2 buah helikopter terbang sejajar. Helikopter itu kecil, hanya bisa diisi 4 orang termasuk pilot, namun dapat terbang sangat cepat dan bagian bawahnya memiliki layar led yang bisa menyamarkan keberadaannya dengan menampilkan cahaya yang sama dengan langit. Jarak mereka satu sama lain agak jauh, sekitar 10-15 meter, dan makin menjauh. Baling balingnya tidak terlalu berisik untuk ukuran helikopter penyelamat, tapi tetap saja mengganggu pendengaran orang yang ada didalamnya.

Dibawah, lautan membentang luas.

Sasuke ada didalam salah satu helikopter itu.

Satu satunya pria dengan jaket hitam dan separuh wajahnya penuh bercak, sementara 4 orang lainnya memakai seragam tentara. Ia duduk diujung, terlalu ujung hingga nyaris tidak duduk. Tangannya berpegangan kencang pada handle vertikal yang ada di badan luar heli tersebut. Sepatu boots kulitnya sudah sangat kotor dan penuh dengan lumpur.

"Kau lihat sesuatu, Uchiha-san?" Tanya Kakashi melalui microphone dari headphone yang ia kenakan. Mereka berada di heli yang sama.

"Belum." Suara Sasuke terdengar di headphone.

Berbeda dengan Sasuke, Tobi yang berada di helikopter yang lain hanya duduk rapi dan melihat kebawah sedikit. Ditangannya, sebuah laras panjang siap siaga.

Mereka semua yang berada di helikopter memakai headphone yang berfungsi sebagai walkie talkie. Walaupun bersebelahan, didalam helikopter suara tidak akan terdengar karena kerasnya suara baling baling dan tekanan udara.

Shika, yang berada di dalam jet bersama semua tentara lain juga memakainya, untuk berjaga jaga dan melaporkan hal hal penting. Sementara tentara lainnya hanya memakai earphone kecil. Tentu saja, semuanya wireless.

Jet yang diberikan oleh Namikaze juga tidak terlalu besar, isi maksimalnya hanya 10 ton. Jet ini sangat canggih, badan luarnya dibuat seluruhnya dengan layar led, sehingga ia benar benar tersamarkan di langit. Jet itu juga dilengkapi dengan sinyal dua arah sehingga sang pilot bisa langsung memanggil jet itu jika kondisinya mendesak dan tidak mendukung untuk kembali ke posisi dimana jet ditinggalkan.

"Nine, aku melihat sesuatu." Kini, suara Tobi lah yang terdengar. "Aku bisa melihat sebuah kapal non-aktif di 65˚ timur tenggara dari posisiku." Lapornya pada Sasuke.

Shika, yang berada didalam jet dengan cepat menimpali, "Itu berarti beberapa meter lagi dari posisi kita sekarang. Kita berada 80.000 kaki diatas permukaan laut. Apa kita harus menurunkan ketinggian?"

"Tidak." Sasuke menjawab Shika.

Ia mengunci pengaman tali yang nanti akan ia gunakan untuk turun, "Aku akan memeriksanya sendiri. Shika, kau cari tempat mendarat terdekat."

Heli yang membawa Sasuke kini sudah berada tepat diatas kapal yang terlihat berantakan itu. Helikopter mereka memang sengaja terbang lebih rendah daripada jet, dengan tujuan agar lebih mudah untuk turun naik memeriksa kapal.

"Uchiha-san, kurasa kapal itu kapal kosong yang terkena badai, tidak ada sinyal apapun yang tertangkap dari sana." Kakashi menahan Sasuke. "Biar aku yang periksa." tambahnya.

Setelah mengatakannya, Kakashi langsung terjun. Gulungan tali yang menahannya berputar dengan cepat.

Ini bukan yang pertama, mereka sudah melakukannya berkali kali. Mereka selalu memeriksa semua kapal besar yang mereka temukan sepanjang perjalanan.

Suara Shika kembali terdengar, "Nine, pulau terdekat adalah Jeju, milik Korea. Kita bisa meminta ijin untuk.."

"Hei Shika.." potong Tobi.

"Kurasa aku keliru."

"Ada apa?" Sasuke menimpali, "Kakashi sedang memeriksa kapal yang tadi kau temukan."

Tobi menjawab, "Aku menemukan 1 lagi, Nine. Dan yang ini.."

"Yang ini memancarkan sinyal." Shika melanjutkan kata kata Tobi dengan nada takjub dan takut yang bercampur. "Tapi tidak bergerak."

"Kakashi, kau menemukan sesuatu?" Sasuke bertambah serius setelah mendengar laporan Tobi dan Shika. "Tobi, berikan laporanmu." tambahnya.

"Itu.. Darah, dan.. Bagian tubuh.." jawab Tobi ragu, "Aku tak pernah membayangkan ini sebelumnya Nine. Kuharap itu bukan mayat tawanan Amerika.."

Langit sangat cerah.

Maklum, mereka memulai pencarian ini dari semenjak matahari belum terbit, jadi tak heran bila siang ini mereka sudah bisa mencapai daerah Korea.

"Aku tidak menemukan apapun, Uchiha-san. Hanya ada 1 mayat nelayan yang sudah membusuk disini." Kakashi melapor.

"Kalau begitu naiklah, kita punya tangkapan besar didepan." Jawab Sasuke.

Tali yang menahan Kakashi mulai memutar balik.

Tak lama, Kakashi sudah terlihat memanjat masuk ke dalam heli.

"Shika, mendarat di Jeju. Mendarat di Jeju." Sasuke memberi perintah. "Tobi kau masih bisa melihat kapal berdarah itu?"

"Ya." jawab Tobi singkat. "Kapal itu tidak bergerak."

Heli yang membawa Sasuke mendekat ke posisi heli yang membawa Tobi.

Mereka berdua saling melihat satu sama lain, walaupun terlalu jauh untuk bisa melihat wajah satu sama lain. Lalu Tobi tersenyum. "Berdarah, bukan?"

Sasuke mengalihkan pandangannya pada kapal yang berada kira kira 10.000 meter dibawah mereka, mendekatkan binocular miliknya ke matanya. "Hn."

"Kau mau memeriksanya?"

"Hn."

"Jangan gila Nine."

"Aku dan yang lain sudah mendarat. Perintahmu, Kapten Uchiha." Shika bersuara dengan nada ala tentara. "Entah mengapa aku merasa tertantang.." gumamnya.

Shika keluar dari jet bersama dengan 25 tentara lain, mereka mengunci sabuk jet ransel yang mereka bawa. Senjatapun sudah siap, sama halnya seperti rompi anti peluru dan penutup kepala.

Tempat mendarat pilihan Shika adalah pantai Jeju yang cukup luas, tidak terlalu jauh dari letak kapal yang kini sedang dikepung oleh helikopter.

"Shika, lihatlah.. Nine, dia.."

Para tentara yang ikut bersama Shika mulai menyalakan jet personal mereka yang berbentuk seperti ransel itu. "Apa?" tanya Shika.

"Nine turun. Dia turun memeriksa kapal sendirian." suara Tobi terdengar panik.

"Nine? Kau masih bisa mendengar kami?" Tanya Shika pada Sasuke lewat microphone. Tak ada jawaban.

"Nine!"

"Kalian berisik sekali. Disini baunya sangat busuk." Sasuke menjawab dengan suara berbisik.

Shika menyalakan jetnya. Ia bahkan belum pernah berlatih mengendalikan benda itu, dan kini ia harus menggantungkan diri sepenuhnya pada buku paduan manual yang sudah ia hafalkan semalam. "Tunggu aku." katanya.

"Tidak, tunggu dulu.. Aku melihat sesuatu yang aneh." Jawab Sasuke lagi. "Crap!" Teriaknya tiba tiba.

"SHIKA! TEMBAKI KAPALNYA! JANGAN MENDEKAT, TEMBAKI SAJA!" Teriakan Sasuke kini diiringi dengan suara nafas yang memburu dan derap kakinya.

"Apa kau gila?!" Shika ikut panik, "Ada apa, apa yang.."

"LAKUKAN SEKARANG, SHIKA!"

.

.

.

World Without You

Characters ©Masashi Kishimoto

Story ©Pipoooy12

Warnings: Stealing a script is the cruelest way to kill the author.

AU, OOC, typo

Enjoy!


.

.

.

"Crap!"

Kata itu keluar begitu saja dari bibirku ketika seorang tentara yang sedang mencabik mayat dibalik sebuah kabin gelap memergokiku. Aku sedang memeriksa kabin kabin luar kapal, dan semuanya kosong. Hanya ada potongan potongan tubuh manusia yang membusuk dan darah kering dimana mana.

Tentara itu langsung berteriak dengan sangat serak, "Intruuu.. Der! Gaaah! Intrudeeer!"

Awalnya kupikir tentara itu mengalami kelainan, namun aku langsung mundur ketika melihat wajahnya dibawah cahaya matahari.

"SHIKA! TEMBAKI KAPALNYA! JANGAN MENDEKAT, TEMBAKI SAJA!" Teriakku.

Dan segerombol tentara Amerika lain mulai berlari kearahku dengan wajah sama seperti itu, wajah seperti mayat.

Aku tidak menembak, aku tahu peluruku bukan diciptakan untuk menghadapi makhluk seperti mereka.

Aku langsung berlari. Berlari menuju tali helikopter di atap kapal.

"Apa kau gila?!" Shika panik, "Ada apa, apa yang.."

"LAKUKAN SEKARANG, SHIKA!" Teriakku lagi. Tangan salah satu dari mayat hidup itu berhasil menahan kakiku saat aku memanjat.

Dengan sekuat tenaga, aku menendangnya. Aku terus memanjat.

Nafasku memburu dan sesak diwaktu yang sama. "Crap! Mahkluk apa.."

Mereka harus tenggelam.

Mahkluk seperti mereka harus tenggelam.

"NINE AWAS!" Suara Tobi memekakkan gendang telingaku.

Sebuah suara tembakan terdengar. Berasal dari helikopter. Seorang mayat hidup jatuh, tapi tak lama bangun dan kembali mengejarku lagi

Setelah itu suara tembakan lainnya yang berasal dari para tentaraku yang sekarang terbang mengelilingi kapal dengan jet ransel.

"Hah.. Gah!" Hampir saja peganganku lepas karena permukaan atap kapal yang licin.

Aku sampai diatap kapal. Aku sampai.

Suara tembakan terus menerus terdengar.

"Nine! Cepat!" Shika berteriak.

Tapi sayangnya, aku terlambat.

Seseorang sudah berdiri menungguku.

Ya, aku masih mengingatnya.

Rambut merah bata dan wajah itu.

Senyum itu.

Ia berdiri tepat dihadapanku, "Lama tidak bertemu, Guard." Sapanya. Ditangannya, ada sebuah pistol silver.

"Kau!" Aku melangkah menyamping dengan laras panjang terarah padanya.

Aneh sekali, aku yakin aku sudah membunuhnya 2 tahun lalu. Jantungnya tercabik oleh jemariku yang tajam. Aku sangat yakin.

"Bagaimana bisa kau.. Dimana kau menahan mereka semua?!"

"Nine! Aku akan menjatuhkan granat sekarang! Cepat naik!" Suara Shika terdengar.

Si rambut merah bata itu tertawa, "Bagaimana bisa? Hm, kau meremehkan aku rupanya."

Tepat ketika ia selesai bicara, ia berbalik lalu mengarahkan pistolnya pada salah satu tentaraku. Aku langsung menembak kepalanya seketika itu juga.

"Hahahahaha!" Tawanya menggelegar. Seluruh tubuhku merinding rasanya.

Duar!

Ia menembak tentara itu, dan tubuh tentara yang ia tembak meledak. Berubah menjadi serpihan daging dan tulang. Darahnya tumpah ke air laut, bersama dengan serpihan tubuhnya. Ransel jetnya juga.

Seluruh tubuhku kaku.

"Nine cepat naik! Ini terlalu berbahaya!"

Akupun segera naik, dengan tali yang menjuntai dari helikopter. Kutembakan lagi peluruku, berkali kali padanya. Tapi sia sia.

Ia tak bergeming.

"Kita akan bertemu lagi, penjaga! Pastikan kau siap kali itu! HAHAHAHA!" Teriakannya membahana.

Kulihat mayat mayat hidup yang mengerikan itu mulai menaiki atap kapal bersamaan, memenuhi atap kapal dan mencoba meraih kakiku. Aku bergelantungan sementara helikopter yang membawaku sudah mulai beranjak.

"Lebih.. Lebih cepat lagi.. Kakashi.." Suaraku seakan mau menghilang. "Tambahkan ketinggiannya."

"Baiklah Uchiha-san." Kakashi menjawabku.

Pria merah bata itu.. Dia bisa saja menembakku tadi.

Ia punya banyak kesempatan untuk meledakkanku seperti ia meledakan tentaraku tadi.

"Granat dilepaskan." kata Shika.

Dan sebuah ledakkan kini memenuhi pengelihatanku.

Tawa itu..

"Uchiha-san, kau baik baik saja?" Kakashi membantuku naik.

Baik baik saja? Bagaimana bisa? Setelah dikejar oleh begitu banyak mayat hidup, melihat sendiri tubuh seorang manusia meledak, hancur begitu saja. Bagaimana bisa aku baik baik saja?

Peluruku bahkan tidak membuat orang itu kesakitan sama sekali.

"Tidak, Kakashi. Aku tidak baik." jawabku.

"Kita harus segera memperingati pemerintah Korea! Ini tidak boleh dibiarkan!" Seru Tobi.

"Hm.. Yeah, tapi kita masih punya masalah disini, tuan tuan."

"Katakan."

"Mayat mayat hidup itu tidak semuanya hancur. Beberapa berenang menuju Jeju. Kami yang memakai jet ransel terpaksa menambah ketinggian dan kecepatan agar tidak terlihat oleh mereka, tapi tetap saja.. Bagaimana dengan Jeju?"

Jeju itu urusan Korea.

Ya, kita tidak perlu..

"Kita.."

Tidak perlu..

"Tobi, kita berpencar. Kau peringati pemerintah, dan aku akan menghabisi mayat mayat itu."

Kita perlu menyelamatkan mereka.

"Ah.. Baiklah." Tobi terdengar pasrah.

Helikopter kami yang tadinya beriringan, kini mulai memisah.

"Nine, dengarkan aku.."

"Hn."

"Bertahanlah hingga akhir. Okay? Kita masih harus menemukan para tawanan yang hilang."

Aku tersenyum mendengar kata kata Tobi, "Semoga." jawabku.

.

.

.

"A brave man never surrenders."

- Divergent, Veronica Roth

.

.

.

"Elff! Ellf! So Ra!" Yoon Ju berteriak teriak ditengah langkah kakinya yang cepat dan panik. Rambut biru langitnya basah karena keringat. Nafasnya tersengal sengal.

Ia tak pernah terlihat sepanik ini sebelumnya. Biasanya, ia selalu bisa mengendalikan emosinya dan menekan ekspresinya setenang mungkin. Hal besar apa yang bisa membuatnya begitu panik?

So Ra berlari ke pintu depan, langsung bertanya pada Yoon Ju dengan bahasa Korea. Aku tidak terlalu mengerti, mereka bicara sangat cepat dan tidak jelas. Tapi hanya ada satu yang jelas;

Mereka berdua kini sama sama panik.

"Elf, we need to get rid of here quickly." Yoon Ju menghampiriku, menatapku lekat sebelum akhirnya merendahkan tubuhnya dan berbalik, menyodorkan punggungnya padaku.

Aku naik dalam gendongannya, "Wha-what's going on?!" tanyaku.

Ia hanya diam dan berlari dengan aku dipunggungnya, sementara So Ra terlihat mengumpulkan pisau, balok kayu, dan kotak p3k dalam keadaan panik.

Rambutku masih berwarna lavender, namun kini sudah kembali menjadi sepunggung. Warna mataku juga sudah kembali seperti semula. Hanya tinggal kuping, jemari dan taringku yang belum mau menghilang. Aku dapat mendengar berbagai suara berisik yang sangat mengganggu.

"Attention! This is a warning! Attention!" Suara itu terdengar lebih keras dari suara lainnya.

Aku dapat mendengarnya karena kupingku yang masih belum kembali normal.

Dari jauh, aku dapat melihat sebuah pesawat jet yang tidak terlalu besar berwarna hitam. "Yoon.. Yoon Ju! Stop!" Aku menghentikan Yoon Ju, lalu turun dari punggungnya. "T-that must be America's army! We.. We must run as far as we can!" Kutarik tangan Yoon Ju keras, agar mengikutiku.

So Ra menyusul kami.

"No, Elf! They are Japanese! All of them! I see their jet while they landing." Yoon Ju menahanku.

Jepang?

Jepang?!

"What? What did you just said? Japanese?!"

"Yes! We.. We need to hurry!"

Yoon Ju mengalungkan sebelah tanganku ke lehernya, dan mulai melangkah lagi. Mendekat kearah jet hitam itu.

Orang orang berlalu lalang, panik, dan saling berteriak. Persis seperti ketika emergency alarm menyala waktu itu.

Jantungku berdegup cepat, tanganku berkeringat.

Apakah kali ini aku akan selamat? Apakah kali ini mereka akan menangkapku lagi? Menembakku lagi?

Bulu kudukku berdiri, merinding.

Orang bilang, kesempatan kedua tidak datang 2 kali.

"This is Japan's Military Air force speaking. Attention please." Suara itu begitu besar sehingga menggetarkan daun daun pohon disekitarnya. Aku menengadah, mencari asal suara.

Disana, diatas badan jet hitam itu, 2 orang pria dengan headphone dikepala, mengangkat sebelah tangan mereka. Salah satu dari mereka mengenakan jaket hitam dan ransel aneh berwarna putih silver. Orang itulah yang berbicara.

Tangan kanannya memegangi sebuah pengeras suara.

Selanjutnya, ia mengatakan sebuah kalimat yang cukup panjang dengan bahasa Korea. Membuat kepanikan yang melanda orang orang bertambah parah.

Rasanya aku pernah melihat wajah pria itu.

Seseorang memanjat naik keatas jet.

Orang itu mengenakan jaket hitam yang sama seperti milik si pria ber-ransel putih. Rambut hitam kebiruannya berantakan, dan bercak hitam menutupi sebagian wajahnya.

"Elf, they say America's Army are really coming. We must unite to burn them with fire because.. Because they will eat use alive if we don't use this way to kill." Yoon Ju menjelaskan semua padaku dengan wajah serius.

Lalu ia tertawa kebingungan. "Crazy isn't it?"

Rambut hitam kebiruan dan wajah itu..

Tidak, tidak.

Ha, aku pasti berkhayal.

Sasuke?

Disini?

Di pulau Jeju, milik Korea dengan sebuah jet dan helikopter militer?

Membawa puluhan tentara bersamanya?

Tidak.

Tidak mungkin.

Ini pasti..

"Sa.." bibirku bergetar. Kakiku rasanya lemas sekali.

Sudah berapa lama? Berapa banyak kesakitan dan rintangan yang sudah kualami hingga ia..

Hingga ia..

Pria berambut hitam kebiruan itu turun setelah ia selesai membisikan sesuatu pada pria ber-ransel putih.

Hatiku rasanya perih, aku ingin segera lari dan memeluknya.

Aku ingin menumpahkan seluruh ketakutan yang selama ini sudah kutekan dan kusembunyikan baik baik. Aku ingin menceritakan padanya tentang begitu banyak hal yang bisa berubah hanya dalam waktu 10 hari. Aku ingin mengatakan padanya betapa aku takut, aku takut sendirian. Aku takut aku akan mati tanpa ada seorangpun yang tahu dimana aku mati, kapan, dan mengapa. Lalu mereka akan melupakanku begitu saja seiring berjalannya waktu.

Mataku panas.

Bibirku bergetar.

"Sa.. Sasuke.." Kedua kaki ini bergerak atas kemauannya sendiri, menerjang kerumunan orang yang kini berlalu lalang memisahkan diri. "Sasu.. Sasuke.." Makin lama makin cepat, dan semakin cepat.

Pandanganku kabur, terlalu banyak air mata.

"Elf! Elf! Wait!" Suara Yoon Ju terdengar dari belakang, diantara kerumunan. Tapi aku tidak bisa menoleh.

Jika aku menoleh maka aku akan kehilangan dia lagi.

Jika aku menoleh, maka aku akan berjumpa dengan kematianku sekali lagi.

"ELF!" Sebuah tangan menarikku, tepat ketika aku kehilangan susunan langkahku.

"Ah!" Aku terpeleset sedikit, mendorong punggung seseorang. "So-Sorry.."

Lalu aku tiba tiba tersadar.

Sasuke, dia.. Dia tak mungkin mengenaliku dengan rambut ini. Dia tak mungkin mengenaliku dengan telinga, jemari, dan taring aneh ini. Tidak mungkin. Aku dapat merasakan air mataku mengalir, hangat.

Jantungku seperti diremas.

Aku berlutut diantara kerumunan yang panik, menutup mataku, tanganku meremas kerah kaosku.

Ini tidak baik, sungguh tidak baik.

"Are you alright, Elf?" Suara itu terdengar lagi.

Dan ketika aku membuka mataku, aku tahu bukanlah Sasuke yang ada disana.

Dengan bibir yang masih bergetar, aku mencoba mengucapkannya. Walaupun kaku, walaupun aku tahu seharusnya bukan namanya yang kuucapkan, walaupun rasanya sangat sulit hanya untuk menyatakan apa yang aku rasakan saat ini padanya karena bahasa kami yang berbeda.

"Yoon.. Yoon Ju.."

Air mataku tak bisa berhenti. Sasuke, dia disana, dia begitu dekat dan aku masih saja tak bisa meraihnya. Tangan tangan lemah ini, betapa aku membencinya.

Aku benci menjadi gadis kecil lemah yang penakut.

Aku ingin hidup, bukan hanya bertahan.

Tangan itu menggenggam tanganku erat, menarikku paksa kedalam pelukannya. Bersandar pada dadanya yang bidang. "Listen to me, Elf. We must part here.. You must go to the central of Jeju, where all the woman and children hide."

Matanya menatapku, lebih dekat dari siapapun yang pernah menatapku sebelumnya. "I will come to you when this is all over." ia tersenyum.

Harga diriku mengambil alih. Kebencianku terhadap diriku yang lemah mengendalikanku. "Wh-what? Di-did you think I'm afraid? Did you think I can't fight as well as you, guys?!" Aku berdiri, mendorong tubuh Yoon Ju menjauh dariku.

Sakit di kakiku tidak kuhiraukan lagi. Tanganku yang kaku dan perih hilang begitu saja. Aku berjalan mengikuti para pria yang berjalan menuju ke tepi pantai. Langkahku besar dan sedikit pincang, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menjadi kuat. Aku ingin semua orang melihatku sebagai gadis yang kuat.

"You can't Miss." Kedua tanganku ditahan oleh seseorang dari belakang, membuatku terkejut. "Stop messing around and hide in the central Jeju. Don't be so reckless."

Wangi ini!

Aku masih sangat mengingatnya, ini wangi Sasuke.

Aku tak berani menengok, sebaliknya, seperti seorang tawanan, aku meronta. "I.. I.."

Tanganku bergetar lebih dari yang dapat kubayangkan. Ketika ia mendorongku kearah Yoon Ju, Aku berbalik, menemukan punggungnya yang menjauh.

"Elf, let's go. I will escort you to the place where.."

"Ne-nekat katamu?" Aku menyeka air mataku dengan punggung tanganku, "Lalu.. Lalu bagaimana dengan di-dirimu sendiri?! Mengapa kau ada disini? Mengapa kau baru muncul sekarang?!" Teriakku.

Pria berambut hitam kebiruan itu membeku ditempat setelah mendengarku.

Ia berbalik, memperlihatkan wajahnya yang penuh bercak.

"Aku.. bertahan hingga sa- saat ini hanya untuk kembali padamu.." bibirku bergetar ketika aku mengatakannya.

Awalnya, aku sedikit kaget. Dari dekat ternyata bercak bercak tersebut terlihat lebih parah. Tapi tidak peduli seburuk apapun wajahnya, sebanyak apapun perubahannya, aku tahu ia adalah Sasuke. Sasuke yang sama dengan yang telah mempercayaiku sebuah pistol untuk yang pertama kalinya. Sasuke yang mengajakku meniti begitu banyak tangga hanya untuk membuatku lupa akan kemarahanku padanya. Sasuke yang mengajariku cara bertarung untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Aku menarik tanganku lepas dari pegangan Yoon Ju,

"Apa kau.. Apa kau masih mengenaliku, Sa-Sasuke..?"

Sebuah perasaan seakan terlepas dari diriku, melihat kini ia berada begitu dekat denganku, aku begitu bahagia.

Aku bahagia.

Hingga rasanya aku bisa mati dengan tenang kapan saja sekarang.

"Hinata.. ?" panggilnya dengan mata melebar, tatapan tak percaya.

"Hinata?!"

.

.

.

"What you are looking for, that's what you see."

- Newspaper Blackout, Austin Kleon

.

.

.

Aku jatuh cinta, pada gadis yang baru saja kukenal sejak 10 hari yang lalu.

Dia yang muncul begitu tiba tiba diantara puing puing yang berserakan terbawa badai, dengan luka yang mungkin belum pasti sembuh hingga bulan depan.

Selama 10 hari, aku telah menjadi tangannya, aku telah menjadi kakinya. Selama 10 hari, ia memperlihatkan begitu banyak keajaiban padaku.

Dia yang mengaku pernah normal, dia yang mengatakan asalnya adalah Jepang, sebuah negara dengan sistem pendidikan canggih itu.

Aku selalu membayangkannya dalam surai indigo sepunggung, dan pupil lavender yang tenang sejak ia menceritakan tentang dirinya padaku, dan aku menyukainya.

Perasaan ini muncul begitu saja, meluap, dan tak dapat kusembunyikan. Sama seperti virus flu. Awalnya aku tidak menyadarinya, karena kupikir khawatir pada pasienku adalah hal yang sangat wajar bagi seorang dokter.

Namun ternyata bukan kewajibanku yang membuatku selalu mengkhawatirkannya, melainkan cinta.

Tatapannya, caranya tersenyum, kecerdasannya, kemauannya untuk menjadi lebih kuat.

Aku melihatnya berdiri didepanku.

Punggungnya tegak, dan tangannya terkepal keras. Baru kusadari, kalau aku tidak ingin kehilangan dia.

Ia tak bergeming, menatap seorang pria berambut hitam kebiruan itu seakan hidupnya ada dalam mata pria itu. Jarak mereka cukup jauh, namun mereka begitu dekat.

Dan aku langsung sadar mengapa.

Pria itu tersenyum begitu lebar setelah Elf berteriak padanya. Tapi bukannya mendekat, ia malah melemparkan sebuah laras panjang berwarna hitam mengkilat pada Elf. Hampir saja aku berlari dan menangkis lemparan itu jika saja Elf terlihat ketakutan.

Sayangnya tidak.

Elf menangkap senjata yang dilempar pria itu dengan sigap.

"Nice catch, teacher!" Seru pria itu, "Come on!"

Aku melihat bahu Elf bergetar, Ia memeluk laras panjang ditangannya erat. Namun itu tidak berlangsung lama, karena selanjutnya, ia menoleh padaku dengan mata lavender yang basah oleh air mata.

Bibirnya tersenyum, sama lebarnya dengan senyum pria itu.

"You see? He remember me! Sa-Sasuke, he.."

Aku tahu mengapa perasaanku takkan pernah sampai pada gadis didepanku ini.

Karena dari sejuta cara menyatakan cinta, caraku bukanlah yang ia harapkan.

Tak apa, aku mengerti. Kita, manusia, kita hanya menerima cinta yang kita inginkan. Yang kita harapkan, yang kita cari dan ingin temukan. Diluar itu, kita tak lagi melihatnya sebagai cinta.

Ia berlari, terlalu cepat untuk ukuran orang dengan kaki yang masih terpincang pincang.

Ia begitu kuat dan pemberani.

Aku salah telah memandangnya lemah selama ini.

.

.

.

T

B

C

.

.

.


Mind to leave a comment below?

Thank you for reading! ;)