Akan kupanggilkan dokter. Ayoo.." Kibum yang tak tega langsung mengangkat Yesungdan mendudukkannya di bed. Kibum langsung meraih handphonenya dan memencet beberapa tombol di sana.
Yesung yang sedari tadi menunduk, mendongak seketika. Ia mengingat sesuatu.
"Bummie~?" Sapanya langsung membuat Kibum berjongkok di depannya.
"Ada apa? Kau merasa mual lagi?" Ucap Kibum membelai pipi Yesung yang pucat.
Yesung menggeleng lemah, lalu tersenyum.
"Sekarang tanggal berapa?"
"13 desember. Ada apa?" Kibum menjawab cepat lalu bertanya lagi.
Yesung kembali menggeleng. Lalu ia mengitung hari dalam hati. Kemudian ia tersenyum, lalu melihat Kibum yang memejamkan matanya sambil menunggu sambungan telepon.
Baru kali ini ia melihat Kibum terihat panik. Biasanya ia hanya melihat Kibum yang dingin dan tenang.
Yesung mengikuti Kibum yang mulai mondar-mandir di depannya sambil menggengam telepon. Sepertinya orang yang sedang dihubungi Kibum takmengangkat telepon.
"Hooeeekk~..." Mendengar suara itu, Kibumlangsung menoleh ke arah Yesung dan berjongkok lagi di depannya. Satu tangannya mengelus pipiYesung yang semakin pucat.
Karena tak sabar menunggu jawaban telepon, Kibum mengedarkan pandangannya ke ruangan. Ah! Kibum langsung memencet satu tombol di telepon hotel.
"Panggilkan dokter kemari." Ucapnya tanpa basa-basi, lalu merebahkan tubuh lemas Yesung di bed dan mengganti baju dengan cepat.
Ting...ttooong..
"Itu dokternya." Kibum mengecup dahi Yesung sekilas lalu berjalan tergesa menuju pintu kamar. Melihatnya Yesung tersenyum dan mengelus perutnya perlahan.
V
V
"Bagaimana?" Ucap Kibum tanpa basa-basi saat melihat sang dokter melepas stetoskop dari telinganya.
Dokter itu tersenyum dulu, sebelum menjawab.
"Istri anda tidak apa-apa, sajangnim. Ini memang biasa terjadi."Ucap uisa itu sopan sambil menunduk ke arah Kibum.
Itu bukan jawaban. Pikir Kibum.
"Sebaikanya besok sajangnim berserta nyonya datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saya permisi sajangnim."
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Ucapan dingin Kibummembuat dokter yeoja itu menghentikan langkahnya.
"Ye?"
"Ada apa dengan istriku?" Tanyanya dengan nada serius. Membuat dokter itu menelan ludah gugup.
"Bumiieee~~." Mendengar itu, Kibum mendekati bed, dan duduk di pinggir, menggenggam tangan Yesung yang lemas.
"Uisa?"Kibum mencoba menyadarkan uisa yeoja itu untuk menjawab pertanyaannya.
"I-itu..Mual seperti itu memang biasa terjadi. Ja-jadi sajangmin tidak perlu mengkhawatirkan keadaan nyonya. Nyonya hanya perlu diberikan vitamin dan istirahat yang cukup." Mendengar jawaban itu, Kibum malah mengerutkan kedua alisnya. Ia belum mengerti.
"Bummie~. Aku hamil." Ucap Yesung singkat memandang Kibum, dan membuat Kibum terpaku.
"Hamil?" Ulang Kibummemastikan dan membuat Yesung mengangguk lemah.
"Ye~? Ahh...maafkan saja sajangnim. Maafkan saya..Saya mengira bahwa sajangnim telah mengetahui kehamilan Nyonya Kim. Karena tadi Nyonya Kim telah mengatakan bahwa beliauhamil, sebelum saya mengatakannya. Maafkan saya sajangnim...sunggguh maafkan saya."Uisa itu terus menunduk meminta maaf. Ia benar-benar tak tau harus mengatakan apa sekarang.
Kibumhanya memandangnya datar, dan beralih ke Yesung.
"Kitake rumah sakit sekarang." Ucap Kibummengangkat tubuh Yesung dan membawanya keluar kamar diikuti oleh uisa di belakagnya.
"Siapkan sopir untuk kami." Ucapnya ketika sampai di meja recepsionist, dan langsung mengarah ke pintu keluar.
Tepat saat pintu utama hotel terbuka, sebuah mobil telah siap di depan mereka.
Ddduukk..
Pintu mobil tertutup denganKibum dan Yesung di dalamnya.
"Aku tak tau kau sekaya itu." Ucap Yesung menanggapi apa yang terjadi sekarang dengan nada setengah bercanda, menghiraukan ekspresi Kibum yang dingin dan serius.
"Semua milikmu sekarang." Ucap Kibum tersenyum ke arah tau bagaiamna membuatnya tenang.
"Kitasampai sajangnim." Ucap sopir di depan, dan segera membukakan pintu untuk Kibum yang langsung menggendong Yesung.
Saat masuk ke rumah sakit, Yesung langsung dibawaKibum ke ruang bertuliskan 'JangUisa' di depannya.
Beberapa orang yang mengenali Kibum langsung menunduk hormat.
"Geunsuk hyeong. Kau bisa memeriksanya? Seorang uisa mengatakan kalau dia hamil." Tanpa menyapa dengan sopan JangGeunsuk –salah satu kenalannya yang lebih tua,Kibum membaringkan Yesung di bed dan mendekati Jang Geunsuk yang sedang membaca beberapa kertas.
Geunsuk yang melihat kepanikan di wajah Kibum, langsung tersenyum dan mengangkat gagang telepon di mejanya.
"Tunda pasien selanjutnya." Ucapnya ke seberang line.
"Tenanglah,sajangnim. Saya akan memeriksanya."
V
"Ne. Sajangnim. Istri anda positif hamil. Usia kadungannya bahkan masih seminggu lebih." Mendengar itu, Kibum langsung menghela nafas lega. Ia tersenyum kearah Geunsuk yang duduk di depannya.
"Hanya saja...Nyonya Kim mengalami sedikit stress dan kadar alkohol dalam darahnya agak tinggi." Lanjut Geunsuk menatap Kibum serius.
Mendengar itu, Kibum memejamkan matanya, setengah malu pada Geunsuk dan kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa mengurus Yesung dengan benar.
"Terimakasih." Ucap singkat Kibum.
"Saya akan mengambilkan beberapa vitamin untuk Nyonya." Ucapan itu hanya terjawab dengan anggukan. Kibum tersenyum lega. Ia sangat senang mendnegar kehamilan Yesung. Ia bermaksud berdiri dari duduknya, dan ingin memeleuk istri tercintanya di balik tirai itu.
DEG!
Langkahnya terhenti saat tiba-tiba ia membayangkan perut Yesung yang akan membesar. Ia langsung menunduk, dan memijit pelipisnya.
Apayang harus ia lakukan sekarang?
TBC:~ duunkk
GE + Vhy *BOW*
Danke~udah baca ini FF.
*BOW*
(P.S. kenapa banyak 2 kata yang tanpa spasi, padahal sudah di edit? adakah yang salah di laptop atau doc. saya?)
GE's note :
Riddle is so important in your realition. That's a good way to show your domination.REVIEW?
