"—yang aku inginkan adalah—"
Jungkook menjawab sebuah pertanyaan dalam interview yang dilakukan di belakang panggung salah satu acara musik ternama di Korea, Mnet CountDown, mereka sedang berada dalam promosi double comeback mereka setelah title Boy in Luv, yaitu dilanjut dengan lagu Just One Day.
Jungkook yang kala itu sedang kebagian pertanyaan dan akan menjawabnya, tiba-tiba saja Jimin nyeletuk untuk menjawabnya. Bahkan sebelum Jungkook mengutarakan jawaban dirinya.
"Tentu saja hidup bahagia bersamaku!" Jimin berucap antusias. Yang membuat ia disoraki member lainnya.
.
Tetapi tidakkan Jimin tahu.
Ada seseorang yang menghela napas kecewa di sana mendengar jawabannya itu.
.
.
.
.
Jimin | Yoongi | Boy's Love | Most of Slice of Life | Ficlet collection | other member's appear
.
Do not plagiarize!
.
Enjoy!
.
.
.
.
Jimin merenung. Ia masih berada di dalam van bersama rekan lainnya untuk kembali ke dorm.
Jimin akhir-akhir ini selalu merasa sesak di dadanya. Sesak tak tertahankan, sesuatu seperti ada yang mengganjal di dadanya dan menyumbatnya untuk bernapas normal.
Sesak yang membuatnya bahkan sulit untuk tidur.
Sesak yang sering orang sebut sebagai...
.
Rindu.
.
Ya, Rindu.
Jimin sangat merindukan sosok manis nan galak yang selalu memarahinya. Mencubit lengannya sampai memerah. Tubuhnya yang selalu hangat kala Jimin mendekapnya. Dan juga aroma tubuhnya yang selalu menemani Jimin tidur.
Rindu akan itu semua.
Tetapi oknum yang dirindukan Jimin itu seolah langsung pergi menjauh begitu saja. Menyisakan sejuta rasa yang tak kan hilang begitu saja.
Min Yoongi...
.
Apa ia juga merasakan rindu teramat dalam yang di rasakan oleh Jimin?
.
.
.
.
Malam itu Yoongi tidur tertelungkup dengan memeluk erat bantalnya. Ia belum sepenuhnya tertidur. Ia hanya memejamkan kedua matanya.
Yoongi kembali terngiang perkataan Jimin tentang ia ingin hidup bahagia bersama Jungkook.
.
Yoongi cemburu.
Tetapi...
Apa ia berhak cemburu dengan mantan kekasihnya?
Ukh, menyebut kata tersebut membuat perasaan cinta di dadanya semakin menyakitkan.
Omong-omong tentang cinta...
Apa Jimin masih mencintainya?
Dan kalau berbicara tentang cinta, Yoongi selalu ingat pernyataan cinta dari Jimin yang terasa begitu tulus, dan juga ciuman hangatnya yang selalu Yoongi sukai.
Memikirkannya membuat Yoongi merindu.
Tetapi rindunya ini, rindu yang menyakitkan dan menyesakkan dada.
Sangat sesak sampai Yoongi merasakan kedua matanya yang terpejam terasa begitu panas dan tanpa sadar mengalirkan bulir airmata yang selalu Yoongi benci.
.
Tetapi apa daya,
Di malam yang sunyi itu, Yoongi menangis membisu.
.
.
.
.
Keesokan paginya, semua member dibuat panik sekaligus bingung melihat keadaan Yoongi yang pagi itu baru saja ingin bergabung untuk sarapan bersama dengan tampilan yang cukup berantakan.
"Yoongi-ah, kau menangis semalam?"
Tanpa perlu ditanya seperti itu oleh Jin, semua yakin kalau Yoongi memang baru habis menangis semalaman. Lihat saja kedua kelopak mata sipitnya yang menggembung seperti ikan dan membuatnya terlihat semakin sipit. Jungkook bahkan menatap dan berpikir penasaran kalau Hyung-nya itu tak dapat melihat dengan jelas.
"A—aku..."
.
Jimin buru-buru berdiri dari duduknya di meja makan itu, dan menghampiri Yoongi.
"Aku akan bicara dengan Yoongi-hyung."
Ucap Jimin seraya meraih pergelangan tangan Yoongi dan memaksanya beranjak dari sana.
Member yang lain menatap mereka dengan penasaran. Kepo.
"Ada apa?"
Jin menggeleng merespon pertanyaan si Maknae. "Sudah biarkan mereka urus urusan mereka... Tae! Jatah sarapan Jimin dan Yoongi jangan kau sentuh!"
.
.
.
.
Jimin membawa Yoongi kembali ke kamarnya. Sedangkan Yoongi terus memberontak dari genggamannya yang selalu memaksa Yoongi.
"Lepaskan!"
.
Jimin melepaskan genggamannya ketika ia dan Yoongi sampai di kamarnya. Kemudian menatapnya tajam.
"Kenapa menangis?" Tanya Jimin.
Yoongi mendengus kesal, "Bukan urusanmu."
Jimin mencengkeram kedua bahu Yoongi agar dapat menatapnya.
"Jawab aku."
Yoongi balas menatap Jimin dengan tajam. Tidakkah ia tahu kalau yang membuatnya seperti ini adalah Jimin sendiri dan segala ketidakpekaannya di tingkat nol.
"Menyingkirlah—"
"Jawab aku, Hyung."
"Bukan urusanmu,"
"Yoongi-hyung,"
"Yak! Lepaskan aku atau aku akan—"
.
Cuph.
.
Jimin tak tahan dengan segala bentuk pengalihan isu yang diberikan Yoongi. Ia dengan cepat menarik kedua bahu Yoongi untuk mendekat dan memberikan kecupannya di bibir Yoongi untuk membuat lelaki manis kekasihnya Park Jimin itu terdiam.
.
Yoongi mengerjap ketika Jimin menjauhkan kecupannya. Aih, Yoongi rindu bibir itu.
.
"Apa... Tak seharusnya kau melakukan itu, kau mantan pacarku." Gumam Yoongi pelan.
"Huh? Siapa bilang?"
Yoongi mendelik. "Kita sudah putus."
"Siapa yang bilang aku menerima itu, huh?"
Yoongi semakin mendelik kesal. "Waktu itu kau bilang 'Baiklah'!"
"Memang itu berarti aku menyetujuinya? Aku hanya mengalihkan rasa kesalmu waktu itu."
"Aish!" Yoongi mendengus semakin kesal, tetapi ia segera merona ketika Jimin mendekatkan tubuhnya, menatapnya intens sembari mengusap kedua kelopak mata Yoongi yang menggembung itu dengan kedua ibu jarinya.
"Kenapa menangis?" Jimin menatapnya sendu.
Yoongi hanya menghela napas. Perlakuan Jimin yang lembut seperti ini... Sangat Yoongi rindukan.
"Apa ini gara-gara aku?" Jimin mulai memeluk Yoongi dengan pelan. Merengkuh tubuhnya dengan hati-hati namun erat. Seolah tak ingin melepaskannya selamanya.
"Kalau iya, tolong maafkan aku..." Jimin menelusuri sebelah tangan Yoongi, ketika ia menemukan telapak tangannya, tanpa ragu Jimin segera menautkan jari-jemari mereka.
"Bogoshippeoyeo. Aku mencintaimu..." Setelahnya Jimin berbisik hangat di telinga Yoongi.
.
Yoongi hanya bisa menggigit bibir bawahnya tak bisa menjawab apapun. Perlakuan manis dari Jimin terlalu memabukkan dan ia sungguh merindukannya.
Rasanya Yoongi ingin terisak kembali, tetapi sepasang bibir hangat telah lebih dulu berada di atas bibirnya dan menghisap seluruh emosi yang Yoongi kini rasakan. Menciumnya lembut penuh cinta.
.
Jimin mengakhiri ciumannya di bibir Yoongi dengan mengecup pucuk hidungnya dengan gemas.
"Nah, sekarang kau memaafkanku? Aku ingin kita kembali seperti waktu itu..."
Yoongi segera mengangguk pelan. Amarahnya hilang begitu saja. Lengannya yang entah sejak kapan telah bertengger di leher Jimin, semakin memeluknya erat dan menatap Jimin penuh sayang.
Jimin tersenyum senang dan tertawa. Terlampau senang sampai ia mengangkat Yoongi dan membawanya berputar satu putaran.
Membuat Yoongi mau tak mau juga tertawa bersamanya.
.
.
"Hyung, kalau ada sesuatu, katakan langsung padaku ya." Jimin menatap Yoongi lucu, lengannya yang melingkar di pinggang Yoongi ia eratkan.
"Huh?"
"Jangan memberiku kode-kode seperti kemarin, apalagi sampai menangis seperti ini. Jadi, katakan langsung padaku." Jimin menghela napas sendu.
"Aku 'kan tidak mengerti kalau kau hanya memberiku kode." Jimin memanyunkan bibirnya di akhir kalimatnya.
Yoongi memutar mata kesal mendengar penuturan Jimin. Kedua lengannya yang masih melingkar di leher Jimin ia gunakan untuk memukul tengkuknya.
"Dasar tidak peka! Bodoh!"
.
.
.
.
End.
Let's find another ficlet heheh.
.
.
.
.
Nb :
Yosh, dari N-Yera48 ini sudah selesai. Ahh, sekaligus kebetulan kemarin Kim Yong Jin yang minta interview MCD tentang Jimin Jungkook itu ya? Hahaha trus mei anna aihina yang pengen Yoongi nangis katanya lol. XD
Terus juga, mana tega aku bikin yoonmin putus gitu aja hahaha.
Nah, lanjut permintaan yang lain untuk berikutnya. :D
Yo. Terimakasih sudah membaca sampai sini. Kritik, saran dan masukannya selalu diterima.
.
Review, please? :3
