.

.

Dear diary,

Hari ini Kiba membawa Akamaru ke sekolah untuk ditunjukkan pada teman-teman. Kiba memasukkan Akamaru dalam tas ranselnya yang besar dan menggendongnya dengan hati-hati. Akamaru benar-benar imut, bulunya yang berwarna putih sangat lembut ketika disentuh. Sayang sekali di tengah-tengah pelajaran Iruka-sensei Akamaru justru berhasil kabur dari ransel dan membuat kekacauan di kelas. Pada akhirnya Kiba dihukum dan harus berjanji untuk tidak membawa binatang apapun ke sekolah.

Aku sangat ceroboh saat pulang sekolah tadi. Tidak seharusnya aku memainkan ponsel saat sedang berjalan. Aku sibuk membaca pesan masuk dari Hanabi sehingga aku terpeleset jatuh saat sedang menuruni anak tangga.

Rasanya sakit sekali!

Pinggangku memar. Untunglah kakiku tidak terkilir hanya saja layar ponselku retak karena terlempar saat aku jatuh.

Aku tidak menyangka Sasuke berjalan mendekatiku dan membantuku bangkit berdiri. Ia juga mengambilkan ponselku yang terlempar cukup jauh. Sasuke juga bertanya apakah aku mampu berjalan pulang sendiri, ia juga menawarkan diri untuk mengantarku pulang saat ia melihatku yang meringis kesakitan sambi menggosok-gosok pinggangku yang nyeri.

Mungkinkah…

Sasuke kini menganggapku sebagai salah satu sahabatnya! Ia tidak pernah bersikap sebaik ini pada yang lain karena meski mereka semua adalah temannya tapi mereka bukan sahabatnya. Ino pernah bilang padaku sangat sulit menjadi sahabat dekat Sasuke karena sifatnya yang cuek dan dingin.

Aku juga tidak keberatan menjadi sahabat Sasuke, dia adalah orang yang baik. Buktinya meski aku sudah menolak tawarannya dengan mengatakan aku tidak apa-apa, Sasuke tetap bersikeras ingin mengantarku pulang. Jarak rumah kami tidak jauh, hanya berjarak beberapa blok saja. Saat aku bertanya mengapa, ia hanya menjawab jika ingin memastikan aku akan sampai di rumah dengan selamat.

Lihat… dia orang yang baik kan.

Dia juga sangat sopan, saat hanya tersisa satu tempat duduk di bus ia justru mengalah dan memintaku untuk duduk disana. Sasuke juga memegang tanganku saat aku berusaha turun dari bus, mungkin untuk berjaga-jaga agar aku tidak jatuh lagi. Tapi anehnya Sasuke tidak melepaskan tanganku sampai beberapa menit kemudian.

Mungkin Sasuke lupa jika ia sedang menggenggam tanganku.

Ia meminta maaf saat tersadar dan langsung melepaskan tanganku, tapi aku tidak mempermasalahkannya. Lupa adalah sesuatu hal yang normal.

Tangan Sasuke terasa hangat…

Tapi sampai saat ini aku masih bingung mengapa wajah Sasuke tadi terlihat memerah. Ia tidak mungkin sedang sakit kan?

Semoga saja tidak.

.

.