Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasufemnaru

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort, Family, Romance

Warning : Typo, OOC, Gaje, Genderswitch, Fem!Naru, Fem!Kyuu

¡Selamat membaca!

Tak terasa dua hari telah berlalu begitu cepat. Terasa seolah melangkahi sebuah bongkahan batu kecil.

Dan kemarin naruto selalu mendapatkan teror dari karin cs. Dari meletakkan surat-surat berupa ancaman di loker naruto, memberikan sedikit lem perekat di bangku naruto dan menguncinya di kamar mandi.

Naruto tak habis pikir kenapa karin sangatlah begitu membencinya. Apakah kurang cukup jika hampir setiap hari naruto harus mendapatkan suguhan berupa tatapan aneh dari murid yang lain. Hal itu sudah berlangsung sangat lama, dan mungkin karin juga tak perlu turun ke sepak terjang hanya untuk mem-bully naruto.

Namun, sakura cs selalu membantu naruto. Ia selalu ada saat naruto berada dalam bahaya. Tak butuh waktu lama mereka datang untuk menolong naruto dari korban kejahilan karin. Mereka seperti memiliki kamera pengintai yang selalu tau keadaan naruto. Mungkin seperti itulah prinsip yang sakura tekankan jika memiliki sahabat. Sakura memang memiliki teman yang amat banyak, tapi ia sangat begitu selektif jika ingin menjadikan sahabatnya. Ia tak mau sembarang orang yang tak bisa di percaya berhasil mencuri semua kepercayaan nya. Naruto juga merasa sedikit aman berada di dekatnya. Hinata pun juga begitu.

Tapi naruto merasa ada sedikit kejanggalan dengan semua jebakan yang karin hadiah kan padanya. Ia selalu mengelak dan berpura-pura kalau bukan dialah orang dibalik semua rencana keji nya. Padahal fakta sudah begitu terpampang jelas kalau ia selalu menyelipkan secarik kertas yang berupa isi ancaman darinya. Ia juga tak mengakui kalau itu tulisan tangan nya. Dan karin terkadang melayangkan sebuah senyuman saat naruto berjalan sendirian. Saat naruto tidak bersama sakura cs. Bukan sebuah senyuman dendam ataupun dengki, melainkan senyuman tulus yang hanya berarti satu makna saja.

Bel istirahat baru saja berdering. Suara bel itu meluruskan semua wajah murid yang tertekuk.

Baru saja kurenai-sensei keluar dari kelas, sakura cs sudah datang menghampiri naruto. Naruto harus menghela napas sesaat saat suasana langsung menjadi begitu heboh dengan kedatangan sakura cs.

"Sakura kemarin kau kenapa meninggalkan ku?" Tanya naruto langsung saat mereka bertiga menghampiri mejanya.

"Gomen naru-chan!" Ucap sakura seraya memegang lengan naruto.

"Jangan marah ya naru-chan, sakura nanti akan mentraktir mu lagi!" Hibur ino tanpa menyadari tatapan tajam kearah nya.

"Apa maksud mu! Dasar ino gendut!" Balas sakura sambil menatap tajam ino. Ino tersentak saat kata yang ia benci nya itu keluar dari mulut sakura.

"Apa maksudmu forehead!" Ino tak mau kalah menimpali perkataan sakura.

"Sudah-sudah jangan bertengkar, bagaimana kalau aku yang mentraktir kalian?" Kata tenten menengahi.

"Setuju!" Ujar sakura dan ino bersamaan tanpa mempertimbangkan nya dahulu.

"Ayo naru-chan, hinata!" Ajak tenten. Dan perkataan tenten tersebut di balas hangat oleh mereka berdua.

Mereka berlima berjalan beriringan di koridor. Mereka berjalan dengan anggun layaknya tuan putri, kecuali naruto dan hinata.

Tapi segerombolan murid menyeret pandangan mereka berlima. Mereka semua seperti mengerubungi sesuatu yang menarik perhatian naruto cs.

"Hey, apa itu?" Tanya ino kepada mereka berempat. Sakura mengangkat bahunya.

"Bagaimana kalau kita lihat?" Tukas tenten menyuarakan isi hati naruto dan hinata.

"Terserah kau sajalah." Sakura menjawab dengan suara yang sepertinya tak peduli dengan gerombolan murid tersebut.

Tenten mengangguk dan mendekati sesuatu yang menarik perhatiannya. "Minggir! Aku mau lihat!" Katanya sambil menyerobot masuk kerumunan.

Naruto hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Ia sama sekali tak begitu tertarik, karena hal ini sudah menjadi makanan nya setiap hari. Setiap hari saat ia hendak masuk ke kelas, ia selalu disuguhi kerumunan fansnya sasuke.

Salah seorang siswi berteriak nyaring kearah naruto, "Itu naruto!" Pekik seorang siswi berambut hijau. Suara itu seolah menusuk tepat gendang telinga naruto. Gadis pirang itu langsung menutup kedua telinga nya dari suara yang memekik tersebut.

Semua kerumunan itu langsung menyingkir dari mading itu dan menatap naruto. Semua pasang mata tertuju padanya. "Ada apa ini?" Tanya naruto yang tak mendapati sahutan. Mulai terdengar desas desis serta tatapan tak bersahabat kearah naruto. "Hei apa yang kalian lihat pergi!" Timpal ino dengan suara tegas. Ia merentang kan tangannya sambil membelakangi naruto, menjadikan dirinya sebagai tameng dari semua tatapan yang mencibir. Semuanya seolah tuli dan masih tetap berada disana.

"Tenten!" Panggil sakura kearah tenten yang memandang sebuah foto di mading tersebut. Tenten terdiam menatap sebuah foto yang tertempel manis di sebuah mading. Sorot mata tenten begitu terkejut dan ia berputar melirik kearah naruto. "Naruto!" Dengan nada yang begitu lirih, tenten memanggil naruto. Tenten memberikan sinyal kepada naruto untuk melihat foto tersebut. Naruto mengarahkan kakinya mendekat mading tersebut. Tenten minggir sedikit, memberikan naruto privasi untuk melihat foto yang mengubah suasana koridor tersebut.

Mata naruto terbelalak, ia meragukan kacamata tebalnya saat ini. Ia pun membetulkan posisi kacamatanya dan melihat foto tersebut dengan cermat. Namun hasilnya nihil. Penglihatannya tak bisa di bohongi kalau gambar tersebut adalah fotonya dirinya. Ralat, fotonya tengah berpelukan dengan kiba.

Ingin rasanya naruto berbicara, tapi tak sepatah kalimat pun keluar di tenggorokan nya. Mulutnya begitu hampa akan kosakata.

Naruto memutar tubuhnya dan menatap hinata dengan bahasa tubuh yang menyiratkan keraguan dari hasil jepretan foto tersebut.

Bahu hinata terlihat bergetar. Kacamata naruto tak mampu menangkap mata hinata. Ia berjalan mendekati hinata dengan langkah yang hati-hati. "Hinata!" Panggil nya lembut. Naruto berusaha memegang tangan hinata yang berkeringat. Namun tanpa ia duga, hinata menepis tangan nya begitu kencang sampai menimbulkan suara. Semua pasang mata yang melihat ikut terkejut melihatnya. Hinata menatap naruto kecewa dengan air mata yang menangkring di sudut matanya.

"Naruto!" Sahut hinata. Ia melangkah mundur, namun naruto berjalan mendekati nya. Naruto berusaha menggapai nya namun hinata seolah membuat tembok baja yang menjulang tinggi memisahkan mereka.

"Hinata ini hanya kesalahpahaman," tutur naruto berusaha menuangkan sebuah alasan yang logis kalau foto tersebut hanya rekayasa belaka. Hinata menggeleng lemah dan membekap mulutnya yang ingin melampiaskan kekecewaan nya.

"N-naruto!" Panggil hinata lagi dengan nada melemas. Dan menerobos kerumunan orang yang melihatnya,lari tanpa arah.

Dengan spontan naruto bergerak mengikuti hinata. Kakinya terasa mempunyai pikiran sendiri. Ia mengejar hinata di koridor yang tak terlalu ramai. Sorot mata birunya hanya mengekori hinata. Ia juga hampir menabrak asuma-sensei. Beruntung ia tak dipanggil ke ruangan nya karena tertangkap sedang berlarian di koridor.

Ia semakin kesulitan mencari hinata. Nafasnya begitu tersengal, ia membungkukkan badannya dengan tangan yang bertumpu di lututnya. Ia berjalan melewati sebuah belokan dan tanpa sengaja ia bertemu dengan orang tidak ingin ia bertemu dengannya.

"Sasuke!" Gumamnya saat iris birunya menangkap sasuke yang berdiri di depannya. Dari sekian banyak orang yang ia jumpai kenapa harus sasuke yang muncul. Naruto menghela nafas pendek. Naruto melirik kesana kemari, beruntung karena sasuke saat ini sedang sendiri, karena masalahnya pada sasuke akan semakin kusut.

"Apa yang kau lakukan?" Suara beratnya itu sudah sangat jelas tercetak di otak naruto. Wajahnya begitu datar kearah nya.

"Bukan urusanmu." Sahut naruto acuh sambil membuang muka. Sasuke memegang bahu gadis pirang itu. "Kau marah?" Tebak sasuke dengan tangan yang masih memegang bahu naruto. Naruto menatap sasuke singkat, "Aku tidak marah!" Tegasnya setengah berteriak.

"Lalu kenapa sikapmu seperti itu?" Tuduh sasuke meminta jawaban. Naruto terdiam. Mata birunya berusaha agar tidak menatap mata sasuke. Sikap naruto saat benar-benar membuat nya naik pitam. Sasuke mencengkeram kuat bahu naruto.

"Lepaskan!" Desis naruto dengan tangan yang menepis kencang lengan sasuke. Naruto mengangkat kepalanya angkuh. "Tolong jangan meracuni pikiran ku lagi, karena kau bukan siapa-siapa lagi bagiku." Kata naruto dan langsung pergi meninggalkan sasuke yang bergeming.

Ucapan naruto barusan sepertinya telah memberikan rasa perih di hati sasuke. Luka di hati nya seperti di taburi garam. Kalimat naruto terasa terus berputar di ingatan nya seperti kaset yang sudah rusak.

Sasuke menoleh perlahan lewat bahunya. Mata hitamnya menatap datar punggung naruto yang semakin kecil di pandangan nya. "Maaf, aku tak pernah bermaksud menyakiti mu naruto!" Gumamnya lirih yang hanya bisa didengar nya.

.

.

.

Tak terasa hari semakin gelap. Sang surya kini telah menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Semburat merah begitu jelas melintas di langit oranye. Hanya tinggal beberapa jam lagi pensi akan dimulai.

Beberapa orang pengurus osis terlihat sedang menyiapkan semua properti untuk acara nanti malam. Lapangan sekolah dipakai untuk tempat pensi tersebut. Dengan sebuah panggung cukup besar dan beberapa lampu warna-warni yang memancarkan kemilau warna, orang-orang terlihat berbondong-bondong melihat persiapan tersebut.

Sementara itu dibelakang panggung, naruto masih terpaku dengan bayangan nya sendiri didepan cermin. Tubuhnya masih dibalut kaos bergambar rubah. Penampilan nya pun masih sama, culun dan tidak modis. Pikirannya masih melayang jauh dari tubuhnya. Tak ayal, pendengaran nya seolah tersumbat sampai ia tak mendengar suara cempreng sakura yang memekakkan telinga. Hatinya terasa remuk tak berbentuk lagi. Saat sang kasih sudah merobek paksa hatinya, kini sahabatnya lah yang juga menendang sebuah harapan kecil di hatinya. Ia selalu berharap kalau ia dapat memutar kembali waktu.

"Naruto! Kau kenapa?" Tanya sakura yang lantas saja menyadarkan naruto. Naruto mengusap matanya pelan. "Tidak apa-apa." Sanggah nya dengan senyuman simpul.

"Kenapa kau belum berganti baju?" Tanya sakura melirik kaos baju naruto.

"Kenapa harus buru-buru, lagipula acara akan dimulai 2 jam lagi." Kata Naruto dengan helaan pelan. Sakura mengayunkan tangannya dan memegang tangan naruto. Naruto mengernyit bingung. "Sini aku tunjukkan sesuatu padamu!" Sakura segera menuntun naruto ke sebuah ruangan. Naruto bahkan sama sekali tak menolak perlakuan sakura. Mereka berjalan beriringan sampai didepan sebuah pintu.

"Tunggu sebentar ya!" Kata sakura sebelum masuk kedalam ruangan dibalik pintu itu. Naruto mengangguk pelan. Ia membelakangi pintu tersebut. Suara debaman pintu itu seolah menghentikan naruto untuk berkutik. Kacamata nya menatap tak tentu arah. Matanya melirik kesana kemari.

Cklek!

Suara derit pintu yang sakura masuki terdengar kembali. Naruto langsung menoleh kebelakang lewat bahunya. Awalnya ia menduga kalau itu sakura, namun naas, tebakan nya harus lenyap saat itu juga. Matanya menangkap hinata yang tengah memeluk sebuah biola.

Wajah hinata juga sedikit terkejut melihat wajah naruto. Hinata segera mengambil langkah panjang dan meninggalkan naruto dengan wajah yang begitu terguncang.

Hati naruto terasa panas seketika. Ini salahnya.

"Naruto! Kau kenapa?" Tanya sakura yang kini sudah berada dibelakangnya. Naruto tersentak dan menyeka air matanya yang mulai berontak. "Bukan apa-apa." Naruto tersenyum paksa. Sakura terdiam dan sedetik kemudian ia juga mengulum senyuman.

"Oh ya naruto, aku sudah menemukan baju yang cocok untukmu." Sakura menunjukkan sebuah gaun didepan kacamata naruto.

'Bagus sekali' batinnya berucap. Gaun tersebut berwarna kuning cerah semata kaki dengan belahan panjang ditengah nya. Renda-renda melingkar digaun tersebut.

Sakura tersenyum melihat naruto yang terus memandangi gaun pilihannya tanpa henti. "Baiklah aku akan mengenakan nya sakura!" Jawab naruto dengan nada yang teguh. Sakura terkekeh pelan dan menyeringai senang.

.

.

.

Hari semakin gelap dan acara pensi akan segera dimulai. Lampu tembak yang berada disisi gerbang pintu sekolah seolah mengajak siapa saja untuk ikut kedalam nya.

Semua orang yang hadir terlihat begitu menawan. Acara ini memang ditujukan kepada siswa siswi KHS yang memiliki bakat.

Pelaku semua dari acara ini adalah Gaara sendiri. Awalnya ia hanya iseng menempelkan selebaran poster di mading. Namun jauh dari jangkauan benaknya, ternyata acara tersebut di sambut begitu hangat oleh murid-murid yang lain.

Pada awalnya naruto tak mau mengikuti acara tersebut. Akan tetapi sesuatu di dalam hatinya mendorong jiwanya untuk ber-balet.

"Baiklah semuanya sudah siap?!" Suara temari yang menjadi pembawa acara mengusir lamunan naruto. Ia teringat cikal bakal acara pensi ini terbentuk saat gaara memberitahunya kemarin.

Ia menatap pantulan dirinya di depan kaca rias. Ia sudah begitu rapih dan siap untuk berbalet. Namun kacamatanya masih bertengger di depan matanya.

"Kau harus bisa naruto!" Gumam nya dengan tangan terkepal erat dipangkuannya. Ia bisa mendengar suara gema dari microphone yang dipakai temari.

"Peserta pertama adalah, hinata! Ayo beri tepuk tangan yang meriah untuk dia!" Suara tepukan tangan meriah langsung terdengar selanjutnya. Naruto dengan spontan berlalu menuju sebuah ruangan untuk memantau berjalannya acara.

Nafas naruto begitu terengah-engah. Saat ia memasuki ruangan tersebut ia mendapati sakura cs serta neji yang tengah memandang serius sebuah layar televisi.

"Itu hinata!" Pekik tenten gembira saat melihat seorang gadis bersurai indigo yang hendak mengalun biola-nya. Naruto mendekati kerumunan itu.

"Eh, naruto! Kau terlihat cantik!" Seru ino saat menyadari kehadiran naruto. Tenten, sakura, dan neji mengalihkan pandangannya kepada naruto. "Ya, kau benar ino!" Tambah tenten tak kalah heboh.

"Kenapa kau tak bersiap-siap naruto? Bukankah setelah ini kau yang akan maju setelahnya?" Tukas sakura menginterupsi.

"Aku hanya ingin melihat hinata sebentar." Sahutnya dengan senyuman yang ia sunggingkan. Mereka bertiga hanya ber'oh'ria. Kacamata naruto tak sengaja menangkap neji yang tengah bersidekap.

"Aku kira kau hanya bercanda soal balet-mu." Ucap neji tiba-tiba yang menghentikan suasana heboh disana. Dahi naruto mengernyit. Ia harus menelan kembali pertanyaan nya yang sudah diujung lidah saat neji mengatakan sesuatu yang menambah kebingungan nya. "Dari tadi siang sasuke mencari mu untuk meminta maaf."

Suasana hening seketika. "Dia merasa bersalah karena telah mempermainkan mu." Sambungnya yang membuat mulut gadis itu bungkam.

"Aku tak mengerti, hal apa yang membuat sasuke menjadi pribadi yang lembut hanya karena gadis kuno seperti mu?" Tanyanya dengan dagu terangkat. Naruto bergeming. Kacamata nya menatap ujung sepatu balet-nya. "Dan lagi saat ini hinata-".

"Cukup!" Teriak sakura yang menghentikan semua hujan sindiran neji yang diarahkan pada naruto.

"Sebenarnya apa maumu kesini? Seharusnya kau duduk dikursi penonton, menemani sekumpulan teman menyebalkan mu itu!" Jawab sakura dengan penekanan. Giginya gemertuk kesal.

Neji hanya mengangkat bahu acuh. Naruto terdiam dalam pikirannya. Semua ucapan neji terus berputar diingatannya.

"Sudahlah tak usah dipikirkan ucapan neji barusan naruto!" Hibur ino menepuk pelan pundak naruto.

"Iya benar! Lebih baik kau cepat siap-siap karena sebentar lagi kau yang akan dipanggil maju." Sambung tenten sekaligus mengingatkan naruto. Naruto menatap sakura cs dan mengangguk pelan. "Baik!" Jawabnya dengan semangat membara. Entah kemana nyalinya yang sempat menciut tadi.

"Ganbatte naru-chan!" Kata sakura menyemangati. Naruto segera berjalan dengan gontai menuju ruang persiapan.

Disana ia bertemu karin cs yang tengah duduk disebuah kursi panjang. "Naruto!" Panggil karin tiba-tiba membuat naruto menghentikan langkahnya. Karin berjalan mendekati naruto dan menepuk pelan bahu naruto.

Ia tersenyum simpul, bukan sebuah senyuman keji yang tersirat diwajahnya. Namun senyuman tulus yang belum pernah naruto lihat.

"Semoga beruntung!"

TBC

Maaf yah update nya lama. Trus juga saya minta maaf kalo saya bohong di chapter sebelumnya. Naruto masih culun T_T (authornya emang payah! Pukulin aja!)

Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian yang telah sedia menunggu kelanjutan fic ini.

See you next chap T-T