'BRAK'

"Ya Kim Mingyu! Darimana saja kau sema— Astaga ada apa dengan wajahmu?!" pekik Soonyoung saat melihat keadaan Mingyu yang jauh dari kata baik-baik saja.

Wajar jika Soonyoung panik, sudah semalaman Mingyu tak kembali ke kamar, dan esoknya ia mendapati Mingyu berkeliaran dalam balutan boxer hitam ketatnya, tak lupa memar di beberapa bagian tubuhnya.

Namun, tak Mingyu hiraukan segala rentetan pertanyaan yang membuat kepalanya kian pening.

"Bisakah kau diam?" pertanyaan atau lebih mirip perintah dari nada dingin Kim Mingyu sontak membuat Soonyoung menipiskan bibirnya. Sudah pasti suatu hal besar yang tidak beres terjadi semalam. Melihat aura gelap menguar di sekitar tubuh Mingyu yang sibuk memakai baju saat ini bukanlah pemandangan familiar untuknya.

'TOK, TOK, TOK'

Suara ketukan pintu kamar mereka terdengar sedikit brutal, dalam hati Soonyoung merutuki orang yang berkunjung dalam waktu yang kurang tepat.

"Hoshi-sama, maaf mengganggu waktu anda. Ada sesuatu yang perlu anda ketahui, tadi pagi baru saja saya temukan Wonpil-sama dalam keadaan pingsan di lorong arah kolam di belakang penginapan. Eto.. tapi kondisinya penuh dengan lebam dan saat ini Wonpil-sama ada di kamarnya."

"Baik terimakasih Ayumi-san, nanti saya menengoknya."

Ketika pintu kamar tertutup, Mingyu bisa merasakan tatapan penuh tanya Soonyoung menembus punggungnya. Bisa ia tebak bahwa karyawan yang baru saja berbicara dalam bahasa asing yang tidak ia pahami telah melaporkan mengenai Wonpil. Persetan dengan itu, hal yang ingin Mingyu lakukan hanyalah lari sejauh mungkin dari hal pelik di luar sana.

"Kali ini aku membiarkanmu memiliki waktu untuk sendiri, setelah aku kembali aku akan menagih penjelasan padamu Kim Mingyu."

Mingyu menghembuskan karbondioksida di paru-parunya sekuat mungkin. Dalam hati ada sisipan harapan agar masalahnya ikut keluar begitu saja bersama deru nafasnya. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, batin serta emosinya jauh lebih lelah dari yang ia bayangkan.

'Ku harap setelah ini kau menghilang dari hadapanku Kim Mingyu.'

"Sialan!" Remasan di bantal yang ia peluk tak lebih kuat dari remasan di hatinya.

Bagaimana ia dapat merubah begitu saja susunan orbital dunianya yang saat ini hanya terpusat pada Wonwoo seorang? Bahkan ketika ia kehilangan eksistensi Wonwoo dalam dua minggu seluruh pemikirannya tak akan selaras dengan harapannya. Lantas bagaimana mungkin Wonwoo menginginkan Mingyu menghapus dirinya dalam seluruh pusat lingkaran hidup seorang Kim Mingyu?!

Mengingat semua yang telah ia lakukan, segala yang ia perjuangkan, dan semua yang ia tahan membuat dirinya kian terpuruk. Seumur hidupnya tak pernah ia inginkan untuk jatuh dalam pesona sosok 'mengerikan' seperti Wonwoo. Lelaki yang tidak ia harapkan sebagai pemberhentian hatinya. Dari awal lubuk hatinya sudah berteriak untuk berhenti dan ia sudah dari jauh-jauh hari memprediksikan bahwa jalannya tak akan mudah.

"Bodoh! Kau memang keparat!" Rutukan demi rutukan untuk dirinya tidak mengubah situasi, dan ia sadari itu.

Ia tahu, dirinya dan Wonwoo benar-benar definisi kontradiksi tak terbatas. Mereka berbeda, tak akan menyatu. Layaknya teori kimia yang pernah Wonwoo ajarkan, like dissolve like, cinta akan menyatu ketika dua insan memiliki kesamaan dalam rasa. Jika tak ada kepaduan yang selaras, bagaimana kau bisa menyatukannya?

"Aku terlalu menganggap Wonwoo remeh sejak awal,"desisnya lirih pada udara.

Jika dari awal ia tidak bebal dengan pemikiran untuk meluluhkan hati Wonwoo, ia tak akan pernah mengalami kekecewaan ini. Dari awal rasa penasaran, berkembang nyaman, hingga akhirnya benar-benar terperosok jauh. Layaknya keledai bodoh, yang sudah tahu akan jatuh, namun tetap melalui jalur jalan yang sama. Lalu bagaimana kau menghadapi konsekuensi ke depannya Mingyu?

Mengingat memori demi memori yang pernah Wonwoo tawarkan untuk saling berbagi kenangan bersama membuat dirinya ingin berteriak keras-keras di depan wajah Wonwoo saat ini.

"Aku sungguh mencintaimu Jeon Wonwoo."

Mingyu mencintai Wonwoo dengan segala kepahitannya. Jika memang perasaannya tak akan dapat tergapai, biarlah ia dapat sekedar mengungkapkannya. Hanya itu harapan terakhir yang Mingyu inginkan. Paling tidak Mingyu ingin Wonwoo menyadari kehadiran sosoknya. Bukan malah menginginkan dirinya menghilang.

Lelehan air mata yang tak bisa ia tahan menetes tepat pada gelang pasangan yang tersemat apik di tangannya. Dalam hati Mingyu memuji kehebatan Wonwoo yang dapat membuat hidupnya kacau hanya dalam sekejap.

Segera ia hapus air mata yang dengan sialnya mengalir ketika suara derit pintu terdengar.

"Aku sudah mendengar semuanya dari Wonpil Hyung. Aku pastikan tidak ada orang lain yang mengetahui masalah ini," ucap Soonyoung sambil mendudukan dirinya di seberang kasur yang tersedia.

"..."

"Wonpil Hyung menitipkan permohonan maafnya padaku, katanya saat ini ia tak memiliki wajah lagi untuk bertemu denganmu."

"..."

"Walaupun memang berat, aku harap kau memaafkannya Gyu."

"Wonwoo," suara serak Mingyu terdengar gamang di telinganya.

"Bagaimana keadaan Wonwoo?"

Soonyoung tersenyum memberi sedikit penghiburan untuk Mingyu— walaupun Mingyu tak akan menyadari di balik bahu tegapnya. "Wonwoo baik-baik saja, ia sedang mempersiapkan pesta BBQ bersama Jihoon di ruang tengah. Ia sepertinya juga tidak memiliki luka yang membuat Jihoon curiga."

Sudah ia pastikan, Wonwoo pasti baik-baik saja. "Syukurlah jika ia baik."

Hening menyelimuti mereka dalam sepuluh detik hitungan.

"Bagaimana dengan dirimu sendiri Gyu?"

"Aku baik, luka seperti ini tak mudah membuatku sakit," ucap Mingyu sambil mendudukan diri di pinggir kasurnya. Nada suara Mingyu memang sudah kembali, namun pancaran matanya tak akan membohongi Soonyoung.

"Untuk masalah Wonpil-ssi, tolong katakan padanya bahwa aku sudah memaafkannya. Namun aku lebih menghargai jika ia yang datang padaku secara langsung."

"Baiklah, akan aku sampaikan padanya."

Suara panggilan untuk Soonyoung terdengar beriringan dengan sosok Seungcheol muncul di kamar mereka.

"Ya! Kalian berdua, bantu aku menyiapkan api! eh, Kim Mingyu! Luka keberapa yang sudah kau buat selama hidupmu eoh?" tanya Seungcheol sambil mengacak rambut Mingyu ganas.

"Aduh lepaskan aku Hyung!"

"Kali ini apa? Terjerembab dari kasur, tersungkur di lantai, atau—"

"Jatuh di kamar mandi dan terantuk wastafel," jawab Soonyoung cepat. Beruntung Seungcheol tidak menyadarinya.

"Hah, dasar ceroboh. Ya Gyu! Kau belum mandi hah?! Baumu sungguh sialan!"

Mingyu mengendus tubuhnya."Apa yang kau katakan Hyung! Bauku tidak semengerikan itu kau tahu," rajuknya.

"Lagipula jika aku mandi sekarang juga sudah kepalang tanggung, nanti juga akan bau asap pembakaran kan?" tambah Mingyu sambil menyeret Seungcheol dan Soonyoung keluar.

"Kim Mingyu!"

o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o

"Aku tak melihat Wonpil Hyung sejak— ya! Berhenti mengambil snack itu! Sana pergi dan buat apinya bodoh!" Seru Jeonghan sambil melempar Hansol menggunakan barang di sekitarnya.

"Oh iya ya? Aku juga tidak melihatnya dari tadi," sahut Jihoon tanpa mengalihkan pandangan pada ponselnya.

"Soonyoung-ah! Kau tidak mengajak Wonpil Hyung eoh?"

Soonyoung yang sedang sibuk membuat api menghentikan kegiatannya sejenak. "E-eoh? Katanya Wonpil Hyung ada acara sendiri Hyung, iya dia ada acara."

"Yah.. Sayang sekali Wonpil Hyung tak ikut, padahal acara pasti lebih seru jika ada dia. Iya kan Won?"

Wonwoo yang dilempar pertanyaan itu lantas salah tingkah,"A-ah iya Hyung."

"Wonwoo-ah, kau dan Wonpil sepertinya sangat dekat. Apakah kalian ada hubungan spesial?"

"UHUK! UHUK!" Mingyu terbatuk dengan kuat, tenggoroknya seperti terbakar hingga ujung hidungnya. Jeonghan yang duduk tak jauh dari tempat Mingyu berdiri meliriknya main-main dengan senyum jahilnya.

"Kim Mingyu bodoh, bahkan asap pun belum keluar, dia sudah hampir mati. Sana minum dulu sialan,"ucap Seungcheol.

"Ti-Uhuk!-dak aku tidak apa-Uhuk!" Persetan dengan dirinya yang kesakitan karena tersedak air liurnya sendiri, daripada harus mengambil minum yang sialnya ada di tempat Wonwoo duduk saat ini. Ya, kurang lebih begitu pemikirannya.

"Aku belum ada uang duka cita jika kau mati saat ini, jangan keras kepala bodoh!" seru Seungcheol lagi sambil mendorong pantat Mingyu menggunakan kakinya.

Dengan enggan Mingyu berjalan ke arah Jeonghan, Wonwoo dan Jihoon berada.

"Iya kan Gyu?" tanya Jeonghan.

"Iya apa?"

"Wonwoo dan Wonpil sepertinya ada hubungan spesial."

"Hmm.." Mingyu hanya menjawab seadanya dan meminum satu botol besar air mineral dalam sekali teguk.

Sedangkan Wonwoo hanya diam dan menunduk, tidak berusaha menyangkal maupun membenarkan pernyataan Jeonghan. Dalam keheningan yang canggung ini, baik Jeonghan maupun Jihoon saling melemparkan pandangan apalagi melihat tingkah Mingyu yang berbeda seperti biasanya. Seharusnya mereka mendengarkan protesan Mingyu mengenai hal yang jelas tidak ia sukai.

"Kwon fire! Hahahaha" Kecanggungan itu pecah ketika Soonyoung dengan segala tingkahnya berteriak dan tertawa begitu lepas saat dirinya berhasil membuat api untuk pesta mereka. Berterimakasihlah pada Soonyoung yang berjasa menyelamatkan mereka dari situasi canggung itu. Tapi, pengalihan yang Soonyoung lakukan tak begitu saja membuat dua orang di sana melupakan suatu hal. Jeonghan dan Jihoon lantas sama-sama memikirkan hal serupa. Malam ini ada sesuatu yang perlu dibereskan baik antara Mingyu dan Wonwoo.

o0o0o0o0o0o0o0o0o0oo0o

"Jika kalian kira hidangan sapi bakar ini adalah MVP, aku kira sesuatu yang ada di tanganku adalah MVVPnya."

"Apa itu Hyung?"

"Beer! Aku meminjam kartu identitas Wonpil Hyung untuk membeli di minimarket kemarin siang, dan sepertinya aku mengambil beer dengan kadar alkohol tertinggi," jelas Seungcheol sambil menyebarkan senyum lebar.

"Woah! Aku sudah dari lama ingin pesta alkohol, tapi mengingat umur kita belum legal jadi akan mustahil dilakukan di Korea! Seungcheol Hyung, aku padamu!" Vernon melemparkan flying kiss ke arah Seungcheol dan dibalas tatapan jijik oleh Jeonghan.

"Gila kau Hyung! Bagaimana mungkin kau membeli delapan botol sekaligus?! Kau mau mabuk seperti apa Hyung?!"

Soonyoung lantas merengut setelah menerima 'polesan sayang' dari Seungcheol.

"Jika kau masih protes, tak akan ku biarkan kau menikmati satu teguk pun Kwon!"

"Ah! Bagaimana jika kita melakukan permainan truth or dare juga? Sebentar aku mau ambil lie detector!" ucap Jeonghan.

Tak lama sebuah alat lie detector tersedia di tengah-tengah mereka.

"Peraturannya, jika ada yang berbohong atau melakukan dare-nya dengan tidak niat, mereka akan melakukan 3 shots beer sekaligus."

"Hyung, aku rasa aku ke kamar sa—"

"Yah Wonwoo, sekali-kali ikutlah kami untuk bersenang-senang. Jangan terlalu kaku begitulah."

"Aku hanya tidak terta—"

"Jangan menjadi pengecut Jeon." Ucapan dingin Mingyu benar-benar menjadi bom waktu bagi mereka. Bagaimana tidak? Baru kali ini mereka menyaksikan Mingyu berani berbicara dengan kasar kepada Wonwoo.

Sepermilidetik Wonwoo menampilkan wajah tak percaya kepada Mingyu, namun selanjutnya ia menampilkan mimik datar dengan pandangan penuh kemarahan ke arah Mingyu.

"Oh ternyata masih ada makhluk lain selain kita di sini, ku kira suara tadi adalah suara kentut sigung di taman ini." Wonwoo ikut memanasi Mingyu dengan menampilkan senyum meremehkan.

Dua pasangan di sana ditambah Vernon hanya memperhatikan mereka dengan pandangan bingung, kecuali Soonyoung sebenarnya.

"Baik-baik, jadi Won, kau masih ingin mundur atau—"

"Aku yang main dulu." ucap Wonwoo sambil merebut botol kosong di tangan Jeonghan dan memutarnya dengan emosi.

Hingga akhirnya botol itu mengenai Jihoon.

"Aku memilih dare."

"Pukul Mingyu sama seperti kau memukul adik kelas sialan kita dulu."

"He? Kau yakin Won? Bahkan pukulan Jihoon dapat merontokan tiga gigi sekaligus waktu itu," tambah Soonyoung.

Wonwoo tidak menjawab, hanya menatap Jihoon datar.

"Baik, akan ku lakukan."

Mingyu menatap lamat Wonwoo yang tepat berada di seberang tempat duduknya.

"Kau benar-benar kekanakan Jeon Wonwoo," suara Mingyu membuat Wonwoo semakin mengeratkan kepalan tangannya.

PLAK

Jihoon memukul punggung Mingyu dengan main-main, setelah itu ia mengambil gelas soju dan meminum tiga tenggakan seperti perjanjian awal. Dalam hati Mingyu mulai berusaha mengikuti alur permainan kekanak-kanakan yang Wonwoo buat.

Permainan masih berlanjut hingga setengah putaran. Beberapa di antara mereka mulai merasakan kabur dan pening akibat dari alkohol yang mereka sesap. Tak terkecuali Jeon Wonwoo.

Dan tibalah saat putaran yang Mingyu lakukan mengarah pada Wonwoo.

"Truth or dare?"

"Truth."

"Katakan padaku dua alasan kau membenciku, selain alasan aneh karena diriku mirip dengan laki-laki sial yang mencuri ciuman pertamamu."

Wonwoo merutuk dirinya sendiri yang tanpa sadar memilih untuk jujur karena ia pikir jika ia memilih dare tubuhnya tak akan kuat untuk sekedar berdiri sepertinya. Sedangkan jika ia memilih minum beer kembali, ia tak yakin masih dapat mempertahankan kesadarannya.

"Satu."

"Aku katakan dua Jeon."

"Satu, jika kau dapat kesempatan lain, kau bisa menanyakan lagi."

Mingyu pikir hal itu cukup adil, "Baik, satu alasan."

Semua mata mengarah ke Wonwoo menanti jawaban dari bagian rasa penasaran mereka selama ini.

"Karena kau lemah, aku benci dengan orang yang terlalu baik sepertimu. Menganggap semua yang ada di dunia ini adalah kebaikan. Sungguh munafik. Berkali-kali kau berada di posisi dirugikan tapi kau dengan mudahnya memaafkan, bahkan untuk kesalahan yang tidak kau lakukan kau tetap bersikap semuanya baik-baik saja. Kau selalu dimanfaatkan, bahkan termasuk akupun pernah memanfaatkanmu. Kau bodoh brengsek."

"..."

"Aku yang melihatmu diperlakukan seperti itu, selalu merasa marah. Marah dengan dunia, marah dengan senyuman 'tidak apa-apa'mu, marah dengan diriku. Itulah alasanku begitu membencimu yang begitu baik. Hatiku selalu tidak tenang, ikut sakit."

Ucapan Wonwoo terdengar mulai terdengar kabur, ia berbicara dengan pemenggalan kata yang hancur. Tapi Mingyu masih memahaminya, sangat memahaminya. Wonwoo tak sepenuhnya membenci Mingyu. Sebaliknya, ia begitu khawatir dengan Mingyu. Suara itu terdengar tulus, sehingga tak mungkin alat itu menunjukkan kebohongan di tiap penggal kata Wonwoo lontarkan.

Wonwoo dengan kerutan di dahi mengambil botol dan memutarnya, alhasil botol kembali mengarah kepada Mingyu.

"Truth."

"Kau menyukai Wonhee."

Ada hening mengisi selama tiga detik.

"Tidak. Aku tidak menyukai Wonhee."

Drrttt

Wonwoo yang mendengar suara sengatan itu lantas tersenyum penuh remeh. Dari pandangannya ada rasa sakit atau kecewa? Ia tak yakin akan hal itu. Tapi pandangan terluka itu kembali menarik Mingyu pada kejadian Wonwoo menangis di bawah temaram lampu jalan. Ia benar-benar tak menyukainya.

"Aku tidak menyukai Wonhee," ucap Mingyu penuh dengan penekanan di tiap suku katanya. Ia tak mau ada kesalahpahaman lagi di antara mereka. Tak ia pedulikan perih di tangannya, persetan dengan alat murahan itu! Hanya ia dan Tuhan yang tahu dimana hatinya berlabuh, tidak dengan alat itu!

Tak satu dari teman-temannya yang ada di sana yang tidak dapat melihat sorot mata putus asa dari Mingyu. Mereka hanya diam memperhatikan, bahkan untuk sekedar menarik nafas akan terasa berat. Mereka tahu, bahkan sangat terlihat dengan jelas siapa yang Mingyu sukai di antara mereka. Namun tidak dengan Wonwoo yang mencoba menutup dirinya entah dari apa.

"Aku tidak menyukai Wonhee, keparat!" ucap Mingyu penuh emosi.

Wonwoo yang baru saja menerima umpatan itu tersenyum penuh arti. Yang sedetiknya merubah mimiknya dingin.

"Aku tak peduli."

Emosi Mingyu kian membara dan segera ia menenggak cairan beralkohol itu hingga tersisa seperdelapan botol. Seungcheol hanya menggigit ujung kaosnya, melihat beer yang ingin ia minum hampir tak bersisa di tangan Mingyu.

Wajah Mingyu sungguh merah padam, efek dari alkohol serta emosi yang ada pada dirinya. Ia putar kembali botol kosong itu, dalam hati berharap mendapat kesempatan untuk mengetahui lebih jauh apa yang Wonwoo ingin lakukan. Dan harapannya terkabul.

"Aku pilih dare."

"Beri aku ciuman sekarang."

Tak ada seorangpun yang menghembuskan nafasnya —mereka terlalu terkejut dengan pemikiran gila Mingyu. Mingyu sendiri terlihat sedikit terkejut dengan ucapannya sendiri.

"Hahahaha.. Sebegitu putus asanya kah kau dengan Wonhee hingga membuatmu mengira diriku adalah dia? Bahkan dalam mimpi jorokmu kau masih menganggapku demikian. Yang kau sukai adalah Wonhee keparat, jangan bawa-bawa diriku lagi dalam hidupmu. Sungguh, kau adalah manusia terbrengsek Kim Mingyu."

Mingyu rasa batas kesabarannya sudah menipis. Jeon Wonwoo adalah orang terbodoh dalam membaca perasaan orang, yang sangat sok tahu mengenai semua hal di hatinya. "Jangan ada yang boleh menyusul kami, jika tak ingin sesuatu buruk menimpa kalian." Itulah kalimat terakhir yang Mingyu ucapkan sebelum menyeret Wonwoo ke sisi belakang taman.

Seungcheol memperhatikan mereka dengan pandangan khawatir. Sebagai kakak tertua ia merasa harus bertanggung jawab jika ada pertengkaran terjadi di sini. Baru saja ia ingin menyusul, kekasihnya menahan dirinya untuk tidak lebih jauh ikut campur dengan urusan antara Mingyu dan Wonwoo. Semua orang di sana menjadi saksi betapa konyolnya permainan perasaan yang Mingyu dan Wonwoo buat.

o0o0o0o0o0o0o0o

Pernahkah kau mendengar amarah orang sabar adalah hal yang paling mengerikan? Wonwoo merasakan amarah itu yang menelanjangi dirinya hanya dari sebuah tatapan. Tidak ia rasakan kakinya menapak dengan benar, hingga ia harus mencari sandaran agar ia tak lumpuh begitu saja.

"K-kau mau apa?"

Tak ada sautan. Mingyu masih diam dan menatapnya penuh amarah.

"Jika tak ada yang perlu dibicarakan aku kembali saja—"

'BUGH'

Jantungnya berdentum tak wajar ketika kepalan tangan Mingyu melayang di sisi wajahnya. Kepalan tangan itu berjarak tiga senti dari hidungnya. Mingyu benar-benar murka.

"Jika kau menggerakkan kakimu selangkah dari tempat ini, kau akan menyesalinya."

Wonwoo menunduk dan menyembunyikan wajahnya dibalik surai rambutnya. Sedetik kemudian ia terkekeh dan tertawa besar tanpa alasan. Dan ia menghentikan gelaknya dengan tatapan datar.

"Aku sangat membencimu."

"AKU JUGA MEMBENCIMU BRENGSEK!" bentak Mingyu tak terkendali di depan wajahnya.

"..."

"Aku lelah! Kau pikir, aku tidak sakit hati selalu kau caci maki, kau kasari, bahkan untuk mengatakan satu kata dari dulupun susah!"

"..."

"Terimakasih, hanya itu yang ingin kukatakan sejak kau mau menjadi mentorku, tapi kau selalu memotongnya dengan ucapan kasar! Oh aku lupa! Orang tak berperasaan sepertimu tak akan mengerti untuk menghargai orang lain. Menganggap semua orang bodoh, tak lebih baik darimu dan hanya dirimulah yang benar. Ya, itulah Jeon Wonwoo."

"..."

"Kau pernah bertanya kapankah kau mendapat cinta?" tanya Mingyu tepat di matanya.

"..."

"Bagaimana mungkin kau merasakannya, jika untuk menghargainya saja tidak pernah kau lakukan. Aku bersumpah, dengan dirimu seperti ini kau tak akan pantas mendapatkannya selama-lamanya."

'BUAGH'

"KAU TAK TAHU APA-APA KIM MINGYU?!"

Bibirnya kembali robek, ia sadari itu setelah rasa karat kembali ia cecap."Pembelaan apa lagi yang—"

"Kau tak tahu apa-apa! Kau tak tahu! KAU TAK TAHU APA-APA!" isak Wonwoo.

Mingyu terdiam dengan tangannya menggenggam angin, tak berani menyentuh lengan Wonwoo yang sedang memukul dadanya berulang kali dengan lelehan air mata yang sangat ia benci.

"Aku sudah mati-matian berusaha melindungimu, seperti janji kita dahulu. Kau melupakannya. Brengsek! Aku sungguh membencimu!"

"..."

"Aku mencobanya, aku sudah mencobanya! Tapi kau melupakanku! Alasanku membencimu karena kau melupakanku!"

Mingyu pening. Bukan, bukan pening dari alkohol. Namun pening yang berasal dari otaknya yang sedang berusaha membongkar memorinya. Ia tak pernah berjanji apa-apa padanya, bahkan ia tak pernah berbicara dengan Wonwoo sejak kelas satu.

"Aku tak tahu, beri tahu aku apa yang kau maksudkan Jeon?"

"Changwon, tiga tahun lalu. Taman, pahlawan dan anak berandalan."

'DEG'

"K-kau?"

"Aku tak ingin mendengar ucapan terimakasih karena senyuman terimakasihmu membuatku gugup, itu yang kau ucapkan padaku. Dan aku melakukan hal itu untukmu juga."

"..."

"Lagipula aku memotong ucapanmu agar kau mau terus berbicara denganku. Aku tahu kau adalah orang yang harus menuntaskan segala sesuatu. Jadi jika aku membiarkanmu menyelesaikan ucapan yang sangat ingin kau ucapkan dari awal, mungkin kita tidak akan sedekat ini. Dan aku kira setelah kita dekat kau akan mengingatnya, tapi aku salah," bisik Wonwoo dengan tempo dan pemenggalan kata tak beraturan.

"..."

"Janji untuk menjadi pahlawan itu, jika kau masih mengingatnya, aku melakukannya hingga awal kelas satu. Sampai aku mengetahui kau melupakanku, dan aku mulai membencimu. Sangat membencimu."

"Oh Tuhan! Jadi semua pertolongan itu bukan dari penggemarku? Maafkan aku Won. Sungguh aku tak menyadarinya."

Ia tenggelamkan sosok kurus di hadapannya dalam dekapan penyesalan dari dirinya.

"Mengapa kau tak mengatakan hal itu dari dulu? Mengapa baru sekarang? Demi Tuhan Wonwoo!"

"Menjauh dariku! Aku masih membencimu! Bodoh, tak berperasaan, menjadikanku pelampiasan nafsumu!"

"AKU MENYUKAIMU!"

Ada rasa takut dan lega ia rasakan bersamaan. Setelah hampir enam bulan ia menahan perasaannya, ia dapat mengungkapkannya. Tapi ia takut, ia takut Wonwoo akan menjauh lagi.

"Kau membual. Jangan membuatku semakin, mnhh.."

Hal yang sedari lama Mingyu harapkan. Mencumbu Wonwoo dalam dekapannya, merasakan cengkraman lemah dari Wonwoo di lengannya. Ini terlalu mengejutkan. Ia rasakan pergerakkan belahan lembut yang ia sesap, membawa perasaan kian meledak di hatinya.

Wonwoo membalasnya.

Ia tidak mabuk akan alkohol, tapi bibir Wonwoo berkali lipat lebih memabukkan.

"Kau pria jahat." Itulah ucapan pertama yang ia dengar dari Wonwoo. Dengan bibir mereka yang masih berbatas nafas tipis.

"Aku jahat lantas kau apa? Hm?"

"Kau merenggut kebebasanku."

"Itu yang harusnya ku katakan Jeon. "

"Kau terlalu banyak menginvasi otakku, emosiku, hatiku. Aku bahkan harus berulang kali membohongi diriku. Mengapa kau harus terlahir sebagai laki-laki? Jika kau terlahir menjadi perempuan, aku tak akan menyiksa—"

'Cup'

"Salahmu yang tak pernah jujur dengan hatimu."

"Aku takut. Kau terlalu banyak memberikan harapan untuk bersandar padamu. Tapi apa? Ketika aku berusaha jujur dengan hatiku, kau mengenalkan perempuan lain padaku."

"..."

"Bahkan kau mendesahkan namanya di hadapanku. Kau sungguh brengsek."

Mingyu tak pernah berharap setinggi ini untuk melihat ekspresi cemburu Wonwoo yang sangat menggemaskan. Ia bawa Wonwoo dalam pelukannya dan menempatkan bibirnya di pelipisnya penuh sayang.

"Kau cemburu."

"Aku tidak!"

"Baik, kalau begitu lebih baik aku akan menghilang seperti yang kau inginkan kalau begitu."

"Pergi sana, ke pelukan gadis itu lagi saja! Jangan kembali lagi!" suara protes Wonwoo terdengar samar di balik bahu tegap Mingyu—yang masih memeluknya erat.

"Jika aku menghilang, lalu yang memberimu cinta siapa?"

"Kau sendiri yang mengatakan diriku tak pantas mendapat cinta brengsek! Maumu apa sih?!"

"Mauku? Kau menjadi kekasihku."

"Dalam mimpimu!"

"Aku berulang kali sudah memimpikannya Won. Bahkan aku tak pernah mendapatkan mimpi basahku bersama Wonhee, melainkan hanya dirimu Won.."

"..."

"Salahkan nama kalian yang memiliki awalan yang sama. Jangan salahkan aku jika kau salah paham."

Wonwoo terdiam dengan wajah semerah buah bit yang keluarganya tanam di kampung halamannya.

"Jadi, apakah kau mau menjadi kekasihku Jeon Wonwoo?" tanya Mingyu dengan tatapan menghunus batinnya.

"Memangnya aku juga menyukaimu?" Ekspresi datar Wonwoo tidak mengartikan sebuah candaan untuk Mingyu.

"O-oh? Kalau begitu Wonpil Hyung ya?"

"Ku beri tahu alasanku mengapa aku menyukai seseorang ini. Karena dia sangat bodoh, sehingga aku yakin tak ada yang mau merebutmu yang sungguh bodoh ini."

Wonwoo memeluk Mingyu erat, dan membisikkan kata-kata yang membuat Mingyu tersenyum bak orang tak waras. "Mi Amor, Mi sol, mi todo, te amo."

"Aku akui aku bodoh untuk mengekspresikannya, dan aku tidak bisa menahan degup jantungku yang menggila."

"Aku rela menjadi bodoh dan masokis hanya untuk tetap bertahan dengan manusia aneh dan jahat sepertimu Won."

Keduanya mendekat seperti magnet dengan kutub berbeda. Tak ada lagi rasa putus asa dari Mingyu, tak ada lagi teka-teki gila dari Wonwoo. Ini bukanlah akhir dari perjalanan mereka, ini adalah lembaran awal dari petualangan mereka berdua. Mungkin akhir, akhir untuk prolog kisah konyol yang tak pernah mereka sangka yang dibentuk oleh Sang kuasa bagi mereka.

"Nikmati nerakamu Kim Mingyu," bisik Wonwoo di sela ciuman manis mereka.

"Dengan senang hati Yang Mulia."

.

.

.

END

*gak deng masih lanjut kok J*

TO BE CONTINUED...

AKHIRNYA JADIAN JUGAKKK... HUAHHHH... CHAPTER INI SUNGGUH MENGURAS OTAK :" maaf juga kalo jadiannya alurnya cepet banget, ku sendiri juga ngebet mereka jadian soalnya xD Ini juga ga ada yang direvisi, juga gak berani baca lagi ;_;

MAAFKAN WONU YANG OOC.. NGEBUATNYA SAMBIL LIAT MOMENT CLINGY DIA KE KIMING AKHIR2 INI SIH so cute mereka tu :""" Era ini too many Meanie lah :")))

Udah itu aja cuitannya.. next chap bahas masa lalu first kiss Wonu, juga hubungan Meanie yang dilupain sama Mingyu :DD Thankyou yang udah mampirr~~

See you next chapter!