Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya

Hetalia Cardverse. USUK.


Tubuh dalam dekapannya melemas.

Alfred sudah menduga hal itu akan terjadi, jadi ia membuat Arthur sepenuhnya bersandar padanya. Benar saja. Begitu pisau guillotine dijatuhkan dan kepala berambut merah menggelinding jatuh, usaha sang ratu untuk membebaskan diri darinya berakhir seketika.

"Ah."

Dengan mudah Alfred memindahkan Arthur ke lengannya. Ia tidak peduli lirikan-lirikan aneh yang ditujukan kepadanya.

Mungkin awalnya orang-orang bertanya, apa yang sedang dilakukan seorang pangeran seperti dirinya, bersikap begitu familiar dengan ratu yang bahkan bukan ibunya sendiri. Tapi kemudian, mungkin akan terlintas dalam benak mereka, betapa janggal hirarki Spades saat ini. Apa benar yang mereka lihat adalah pangeran dan ratu, bukan pangeran dan pasangannya?

Alfred yakin hal itu sempat terbersit dalam benak mereka.

Bahkan Jack sendiri mulai terlihat meragu. Pria Asia itu melirik ke arahnya dari samping Raja Edward, sepasang mata gelapnya nampak gamang, kemudian beralih pada mayat tanpa kepala yang masih berlutut pada guillotine. Seperti menghitung ulang, benarkah nasehat yang selama ini ia bisikkan kepada Raja Edward? Benarkah pemuda berambut merah itu berhak atas pengadilan satu arah yang berakhir dengan dekapitasi pada dirinya? Benarkah darah yang masih menetes dari arteri yang terpotong pada leher layak untuk ditumpahkan sedemikian rupa, hingga berceceran pada lantai pavemen? Menggelap, mengering, hingga menjadi kerak.

Alfred ingin tertawa.

Menertawakan kebodohan para petinggi Spades yang telah tunduk pada ayahnya, yang pada kenyataanya, adalah seorang raja yang lalim. Tidakkah mereka melihat ketidakadilan semacam ini? Kalau Alfred sendiri yang menentang sang raja, tidak ada gunanya. Tapi kalau seluruh royal, rasanya tidak mungkin ayahnya akan memenggal kepala semua petinggi istana. Memangnya siapa yang akan mendukungnya melanjutkan pemerintahannya yang tinggal hitungan bulan? Para petinggi istana hanya terlalu takut pada istilah absolut yang tidak jelas asalnya dari mana. Se-absolut apa pun suatu monarki, kalau hampir semua petinggi menentang, harusnya tidak berlaku. Atau mereka hanya tidak peduli pada satu nyawa, yang diduga telah melakukan kejahatan besar. Menyembunyikan dan menyakiti ratu, menghina keluarga kerajaan dan mencoba membunuh putera mahkota. Tidak ada bukti yang jelas. Hanya rumor dan kabar burung yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Alfred yakin sekali mereka hanya tidak peduli. Untuk apa susah-susah menentang monarki dengan nyawa mereka sebagai taruhannya, jika hilangnya satu nyawa saja cukup membuat sang raja kembali tertawa lega. Mereka tidak peduli. Satu nyawa tidak ada artinya. Hanya seorang pemuda yang tidak jelas identitasnya. Buronan nomor satu Spades. Dia pantas mati, bahkan meski tanpa bukti.

Dan sekarang mereka saksikan sendiri. Bagaimana tawa jahat Raja Edward terdengar memecah sunyi. Mengirim getar tidak nyaman menjalari ruas-ruas tulang punggung mereka. Sementara sebentuk kepala dengan rambut merah tergeletak seperti benda tak berharga di atas pavemen. Mereka lihat sendiri bagaimana sepasang mata biru sang raja bersinar-sinar penuh kegembiraan. Padahal ia baru saja membunuh kakak iparnya. Pemuda berambut merah itu adalah kakak kandung sang ratu, damnit! Bagaimana mungkin ia terlihat begitu puas setelah membunuh orang terdekat istrinya sendiri?

Alfred ingin tertawa.

Karena pada akhirnya mereka telah diperlihatkan sosok Raja Edward yang sesungguhnya. Orang yang telah mempimpin Spades selama hampir 30 tahun lamanya. Apakah ibunya tahu sosok asli ayahnya? Ataukah Raja Edward yang dulu terkenal bijak telah berubah semenjak kematian istri pertamanya?

Alfred ingin menertawakan kebodohannya sendiri, dan orang-orang Spades yang tunduk pada ayahnya. Tidakkah mereka merasakan keanehan yang semakin bertambah hari demi hari; bahwa Spades tidak seutuhnya kondusif. Saat ini mereka memang aman dari ancaman luar, tapi bagaimana dengan ancaman internal? Tidakkah mereka menyadari perlahan-lahan pilar peyangga monarki Spades mengeropos? Dengan koronasi ratu kedua menjadi puncaknya. Mustahil ada seorang ratu baru yang masih begitu muda―bahkan lebih muda dari sang pangeran yang sebentar lagi naik tahta―untuk seorang raja yang sebentar lagi lengser? Di mana logika mereka?

Alfred benar-benar ingin tertawa.

Kenapa sejak awal ia tidak membawa kabur ratu baru untuk dirinya sendiri? Seorang ratu untuknya. Karena sekarang orang lain pun mulai menyadari hal itu. Ratu baru untuk pangeran yang akan naik tahta. Mereka lihat sendiri betapa cocoknya Alfred dan sang ratu, kan? Di tengah-tengah pesta perayaan gila yang diadakan ayahnya; dengan mengorbankan satu nyawa sebagai pembuka.

Oh, tentu saja Alfred merasa kasihan pada satu nyawa yang telah direnggut itu. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan seorang diri. Dia tidak mungkin menentang monarki seorang diri. Dan para petinggi istana tak cukup berani untuk membantunya. Ia hanya berharap Arthur dapat mengerti.

Karena pada akhirnya, tidak mungkin semua ini akan berakhir tanpa ada korban nyawa. Bagaimana pun juga.


Sinar mentari yang hangat menerobos masuk dari jendela yang dibuka. Tirainya yang dikumpulkan di samping sedikit bergoyang terkena terpaan angin pagi. Seekor burung kecil bersayap biru hinggap pada kusen jendela, mematuki remah roti yang ada di sana. Tak jauh dari situ, duduk di tepi tempat tidur, adalah sang raja yang telah rapi dalam balutan jubah barunya. Tersenyum simpul mengamati burung biru memakan sarapannya dengan antusias.

Edward mengalihkan perhatiannya pada sosok pemuda yang terbaring di sampingnya. Dadanya naik turun seirama dengan nafasnya yang teratur. Meskipun demikian, secara keseluruhan, sang ratu tidak terlihat tenang. Kedua alisnya mengernyit dalam, sepasang matanya yang terpejam erat terlihat sedikit bengkak, dan bibirnya ditekuk ke bawah. Ada bekas jalur air mata yang telah mengering menghiasi pipi pucatnya.

Reaksi Arthur terhadap eksekusi kakaknya tidak berbeda jauh dari perkiraannya. Pemuda itu memang terlalu polos dan bodoh untuk dapat membenci kakaknya. Padahal ini semua demi kebaikannya sendiri. Edward tidak tahu apa rencana Allistor di masa depan jika pemuda berambut merah itu dibiarkan hidup dan berkeliaran bebas. Bukan tidak mungkin dia akan menculik ratu dan menyakitinya lagi.

Persetan dengan hubungan darah mereka. Kakak macam apa yang dengan sengaja mengurung dan menyakiti adiknya, yang pada kenyataannya adalah seorang ratu?

Edward mengulurkan tangannya menyematkan rambut pirang keemasan Arthur ke balik telinga. Gestur tersebut membuat sang ratu beralih pelan, kernyitan keningnya semakin dalam.

"Ratu, hei―"

Sebenarnya ia ingin membiarkan Arthur tidur lebih lama; tidak ada acara penting yang harus ia hadiri hari ini. Tapi sang ratu muda itu telah kehilangan kesadarannya sejak semalam, tentu jam tidurnya sudah lebih dari cukup. Lagipula ia merasa perlu merayakan kemenangannya karena telah memberi hukuman yang setimpal kepada buronan Spades nomor satu tersebut. Hal ini ia lakukan juga demi kebaikan Arthur, harusnya pemuda bermata emerald itu berterimakasih padanya.

"Arthur?" Edward berbisik pada telinga kiri Arthur.

Untungnya ia sudah menyelesaikan semua tugasnya, sehingga hari ini ia bebas melakukan apa saja. Edward berencana untuk menghabiskan sehari penuh dengan sang ratu. Mereka berdua bisa bergumul di atas tempat tidur dari pagi hingga petang, kemudian saling bermanja karena kelelahan. Ia ingin melingkarkan tangannya pada pinggang ramping ratunya, menempatkan dagunya pada pundak Arthur dan menciumi lehernya. Tepat pada tatonya.

Motif, ukuran, dan warnanya sama persis dengan punya Amelia. Tato ratu otentik. Bedanya, letak tato Ratu Amelia ada pada mata bahu kanannya. Dan ada sensasi tertentu yang ia rasakan setiap menyentuhnya. Sesuatu yang membuatnya terhipnotis dan tidak bisa berpikir dengan benar. Dengan Arthur, dia tidak merasakan apa-apa. Tadinya ia ragu, benarkah Arthur ratu yang asli? Tapi pola tatonya terlalu rumit untuk ditiru. Jack sendiri yang telah memastikannya. Tato otentik.

Lalu mengapa dia tidak merasakan dampak apa-apa?

Raja Edward tidak bertanya pada Yao. Dia telah menarik dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, ia sudah tua, sehingga efeknya tak lagi terasa. Kalau memang benar itu penyebabnya, maka ia tidak peduli. Bagaimana pun juga, seorang raja tetaplah manusia biasa, bukan makhluk immortal. Tentu saja seiring dengan usia yang semakin bertambah tua, terjadi penurunan fungsi tubuh secara bertahap. Kemungkinan kedua, Arthur bukan ratu untuknya. Hal ini yang membuatnya enggan bertanya pada Yao. Kalau memang Arthur bukan ratunya, kenapa dia muncul dalam masa pemerintahannya? Tentu ada maksud tertentu dari kemunculan Arthur tepat pada masa kosong itu. Untuk menggantikan Amelia, tentu saja. Lagipula ia memang membutuhkan sosok yang dapat membuatnya hangat sebagaimana Amelia melakukannya. Ia membutuhkan seseorang untuk menemaninya menua, menyaksikan Pangeran Alfred naik tahta dan menikah dengan ratu yang ditakdirkan untuknya. Seseorang untuk mendampinginya duduk di balkon menatap senja, dengan lengan bertautan membagi kehangatan. Dia hanya tidak ingin mundur seorang diri. Harus ada seseorang yang siaga bersamanya.

Maka kemungkinan pertama yang ia jadikan sebagai acuan. Dia hanya terlalu tua untuk terpengaruh oleh tato ratu. Arthur adalah ratunya. Bukan ratu untuk puteranya. Bahkan meski dia lebih muda dari Alfred dan terlihat begitu cocok dengannya.

"Arthur?" Kali ini ia mengguncangkan bahu ratunya dengan tidak sabar. Ia telah menunggu 10 menit dan memberi waktu tidur tambahan untuk Arthur. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup.

"Arthur!" Sebuah goncangan keras dan sang ratu tersentak terbangun dari tidurnya. Sepasang mata emerald mengerjap, sedikit memicing begitu bertemu dengan matanya.

Edward menyeringai, menggeleng-gelengkan kepala. "Akhirnya kau bangun juga, puteri tidur." Ia bangkit dan meregangkan badannya. "Kita melewatkan sarapan dengan Pangeran Alfred dan Jack karena kau memutuskan untuk tidur begitu lelap seperti orang mati."

Arthur belum terlihat sadar sepenuhnya. Matanya terlihat bengkak seperti minta untuk dipejamkan lagi. Edward mendengus tertawa melihatnya. Ia memang lebih senang melihat Arthur berpenampilan rapi dan layak seperti ratu pada umumnya, tapi melihatnya bangun tidur dengan rambut berantakan juga tidak buruk. Bahkan sang ratu terlihat cukup menggemaskan dengan mulut mengerucut.

Edward menghela nafas dan melepas jubahnya, menyampirkannya pada sandaran kursi. Ia memanjat naik ke atas tempat tidur setelah melepas sepatunya, mengulurkan tangannya mengelus pipi Arthur yang masih tampak mengantuk. Pemuda itu berjengit dan memalingkan wajahnya. Ia memutuskan untuk tidak mempedulikan penolakan kecil itu.

"Kau tahu, aku lapar, dan aku yakin kau juga. Tapi aku punya ide lain sebelum kita sarapan. Bagaimana pun juga, aktivitas kecil di pagi hari akan menambah nafsu makanmu, bukan begitu, Ratu?" Ia tersenyum, membingkai wajah Arthur dan menunduk untuk mengecup bibirnya yang sedikit kering. "Bagaimana menurutmu dengan sarapan berdua di taman belakang istana? Kau sangat menyukai mawar biru, kan?"

Edward merengkuh Arthur yang hanya diam, kemudian menciumi tato pada lehernya dan perlahan menjatuhkan tubuh mereka ke atas matras. Arthur masih tidak merespon, tapi dia memang selalu bersikap demikian di atas ranjang, jadi Edward memutuskan untuk tidak peduli dan melakukan apa yang ia inginkan.

Yao selalu menyarankannya untuk berolahraga dan membuat dirinya berkeringat di pagi hari. Baik untuk kesehatannya, begitu pria Asia tersebut beralasan. Sebagai raja yang baik, tentu dia akan mendengarkan masukan penasehatnya, bagaimana pun juga. Lagipula, sudah menjadi tugas ratu untuk membantunya memenuhi kebutuhannya, kan?

Edward menyeringai saat sosok di bawahnya mengerang pelan.


"Kau sudah bertemu dengan Ratu hari ini?"

Alfred mengalihkan perhatiannya dari buku sejarah tebal yang tengah ia baca, melirik tajam kepada Matthias yang berdiri tak jauh darinya, menyeringai seperti biasa.

Pada hari-hari lain ia tidak keberatan dengan gestur dan sapaan familiar yang dilontarkan prajurit kepercayaannya tersebut. Ia masih tidak keberatan, memang. Alfred hanya ingin mencoba untuk serius belajar tanpa diganggu oleh Matthias. Usai sarapan berdua saja dengan Jack, ia memutuskan utnuk mengambil buku sejarahnya dan membawanya ke taman belakang istana. Alfred kira ia membutuhkan suasana yang tenang agar bisa berkonsentrasi membaca. Awalnya Matthias memang hanya diam dan mengawalnya seperti biasa, tidak bersuara sedikit pun. Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk memecahkan keheningan yang sebenarnya sedikit membuat Alfred merasa tidak nyaman. Tapi dia sedang berpura-pura serius belajar! Jadi dia tidak mengatakan apa-apa, kembali melanjutkan bacaannya. Sebenarnya matanya sudah lelah melihat rangkaian kata yang tercetak terlampau kecil pada bukunya, tapi ia benar-benar sedang tidak ingin meladeni Matthias sekarang.

"Dia terlihat begitu terkejut semalam. Kau tidak memberitahunya apa yang akan terjadi?"

Damn! Dia sedang mencoba untuk berkonsentrasi!

Alfred menggeram pelan, menutup bukunya dengan sedikit berlebihan. Ia memiringkan badannya dan memandangi Matthias. Pria itu masih memamerkan cengirannya. Alfred menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan gerakan lelah.

"Kau tidak lihat aku sedang mencoba untuk membaca?"

Tawa Matthias yang ringan membuat sudut mata Alfred mengejang.

"Kau bahkan tidak membalikkan halamannya sejak setengah jam yang lalu, Pangeran Alfred. Mungkin aku memang bukan penggemar sejarah dan bukan orang terpelajar, tapi bahkan orang sepertiku tidak butuh waktu lebih dari 5 menit untuk membaca seluruh tulisan pada halaman itu." Matthias menunjuk pada bukunya, menahan tawa.

Alfred baru akan membalas retorika Matthias ketika sejumlah dayang istana berjalan ke arahnya membawa nampan-nampan berisi makanan dan minuman. Ia mengerjapkan matanya dengan heran. Hedervary yang berjalan di depan tersenyum menyapanya.

"Permisi, Pangeran Alfred. Maaf mengganggu waktumu, Tuan, tapi Yang Mulia Raja akan sarapan di sini bersama Ratu. Aku harap kau tidak keberatan mencari tempat lain untuk belajar?"

"Ah―"

"Tak apa, Hedervary. Aku ingin Pangeran Alfred bergabung dengan kami. Bagaimana pun juga, ini akan jadi semacam perayaan." Raja Edward muncul sambil menggandeng Arthur, atau menyeretnya, lebih tepatnya.

Sebentar kemudian Alfred sudah duduk berhadap-hadapan dengan Raja Edward dan Arthur. Ayahnya terlihat bugar dan berseri-seri, sementara Arthur malah terlihat seperti tidak tidur semalaman. Ayahnya memberi isyarat pada Hedervary dan dayang-dayang lain untuk pergi meninggalkan mereka, namun membiarkan Matthias tetap tinggal.

"Kulihat kau mulai serius belajar, Nak? Tapi singkirkan sejenak bukumu itu, kita sarapan dulu." Raja Edward berkata sambil mengolesi rotinya dengan mentega.

Alfred meletakkan bukunya di atas pangkuannya. Tersenyum dan menggelengkan kepala. "Aku hanya mencoba menjadi putera mahkota yang baik. Tapi terima kasih, aku sudah kenyang, Ayah."

Raja Edward mendengus. "Omong kosong. Aku ini ayahmu. Aku tahu air liurmu sudah hampir menetes dari tadi. Tidak usah berpura-pura kenyang dan makan saja!"

Alfred tertawa malu mendengarnya. Jujur saja, sebenarnya ia masih lapar. Sarapan tadi pagi begitu tidak menyenangkan, berdua saja dengan Jack seperti kencan. Jadi ia hanya makan sedikit dan meninggalkan ruang makan lebih cepat dari biasanya. Sambil meringis malu ia mengambil seiris roti. Sekilas bertemu pandang dengan Arthur, namun sang ratu memalingkan pandangannya.

"Jack mengatakan kalau kau juga mulai menghadiri semua kelasmu. Aku senang mendengarnya. Tak bisa dipungkiri memang, sebentar lagi kau akan naik tahta menggantikan ayahmu yang sudah tua ini." Raja Edward tertawa. "Aku harap kau menemukan ratu yang terbaik untukmu. Seperti Arthur." Kemudian ia beralih pada ratunya, tersenyum dan meremas pundaknya pelan.

Alfred hanya melihat sekilas gestur lembut yang ditunjukkan ayahnya pada Arthur. Menyadari bahwa pemuda bermata emerald itu sedikit menghindar. Sikapnya jelas-jelas lebih dingin dari biasanya. Arthur hanya diam dan menghabiskan makanannya dengan enggan. Tapi Alfred bersyukur karena selama mereka menyantap sarapan, ayahnya tidak memutuskan untuk membicarakan hal yang menyangkut kejadian semalam. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Arthur kalau perbincangan mengenai kakaknya terangkat ke permukaan.

Setengah jam berlalu dalam suasana yang tidak menyenangkan; jauh lebih tidak menyenangkan dibandingkan saat ia sarapan berdua dengan Yao tadi. Hingga kemudian pria Asia tersebut muncul dan mengabarkan kedatangan surat dari raja Diamond, yang membuat ayahnya terpaksa menyudahi santapannya dan pergi ke ruang kerjanya, meninggalkan Arthur bersama dengan Alfred.

Kepergian ayahnya membuat suasana semakin tidak nyaman. Apalagi karena Matthias memutuskan untuk bersikap benar-benar sopan seperti prajurit pada umumnya dan diam saja seperti patung. Atmosfernya terlalu pekat hingga bahkan Alfred mengalami kesulitan untuk menelan makanannya.

Dentingan alat makan dengan pinggiran piring membuat Alfred berjengit dan mengangkat kepalanya dengan kaget. Yang kemudian menyambutnya adalah sebuah tamparan pada pipi. Sesuatu yang begitu mengejutkannya hingga hampir meludahkan lumatan makanan dalam mulutnya.

Alfred memegangi pipi kirinya dan memandangi Arthur dengan tidak percaya.

Sepasang mata emerald itu berkaca-kaca, memancarkan kebencian. Kedua alisnya mengernyit dalam dan bibirnya membentuk segaris tipis.

"Arthur―"

"Kau bohong." Yang mengumpul pada sudut matanya menetes turun, membingkai wajah pucatnya. Tampak berkilauan diterpa sinar matahari pagi yang hangat. Alfred tidak tahu seseorang bisa terlihat begitu cantik dan menyesakkan pada saat yang bersamaan. "Kau membohongiku, Alfred."

Alfred tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Arthur. Bagaimana caranya memberitahu pemuda ini tanpa membuat keadaan bertambah rumit?

"Arthur, aku―"

Kali ini air dingin menyapa wajahnya. Alfred begitu terkejut hingga tidak sempat berkata apa-apa, tidak sempat berbuat apa-apa.

"Wanker!" Dan gelas yang kini telah kosong tergeletak di atas hamparan rumput setelah dilempar dengan asal. Arthur berlari meninggalkan Alfred yang masih tercengang.

Sepasang mata birunya mengerjap, kemudian tangannya terangkat untuk mengusap wajahnya yang basah. Begitu Arthur pergi, Matthias menghampirinya dan memasang tampang khawatir. Karena, seumur-umur, dia belum pernah menyaksikan keluarga kerajaan diperlakukan sedemikian rupa.

"Kau tidak apa-apa, Pangeran?" Dia bertanya dengan suara pelan.

Alfred menghela nafas, mengambil napkin dan mengelap bagian depan bajunya yang basah.

"Baik. Aku baik-baik saja, Matthias. Hanya sedikit― terkejut?"

Matthias tersenyum kecut.

"Kau harus segera memberitahunya apa yang terjadi, Pangeran. Aku takut Ratu Arthur akan mencoba membunuhmu di kesempatan mendatang."

Alfred mendengus.

"Memberitahu apa? Kalau kakaknya masih hidup? Heh, kalau ia tahu dan tersenyum-senyum senang, ayahku akan curiga dan nyawamu juga nyawa Lars akan terancam. Nyawaku juga, bodoh."

Matthias tertawa. "Kalau kau diam saja, nyawamu seorang yang terancam, Pangeran."

"Seperti kau peduli saja, Matthias."

"Oh, sejujurnya aku tidak peduli pada nyawamu, Pangeran Alfred. Tapi aku tidak ingin jadi prajurit raja, jadi, aku lebih memilih untuk menjadi pengikutmu." Matthias mengangkat bahu.

Alfred hanya memutar bola matanya.