137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
TANGLED
BAB 12
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s)
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya Emma Chase 'Tangled'.
Ok. Let's check this out !
.
.
.
JOYER
.
.
.
Aku yakin kalian tidak tahu ini, tapi banyak pria yang naksir pada Ariel. Kalian tahu, dari film kartun The Little Mermaid? Aku sendiri tidak pernah naksir padanya, tapi aku bisa memahami daya tariknya: dia mengisi kerang di dadanya dengan pas, dia berambut merah, dan sebagian besar waktunya di film dia tidak bisa bicara.
Mengingat hal ini, aku tidak terlalu terganggu oleh semi ereksi yang kualami saat menonton Beauty and the Beast, sebagian PR yang Naeun berikan padaku. Aku suka Belle. Dia seksi. Well...untuk ukuran tokoh kartun, omong-omong.
Dia mengingatkanku pada Sungmin. Dia banyak akal. Cerdas. Dan dia tidak ambil pusing apa pun yang dilakukan The Beast atau si brengsek dengan lengan besarnya yang aneh.
Aku menatap televisi saat Belle membungkuk memberi makan seekor burung. Lalu aku membungkuk ke depan, berharap untuk melihat belahan dada yang bagus...
Aku akan masuk neraka, benar, kan?
Aku tidak bisa menahannya. Aku putus asa. Frustrasi.
Terangsang.
Aku pernah bilang bahwa kita akan sampai di sini nantinya, ingat?
Well, saatnya sudah tiba. Aku merasa seperti kaleng soda yang di kocok dan hampir meledak. Aku tahu rekorku sebelumnya adalah dua belas hari—tapi ini berbeda.
Lebih parah.
Aku berhenti mendadak. Sepenuhnya. Aku bahkan belum masturbasi. Tidak sekali pun. Dalam sembilan hari terkutuk. Kurasa penumpukan spermaku mulai mempengaruhi otakku. Seperti gula pada penderita diabetes.
Kalian pasti bertanya, kenapa aku tidak memakai tangan yang diberikan Tuhan kepadaku?
Ini adalah aturan baru. Penebusan dosa yang kulakukan karena kebodohanku. Aku menolak untuk ejakulasi sampai Sungmin orgasme bersamaku. Kemarin sepertinya itu ide yang bagus. Tapi setelah melihat dia hari ini, aku sangat yakin masa tunggu ini akan membunuhku.
Jangan memutar mata kalian.
Kalian tidak mengerti. Kecuali kalian seorang pria, kalian takkan bisa mengerti. Kalian tak tahu betapa pentingnya kepuasan seksual secara teratur bagi kami. Sangat penting. Vital.
Aku menjeda filmnya. Lalu aku mengangkat telepon dan menghubungi.
"Halo?" Suaranya mengantuk. Serak.
"Hai, Ming."
"Kyu? Bagaimana...bagaimana kau bisa mendapat nomor telpon rumahku?"
"Aku melihat di arsip pribadimu."
Ya, itu seharusnya rahasia, tapi aku menelepon bantuan. Bermain untuk menang. Aku tidak pernah bilang akan bermain adil.
Aku berbaring di sofa sementara bayangan Sungmin di tempat tidur menari di kepalaku.
"Jadi...apa yang kau pakai?"
Klik.
Ternyata berjalan dengan lancar.
Aku menghubungi lagi.
"Halo."
"Kau sedang memikirkanku sebelum aku menelepon, benar kan?"
Klik.
Aku tersenyum. Dan menghubungi lagi.
"Apa?"
"Kalau saja kau ingin tahu, aku masih memiliki benda itu."
"Kau masih memiliki apa?"
"Celana dalammu. Yang renda hitam. Ada di laciku. Terkadang aku tidur dengan benda itu ada di bawah bantal."
Gila? Mungkin.
"Kau menyimpan piala dari semua korbanmu? Kau ini sangat mirip pembunuh berantai."
"Tidak, bukan dari semua wanita. Hanya kau."
"Apa aku seharusnya tersanjung? Aku malah merasa mual."
"Aku berharap kita bisa menambahkan satu lagi koleksinya."
Klik.
Sekarang ini jadi semakin konyol.
Aku menghubungi lagi.
"Apa. Yang. Kau. Mau?"
Kau.
Dan aku.
Terdampar di pulau terpencil mewah setidaknya selama seminggu.
"Jangan ditutup. Aku akan terus menelepon lagi."
"Kalau begitu aku akan mencabut lepas saluran teleponnya."
Tantangan dalam suaranya membuat semi ereksiku berdiri sepenuhnya. Apakah aku bilang seminggu? Maksudku sebulan.
Setidaknya.
"Kalau begitu aku akan datang kesana. Aku akan duduk di luar pintu apartemenmu dan bicara dari luar. Ini tidak akan membuatmu jadi sangat populer di kalangan para tetanggamu."
Selama beberapa detik, dia tidak bisa bicara. Sekarang sudah lewat tengah malam. Dia mungkin bertanya-tanya apa aku serius.
Aku serius.
Lalu ia menjawab dengan gusar, "Baik. Aku tidak akan menutup teleponnya. Apa kau sungguh punya alasan untuk menelepon, atau apa kau hanya ingin membuatku menjadi lebih jengkel lagi?"
Aku katakan pada Sungmin sejujurnya. "Aku hanya ingin mendengar suaramu."
Belum lama ini, aku bisa mampir ke kantor Sungmin kapan pun aku mau. Aku bisa bicara dengannya. Menatapnya. Mendengarkan suaranya.
Aku merindukan itu. Sangat.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.
"Bekerja."
"Aku juga. Semacam itulah. Kau sedang mengerjakan apa?"
"Proposal untuk klien baru. Jeffrey Davies."
"Sang jutawan? Bukankah dia...seperti, orang gila?"
"Dia sangat eksentrik, ya."
Aku dengar dia itu sinting. Seperti salah satu penggemar fanatik Star Trek yang tahu bahasa Klingon atau melakukan operasi untuk mengubah telinga mereka agar terlihat seperti Mr. Spock.
"Dia tertarik soal apa?"
"Teknologi. Penelitian ilmiah untuk memperpanjang hidup, lebih tepatnya."
Sekarang suaranya nyaman. Normal. Hampir bersahabat.
"Aku punya beberapa kenalan orang-orang di bidang kriogenik. Aku bisa menghubungkanmu dengan mereka. Kita harus membicarakannya saat makan malam hari Sabtu."
"Apa kau mencoba menyuapku?"
"Apa kau lebih suka sarapan? Makan siang boleh juga."
Pada titik ini, aku akan puas hanya mendapat snack ringan tengah hari.
Dia mendengus. Ini bukan tawa, tapi mendekati. "Lupakan saja, Kyuhyun."
Aku menyeringai meskipun dia tidak bisa melihatnya. "Tidak akan terjadi. Aku bisa terus melakukan ini selamanya. Aku punya stamina yang menakjubkan—tapi kau sudah tahu itu."
"Apa aku perlu menutup teleponnya lagi?"
Aku mengeluh, "Tidak. Aku akan bersikap baik."
Aku berbaring miring. Apartemenku redup dan tenang.
Rasanya...intim. Seperti salah satu percakapan larut malam di bawah selimut yang kalian lakukan saat SMA karena kalian tidak seharusnya masih menelpon.
"Jadi apa yang kau lakukan di hari Natal?"
Ada senyum dalam suaranya ketika dia menjawab. "Ibuku akan datang berkunjung. Ibu Jessica juga, jadi kita semua akan pergi keluar bersama untuk makan malam Natal. Dan lagi sewa apartemenku akan habis bulan depan, jadi aku berencana untuk mencari apartemen sementara ibuku ada di sini. Aku berharap Seoul akan membuatnya terkesan. Mungkin aku akan menemukan tempat yang akan memikatnya untuk tetap tinggal di sini."
"Bagaimana dengan Dongwoon? Apa dia masih tinggal dengan Jessica?"
Tidak ingin ada serangan sergapan, benar, kan?
Nada tajam kembali lagi dalam suaranya saat dia memberitahuku, "Itu bukan urusanmu, tapi Dongwoon pindah ke Jepang tiga hari yang lalu."
Well, bukankah kabar itu membuatku ingin berdiri dan menari gembira di atas meja makanku?
"Apa kalian masih...bicara?"
"Dia akan mengirim email padaku setelah dia menetap. Memberitahuku bagaimana keadaannya."
"Sungmin...apa yang terjadi antara kalian berdua, hari itu di kantormu?"
Seharusnya aku punya nyali untuk mendengarkan Sungmin hari itu.
Seharusnya aku mengajukan pertanyaan ini saat itu juga. Pada saat itu kupikir akan lebih mudah berpura-pura aku tak peduli daripada mendengar Sungmin mengatakan apa yang tidak dia katakan.
Aku keliru.
Dia terdengar sedih ketika menjawab. Dan letih. "Kami bicara, Kyu. Aku bilang padanya bahwa aku mencintainya, bahwa bagian dari diriku selalu akan mencintainya. Aku bilang bahwa aku juga tahu dia mencintaiku. Tapi kami tidak...jatuh cinta lagi. Bukan seperti yang seharusnya...tidak dalam waktu yang lama. Butuh waktu, tapi akhirnya Dongwoon setuju denganku. Dan—" dia menghembuskan napas dengan kesal "—Aku bahkan tak tahu kenapa aku memberitahumu semua ini."
Kami berdua terdiam sesaat. lalu aku tidak bisa menahan diri lagi.
"Aku jatuh cinta padamu, Ming."
Dia diam. Dia tidak merespon sama sekali.
Dan dadaku mengetat karena aku tahu kenapa.
"Kau tidak percaya padaku, benar kan?"
"Kurasa kau seorang pembohong hebat saat kau membutuhkannya, Kyuhyun."
Oww. Jadi begini rasanya menerima konsekuensi akibat kesalahanmu? Menyebalkan.
Tapi suaraku tegas. Penuh tekad dan tak tergoyahkan. "Aku tidak bohong padamu sekarang Sungmin. Tapi tak apa. Lakukan apa yang perlu kau lakukan. Mengutukku, menamparku berulang-ulang—keluarkan semuanya dari dirimu. Aku bisa menanggungnya. Karena semakin kau mendorongku pergi, semakin keras aku akan berjuang untuk membuktikan padamu bahwa ini nyata. Bahwa aku tidak akan kemana-mana dan bahwa apa yang kurasakan padamu takkan berubah. Dan kemudian suatu hari nanti—mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi suatu hari—aku akan bilang padamu, bahwa kau, Lee Sungmin adalah cinta sejatiku dan kau tidak akan punya keraguan kalau itu memang benar."
Setelah beberapa saat, Sungmin berdeham. "Aku harus berhenti. Sudah tengah malam. Dan aku punya banyak pekerjaan untuk diselesaikan."
"Ya. Oke. Aku juga."
"Selamat malam Kyuhyun."
Aku menyeringai. "Itu bisa saja. Tapi kau di seberang kota."
Lalu dia tertawa. Cepat dan teredam, tapi itu asli. Dan aku cukup yakin itu suara terbaik yang pernah kudengar.
"Mimpi indah, Ming. Kau tahu, mimpi di mana kau dan aku ada di dalamnya. Telanjang."
Klik.
.
.
.
Game yang paling penting dalam karir seorang pitcher pendatang baru bukanlah debutnya. Tapi game berikutnya. Pertandingan kedua. Dia harus membuktikan bahwa dia konsisten. Dapat diandalkan.
Hari ini adalah game berikutnya bagiku. Hari dimana aku menunjukkan kepada Sungmin bahwa dia tidak dapat menyingkirkanku dan bahwa aku salah satu pemain hebat. Aku sudah mulai dengan sesuatu yang sederhana. Elegan. Sesuatu yang kurang konfrontatif dibanding CNBlue.
Lagipula, kalian tidak selalu perlu menjatuhkan bom nuklir untuk memenangkan perang.
Aku sudah memenuhi kantor Sungmin dengan balon.
Seribu balon.
Setiap balon tercetak tulisan MAAFKAN AKU.
Terlalu berlebihan? Kurasa tidak juga.
Lalu aku memberikan suatu benda kecil yang dikirim ke kantornya.
Dari toko perhiasan Tiffany. Sebuah kotak biru kecil dengan catatan:
Kau sudah memiliki aku.
KYUHYUN
Di dalam kotaknya, pada rantai platina, terdapat berlian dua karat yang sempurna berbentuk hati.
Sentimentil? Tentu saja. Tapi wanita menyukai sesuatu semacam itu.
Setidaknya menurut film yang kutonton sampai jam tiga pagi memperhatikan bagaimana mereka melakukannya.
Aku berharap itu akan menjatuhkan Sungmin. Hingga telentang—dan kuyakin aku tidak perlu memberitahu kalian betapa aku menyukai dirinya dalam posisi itu.
Cuma bercanda.
Sedikit.
Selain itu, aku punya perasaan Sungmin tidak terbiasa memperoleh hadiah, setidaknya bukan yang sekaliber itu. Dan dia seharusnya mendapatkannya. Sungmin layak untuk di manja. Untuk memiliki barang-barang bagus. Benda yang indah. Barang yang tidak mampu dibeli si brengsek mantan pacarnya dan mungkin dia tidak pernah terpikirkan untuk memberikannya.
Barang yang aku bisa. Dan akan kuberikan.
Aku ingin hadir di sana ketika dia membukanya. Untuk melihat ekspresi di wajahnya. Tapi aku ada pertemuan.
"Cho Kyuhyun. Masih sangat tampan seperti biasa. Apa kabarmu, anakku?"
Lihat wanita yang memelukku di kantorku? Ya, yang berambut cokelat kemerahan, wanita yang masih mempesona, bahkan pada umur lima puluhan? Dia dulunya guru kelas enamku.
Suster Park Bom.
Ya, kalian tidak salah dengar—dia seorang biarawati.
"Anda masih menakjubkan seperti biasa, Suster Park. Kapan Anda memutuskan untuk meninggalkan ordo?"
Aku tidak pergi ke gereja. Tidak lagi. Aku bisa disebut apa saja, tapi orang munafik sungguh bukan salah satunya. Jika kalian tidak mau bermain sesuai aturan, kalian tidak muncul dalam pertemuan tim.
Dia menepuk wajahku. "Bocah Kurang ajar."
Aku mengedipkan mata. "Ayolah, Suster, bersikaplah adil. Tuhan memiliki Anda selama, berapa? Tiga puluh tahun? Bukankah Anda pikir sudah saatnya memberi kesempatan pada kami semua?"
Dia menggeleng dan menyeringai. "Ah, Kyuhyun, pesonamu akan menggoda moral orang suci."
Aku menyerahkan secangkir teh, dan kami duduk di sofa yang belum ternoda.
"Aku terkejut oleh panggilan teleponmu. Dan sedikit penasaran. kesulitan apa yang telah kau buat sampai membawamu ke dalam masalah, anakku?"
Aku meneleponnya kemarin. Dan mengatakan padanya aku membutuhkan bantuan.
"Saya punya teman dan saya ingin agar Anda mengajaknya bicara."
Matanya berbinar. "Apakah ini merupakan teman wanitamu, sekarang?"
Aku tersenyum. "Ya. Lee Sungmin."
"Kau selalu menjadi orang yang mencium para gadis dan membuat mereka menangis. Dan tentang urusan apa hingga kau ingin aku bicara dengan Nona Lee? Kau belum sampai membuatnya hamil, bukan?"
"Demi Tuhan, tidak."
Dia mengangkat alisnya dengan tegas kearahku.
"Maaf."
Dia mengangguk, dan aku melanjutkan. "Saya berharap Anda bisa bicara dengannya tentang...pengampunan. Kesempatan kedua. Penebusan."
Dia menyesap teh dan tampak berpikir keras. "'Sifat manusia untuk berbuat salah, maka salah satu harus mengampuni.'"
Tepat sekali. Aku sempat berpikir meminta Changmin atau Donghae untuk mengajukan kasusku. Tapi mereka terlalu bias. Sungmin tidak akan pernah percaya. Dan sebelum kalian bertanya—tidak—Aku tidak akan mengirim Si Menyebalkan. Terlalu berisiko. Ketika berurusan tentang membujuk, kakakku seperti singa peliharaan.
Manis dan menyenangkan selama semenit, tapi jika kalian bertindak salah? Dia akan mencabik-cabik wajahmu.
Suster Park adalah seorang wanita yang religius. Baik hati. Jujur.
Kalau ada yang bisa meyakinkan Sungmin bahwa pria—yaitu aku—mampu untuk berubah, itu adalah dia. Kenyataan bahwa dia menyayangiku hampir sama seperti wanita yang melahirkanku merupakan keuntungan juga.
"Dan siapakah yang butuh diampuni olehnya?"
Aku mengangkat tangan. "Itu saya."
"Memperlakukan wanita secara tidak pantas, kan?"
Aku mengangkat bahu menyetujui. "Dan saya sudah mencoba segala cara yang bisa terpikirkan untuk menebusnya—misalnya pembuatan tato namanya di pantatku dan berlari melintasi di Seoul Stadium."
Aku menyimpannya itu untuk minggu depan.
"Pria sering menginginkan apa yang tidak bisa lagi mereka miliki, Kyuhyun. Aku lebih suka berpikir bahwa kau bukan tipe pria seperti itu. Jadi jika aku bicara pada wanita muda ini dan meyakinkannya untuk mempercayaimu dengan hatinya lagi, apa yang akan kau lakukan dengan itu?"
Aku menatap ke dalam matanya. Dan bicara tanpa keraguan sedikit pun:
"Saya akan sangat menyayanginya. Saya akan melakukan apa saja yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Selama diamengijinkan saya."
Seulas senyum perlahan menyebar di wajah Suster Park. "Dan orang bilang mukjizat tidak terjadi lagi." Dia meletakkan cangkir ke samping dan berdiri. "Tampaknya aku punya pekerjaan Tuhan yang yang harus dilakukan. Dimana kau sembunyikan gadismu tersayang? Apakah dia menungguku?"
"Saya memberanikan diri untuk bicara dengan sekretaris Sungmin. Dia menunggu seseorang. Dia hanya tidak tahu bahwa itu Anda."
Dia terkekeh. "Tidakkah kau pikir bahwa itu akan membuatnya sedikit jengkel?"
"Mungkin. Tapi dia tidak akan melampiaskannya pada Anda. Dia akan menumpahkan seluruh kejengkelannya pada saya."
Kami berjalan menuju ke pintu.
"Apa kau sudah mencoba berdoa, Kyuhyun? Doa adalah sesuatu yang sangat ampuh."
"Saya rasa doa Anda sedikit lebih ampuh daripada doa saya saat ini."
Dia tersenyum dan menyentuh pipiku seperti yang dilakukan seorang ibu.
"Kita semua para pendosa, anakku. Hanya saja sebagian dari kita lebih menikmatinya daripada yang lain."
Aku tertawa ketika aku membukakan pintu.
Dan kemudian senyum menghilang dari wajahku saat aku menatap punggung Naeun. Dia berdiri di depan kantorku dengan lengan terentang. Menghalangi kami. Dari wanita di depannya.
Yang kebetulan adalah Jessica.
.
.
.
Setelah Naeun mendampingi Suster Park ke kantor Sungmin, aku berpaling ke arah Jessica.
Donghae berjalan mendekati kami, matanya tertuju pada tubuh yang berjalan menjauh menyusuri lorong.
"Apa itu Suster Park?"
"Ya."
Dia mengangguk penuh apresiasi. "Bagus."
Dia tersenyum licik pada Jessica. "Hei, Jess, apa Changmin cerita padamu tentang Suster Park?"
"Begitulah. Ia memperkenalkanku di gereja minggu lalu."
Tidak seperti aku, Changmin masih datang ke gereja secara teratur.
Dia suka untuk mengantisipasi segala kemungkinan, untuk berjaga-jaga.
Donghae tersenyum lebar. Seperti balita yang sudah hampir mengadukan perbuatan saudaranya.
"Apa dia cerita padamu tentang CPS?"
Alisnya berkerut. "Apa itu CPS?"
"Tanya Changmin. Dia akan memberitahumu. Dia cukup ahli di bidangnya." Dia menyenggolku dengan sikunya. "Eunhyuk dan Haru nanti akan datang. Kau mau ikut kami makan siang?"
Aku menggaruk belakang telingaku. "Tidak bisa. Aku punya pertemuan...dengan seorang pria...tentang suatu hal."
Dia seorang skywriter. Dia yang akan terbang melintasi gedung pada jam empat. Aku hanya perlu menentukan apa yang akan dia tulis. Tapi aku tidak mau Jessica tahu. Tidak boleh dia memperingatkan Sungmin sebelum waktunya.
Donghae mengangguk. "Baiklah. Sampai nanti."
Aku menatap mata Jessica. Dan memberinya salah satu senyum khasku.
Dia hanya balas melotot.
Aku pasti sudah kehilangan sentuhanku.
"Kita perlu bicara."
Hanya ada beberapa alasan kenapa Jessica ingin bicara denganku pada saat ini dalam hidupku. Tak satu pun di antaranya yang menyenangkan.
Aku memberi isyarat ke arah kantorku. "Ayo masuk."
Ini bagaimana rasanya mengundang vampir masuk ke dalam rumahmu.
Aku duduk di belakang mejaku. Dia berdiri.
Aku harus bermain hati-hati.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Jessica?"
"Akan menyenangkan kalau kau mengebiri diri sendiri. Tapi aku akan puas kalau kau melompat terjun dari jembatan."
Oh ya—ini akan jadi menyenangkan.
"Selain itu."
Dia mengukuhkan tangannya di mejaku dan membungkuk ke depan, seperti ular bersiap-siap untuk menyerang. "Kau bisa berhenti mengacau kepala sahabat baikku."
Tidak masalah. Kepala Sungmin bukanlah bagian tubuh yang ingin aku kacaukan (setubuhi) saat ini. Kalian pikir aku harus mengatakan itu padanya? Mungkin tidak.
"Aku tak tahu apa yang kau bicarakan."
"Aku bicara tentang kejadian minggu lalu, ketika kau memperlakukan dia seperti kondom bekas. Dan sekarang, tiba-tiba saja, kau jadi sentimentil dengan segala macam bunga, musik dan surat cinta."
Dia mendengar tentang ini, bukan? Itu pertanda bagus.
"Jadi kupikir kau punya kepribadian ganda—yang disebabkan amukan sifilis yang mengalir dalam pembuluh darahmu—atau kau sangat senang terhadap penolakan yang keras. Dalam kedua kasus ini, berhentilah, brengsek. Sungmin tidak tertarik."
Aku tidak suka ditolak. Ketika Sungmin menolakku saat malam pertama di klub, apakah aku mengejarnya? Tidak, aku pergi dengan sesuatu yang pasti. Cara yang gampang.
"Jangan bicara omong kosong satu sama lain di sini. Kita berdua tahu Sungmin sangat tertarik. Kau tidak akan begitu bersemangat untuk mencabikku jika dia tidak tertarik. Adapun sisa kekhawatiranmu, aku tidak memanipulasi. Dan ada antrean wanita di sekitar blok ini yang bersedia menggaruk gatal apapun yang bisa kupikirkan. Ini bukan tentang hubungan seks."
Aku membungkuk di mejaku. Dan nada suaraku bersifat langsung dan persuasif, seperti dia klien yang tidak yakin akan suatu pilihan.
Yang perlu kupengaruhi agar berdiri di pihakku. "Kuakui, perasaanku terhadap Sungmin mengejutkanku. Dan pada awalnya, aku menanganinya dengan buruk. Itulah kenapa aku melakukan semua ini—untuk menunjukkan bahwa aku peduli padanya."
"Kau hanya peduli pada kemaluanmu."
Tidak bisa membantah alasan itu.
Dia duduk di depanku. "Sungmin dan aku seperti saudara. Lebih dekat malah. Dia bukan tipe gadis one-night-stand—dia tidak pernah akan seperti itu. Dia tipe gadis yang ingin hubungan serius. Ini sangat penting bagiku bahwa dia bersama seseorang yang memperlakukannya dengan benar. Seorang pria."
Sangat setuju. Kebanyakan pria akan mengorbankan anggota tubuhnya untuk melihat aksi menarik antar sesama wanita. Ini merangsang—sangat. Tapi ketika ada hubungannya dengan Sungmin.
Aku tidak berencana untuk berbagi. Dengan apapun jenis kelaminnya.
"Terakhir kalinya aku cek, itulah aku."
"Tidak. Kau seorang playboy. Dia membutuhkan pria yang baik. Seorang pria yang ramah."
Pria baik itu membosankan. Kalian harus sedikit nakal agar segalanya tetap menyenangkan. Dan orang ramah? Orang ramah punya sesuatu yang disembunyikan.
Dia bersedekap, dan suaranya berubah penuh kemenangan. Sombong. "Dan aku tahu orang yang sempurna untuknya. Dia bekerja di labku. Dia cerdas. Dia lucu. Namanya Kris."
Kris?
"Dia akan menghibur Sungmin dengan sesuatu yang menyenangkan. Aku berencana untuk mengatur kencan mereka akhir pekan ini."
Dan aku berencana untuk memborgol diriku pada pergelangan kaki Sungmin dan memakan kuncinya. Mari kita lihat kesenangan apa yang dapat Kris tunjukkan pada Sungmin saat dia menyeretku berkeliling di belakangnya seperti kembar siam.
"Aku punya ide yang lebih bagus. Bagaimana kalau kita kencan ganda. Kau dan Changmin, aku dan Sungmin. Kita akan berkumpul. Itu akan memberiku kesempatan menunjukkan padamu betapa sempurnanya Sungmin dan aku bagi satu sama lain."
"Oke, sekarang kau terdengar seperti penguntit. Kau punya kesempatanmu. Kau mengacaukannya, lupakanlah. Pilih beberapa nomor telepon lain dari buku hitam kecilmu dan biarkan Sungmin sendirian."
Aku berdiri. "Bertentangan dengan apa yang kau pikir kau tahu, aku bukan bajingan berantai. Aku tidak memperdaya wanita—Aku tidak perlu melakukannya. Kau ingin aku memberitahu Sungmin kalau aku menyesal? Aku sudah mengatakannya. Kau ingin jaminan bahwa aku tidak akan pernah menyakitinya lagi? Aku bisa menulisnya satu untukmu, dan aku akan menandatanganinya dengan darah jika itu membuatmu puas. Tapi jangan memintaku untuk menjauh, karena aku tidak akan melakukannya. Aku tidak bisa."
Dia tidak bergerak. Wajahnya sekaku dan sekeras patung yang sedang marah. Dan sepertinya argumenku hanya membuat lekukan sebesar tusuk gigi.
"Apakah Changmin menceritakan padamu aku ini orang macam apa? Apakah aku terlihat seperti tipe pria yang menjadi katatonik pada sembarang wanita? Ya Tuhan, Jessica. Aku sangat memujanya."
Dia mendengus. "Hari ini. Kau memuja dia hari ini. Tapi apa yang terjadi jika dia menyerah? Ketika kesenangan yang baru memudar dan hubungan seks jadi membosankan? Dan ada wanita baru yang seksi mendekat dan ingin kau menidurinya?"
Seks tidak akan membosankan. Tidak jika kalian melakukannya dengan benar.
"Aku tidak ingin orang lain. Dan aku tidak melihat bahwa itu akan berubah kapanpun...selamanya."
"Kupikir kau penuh omong kosong."
"Kuyakin kau juga. Jika kau sering berkumpul dengan Changmin seperti yang kulakukan bersama Sungmin, aku juga cukup yakin akan menulisnya. Tapi apa yang kau pikirkan tidak akan mengubah apa yang diinginkan Sungmin. Dan jauh di lubuk hatinya, bahkan jika dia belum mau mengakuinya, itu adalah aku, sayang."
"Bisakah kau jadi lebih sombong lagi? Kau mungkin punya uang, tapi itu tidak bisa membeli kualitas. Atau integritasmu. Kau bahkan sama sekali tidak pantas untuk Sungmin."
"Tapi menurutmu apa sepupumu lebih pantas?"
"Tidak, aku bilang tidak. Dongwoon orang tolol yang tidak dewasa, dan hubungan mereka itu sejak lama tidak ada kemajuan. Selama bertahun-tahun aku mencoba memberitahu Sungmin. Membuat dia sadar bahwa hubungan mereka telah berubah jadi persahabatan daripada cinta sejati. Namun pada saat itu, kehidupan kami, keluarga kami, begitu saling terkait, kurasa mereka berdua takut menimbulkan masalah antar keluarga dan bukannya kehilangan satu sama lain. Tapi Dongwoon—dia memang mencintainya. Aku yakin itu. Dia hanya lebih mencintai gitarnya."
Dia mulai mondar-mandir di depan di mejaku. Seperti seorang profesor di ruang kuliah.
"Begini, Kyuhyun, ada tiga jenis laki-laki di dunia ini: remaja, cowok, dan pria. Remaja seperti Dongwoon—tidak pernah jadi dewasa, tidak pernah serius. Mereka hanya peduli tentang diri mereka sendiri, musik mereka, mobil mereka. Cowok—seperti kau—segalanya hanya tentang jumlah dan variasi. Seperti jalur perakitan, itu hanya satu kencan semalam silih berganti. Lalu ada pria seperti Changmin. Mereka tidak sempurna, namun mereka menghargai wanita lebih dari sekedar fleksibilitas tubuh dan hisapan mulutnya."
Dia tidak salah. Kalian harus mendengarkannya.
Satu-satunya bagian yang tidak dia sebutkan, adalah bahwa terkadang seorang cowok tidak bisa menjadi seorang pria sampai dia bertemu wanita yang tepat.
"Kau tidak bisa memutuskan seperti itu. Kau belum tahu aku."
"Oh, Aku tahu kau. Percayalah. Aku dibesarkan oleh seorang pria sepertimu."
Sial. Masalah psikologis dengan ayahnya. Itu yang paling parah.
"Sungmin dan aku menjaga satu sama lain," dia melanjutkan. "Kami selalu melakukannya. Dan aku tidak akan membiarkan dia hanya jadi sekedar angka pada tiang ranjangmu."
Kalian pernah membenturkan kepalamu ke dinding?
Belum?
Lihat lebih dekat. Beginilah kelihatannya.
"Dia tidak akan seperti itu. Itulah apa yang sudah coba kukatakan padamu! Bahasa macam apa yang ingin kau dengar?"
"Aku tak tahu. Apa kau bisa bicara selain melalui lubang pantatmu?"
Aku menjepit hidungku. Aku merasakan pembengkakan pembuluh darah terjadi.
"Oke, begini—kau tidak percaya padaku? Boleh. Bicaralah dengan Changmin. Kau percaya padanya, kan? Dia tidak ingin aku main-main dengan sahabat pacarnya jika aku tidak berniat serius."
Dia melambaikan tangannya di udara. "Itu tidak membuktikan apa pun. Para pria pasti bersatu."
Oh Tuhan.
Aku mengusap wajahku. Lalu aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Waktunya untuk bicara terus terang.
Mengatakan sejujurnya apa yang kupikirkan. Melakukan usaha terakhirku.
Aku berjalan ke jendela, mengumpulkan pikiranku selagi aku menonton lalu lintas jauh di bawah sana. Aku masih melihat kebawah saat aku mengatakan padanya, "Kau tahu yang kulihat kemarin saat aku berangkat bekerja? Aku melihat seorang wanita hamil, menunggu taksi..."
Dulu aku berpikir wanita hamil itu sedikit mengerikan. Berubah bentuk. Kalian seharusnya melihat Eunhyuk. Ketika dia hamil Haru, dia terlihat seperti telah makan Humpty Dumpty untuk sarapan. Dan cara dia makan pada waktu itu, dia benar-benar bisa saja terjadi.
"...dan yang dapat kupikirkan adalah betapa menggemaskan kelihatannya ketika Sungmin hamil. Dan bagaimana aku ingin melakukan sesuatu untuknya. Seperti...kalau dia sakit, aku ingin menjadi orang yang membuatkan teh dan membawakan tisunya. Aku ingin tahu bagaimana dia mendapat bekas luka kecil di dagu dan apakah dia takut laba-laba...dan apa yang dia mimpikan di malam hari. Semuanya. Ini benar gila—jangan dikira aku tidak tahu itu. Ini belum pernah terjadi padaku. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi lagi—dengan siapapun. Hanya Sungmin."
Aku memalingkan kepalaku dari jendela dan menatap matanya.
Jika kalian pernah berada di hutan dan berhadapan dengan induk beruang yang sedang marah, akan lebih baik untuk selalu menatap matanya. Lari? Dia akan mengumpankanmu ke anaknya. Lenganmu satu per satu. Tapi kalau kalian berdiri diam, kalian mungkin saja bisa keluar hidup-hidup.
"Kau ingin dengar kalau Sungmin sudah menundukkanku? Karena dia melakukannya. Dia membuatku berlutut dan di bawah kekuasaannya, dan aku tidak ingin keluar."
Kami berdua diam setelah itu. Jessica hanya menatapku. Untuk sesaat. Mencari di wajahku akan...sesuatu. Aku tidak begitu yakin apa itu, tapi kutahu saat ia menemukannya. Karena ada sesuatu yang berubah di matanya. Matanya menjadi lebih lembut. Sedikit saja.
Dan bahunya rileks. Dan kemudian dia mengangguk.
"Oke, kalau begitu."
Beberapa pertempuran tidak harus punya pemenang. Terkadang hal terbaik yang bisa diharapkan seorang jenderal hebat adalah gencatan senjata.
"Sungmin yang membuat pilihannya sendiri," katanya. "Dan jika pilihan-pilihan itu ternyata berubah jadi busuk, maka aku akan membantunya membereskan kekacauan. Karena itulah yang sahabat lakukan—membantu menguburkan mayat."
Dia berdiri. Berjalan beberapa langkah menuju pintu. Lalu berhenti, dan berputar dengan jarinya menunjuk ke arahku.
"Kau cukup ingat satu hal, sobat. Aku tak peduli apakah itu sepuluh hari atau sepuluh tahun kedepan, aku akan mengawasimu. Dan kalau aku mendapati bahwa kau menyakitinya lagi? Aku akan membuatmu menyesal. Dan aku bekerja di laboratorium, Kyuhyun. Dengan bahan kimia. Tidak berbau, bahan kimia tidak berasa yang secara permanen bisa menyusutkan bolamu jadi begitu kecil, sampai kau harus mulai memanggil dirimu Kyusilla. Apa cukup jelas?"
Changmin pasti sudah gila. Jessica ini menakutkan. Sangat berpotensi menjadi psiko-Menyebalkan. Dia dan Eunhyuk harus berkumpul bersama.
Dan menurut seleraku dia terlalu dalam memikirkan rencana kecilnya.
Aku menelan ludah. "Y-ya."
Dia mengangguk lagi. "Senang kita saling memahami."
Dan setelah itu, dia menghilang keluar dari kantorku. Dan aku ambruk ke kursiku dan menatap langit-langit.
Ya Tuhan.
Urusan hubungan asmara itu melelahkan. Aku merasa seperti baru saja lari maraton. Ditambah halang rintang.
Tapi apa kalian tahu? Aku cukup yakin bahwa garis finish ada di depan mata.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Hallo ^^
Maaf, untuk update yang telat. Ini BAB 12 nya. enJOY it ya !^^
